Palais Royal ; Daya Tarik Konsep Penggabungan Budaya Cina dan Jawa Oleh Priyo Oktaviano

Ia menginterpretasikan film “Shanghai Tang” dan kehidupan tanah Jawa dalam lingkungan Kraton melalui koleksi terbarunya. Suasana kota Shanghai pada tahun 1920an pun ditampilkan berdampingan dengan atmosfer Kraton Jawa di era kolonial. Desainer berkacamata ini memang selalu membuat saya jatuh hati.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Laura Muljadi

Fashion show yang terselenggara pada hari penutupan Jakarta Fashion and Food Festival memang selalu membuat saya penasaran terlebih ketika mengingat pada tahun lalu, Adrian Gan sukses membuat saya serasa naik roaller coaster melalui rangkaian koleksinya yang bertajuk “Patola Kamba Manandang”. Kain-kain tenun yang ia datangkan langsung dari Nusa Tenggara dan juga kain dari berbagai belahan dunia lain seperti India, dan Perancis berhasil ia ubah dengan sangat apik menjadi koleksi busana couture yang indah. Jangan pula lupakan alas kaki yang diberikan pada seluruh model yang membawakan koleksinya, alas kaki itu hingga kini masih membuat jantung saya berdebar cepat bila mengingatnya.

Sejak hari pertama saya menerima jadwal lengkap penyelenggaraan JFFF 2012 saya sudah tahu jika fashion show hari terakhir yang diberi judul “Palais Royal” adalah satu dari sekian banyak fashion show yang tidak boleh terlewatkan di tahun naga air ini. Bukan hanya karena judulnya saja yang terasa legit jika dilafalkan pelan-pelan, tapi nama desainer dibalik judul itu sudah lebih dari cukup menjadi jaminan bahwa pagelaran busana di hari terakhir itu akan berlangsung memukau. Desainer dibelakang judul “Palais Royal” tak lain adalah Priyo Oktaviano, desainer sudah saya kagumi sejak tiga tahun belakangan.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano

Dimulai sejak pukul 20.00 WIB, “Palais Royal” dibuka dengan sekelompok penari berpakaian adat Bali membawa sesajen dan bakaran serupa menyan yang menguarkan aroma khas kesekeliling ruang. Setelahnya, formula yang sama seperti “Patola Kamba Manandang” milik Adrian Gan dimunculkan ke atas panggung. Seorang penari kontemporer pria meliukkan tubuhnya dengan luwes namun penuh tenaga, hanya saja bedanya ia tak lagi sendiri seperti pada “Patola Kamba Manandang” milik Adrian Gan, di panggung “Palais Royal” milik Priyo Oktaviano, ia bak seorang kepala suku yang dikawal hulu balangnya karena dibelakangnya turut berbaris dengan rapi penari-penari lain ketika ia akan mengakhiri penampilannya di atas lintasan catwalk.

Menghadirkan 35 set busana yang terdiri dari 27 set busana wanita dan 8 set busana pria, “Palais Royal” dibagi atas tiga sekuens utama yang kesemuanya memiliki konsep serta premis cerita yang berbeda.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Ferry Salim

 

Pada sekuens pertama, suasana kota Shanghai tahun 1920an dihadirkan oleh Priyo Oktaviano dengan menampilkan pemuda dan pemudi Cina yang tengah bercengkrama di sebuah taman sebagai prolog pembukaan sekuens. Aktor berwajah oriental Ferry Salim kemudian dipilihnya sebagai first face yang mengenakan topi fedora serta baju jubah tertutup yang sering kita lihat di film kungfu jaman dulu. Pada sekuens ini silluet busana bergaya cheongsam yang selalu identik dengan kerahnya yang tinggi, diaplikasikan Priyo menjadi gaun pendek berbelahan tinggi pada bagian bawah serta memiliki lekuk yang pas memeluk tubuh.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: J Ryan

 

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Sarah Azka

Selain itu terdapat pula gaun pendek berbelahan tinggi yang pada bagian atasnya menyerupai kemben dengan detil bertumpuk. Namun jika pada divisi busana wanita, warna mencolok khas busana bernuansa oriental seperti marun dan emas yang dihadirkan, empat set busana pria pada sekuens ini hadir dalam warna monokrom hitam-putih. Hal menarik lain yang sangat terasa pada sekuens ini adalah terdapatnya tattoo naga yang sengaja dilukiskan pada bagian tubuh model yang memperagakan busana, seperti pada bagian tangan, punggung, atau kaki.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Mareike Brenda

Nuansa khas Kraton Jawa di masa kolonial menjadi hal yang begitu terasa ketika memasuki sekuens kedua. Busana berwarna hitam terlihat mendominasi pada sekuens ini disamping padupadan warna lain seperti, emas, putih, marun, dan juga kain lurik yang dijadikan pelengkap busana. Stelan busana mirip beskap, celana longgar, gaun panjang yang pas badan berwarna metalik dan emas, blazer dengan motif kain songket hingga busana bersilluet kebaya kutubaru berbahan beludru dihadirkan untuk sesi busana wanita dalam sekuens kedua. Sedangkan untuk busana pria, Priyo menampilkan variasi pada bawahan seperti celana komprang dan harem serta atasan berupa jas, kemeja, dan beskap khas Jawa klasik.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Witha

 

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano.

