Hari Ketiga JFW 2012 ; Kembali Membawa Kamera!. Yeaayyy!

Betapa bahagianya saat Poppie kembali meminjamkan kameranya pada saya. Thanks Poppie!

Hari ketiga JFW 2012 adalah hari Senin. Hari dimana biasanya saya tengah merasa malas setengah mati karena kembali ke rutinitas sehabis masa-masa weekend. Tapi hari Senin yang jatuh bertepatan dengan hari ketiga JFW 2012 itu berbeda, saya sungguh bahagia. Saya libur!. Benar-benar suatu keajaiban dunia yang sangat mengesankan karena saya memperoleh hari libur selama satu minggu dan bertepatan dengan moment JFW!.

Sejak pagi saya sudah mendalami jadwal JFW untuk hari Senin 14 November 2011 itu dengan sangat teliti. Rasanya saya ingin datang sejak pagi, supaya bisa lihat semua fashion show yang ada, tapi apa daya, deadline tulisan saya untuk show hari kedua JFW saja belum selesai, bagaimana saya bisa meninggalkan itu semua kemudian kembali lagi meliput?. Bisa-bisa pekerjaan semakin menumpuk.
Akhirnya saya memutuskan untuk datang pada fashion show keempat di tent pada hari itu, fashion show tunggal dari Agnes Budisurya, seorang desainer gaek yang karya telah beberapa kali saya lihat di fashion show yang diselenggarakan APPMI(Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia).

Saya tiba di tempat pada saat fashion show akan segera dimulai, sedikit panik, tapi untungnya saya masih bisa mendapatkan kursi di deretan paling depan. Yup, saat show tersebut saya hanya berniat nonton bukan ikut-ikutan sebagai juru foto yang memiliki markas di Photographer Pit.

Fashion show Agnes Budisurya dibuka oleh Desi Mulasari yang memakai outfit torso hitam, seperti lengging(atau memang legging ya?), dan jubah kain yang sangat lebar sehingga menyerupai sayap kelelawar. Dengan gerakkan teatrikal dan sedikit tarian, Mbak DesMul melangkah perlahan di atas catwalk dengan jubah kain yang melambai-lambai. Semua penonton pun terdiam, semuanya terpaku oleh gerak gerik DesMul yang begitu memukau. Pada klimaks aksinya, DesMul berlari di atas catwalk ditengah-tengah langkahnya kembali ke belakang panggung dan seketika tepuk tangan pun membahana ke segala penjuru fashion tent. Prok Prok Prok!.

Saya sangat menyukai fashion show dari Agnes Budisurya itu, saya suka semuanya, termasuk baju-baju yang ditampilkan. Gaun-gaun cantik yang kental akan nuansa tumbuh-tumbuhan yang akhirnya membuat saya berpikir bahwa Agnes Budisurya adalah seorang desainer pecinta alam yang gemar berkebun serta menanam beragam spesies tumbuh-tumbuhan. Namun sayangnya karena saya hanya menjadi penonton dari barisan kursi wartawan dan bukannya ikut-ikutan foto di photographer pit, maka saya tidak mempunyai foto yang jelas pada saat show tersebut. Karena hal itu pula, banyak detail yang terlupa akan fashion show tersebut.

Setelah fashion show dari Agnes Budisurya saya melewati fashion show tunggal dari Yasra Kebaya karena satu dan lain hal. Saya baru kembali menuju ke dalam tent pada saat fashion show dari Sebastian Gunawan akan dilangsungkan, tepat setelah fashion show Yasra Kebaya berakhir.

Pagelaran busana dari Sebastian Gunawan dibuka dengan penampilan khusus dari pemain harpa ternama, Maya Hasan. Mengenakan gaun malam berpotongan klasik karya Sebastian Gunawan, Maya Hasan memainkan instrumen dengan harpanya. Setelahnya, para wanita dari kalangan sosialita yang katanya peduli terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah tampil di atas panggung dengan membawakan busana rancangan Sebastian ala model profesional. Diantara para wanita cantik tersebut terselip Putri Indonesia tahun 2009, Zivanna Letisha Siregar, yang juga terpilih sebagai duta remaja Yayayasan Jantung Indonesia.

