Untuk Inka, Teman Sehati, Kita Seperti Dua Sisi Cermin

Untuk Inka, si Kakak Bule Unyu,
Yang Sekarang Selalu Aman Dijagain Sang Hubby…

 

Iyalah susah, kalau gampang, pasti semua orang bikin Nin”.

“Karena ini yang namanya hidup. Apapun yang terjadi, kamu harus ngelajutin lagi besok, kamu akan kembali ke rutinitas. Jalanin aja, namanya juga hidup”.

Aku nggak akan pernah lupa kata-kata itu Inka. Kalau kata anak-anak jaman sekarang, kata-kata itu ‘Jleb’ banget, dan memang benar sih yang kamu katakan itu. Sering juga rasanya aku inget kata-kata mu saat aku ngerasa drop dan nggak semangat lagi. Kata-katamu itu kadang bikin aku semangat lagi.

Inka, kamu tau nggak?. Seumur-umur aku belum pernah ketemu orang yang seperti kamu. Kamu bikin aku seolah ngeliat pantulan cermin. Tapi bukankah kamu juga begitu?. Aku inget banget saat kita ngobrol-ngobrol di starbuck GI sambil nunggu buka puasa, kamu sampai bilang,

“Yaudahlah Nin, kamu nggak usah nanya aku, kamu tulis aja apa yang ada dipikiran kamu, kayaknya pikiranmu dan aku sama aja”.

Lalu setelah kamu bilang itu kita berdua jadi ketawa-tawa geli. Bingung juga kenapa bisa begitu, aneh banget rasanya saat tau kamu dan aku banyak kesamaan. Kita memang nggak sedekat itu, kita nggak pernah BBMan(karena aku nggak pake BB sih), kita jarang banget SMSan, apalagi telpon-telponan, rasanya baru sekali aku “beneran” telfon kamu, tapi aku selalu suka saat bisa ngobrol-ngobrol sama kamu, meski pada kenyataannya lebih banyak aku yang bawel.

Inka, ini surat cinta kesembilan yang aku tulis. Sembilan itu angka tertinggi, dan sembilan juga kebalikan dari angka favoritku, angka enam. Sebenernya aku bukan sengaja posisiin surat buat kamu ini di urutan ke sembilan, tadinya bukan urutan segini. Tapi entah kenapa ternyata ada surat yang aku tulis dobel jadi surat untuk kamu pindah ke urutan sembilan. Enam. Sembilan. Tuh kan kita sama lagi…hahaha. Mungkin cuma kebetulan, tapi nggak penting juga sih, karena yang penting surat ini adalah surat cinta kesembilan yang aku tulis, dan surat ini untuk kamu.

Dan untuk puisi ini:

Aku gadis kecil yang cerdik
Suka menulis di kertas secarik
Walaupun kadang aku berisik,
Tapi kadang kala aku hanya ingin berbisik
Aku tidak picik,
ataupun licik
Tidak mungkin pula bersisik
Aku hanya suka mengulik
Tentang orang-orang yang menurutku cantik
Karena itu hal yang menarik
Melihat mereka si cantik melirik
Dan tersenyum dari hati tanpa ada rasa sirik
Ataupun rasa tidak tertarik
Mereka bagaikan sebuah rangkaian lirik
Yang diciptakan memang untuk aku selidik
Terima kasih cantik,
Kalian membuat kertas-kertasku menarik
Untukbisa ku taruh di atas meja publik,
tanpa ada rasa jijik

 

Aku cuma mau bilang: Thank You!

Hahahaaa….Inka banget!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s