Sebastian Gunawan ; Reflections of You

Sebastian Gunawan ; Reflections of You

Sebuah refleksi dari….Tunggu berikan saya waktu untuk berpikir. Hmmm…ralat, ini bukan sebuah refleksi, tapi refleksi, tanpa sebuah, refleksi dari keberagaman gaya para wanita dimata Seba.

Saya masih ingat betul fashion show pertama yang saya datangi. Tepatnya sekitar 2 tahun lalu, untuk pertama kalinya saya berkesempatan untuk menyaksikan sebuah fashion show secara langsung pada pembukaan Jakarta Fashion Week 2009. Fashion show yang malam itu bertema India Night menampilkan koleksi dari 4 orang designer yang terdiri dari 2 orang designer India dan 2 orang designer Indonesia. Salah satu designer Indonesia itu adalah Sebastian Gunawan. Dan dari situlah saya langsung jatuh cinta dengan rancangan-rancangan Seba yang cantik, artistik, sophicticated, memiliki detail yang menarik namun tetap terlihat wearable, jadi nggak hanya enak dipandang, dan lumayan “nyeni”, tapi juga tetap bisa dipakai dan nggak hanya jadi pajangan yang cuma cocok di display di manekin.

Dari situ saya selalu berusaha datang ke setiap fashion show karya-karya Seba (ya tentunya kalau saya tau infonya, atau diundang). Setelah pada tahun 2010 lalu Seba membuat show tunggal yang diberi judul “Femme Fetale”, pada tahun 2011 ini dengan masih mengambil tempat di Hotel Mulia Jakarta, Seba menggelar sebuah show tunggal yang ia beri judul “Reflections of You”.

Namun bedanya, jika pada “Femme Fetale” Seba bergantung pada diri sendiri tanpa didalangi sponsor utama (Hmmm…seingat saya show itu nggak ada sponsor utama, tapi kalau seandainya saya yang lupa tolong dimaafkan ya :p), pada “Reflections of You” ini Danone Aqua lah yang menjadi sponsor utama. Fashion show ini pun sekaligus menjadi pertanda diluncurkannya secara resmi desain eksklusif botol Aqua yang di rancang secara khusus oleh Seba. Sebuah desain botol yang…kereeennnn banget, saya suka banget desain botol dari Seba ini. Botolnya itu terkesan eksklusif, mewah, enak diliat, dan lambang yang diciptakan khusus oleh Seba yang kemudian di print di bagian perut luar botol itu juga kereennnn banget dan lebih memunculkan nuansa ke eksklusifan itu sendiri.

Cukup berbicara tentang desain botol yang keren itu, sekarang mari kita beralih ke menu maincourse dari acara ini (baca: Fashion Show Seba) “Reflections of You”. Menampilkan 77 gaun cocktail dan gaun malam yang ditujukan untuk lini utama (first line) “Sebastian Gunawan” dan delapan gaun pengantin eksklusif kelas medium alias medium-high fashion bridal collection dari lini “Sebastian Sposa”, fashion show malam itu entah mengapa terasa berjalan sangat lambat.

Hmmmm saya pun masih berpikir kenapa kok rasanya show itu rasanya lamaaa banget ya?, padahal kalau dibandingin fashion show nya Biyan yang menampilkan 100 koleksi (It’s mean lebih banyak 15 koleksi dari show Seba ini) rasanya lebih cepat show nya Biyan yang meski baju nya banyak tapi nggak kerasa sebanyak itu (kebalikan dari show Seba ini, yang sempat membuat saya berpikir kalau show ini menampilkan ratusan koleksi..-______-). Hmmm agak berlebihan mungkin, tapi memang begitulah yang saya rasakan, lama banget rasanya show itu, saya sampe agak pegel motret baju-bajunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mungkin karena koreografinya ya yang memang dibuat lebih lambat?, atau mungkin karena show ini berjalan secara konvensional seperti show-show “biasa” tanpa sama sekali memberikan sesuatu yang berbeda semisal alur cerita, penampilan khusus, koreografi berbeda atau lain sebagainya yang bisa dijadikan “penyegar” atau alternatif yang lebih bisa menghidupkan suasana. Latar panggungnya juga masih biasa, tidak ada yang spesial atau istimewa. Tidak ada peletakan properti pelengkap yang membuatnya lebih menatrik atau pun lebih mengentalkan tema yang diusung.

