Hari Berkurangnya Umur, Semakin Tua, dan Tuhan Baik Sekali

Satu hari kemarin adalah hari yang spesial untuk saya. Umur saya berkurang, saya semakin tua walau teman-teman saya banyak yang bersungut-sungut ketika saya mengatakan, “I’m feeling so old”. Banyak dari teman-teman saya yang protes dan mengatakan, “Tujuhbelas tahun tua?. Please dehhh…”.

6 Januari 1995, itu tanggal lahir saya.  Saya mencoba untuk mengingat-ingat bagaimana saya dilahirkan, tapi sayangnya saya nggak inget sama sekali. Sayang ya, bayi tidak punya memori, kita jadi tidak bisa mengingat bagaimana proses dilahirkan ke dunia. Proses yang kita jalani tanpa pernah kita pilih.

Tujuhbelas tahun lalu saya dilahirkan, tepat hari Jum’at jam 5 pagi tanggal 6 Januari. Entah kenapa, setiap mengingat hari lahir saya ada perasaan yang tidak biasa. Sebuah perasaan janggal yang spesial. Saya nggak terlalu ngerti kenapa, tapi mungkin memang semua orang juga merasakan seperti itu ya?. Merasakan sebuah perasaan janggal yang spesial dan tidak biasa setiap mengingat tanggal kelahiran.

Spesial, mungkin itu adalah salah satu kata yang bisa mewakili apa yang saya rasakan pada hari kelahiran saya yang ke tujuh belas. Sejak pagi bagi saya semua terasa spesial. Sejak malam tidur saya tidak pernah benar-benar nyenyak, seperti ada yang mengganggu pikiran dan membuat saya terbangun sebentar-sebentar. Saat terbangun, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari handphone genggam saya dan melihat timeline twitter, sudah ada beberapa ucapan selamat disana, dan saya tidak bisa menahan diri saya untuk tidak membalas semua ucapan itu, terutama ucapan dari orang-orang yang saya anggap spesial.

Paginya, sekitar pukul 8.30 saya sudah stand by di kelurahan wilayah tempat tinggal saya, apalagi kalau bukan mengurus KTP?. Rasanya lucu, aneh, dan menyenangkan saat saya akhirnya menerima KTP atas nama saya sendiri. Agak norak memang, tapi yasudahlah, saya memang kelewat semangat.

Siangnya, saya ada janji dengan salah satu teman baik saya yang sudah sejak lama saya anggap seperti Kakak sendiri dan akhir-akhir ini saya lebih suka panggil dia Nyanya. Saya dan dia janjian bertemu untuk ngobrol-ngobrol santai membicarakan ini itu, juga membicarakan sebuah proyek tulisan yang sedang saya kerjakan. Siang itu saya merasa benar-benar nggak enak dengan dia karena dia sampai harus menunggu saya sekitar setengah jam. Ban motor yang robek tiba-tiba dan hujan yang bikin saya basah kuyup jadi alasan yang saya utarakan ke dia.

Dengan sepatu dan celana yang basah saya menemui dia yang sudah duduk manis di salah satu tempat makan sushi di Senci. Didepan dia saya langsung minta maaf karena merasa superduper nggak enak, saya nggak enak banget buat dia menunggu padahal dia nggak punya banyak waktu karena sudah ada janji lain, tapi dia cuma tertawa kecil dan mempersilakan saya duduk. Nggak lama dia kasih satu goodies ke saya, dan itu bikin saya tertawa habis-habisan.

Goodies "tektok". Goodiesnya lucu, Angry Bird!

Jengjengjengggg…goodies yang dia kasih ke saya adalah goodies yang saya kasih ke dia saat dia ulang tahun pada November lalu. Itu lucu banget, goodies itu kembali lagi ke saya, dan saat saya bilang itu ke dia, dia jadi geli sendiri. Dia bener-bener lupa kalau goodies itu adalah goodies yang saya kasih ke dia. Nggak masalah sih, yang terpenting isi goodiesnya beda…hahahaaa. Dan isi goodies itu jadi salah satu kado ultah paling spesial buat saya, salah satunya karena gara-gara si goodies yang balik lagi ke saya akhirnya kita berdua bikin semacam perjanjian iseng kalau goodies itu dijadikan goodies tektok kalau mau kasih apa-apa, jadi goodies itu nggak akan habis-habis, selalu balik lagi ke saya atau dia. Ada-ada aja…:p.

