Mirip Desain Siapa Hayooo???

Mau tidak mau saya mengernyitkan kening ketika melihat desain-desain yang saya posting di bawah ini. God!, it’s look like de javu!. Ini seperti desain….

Danny Satriadi. Model: Mungki Chrisna

Pada tahun sebelumnya saya dibuat terkesan oleh koleksi busana dari para desainer yang mengisi satu slot fashion show khusus di JFW 2010-2011 yang bekerjasama dengan salah satu merek shampoo. Salah satu desainer yang saya ingat betul keindahan koleksinya adalah Danny Satriadi. Koleksinya keren dan berkesan, terlepas dari para model bulesuper duper ganggu yang tampil membawakan koleksi tersebut.

Lalu pada tahun ini saya pun bersemangat ketika tahu Danny akan kembali mempertontonkan kolesksi terbarunya di JFW 2011-2012. Kali ini Danny tidak lagi bekerjasama dengan merek shampoo melainkan merek salah satu mobil kelas internasional, Mazda.

Fashion Show itu diberi nama “Mazda Present Young Vibrant Designer”. Premis utamanya adalah memamerkan koleksi dari 3 orang desainer yang pada koleksinya terinspirasi oleh mobil Mazda keluaran terbaru. Tiga desainer tersebut adalah Kleting Titis Wigati, Danny Satriadi , dan Imelda Kartini.

Kleting. Model: Prinka Cassy, Kelly Tandiono dll

Kleting Titis Wigati yang lebih kenal luas dengan label Kle nya, menampilkan busana-busana ready to wear penuh warna dan berpotongan unik, seperti yang sudah jadi ciri khasnya. Pada saat menyaksikan koleksi busana dari Kleting saya masih biasa saja dan tidak merasa aneh atau bingung sama sekali, karena saya tahu memang seperti itulah koleksi busana yang jadi andalan Kle.

Danny Satriadi. Model: Paula Verhoeven

Lalu masuk ke koleksi Danny Satriadi. Begini, saya sebenarnya sangat tidak ingin membandingkan karya seseorang dengan yang lainnya, tapi mau bagaimana lagi, terlalu sulit bagi saya untuk menahan diri dan tidak berkomentar tentang koleksi Danny kali ini, terutama pada koleksi pamungkasnya yang dikenakan model Paula Verhoeven.

Danny Satriadi

Koleksi itu, bagi saya begitu mirip dengan koleksi seorang desainer pendatang baru yang ditampilkan pada tahun sebelumnya. Saya tidak ingin langsung menilai jika koleksi Danny itu meniru atau semacamnya, tapi memang saya rasa ada beberapa kemiripan.

Imelda Kartini. Model: Reti Ragil Riani

Sementara untuk koleksi dari Imelda Kartini, saya nggak bisa komentar banyak karena sebelum-sebelumnya saya belum pernah melihat koleksi Imelda, atau mungkin sudah tetapi lupa. Jadi silakan diperhatikan dan diberikan komentar sendiri tentang koleksi Imelda dari foto yang saya posting dibawah ini.

Imelda Kartini. Model: Kelly Tandiono

Imelda Kartini. Model: Kimberly

Over all, saya hanya gatal untuk memposting foto-foto ini setelah lama tertahan. Masalah kalian setuju atau tidak atau hanya ingin sekadar memberi komentar monggo silakan.

BIN House dan Salah Satu Moment Paling Menyenangkan Selama JFW 2011-2012

Hari itu untuk pertama kalinya selama JFW 2011-2012 saya merasa benar-benar tersenyum bahagia. Rasanya senang sekali ketika saya usai menyaksikan 4 sekuens fashion show dari BIN House yang begitu seru, lepas, dan sangat menyenangkan

BIN House. Jujur, sebelumnya Saya nggak banyak tau tentang BIN House. Saya pertama kali dengar nama itu sekitar satu tahun lalu pada Bazaar Fashion Concerto. Saya ingat betul, BIN House adalah salah satu yang berpartisipasi dalam acara itu. Saya tau, si empunya BIN House bernama Obin. Tapi pada saat Bazaar Fashion Concerto 2010, koleksi yang dikeluarkan bukan karya Obin, melainkan karya seorang desainer bernama Wita.