Ke “biasa” an ini sebenarnya cukup saya sayangkan, terlebih setelah tau untuk urusan koreografi mereka bekerjasama dengan P Productions. Ya bagi saya sayang aja sudah kerjasama dengan P Productions yang terkenal di seantero per fashion an tanah air itu tapi show nya nggak di “macem-macem” in, apalagi dengan baju yang jumlahnya lumayan banyak dan itu juga berarti lumayan beresiko menimbulkan rasa bosan saat menyaksikan show tersebut apabila ditampilkan dengan alur lambat serta “kemasan” yang terlalu biasa.

Bisa dikatakan untuk sekaliber pagelaran tunggal, show Sebastian Gunawan “Reflections of You “ ini tergolong masih biasa dalam segi treatment show.

Tapi entahlah, mungkin memang pihak Seba memang lebih ingin menonjolkan baju-baju yang menjadi menu utama di show tersebut sehingga menomor duakan pengemasan show dan lebih memilih untuk melakukan show secara konvensional seperti biasa sehingga tidak melakukan eksperimen dalam pengemasan show ini yang sangat mungkin menyebabkan terpecahnya konsentrasi seluruh orang yang menyaksikan jadi tidak terlalu fokus ke baju, tetapi lebih seru melihat gimmick-gimmick yang di suguhkan.

Selepas show malam itu saya sempat sedikit berbincang dengan salah satu model yang ikut dalam show itu. Ketika saya bilang kalau, “Sayang ya pakai P Productions tapi nggak diapa-apain dan show nya biasa aja treatmentnya”.

Dan di bilang, “Enggak gitulah, tetep aja beda, koreonya beda, jalannya juga lebih clean, lebih rapi”.

Mendengar itu saya langsung mikir, dimana letak bedanya?. Jalannya juga sama saja seperti show konvensional lainnya, walau tentu dengan detail kecil yang berbeda seperti perputaran para model dan pembentukan formasinya. Tapi ya bagi saya tetap sama aja. Hmmmm…mungkin benar sih kata dia kalau tetap aja beda, hanya saja mungkin yang lebih bisa merasakan itu ya para model-modelnya yang jalan langsung di atas catwalk sana dan sudah hapal di luar kepala mana yang biasa dan mana yang nggak biasa, mana treatment yang lebih enak mana yang biasa, atau malah kurang enak.

Anyway, mari kita tinggalkan tentang pengemasan show nya yang bagi saya terasa sedikit kurang, dan membahas tentang koleksi-koleksi yang kemarin ditampilkan Seba.

Melalui “Reflections of You”, Sebastian Gunawan bercerita tentang para wanita yang hidup di hari ini, dalam pakaian bergaya masa kini sebagai refleksi pernyataan dirinya. Wanita yang semakin menampilkan gaya personal yang kemudian menimbulkan pencitraan tersendiri bagi dirinya. Entah menjadikan dirinya wanita yang elegan atau feminine, bisa juga unik dan berbeda, atau lebih playful dan beragam karakter lain yang sesuai dengan dirinya.

Ke 77 gaun cocktail dan 8 gaun pengantin siap pakai kelas medium high yang ditampilkan Seba pada malam itu memang terasa menunjukkan beragamnya karakter berbeda. Keberbedaan itulah yang kemudian menjadikan keseluruhan koleksi memang benar-benar berbeda, walau Seba menyebutkan warna lah yang menjadi benang merah pengikat satu koleksi ke koleksi lainnya, tetap saja bagi saya yang melihat keseluruhan koleksi malam itu, rangkaian koleksi yang ditampilkan Seba terasa berdiri sendiri-sendiri tanpa ada suatu kesamaan yang mengikat. Berbeda. Koleksi-koleksi yang ditampilkan itu lebih terasa koleski random/campuran dibandingkan dengan suatu koleksi yang mengusung tema secara spesifik.

