IPMI Trend Show 2012 Hari Pertama Part 2

Khusus Bagian Yang Terpisah Tentang Fashion Show Adesagi Kierana…

Almost Famous by Adesagi Kierana

 

Drama. Itulah kesan pertama yang saya dapatkan sejak melihat outfit pertama yang ia keluarkan pada parade koleksi busana teranyarnya. Outfit two piece, yakni rok pendek sebatas paha dengan silluet seperti rok milik anggota chearleadders, dan baju lengan panjang dengan lekuk amat pas di tubuh yang keduanya berwarna hitam blink-blink glitter dikenakan oleh Dewi Sandra sebagai model first face membuat aura drama langsung terasa sejak fashion show dimulai.

Almost Famous sendiri memang diciptakan Adesagi Kierana yang coba terjemahkan keinginan wanita untuk selalu menjadi pusat perhatian. Dalam koleksinya kali ini, Adesagi kembali memadukan unsur-unsur yang selama ini jadi ciri khas dalam setiap rancangannya, playfull, edgy, serta sesuatu yang asimetris. Semua perpaduan ini kemudian semakin menghidupkan sisi dramatis dari sebuah “ketenaran”.

Beragam gaun panjang dan pendek, gaun asimetris, rok, dan baju terusan(jumpsuit) dihadirkan Adesagi dengan padupadan tabrak warna dan transparan serta berbagai motif print yang kaya warna. Selain itu, Adesagi kembali menghadirkan print judul koleksi ke dalam potongan busana, motif print judul koleksi seperti ini juga sepertinya menjadi salah satu ciri khas busana rancangan Adesagi karena pada beberapa koleksi sebelumnya, Adesagi sempat menampilkan ragam busana dengan motif print judul seperti itu.

Drama dan drama dan semakin drama keseluruhan koleksi dari Adesagi Kierana ini ketika kehadiran model dadakan nggak berhenti sampai di Dewi Sandra aja. Ruth Sahanaya, Titi Dj, Vina Panduwinata, ikut ambil bagian dalam fashion show koleksi Adesagi. Sampai pada bagian Vina Panduwinata, bagi saya itu masih termasuk lucu dan seru lihat mereka berlenggak-lenggok dengan centilnya di atas catwalk. Tetapi tibalah di model dadakan terakhir yang bikin saya….hmmm….Kalau di twitter itu hastagnya #NinapunHening . Dan dia adalah Manohara Odelia. Akhir kata, jika memang Adesagi ingin menonjolkan unsur dramatisasi dalam koleksi terbarunya, bagi saya dia berhasil!. Almost Famous it’s so dramaaa.

IPMI Trend Show 2012 Hari Pertama Part 1

Ada Tri Handoko, Valentino Napitupulu, Adesagi Kierana dan dibuka dengan parade busana seragam!
Tapi untuk Adesagi akan dipisah yaaa….

 

Big Bang by Tri Handoko. Foto by Rizka Fashionesedaily

Yup benar sekali saudara-saudara, IPMI Trend Show 2012 hari pertama dibuka dengan parade fashion show seragam yang awalnya bikin saya bingung dan bengong karena saya nggak tau kalau akan dibuka dengan fashion show seragam. Ketidaktahuan itu memang murni salah saya karena datang mepet waktu show, buru-buru dan nggak sempet baca rilis. Barulah akhirnya setelah saya buka dan baca rilis yang saya terima, saya menyadari bahwa disitu sudah ditulis dengan jelas kalau, opening IPMI Trend Show 2012 akan dibuka dengan parade Trend Seragam 2012 yang diprakarasai oleh Maxistyle.

Maxistyle sendiri adalah perusahaan tekstil dibawah PT. Maxistar Intermoda Indonesia yang merupakan korporasi marketing dan distribusi tekstil untuk seragam instasi.

Maxistyle kemudian bekerjasama dengan 10 orang desainer anggota IPMI untuk menciptakan rancangan busana seragam untuk 10 industri korporasi mulai dari perbankan, penerbangan, rumah sakit dan kesehatan sampai industri otomotif.

Dari total 32 set seragam rancangan 10 orang desainer IPMI(Adesagi Kierana, Ari Seputra, Barli Asmara, Denny Wirawan, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Hutama Adhi, Syahreza Muslim, Tri Handoko dan Valentino Napitupulu) overall saya suka rancangan seragamnya. Meski tampilan bentuk asli seragam yang cenderung konvensional tidak hilang, tapi seragam rancangan para desainer ini jauh dari kesan kaku, dan tentunya jauh lebih stylish nan modis dibandingkan desain konvensional seragam-seragam biasa.