Selang waktu berlalu, saya tetap tidak banyak tau tentang BIN House, sampai pada akhirnya saya membaca tentang Obin Komara, sang pendiri BIN House di salah satu majalah mode ternama. Menarik. Itulah satu kata yang menjadi kesimpulan saya ketika saya membaca tentang beliau di majalah tersebut. Dalam wawancaranya dengan majalah itu, Obin mengatakan bahwa ia lebih senang disebut sebagai “tukang kain” daripada seorang desainer. Bagi saya, hal itu benar-benar menarik, terlebih setelah mengetahui bahwa reputasi Obin dan label yang ia dirikan, BIN House, sudah tidak diragukan lagi tidak hanya di Indonesia tetapi juga dunia internasional. Bahkan aktris sekaliber Julia Roberts adalah salah satu kolektor kain buatan Obin.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, setelah membaca artikel di majalah tersebut tentang Obin, masih banyak hal menarik lainnya yang membuat saya penasaran dengan Obin dan BIN House. Jadi, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak datang dalam sebuah fashion show khusus dari BIN House di hari ke-4 Jakarta Fashion Week 2011-2012.

Fashion show dimulai jam 1 siang, jam dimana saya biasanya masih asik tidur-tiduran sambil nonton TV kabel di kostan(saat itu saya sedang numpang di kostan teman di daerah Senopati). Sebenarnya agak malas rasanya beranjak dari kostan yang benar-benar nyaman dan bikin betah itu. Tapi saat saya mengingat lagi kalau yang akan show adalah koleksi dari BIN House saya langsung bersemangat siap-siap pergi menuju Pasific Place dan menyaksikan fashion show itu.

Fashion show dari BIN House diberi judul “Apresiasi Pesona Bersama BIN House ‘A Catwalk Moment’. Sebelumnya saya harus mengatakan kalau saya nggak akan terlalu membahas tentang koleksi dari BIN House karena pada show ini saya memang sangat amat terkesan pada keseluruhan pengemasan fashion shownya yang sangat menyenangkan. Jadi, saya memang lebih tertarik untuk membahas keseluruhan fashion show :p.

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Dhining

Dibagi menjadi 4 sekuens, fashion show BIN House itu diarahkan secara langsung oleh Panca Makmun selaku koreografer. Saat pertama kali saya tau kalau koreografer fashion show BIN House adalah Panca Makmun, saya yakin kalau kemungkinan besar fashion show akan berjalan dengan sangat menyenangkan. Dan benar saja, 4 sekuens show BIN House benar-benar menjadi salah satu moment yang paling tidak bisa saya lupakan selama JFW 2011-2012. Alur masing-masing sekuens dari fashion show tersebut dibuat naik turun bergantian pada setiap sekuens. Grup model dibagi menjadi dua sub grup, dikelompokkan sesuai dengan karakter para model. Untuk kasus fashion show BIN House itu, saya senang menyebutnya dengan Grup1, Model Anggun&Dewasa dan Grup2, Model Ceria&Centil.
Kedua grup model itu masing-masing “dikepalai” oleh Dominique Diyose di Grup 1, dan Kimmy Jayanti di Grup 2.

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Dominique Diyose

BIN House oleh Obin Komara di JFW 2011-2012. Model: Whulandari

Sekuens pertama di buka dengan para model dari Grup 1 yang diawali dengan penampilan Dominique Diyose yang mengenakan satu set busana bermaterial kain batik. Irama musik mengalun perlahan seiring dengan penampilan kalau-kamu-lihat-kamu-akan-tahan-nafas-saking-kerennya dari Dominique. Penampilan Dominique yang sangat anggun, dewasa, dan terkesan sexy juga berlaku pada setiap model yang ada dalam Grup 1. Semua model dari Grup 1, adalah tipe model yang memiliki karakter yang anggun, dewasa, dan terkesan sexy.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 2 di JFW 2011-2012. Model: Renata

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 2 di JFW 2011-2012. Model: Dea Nabila

Beralih dari sekuens satu ke sekuens dua, Kimmy Jayanti si model rock and roll tampil dengan gaya ceria. Dengan musik backsound yang dinamis ia menebar senyum dan tawa kepada setiap orang yang memenuhi fashion tent. Benar-benar menciptakan suasana perpindahan sekuens yang berbeda dari sekuens sebelumnya yang lebih syahdu.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 3. Model: Dominique Diyose