Dalam rangkaian koleksi karyanya kali ini, Sebastian Gunawan berkolaborasi dengan sang istri Christina, menghadirkan deretan koleksi terbaru dari lini SEBASTIAN. Pada koleksi ini Sebastian tetap mempertahankan ciri khasnya yakni busana-busana berpotongan klasik, ia kemudian menamai koleksinya “Charming Blend”. Gaun malam serta gaun cocktail dihadirkan dalam silluet gaya fesyen tahun 20-60 an. Warna-warna yang cenderung lembut seperti coklat muda, nude, abu-abu serta hitam menjadi pilihan utama Sebastian meski dalam satu dua busana terdapat warna yang cukup cerah seperti merah, hijau toscha, dan biru kehijauan.

Hari itu fashion show dari Oscar Lawalata yang berkolaborasi dengan Justin Smith yang merupakan milliner alias perancang topi dari Inggris terpilih untuk menjadi fashion show penutup. Oscar yang selama ini dikenal melalui kreasinya yang mengaplikasikan kain-kain tradisional kedalam potongan busana bernapas ready to wear duluxe yang kental kembali menerapkan racikan yang sama untuk fashion show yang ia beri judul “The Culture Incarnation” itu.

Beragam kain tradisional seperti batik, ikat, dan tenun diaplikasikan dengan teknik yang berbeda, sehingga menghasilkan formasi busana modern yang kaya akan detail, namun tetap terlihat simple dan sangat wearable. Untuk koleksinya kali ini, Oscar memlih untuk menggabungkan warna-warna cerah dan warna tanah yang lebih membumi dalam setiap potong busana. Beragam pilihan gaun pendek sampai dengan busana two piece yang menggabungkan celana panjang atau rok dengan atasan tanpa lengan serta kemeja berpotongan longgar adalah busana yang ditampilkan Oscar dalam kolaborasinya bersama Justin Smith.

Sementara itu, Justin Smith yang juga pemenang British Council’s UK Young Fashion Enterpreneur Award 2010 dan telah menampilkan topi rancangannya di Paris, Milan, dan Roma, menghadirkan kreasi hiasan kepala dan topi yang menerapkan unsur anyaman bambu, kain ikat, dan kulit. Kemudian karya dari keduanya dipertemukan dan dikemas menjadi satu outfit yang memunculkan rangkaian cerita sarat makna yang terinspirasi dari dinamika manusia modern yang tak lepas dari hiruk pikuk teknologi, namun sebenarnya haus akan unsur-unsur alamiah dalam kehidupannya.

Namun dari semua hal tersebut, jika ditanya apa hal yang paling tidak terlupakan dari hari itu, maka saya akan menjawab 3 hal yang tidak pernah terlupakan dari fashion show JFW hari ketiga.
1. Aksi Desi Mulasari saat fashion show Agnes Budisurya

2. Pinjaman kamera dari My Poppie(sebagian dari kalian tahu siapa Poppie saya itu) yang bikin saya bisa foto-foto show Sebastian Gunawan dan Oscar Lawalata menggunakan Cannon 1100 D dan itu membuat saya senang setengah mati karena saya dapat beberapa hasil foto yang at least lebih kece dari hasil foto biasanya dengan kamera pocket. Dan yang terakhir,

3. Hari itu adalah hari pertama saya nggak pulang ke rumah melainkan menginap di kosan salah dua teman saya yang tidak lain adalah model di JFW 2012 yang berlokasi di daerah Senopati. Jadi mulai hari itu saya tidak perlu bolak-balik Cibubur-Pasific Place selama JFW 2012 berlangsung!. Senangnyaaaaa….

