Sajak Pagi Untuk Joji

Kutuliskan ini pada pagi….
Dari sisa malam yang belum sempat diuraikan hari….
Aku terbangun dari mimpi, dalam sepi masih sama seperti saat kutulis yang lain….
Kubuka gorden jendela kamar memastikan matahari telah merah di ufuk sana….
Tapi salah, ia belum ada sekarang….
Ia pasti di bagian bumi lain menemani manusia yang masih bergiat pada siang hari….

5.30, ini kuyakin telah pagi…..
Hanya saja belum ramai seperti pukul 7 nanti….
Aku tak tau di tempatmu seperti apa saat sekarang….
Aku sudah mengatakannya jika memang kita terpisah….
Suara itu masih kudengar saat kini, suara jangkrik yang entah mengapa masih dapat bertahan hingga sekarang…..
Aku tersenyum pada bayangan wajahmu yang kuukir pada bingkai imagi, baru saja kubuat tadi…..
Aku tersenyum pada hari yang masih begitu rapuh ini….
Aku tersenyum pada pantulan diriku dalam cermin dua sisi yang entah dari mana kumiliki….
Aku melihatmu di dalam sana, berdiri di sampingku, tersenyum, senyum yang begitu kukenal….
Itu sisi yang satu, aku belum menunjukkan yang lain….
Kau masih tersenyum menatapku yang jadi bingung….
Ada yang lain disana, aku sendiri dan tak ada kau disisiku….
Aku jadi bingung mana yang nyata mana yang hanya ilusi….
Tapi aku tak peduli, karena aku selalu menganggap kau ada….
Berdiri disini saatku sepi, saat kusendiri….
Egois memang, tapi itu yang kulakukan untuk dapat tetap merasakan hadirmu walau kau jauh….

Kutuliskan ini pada pagi….
Dari sisa malam yang belum sempat diuraikan hari….

Aku kini rasa hangat….
Kutatap langit, ia telah disana kini, memerah dan perlahan meninggi….
Dengar…kau dapat dengar itu, atau rasakan, rasakan apa yang kugambarkan….
Aku mendengar mereka bernyanyi, begitu merdu, begitu riang….
Aku mendekat dan berusaha bergabung, kubisikkan ini pada salah satu dari mereka:
”Tolong nyanyikan lagu membuka hari untuk ia yang jauh disana, aku yakin ia pasti senang mendengar lagu kalian, sebab ia terlalu capek bekerja selama ini. Tolong ya, ajak teman-temanmu terbang dan sampaikan lagu ini untuknya. Katakan ini dariku, dan dari matahari yang menitip salam padanya”.
Mereka pergi terbang meninggi, kuteriakkan ini lagi:
“Aku tahu ia begitu capek, namun kalian jangan lupa sampaikan salamku padanya!”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s