 

Big Bang by Tri Handoko

Foto by Rizka Fashionesedaily

Setelah parade fashion show seragam selesai, desainer IPMI pertama yang mempertontonkan koleksi busana teranyarnya adalah Tri Handoko. Terinspirasi dari kekuatan dari harapan dan optimisme di tengah kekacauan, ketakutan serta tekanan yang terjadi hampir diseluruh belahan dunia, Tri handoko menghadirkan rangkaian koleksi busana bernapaskan Ready To Wear.

Sebagai desainer pembuka, bagi saya pribadi Tri Handoko cukup mampu mencuri perhatian dari tamu undangan yang datang dengan memunculkan si model Androgini, Darell Ferhostan sebagai model pertama yang memperagakan koleksi karyanya. Dengan tampilnya Darell sebagai model pertama, Tri Handoko memperkuat kesan pertama terhadap rancangannya, Androgini.

Foto by Rizka Fashionesedaily

Tapi nggak cuma busana siap pakai beraroma androgini yang disuguhkan Tri Handoko pada parade peragaan busananya. Nuansa feminine dan maskulin pun ia sajikan dengan apik melalui koleksi gaun asimetris, blazer, T-Shirt, celana panjang dan pendek, jumpsuit, gaun berpotongan simple dan ringan, serta baju tanpa lengan. Hampir kesemua koleksinya itu ia racik dengan warna-warna gelap seperti hitam, dan merah tua. Memang ada beberapa koleksi yang mengaplikasikan warna lebih cerah seperti kuning, atau beberapa warna yang cukup cerah lainnya, tapi frekuensinya sedikit sekali.

Dan setelah melihat keseluruhan koleksi dari Tri Handoko ini, saya pun kemudian berpikir,

“Kayaknya trend motif garis kotak-kotak jadi ngetrend lagi nih”.

Karena hampir disetiap potong busana Tri Handoko selalu ada motif garis dan kotak-kotak.

 

The Touch of Art by Valentino Napitupulu

Dari ready to wear bepindahlah ke gaun-gaun cantik. Atmosfer santai serta jauh dari kesan formal langsung berganti ke nuansa romantis klasik dan unyu moment saat

baju-baju kasual Tri Handoko berganti dengan gaun cantik dari Valentino Napitupulu. Mengeksplorasi detail melalui sentuhan motif paisley, bunga dan dedaunan, Valentino Napitupulu meramu keanggunan dan kecantikan dalam polesan seni versinya. Dan viola!, jadilah koleksi bertajuk The Touch of Art ini.

Pelbagai gaun panjang dan pendek ia sajikan dalam silluet ringan dan bebas, saat melihatnya saya kadang seperti merasa berada di taman lengkap dengan beberapa ekor kupu-kupu yang berterbangan disekeliling saya. Romantis dan manis.

Selain menghadirkan bermacam-macam gaun, Valentino Napitupulu juga menampilkan koleksi busana pria yang memiliki pola rancangan klasik dan cenderung formal yang tertuang dalam potingan jas serta blazer. Koleksi seperti ini bagi saya cukup rawan, cukup rawan menimbulkan kebosanan dan kesan kaku. Tapi untungnya pada beberapa detail, Valentino Napitupulu membubuhi warna-warna cerah seperti merah dan emas serta beberapa motif menarik seperti motif hati(love) yang membuat setelan jas kaku menjadi lebih menarik dan seru.

Tapi, pada saat kemunculan koleksi sepasang setelan busana pernikahan. Dengan wajah datar saya langsung komen,

“Gila, ini dua model kaku banget sih. Baru kali ini Gue liat ada model buat wedding gown sama pasangannya yang kaku setengah mati, kayak pasangan baru kenal tadi pagi dan dinikahin siangnya”.

Ya abis gimana nggak?. Udah chemistrynya nggak ada sama sekali, terus si model cowoknya nampak seperti orang bngung. Dia bener-bener kaku, sama sekali nggak ada usaha untuk bantu si model cewek yang beberapa kali terlihat kesulitan berjalan dengan gaun pengantin yang punya buntut lumayan panjang itu. Mungkin mereka memang nggak mengenal satu sama lain, karena si model cewek itu model bule sementara si cowoknya model Indonesia, tapi apa karena nggak kenal jadi dia nggak ada rasa peka sama sekali sama pasangan di atas catwalknya. Dan saya pun dalam hati sudah gemes setengah mati, sambil ngegerutu,

“Bantuin kek itu pasangannya. Bantuin woyyy!”.