 

Hari Kedua JFW 2012 ; Warna-Warni Di Fashion Show IPMI “Color Me Life”

Dalam satu tahun ada dua kali pagelaran busana yang dipersembahkan bagi Robby Tumewu. Terharu!

Sebelumnya, Anne Avantie melalui fashion show Puteri Tionghoa yang diadakan bertepatan dengan malam pembukaan Jakarta Fashion and Food Festival 2011(JFFF 2011) telah mempersembahkan pagelaran busana tersebut bagi Robby Tumewu, desainer senior yang selama ini juga dikenal sebagai entertainer serba bisa. Kali ini, 10 rekan sejawatnya yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI) melakukan hal serupa. Mereka mempersembahkan sebuah rangkaian pagelaran busana alias fashion show bagi Robby Tumewu yang pada tahun lalu sempat melalui kondisi kesehatan yang cukup kritis.

Kesepuluh orang desainer IPMI tersebut menamai fashion show itu “Color Me Life”. Mereka terinspirasi oleh “warna-warni” yang diciptakan oleh Robby Tumewu selama berkarya sebagai desainer. Mereka menganggap Robby telah memiliki andil yang begitu besar dalam perkembangan dunia fesyen Indonesia melalui karya-karyanya.

Kesepuluh desainer tersebut adalah Tri Handoko, Adesagi Kierana, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Tuty Cholid, Kanaya Tabitha, Liliana Lim, Yongki Budisutisna, Carmanita, dan Barli Asmara. Pada fashion show “Color Me Life”, para desainer menyajikan 6 buah koleksi busana terbaru yang masing-masing dari desainer mewakili satu warna berbeda. Warna yang diangkat masing-masing desainer mewakili energy dan semangat sosok Robby Tumewu selama berkarya.

Sejak awal saya mendengar semua premis ini, saya langsung bersemangat untuk menyaksikan bagaimana fashion shownya. Terlebih saat saya mengetahui model androgyny Darell Ferhostan akan turut ambil bagian dalam show tersebut. Ia akan menjadi model first face untuk koleksi dari Tri Handoko.

 

Fashion Show pun dimulai dengan jadwal yang tidak ngaret banyak. Dibuka oleh rancangan dari Tri Handoko yang mengambil warna putih sebagai warna utama keseluruhan busana yang ia pamerkan.

Jujur saya jauhhhh lebih suka dengan mini koleksi Tri Handoko kali ini dibandingkan dengan koleksi yang ia pertunjukkan saat IPMI Trend Show 2012 beberapa waktu lalu. Rancangan Tri Handoko kali ini bagi saya lebih menarik walau seluruhnya berwarna putih dan masih mengusung ready to wear. Pada sequensnya, make up dan hair do para model juga sangat simple dan mengambil kesan “geek and nerd”, namun itu turut jadi bagian yang menambah menarik keseluruhan koleksi Tri Handoko.

Setelahnya, gaun-gaun malam berwarna merah dengan garis rancang klasik disajikan Liliana Lim. Melihat mini koleksi karya Liliana Lim, kesan seksi nan sensual pun terpancar, mungkin karena warna merah yang dipilihnya.

Telah sejak awal saya mengagumi karya Ghea Panggabean yang selalu kental nuansa etnik. Setelah pada pagelaran busana di tahun sebelumnya Ghea banyak bermain-main dengan budaya Jawa, kali ini Ghea hadir dengan mini koleksi yang mengambil inspirasi dari suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Untuk mini koleksinya ini, Ghea Panggabean mewakili warna Oranye.

Tuty Cholid dengan warna kuning nya masih mengambil silluet baju-baju tradisional khas Sulawesi Selatan. Koleksi busana dengan gaya ini sebelumnya telah Tuty Cholid tampilkan pada fashion show nya di IPMI Trend Show 2012 yang juga belum lama ini berlalu.

Warna hijau adalah warna yang dipilih oleh Era Soekamto dalam mewakili kreasi terbarunya. Seperti biasa, kesan sexy selalu melekat pada koleksi Era. Untuk “Color Me Life” ini Era menampilkan 6 set busana yang terdiri atas gaun pendek berdetail bordir yang ia padukan dengan kain silk sebagai material dasar.

