Jatuh Cinta Pada Kebaya

Dulu, saya selalu mengidentikkan kebaya dengan Nenek tercinta. Bukan karena Nenek saya adalah seorang pembuat kebaya, bukan juga seorang penggila kebaya yang mengkoleksi busana itu hingga ratusan. Nenek saya hanya seorang wanita dari masa lalu yang sering mengenakan kebaya sebagai dress code nya tiap kali ia menghadiri sebuah acara.

"Jangan Menir" oleh Era Soekamto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012. Model: Nien Indriyati

Kebaya bukan hal yang asing bagi saya. Dibesarkan di keluarga Jawa, saya sudah terbiasa melihat Nenek saya mengenakan kebaya jika akan menghadiri suatu acara. Tapi dulu saya tidak terlalu memperhatikannya. Yang saya tahu, kebaya hanya busana “dresscode” setiap acara formal atau semi formal yang akan dihadiri Nenek saya, biasanya acara itu tidak jauh-jauh dari pesta pernikahan, atau acara keluarga semacamnya.

Ketika saya masih kecil dulu, saya tidak pernah tertarik untuk mengenakan kebaya, bagi saya melihat Nenek mengenakannya saja sudah cukup. Lagipula saya selalu malas membayangkan segala macam atribut tambahan yang mesti saya kenakan jika memakai kebaya. Korset, kain, sanggul, kembang goyang, dan belum lagi make up tebal yang harus jadi “topeng” saya untuk sementara. Setiap kali membayangkan semua itu, saya sudah malas duluan.

"Jangan Menir" oleh Era Soekamto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012. Model: Firrina

Saya ingat betul, pertama kali saya mengenakan kebaya saat saya duduk di bangku TK, lebih dari sebelas tahun lalu. Bukan karena ingin, tapi saat itu saya memang harus mengenakan kebaya di acara peringatan hari Kartini yang jatuh setiap 21 April, bertepatan dengan hari kelahiran beliau. Kebaya pertama saya adalah kebaya model kebaya kartini berwarna hitam berbahan beludru. Kebaya yang kini setelah tahun-tahun lewat setelah saya mengenakannya justru malah membuat saya jatuh cinta.

Jatuh cinta, saya rasa perasaan itulah yang saya rasakan ketika melihat deretan kebaya-kebaya pada pagelaran busana karya Deden Siswanto, Era Soekamto. Perasaan jatuh cinta saya saat itu memang bukan perasaan baru yang tiba-tiba muncul begitu saja. Saya sudah tahu bahwa saya memiliki potensi jatuh cinta dengan kebaya beludru sejak dulu, hanya saja saat itu, saat saya melihat kembali lekukan kebaya-kebaya beludru di atas panggung pagelaran busana dua desainer terkenal itu perasaan saya seperti ketika kamu menulis di Microsoft Word, lalu kamu menambahkan bold dan italic pada dua kata itu, jatuh cinta.

"Jangan Menir" oleh Era Soekamto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012

Saya tahu ada beberapa jenis kebaya, atau lebih tepatnya variasi model dan penggunaan kebaya. Kebaya Belanda, Kebaya China, Kebaya Encim, Kebaya Kutubaru, Kebaya Panjang, tapi bagi saya, mau apapun jenis dan variasinya, asalkan bahan kebaya itu beludru, saya pasti segera jatuh cinta.

Lantas kenapa harus berbahan beludru?. Hmmm…kenapa ya?. Karena bagi saya beludru itu seperti “Blod” pada pilihan menu Format “Font” pada Microsoft Word. Beludru seperti manusia yang punya dua kepribadian, lembut namun tegas, halus namun kuat. Beludru seperti figura kayu tebal pada foto yang dipajang di ruang tengah rumah saya. Mempertegas kesan sekaligus menghadirkan satu nuansa klasik yang sangat kental.

"Jangan Menir" oleh Era Soekamto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012

"Jangan Menir" oleh Era Soekamto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012

Pada pagelaran busananya ketika Bazaar Wedding Exhibition 2012, Deden Siswanto melansir koleksi busana pernikahannya yang lebih banyak beraroma tradisional. Diantara sekian potong busana karya Deden itu, terselip beberapa kebaya berbahan beludru. Untuk kebaya berbahan beludru itu, Deden memilih kebaya panjang sebagai model kebaya yang ia aplikasikan dengan bahan beludru berwarna gelap, seperti hitam, ungu tua, hijau tua, dan merah hati.

Deden Siswanto untuk Bazaar Wedding Exhibition 2012.

Lain halnya dengan kebaya-kebaya rancangan Era Seokamto yang ia pertunjukkan pada event yang sama, Bazaar Wedding Exhibition 2012. Era menamai rangkaian koleksi teranyarnya “Jangan Menir”. Nama tersebut ia adopsi dari bahasa Jawa, Jangan yang berarti sayur mayur, dan Menir yang berarti beras adalah nama baju pengantin Jawa berwarna hitam beludru dengan dekorasi keemasan yang memiliki makna kemakmuran berasal dari kekayaan hati, untuk mencapai puncak keemasan dalam pengabdian total terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Koleksi busana pengantin Era Soekamto yang berkiblat pada pernikahan ala keraton Yogyakarta, menghadirkan bermacam kebaya dalam pakem kebaya kutu baru, kebaya Kartini, evening dress yang terinspirasi dari silluet kebaya modern yang dinamis. Warna klasik putih, hitam, emas, biru, dan merah menghiasi koleksi ini. Dalam hal pemilihan material sendiri, Era Soekamto menggunakan sutra taffeta, satin duches, velvet, tulle, sutra ATBM(Alat Tenun Bukan Mesin), 100% katun, dan sutra yang pada proses pengerjaannya hampir seluruhnya secara handwork atau menggunakan tangan tanpa banyak campur tangan mesin.

Sekarang, Saya bukan hanya memandang kebaya sebagai dress code wajib Nenek, karena saya rasa, saya sudah jatuh cinta pada kebaya, atau lebih tepatnya saya jatuh cinta dengan kebaya berbahan beludru. Klasik. Elegan. Cantik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s