Pacar Rock and Roll

Pacar Rock and Roll

Gadis itu menatap pantulan wajahnya di dalam cermin saku yang baru saja ia keluarkan dari sling bag coklatnya. Kedua matanya terpusat pada bayangan pelipis kanannya dalam cermin, alisnya mengernyit, ia berpikir dan memperkirakan seberapa dalam luka yang tertanam di balik perban pada pelipis kanannya.
“Kamu ini benar-benar keterlaluan Nind. Baru saja satu bulan lalu masuk rumah sakit gara-gara nabrak trotoar, eh kok ya sekarang masuk rumah sakit lagi gara-gara ditabrak”, wanita paruh baya itu langsung melemparkan pandangan antara tidak percaya, bingung, dan pasrah pada gadis yang masih terbaring diatas tempat tidur dan menatapi wajahnya dalam cermin. “Tapi kan kali ini bukan aku yang nabrak, aku yang ditabrak Ma, berarti aku korbannya. Lagipula ini nggak separah waktu aku nabrak trotoar terus nyusruk ke parit”, gadis itu kembali memasukkan cermin saku nya ke dalam sling bag, dan menatap Sang Ibu dengan tatapan innocent nya.
“Keterlaluan kamu, coba kamu hitung sudah berapa kali kamu kecelakaan?. Sudahlah Nind, lebih baik kamu ndak usah naik motor kemana-mana. Biar Pak Sapri yang antar kamu”. Gadis itu langsung melompat dari ranjang berwarna hijau telur asin tempatnya terbaring tadi, ia tidak peduli pada kaki kirinya yang masih terasa nyeri.
“Aku nggak apa-apa kok. Cuma luka-luka kecil seperti ini, Mama nggak usah sampai segitunya. Udah ah aku mau pulang aja, dokter juga bilang aku boleh pulang kan?”, ia segera mengenakan sepatu kanvas berwarna hitam dan jaket coklat muda kesayangannya dan melangkah pergi dari ruang perawatan itu. “Anind!…Mau kemana kamu?!. Papamu masih urus administrasi kamu ndok”, wanita itu berusaha memanggil anak gadisnya yang sudah terlanjur pergi meninggalkan ruang perawatan itu, ia menggelengkan kepala melihat kelakuan anak gadisnya yang begitu keras kepala.