Playful, edgy, asimetris, rame, dan terkesan glamour adalah hal yang melekat erat pada hampir semua koleksi Adesagi Kierana. Dalam mini koleksi yang diperuntukkan bagi rangkaian fashion show “Color Me Life” ini Adesagi kembali menghadirkan hal serupa. 6 set busana yang ia pamerkan dalam warna Turqoise atau biru kehijauan memunculkan kesan penuh drama.

Gaun pendek dengan material ringan dipadu dengan bahan seperti denim menjadi andalan Yongki Budisutisna dalam mini koleksinya yang mewakili warna Biru. Melalui koleksinya tersebut, Yongki menghadirkan kesan elegan dan formal sekaligus santai dan casual.

Saya selalu mengingat Carmanita dengan busana bertumpuknya. Gayanya bohemian, dengan potongan busana dari bahan-bahan ringan yang kemudian ia tumpuk sehingga terkesan lebih memiliki volume. Ia juga sangat terlihat menyukai warna-warna “wanita” seperti merah muda dan ungu. Begitupun pada koleksinya kali itu, warna ungu jadi warna yang ia angkat dalam 6 set koleksi busana karyanya.

Sifon, silk, print, dan lame adalah material yang dipilih Kanaya Tabitha untukmini koleksinya. Ia mewujudkan warna emas dengan interpretasi sebuah kesempurnaan. Mungkin sebuah keindahan yang berbalut nuansa glamour. Tidak tanggung-tanggung, ia mewujudkan warna emasnya dengan taburan crystal swarovski pada 6 busana rancangannya.

****

Pada hari kedua itu sebenarnya saya lihat 2 show. Yang satu adalah Grazia Glitz and Glam awards. Tapi jujur saya nggak terlalu ingat detail gimana shownya, saat itu saya juga sama sekali tidak mengabadikan gambar karena sudah terlanjur duduk manis bersama Abang saya di kursi tamu undangan. Tapi, kalau Grazia Glitz and Glam Awards diadakan sebelum IPMI “Color Me Life”, ada juga fashion show yang diadakan setelah IPMI, yakni fashion show tunggal dari Batik Danar Hadi.
Saya melewati fashion show Danar Hadi tersebut. Setengah males, dan saya juga memilih untuk menemani seorang teman yang kakinya terkilir seusai fashion show IPMI “Color Me Life. Saya menemani dia mencari obat sampai dijemput oleh supirnya. Setelahnya ada lagi teman saya yang kakinya berkali-kali keram sesaat sebelum show, saya kembali menemani dia ke minimarket obat yang ada di Pasific Place. Sesudah itu semua, fashion show sudah dimulai, saya tidak bisa masuk kedalam. Nggak apa, bagi saya nggak masalah. Teman yang lagi susah lebih penting daripada deretan baju yang akan dipamerkan, ya kan?.

Hari Pertama JFW 2012 ; Tentang Malam Pembukaan Yang Kurang Berkesan

Flash back ke dua tahun lalu, satu moment yang nggak akan terlupakan seumur hidup

Finale Tube Gallery

Sebelum saya cerita, kalian harus tahu kalau penyebutan tahun pada Jakarta Fashion Week naik satu dari tahun penyelenggaraannya. Misalnya, Jakarta Fashion Week yang diselenggarakan pada tahun 2009, maka disebut Jakarta Fashion Week 2010, begitu pun seterusnya. Maka saat hal itu telah diketahui, saya akan lebih lega bercerita.