Tapi akhirnya disaat-saat terakhir, si model pengantin cowok tersadar juga akan ke khilafannya dan membantu si model cewek yang sampai pada titik terlihat benar-benar kesulitan saat berjalan mengenakan gaun pengantin itu.

 

IPMI Trend Show 2012 ; Panggung dan Lighting Yang Bikin Mikir

Salah satu fashion show dengan bentuk panggung dan lighting paling “ajaib” yang pernah saya sambangi

 

Well, sebenarnya saya nggak mau terlalu banyak bercerita tentang fashion show satu ini Ada beberapa hal yang membuat saya merasa tidak nyaman untuk menceritakan ini ke kalian. Tapi apa daya ternyata saya tetap tidak bisa menahan diri untuk berkomentar ini itu yang terjadi disana.

Datang disaat fashion show akan segera dimulai dalam hitungan menit adalah hal yang sangat tidak nyaman. Hampir semua tempat strategis yang disinyalir akan menjadi titik yang sangat oke jika dijadikan “basecamp” pengambilan gambar alias untuk foto sudah dikuasai para fotografer dengan peralatan tempur super lengkap. Bukan senapan atau bedil tentunya, melainkan kamera foto professional.

Saya yang saat itu baru saja sampai di lantai 10 Plaza Bapindo, atau tepatnya di Assembly Hall nya, langsung sibuk clingak clinguk mencari tempat yang at least masih oke jika dijadikan “basecamp” saya menyaksikan sekaligus mengambil gambar dari fashion show hari itu. Dan akhirnya setelah beberapa lama sibuk clingak clinguk, saya mendapatkan satu tempat yang saya rasa lumayan strategis. Saya pun siap untuk menyaksikan fashion show hari itu . Fashion Show IPMI(Ikatan Perancang Mode Indonesia) Trend Show 2012 yang akan menampilkan koleksi dari 3 desainernya, yakni Tri Handoko, Valentino Napitupulu dan Adesagi Kierana.

Duduk manis beberapa saat di “basecamp” saya,  malah semakin membuat hati ini gundah gulana dan berpikir dan terus berpikir.

“Ini panggung bentuknya aneh. Segitiga, terus dibagian ujungnya lancip. Nah nanti itu model berhentinya madep mana ya?. Sesuai sama arah dia jalan, atau menyesuaikan dengan posisi fotografer ya?”.

Seperti itulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang terus lompat-lompat dikepala saya, pertanyaan yang akhirnya bikin galau karena kalau seandainya si model mengambil pose lurus menghadapkan tubuh pas searah titik sudut yang menyerupai jarum jam itu, niscaya sepertinya saya nggak akan dapet satupun gambar yang lumayan untuk fashion show itu.

Hal itu akhirnya bikin saya mikir dan mikir gimana blocking si model, dan memutuskan bertanya pada enggak-tau-siapa-yang-jelas-panitianya mengenai blocking modelnya gimana, dan jawaban si enggak-tau-siapa-yang-jelas-panitianya tidak membuat kegalauan saya berkurang karena,

“Yang jelas nanti pasti modelnya akan berhenti dan pose menghadap media”.

Begitulah kata si enggak-tau-siapa-yang-jelas-panitianya saat saya tanya blocking modelnya bagaimana. Denger jawaban itu saya pun menarik kesimpulan awal kurang lebih seperti ini,

“Mati Gue ini mah nggak bakal dapet sama sekali deh fotonya”.

Karena kalau 100% mengadap posisi fotografer, dan yang mana itu berarti si model akan memutar posisi badannya sekitar 45 derajat, maka posisi itu akan menyamping dari posisi saya. Saat itu satu-satunya harapan adalah “semoga sang kamera poket ini bisa ambil gambar saat si model masih dalam posisi jalan, jadi tubuhnya pas menghadap saya”.

Dan setelah menunggu selama bermenit-menit akhirnya fashion show dimulai dengan menampilkan busana seragam!.

“Seragam?. What?. Seragam?!. Laahhhhh”.

Saya sempet bengong beberapa saat ketika pada opening show disuguhi baju-baju seragam. Mulai dari seragam suster, dokter Rumah Sakit, pramugari dan pilot dalam beberapa variasi, sampai seragam montir. Saya pun bingung, bengong dan mikir,

“Laahhhh kok ini show baju-baju seragam yak?”.

