AKU my First Favorite Book

uku ini berkisah tentang perjalan hidup seorang Chairil Anwar. Nama Chairil mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta sajak di Indonesia. Dialah si penyair Aku Ini Binatang Jalang. Chairil juga dikenal sebagi salah satu orang yang berperan penting dalam perkembangan sastra di Indonesia. Sajak-sajaknya banyak membawa perubahan dalam perkembangan sastra di Indonesia.
Buku ini menceritakan bagaimana seorang Chairil Anwar dalam menjalankan hidupnya yang berliku-liku. Perjalanan hidup Chairil tidak semudah yang dibayangkan, perjalanan hidup Chairil cukup rumit walaupun ia tidak lama menikmati dunia, sebab ia telah dipanggil Yang MAHA KUASA pada usia yang cukup muda yakni 27 tahun.
Perjalanan hidup yang harus dilalui Chairil cukuplah berat. Mulai dari masa kecilnya yang harus menghadapi kenyataan bahwa Ibunya harus Berpisah dengan Ayahnya, Kehidupan malam yang dilalui Chairil, Wanita-wanita yang pernah singgah di kehidupan Chairil, pernikahannya yang harus berakhir dengan perceraian, penyakit akut yang ia derita yang akhirnya mengantarkan Chairil pada Sang Maut.
Buat Gw buku ini bagus banget, sebenernya buku ini adalah skenario film yang ditulis oleh Sjuman Djaya untuk mengenang Chairil Anwar yang juga merupakan Idola Bung Sjuman. Tetapi sebelum skenario itu dapat dijuwudkan menjadi sebuah film oleh Bung Sjuman, sutradara yang tlah mengahasilkan beberapa film diantaranya Si Doel Anak Modern,Kabut Sutra Ungu,Si Doel Anak Sekolahan dll keburu dipanggil Yang MAHA KUASA.

Review Pribadi mengatakan bahwa buku ini:

1. Buku ini memiliki bahasa yang padat…dat…dat…ya seenggaknya itu yang saya rasakan saat membaca buku ini…

2.  Saat aya membaca buku ini saya seolah-olah bisa masuk dan ikut turut serta dalam kehidupan Chairil karena penceritaanya yang nggak mengawang-awang dan terasa sangat real….

3. Kehidupan seorang Chairil Anwar bagi saya bukanlah suatu hal yang membosankan, bahkan sangat menarik untuk diikuti, rangkaian sajak2 Chairil dalam buku ini juga menambahkan kekuatan daripada bukunya sendiri yang memang bagus….

4. Alur cerita yang disajikan dalam buku ini cenderung cepat dan nggak bertele-tele sampai pada permasalahan dan akhir….

5.  Saya sangat berharap suatu saat bisa menikmati sebuah Film Layar Lebar yang terinspirasi dari buku ini….ya…semoga saja….

Dan yang terakhir….

I Really….really love this book….

LETTER FOR GOD

Tuhan….

Lihat aku disini Tuhan…

Berdiri dan sendiri dalam ruang sepi tanpa tepi…

Tuhan…

Pandang aku disini Tuhan…

Lihat hati ini Tuhan, hati dengan nama-Mu di setiap merahnya…

Tuhan…

Tatap aku disini Tuhan…

Lihat aku yang menengadahkan tangan dan bicara pada-Mu…

Tuhan…

Aku meminta pada-Mu dalam sepi ini, dalam sunyi ini, dalam sendiri ini Tuhan…

Tuhan…

Dengar aku disini Tuhan…

Dengar aku yang bermunajat pada-Mu atas semua yang terjadi…

Tuhan…

Tolong pegang tanganku saat aku terjatuh dan terlalu sulit untuk bangkit…

Tuhan…

Tolong bungkam mulutku saat ia hendak mengatakan sesuatu yang menyakitkan bagi orang lain…

Tuhan…

Aku ingin mengadu pada-Mu Tuhan, seperti yang sudah sudah kulakukan…

Tuhan…

Kau memberikanku satu hati Tuhan…

Tapi hati itu sudah terlanjur mati saat luka demi luka perlahan menyayatnya terlalu dalam, hingga mati rasa, lalu mati, dalam arti kata sebenarnya…

Tuhan…

Aku sakit, apa Kau dengar rintihanku?

Aku terluka, aku berdarah, aku terhina…

Tuhan…

Aku ingin bertemu dengan-Mu, bercerita dan bersandar di sisi-Mu yang kutahu tak mungkin terjadi saat ini…

Tuhan…

Aku tahu, aku hanya manusia biasa, penuh dosa, penuh salah, penuh hina…

Tapi izinkanku Tuhan, untuk meminta pada-Mu, walau kurasa kadang aku tak pantas untuk mengharap banyak…

Tuhan…

Aku memohon pada-Mu….

Aku memohon pada-Mu disaat waktu terasa makin beranjak dari sisiku…

Tuhan…

Aku memohon pada-Mu…

Aku mohon jagalah mereka yang kusayangi, limpahkan nikmat-Mu yang tak terkira pada mereka dan cintailah mereka yang membenciku, mencaciku, menghinaku sebagaimana Kau mencintai hamba-Mu yang paling patuh….

Tuhan aku tahu Kau Satu, aku tahu Kau selalu bersamaku dan semua hamba-Mu…

Selalu melihat…

Selalu membimbing…

Selalu mendengar…

Tuhan…

Jika aku sendiri, selalu temani aku Tuhan…

Genggam tanganku, bimbing langkahku, ingatkan aku….

