Untuk Kinan, Bayi Perempuan Dalam Mimpi

Untuk Baby K,
Yang Selalu Aku Ingat Saat Menuliskan Ini Di WhiKi…

 

Hallo Kinan sayang. Baru tulis tiga kata ini aja aku rasanya sudah ingin senyum-senyum sendiri membayangkan wajah lucu kamu. Wajah lucu yang mudah sekali tertawa. Tapi aku bingung Kinan, kalau nanti kamu sudah bisa ngomong, kamu enaknya panggil aku apa ya?. Kakak?, Mbak?, Tante?, nggak nggak…mari kita coret pilihan ketiga. Aku nggak mau dipanggil Tante sama kamu, meski kita beda 15 tahun, tapi aku nggak setua itu ah. Jadi nanti kalau kamu sudah bisa ngomong, sudah bawel, sudah bisa lari-lari sendiri kesana kemari kamu panggil aku Kakak aja ya?. Aku rasa Kakak jauh lebih enak didengar…heheheee.

Kinan, aku punya cerita untuk kamu. Cerita ini adalah cerita tentang kamu Kinan, cerita sebelum kamu lahir. Mama dan Papa kamu pasti tau cerita ini. Cerita tentang mimpiku.

Suatu malam, aku tidur seperti biasa, di tempat tidurku yang kecil dan penuh dengan tumpukan buku pada sisi dekat bantal. Malam itu aku tidur nyenyak sekali sebelum satu mimpi mengganggu kosongnya pikiranku saat itu. Dalam mimpi itu aku sendirian, disebuah acara yang entah apa, seingatku hanya ada banyak orang dengan wajah samar dan tidak aku kenal disana. Lalu aku bertemu dengan Mama Papa kamu. Papamu berpenampilan seperti biasa, seperti yang sudah-sudah kujumpai, celana jeans, kaus dan kacamata. Tapi Mamamu yang manis itu, aku lihat dia berbeda. Tubuhnya terlihat lebih gemuk, dan perutnya sangat besar seperti balon yang ditiup pada batas maksimal.

Aku yang saat itu hanya sendiri lalu menghampiri mereka dengan wajah penuh senyum, dan memegang perut besar Mamamu. Mereka tampak sangat bahagia Kinan, sama sepertiku yang ikut tertular rasa bahagia itu. Hanya sebentar aku bertemu mereka dalam mimpiku itu, tapi sebelum berpisah, aku sempat mengatakan pada mereka,

“Wah Mbak Ratih hamil ya?. Nanti kalau anaknya perempuan kasih nama Alamanda ya?”.

Hahahaaa…ya aku ingin bayi dalam kandungan di mimpiku itu lahir dengan nama Alamanda jika ia perempuan. Kenapa Alamanda?, karena aku tergila-gila dengan dia Kinan. Mungkin kamu belum ngerti dan nggak tau Alamanda itu siapa, nanti kalau kamu sudah besar, sudah bisa mengerti ini itu, kamu harus tanya ke Papamu siapa Alamanda…hahahaaa.

Kinan, hingga saat ini bagi aku kamu itu si bayi atau mungkin lebih tepatnya si calon bayi dalam mimpi. Aku nggak sangka ternyata mimpi itu menjadi nyata. Kamu benar-benar ada dan sekarang sudah setahun lewat sejak kelahiranmu. Aku nggak kecewa karena akhirnya kamu nggak dinamain Alamanda karena dia memang lebih baik nggak pernah menjelma nyata meski hanya nama.

Ini surat cinta keduapuluhsatu yang aku tulis. Surat ini untuk kamu Kidung Kinanti, Baby K yang lucu, unyu-unyu dan menggemaskan. Kinan yang namanya kemudian aku jadikan perpaduan nama laptop putihku.