Konyol, bahkan sangat konyol dan mungkin perlu sedikit ditoyor, karena dengan tanpa dosa nya saya nggak baca rilis yang saya terima terlebih dahulu. Di rilis tertulis dengan jelas kalau ternyata memang show dibuka dengan parade peragaan busana dari Maxistyle, salah satu merek baju seragam korporat terbesar di Indonesia yang bekerjasama dengan 10 orang desainer IPMI dalam mendesain busana seragamnya. Busana seragam yang ditampilkan pada opening fashion show ini,

“Ooowwhhhhh….”.

Show berjalan dan ternayata titik berhenti dan pose si model tidak sesulit yang dibayangkan karena blockingnya tidak terlalu konsisten hanya menghadap ke satu arah. Sering para model berhenti dan melakukan pose pada posisi badan yang tetap, yang mana itu adalah pas banget mengarah ke posisi “basecamp” saya. Tapi beberapa kali si model juga pose mengarah ke sudut fotografer, 45 derajat menyamping dari saya. Dan juga lumayan sering titik perhetian si model bergeser, entah berapa derajat atau setengah sampai satu langkah. Itu saya katakan sebagai  blocking labil, karena tidak konsisten berhenti di satu titik saja. Saya nggak ngerti deh kenapa begitu. Mungkin memang sengaja sebagai variasi agar tidak membosankan, atau mungkin ada kesalahan juga di si model, entahlah.

Lalu hal lain yang juga bikin saya mikir, mikir dan mikir lebih keras adalah lightingnya. Lighting utama dititikberatkan pada posisi jatuh tepat di badan si model dari arah mereka keluar di ujung panggung dengan cukup “kencang”. Kalau menggunakan istilah saya, “Lightingnya nembak banget”. Itu bikin banyak saat dimana si model jadi terlalu banyak tertimpa lampu, dan banyak juga yang bocor. Dan saya pun kembali dibuat pusing dengan hal ini. Terlebih lagi sering memainkan lighting kedip mati-nyala-mati-nyala dan sorotan terang perlahan saat lightingnya mati dan kemudian nyala lagi, bikin saya pusing karena silau setengah mati.

Jika pada fashion show hari pertama yang dibuat pusing dengan bentuk panggung dan lighting yang “ajaib”, pada fashion show hari kedua saya dibuat nggak habis pikir dengan kengaretan show. Disaat 20 menit sudah lewat dari jadwal dimulainya fashion show bagian pertama tapi boro-boro dimulai, ruangannya aja masih kosong sekitar ¾ bagian. Jadilah kebengongan saya bertambah, selain karena panggung dan lampu, di hari kedua ditambah dengan kengaretan amat sangat yang terjadi.

Jadi, singkat cerita terlepas dengan bagaimana rancangan bajunya, IPMI Trend Show 2012 ini meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Saya nggak akan pernah lupa gimana itu bentuk panggungnya yang akhirnya saya juluki “Si Panggung Segitiga Bermuda” karena bentuk segitiganya, dan lighting yang sempat bikin saya beberapa teringat dengan lampu disko kedap kedip terang banget. Saya juga nggak akan pernah lupa gimana susaahhhh nya dapetin foto yang at least lumayan.

Nb : Iya saya tau ini sama sekali nggak ngebahas gimana bajunya. Kalau mau tau gimana bajunya, liat di posting selanjutnya ya 😛

EdBe Love Is In The Air ; Batik&Ready To Wear Keren Dalam Presentasi Yang Missing Something

Missing Something?. Something what?. Ehmmm…Oke saya ralat, bukan something tapi more. Missing more than something.

EdBe Love Is In The Air with Renata and Richard as Model. Foto by Andreas Dwi

Selasa malam(04/10) saya diundang untuk datang ke Fashion Show koleksi terbaru Eddy Betty untuk second line nya EdBe di Ballroom 2 Hotel Mulia. Second line dari Eddy Betty ini mulai diperkenalkan sejak sekitar 2 tahun lalu dengan mengusung baju-baju Ready To Wear sebagai main course utama.

Sebelumnya saya pernah melihat koleksi EdBe by Eddy Betty beberapa kali, baik di fashion spread majalah, atau event fashion lainnya, dan saya suka dengan konsep ready to wear yang diadopsi Eddy Betty untuk second line nya ini. Itu yang bikin saya excited untuk datang ke Fashion Show koleksi terbarunya kali ini.