Tapi, dari semua sequens saya nggak akan pernah bisa lupa dengan sekuens tiga. Sekuens yang memakai lagu “Juwita Malam” Ismail Marzuki versi Slank. Sejak dulu saya memang sangat suka dengan lagu itu. Setiap mendengar lagu itu, otak saya selalu memvisualisasikan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan gaun warna merah. Dalam bayangan saya wanita itu terlihat cantik, pintar, seksi, dan membuat terpesona siapa saja yang melihatnya.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 3 di JFW 2011-2012. Model: Whulandari

Lalu pada sekuens tiga itu, Dominique muncul, berjalan perlahan dari belakang lintasan catwalk mengenakan kebaya encim warna merah, kain batik, dan selendang putih. Damn!. Visualisasi saya jadi kenyataan!. Dan si wanita dalam lagu “Juwita Malam” dalam bayangan saya menjelma nyata!. Am Speechless.

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 4. Model: Kimmy Jayanti

 

BIN House oleh Obin Komara Sekuens 4 di JFW 2011-2012. Model: Renata

Pada sekuens terakhir, Grup 2 Kimmy Jayanti tampil dengan lebih “tenang”. Mengenakan  busana two piece putih-putih dan sehelai kain merah  yang kemudian ia mainkan(putar-putar). Seluruh model pada Grup 2 Kimmy yang sebelumnya tampil dengan ceria dan centil pun sedikit berubah imej menjadi lebih “tenang”. Pada sequens ini, busana yang dibawakan para model didominasi oleh warna putih.

Finale Akhir BIN House di JFW 2011-2012

Seluruh sekuens pada fashion show BIN House berakhir. Seluruh model melakukan sesi finale. Saat finale,  para model yang kesemuanya telah berada di lintasan catwalk mengambil posisi duduk di tepi lintasan, dan sang empunya label BIN House, Obin Komara pun berjalan dengan menggoyangkan tubuh menuju depan lintasan catwalk dengan membawa sebuah kain. Saat lihat Obin bergoyang dengan begitu asyiknya, saya yang hanya berjarak beberapa meter di depan lintasan catwalk serasa ingin bergoyang juga. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Semenyenangkan show nya. 😀

Part 2 Bazaar Fashion Celebration 2011. Langgam Tiga Hati ; Perayaan Fesyen Berbalut Tradisi

“Obin Komara, Ghea Panggabean dan Eddy Betty Persembahkan Yang Terbaik Untuk Negeri. Totally Awesome Collection With Wonderful Show!”

Keroncong, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keroncong memiliki tiga artian. Pertama, Keroncong dapat diartikan sebagai alat musik berupa gitar kecil berdawai empat atau lima. Kedua, Keroncong adalah irama atau langgam musik yang ciri khasnya terletak pada permainan alat musik Keroncong, yaitu kendang, selo, dan gitar melodi yang dimainkan secara beruntun. Ketiga, Keroncong merupakan jenis orkes yang terdiri atas biola, seruling, gitar, ukulele, banyo, selo, dan bass.

Tapi bagi saya pribadi terlepas dari bermacam penafsiran itu, Keroncong memiliki satu pemaknaan penting. Keroncong = Musik. Keroncong adalah satu jenis musik yang kemudian dipertegas sebagai musik asli kepunyaan Indonesia.

Yup Keroncong adalah musik asli kepunyaan Indonesia. Keroncong adalah musik asli serta salah satu pencapaian tertinggi dari para musisi Indonesia di masa lampau dalam bermusik. Keroncong tidak lain merupakan musik asli kepunyaan Indonesia hasil kreatifitas anak negeri bukan musik bawaan dari Portugis seperti yang selama ini banyak diketahui. Hal ini bukan tanpa dasar yang jelas, Keroncong diketahui sebagai musik asli Indonesia setelah Jay Subijakto selaku show director dan Erwin Gutawa sebagai music director Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” mengadakan sebuah riset panjang mengenai musik Keroncong di beberapa daerah di Indonesia yang disinyalir sebagai tempat-tempat awal munculnya musik Keroncong.

EdBe by Eddy Betty

Setelah pada tahun sebelumnya, Majalah Harper’s Bazaar Indonesia sukses menyelenggarakan sebuah pagelaran busana akbar dipadukan dengan live music layaknya sebuah mega konser dalam Bazaar Fashion Concerto, kali ini Majalah Harper’s Bazaar Indonesia melaksanakan sebuah pagelaran busana dari tiga orang desainer kenamaan Indonesia dalam balutan budaya serta tradisi yang kental tanpa melupakan ke khasan signature event Bazaar, fashion show dengan live music.