****

Ia masih sempat mendengar suara Ibu nya saat pergi meninggalkan ruang perawatan ber cat putih itu. Sejenak ia terdiam dan mengurut-urut pangkal hidungnya, kepalanya mendadak terasa pening. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, kali ini dengan lebih tergesa begitu melihat sebuah mesin minuman otomatis. Hanya dengan memasukkan 2 lembar uang pecahan 1000 rupiah atau 4 koin 500 an, segelas kecil minuman hangat sudah bisa dinikmati.
Gadis itu menyeruput minumannya yang masih terlampau panas dengan perlahan. Namun tiba-tiba saja ia jadi tak berselera dengan minuman itu saat pandangannya terpaku pada seseorang yang tengah duduk terdiam disebuah bangku besi panjang bercat putih tidak terlalu jauh dari tempat gadis itu berdiri dan menyesap minumannya.
Laki-laki itu memejamkan mata, nampaknya ia menikmati betul alunan musik dari ujung-ujung headphone yang ia kenakan di kedua telinganya. Ia tidak menyadari seseorang telah berbagi bangku dengannya dan menatap wajahnya lekat-lekat sebelum kembali memandang lurus kedepan dan kembali menyesap minuman hangatnya.
“Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu disini. Ada bagusnya juga ternyata aku masuk rumah sakit”, suara riang dari seorang gadis perlahan menyusup disela-sela alunan musik dari ujung headphone nya. Laki-laki itu membuka kedua matanya, memutar posisi duduk sedemikian rupa sehingga dapat melihat wajah dari si pemilik suara tanpa perlu menolehkan kepalanya. Lidah laki-laki itu mendadak kelu saat melihat siapa yang berbicara padanya tadi, seorang gadis dengan jaket coklat muda sambil menyesap minuman yang terlihat masih menguarkan asap tipis. Gadis itu balas memandang si lelaki dengan tatapannya yang khas dibingkai senyum yang mengembang cantik.
“Hai Irish…Ngapain kamu disini?, sendirian pula, kalau mau menyendiri lebih baik di dalam kamar jangan di Rumah Sakit”, ucap gadis itu sambil terus memamerkan senyum menawannya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga si lelaki, dan setengah berbisik, “Di Rumah Sakit auranya terlalu suram, terlalu murung. Kalau kamu di rumah auranya bisa lebih bagus, setidaknya kamu bisa liat Aura Kasih di TV”, laki-laki muda itu tertawa kecil, mengubah posisi duduknya kembali dan menyenderkan kepalanya pada dinding Rumah Sakit yang terasa dingin.
“Ini sudah yang keberapa kali?”, tanya Irish ringan. Kedua bola matanya melirik ke samping, memperhatikan pelipis dan lengan gadis disampingnya yang dipenuhi memar, lecet dan balutan perban.
“12 kali. Tapi kali ini bukan aku yang nabrak tapi aku yang ditabrak”, gadis itu tersenyum miris saat menyadari Irish tengah menyilangkan tangannya di depan dada, senyum sinisnya mengembang.
“Kamu nggak pernah berubah ya?”, Irish berkata pelan disela senyum yang masih tersungging karena ucapan gadis di sampingnya.
“Kamu lupa?, aku bukan power rangers, ultraman juga bukan, apalagi sailor moon. Jadi mana bisa berubah. Aku nggak punya kekuatan super…hehehe”, canda gadis yang masih tersenyum 3 jari saat senyum Irish perlahan memudar dari wajahnya yang semakin pucat.
“Mungkin seharusnya aku nggak pernah ketemu kamu lagi, terlebih disaat-saat seperti sekarang ini. Kamu bikin aku merasa bisa bertahan lebih lama dari yang aku bisa”, Irish terdiam, pandangannya menerawang kembali mengingat mengapa ia bisa sampai berada di Rumah Sakit ini.
“Bukan aku yang berubah, tapi kamu. Kamu kayaknya lebih mellow sampai bawa bertahan bertahan segala, kayak lagu Rio Febrian aja. Mellow banget sih, kebanyakkan denger lagunya D’Massive tuh”, ucap gadis itu sembari menyesap minumannya.
“Harusnya aku pergi dari sini sejak tadi”, Irish bangkit dari duduknya, ia baru saja akan melangkah pergi ketika jemari lembut gadis itu menangkap pergelangan tangannya. “Kenapa sih?, kita cuma ngobrol, kamu masih anggap aku temanmu kan?”, tanya gadis itu dengan senyum yang berbeda, sebuah senyuman yang sulit ditepiskan Irish dari ingatannya.

****

Sore itu ia begitu saja muncul di tempat latihan futsal tanpa memberitahukanku terlebih dahulu. Ia tersenyum dari kejauhan, aku bisa melihat bayangan tubuh Irish diantara teman-teman satu team futsalku yang berlari mengejar bola yang saat itu ada di posisi lawan.
10 menit berselang setelah aku melihat senyuman Irish pertandingan berakhir dengan kemenangan 3-2 untuk team futsalku. Aku segera berlari kearahnya, ingin sekali aku memeluk laki-laki yang sudah 2 tahun terakhir menjadi kekasihku, namun niat itu segera kuurungkan begitu menyadari tubuhku yang masih bermandikan keringat.