Saya nggak akan pernah lupa dengan malam pembukaan Jakarta fashion Week 2010 dua tahun lalu. Itu kali pertama saya menyaksikan secara langsung apa yang disebut dengan fashion show. Malam itu, saya pun menemukan cinta baru saya, dunia fesyen. Ya, saya mulai jatuh cinta dengan dunia yang kata orang blink-blink dan glamor. Kata orang, tapi saya tidak selalu merasa begitu. Fesyen memperkenalkan saya dengan banyak hal baru yang kemudian membuat saya betah ada disana. Banyak hal yang mungkin lain waktu saya akan ceritakan, tetapi tidak sekarang.
Kembali lagi membicarakan tentang hari pertama Jakarta Fashion Week 2012, mungkin kalian bingung, kenapa saya bilang “kurang mengesankan”. Karena ya memang bagi saya seperti itu. Fashion show yang menampilkan karya empat desainer dari ASEAN terbilang berjalan biasa saja. Nggak ada yang terlampau spesial yang bisa saya kenang lebih dalam.

Stage rapi, musik rapi, koleksi busana rapi, sudah. Rapi. Ya seperti fashion show lainnya. Bahkan terlalu rapi sampai-sampai tidak ada yang membedakan dengan fashion show lain. Mungkin memang konsepnya seperti itu. Mungkin pihak penyelenggara ingin sesuatu yang “clean”, rapi, dan lancar-lancar saja terlepas keterlambatan show yang lumayan bikin gregetan sampai-sampai saking gregetannya para fotografer yang sudah kedinginan agak gemas melihat Fauzi Bowo yang akan memberikan sambutan, jadilah Pak Gubernur itu memperoleh sorak, dan kemudian berefek dengan mempersingkat sambutannya. Kasian sebenarnya Pak Gubernur disoraki seperti itu, tapi kami, seluruh orang yang hadir di malam pembukaan itu jujur saja merasa senang karena akhirnya acara utama akan segera dimulai.

Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan malam pembukaan Jakarta Fashion Week 2012 terasa biasa saja bagi saya. Pertama, karena para desainer terpilih menampilkan busana “aman”, wearable sekali, dan nggak macem-macem. Kedua, mungkin karena saya sudah mulai terbiasa dengan beraneka macam fashion show, jadi ya terasa biasa saja. Ketiga, mungkin karena sudah kedinginan menunggu di dalam fashion tent, jadi mulai mati rasa. Keempat, mungkin karena saya kurang familiar dengan para desainer selain Biyan.

Setelah itu mari kita membicarakan gimana baju-baju para desainer ASEAN ini. Ada 4 desainer yang dipilih. Mereka adalah,

Finale Biyan

1. Biyan Wanaatmadja. Sejak pertama kali melihat baju-baju rancangan Biyan, saya memang langsung jatuh hati dengan karya desainer berpembawaan tenang ini. Saya suka semua rancangan dia, mulai dari yang dia rancang untuk label “Biyan” sampai “(X). S. M. L”. Tapi untuk pembukaan Jakarta Fashion Week 2012, saya biasa saja. Karena koleksinya itu adalah koleksi sama saat show tunggalnya beberapa waktu lalu yang berjudul “The Orient Revisited”.

Ashley Isham. Foto dari jakartafashionweek.co.id

2. Ashley Isham. Desainer asal Singapore ini punya gaya rancangan klasik, elegan, dan terkesan glamor juga sangat feminine. Ashley juga banyak “bermain” di teknik draperi. Melihat rancangannya saya jadi inget dengan gaya rancangan Sebastian Gunawan, keduanya mempunyai garis serta pola rancang yang serupa. Klasik, elegan, feminine, glamor dan cantik.

Bernard Chandran.Foto dari jakartafashionweek.co.id

3. Bernard Chandran. Pertama kali liat booklet Jakarta Fashion Week 2012, saya langsung mengingat sosok desainer asal Malaysia ini karena ganteng. Seenggaknya di foto booklet JFW2012 dia kelihatan ganteng. Gaun-gaun pendek yang dipadukan dengan bahan transparan yang dia buat, bikin pandangan saya terhadap Malaysia yang saya kira sangat ketat soal rancang merancang busana sedikit pudar.

