(Bukan) Catatan Kecil JFFF Bagian 2

Sialll…ternyata saya nggak bisa nepatin apa yang saya bicarakan ke diri saya sendiri kalau saya ingin menyelesaikan bagian kedua ini hanya selang 1 hari dari yang bagian pertama. Niat awal buyar byarrr…dan barulah sekarang ini saya melanjutkan catatan selama JFFF. Gila, ternyata memang susah nepatin janji ke diri sendiri dibandingkan ke orang lain. Mungkin karena kalau ke diri sendiri kita (termasuk saya) sering lebih menggampangkan ya?.

Pada catatan saya yang pertama, saya lebih mengambil sudut pandang cerita dari beberapa fashion show yang saya datang disana, pada catatan kedua ini, walau tetap mondar-mandir show, tapi saya lebih ingin membahas tentang printilan (ini bahasa yang lebih enaknya apa ya?) yang bisa dibilang mengganggu pikiran saya selama JFFF berlangsung. Mengganggu disini adalah mengganggu karena saya jadi kepikiran terus selama JFFF kemarin  dan sampai sekarang.

Setelah hari ke 5 JFFF saya sempat absen selama 4 hari disana. Tepatnya saya absen datang di tanggal 19, 20, 21, 22. Bukan tanpa alasan saya absen datang kesana. Kalau mau dirunut ada beberapa alasan yang bikin saya 1. Males, 2. Nggak niat, dan akhirnya berakhir di 3. Nggak jadi dateng. Saya nggak akan bahas alasan-alasan itu disini, hmmm…males aja diinget-inget lagi apalagi salah satunya gara-gara si Bapak Designer Terhomat…blah!. Ouppsss keceplosan…-____-.

Empat hari absen dari JFFF saya kembali melakoni perjalan Cibubur-Kelapa Gading di tanggal 23, 24, dan Closing Night di tanggal 25. Dan inilah cerita selama tanggal-tanggal tersebut. Cerita tentang printilan (ini bahasa enaknya apa sih?, printilan apa ya?) JFFF 2011 yang mengganggu pikiran saya.

Si Nona Face Icon

JFFF sejak awal pelaksanaannya memang nggak bisa terlepas dari yang namanya Face Icon yang tidak lain adalah semacam ambassador selama JFFF berlangsung. Face Icon yang dipilih JFFF selalu always, tidak pernah never, pasti diambil dari kalangan model catwalk. Mereka yang terpilih sebagai Face Icon adalah para model papan atas Indonesia yang memiliki karakter serta keunikan tersendiri yang dianggap sesuai dengan tema yang diusung pada tahun tersebut. Di delapan kali penyelenggaraannya, urutan face Icon JFFF adalah Arzeti Bilbina(2004), Alannys(2005), Karenina(2006), Dominique Diyose(2007), Fahrani(2008), Paula Verhoeven(2009),  Laura Muljadi(2010), dan ditahun 2011 ini Prinka Cassy lah yang dipilih sebagai Face Icon.

Dan saya, pertama kali tahu Prinka sebagai Face Icon JFFF 2011 komentar saya adalah, “Why Prinka?”. Kenapa Prinka yang jadi Face Icon JFFF 2011?. Kenapa?, kenapa?, kenapa?. Pertanyaan-pertanyaan tentang kenapa Prinka?, itu datang begitu aja dalam kepala saya. Lumayan mengganggu dan bikin saya terus-terusan mikir “Why Prinka?”, selama hari-hari awal JFFF 2011.

Mungkin kamu akan balas pertanyaan saya dengan, “Emang kenapa kalau Prinka?”, mungkin itu dengan nada sinis(hmmm…bukan sinis juga sih tapi lebih ke, gimana ya?, ya seperti orang ngomong, “Emang kenapa sih?) atau semacamnya. Well, nggak masalah juga sih kalau kamu seperti itu, itu wajar kok, sewajar timbulnya pertanyaan-pertanyaan yang tercipta ketika seseorang dipilih menjadi duta/ambassador/brand atau sejenisnya, pasti kita juga akan langsung bertanya-tanya, kenapa dia?, kenapa nggak si A?, atau, kenapa nggak si B?. Apalagi kalau kita berpikirnya secara subjektif kepada orangnya, bukan objektif dari kapasitas atau kemampuan atau pertimbangan lainnya.