Tapi memang harus diakui keseluruhan karya Seba yang tergabung dalam “Reflections of You” ini sangat menarik, dan overall saya suka. Beberapa rancangan yang simple jadi tidak se simple yang dilihat dengan motif-motif print yang sangat menarik, atau juga gaun-gaun yang agak berat tidak membuat kita berpikir “Bisakah ini “dipakai” ?” karena gaun-gaun itu memang cantik-cantik semua dan bikin langsung jatuh hati. Ya seperti yang kamu tau, kalau orang sudah jatuh hati akan susah menolak apa yang membuatnya jatuh hati walau pun ia tahu itu mungkin sedikit sulit…:p

“Reflections of You” sendiri memang diinterpretasikan Seba sebagai pantulan gaya para wanita masa kini yang sangat beragam dan bervariasi. Bervariasinya gaya wanita itu kemudian dituangkan lewat karakter desain yang juga beragam, mulai gaun ringan berkesan muda, gaun berkonstruksi kuat, gaun lembut berdraperi, gaun mewah kaya ornament, bahkan haun polos tanpa bling-bling sekalipun. Keberagaman ini kemudian seperti lebih di kelompokan atau diikat dengan permainan warna. Warna-warna cerah dipilih untuk sebagian besar koleski, warna yang baik berdiri sendiri maupun dikomposisikan berani dalam blok warna, motif bunga yang semarak berukuran besar dan daya tarik draperi aneka bahan.

Pemilihan pada koleskinya ini mewakili keceriaan warna-warna musim panas dengan nuansa putih pudar, merah jambu, merah bata, hijau, kuning, dan salem. Semua itu dilengkapi lagi dengan jajaran nuansa abu-abu, perak dan hitam yang mengekspresikan kemewahan malam hari.
Ditengah kerampingan pinggang dan keceriaan rok mekar ala Dior, koleksi juga mengantarkan napas orientalisme lewat sulaman dan aplikasi gaya lukisan Jepang, potongan tenda dari gaya baju Korea, ikat pinggang tali obi sampai blus berpotongan cheongsam. Sementara Stola Spanyol diinterpretasikan menjadi kerah syal berdraperi artistik yang membungkus bagian bahu gaun-gaun rampingnya yang terkonstruksi dalam pola asimetris.

Ya kurang lebih seperti itulah cerita saya dari show Seba…
Hiks Yes I know it was tooooo late to update this story…hikshiks…
Tapi sayutralah yaaa…It’s just for fun dan buat seru-seru an aja…
Hmmm hmmmm sebelum saya menutup cerita ini, ada satu lagi yang paling saya inget dari show Seba ini, yaituuuu…Hair Do nyaaaa….Yeeppp hair do nya alias tata rambut di show ini yang bentuknya potongan rambut ngebob berponi asimetris telah dengan sukses mengingatkan saya dengan potongan rambut Andhika Kangen Band…Yaaa saudara-saudara, kalian nggak salah baca, saya beneran keinget potongan rambutnya Andhika Kangen Band pas liat hair do di show ini. Dan sangat beruntunglah saya karena untuk pertama kalinya saya liat Kimmy Jayanti dengan rambut ngebob berponi asimetris yang nutupin muka dan rambut itu warnanya hitammm nggak blonde kayak biasa…yihiii…Ya walau saya tau itu wig, tapi tetep aja, bookkk kapan lagi liat Kimmy yang tiba-tiba menanggalkan rambut blonde andalannya…hihihiiii :p

Akhir kata, inilah diaaa…Nona Kimmy Jayanti with her Bob Asimetris hair…:D


Cerita dari BIYAN “The Orient Revisited” Fashion Show

The Show Was Good, but I’m Not 😦

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Wah, kamu dateng fashion show nya Biyan?, eksis banget ya?”

Dan ya begitulah temans komentar yang saya dapat ketika saya bilang kalau saya datang ke show tunggal Biyan “The Orient Revisited” di Hotel Mulia Kamis (9/06) lalu. Ya mungkin itu memang keren, secara Biyan, sang designer kondang yang baju-bajunya nggak perlu diragukan lagi gimana kualitasnya. Saya pun awalnya merasa demikian. Excited, bahkan excited banget saat saya akhirnya memastikan hadir ke show itu. Nggak sabar rasanya mau liat koleksi-koleksi terbarunya Biyan. Tapi itu awalnya temans, hmmm kalau kamu tanya kenapa awalnya, adalah karena besoknya terjadilah insiden yang bikin saya drooppp. Insiden yang memaksa saya tidak bisa terlalu menikmati euphoria yang tercipta setelah show itu.

