EdBe Love Is In The Air ; Batik&Ready To Wear Keren Dalam Presentasi Yang Missing Something

Missing Something?. Something what?. Ehmmm…Oke saya ralat, bukan something tapi more. Missing more than something.

EdBe Love Is In The Air with Renata and Richard as Model. Foto by Andreas Dwi

Selasa malam(04/10) saya diundang untuk datang ke Fashion Show koleksi terbaru Eddy Betty untuk second line nya EdBe di Ballroom 2 Hotel Mulia. Second line dari Eddy Betty ini mulai diperkenalkan sejak sekitar 2 tahun lalu dengan mengusung baju-baju Ready To Wear sebagai main course utama.

Sebelumnya saya pernah melihat koleksi EdBe by Eddy Betty beberapa kali, baik di fashion spread majalah, atau event fashion lainnya, dan saya suka dengan konsep ready to wear yang diadopsi Eddy Betty untuk second line nya ini. Itu yang bikin saya excited untuk datang ke Fashion Show koleksi terbarunya kali ini.

Meski jujur harus saya katakan bahwa rancangan-rancangan ready to wear yang ada pada lini EdBe bukanlah sesuatu yang benar-benar baru 100% dalam dunia ready to wear di Indonesia, tetapi koleksi-koleksinya tetap saja menarik dengan detail yang jika diperhatikan lebih seksama akan terasa “tidak sesederhana yang terlihat”. Dari segi model baju sampai detail cutting selalu saja ada hal yang unik dan seru. Tarikan garis rancangannya seperti tidak terkonstruksi rapi sesuai pakem, seperti gaya desainer Jepang yang unik dan asimetris.

Dengan mengambil tema Love Is In The Air, pada presentasi karya teranyarnya yang terwujud dalam sebuah peragaan busana a.k.a Fashion Show, EdBe by Eddy Betty menampilkan 90 outfit busana ready to wear. Menariknya, koleksi yang ditampilkan bukan hanya koleksi yang menggunakan material “standart” seperti katun, rayon, dan tenun hitam putih berdetail border berlubang-lubang(eyelet), tetapi yang jadi primadona justru koleksi ready to wear berbahan batik tulis.

Dan bukan batik tulis biasa yang diaplikasikan pada rancangan EdBe, tapi batik tulis dengan motif yang dipesan secara khusus pada pengerajin. Motif yang tentunya sesuai dengan keinginan si desainer, yakni motif corak mainan anak-anak, boneka matryoska, boneka Jepang, sampai motif telor paskah disajikan pada selembar kain batik yang kemudian diolah menjadi busana siap pakai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada presentasi koleksi kali ini, sekali lagi EdBe menampilkan gaya khasnya dalam memadupadankan busana. Ia menyusun setiap outfit yang dikenakan model dengan seolah semaunya dan sembarang, ia melawan apa yang lazim dianggap sebagai sesuatu yang harmonis dalam mix and match busana. Hal yang saya rasa sangat cocok dengan filosofi yang konon dianutnya, Mix Don’t Match, padukan tanpa serasikan.

Padupadan yang seolah main-main dan sembarang ini akhirnya membuat gaun bervolume, blus asimentris, rok multi posisi, celana terusan(jumsuit), kemeja lengan raglan dan di bawah siku sampai celana sarung(sarouel) yang menjadi produk andalan dalam koleksi terbarunya terlihat semakin menarik dan seru.

Foto by Andreas Dwi

Foto by Andreas Dwi

Tetapi sayangnya, kadar menarik, keren dan seru dari koleksi terbaru EdBe harus terkontaminasi dengan banyak hal yang missing dalam keseluruhan Fashion Show nya. Dalam Fashion Show ini saya cukup banyak menulis catatan hal-hal yang “ganggu”. Seperti ada beberapa hal yang miss. Entah misunderstanding, miscommunication, atau missing the time to prepare, tapi dari ke “miss” an yang saya rasakan itulah yang memunculkan catatan ini.

Darell Ferhostan between another model. Foto by Windy Sucipto

Pertama, urutan keluar model yang bagi saya terasa berantakan dan sedikit asal. Model bagus yang performa saat membawakan busana di atas catwalk sudah tidak perlu diragukan justru ditaruh ditengah, sehingga keberadaan mereka jadi biasa saja, tidak ada yang spesial. Lalu saat The Finale yang menjadi moment puncak dalam Fashion Show, susunan model yang berbeda lagi kemudian mengganjal bagi saya. Jujur saya sangat menyayangkan kenapa Darell Ferhostan si model androgini yang sejak awal kemunculannya di fashion show mengundang bisik-bisik dan sangat mencuri perhatian karena ke androginiannya justru diposisikan ditengah dan tertutup model-model “biasa”. Sementara saya pikir ia akan sangat menarik bila dijadikan first face atau last face yang keluar bersama sang desainer. Itu pasti akan jadi sesuatu yang keren karena hampir belum ada model androgini di Indonesia seperti Darell, dan Eddy Betty adalah desainer papan atas pertama yang menggunakan jasanya dalam sebuah Fashion Show. Semoga saja di kerjasama berikutnya hal tersebut dapat dipikirkan kembali karena bukannya tidak mungkin mereka akan dikenang sebagai simbiosis mutualisme ala Jean Paul Gaultier dan supermodel androgini Andrej Pejic.

Kedua, urutan baju yang dikenakan si model. Saya pun cukup terganggu dengan hal ini karena yang saya lihat dan rasakan adalah urutan baju yang dikenakan si model pada saat Fashion Show terasa tidak diurutkan secara rapi. Maksud saya bukan keseluruhan outfit yang dipakai ya, karena kan memang EdBe terkonsep Mix don’t Match seperti itu, tapi maksud saya adalah urutan keluar bajunya. Saya cukup sibuk bertanya-tanya, kenapa tidak mengeluarkan secara urut baju-baju yang memiliki benang merah yang sama misalnya dari segi bahan, cutting atau warna sih?, malah makin random gini. Saya cukup bingung dengan hal itu, entah memang seperti itulah yang ingin ditampilkan atau bagaimana. Saya pikir mungkin akan lebih nyaman untuk disaksikan bila urutan baju yang dikeluarkan meski terkonsep Mix don’t Match tapi tetap diurutkan sesuai dengan satu benang merah yang sama agar tidak terkesan koleksi random.

Ketiga, musik pengiring fashion show. Saya memang nggak terlalu ngerti detail tentang musik, tapi yang jelas bagi saya atmosfer musik dengan fashion show nya nggak dapet. Musiknya kurang bercampur dengan asik bersama keseluruhan fashion show dan temanya. Sepertinya akan lebih asik jika next time musiknya didengarkan ulang beberapa kali dan kembali dipikirkan bisa ngeblend atau enggak dengan keseluruhan acaranya jadi crowd dan atmosfer yang tercipta akan lebih terasa.

Keempat, MC. Ada beberapa kesalahan pengucapan MC dibagian akhir yang cukup penting. Kesalahan yang semestinya tidak perlu terjadi. Kesalahan yang sampai menyebabkan wajah Eddy Betty sempat terlihat tertegun bingung dan bengong. Mungkin karena human error, faktor X, kesalahan teknis atau mungkin juga karena kurangnya persiapan.

Kesimpulannya adalah, sayang. Bahkan sayang sekali saat koleksi yang keren-keren itu terkontaminasi dengan hal-hal yang cukup mengganggu selama presentasi kepada orang banyak sedang berlangsung.

Namun terlepas dari itu semua, saya pribadi dan saya yakin banyak diantara para pecinta fashion lokal yang terus menunggu karya EdBe selanjutnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s