Part 3 Untold Stories Batik Sumit ; Apa Yang Terjadi Setelah Fashion Show Usai?

Pintu-pintu utama Cendrawasih Hall JCC sudah ditutup rapat. Tamu undangan bubar jalan. Acara puncak Batik Summit yakni Gala Dinner dan Fashion Show dari 4 desainer kenamaan Indonesia, 2 label batik papan atas Indonesia, dan 3 desainer dari mancanegara usai terselenggarakan. Para model satu-persatu atau berkelompok mulai pulang setelah basa-basi pamitan. Lalu?, selesaikah cerita tentang Batik Summit ini?. Jawabannya adalah, hampir selesai, tetapi belum semua. Karena masih ada sedikit cerita dari para pemburu berita.

Masih, seperti sebelumnya. Mari kita putar waktu disaat terakhir Gue menutup cerita. Dan fokuskan kepada…

Gue memutuskan untuk lebih melipir di bagian kanan backstage karena sadar ada sekitar 30 model di atas panggung yang sebentar lagi akan kembali ke backstage setelah melakukan prosesi puncak, The Finale. Akan jadi susah dan ribet kalau seandainya Gue nggak lebih merapat ke pinggir dari posisi Gue sebelumnya. Kesian nanti modelnya jadi susah jalan gara-gara lorong backstage yang memang sempit jadi semakin sempit karena Gue mejeng disitu.

Setelah semua model kembali ke backstage, Gue pun kembali masuk ke dalam ruang crew dan mengembalikan kamera yang sedari pagi Gue pake untuk foto-foto ke si empunya, Mas Tara Makmun melalui salah satu crew nya. Baru sebentar Gue di ruang crew akhirnya Gue keluar ruangan di backstage itu dan menemui beberapa model yang Gue kenal dan “Say Goodbye”.

“Selesai sudah untuk hari ini, I’ll miss Batik Summit”,

Itu yang ada di dalam kepala Gue saat Gue lihat model terakhir pamit pulang dan Gue pun akhirnya pamit pulang rumah setelah mindah-mindahin foto ke laptop dan ngobrol-ngobrol sebentar.

Sampe keesokkan harinya Gue pikir acara Batik Summit kemarin malam berjalan dengan mulus tanpa ada catatan yang terlalu berarti. Itu yang ada dalam pikiran Gue meski Gue nggak ngeliat sebenernya seperti apa Gala Dinner ataupun Fashion Show nya karena Gue stay di backstage. Tapi pikiran Gue berubah saat baca Timeline twitter temen Gue yang wartawan, dan akhirnya dia cerita ke Gue kalau acara itu susah sekali informasinya untuk media.

Dan ternyata perkataan temen Gue itu diamini oleh temen-temen wartawan yang lain kalau memang infonya susah. Para fotografer pun ikutan dibuat gemes karena ternyata saat Fashion Show, kehadiran para waiters pembawa makanan yang berseliweran sangat mengganggu pengambilan foto Fashion Show.

Saat Gue denger semua itu, Gue pikir ya mungkin ada miss aja diantara panitia penyelenggara dan media, mungkin memang media yang diundang sangat terbatas, dan ternyata dari kabar yang Gue denger seminggu kemudian dari salah seorang wartawan memang gitu. Media yang diundang sangat terbatas.

Dan kalau masalah waiters sih, ya itu mungkin emang salah panitia atau siapapun deh yang bertanggung jawab atas pengaturan waiters karena mereka kurang memperhatikan serta memperhitungkan bahwa keberadaan waiters yang berseliweran ternyata mengganggu para fotografer.

Tapi ternyata kasus kesalahpahaman media dan panitia penyelenggara Batik Summit  dianggap cukup serius oleh salah satu media besar dari grup berinisial T yang dengan jelas menuliskan seperti berikut di 2 paragraf terakhir halaman liputannya tentang Batik Summit :

Namun dibalik keceriaan dan semarak acara ini, terjadi peristiwa yang menjadi catatan penting dan kritik tajam. Sikap panitia yang tidak memberikan kesempatan peliputan terbuka kepada media yang akan meliput malam gala dinner menuai perasaan kecewa dari pemburu berita.
“Katanya ajang ini bertaraf internasional untuk memberikan persepsi positif yang lebih luas, tapi kok ada diskriminasi serta pembatasan media yang boleh meliput ke dalam. Bagaimana batik bisa meraih posisi global?” begitu gerutuan panjang beberapa wartawan. Batik memang berpotensi merambah global, dan salah satu faktornya adalah dukungan dan peran media lokal dalam mempublikasikannya. -H.P

Nahlooo…kalau sudah begitu repot juga ya?. Acara besar yang memberikan citraan positif dari Indonesia kepada Internasional ternyata justru meninggalkan citra negatif kepada awak media yang akan memberitakan hal tersebut, dan menyebarluaskannya pada publik. Tapi Gue pribadi lumayan mengerti bagaimana perasaan para wartawan yang nggak bisa meliput itu. Pasti kecewa banget, udah seneng-seneng dan excited mau memberitakan sesuatu yang baik dan penting, eh justru ditolak.

Gue harap hal ini bisa jadi catatan tersendiri bagi panitia penyelenggara ke depannya. Gue harap, dan pasti mereka(para wartawan/media) juga berharap demikian.

-The End-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s