Hari Ketiga JFW 2012 ; Kembali Membawa Kamera!. Yeaayyy!

Betapa bahagianya saat Poppie kembali meminjamkan kameranya pada saya. Thanks Poppie!

Hari ketiga JFW 2012 adalah hari Senin. Hari dimana biasanya saya tengah merasa malas setengah mati karena kembali ke rutinitas sehabis masa-masa weekend. Tapi hari Senin yang jatuh bertepatan dengan hari ketiga JFW 2012 itu berbeda, saya sungguh bahagia. Saya libur!. Benar-benar suatu keajaiban dunia yang sangat mengesankan karena saya memperoleh hari libur selama satu minggu dan bertepatan dengan moment JFW!.

Sejak pagi saya sudah mendalami jadwal JFW untuk hari Senin 14 November 2011 itu dengan sangat teliti. Rasanya saya ingin datang sejak pagi, supaya bisa lihat semua fashion show yang ada, tapi apa daya, deadline tulisan saya untuk show hari kedua JFW saja belum selesai, bagaimana saya bisa meninggalkan itu semua kemudian kembali lagi meliput?. Bisa-bisa pekerjaan semakin menumpuk.
Akhirnya saya memutuskan untuk datang pada fashion show keempat di tent pada hari itu, fashion show tunggal dari Agnes Budisurya, seorang desainer gaek yang karya telah beberapa kali saya lihat di fashion show yang diselenggarakan APPMI(Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia).

Saya tiba di tempat pada saat fashion show akan segera dimulai, sedikit panik, tapi untungnya saya masih bisa mendapatkan kursi di deretan paling depan. Yup, saat show tersebut saya hanya berniat nonton bukan ikut-ikutan sebagai juru foto yang memiliki markas di Photographer Pit.

Fashion show Agnes Budisurya dibuka oleh Desi Mulasari yang memakai outfit torso hitam, seperti lengging(atau memang legging ya?), dan jubah kain yang sangat lebar sehingga menyerupai sayap kelelawar. Dengan gerakkan teatrikal dan sedikit tarian, Mbak DesMul melangkah perlahan di atas catwalk dengan jubah kain yang melambai-lambai. Semua penonton pun terdiam, semuanya terpaku oleh gerak gerik DesMul yang begitu memukau. Pada klimaks aksinya, DesMul berlari di atas catwalk ditengah-tengah langkahnya kembali ke belakang panggung dan seketika tepuk tangan pun membahana ke segala penjuru fashion tent. Prok Prok Prok!.

Saya sangat menyukai fashion show dari Agnes Budisurya itu, saya suka semuanya, termasuk baju-baju yang ditampilkan. Gaun-gaun cantik yang kental akan nuansa tumbuh-tumbuhan yang akhirnya membuat saya berpikir bahwa Agnes Budisurya adalah seorang desainer pecinta alam yang gemar berkebun serta menanam beragam spesies tumbuh-tumbuhan. Namun sayangnya karena saya hanya menjadi penonton dari barisan kursi wartawan dan bukannya ikut-ikutan foto di photographer pit, maka saya tidak mempunyai foto yang jelas pada saat show tersebut. Karena hal itu pula, banyak detail yang terlupa akan fashion show tersebut.

Setelah fashion show dari Agnes Budisurya saya melewati fashion show tunggal dari Yasra Kebaya karena satu dan lain hal. Saya baru kembali menuju ke dalam tent pada saat fashion show dari Sebastian Gunawan akan dilangsungkan, tepat setelah fashion show Yasra Kebaya berakhir.

Pagelaran busana dari Sebastian Gunawan dibuka dengan penampilan khusus dari pemain harpa ternama, Maya Hasan. Mengenakan gaun malam berpotongan klasik karya Sebastian Gunawan, Maya Hasan memainkan instrumen dengan harpanya. Setelahnya, para wanita dari kalangan sosialita yang katanya peduli terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah tampil di atas panggung dengan membawakan busana rancangan Sebastian ala model profesional. Diantara para wanita cantik tersebut terselip Putri Indonesia tahun 2009, Zivanna Letisha Siregar, yang juga terpilih sebagai duta remaja Yayayasan Jantung Indonesia.