Keroncong sebagai salah satu musik asli Indonesia kemudian dipilih sebagai embrio utama dalam penyelenggaraan Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”. “Langgam Tiga Hati” yang menjadi tema besar dalam terselenggaranya acara ini memiliki arti tersendiri. Langgam memiliki arti irama, sementara tiga hati merupakan metamorfora dari tiga orang desainer yang ikut berpartisipasi dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Jika dirangkumkan secara keseluruhan, “Langgam Tiga Hati” mungkin dapat ditafsirkan sebagai penyatuan irama karya dari tiga desainer Indonesia dalam Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Ketiga orang desainer yakni Obin Komara, Ghea Panggabean, dan Eddy Betty sempat mengatakan bahwa koleksi-koleksi yang mereka tampilkan pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah interpretasi masing-masing dari mereka saat mendengar kata keroncong.

Menjadi sangat menarik karena meski keroncong menjadi gagasan utama atas terselenggaranya acara ini, dan masing-masing desainer sepakat bahwa saat mendengar kata Keroncong yang terpikir adalah tentang budaya, serta tradisi, namun ketiganya menghadirkan koleksi busana yang amat berbeda satu sama lain. Busana ready to wear berbahan batik, sampai gaun malam model cheongsam menjadi interpretasi tersendiri.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Terbagi atas 5 sekuens parade busana, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 terlebih dahulu dibuka dengan parade busana Sariayu “Etnika Nusa Tenggara” oleh Deden Siswanto yang seolah menjadi sajian pembuka sebelum sampai kepada sajian utama “Langgam Tiga Hati”. Pada rangkaian koleksinya untuk Sariayu ini, Deden mengolah kain-kain tradisional khas Nusa Tenggara dalam busana yang kaya akan  detail dan beragam tekstur bahan.

Sariayu "Etnika Nusa Tenggara" oleh Deden Siswanto. Model: Mungki Chrisna

Parade busana Sariayu ini sekaligus pertanda diluncurkannya 26 trend warna 2012 “Etnika Nusa Tenggara” dari Sariayu.

EdBe oleh Eddy Betty

EdBe oleh Eddy Betty with Darell Ferhostan as Model

Setelahnya, serangkaian koleksi busana ready to wear dari EdBe(baca: edibi) yang merupakan lini kedua milik Eddy Betty hadir sebagai pembuka pagelaran busana utama “Langgam Tiga Hati”. Awalnya saat pertama kali tahu bahwa Eddy Betty akan menampilkan koleksi dari lini EdBe, saya mengira koleksi yang akan ditampilkan ini adalah koleksi yang sama seperti yang pernah ia tampilkan pada pagelaran busana tunggal EdBe “Love Is The Air”, mengingat jarak waktu yang sangat singkat dari pagelaran busana tersebut, tapi ternyata tidak. Koleksi yang ditampilkan Eddy Betty ini sebagian besar adalah koleksi baru meski ada beberapa koleksi lama, namun dengan padupadan berfilosofi “Mix Don’t Match” yang dianut EdBe hal ini tidak terlalu terlihat.

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Reti Ragil Riani

EdBe oleh Eddy Betty. Model: Filantropi

Untuk koleksinya ini EdBe menghadirkan Batik Kudus sebagai material dasar pada tiap potong busana. Palet warna-warna menyolok serta cutting asimetris ala harajuku yang jadi ciri khas EdBe kemudian ditampilkan dengan tabrak warna dan motif. Make up para model yang dibuat sedikit gothic dan “berantakkan” serta aksesoris pelengkap seperti gelang yang melilit pada tangan para model membuat rangkaian koleksi EdBe yang ia beri judul “Loves Batik Kudus” terlihat semakin menarik serta terkesan sangat anak muda dan funky.

Ghea Panggabean

Ghea Couture oleh Ghea Panggabean. Model: Drina Ciputra

Ghea Panggabean membagi sekuens parade busananya menjadi tiga sub sekuens. Ia membuat parade busananya layaknya drama tiga babak tentang perjalanan hidup Oei Hui Lan. Oei Hui Lan sendiri adalah seorang Putri Raja Gula dari Semarang yang memiliki kisah hidup tragis.