Lalu kenapa saya bingung saat tau Prinka jadi Face Icon adalah karena, 1. Prinka masih tergolong newcomer di modeling, 2. Mukanya terlalu bule sampe banyak yang kira dia bule beneran padahal Prinka itu bukan bule totok, dia indo, 3. Belum banyak yang tau tentang Prinka, dan dia juga belum terlalu menonjol diantara model-model catwalk lainnya meski memang karirnya sedang “naik” dan punya progress yang bagus.
Saya pun berpikir kenapa nggak si *sensor* ya yang jadi Face Icon?, secara dia lagi hitzzz berat?, wajahnya juga eksotis. Atau kenapa nggak si *sensor* ya?, dia kan new model of the year versi majalah ini itu, mukanya juga nggak bule walau keliatan juga ada darah lain dalam tubuhnya. Kenapa Prinka ya?.

Jujur aja, saya sama sekali bukan bermaksud mencari kekurangan Prinka, buat apa juga?, saya nggak pernah ada masalah sama dia. Malah saya kenal dia, walau nggak terlalu akrab tapi yang selama ini saya rasa dia anaknya baik, dan respect banget sama orang walau keliatan pemalu. Tapi ya tetap aja terpilihnya Prinka sebagai Face Icon pada awalnya bikin saya bingung.

Pelan-pelan saya coba menguraikan, “Why Prinka?” dalam kepala saya. Dan setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin inilah alasan kenapa Prinka dipilih sebagai Face Icon. Inilah hipotesis yang saya ciptakan tentang terpilihnya Prinka :

1. Prinka saat ini adalah salah satu newcomer dunia modeling yang karirnya semakin kinclong berkat wajah Indo, tinggi badan oke(179 cm menurut buku panduan JFFF), dan yang paling penting adalah Prinka tidak lain dan tidak bukan merupakan pemenang 3 Gading Model Search 2009. Dan setelah selidik punya selidik, dipilihnya Prinka juga karena ingin menaikkan citra GMS karena Prinka adalah alumni GMS yang karirnya saat ini paling bagus di umurnya yang baru 19 tahun.

2. Wajah bule Prinka mungkin memang sengaja ditonjolkan untuk lebih mengangkat tema “Inculturation” dari JFFF 2011. Karena Inculturation sendiri berarti percampuran, dan wajah bule Prinka pun dimunculkan untuk menarik kesan sesuatu yang Indonesia (lebih kepada busana) sangat bisa diterima oleh dunia barat (ya kalau masih menganggap Prinka bule, kan berarti dia dari Barat dong ya). Berarti masih bagus mereka pilih Prinka daripada mereka pilih bule beneran, hadehhhh nggak banget deh, lebih oke Prinka kemana-mana daripada bule beneran sekeren apapun tuh bule tetep aja dia bule, dan Prinka meski wajah bule dia itu Indonesia (seenggaknya berwarganegara Indonesia).

3. Kenapa nggak si *sensor* yang lagi hitzzz dan naik daun itu?, mungkin karena…Dia sengaja disimpen untuk tahun depan, dan tahun ini, Time to The Only One Prinka Cassy Pertiwi…:P

Ngomongin Prinka, bukan maksud untuk ngegosip juga atau sok tau, tapi saat saya bertemu dia di malam pembukaan JFFF selesai Show Anne Avantie saya kok ngerasa gimana gitu ke Prinka. Gimana ya?, sedih aja. Entah kenapa saya ngerasa Prinka nggak pede jadi Face Icon (mungkin di awal-awal doang ya), kasian juga, mungkin dia nggak pede karena wajahnya yang bule banget itu jadi Face Icon. Mungkin dia udah denger komentar-komentar yang agak nggak enakin tentang dipilihnya dia dan muka bulenya itu.