 

Peluk Sayang Unyu-Unyu

 

-Nina-

Untuk Alamanda, Separuh Jepang, Separuh Belanda, dan Sedikit Indonesia Yang Membuatku Tergila-gila

Untuk Alamanda,
Yang Sampai Saat Ini Tidak Pernah Bisa Benar-Benar Aku Lupakan…

 

Aku mencintaimu sejak dulu Alamanda. Sejak kutemukan sosokmu dalam sebuah buku tebal dengan ribuan huruf kecil tercetak di dalamnya. Lalu aku mengenalmu, mengetahui kisahmu, dan mencintaimu lebih dari yang lain.

Lebih dari Ibumu yang selalu jadi primadona, lebih dari Kamerad si komunis yang cerdas dan mempesona, lebih dari Adinda yang berwajah lebih barat, lebih dari Maya Dewi saudaramu yang paling cantik, lebih dari Nurul Aini yang manis dan pendiam, lebih dari Krisan yang tampan, lebih dari Rengganis yang cantik dan naif.

Aku mencintaimu lebih dari itu Alamanda, lebih dari cinta Sudanco, lebih dari cinta Kamerad, lebih dari cinta lainnya. Banyak yang mencintai tanpa sebab Alamanda, tapi aku mencintaimu dengan sebab. Sebab kamu tidak nyata. Kamu bisa katakan jika aku gila, aku tidak waras, atau mungkin aku hanya cinta. Cinta yang diluar batas logika, cinta yang membuat gila, cinta yang selalu menghangat ketika kureka lagi sosokmu dalam kepala dan hatiku.

Sebab kamu tidak nyata Alamanda. Sebab kamu tidak ada, sebab kamu terperangkap disana, dalam ribuan kata di buku tebal bersampul merah tua dengan gambar wanita tercakar di depannya. Aku mencintaimu karena kamu tidak nyata, karena kamu tidak ada, dan karena itu kamu tidak akan menyakiti, meski kamu menyakiti banyak hati yang mencintaimu dalam cerita tentangmu. Aku tidak peduli Alamanda.

Aku mencintaimu dengan sebab, namun sebab itu menjadikan cintaku lebih tulus dari cinta yang lainnya. Aku mencintaimu tanpa mengharap. Aku mencintaimu tanpa hasrat membara. Aku hanya mencintaimu. Itu saja.

Alamanda, ini surat cinta keduapuluh yang aku tulis. Surat ini untuk kamu Alamanda, karena cintaku hangat abadi. Seabadi sosokmu yang selalu terpatri dalam kepalaku. Sosokmu yang begitu mempesona, sosokmu yang begitu membuatku tergila-gila. Aku mencintaimu Alamanda. Cinta yang sebesar cinta itu sendiri. Cinta yang tidak nyata. Cinta yang menembus batas khayal dan imaji.

 

 

Peluk Hangat

 

-Nina-

 

 

 

 

 

Untuk Kak Andreas, Abang Sayang Pembuka Jalan Menuju Backstage

Untuk Kak Eas,
Yang Mungkin Sedang Dinas Di Luar Kota Saat Aku Tulis Surat Ini…

Kak Eas, aku hampir pasrah untuk bisa minta akses masuk backstage sebelum kenal kamu. Pernah dapat satu kali, tapi karena dadakan dan persiapan yang kurang, keberadaanku saat GR dan di backstage jadi sangat nanggung. Sebelum kenal kamu, aku nggak pernah membayangkan bisa mondar mandir backstage milik seorang Panca Makmun. Nama satu itu rasanya terlalu tinggi, terlalu berat, terlalu keren untuk aku.

Tapi kamu kasih jalan itu, jalan aku bisa masuk dan mondar mandir di backstage, bahkan seharian disana. Kak, kamu harus tau, saat kamu bilang kalau kamu akan berusaha untuk dapetin ID untuk akses backstage, rasanya aku mau nangis. Aku terharu. Aku benar-benar terharu sampai rasanya seperti ada sesuatu yang terpompa naik dan memenuhi paru-paruku sampai aku sulit untuk mengambil nafas. Lama sekali rasanya aku nunggu kesempatan itu, kesempatan untuk bisa ikut GR, mondar mandir di backstage, ambil foto sana sini, dan aku hampir nggak bisa ngomong apa-apa lagi saat kamu kasih kesempatan itu ke aku.