Sebagai putri orang terkaya di Indonesia juga di Asia Tenggara saat itu, Oei Hui Lan justru memilih cara bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Kisah tragis dari Oei Hui Lan inilah yang kemudian menginspirasi Ghea dalam rangkaian koleksi terbarunya. Kisah hidup Oei Hui Lan yang terjadi sekitar tahun 1920an adalah interpretasi Ghea terhadap musik Keroncong yang juga mulai dikenal luas pada masa-masa itu.

Salah satu koleksi di sekuens 1 Ghea Panggabean

Drama tiga babak hidup Oei Hui Lan dijabarkan dalam tiga sekuens parade busana yang pada masing-masing sekuens terasa amat berbeda meski memiliki satu benang merah yang sama yakni nuansa oriental yang sangat kental.

Sekuens 1 Ghea Panggabean. Model: Ayu Faradilla

Pada babak atau sekuens pertama, set busana cocktail dengan motif sulam dan bunga-bunga serta sentuhan gaya bohemian  berpadu dengan nuansa oriental menjadi gambaran dari romantika masa-masa awal hidup Oei Hui Lan selama di Indonesia.

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model : Kelly Tandiono

Sekuens 2 Ghea Panggabean. Model: Juanita Haryadi

Motif-motif keramik porselen khas Negeri Tirai Bambu yang sejak lama telah dikenal sebagai salah satu trade mark budaya Tiongkok yang sangat akrab dengan kehidupan Oei Hui Lan dihadirkan sebagai inspirasi utama pada sekuens kedua.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Dramatisasi Antie Damayanti

Babak terakhir dalam drama tiga babak kisah hidup Oei Hui Lan adalah sekuens yang bagi saya pribadi tidak akan pernah terlupakan. Diiringi lagu “Surya Tenggelam” milik mendiang Chrisye, aura magis pada sekuens ini benar-benar terasa.Terlebih lagi saat Antie Damayanti, salah seorang model pada sekuens Ghea muncul di atas panggung dengan sebuah koreografi yang begitu dramatis yang seolah menggambarkan kisah hidup penuh drama yang dijalani Oei Hui Lan.

Tidak berhenti sampai disitu, Dominique Diyose yang kemudian tampil dipanggung mengenakan sebuah payung yang tertutup kelambu hitam seperti menyerupai perumpamaan penampakkan hantu Oei Hui Lan yang kabarnya sering terlihat di hotel keluarga Oei Hui Lan.

Dominique Diyose, "Hantu" Oei Hui Lan

Bagi saya, sekuens ini lebih menyerupai kisah kematian Oei Hui Lan yang tragis dibandingkan dengan interpretasi  gaya hidup jetset super mewah yang dijalani Oei Hui Lan semasa hidupnya. Pada sekuens ini saya lebih membayangkan cerita kematian Oei Hui Lan yang tragis serta cerita seram tentang hantu Oei Hui Lan yang konon sering menampakkan diri di hotel keluarga di Semarang.

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Dominique Diyose

Sekuens 3 Ghea Panggabean. Model: Prinka Cassy

Secara keseluruhan sekuens yang menghadirkan koleksi gaun malam dari lini teranyar Ghea Panggabean yang ia beri nama Ghea Couture ini adalah sekuens yang paling menyita perhatian saya. Gaun-gaun malam dengan dominasi warna hitam ditambah motif-motif bordir bernuansa oriental yang disajikan dalam warna emas menambah kekuatan drama dalam sekuens ini.

BIN HOUSE Oleh Obin Komara

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Kimmy Jayanti

Jika pada tahun sebelumnya koleksi dari BIN HOUSE untuk Bazaar Fashion Concerto diwakili oleh Wita, pada Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini BIN House diwakili langsung oleh sang pendiri, Obin Komara.

Lebih senang disebut sebagai “tukang kain”, Obin Komara mempersembahkan 15 koleksi busana. Pada koleksinya kali ini BIN HOUSE bermain-main dengan cutting jas pada kebaya. Beragam kain-kain cantik yang selalu jadi andalan BIN House diwujudkan dalam kebaya-kebaya  bersilluet modern dengan teknik tripping dan stitching yang memperkuat tekstur serta karakter kain.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Ines Arieza

Meski menjadi desainer yang paling sedikit mengeluarkan koleksi pada moment ini, keseluruhan koleksi dari Obin Komara untuk BIN HOUSE menjadi sangat menarik dengan arahan koreografi centil bagi setiap model pada sekuens BIN HOUSE.