Saya sebenernya pengen ngobrolin itu ke dia, tapi akhirnya nggak sempet karena ribet juga waktu itu. Saya mau bilang ke Prinka, “Kalau kamu yang dipilih jadi Face Icon, itu kan bukan berarti tanpa sebab. Nggak mungkin pihak JFFF asal pilih, mereka pilih kamu karena kamu memang layak ditempatkan sebagai Face Icon karena mereka anggap kamu mampu mewakili apa yang ingin mereka sampaikan. Komentar-komentar kurang enak dan pertanyaan-pertanyaan tentang “kenapa kamu?” itu wajar. Cuek ajalah, yang penting kamu Do The Best dan buktiin kalau memang JFFF nggak salah pilih kamu sebagai Face Icon. Kamu yang terbaik, untuk JFFF tahun ini Prinka”.🙂

Siaran Ulangan

Salah satu alasan saya bela-belain dateng lagi di JFFF 2011 pada tanggal 23 salah satunya adalah Sebastian Gunawan. Saya penasaran pengen lihat seperti apa koleksi terbaru dari second line Seba, Votum. Jadilah saya balik lagi ke JFFF di hari itu meski capek banget  baru pulang sore seperti biasa. Tapi bagi saya itu nggak masalah demi lihat fashion show koleksi designer yang langsung bikin saya jatuh cinta dengan rancangannya sejak pertama kali lihat di Opening Night Jakarta Fashion Week 2009, fashion show pertama yang saya datang langsung.

Dan ternyataaa saudara-saudara…penonton kuciwaaa karena fashion show kali ini bukan koleksi terbaru Seba melainkan koleksi-koleksi yang sebelumnya pernah ia tampilkan juga di Plaza Indonesia Fashion Week sekitar bulan Maret kemarin. Jadilah fashion show hari itu sebagai fashion show ulangan.


Nggak hanya berhenti sampai di show Seba, show esok harinya, “Juxtapose” oleh Didi Budiardjo pun adalah siaran ulangan dari koleksi-koleksi nya yang pernah ia pamerkan di Opening Night Fashion Nation Senayan City dan Bazaar Wedding Exhibition. Meski begitu, secara jujur saya katakan bahwa saya nggak terlalu kecewa datang ke 2 fashion show itu karena saya sukaaa rancangan kedua-duanya, meski sudah pernah liat, saya nggak masalah harus liat itu lagi. Pengemasan yang beda, susunan model yang beda, musik yang beda, suasana yang beda, bikin semua itu jadi menarik lagi.

Sepatu Go Killllll di Hari Terakhir!

“Besok sepatunya gila banget. Mau mati gue”,
Saya nggak bisa menghilangkan komentar salah satu model itu dari otak saya. Komentar yang bikin saya benar-benar penasaran seperti apa bentuk si sepatu gila yang bikin model satu ini mau mati. Apa sampe segitunya ya?. Saya langsung membayangkan dan mengira-ngira seperti apa sih bentuk si sepatu yang katanya bikin gila itu. Hmmmm…memang bukan sekali ini saja sih ada kasus sepatu yang bikin stress para model. Sebelum-sebelumnya juga ada sepatu-sepatu yang dibuat secara nggak masuk akal. Ya habis, sepatunya superrrr tinggi, mengerikan dan berat pula (dibuat dari kayu soalnya, hmmm kayak wedges versi ekstrem).

Berbekal rasa penasaran akan bentuk si sepatu yang katanya bikin gila dan rasa sayang melewati fashion show hari terakhir di JFFF 2011, berangkatlah saya menuju Harris Hotel Kelapa Gading untuk menyaksikan si sepatu dan tentunya fashion show “Inculturation, Patola Kamba Menandang” oleh Adrian Gan.

Dan ternyata…Ya Tuhaannnn…I Feel what the model feel…The Shoes make me crazy at the first sight. Itu sepatu, saya nggak ngerti kenapa bisa ada sepatu kayak gitu bentuknya. Bingung saya, siapa coba yang mau pakai sepatu kayak begitu dalam kondisi biasa?, bukan sebagai properti show. Saya yang hanya melihatnya saja sampai stress sendiri dan dalam hati berdoa komat kamit semoga nggak ada model yang jatoh-jatoh (nggak kebayang deh sakitnya kayak apa kalau jatoh, apalagi malunya), gimana yang make langsung coba?.

For sureee….Itu sepatu bener-bener bikin saya ikutan stress sampai saya punya keyakinan yang sangat kalau seandainya sepatu itu dipakai untuk nimpuk orang, orang tersebut sekurang-kurangnya akan mengalami gegar otak menengah keatas.

 Baiklah inilah akhir dari Catatan bagian 2…
Saya belum tau juga sih akan ada bagian 3 atau nggak…
Tapi saya rasa untuk sementara ini cukup sampai disini…
Baiklah teman-teman…Sekian dan Terimakasih….:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s