Aku seneng banget. Kamu baik banget, kamu kasih aku kesempatan, kamu pinjemin aku kamera, kamu ajarin aku gimana ambil foto yang lebih bagus, dan kamu juga banyak nasehatin aku. Aku seneng banget Kak, sampai rasanya aku mau meledak. Waktu cepat berlalu dari pertama aku dan kamu kenal, lunch bareng, dan semua moment backstage pertama aku bersama kamu di Batik Summit. Aku udah anggap kamu seperti Abangku sendiri. Abang yang baik hati dan perhatian dengan adiknya meski si Abang sibuk dengan dinas pekerjaannya di kebun nun jauh di pulau seberang sana.

Kak Eas, aku hanya ingin bilang terimakasih untuk semua kesempatan yang kamu kasih ke aku, dan maaf kalau mungkin selama ini aku ada salah ke kamu. Aku sama sekali nggak bermaksud begitu.

Ini surat cinta kesembilanbelas yang aku tulis. Surat ini untuk kamu Kak. Untuk Abangku yang baik hati. Untuk Abang yang aku sayangi.

 

Peluk Sayang Dari Sini

 

 

-Nina-

Untuk Andania, Adik Kecil Yang Bandel, But Still Lil Angel

Untuk Nyunyi,
Yang Lagi Banyak-Banyaknya Tugas Saat Aku Tulis Surat Ini…

 

Tadinya aku pikir kenal sama kamu saat jadi finalis Gadis Sampul 2010 hanya sekadar lucu-lucuan dan iseng aja. Nggak ada pikiran apa-apa selain aku hanya ingin kenal kamu, si Andania yang wajahnya mengingatkan dengan seseorang, atau tepatnya seorang legenda hidup Gadis Sampul yang sampai saat ini nggak pernah terlupakan, Dian Sastro.

Lalu kita kenalan, dan waktu berlalu. Sekarang semua jadi beda dari perkiraanku karena aku nggak pernah kira akan kenal kamu sejauh ini. Jangankan kenal kamu, Ummamu, Ayahmu, Kakakmu, Abangmu, Nenekmu, sampai supir dan yang bantu-bantu di rumah kamu aku kenal semua…hahahaaa.

Nyunyi Nyunyi…Dulu sebelum kenal kamu, aku susah banget temenan dengan yang umurnya di bawah aku, nggak tau kenapa, mungkin karena aku lebih biasa berteman dengan yang punya perbedaan usia diatas aku. Tapi setelah kenal kamu, setelah kita banyak ngobrol dan banyak tukar cerita, akhirnya kita jadi temen baik, baik banget malah, sampai-sampai punya panggilan sayang sendiri, kamu panggil aku Kak Nyinya, aku panggil kamu Nyunyi…hahahaaa.

Meski kamu itu baik banget, meski kamu lucu, meski kamu sangat menyenangkan, meski kamu cantik, tapi aku nggak bisa bohong kalau kadang aku suka gemes dan kesel banget sama kamu. Kamu bandel banget sih, nggak bisa dibilangin. Aku udah cerewet ini itu, ujung-ujungnya sering nggak didenger juga, tetep aja bandel. Kamu taulah masalah apa, masalah yang nggak mungkin aku bilang disini. Tapi aku ngerti sih sayang, kadang masalahnya susah juga buat kamu, kadang posisi kamu jadi serba salah, kadang ngebingungin juga. Ah, tapi kadang memang dasar kamunya yang bandel. Huh!.

