Sepenggal Kisah Usai Sekolah

Sepenggal Kisah Usai Sekolah

“Negara berkembang adalah suatu Negara yang pendapatan rata-ratanya rendah, infrastrukurnya relatif terbelakang, dan indeks perkembangan manusia berada di bawah standar normal global. Kelompok Negara ini memiliki pembangunan sosial terbelakang yang nampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia, seperti rendahnya usia harapan hidup, tingginya kematian bayi dan anak”.

Aku menatap wajah-wajah itu. Wajah-wajah muda yang kuyakin haus akan ilmu. Ah, rasanya masih tetap sama seperti bertahun-tahun lalu saat aku berdiri di depan sini dan mengajar untuk bertama kali. Aku mengerutkan kening saat kulihat ada salah satu dari mereka yang terlihat mengantuk saat aku menerangkan pelajaran hari ini. Dasar anak-anak, pasti semalam tidurnya larut. Aku sudah bisa menebak kenapa?. Ah, anak laki-laki. Pasti semalam tidur larut karena menyaksikan pertandingan sepak bola klub favorit mereka, mungkin klub dari Inggris itu. Aha…bagaimana jika kuminta ia menjelaskan tentang Negara itu.

“Kamu…”, tatapanku mengarah pada wajah anak laki-laki yang terlihat mengantuk itu. Anak itu terlihat terkejut. Ia jadi tidak terlihat mengantuk.
“Iya kamu, coba kamu jelaskan apakah menurutmu Inggris termasuk Negara berkembang?”,
Anak laki-laki berambut cepak itu hanya terdiam. Tidak mengucapkan sepatah katapun. Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“Lain kali, jangan tidur terlampau malam. Itu hanya membuatmu tidak konsentrasi belajar”. Aku melihatnya menggangguk pelan. Yasudahlah biar kujelaskan saja.
“Inggris tidak termasuk Negara berkembang. Inggris termasuk Negara maju karena standar hidup yang tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Yang disebut Negara maju juga memiliki Pendapatan Nasional Bruto perkapita yang tinggi”. Aku berhenti menjelaskan saat aku merasa sedikit terganggu oleh beberapa siswi yang malah asik mengobrol saat aku menerangkan.
“Ehemmm…”, aku berdeham cukup keras. Bermaksud menyindir siswi-siswi yang sedang asik mengobrol itu. Ternyata mereka menyadarinya dan segera terdiam.
Aku kembali menjelaskan pelajaran hari ini pada mereka.
“Siapa yang bisa menjelaskan contoh Negara berkembang di Asia?”. Tidak ada jawaban. Mereka hanya terpaku menatapku yang mengacungkan tangan dan menunggu salah satu dari mereka melakukan hal yang sama denganku. Hhhh…dasar anak-anak. Pasti kemarin mereka tidak belajar.
“Salah satu contoh Negara berkembang di Asia adalah Cina. Cina merupakan Negara yang memiliki penduduk terpadat di dunia-….”. Penjelasanku terhenti. Aku terbatuk-batuk keras. Dadaku terasa sakit. Hhhhh…anak-anak. Kulihat beberapa dari mereka justru tersenyum mengejek sambil menundukkan kepala. Aku masih dapat melihat bibir mereka berkomat kamit tidak jelas. Mungkin mereka mengejekku. Gurunya yang tengah terbatuk di depan kelas. Guru yang terkenal galak. Begitu kata mereka. Aku jadi teringat saat-saat lalu. Saat tubuhku ini masih sehat dan kuat. Aku memang sering menghukum murid-murid nakal yang suka membuat masalah. Mulai dari tidak mengerjakan PR, mengobrol saat aku tengah menerangkan pelajaran, membuat gaduh di dalam kelas, atau bahkan yang mengejekku atau guru lain. Tapi sekarang sudah berbeda. Aku tidak akan melakukan hal itu. Tubuhku sudah terlalu lemah duntuk bisa seperti dulu. Aku lebih memilih untuk mencoba tidak menghiraukan semua itu. Ah, anak-anak seandainya kalian tahu. Ibu melakukan itu semua karena Ibu sangat menyayangi kalian seperti Ibu menyayangi darah daging Ibu sendiri. Seandainya kalian mengerti Ibu menghukum kalian karena Ibu menyayangi kalian dan berharap kalian menjadi manusia yang lebih baik nantinya. Tidak ada maksud lain. Ibu memang tulus menyayangi kalian, itu sebabnya Ibu tidak bosan-bosannya menasihati kalian dan memperingati kalian saat berbuat salah, berbuat yang seharusnya tidak kalian lakukan. Ibu bukannya tidak tahu apa yang kalian bicarakan tentang Ibu. Ibu guru galak yang selalu memberikan banyak tugas. Ah, Nak…seandainya kalian tahu semua itu Ibu lakukan untuk kalian karena Ibu menyayangi kalian dan ingin kalian lebih banyak belajar.
Ingatanku melayang saat tahun-tahun lalu, dimana waktu Ujian kelulusan semakin dekat. Puasa Senin Kamis sudah menjadi rutinitas wajib yang aku jalani setiap kali ujian semakin dekat. Doa selalu kepanjatkan setiap selesai Beribadah menghadap-Nya. Agar semua murid-muridku lulus dengan nilai yang memuaskan, apalagi yang kupanjatkan selain itu.
“Baik, kalian kerjakan soal latihan halaman 30 sampai dengan selesai. 30 soal, Ibu rasa satu jam cukup. Setelah itu segera dikumpulkan”.
Kulihat wajah-wajah terkejut dari sebagian siswa siswi itu, beberapa melayangkan protes meminta tambahan waktu. Tapi aku tidak menghiraukan itu. 1 jam cukup.
Aku menarik nafas panjang dan tersenyum saat menatap murid-murid yang tengah khidmat mengerjakan soal itu. Ah, betapa menyenangkannya saat melihat mereka sedang serius belajar seperti sekarang ini. Pandanganku tertambat pada salah satu wajah dari mereka. Aku ingat wajah itu. Anak laki-laki bertumbuh gemuk dengan wajah yang kadang terlihat polos namun bandelnya bukan main. Dulu sering aku menghukumnya karena tidak mengerjakan PR, berbuat gaduh dan sebagainya. Ah, dulu…..

