Ibumu

Semalam aku bermimpi tentangmu yang tengah menangis dipangkuan Ibumu. Aku dapat mendengar desah napas diantara suara tangismu yang lirih. Membayangkan matamu yang sembab dan basah. Warna coklat itu semakin pekat seperti warna tanah basah sehabis hujan. Dadamu turun naik mengikuti tarikkan napas yang sesak tak beraturan.
Sayang, tahukah kamu betapa inginnya aku menghampiri dan memelukmu saat itu?. Memberikan bahuku agar bisa kautumpangi kepalamu yang berat dengan timbunan air mata. Aku membayangkan bajuku yang sudah tentu akan basah oleh air matamu, seperti habis kehujanan di hari murung sepulang sekolah.
Dalam mimpi, kamu menangis dan terus menangis, seperti tak ada akhir. Bahkan aku sempat khawatir ruang dalam mimpiku akan banjir air matamu. Namun kekhawatiranku segera sirna ketika tiba-tiba kamu berhenti menangis dan terdiam sepi. Kamu diam, tidak ada lagi tangis atau air mata. Ya ya ya…aku tahu tangismu terhenti karena aku tak lagi mendengar suaramu yang pilu sejak tadi. Kemudian aku penasaran dengan keheningan yang tercipta, Ibumu bahkan tak lagi bersuara, menyenandungkan lagu Lir Ilir seperti yang tadi dilakukannya, aku rasa untuk menenangkanmu.
Aku diam terkesiap menatap tubuhmu yang telungkup pada pangkuan Ibumu. Sunyi. Sepi. Detik jam kemudian terdengar jelas. Entah darimana datangnya. Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Detik demi detik terdengar ganjil, mereka terdengar layaknya pertanda, peringatan, pemberitahuan atau apalah, aku sulit menemukan kata untuk menggambarkannya. Tapi untuk apa?. Aku disini. Kamu dipangkuan Ibumu. Semua aman. Apa yang harus diperingatkan?. Kamu sudah tenang dalam pangkuan Ibumu. Telungkup tenang disana sementara aku menatapmu khikmat dari tempatku berdiri, sebuah sudut tak terlihat, setidaknya olehmu atau Ibumu,hmmm…atau mungkin tepatnya belum terlihat atau mungkin belum kamu dan Ibumu sadari.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Bunyi itu semakin keras, entah berasal darimana. Pandanganku mengelilingi sekitar ruangan itu. Tidak ada Jam dinding atau jam jam lain. Aku berusaha memicingkan mata, memperjelas pandanganku pada pergelangan tangan Ibumu yang terkulai diatas kepala juga punggungmu. Polos. Tidak ada yang Ibumu pakai. Kali ini pandanganmu mengarah pada sosokmu yang tengah telungkup di pangkuan Ibu, berusaha melihat tanganmu, nihil, tanganmu begitu sulit terlihat, keduanya tersembunyi dibawah tubuhmu yang telungkup itu.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Heran, bunyi itu semakin keras, seolah menerorku. Kujulurkan tangan, memastikan tak ada arloji disana. Ya, aku memang tidak mengenakan arloji. Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Ah, bunyi itu semakin mengganggu, semakin intens dan, dan, dan terasa mulai menakutkan. Aku masih berusaha mencerna bunyi-bunyian itu saat suara lain memecah konsentrasiku.
Kamu kembali menangis, kali ini lebih pilu. Aku bisa merasakan itu. Ah, suaramu itu. Tapi tunggu. Itu bukan kamu. Bukan suaramu. Tangis itu bukan milikmu. Lalu siapa?. Aku tidak menangis. Ibumu?. Apa Ibumu menangis?. Apa yang iya tangisi?. Kamu?. Kenapa telat sekali?. Kenapa baru sekarang?. Kenapa harus menunggumu terdiam?.
Aku kembali menatap tubuhmu yang masih telungkup dipangkuan Ibumu. Kamu diam. Aku diam. Ibumu menangis dan kemudian sesuatu merembes pelan dari bajumu yang sudah kelihatan lusuh. Setitik merah, sebulatan, lebar, melebar, besar, kemudian bajumu berubah warna. Merah. Tes tes tes tes setetes setetes. Kental. Merah. Darah. Kamu diam. Ibumu menangis. Aku berdiri kaku.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok. Suara itu semakin mengganggu. Mengganggu. Mengganggu.
“Hahahahaaa…!”, suara itu keras sekali, memekakkan telingaku. Siapa yang tertawa?. Kamu masih diam dan aku terpaku kaku. Siapa?.
“Hahahahaaa…!”, semakin keras, semakin memekakkan. Aku mulai muak, bau amis sekejap menyeruak.
“Hahahahaaa…Tidur sayang oh tidur sayang…”, tawa, senandung, aku muak. Aku menatap ngeri, tubuhku mulai tegang, rahangku mengeras. Bunyi Tik Tok Tik Tok Tik Tok itu semakin keras. Ibumu menyeringai, tawanya semakin keras, berulang-ulang sama kerasnya seperti sirine mobil ambulance yang kerap lewat dan membuatmu takut. Ibumu menolehkan kepala, matanya menemukanku. Kedua pupilnya yang hitam semakin berkilat menatap kearahku. Sebuah pisau tiba-tiba sudah lekat dalam genggamannya. Napasku tercekat.
“Aku begitu menyayangimu, jangan pergi, aku mohon jangan pergi”, suara itu lirih, pelan, lamat sekali diucapkan dari sosokmu yang telungkup dan dipenuhi warna merah. Siapa?. Siapa yang jangan pergi?. Siapa?. Aku?.
“Aku akan tetap tinggal, untukmu”, suara itu menggaung, menggema, memantul kesetiap sisi hatiku, hanya hatiku. Tak pernah kuucapkan jelas-jelas padamu, padamu…aku…bodoh. Diam. Hanya diam, terpaku kaku menatapmu penuh darah.
Wajah itu menyeringai semakin jelas, meremangkan bulu romaku. Pisau. Pisau itu, merah penuh bercak. Darah. Bunyi Tik Tok Tik Tok Tik Tok semakin keras terdengar, semakin menerorku. Aku kaku terpaku ditempatku. Ibumu semakin intens menatapku, menyeringai buas sembari tertawa keras.