Awalnya, Nyanya bilang kalau dia hanya bisa sampai jam tiga sore karena sudah ada janji, dan kita berdua meninggalkan tempat makan sushi itu sebelum jam tiga. Tapi nggak lama dia dapat kabar kalau ternyata janji sama temennya diundur sampai jam setengah lima!. Jadilah kita berdua melanjutkan obrolan santai sambil ngeteh dan ngopi cantik di Starbuck. Seneng banget rasanya bisa dapet waktu tambahan dadakan seperti itu. Saya jadi punya waktu lebih banyak untuk ngobrol-ngobrol dengan Kakak satu itu. Feels like I have a great time with my own sister…hahaha.

Goodies boleh sama, tapi isi tetep beda :p

Ya, saya memang selalu suka ngobrol dengan dia, meski pada kenyataannya dia akan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Dia memang sangat pendiam, tapi sekalinya ngomong, semua rasanya adem ayem. Semua yang dia katakana selalu pas di point utama, dan pembawaannya selalu tenang, tanpa emosi saat mengatakan sesuatu, itu yang membuat suasanya adem ayem.

Nyanyaaaa!

Lalu setelah teman saya pulang, saya bertemu teman saya yang lain tanpa direncanakan. Teman saya yang ini juga sudah saya anggap Kakak sendiri, yaaa…saya memang selalu menganggap teman yang terpaut usianya jauh dengan saya sebagai Kakak saya sendiri. Kakak yang ini namanya Advina, dia awalnya hanya berniat mampir ke Senci untuk cari oleh-oleh untuk orangtua pacarnya yang akan pulang kampung ke Negara asal. Saya pun mendadak jadi menemani dia cari oleh-oleh dan berakhir dengan sebuah kado ultah dadakan dan obrolan semi santai dadakan di salah satu café di Senci.

Kado dadakan langsung dipake😀

Bersama Kak Vina di afterparty wedding seorang teman😀

Saya berpisah dengan Kak Vina sekitar setengah enam sore, hanya selang satu jam ketika kita berdua bertemu disana. Katanya dia memang nggak bisa lama karena sudah ada janji dengan sang pacar. Dia pulang, dan saya menghilang, atau lebih tepatnya menghilang ke dalam Urban Kitchen Senci. Berjam-jam saya disana. Niat awalnya sih ingin melanjutkan tulisan, tapi akhirnya saya cuma sibuk browsing ini itu karena terlalu distorsi ini itu. Haduuhhh…maafkan saya ya Kakak Editor.

Pulang dari Senci sudah sekitar setengah sepuluh malam dan diwarnai sedikit kepanikan karena tiket parkir hilang dan tas+helm saya diamankan karena taruh sembarangan. Hmmm…bukan panic sebenarnya, tapi ribet aja mesti urus kanan kiri laporan. Tapi seperti kata orang bijak, “Kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi dalam beberapa saat kedepan”, begitu pun saya. Saat itu saya benar-benar merasa beruntung sekali, karena apa?. Karena ternyata semua barang-barang saya aman tentram diamankan dan mudah sekali diambilnya tanpa kurang satu apapun, lalu ternyataaa lagi, tiket parkir saya ditemukan oleh si penjaga parkir. How lucky I am!.

Belum berenti sampai disitu, sampai rumah dan mendarat di kamar, saya menemukan paket kecil yang dibungkus kertas kado warna biru bergambar emote simle. Kado ulang tahun dari Ibu saya yang biasa saya panggil Umi. Isinya lucuuu banget, Flashdisk dengan bentuk naga kecil berwarna merah. Lucuuuu. Umi unyu sekaliii. Beruntung banget saya punya Ibu seperti si Umski :’).

Kado dari Umi. Lucuuuu!😀

Kesimpulannya satu, Tuhan baik sekali hari itu atau lebih tepatnya saya benar-benar merasa Tuhan baik sekali, setiap waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s