“Heiii…sendirian aja nih cowok. Oiya, aku lupa kamu kan memang nggak pernah sama yang lain selain aku”, gadis itu dengan sukses membuat Irish tersenyum geli dengan candaannya yang khas dan penuh keriangan. Mereka berbincang, namun tidak terlalu banyak karena suasana seketika berubah menjadi lebih senyap saat Irish menggenggam tangan gadis itu. “Anind, kamu tau kan aku sakit?”, tanyanya seketika.
“Iya tau, kenapa memangnya?”, gadis itu menatap Irish dengan bingung, namun keriangan itu tidak juga sirna dari pancaran matanya.
“Kamu pernah bilang akan nurut sama aku setelah kecelakaanmu itu”, gadis itu mengangguk masih dengan senyumannya yang menawan. Irish merasakan sesuatu yang benar-benar mengaduk-aduk perasaannya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasa, lidahnya kaku, ia bahkan tidak yakin tangannya tidak gemetar saat menggenggam tangan kekasihnya itu. “Aku rasa lebih baik kita sampai disini saja. Aku nggak mau semakin sulit untuk melepasmu nanti. Aku nggak mau hubungan kita semakin dalam dan aku sudah terlalu sayang untuk meninggalkanmu, ketika aku memang harus pergi. Aku tau ini terlalu sulit dan tiba-tiba, tapi aku mohon demi apapun juga-“, Irish belum sempat meneruskan apa yang ingin dikatakannya saat gadis itu menarik tangan kanannya dari genggaman erat tangan Irish. Kulit telapak tangan Irish terasa semakin dingin, seperti mayat.
“Aku punya satu syarat untukmu, kamu harus janji sama aku untuk menjalankannya saat hubungan ini benar-benar berakhir”, gadis itu menerawang jauh kedepan sebelum tertunduk lemas dan menggigit bibir bagian bawahnya menahan butiran-butiran air mata yang semakin lama semakin mendesak keluar.
Irish mengangguk kecil beberapa kali tanda menyetujui permintaan gadis yang masih mengenakan kaus futsal disampingnya. Irish menolehkan kepalanya, berusaha untuk mengetahui eskpresi gadis itu. Gadis itu hanya terdiam, dan balik menatapnya lembut sambil menenggak air mineral dari dalam botol minuman bening. Irish merasakan sesuatu perlahan mulai menjalari tengkuknya, sesuatu yang membuatnya merasa teramat nyeri, terus merambat naik hingga ke ubun-ubunnya. Ia segera memalingkan wajah dari gadis itu, berusaha menegakkan kepalanya yang semakin terasa sakit, terutama di bagian leher.

**

Kondisi tubuhnya yang semakin memburuk, terlalu mengkhawatirkan untuk dibiarkan begitu saja. Suhu tubuhnya tak kunjung mengalami penurunan. Ia demam tinggi, sudah beberapa hari. Demam yang disertai nyeri-nyeri di beberapa bagian tubuhnya, terutama pada bagian leher. Dan pagi itu ia dilarikan ke Rumah Sakit saat dimana ia seharusnya berada di sekolah dan mengikuti pelajaran.
Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, ada sesuatu yang mengkhawatirkan, begitu tutur seorang dokter yang memeriksa keadaannya. Beberapa hari berselang kekhawatiran dokter itu terbukti saat ia mengetahui hasil lab pemeriksaannya.
Sel-sel ganas itu sudah bersarang di tubuhnya. Menyerang salah satu pertahanan tubuh paling vital. Menyerang kelenjar getah bening di bagian lehernya. Sel-sel kanker ganas yang mematikan. Rahangnya mengeras, tiba-tiba saja ia merasa sesak seperti ada sebuah batu besar yang menindih dadanya.

**

“Okey Tuan Irish, Let’s Be Friend. Saya harap saya bisa menjadi teman yang baik bagi anda”, Irish tidak tahu sejak kapan gadis itu telah bangkit dari sisinya dan kini berdiri tepat dihadapannya, menjulurkan lengannya yang kemudian dijabatnya erat. Senyuman itu tidak pernah lepas dari wajah cantiknya. Irish menatap gadis itu dengan penuh rasa heran, ia masih bisa merasakan kehangatan dan keriangan gadisnya sama seperti dulu. Senyumnya tak pernah berubah, bagitu pula perkataan yang keluar dari sela bibir merah muda nya. Selalu riang, ringan tanpa beban. Apakah dua tahun kebersamaan tidak sama sekali berarti baginya?. Ia tahu gadisnya memang selalu begitu. Dia unik, menarik, dan selalu mampu membawa kecerian tersendiri yang tidak dimiliki gadis-gadis lainnya. Dia si cantik dengan tatapan hangat dan lembut. Tapi dia juga tuan putri dengan sejuta petualangan mendebarkan. Dia selalu riang, dan terlihat santai dalam menjalankan segala sesuatu yang mesti ia jalankan. Namun tidak pernah sekalipun ia tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam menjalankannya. The Complicated Princess. Pacar Rock and Roll nya. Anindya.