Tube Gallery. Foto dari Jakartafashionweek.co.id

4. Tube Gallery. Saya suka dengan baju-baju dari Tube Gallery. Sangat menyenangkan rasanya melihat busana beraneka warna yang berseliweran di catwalk. Rancangan dari label asal Thailand ini nggak ribet, karena memang konsepnya ready to wear, jadi sangat wearable. Warna-warnanya seru, playful, edgy. Kadang saya melihat busana keluaran Tube Gallery seperti mainan anak-anak yang beraneka warna pada gaun pendeknya, tapi lalu jadi dewasa pada gaun panjang yang berbahan ringan.

Tube Gallery. Foto dari jakartafashionweek.co.id

Jika dibandingkan dengan malam pembukaan Jakarta Fashion Week tahun sebelumnya, saya jauh lebih suka kala itu. Saya masih ingat saat malam pembukaan itu, semua yang ditampilkan adalah baju-baju kebaya dari 16 desainer papan atas Indonesia serta 10 koleksi kebaya yang ada di Museum Kebaya Afif Syakur. Bagi saya malam itu lebih mengesankan dan lebih “sesuatu” karena sangat otentik.

IPMI Trend Show 2012 Hari Kedua

Setelah sekian lama akhirnya part ini tersambung lagi. Kali ini ada Tuty Cholid, Era Soekamto dan Barli Asmara

Tidak ada yang lebih saya ingat pada IPMI Trend Show 2012 hari kedua selain ruang Assembly Hall yang kosong lebih dari sepertiganya disaat jadwal Fashion Show pertama telah berlalu sekitar 20 menit. Saat itu saya agak bingung, harus senang atau sedih. Senang karena ternyata saya tidak terlambat sama sekali padahal saya datang ketika seharusnya show telah berjalan selama 5 menit. Atau sedih karena ternyata penyelenggara tidak belajar dari pengalaman hari sebelumnya yang juga ngaret lumayan lama. Tapi yang jelas kekosongan ruang assembly ini sukses bikin saya cengok, karena,

“Ulalaaaa….20 menit ngaret dan boro-boro ada tanda-tanda di mulai, keisi tiga perempatnya aja belum!”.

Saya sebenarnya nggak ngerti juga kenapa bisa sampai seperti itu. Mungkin ada misscomunication diantara beberapa pihak penyelenggara, atau memang karena faktor X yang menyebabkan show itu telat. Bagi saya itu cukup luar biasa, ketika 20 menit jadwal show yang sebenarnya telah berlalu dan ternyata masih banyakkkk kursi kosong. Karena biasanya, meski terjadi keterlambatan jadwal show(dan itu sangat sering terjadi) kursi kosong di dalam ruang utama diselenggarakannya show tidak sampai sebanyak itu.

Setelah penantian cukup panjang yang saya isi dengan mendengarkan playlist di handphone saya dan membaca berulang-ulang rilis yang saya terima, akhirnya Fashion Show pertama dimulai pada entah menit keberapa lewat dari jadwal seharunya.

Diawali dengan koleksi busana dari Era Soekamto dan secara berturut-turut diikuti oleh penampilan koleksi terbaru dari Tuty Cholid dan Barli Asmara. Dan saya akan menceritakannya satu persatu.

Swargaloka by Era Soekamto

Pertama kali mengenal karya rancangan dari Era Soekamto sekitar 2 tahun lalu pada Jakarta Fashion Week 2009, saya segera mendapatkan kesan berani, rebel, dan sexy bahkan cenderung menantang dari setiap potong busana rancangannya.

Pada koleksi kali ini Era Soekamto terinspirasi dari kecantikan alami wanita Indonesia, khususnya kecantikan wanita Bugis dan Jawa. Memberi judul “Swargaloka” pada koleksinya kali ini Era membawa cerita tentang sebuah surga yang selalu berusaha diciptakan atau ditemukan oleh setiap wanita Indonesia dalam keberagaman budaya yang mereka miliki. Surga yang bagi Era sejatinya selalu ada dalam diri setiap wanita.