Hmmm…tapi sepertinya insiden itu tetap aja nggak bisa menghilangkan ingatan saya tentang show yang malam itu dimulai sekitar pukul 20.30 WIB. Oke, mungkin kamu bingung, insiden apa sih?. Ya sebenernya nggak terlalu penting mungkin, dan memang nggak ada hubungannya sama sekali dengan show Biyan, ini lebih ke insiden dengan diri saya sendiri. Cukup tentang insiden, sekarang mari saya ceritakan tentang fashion show tunggal Biyan 2011/2012 “The Orient Revisited”.

Mari kita mulai ceritanya, tidak dengan kata-kata, “Pada suatu hari” atau, “Pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota”…*hmmmm ini kenapa jadi lagu anak-anak ya?. Whatever, no matter*. Jadi, saya akan memulainya dengan, pada suatu ketika….*errrr terdengar familiar sepertinya?*

BIYAN ; Akulturasi Budaya Cina dan Modernitas Kembali Dipertemukan

Pada suatu ketika, saat saya mendengar tentang akan diadakannya Annual Show Biyan dari salah seorang model, saya merasa bahwa ini akan jadi salah satu Fashion Show wajib yang tidak boleh terlewatkan. Ya jelas saja, Biyan, siapa yang tidak mengenal nama salah satu designer senior satu ini. Designer yang pada penutupan JFFF (Jakarta Fashion and Food Festival) 2011 lalu menerima penghargaan untuk kontribusinya dalam dunia fesyen Indonesia sebagai Icon Label Perancang Busana Siap Pakai Bergengsi Indonesia.

Jadilah pada hari H yakni, 9 Juni 2011 saya datang langsung ke Hotel Mulia, melakukan ritual yang biasa di lakoni para pencari berita dan duduk-duduk manis menunggu waktu dimulainya show.

Setelah duduk-duduk manis untuk beberapa lama dan melihat para model berseliweran dengan aktifitas yang sebenarnya sama dengan saya tapi dilakukan dengan cara berbeda, ya maksud saya menunggu dimulainya show, akhirnyaaaa….dimulailah open gate sekitar pukul 19.45 WIB. Namun ternyata kami yang sudah datang sejak pukul 18.00/19.00 WIB masih harus menunggu sambil duduk-duduk manis lagi karena acara malam itu molor sekitar 1 jam dari jadwal yang telah ditentukan yaitu pada pukul 19.30 WIB.

Sekitar pukul 20.30 WIB fashion show dibuka dengan penampilan tari kontemporer yang dibawakan penari tunggal, (saya ragu apakah dia Eko Supriyanto atau bukan, soalnya kok kepalanya botak ya?) yang diiringi beberapa penari pengiring yang terdiri dari beberapa laki-laki dan perempuan (maaf, saya lupa berapa jumlah pastinya). Penampilan tari kontemporer di awal show ini seklias mengingatkan saya dengan show hari terakhir di JFFF, “Inculturation, Patola Kamba Manandang” oleh Adrian Gan yang juga menampilkan tari kontemporer sebagai pembukaan fashion show tersebut. Latar belakang panggung yang di dekorasi sedemikian rupa dengan rak kayu raksasa berdesain sederhana, hanya dengan sekat-sekat kayu yang membatasi antar ruas di rak tersebut. Di dalam rak kemudian ditata dengan guci-guci kemarik berukuran lumayan besar yang mengingatkan saya pada guci-guci keramik khas Negeri Tirai Bambu yang telah melegendaris ke seantero jagad. Dengan iringan musik yang kental bernuansa Oriental, para model pun keluar secara bergilirian selepas para penari kontemporer beringsut menuju belakang panggung.

Sejak awal melihat satu persatu model berjalan silih berganti di atas catwalk, jujur sejak awal saya agak terganggu dengan penampilan beberapa model asing yang malam itu, sorry to say, sangat tidak enak dilihat. Ya, saya memang cukup cerewet tentang penampilan para model di atas catwalk saat menyaksikan sebuah show, karena tidak bisa disangkal bahwa model adalah komponen penting yang menentukan hasil presentasi karya seorang designer pada sebuah fashion show. Jika, model tersebut tampil dengan tidak maksimal, tidak memiliki “nyawa”, dan hanya berjalan seperti zoombie di atas catwalk, itu akan sangat memengaruhi busana yang ia kenakan jadi tidak enak dilihat. Dan itulah yang terjadi pada malam itu, beberapa model asing berjalan layaknya zoombie di atas catwalk, dengan ekspresi wajah yang entah saya nggak ngerti kenapa mereka pasang wajah seperti itu, dan hal itu meninggalkan pertanyaan di kepala saya, “What’s wrong with Biyan and team?. Why they choose them (the bule’s model) as his model tonite?. What are they doing at the stage?”. Oh My God!”.