****

Irish menarik napas panjang, mengacak-acak rambut bagian belakangnya dan tersenyum satir pada gadis disampingnya, Anind.
“Jadi seminggu lagi seminggu lagi kepalamu ini akan benar-benar botak?”, Anind berusaha menahan tawanya, hanya dengan senyuman.
“Berarti kamu sebentar lagi akan jadi seperti tuyul. Botak…hahaha”, kali ini ia tidak mampu lagi menahan derai tawanya. Ia tertawa. Memang. Ia tertawa untuk menahan air matanya agar tidak jatuh saat harus membayangkan laki-laki yang masih begitu ia sayangi akan menghadapi tahapan lebih lanjut, bertarung dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya yang semakin kurus. Bertarung melawan maut. Mungkin tidak lama lagi. Ia tidak akan menangis, tidak. Tidak untuk saat ini. Laki-laki itu tidak boleh melihat lelehan air matanya. Ia tidak boleh melihat lelehan air mata dari Pacar Rock and Roll nya yang tidak pernah menangis di 12 kali kecelakaan yang pernah ia alami.

****

Aku tahu sejak dulu Irish bukanlah tipe orang mengingkari apa yang pernah diucapkannya. Ia tidak pernah sedikitpun bermain-main dengan janji yang pernah ia ucapkan. Ia terlalu memegang teguh kata-katanya tentang Janji adalah janji yang harus ditepati. Sejak dulu, sejak kami masih menjadi sepasang kekasih. Ia berjanji padaku untuk menuruti kemauanku sebagai syarat perpisahan dengannya. Kami berteman dan sebagai teman aku memintanya untuk memperbolehkanku menemaninya diruang perawatan hingga tiba waktunya untuk ia menjalani kemotherapi tahap selanjutnya.
Dan disinilah aku kini. Di dalam sebuah ruangan bercat putih, dengan ranjang berwarna hijau telur asin dan bantal putih sebagai penyangga kepala. Irish masih tertidur saat aku tiba, diruangan ini ia ditemani Ibu serta kakak perempuannya yang begitu aku datang segera pamit pulang, ia-kakak perempuan Irish- sudah 2 hari 2 malam menunggui Irish di ruangan ini. Irish terbangun dari tidurnya tak berapa lama setelah Ibu nya pamit untuk membeli minuman dan makanan kecil, aku memang tak sempat membelinya karena terlalu tergesa-gesa menuju tempat ini dari kampus.
“Anind…”, aku tersenyum semanis mungkin saat mendengar suara lirihnya memanggil namaku. Ia balas tersenyum padaku. Perlahan namun pasti aku bisa merasakan nyeri yang teramat sangat menyembul keluar begitu saja dari bagian-bagian terkecil hatiku, merambat dan terus menjalari seluruh tubuh. Sakit rasanya saat melihat ia terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan kepala yang sudah benar-benar licin seperti sekarang ini. Wajahnya semakin pucat, tubuh karateka nya semakin kurus.
Aku menangis dalam diam. Dalam hati. Karena ia tidak boleh melihatku meneteskan air mata, menangis tidak akan membuatnya merasa lebih baik dari sekarang, mungkin sebaliknya. “Hei, kamu mau apa?. Mau makan?, mau minum?, mau pipis?,mau pup?, atau mau pulang?. Yuk kita pulang, mumpung dokternya nggak ada…hihihi”, aku tidak yakin apa guyonan semacam ini bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang aku yakin semakin hari semakin bertambah, dan menjalari setiap senti tubuhnya, tapi aku tak peduli dan tetap mencobanya. Irish tertawa kecil dan menjadikan wajahnya lebih cerah,
“Ingat ya, kamu belum jadi dokter, mana bisa seenaknya memperbolehkan pasien pulang”.
“Hahaha…oiya, aku kan masih semester 2. Terus berapa lama lagi ya?, 4 tahun?, 5 tahun?, emmmm…kalau ditambah spesialisasi 2 tahun jadi berapa?. Waduhhh…masih lama banget ternyata”, aku berusaha untuk terlihat berpikir tentang pertanyaan yang kulontarkan sendiri. Aku melihat senyum di wajah Irish saat aku mencuri-curi pandang ketika berusaha untuk terlihat tengah berpikir tentang pertanyaanku.
“Aku akan di kemo sekali lagi minggu depan. Maaf ya aku jadi terlalu merepotkanmu”, ucap Irish dengan suaranya yang terdengar semakin lirih, tapi aku tau ia bersungguh-sungguh akan ucapannya tadi.
“Aku nggak repot kok, suer”, aku berusaha meyakinkannya dengan gerakan tangan mengangkat sejajar dengan bahu dan dua jariku membentuk huruf V.
“Sudah 3 minggu kamu selalu menyempatkan diri menjengukku. Sejak kamu masih luka-luka seusai kecelakaan keduabelasmu sampai kini, saat luka-lukamu sudah mengering dan hilang dari permukaan kulitmu”. Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. Isi kepalaku seolah mendadak menguap entah kemana. Tidak ada satu kata pun yang kurasa tepat untuk menggambarkan perasaanku saat Irish berkata demikian. Lama aku memikirkan apa yang akan kukatakan padanya. Namun aku sadar nampaknya aku sudah terlalu jauh terseret suasana muram ini. “Aku nggak pernah merasa direpotkan oleh teman baikku. Mungkin sekarang statusnya sudah meningkat. Sahabat?”,sekali lagi aku berusaha mengeluarkan senyuman terbaik yang aku miliki. Irish tersenyum. Jelas ia tidak sedikitpun menolak perkataanku tadi.