Lewat “Swargaloka”, Era Soekamto mengawinkan dua kebudayaan berbeda, yakni Bugis dan Jawa yang dihadirkan melalui percampuran teknik lilit khas kedua kebudayaan tersebut.

Menggunakan kain tenun Sulawesi Selatan, dengan amateri ATBM dan chiffon, Era Soekamto menampilkan beragam koleksi busana seperti gaun panjang dan gaun pendek yang memiliki silluet tradisional dalam busana khas ala Era Soekamto yang sexy, dan terkesan menabrak batas-batas dalam berbusana. Melalui koleksi rancangan ini, Era Soekamto membuat baju-baju yang tetap terasa sangat tradisional tampil lebih berani.

Baine Gammara by Tuty Cholid

Masih dengan mengambil inspirasi dari kecantikan alami wanita Sulawesi Selatan. Tuty Cholid menamai koleksinya “Baine Gammara” atau yang berarti wanita cantik dalam bahasa Sulawesi Selatan. Dan masih dengan mengusung kain tenun ikat, sungkit, dan ATBM Sulawesi Selatan, Tuty Cholid menghadirkan silluet busana tradisional baju bodo dari suku Bugis yang tidak lain adalah suku asli Sulawesi Selatan.

Jangan heran, mengapa Sulawesi Selatan kembali muncul di rancangan Tuty Cholid setelah sebelumnya muncul di rancangan Era Soekamto. Hal ini idak lain karena dua desainer ini adalah salah dua desainer yang dipilih bekerjasama dengan pemerintah daerah Sulawesi Selatan untuk turut mengeksplorasi kain tenun khas Sulawesi Selatan.

Namun jika pada rancangan Sulawesi Selatannya Era Soekamto lebih memilih warna-warna yang cenderung “aman”, Tuty Cholid mencoba sedikit bermain-main dengan warna-warna terang seperti shocking pink, bottle green, tosca, dan emas. Gaun panjang, gaun pendek, blazer, rok, celana panjang, dan kemeja yang sarat nuansa etnik pun menjadi andalan Tuty Cholid dalam rangkaian koleksi teranyarnya ini.

Natural Bond Beauty by Barli Asmara

Nude. Seolah satu kata itulah yang bagi saya menggambarkan koleksi busana dari Barli Asmara. Hal itu bukan tanpa alasan, karena desainer yang baru bergabung dengan IPMI pada tahun 2010 silam ini menyajikan semua busana yang dipamerkannya saat itu dalam warna-warna nude, atau warna yang menyerupai warna kulit coklat muda. Didapuk sebagai desainer penutup dalam rangkaian IPMI Trend Show 2012, Barli yang selama ini lebih dikenal dengan koleksi gaun-gaun cantiknya mengusung “Natural Bond Beauty” sebagai sebuah tema besar dalam koleksi teranyarnya.

Koleksi dari Barli Asmara ini mungkin akan terkesan membosankan jika saja Barli tidak bermain dengan dengan teknik Macrame, yakni sebuah teknik tali temali yang pengerjaannya memiliki tingkat kesulitan tinggi. Dan di teknik macramé inilah daya tarik paling besar dari koleksi Barli Asmara kali ini. Seru rasanya, saat kita memperhatikan satu persatu koleksi busana yang ditampilkan dan melihat secara seksama dan teliti setiap detail tali temali yang ada di dalamnya. Sebuah kerumitan yang sangat menarik.

Untuk materinya sendiri, Barli menggunakan benang pita untuk dijadikan tali temali yang kemudian di macramé secara handmade. Dalam koleksi ini, Barli juga memadukan kecantikan alam, eksotisme, serta nilai-nilai tradisional dan tentunya teknik pengerjaan dengan kesulitan tingkat tinggi. Gaun panjang, gaun pendek, gaun asimetris, gaun one shoulder yang selama ini kerap jadi andalan Barli, kembali ditampilkan dalam keindahan natural bersimpul-simpul yang unik dan rumit.