Cerita dari BIYAN “The Orient Revisited” Fashion Show

The Show Was Good, but I’m Not 😦

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Wah, kamu dateng fashion show nya Biyan?, eksis banget ya?”

Dan ya begitulah temans komentar yang saya dapat ketika saya bilang kalau saya datang ke show tunggal Biyan “The Orient Revisited” di Hotel Mulia Kamis (9/06) lalu. Ya mungkin itu memang keren, secara Biyan, sang designer kondang yang baju-bajunya nggak perlu diragukan lagi gimana kualitasnya. Saya pun awalnya merasa demikian. Excited, bahkan excited banget saat saya akhirnya memastikan hadir ke show itu. Nggak sabar rasanya mau liat koleksi-koleksi terbarunya Biyan. Tapi itu awalnya temans, hmmm kalau kamu tanya kenapa awalnya, adalah karena besoknya terjadilah insiden yang bikin saya drooppp. Insiden yang memaksa saya tidak bisa terlalu menikmati euphoria yang tercipta setelah show itu.

Hmmm…tapi sepertinya insiden itu tetap aja nggak bisa menghilangkan ingatan saya tentang show yang malam itu dimulai sekitar pukul 20.30 WIB. Oke, mungkin kamu bingung, insiden apa sih?. Ya sebenernya nggak terlalu penting mungkin, dan memang nggak ada hubungannya sama sekali dengan show Biyan, ini lebih ke insiden dengan diri saya sendiri. Cukup tentang insiden, sekarang mari saya ceritakan tentang fashion show tunggal Biyan 2011/2012 “The Orient Revisited”.

Mari kita mulai ceritanya, tidak dengan kata-kata, “Pada suatu hari” atau, “Pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota”…*hmmmm ini kenapa jadi lagu anak-anak ya?. Whatever, no matter*. Jadi, saya akan memulainya dengan, pada suatu ketika….*errrr terdengar familiar sepertinya?*

BIYAN ; Akulturasi Budaya Cina dan Modernitas Kembali Dipertemukan

Pada suatu ketika, saat saya mendengar tentang akan diadakannya Annual Show Biyan dari salah seorang model, saya merasa bahwa ini akan jadi salah satu Fashion Show wajib yang tidak boleh terlewatkan. Ya jelas saja, Biyan, siapa yang tidak mengenal nama salah satu designer senior satu ini. Designer yang pada penutupan JFFF (Jakarta Fashion and Food Festival) 2011 lalu menerima penghargaan untuk kontribusinya dalam dunia fesyen Indonesia sebagai Icon Label Perancang Busana Siap Pakai Bergengsi Indonesia.

Jadilah pada hari H yakni, 9 Juni 2011 saya datang langsung ke Hotel Mulia, melakukan ritual yang biasa di lakoni para pencari berita dan duduk-duduk manis menunggu waktu dimulainya show.

Setelah duduk-duduk manis untuk beberapa lama dan melihat para model berseliweran dengan aktifitas yang sebenarnya sama dengan saya tapi dilakukan dengan cara berbeda, ya maksud saya menunggu dimulainya show, akhirnyaaaa….dimulailah open gate sekitar pukul 19.45 WIB. Namun ternyata kami yang sudah datang sejak pukul 18.00/19.00 WIB masih harus menunggu sambil duduk-duduk manis lagi karena acara malam itu molor sekitar 1 jam dari jadwal yang telah ditentukan yaitu pada pukul 19.30 WIB.

Sekitar pukul 20.30 WIB fashion show dibuka dengan penampilan tari kontemporer yang dibawakan penari tunggal, (saya ragu apakah dia Eko Supriyanto atau bukan, soalnya kok kepalanya botak ya?) yang diiringi beberapa penari pengiring yang terdiri dari beberapa laki-laki dan perempuan (maaf, saya lupa berapa jumlah pastinya). Penampilan tari kontemporer di awal show ini seklias mengingatkan saya dengan show hari terakhir di JFFF, “Inculturation, Patola Kamba Manandang” oleh Adrian Gan yang juga menampilkan tari kontemporer sebagai pembukaan fashion show tersebut. Latar belakang panggung yang di dekorasi sedemikian rupa dengan rak kayu raksasa berdesain sederhana, hanya dengan sekat-sekat kayu yang membatasi antar ruas di rak tersebut. Di dalam rak kemudian ditata dengan guci-guci kemarik berukuran lumayan besar yang mengingatkan saya pada guci-guci keramik khas Negeri Tirai Bambu yang telah melegendaris ke seantero jagad. Dengan iringan musik yang kental bernuansa Oriental, para model pun keluar secara bergilirian selepas para penari kontemporer beringsut menuju belakang panggung.