****

“Sayang, semuanya akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja. Ibumu sudah Kubunuh, kamu akan baik-baik saja bersamaku. Aku akan tetap tinggal untukmu, untukmu, untukmu”, ia meracau semakin kacau. Tubuhnya yang kini terlihat sangat kurus bergelung tegang diatas tempat tidur putih. Gumamannya terdengar semakin kacau, ingatannya tidak bisa mengenyahkan segala peristiwa hampir setahun lalu. Semua kembali kembali dan kembali berulang setiap hari, setiap malam dalam lelapnya. Semua potongan-potongan adegan yang kemudian menjadi cerita tersendiri dalam mimpi.
Matanya masih tertutup sementara dari mulutnya keluar komat kamit pengulangan kata saat Nena memasuki ruang rawat itu bersama seorang perawat berseragam hijau muda dengan jilbab putih dan sebuah papan, kertas juga bolpoin di tangannya. Nena mendekati sosok tubuh yang tengah bergelung dan meracau itu. Ia menatapnya lekat. Mata itu terpejam sementara mulutnya tak henti menggumam.
“Dia sering kumat dok. Terlebih akhir-akhir ini, ia sulit sekali tenang sejak dokter cuti empat hari lalu”,
Nena mengganggu kecil mendengar penjelasan si perawat, wajahnya  serius seperti biasa. Dokter muda berkacamata minus itu perlahan mengambil posisi duduk disebelah tubuh yang masih meracau tersebut. Nena terlihat begitu tenang, berbeda dengan si perawat yang menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran layaknya seorang Ibu yang memergoki anaknya tengah memanjat pohon jambu air yang dipenuhi ulat bulu sebesar jari telunjuk orang dewasa berwana kuning yang kerap menggerogoti daun daunnya. Ada yang ingin perawat itu katakan tentang kelakuan si tubuh yang tengah bergelung itu, tentang bagaimana ia mengamuk di waktu-waktu tertentu, terutama beberapa saat setelah ia terjaga dari tidurnya.
“Raysha memang sulit sekali tenang semenjak kematian Rania”, Nina tersenyum samar, senyum yang membuat mulut perawat itu terkunci rapat seketika, apa yang ingin ia katakan mendadak menguap entah kemana. Sebuah instruksi tangan sederhana membuat si perawat meninggalkan ruang perawatan tersebut. Nena kembali tersenyum manis dari balik kacamatanya, menatap Raysha lekat dan membelai rambut hitamnya perlahan. Mata yang terpejam itu perlahan terbuka, sinarnya yang semula redup berubah penuh pengharapan saat melihat Nena dihadapannya.
Hati Nena basah melihat gadis berwajah pucat, bertubuh ramping dengan rambut panjang yang mencuat menutupi sedikit wajahnya yang tetap saja tak mampu menyembunyikan kecantikan lahiriahnya. Nena menyentuhkan tangannya ke wajah Raysha, menyingkirkan rambut-rambut liar dari wajahnya. Ia tersebyum lembut. Gumaman Raysha terhenti. Ia mendekap erat Nena, seolah tak ingin lepas.
“Jangan pergi, jangan pergi. Semua akan baik-baik saja. Aku menyayangimu”.
Nena terdiam. Hatinya basah. Mata coklatnya berkilat semakin pekat seperti tanah basah sehabis hujan.

AAZ 28,Agust 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s