Meski jujur harus saya katakan bahwa rancangan-rancangan ready to wear yang ada pada lini EdBe bukanlah sesuatu yang benar-benar baru 100% dalam dunia ready to wear di Indonesia, tetapi koleksi-koleksinya tetap saja menarik dengan detail yang jika diperhatikan lebih seksama akan terasa “tidak sesederhana yang terlihat”. Dari segi model baju sampai detail cutting selalu saja ada hal yang unik dan seru. Tarikan garis rancangannya seperti tidak terkonstruksi rapi sesuai pakem, seperti gaya desainer Jepang yang unik dan asimetris.

Dengan mengambil tema Love Is In The Air, pada presentasi karya teranyarnya yang terwujud dalam sebuah peragaan busana a.k.a Fashion Show, EdBe by Eddy Betty menampilkan 90 outfit busana ready to wear. Menariknya, koleksi yang ditampilkan bukan hanya koleksi yang menggunakan material “standart” seperti katun, rayon, dan tenun hitam putih berdetail border berlubang-lubang(eyelet), tetapi yang jadi primadona justru koleksi ready to wear berbahan batik tulis.

Dan bukan batik tulis biasa yang diaplikasikan pada rancangan EdBe, tapi batik tulis dengan motif yang dipesan secara khusus pada pengerajin. Motif yang tentunya sesuai dengan keinginan si desainer, yakni motif corak mainan anak-anak, boneka matryoska, boneka Jepang, sampai motif telor paskah disajikan pada selembar kain batik yang kemudian diolah menjadi busana siap pakai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada presentasi koleksi kali ini, sekali lagi EdBe menampilkan gaya khasnya dalam memadupadankan busana. Ia menyusun setiap outfit yang dikenakan model dengan seolah semaunya dan sembarang, ia melawan apa yang lazim dianggap sebagai sesuatu yang harmonis dalam mix and match busana. Hal yang saya rasa sangat cocok dengan filosofi yang konon dianutnya, Mix Don’t Match, padukan tanpa serasikan.

Padupadan yang seolah main-main dan sembarang ini akhirnya membuat gaun bervolume, blus asimentris, rok multi posisi, celana terusan(jumsuit), kemeja lengan raglan dan di bawah siku sampai celana sarung(sarouel) yang menjadi produk andalan dalam koleksi terbarunya terlihat semakin menarik dan seru.

Foto by Andreas Dwi

Foto by Andreas Dwi

Tetapi sayangnya, kadar menarik, keren dan seru dari koleksi terbaru EdBe harus terkontaminasi dengan banyak hal yang missing dalam keseluruhan Fashion Show nya. Dalam Fashion Show ini saya cukup banyak menulis catatan hal-hal yang “ganggu”. Seperti ada beberapa hal yang miss. Entah misunderstanding, miscommunication, atau missing the time to prepare, tapi dari ke “miss” an yang saya rasakan itulah yang memunculkan catatan ini.

Darell Ferhostan between another model. Foto by Windy Sucipto

Pertama, urutan keluar model yang bagi saya terasa berantakan dan sedikit asal. Model bagus yang performa saat membawakan busana di atas catwalk sudah tidak perlu diragukan justru ditaruh ditengah, sehingga keberadaan mereka jadi biasa saja, tidak ada yang spesial. Lalu saat The Finale yang menjadi moment puncak dalam Fashion Show, susunan model yang berbeda lagi kemudian mengganjal bagi saya. Jujur saya sangat menyayangkan kenapa Darell Ferhostan si model androgini yang sejak awal kemunculannya di fashion show mengundang bisik-bisik dan sangat mencuri perhatian karena ke androginiannya justru diposisikan ditengah dan tertutup model-model “biasa”. Sementara saya pikir ia akan sangat menarik bila dijadikan first face atau last face yang keluar bersama sang desainer. Itu pasti akan jadi sesuatu yang keren karena hampir belum ada model androgini di Indonesia seperti Darell, dan Eddy Betty adalah desainer papan atas pertama yang menggunakan jasanya dalam sebuah Fashion Show. Semoga saja di kerjasama berikutnya hal tersebut dapat dipikirkan kembali karena bukannya tidak mungkin mereka akan dikenang sebagai simbiosis mutualisme ala Jean Paul Gaultier dan supermodel androgini Andrej Pejic.