Sejak awal melihat satu persatu model berjalan silih berganti di atas catwalk, jujur sejak awal saya agak terganggu dengan penampilan beberapa model asing yang malam itu, sorry to say, sangat tidak enak dilihat. Ya, saya memang cukup cerewet tentang penampilan para model di atas catwalk saat menyaksikan sebuah show, karena tidak bisa disangkal bahwa model adalah komponen penting yang menentukan hasil presentasi karya seorang designer pada sebuah fashion show. Jika, model tersebut tampil dengan tidak maksimal, tidak memiliki “nyawa”, dan hanya berjalan seperti zoombie di atas catwalk, itu akan sangat memengaruhi busana yang ia kenakan jadi tidak enak dilihat. Dan itulah yang terjadi pada malam itu, beberapa model asing berjalan layaknya zoombie di atas catwalk, dengan ekspresi wajah yang entah saya nggak ngerti kenapa mereka pasang wajah seperti itu, dan hal itu meninggalkan pertanyaan di kepala saya, “What’s wrong with Biyan and team?. Why they choose them (the bule’s model) as his model tonite?. What are they doing at the stage?”. Oh My God!”.

Ini bukan bentuk sinisme saya terhadap model bule walau saya memang tidak terlalu suka dengan mereka. Percayalah saya tetap akan bersikap objektif untuk mereka, dan malam itu mereka memang benar-benar tidak enak dilihat. Saya tau mungkin memang ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang model tampil dengan tidak maksimal dalam sebuah fashion show, tapi bukankah, kami (para penonton dan semua yang menyaksikan) dengan apapun alasannya lebih mempedulikan hasil akhir daripada apa yang terjadi sehingga penampilan pada show tidak memuaskan. Terdengar egois memang, tapi bukankah memang begitu kan? :p. Namun meski begitu, penampilan dari model-model lokal dan ada lah beberapa orang model bule (tapi mungkin hanya 2-4 orang) yang oke dan cukup menyenangkan untuk dilihat. Para model lokal dan beberapa bule itu mampu meredam apapun itu faktor yang membuat mereka tidak nyaman dan tampil dengan menyenangkan walau ada juga yang tidak semaksimal biasanya.

Terlepas dari permasalahan para model-model di show Biyan yang mendapat porsi perhatian paling besar dari saya pribadi, fashion sow malam itu berlangsung dengan menyenangkan. 100 outfit dengan nuansa Orinetal yang kental diperagakan oleh 31 orang model lokal dan internasional (baca :model bule, dan ada satu kulit hitam). Koleksi yang ditampilkan pada show malam itu lebih kepada koleksi wearable yang cenderung ready to wear.

Konstruksi dan siluet dasar dari koleksi ini yang terdiri dari gaun, celana, blouse atau jaket, terpola dalam potongan classy clear lines dan bernafas semi-androgynynous. Direksi gaya dan proporsi mengacu pada reduced style, sesuatu yang lebih sleek but relaxted, minimalis, and less curvy dengan penekanan fokus pada kain, tekstur, dan aksesories. Wide trouser, loose dresses, serta super-shirt  pun ditampilkan sebagai pewakil  dari semangat ready to wear yang ditampilkan pada koleksi ini, meski demikian pada setiap busana ini juga mencerminkan kemewahan dan keanggunan spirit perempuan di dalamnya yang diperkuat oleh unsur dekoratif oriental lainnya yang terefleksi dalam ornamentasi bold silk embroidery, delicate beadwork, serta beragam motif print, dan serangkaian aksesories yang terbuat dari panduan metal, semi-precious crystal, dan pearls.

Sementara sebagai elemen konstruksi alias material dasar, berbagai bahan berbeda seperti silk crepe, silk dupioni, cool wool, linen, silk taffeta, cotton, lame, tweed, embossed lame, dan berbagai French lace menjadi pilihan Biyan dalam koleksinya kali ini. Dengan menggunakan teknik soft colorblocking patchwork diaplikasi dengan menggabungkan tekstur bahan yang berbeda dengan kombinasi warna yang tidak biasa dalam satu busana, secara keseluruhan Biyan berhasil menghadirkan “identitas” yang kuat dalam setiap koleksinya dengan tetap patuh pada benang merah utama, Oriental.

Secara keseluruhan fashion show malam itu berlangsung dengan menyenangkan, dan saya rasa cukup memorable. Hmmmm atau memang show-show dari Biyan selalu memorable ya?. Saya baru liat full show tunggal dia sekali ini, dan bagi saya ini akan jadi kenangan yang cukup menyenangkan sampai keesokan harinya terjadilah insiden itu. Biar saya kasih tau sedikit sebelum menutup cerita tentang show ini.

Insiden itu adalah, esoknya, tepatnya Jum’at pagi saya kecelakaan motor. Nggak terlalu berat memang tapi meninggalkan kenangan buruk pada tangan kiri saya. Ya, begitulah…

Anyway, see you at next event. Next story, but I hope not next incident.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s