Dalam rangkaian koleksi karyanya kali ini, Sebastian Gunawan berkolaborasi dengan sang istri Christina, menghadirkan deretan koleksi terbaru dari lini SEBASTIAN. Pada koleksi ini Sebastian tetap mempertahankan ciri khasnya yakni busana-busana berpotongan klasik, ia kemudian menamai koleksinya “Charming Blend”. Gaun malam serta gaun cocktail dihadirkan dalam silluet gaya fesyen tahun 20-60 an. Warna-warna yang cenderung lembut seperti coklat muda, nude, abu-abu serta hitam menjadi pilihan utama Sebastian meski dalam satu dua busana terdapat warna yang cukup cerah seperti merah, hijau toscha, dan biru kehijauan.

Hari itu fashion show dari Oscar Lawalata yang berkolaborasi dengan Justin Smith yang merupakan milliner alias perancang topi dari Inggris terpilih untuk menjadi fashion show penutup. Oscar yang selama ini dikenal melalui kreasinya yang mengaplikasikan kain-kain tradisional kedalam potongan busana bernapas ready to wear duluxe yang kental kembali menerapkan racikan yang sama untuk fashion show yang ia beri judul “The Culture Incarnation” itu.

Beragam kain tradisional seperti batik, ikat, dan tenun diaplikasikan dengan teknik yang berbeda, sehingga menghasilkan formasi busana modern yang kaya akan detail, namun tetap terlihat simple dan sangat wearable. Untuk koleksinya kali ini, Oscar memlih untuk menggabungkan warna-warna cerah dan warna tanah yang lebih membumi dalam setiap potong busana. Beragam pilihan gaun pendek sampai dengan busana two piece yang menggabungkan celana panjang atau rok dengan atasan tanpa lengan serta kemeja berpotongan longgar adalah busana yang ditampilkan Oscar dalam kolaborasinya bersama Justin Smith.

Sementara itu, Justin Smith yang juga pemenang British Council’s UK Young Fashion Enterpreneur Award 2010 dan telah menampilkan topi rancangannya di Paris, Milan, dan Roma, menghadirkan kreasi hiasan kepala dan topi yang menerapkan unsur anyaman bambu, kain ikat, dan kulit. Kemudian karya dari keduanya dipertemukan dan dikemas menjadi satu outfit yang memunculkan rangkaian cerita sarat makna yang terinspirasi dari dinamika manusia modern yang tak lepas dari hiruk pikuk teknologi, namun sebenarnya haus akan unsur-unsur alamiah dalam kehidupannya.

Namun dari semua hal tersebut, jika ditanya apa hal yang paling tidak terlupakan dari hari itu, maka saya akan menjawab 3 hal yang tidak pernah terlupakan dari fashion show JFW hari ketiga.
1. Aksi Desi Mulasari saat fashion show Agnes Budisurya

2. Pinjaman kamera dari My Poppie(sebagian dari kalian tahu siapa Poppie saya itu) yang bikin saya bisa foto-foto show Sebastian Gunawan dan Oscar Lawalata menggunakan Cannon 1100 D dan itu membuat saya senang setengah mati karena saya dapat beberapa hasil foto yang at least lebih kece dari hasil foto biasanya dengan kamera pocket. Dan yang terakhir,

3. Hari itu adalah hari pertama saya nggak pulang ke rumah melainkan menginap di kosan salah dua teman saya yang tidak lain adalah model di JFW 2012 yang berlokasi di daerah Senopati. Jadi mulai hari itu saya tidak perlu bolak-balik Cibubur-Pasific Place selama JFW 2012 berlangsung!. Senangnyaaaaa….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s