****

“Kamu kenapa nangis?”, laki-laki berwajah pucat yang masih terbaring diatas ranjang berwarna hijau telur asin itu berusaha mengangkat tangan kanannya dan menggapai wajah gadis yang dengan setia menemaninya sampai saat ini. Saat yang dirasakannya sebagai saat penghabisan. Begitu ingin rasanya ia menghapus butiran air mata yang meleleh di pipi gadis itu.
“Aku nggak nangis, cuma kelilipan”, jemari Irish belum sempat menghapus lelehan air mata itu saat si gadis telah lebih dulu menghapusnya dengan punggung tangan kanannya.
Irish tersenyum tipis. Tatapannya yang kuyu semakin membuat gadis itu tak kuasa menahan air mata yang masih saja meleleh di pipinya.
“Anind, aku pergi dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan bandel seperti biasa. Hati-hati kalau mengendarai motor”. Gadis itu tidak bisa menahannya lagi, ia membiarkan butiran-butiran air mata itu luruh dari kedua pelupuk matanya seperti hujan saat sore sebelum kecelakaan keduabelas yang ia alami dulu.
“Pergi…pergi…kamu mau kemana sih?. Jangan ngomong begitu, kamu ini pesimis banget sih”, kali ini nada suara gadis yang biasanya riang itu telah bercampur dengan emosi yang tidak bisa tidak dikeluarkannya.
“Aku bukan pesimis, tapi realistis”, suaranya tenang semakin membuat hati gadis itu tercabik-cabik.
“Kaa…Kammu…bahkan belum lihat aku diwisuda dan jadi dokter”, ujarnya disela isak tangis yang semakin tak tertahankan. “Aku pasti datang”, ia tesenyum. Senyumnya yang terakhir sebelum petugas Rumah Sakit memohon agar si pasien ditinggalkan sendiri untuk persiapan perpindahan pasien ke ruangan khusus kemotherapi.

****

Hari ini aku kembali melihat senyumannya. Bukan di lapangan Futsal, bukan pula di Rumah Sakit atau tempat-tempat yang sering kami kunjungi dulu. Aku melihatnya diantara para orangtua, wali murid, kerabat, teman, atau mungkin aku lebih senang menyebutnya para tamu wisuda. Aku bisa melihat Irish tersenyum padaku, ia berdiri dibagian belakang dan menatapku yang tengah menerima peresmian sebagai sarjana kedokteran.
Ia tidak lagi berkepala licin, rambutnya telah kembali seperti sediakala, tebal berwarna coklat kehitaman. Wajahnya tampan di bingkai senyum sempurna yang semakin menegaskan darah campuran yang mengalir dalam dirinya. Aku tau ia pasti bangga atas pencapaianku. Aku tau ia bangga karena Pacar Rock and Roll nya ini mampu menyelesaikan kuliah kedokterannya dengan IP memuaskan. Dan….
Dan…aku tau saat ia berbalik, melangkah dan semakin menjauh sebelum kembali menolehkan kepalanya untuk tersenyum padaku. Itu adalah senyuman terakhirnya.

*******

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s