BIN HOUSE oleh Obin Komara. Model: Evie Mulya

Permainan kain dari beberapa model seperti Kimmy Jayanti, Evie Mulya, dan Ines Arieza juga menambah point plus dalam sekuens BIN HOUSE.

Eddy Betty

Eddy Betty. Model: Nien Indriyati

Eddy Betty tidak hanya menampilkan lini EdBe yang selama ini ia khususkan untuk busana-busana batik ready to wear, pada Sariayu Bazaar fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” ini ia juga mempertontonkan koleksi teranyar dari lini utamanya, Eddy Betty. Ia kemudian memilih bintang Hollywood legendaries, Elizabeth Taylor sebagai inspirasi utama karyanya. Melalui koleksinya ia seolah  membayangkan lambing glamoritas Hollywood yang ikonis ini ditempatkan dalam sebuah scene pertunjukkan Keroncong di Broadway, ditengah musim dingin sambil mengenakan kebaya cantik nan mewah.

Eddy Betty. Model: Dea Nabila

Suhu rendah pada musim dingin tidak lagi menjadi halangan ketika Eddy Betty menambahkan aksen penghangat berupa bulu-bulu, coat, dan mantel yang terbuat dari kulit hewan berbulu tebal namun terlihat sangat lembut.

Tidak hanya menampilkan kebaya yang berpadu dengan aksen penghangat, pada sekuensnya, Eddy Betty turut menampilkan beberapa koleksi kebaya yang ia desain khusus untuk pernikahan. Salah satu kebaya untuk pernikahan yang ia tampilkan adalah kebaya yang ia desain untuk pernikahan model cantik Laura Basuki beberapa waktu lalu. Kebaya pernikahan tersebut dibawakan langsung oleh sang mempelai, Laura Basuki.

Eddy Betty. Model: Laura Basuki

Bagi saya, secara keseluruhan, Sariayu Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” adalah satu kesatuan karya masterpiece dari semua yang terlibat didalamnya. Terlepas dari beberapa kekurangan yang masih terdapat dalam penyelenggaraannya, Sariayu Bazaar Fashion Celebration meninggalkan kesan mendalam yang tidak akan terlupakan,dan membuat saya semakin menantikan acara tahunan ini di tahun mendatang.

Part 1 Bazaar Fashion Celebration 2011. Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” VS Bazaar Fashion Concerto 2010 “Fashiontech”

“Antara Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati” dan kenangan setahun lalu di Bazaar Fashion Concerto 2010 “Fashiontech” “

Saya nggak akan pernah lupa moment penting satu tahun lalu, sekitar awal Desember di tahun 2010. Saat itu saya benar-benar terpukau dengan sebuah pagelaran busana yang dikemas dengan live music yang begitu megah dan mengagumkan. Pagelaran busana itu bernama Bazaar Fashion Concerto “Fashiontech”. Sejak saat itu saya hampir tidak bisa menghilangkan kenangan dan rasa kagum yang mendalam tentang acara, yang akhirnya saya tahu, dihelat setahun sekali oleh majalah Bazaar. Sejak saat itu pula saya seolah menanti-nanti kapan Bazaar Fashion Concerto akan digelar lagi.

Selang setahun berlalu akhirnya saya mendapat kabar bahwa Bazaar Fashion Concerto akan kembali dilaksanakan. Tetapi acara akbar ini seolah berganti rupa, dan berganti nama. Tidak ada lagi Bazaar Fashion Concerto, kali ini judulnya adalah Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”.

Sangat berbeda dengan Bazaar Fashion Concerto setahun lalu, Bazaar Fashion Celebration 2011 digelar dengan lebih sederhana. Jika pada tahun sebelumnya Bazaar Indonesia seperti “jor-jor-an” dalam hal tempat penyelenggaraan, tata panggung, musik pengiring, lighting, pengisi acara, juga para desainer yang berpartisipasi, pada tahun ini semua itu seolah diputarbalik nyaris habis-habisan.

Tempat penyelenggaraan, jika pada tahun sebelumnya Bazaar Fashion Concerto dilaksanakan di Planery Hall JCC yang sebegitu besarnya, kali ini Bazaar Fashion Celebration 2011 diselenggarakan di Grand Ballroom Ritz Carlton Pasfic Place yang jauh lebih sedikit kapasitas penontonnya dibandingkan dengan Planery Hall JCC.