Tapi aku sayang banget sama kamu Nyi. Aku sayang banget. Dari dulu, sejak pertama kali aku kenal kamu, mungkin bisa aku katakan jika rasa sayangku ke kamu nggak berubah. Nggak peduli kamu sebandel dan sengeyel apa, aku tetep aja sayang kamu. Sayang sebagai adik kecil yang lucu, nyenengin, ngegemesin, ngangenin, dan bikin pusing…hahahaaa.

Ini surat cinta kedelapanbelas yang aku tulis. Surat cinta ini untuk kamu Nyunyi. Untuk si Andania yang namanya dulu selalu aku heboh teriakin. Untuk si adik kecil yang bandel. Untuk si Little Angel tersayang.

 

Peluk Cium

 

 

-Nyinya-

Untuk Umma Gina, Teman, Guru, dan Motivator Tersayang

Untuk Umma Gina,
Yang Baru Pulang Dari Jerman Saat Aku Tulis Ini…

 

Umma, dulu aku nggak pernah membayangkan bisa mengenal seseorang seperti kamu. Aku nggak pernah membayangkan bisa kenal dengan Ginatri S Noer, salah satu penulis scenario film paling keren yang aku tau saat itu, saat usiaku belum genap 15 tahun, saat aku masih tergila-gila dengan film dan segala yang berbau film, khususnya film Indonesia.

Dari yang tadinya hanya bisa lihat nama kamu di tittle sebuah film, dan sekarang jadi kenal baik dengan kamu, bahkan bisa dikatakan jadi “murid” kamu, semua itu rasanya aneh. Seperti sebuah proses yang terjadi tanpa pernah aku jalani, karena yang aku jalani itu kayak mimpi, kayak nggak nyata, dan nggak pernah terjadi.

Mengingat semua itu, mengingat aku sekarang bisa kenal baik dengan kamu, mengingat  saat-saat lalu, rasanya aneh. Aku cuma anak kecil biasa yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, lalu bisa kenal seseorang macam kamu yang bagi aku hebat banget. Aku tau, mungkin kamu akan bilang gini,

“Ah, lebay Lo Dincuy!”.

Tapi beneran Umma, aku nggak pernah membayangkan bisa kenal baik dengan kamu sebelum-sebelumnya, apalagi dulu saat kita pertama kenal aku masih anak kecil banget. Anak kecil yang ngaku-ngaku udah gede…hahahaaa. Lucu ya?. Memang Umma, hidup ini lucu, Tuhan itu lucu, dan tentunya aku juga lucu…hahahaaa.

Umma, kenal kamu adalah suatu keberuntungan buat aku. Dari kamu aku belajar banyak, dan dari kamu aku tau lebih banyak dari sebelumnya tentang banyak hal. Kamu juga yang bikin aku semangat nulis dan semangat melakukan beberapa hal lain, bagi aku kamu salah satu motivator terbaik yang pernah ada di hidupku, itu sebabnya kenapa aku suka banget saat punya kesempatan untuk ngobrol sama kamu, karena itu priceless.

Umma, kamu itu lucu, aku selalu suka saat lihat kamu ketawa, rasanya lepas banget, seperti anak kecil. Tapi aku sedih saat lihat muka capek kamu yang sering banget muncul disaat-saat tertentu, dan tentunya bukan saat membicarakan Ryan Gosling, karena kalau ngomongin dia, kamu pasti langsung happy banget…hahahaaa.

Ini surat cinta ketujuhbelas yang aku tulis. Surat ini untuk kamu Umma. Terimakasih sudah menjadi teman, guru, dan motivator. Terimakasih sudah mengizinkan aku panggil kamu Umma, kamu memang seperti Umi ku, seperti Ibuku sendiri. Hmmm…tapi sebenarnya kamu jadi tua kalau aku panggil Umma, secara kita kan cuma beda sepuluh tahun ya?. :p

 

 

Peluk Sayang

 

-Nina-