Hari Pertama JFW 2012 ; Tentang Malam Pembukaan Yang Kurang Berkesan

Flash back ke dua tahun lalu, satu moment yang nggak akan terlupakan seumur hidup

Finale Tube Gallery

Sebelum saya cerita, kalian harus tahu kalau penyebutan tahun pada Jakarta Fashion Week naik satu dari tahun penyelenggaraannya. Misalnya, Jakarta Fashion Week yang diselenggarakan pada tahun 2009, maka disebut Jakarta Fashion Week 2010, begitu pun seterusnya. Maka saat hal itu telah diketahui, saya akan lebih lega bercerita.

Saya nggak akan pernah lupa dengan malam pembukaan Jakarta fashion Week 2010 dua tahun lalu. Itu kali pertama saya menyaksikan secara langsung apa yang disebut dengan fashion show. Malam itu, saya pun menemukan cinta baru saya, dunia fesyen. Ya, saya mulai jatuh cinta dengan dunia yang kata orang blink-blink dan glamor. Kata orang, tapi saya tidak selalu merasa begitu. Fesyen memperkenalkan saya dengan banyak hal baru yang kemudian membuat saya betah ada disana. Banyak hal yang mungkin lain waktu saya akan ceritakan, tetapi tidak sekarang.
Kembali lagi membicarakan tentang hari pertama Jakarta Fashion Week 2012, mungkin kalian bingung, kenapa saya bilang “kurang mengesankan”. Karena ya memang bagi saya seperti itu. Fashion show yang menampilkan karya empat desainer dari ASEAN terbilang berjalan biasa saja. Nggak ada yang terlampau spesial yang bisa saya kenang lebih dalam.

Stage rapi, musik rapi, koleksi busana rapi, sudah. Rapi. Ya seperti fashion show lainnya. Bahkan terlalu rapi sampai-sampai tidak ada yang membedakan dengan fashion show lain. Mungkin memang konsepnya seperti itu. Mungkin pihak penyelenggara ingin sesuatu yang “clean”, rapi, dan lancar-lancar saja terlepas keterlambatan show yang lumayan bikin gregetan sampai-sampai saking gregetannya para fotografer yang sudah kedinginan agak gemas melihat Fauzi Bowo yang akan memberikan sambutan, jadilah Pak Gubernur itu memperoleh sorak, dan kemudian berefek dengan mempersingkat sambutannya. Kasian sebenarnya Pak Gubernur disoraki seperti itu, tapi kami, seluruh orang yang hadir di malam pembukaan itu jujur saja merasa senang karena akhirnya acara utama akan segera dimulai.

Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan malam pembukaan Jakarta Fashion Week 2012 terasa biasa saja bagi saya. Pertama, karena para desainer terpilih menampilkan busana “aman”, wearable sekali, dan nggak macem-macem. Kedua, mungkin karena saya sudah mulai terbiasa dengan beraneka macam fashion show, jadi ya terasa biasa saja. Ketiga, mungkin karena sudah kedinginan menunggu di dalam fashion tent, jadi mulai mati rasa. Keempat, mungkin karena saya kurang familiar dengan para desainer selain Biyan.

Setelah itu mari kita membicarakan gimana baju-baju para desainer ASEAN ini. Ada 4 desainer yang dipilih. Mereka adalah,

Finale Biyan

1. Biyan Wanaatmadja. Sejak pertama kali melihat baju-baju rancangan Biyan, saya memang langsung jatuh hati dengan karya desainer berpembawaan tenang ini. Saya suka semua rancangan dia, mulai dari yang dia rancang untuk label “Biyan” sampai “(X). S. M. L”. Tapi untuk pembukaan Jakarta Fashion Week 2012, saya biasa saja. Karena koleksinya itu adalah koleksi sama saat show tunggalnya beberapa waktu lalu yang berjudul “The Orient Revisited”.

Ashley Isham. Foto dari jakartafashionweek.co.id

2. Ashley Isham. Desainer asal Singapore ini punya gaya rancangan klasik, elegan, dan terkesan glamor juga sangat feminine. Ashley juga banyak “bermain” di teknik draperi. Melihat rancangannya saya jadi inget dengan gaya rancangan Sebastian Gunawan, keduanya mempunyai garis serta pola rancang yang serupa. Klasik, elegan, feminine, glamor dan cantik.

Bernard Chandran.Foto dari jakartafashionweek.co.id

3. Bernard Chandran. Pertama kali liat booklet Jakarta Fashion Week 2012, saya langsung mengingat sosok desainer asal Malaysia ini karena ganteng. Seenggaknya di foto booklet JFW2012 dia kelihatan ganteng. Gaun-gaun pendek yang dipadukan dengan bahan transparan yang dia buat, bikin pandangan saya terhadap Malaysia yang saya kira sangat ketat soal rancang merancang busana sedikit pudar.

Tube Gallery. Foto dari Jakartafashionweek.co.id

4. Tube Gallery. Saya suka dengan baju-baju dari Tube Gallery. Sangat menyenangkan rasanya melihat busana beraneka warna yang berseliweran di catwalk. Rancangan dari label asal Thailand ini nggak ribet, karena memang konsepnya ready to wear, jadi sangat wearable. Warna-warnanya seru, playful, edgy. Kadang saya melihat busana keluaran Tube Gallery seperti mainan anak-anak yang beraneka warna pada gaun pendeknya, tapi lalu jadi dewasa pada gaun panjang yang berbahan ringan.

Tube Gallery. Foto dari jakartafashionweek.co.id

Jika dibandingkan dengan malam pembukaan Jakarta Fashion Week tahun sebelumnya, saya jauh lebih suka kala itu. Saya masih ingat saat malam pembukaan itu, semua yang ditampilkan adalah baju-baju kebaya dari 16 desainer papan atas Indonesia serta 10 koleksi kebaya yang ada di Museum Kebaya Afif Syakur. Bagi saya malam itu lebih mengesankan dan lebih “sesuatu” karena sangat otentik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s