Tuhan…

Kau Satu, Kau Rindu, Kau Ada…

Untukku dan semua hamba-Mu…

Sajak Pagi Untuk Joji

Kutuliskan ini pada pagi….
Dari sisa malam yang belum sempat diuraikan hari….
Aku terbangun dari mimpi, dalam sepi masih sama seperti saat kutulis yang lain….
Kubuka gorden jendela kamar memastikan matahari telah merah di ufuk sana….
Tapi salah, ia belum ada sekarang….
Ia pasti di bagian bumi lain menemani manusia yang masih bergiat pada siang hari….

5.30, ini kuyakin telah pagi…..
Hanya saja belum ramai seperti pukul 7 nanti….
Aku tak tau di tempatmu seperti apa saat sekarang….
Aku sudah mengatakannya jika memang kita terpisah….
Suara itu masih kudengar saat kini, suara jangkrik yang entah mengapa masih dapat bertahan hingga sekarang…..
Aku tersenyum pada bayangan wajahmu yang kuukir pada bingkai imagi, baru saja kubuat tadi…..
Aku tersenyum pada hari yang masih begitu rapuh ini….
Aku tersenyum pada pantulan diriku dalam cermin dua sisi yang entah dari mana kumiliki….
Aku melihatmu di dalam sana, berdiri di sampingku, tersenyum, senyum yang begitu kukenal….
Itu sisi yang satu, aku belum menunjukkan yang lain….
Kau masih tersenyum menatapku yang jadi bingung….
Ada yang lain disana, aku sendiri dan tak ada kau disisiku….
Aku jadi bingung mana yang nyata mana yang hanya ilusi….
Tapi aku tak peduli, karena aku selalu menganggap kau ada….
Berdiri disini saatku sepi, saat kusendiri….
Egois memang, tapi itu yang kulakukan untuk dapat tetap merasakan hadirmu walau kau jauh….

Kutuliskan ini pada pagi….
Dari sisa malam yang belum sempat diuraikan hari….

Aku kini rasa hangat….
Kutatap langit, ia telah disana kini, memerah dan perlahan meninggi….
Dengar…kau dapat dengar itu, atau rasakan, rasakan apa yang kugambarkan….
Aku mendengar mereka bernyanyi, begitu merdu, begitu riang….
Aku mendekat dan berusaha bergabung, kubisikkan ini pada salah satu dari mereka:
”Tolong nyanyikan lagu membuka hari untuk ia yang jauh disana, aku yakin ia pasti senang mendengar lagu kalian, sebab ia terlalu capek bekerja selama ini. Tolong ya, ajak teman-temanmu terbang dan sampaikan lagu ini untuknya. Katakan ini dariku, dan dari matahari yang menitip salam padanya”.
Mereka pergi terbang meninggi, kuteriakkan ini lagi:
“Aku tahu ia begitu capek, namun kalian jangan lupa sampaikan salamku padanya!”.

Rangkaian Pertama Fase Gelap

Rangkaian Pertama Fase Gelap

Dan kutuliskan ini pada sepi…..
Pada sisa-sisa malam yang makin redup….
Kutuliskan ini pada nyata….
Pada malam yang meninggi aku terjaga….
Sering aku bertanya tentang semua….
Tentang hidup, tentang mati, tentang nasib, tentang takdir,
Tentang aku, tentang kamu, tentang apa yang akan terjadi sedetik lagi….

Aku terjaga pada malam saat semua terlelap dalam buaian mimpi….
Entah apa yang dimimpikan mereka sehingga terkadang mereka enggan untuk kembali ke nyata….
Aku disini disisa malam yang menanti hilang….
Aku disini, dalam ruang 3 X 4 seperti malam-malam sebelum ini….
Namun hingga subuh aku terjaga, bukan karena insomnia seperti mereka….
Aku terjaga karenamu….

Dalam sepi diantara manusia yang tengah terlelap aku melihat dirimu dalam bentuk yang lebih nyata dari biasa…..
Aku tak mau menyebutnya sebagai khayal, karena kuyakin kau ada….
Aku tak mau menyebutnya sebagai mimpi, karena kuyakin kau nyata….
Aku sadar pikiranmu tak selalu denganku, namun sayang, dirimu selalu mendapat tempat dalam rongga-rongga kepalaku, rongga hatiku….
Kita terpisah dalam semua, dalam waktu, dalam ruang, dalam bentuk, dalam cara pandang melihat sesuatu…..

Aku tak tau mengapa, tapi semua ada begitu saja….
Mungkin perbedaan yang membuat semuanya bertambah padu….
Aku rindu padamu, itu sudah berulang kunyatakan…bahkan kalau itu bisa disebut deklarasi atas kerinduan yang menumpuk dan hanya menunggu waktu untuk meledak….

Aku sering terjatuh dan merasa sendiri ditengah kegelapan yang paling pekat….
Tapi apa aku merasa benar-benar sendiri???
Itu lagi kupertanyakan,….dulu…ya…du

lu…dulu sekali aku sering merasa sendiri….
Namun kini lain cerita, seperti yang sering kuungkapkan padamu….
Aku sering membayangkan kau begitu nyata disampingku saat kesendirian jalang itu kembali datang….
Aku sering membayangkan kau mengulurkan tangan saat ku terjatuh….
Aku tau kita terpisah dalam semua….
Tapi aku selalu menjadikan kau nyata, di hatiku, di rongga-rongga kepalaku, bahkan di pembuluh-pembuluh darah terkecilku….
Karena kau, aku disini, tak terkoyak-koyak sepi…..