Kedua, urutan baju yang dikenakan si model. Saya pun cukup terganggu dengan hal ini karena yang saya lihat dan rasakan adalah urutan baju yang dikenakan si model pada saat Fashion Show terasa tidak diurutkan secara rapi. Maksud saya bukan keseluruhan outfit yang dipakai ya, karena kan memang EdBe terkonsep Mix don’t Match seperti itu, tapi maksud saya adalah urutan keluar bajunya. Saya cukup sibuk bertanya-tanya, kenapa tidak mengeluarkan secara urut baju-baju yang memiliki benang merah yang sama misalnya dari segi bahan, cutting atau warna sih?, malah makin random gini. Saya cukup bingung dengan hal itu, entah memang seperti itulah yang ingin ditampilkan atau bagaimana. Saya pikir mungkin akan lebih nyaman untuk disaksikan bila urutan baju yang dikeluarkan meski terkonsep Mix don’t Match tapi tetap diurutkan sesuai dengan satu benang merah yang sama agar tidak terkesan koleksi random.

Ketiga, musik pengiring fashion show. Saya memang nggak terlalu ngerti detail tentang musik, tapi yang jelas bagi saya atmosfer musik dengan fashion show nya nggak dapet. Musiknya kurang bercampur dengan asik bersama keseluruhan fashion show dan temanya. Sepertinya akan lebih asik jika next time musiknya didengarkan ulang beberapa kali dan kembali dipikirkan bisa ngeblend atau enggak dengan keseluruhan acaranya jadi crowd dan atmosfer yang tercipta akan lebih terasa.

Keempat, MC. Ada beberapa kesalahan pengucapan MC dibagian akhir yang cukup penting. Kesalahan yang semestinya tidak perlu terjadi. Kesalahan yang sampai menyebabkan wajah Eddy Betty sempat terlihat tertegun bingung dan bengong. Mungkin karena human error, faktor X, kesalahan teknis atau mungkin juga karena kurangnya persiapan.

Kesimpulannya adalah, sayang. Bahkan sayang sekali saat koleksi yang keren-keren itu terkontaminasi dengan hal-hal yang cukup mengganggu selama presentasi kepada orang banyak sedang berlangsung.

Namun terlepas dari itu semua, saya pribadi dan saya yakin banyak diantara para pecinta fashion lokal yang terus menunggu karya EdBe selanjutnya 🙂

First impression (kesan pertama)..

Dua kata singkat,
Dan bukan berarti suatu barisan kalimat
Tapi mengandung arti yang menyikat

Pertama kali terlihat
Ada sesuatu yang sulit untuk tidak terikat
Karena itulah yang membuatku teringat
Akan sosok sosok yang pertama kulihat
Tentangnya kesan pertamaku sudah bulat
Aku tidak bisa merubahnya dari biru menjadi coklat
Karena inilah hasil yang kudapat
Saat wajahnya mulai kulihat padat

Itu mataku yang melihat
Belum telingaku yang berdebat
Bersama suara mereka memutar cepat
Seperti sebuah kilat
Masuk secara cepat tanpa ada yang menghambat
Menuju otak menjadi pikiran yang kuat

Mulutkupun mulai bergulat
Setelah mata, telinga, dan pikiranku sudah terlewat
Saatnya bibirku yang bercuat
Mengeluarkan hasil dari kesan pertama yang kulewat
Apakah menjadi sesuatu yang pucat?
Atau malah menjadi coklat seperti liat?
Aku berharap tidak, aku hanya ingin menjadi apa seperti yang terlihat

Ada apa disini?

Saya buat kategori baru ini khusus untuk seorang teman yang niatnya mau ikutan nulis disini. Setelah tulisan ini, semua yang diposting dan masuk kategori ini bukan tulisan saya. Saya hanya bantu posting tulisan aja. Sebenernya pengen juga pakai nama user yang beda, tapi agak ribet ternyata. Jadi begini aja deh ya 😛

Akhirnya Dia Datang Juga! :D

Akhirnya setelah menunggu sekian lama. Teman saya yang satu ini muncul juga dari pertapaannya. Hahaha…Sebenarnya bukan bertapa juga, itu kayaknya sedikit berlebihan. Ya tapi yang jelas dia akhirnya mau juga menampakkan tulisan dan menyempatkan nulis ditengah keribetannya. Maklumlah teman saya ini kerjanya jalan-jalan terus. Saya bahkan nggak bisa ngukur dia udah jalan sampai sejauh mana.

Baiklah cukup sudah. Saya nggak mau berpanjang lebar. Biar tulisannya aja yang nantinya akan memperkenalkan dengan dunia kata dalam sudut pandangnya.

Welcome “thelittlepeopleinthebigworld”  to write something in my blog! Cheers!