Selain itu, perihal tata panggung, musik pengiring dan lighting juga tidak seheboh tahun lalu yang sarat akan unsur teknologi dan penuh kejutan,  Bazaar Fashion Celebration kali ini meski tetap mengawinkan duo jempolan Jay Subijakto sebagai show director, dan Erwin Gutawa sebagai music director, ditata dengan lebih sederhana.

Seperti misalnya, lintasan panggung untuk para model memang lebih panjang karena berbentuk lingkaran penuh dengan tiga titik sudut lintasan untuk berhenti, pose, dan diabadikan gambarnya oleh para media yang meliput. Tetapi tata panggungnya cenderung lebih sederhana, clean, dan tidak ada gimmick-gimmick seru seperti tahun lalu ketika pada pembukaan sequens parade busana Sally Koeswanto, Drina Ciputra menjadi first face yang bergaya ala alien yang keluar dari sebuah tempat persembunyian dengan koreografi yang super menawan.

Meski diselenggarakan dengan kesan lebih sederhana dan “tidak macam-macam”, bukan berarti Bazaar Fashion Celebration 2011 berlalu tanpa meninggalkan kesan berarti. Itu semua salah besar!. Memang jika perhatikan Bazaar Fashion Celebration 2011 diselenggarakan dengan lebih sederhana, desainer yang berpartisipasi pun hanya tiga orang, berbeda jauh dari tahun lalu yang melibatkan sepuluh orang desainer. Namun cenderung lebih sederhananya penyelenggaraan Bazaar Fashion Celebration dibandingkan Bazaar Fashion Concerto di tahun sebelumnya menghadirkan beberapa point plus. Seperti misalnya suasana lebih intim yang tercipta.

Atmosfer perayaan fesyen dari Bazaar kali ini memang bukan layaknya pesta besar-besaran ulangtahun televisi swasta, perayaan fesyen dari Bazaar kali ini seperti sebuah perayaan pesta hari jadi seseorang atau perayaan ulang tahun pernikahan, dimana yang hadir adalah sebuah keluarga besar, sahabat, dan handai taulan yang mempunyai ikatan perasaan satu sama lain.

Selain itu berkurangnya jumlah desainer yang berpartisipasi dari sepuluh desainer di tahun 2010, dan kini tiga orang desainer membuat koleksi busana yang ditampilkan menjadi lebih fokus. Meski tentunya koleksi yang ditampilkan para desainer berbeda tetapi benang merah yang merupakan pengikat utama dalam keseluruhan koleksi dan acara amat terasa pada setiap sekuens yang dihadirkan.

BIN HOUSE oleh Obin Komara

Nafas utama dalam terselenggaranya acara ini, yakni keroncong juga sangat terwakili dengan metode penyelenggaraan Bazaar Fashion Celebration yang lebih sederhana dan intim. Para tamu undangan yang hadir seolah diajak berkunjung ke dua suasana berbeda. Pada masa kejayaan musik keroncong yang membawa pada atmosfer nostalgia masa lalu, dan pada hari ini, dimana musik keroncong dimunculkan kembali dalam kemegahan tata musik orkestra modern yang memukau serta  alunan suara merdu dari para pengisi acara, Bunga Citra Lestari, Sammy Simorangkir, Sundari Soekotjo, dan penyanyi cilik (yang merupakan main cast musical Laskar Pelangi) Christoffer Nelwan, Kanya, Hilmi Faturrahman, dan Sheila Hasto. 

Dengan treatment yang lebih sederhana dan intim itu, semua orang yang menonton secara langsung jalannya acara Bazaar Fashion Celebration 2011 rasanya lebih bisa menikmati keseluruhan sajian Bazaar Fashion Celebration 2011.

EdBe oleh Eddy Betty

Hal lain yang bagi saya turut menjadi point plus Bazaar Fashion Celebration 2011 adalah space-space yang sediakan oleh penyelenggara untuk media yang meliput jauh lebih nyaman dibandingkan pada tahun sebelumnya. Jarak kursi khusus untuk media, serta jarak fotografer pit dengan panggung jauh lebih dekat, hal ini sangat memudahkan para jurnalis dan fotografer untuk mengabadikan moment berlangsungnya Bazaar Fashion Celebration 2011.

Dan tulisan part ini saya cukupkan sampai disini. Mari lanjut ke part 2. Enjoy!