Ini bukan bentuk sinisme saya terhadap model bule walau saya memang tidak terlalu suka dengan mereka. Percayalah saya tetap akan bersikap objektif untuk mereka, dan malam itu mereka memang benar-benar tidak enak dilihat. Saya tau mungkin memang ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang model tampil dengan tidak maksimal dalam sebuah fashion show, tapi bukankah, kami (para penonton dan semua yang menyaksikan) dengan apapun alasannya lebih mempedulikan hasil akhir daripada apa yang terjadi sehingga penampilan pada show tidak memuaskan. Terdengar egois memang, tapi bukankah memang begitu kan? :p. Namun meski begitu, penampilan dari model-model lokal dan ada lah beberapa orang model bule (tapi mungkin hanya 2-4 orang) yang oke dan cukup menyenangkan untuk dilihat. Para model lokal dan beberapa bule itu mampu meredam apapun itu faktor yang membuat mereka tidak nyaman dan tampil dengan menyenangkan walau ada juga yang tidak semaksimal biasanya.

Terlepas dari permasalahan para model-model di show Biyan yang mendapat porsi perhatian paling besar dari saya pribadi, fashion sow malam itu berlangsung dengan menyenangkan. 100 outfit dengan nuansa Orinetal yang kental diperagakan oleh 31 orang model lokal dan internasional (baca :model bule, dan ada satu kulit hitam). Koleksi yang ditampilkan pada show malam itu lebih kepada koleksi wearable yang cenderung ready to wear.

Konstruksi dan siluet dasar dari koleksi ini yang terdiri dari gaun, celana, blouse atau jaket, terpola dalam potongan classy clear lines dan bernafas semi-androgynynous. Direksi gaya dan proporsi mengacu pada reduced style, sesuatu yang lebih sleek but relaxted, minimalis, and less curvy dengan penekanan fokus pada kain, tekstur, dan aksesories. Wide trouser, loose dresses, serta super-shirt  pun ditampilkan sebagai pewakil  dari semangat ready to wear yang ditampilkan pada koleksi ini, meski demikian pada setiap busana ini juga mencerminkan kemewahan dan keanggunan spirit perempuan di dalamnya yang diperkuat oleh unsur dekoratif oriental lainnya yang terefleksi dalam ornamentasi bold silk embroidery, delicate beadwork, serta beragam motif print, dan serangkaian aksesories yang terbuat dari panduan metal, semi-precious crystal, dan pearls.

Sementara sebagai elemen konstruksi alias material dasar, berbagai bahan berbeda seperti silk crepe, silk dupioni, cool wool, linen, silk taffeta, cotton, lame, tweed, embossed lame, dan berbagai French lace menjadi pilihan Biyan dalam koleksinya kali ini. Dengan menggunakan teknik soft colorblocking patchwork diaplikasi dengan menggabungkan tekstur bahan yang berbeda dengan kombinasi warna yang tidak biasa dalam satu busana, secara keseluruhan Biyan berhasil menghadirkan “identitas” yang kuat dalam setiap koleksinya dengan tetap patuh pada benang merah utama, Oriental.

Secara keseluruhan fashion show malam itu berlangsung dengan menyenangkan, dan saya rasa cukup memorable. Hmmmm atau memang show-show dari Biyan selalu memorable ya?. Saya baru liat full show tunggal dia sekali ini, dan bagi saya ini akan jadi kenangan yang cukup menyenangkan sampai keesokan harinya terjadilah insiden itu. Biar saya kasih tau sedikit sebelum menutup cerita tentang show ini.

Insiden itu adalah, esoknya, tepatnya Jum’at pagi saya kecelakaan motor. Nggak terlalu berat memang tapi meninggalkan kenangan buruk pada tangan kiri saya. Ya, begitulah…

Anyway, see you at next event. Next story, but I hope not next incident.