******

“Ibu guru, sudah dulu ya mengajarnya….”
“Murid-muridnya sudah ingin pulang. Ibu Guru juga harus makan siang, setelah itu Ibu juga harus beristirahat”
“Besok diteruskan lagi ya….”
Wanita tua itu mengangguk lemah saat seorang perawat berpakaian putih-putih memintanya menghentikan aktifitas yang selalu ia lakukan setiap hari. Perawat itu mendekat kepada wanita tua yang tengah duduk di depan sebuah ruangan kosong yang di bagian depan pintu tertera sebagai ruang serba guna. Perlahan dipapahnya tubuh wanita tua itu untuk meninggalkan ruangan kosong tersebut. Wanita tua itu berjalan mengikuti perawat yang memapahnya. Ia menatap jauh kedepan. Ah, betapa menyenangkannya mengingat masa lalu saat ia masih menjabat seoarang guru. Ah, betapa menyenangkannya saat mengingat wajah-wajah serius anak-anak yang tengah belajar. Dan betapa ia merindukan kembali saat-saat itu.
Wanita tua itu menatap hambar tulisan yang tertera pada sebuah pintu kayu sebuah ruang yang ditujunya. Ruang Makan RUMAH JOMPO “KASIH SEHATI”.

Apakah kita memikirkan sebanyak yang mereka pikirkan untuk kita?
Mereka memberi terlalu banyak, terlalu banyak yang berarti, apa yang sudah kita lakukan untuk mereka?
Kadang apa yang terjadi dikemudian hari tidak selalu seperti apa yang kita bayangkan…
Bagaimana jika sumpah serapah kita menjadi kenyataan?, seperti inikah yang kita harapkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s