Jika pada sekuens pertama saya serasa tengah menyaksikan replika kehidupan tempoe doeloe di daratan Cina sana, pada sekuens kedua ini saya seperti dibawa menyusuri lingkungan Kraton Jawa di era kolonial. Era dimana budaya Jawa yang masih memegang teguh warisan leluhur harus berbenturan dengan budaya barat yang mulai menyusup pada sendi kehidupan.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Advina Ratnaningsih

Sementara itu, sekuens ketiga yang merupakan sekuens penutup, Priyo Oktaviano coba untuk meleburkan dua kebudayaan yang jadi inspirasinya, yakni Cina dan Jawa. Gaun panjang one shoulder, gaun panjang bersilluet cheongsam dengan belahan bawah yang tinggi ia hadirkan dalam material dasar kain songket khas Bali yang kaya akan warna-warna emas.

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Drina Ciputra

“Palais Royal” oleh Priyo Oktaviano. Model: Dominiwue Diyose

Pada keseluruhan busana yang ia tampilkan, Priyo Oktaviano menggunakan 70 persen kain tenun Bali buatan tangan atau handmade, sementara sisanya ia mengaplikasikan berbagai material lain seperti chiffon, linen, katun dan beludru pada tiap potong koleksi busananya.

Dalam durasi kurang dari empatpuluhlima menit, saya rasa “Palais Royal” dari Priyo Oktaviano sukses menjadi penutup yang meninggalkan kesan mendalam. Perpaduan suasana Shanghai sembilan dekade lampau dan tanah Jawi di masa kolonial telah ia suguhkan dengan begitu cantik.

Peri Gigi

Interpretation of Dreams by Ve Dhanito. Model: Renata

Tuk, gemeletuk, gigiku tanggal satu.
Tadi, sehabis makan jambu gigiku tanggal satu.
Warnanya putih seperti kertas fotokopi yang belum terisi,
aku tidak jijik, itu sebabnya si gigi aku simpan dalam laci.

Lalu, malam hari adalah saat yang aku nanti,
mama bilang akan ada peri gigi,
maka kupindahkan si gigi ke bawah bantal yang telah kupakai sejak bayi.

Mama benar, ternyata peri gigi datang menghampiri,
dengan sayapnya yang putih dan bersinar seterang matahari, ia mengambil si gigi,
membawanya pergi, dan meninggalkan secarik kertas putih penuh isi,
aku melafalkannya dalam hati,

“Percayalah, ini hanya mimpi, silakan tidur lagi.
 Tidak ada koin hari ini, gigi bekas tidak lagi berarti, kecuali gigimu terbuat dari emas murni”.

Mas Muara Bagdja Dalam Bingkai Kenangan

Saya belum lama mengenal sosoknya. Sosoknya yang selalu ramah dan penuh senyum. Sosoknya yang selalu ceria dengan kumis melingkar ala Salvador Dali. Sosok yang terakhir sempat mengatakan bahwa ia sehat dan hanya kecapean. Sosok yang sekarang hanya ada dalam kenangan.

 Jauh sebelum ini saya hanya remaja biasa yang tidak tahu apa-apa soal fesyen. Saya tidak mengenal siapa itu Sebastian Gunawan, Eddy Betty apalagi desainer muda Denny Wirawan. Saya tidak mengenal mereka, saya hanya pernah tahu nama-nama itu secara samar, tidak jelas saya tahu darimana. Mungkin saya tidak sengaja membacanya di koran-koran minggu yang selalu jadi santapan pagi Ibu saya di rumah, atau mungkin dari majalah-majalah edisi lama yang tidak sengaja saya temukan entah dimana lalu saya buka dan saya baca isinya.

Saya ingat benar, ketika itu saya mendengar akan ada pagelaran busana tunggal dari Denny Wirawan. Kala itu saya sudah tidak lagi buta akan fesyen di Indonesia, saya juga sudah tahu siapa itu Sebastian Gunawan, Eddy Betty, atau pun Priyo Oktaviano. Semua itu karena saya sudah mulai melangkahkan kaki memasuki gerbang besar yang diatasnya terdapat sebuah papan nama yang diukir begitu apik bertuliskan, “Fesyen Indonesia”.

Mendapatkan informasi tentang akan terselenggaranya pagelaran busana tunggal dari Denny Wirawan, hati saya terusik untuk bisa menjadi salah satu saksi mata berlangsungnya momen akbar ini. Ini adalah kali pertama Denny Wirawan akan menggelar sebuah pagelaran busana tunggal

Saya mengenalnya disana, pada saat ia menangani puluhan media yang akan meliput pagelaran tunggal tersebut. Tidak ada yang terlalu berkesan saat itu, ia hanya seorang lelaki berbadan ramping dengan kumis melingkar, dan pakaian modis. Penampilannya memang langsung mencuri perhatian saya, apalagi dengan kumis melingkar yang khas sekali. Tapi hanya sebatas itu saja, tidak ada yang terlalu berkesan ketika itu.

Seiring berjalannya waktu dan intensitas saya menyambangi berbagai acara fesyen meningkat, saya semakin sering bertemu dengan sosoknya, lengkap dengan kumis melingkar yang terlihat lucu ada di wajahnya yang tidak pernah lepas dari senyum ramah. Saya pun mulai mengenal siapa beliau sesungguhnya, Muara Bagdja. Ia adalah salah satu punggawa dunia fesyen tanah air. Ia bukan hanya seorang media koordinator jempolan, tapi juga stylish, penulis, dan pengamat mode senior yang sangat dihormati dalam perpetaan fesyen Indonesia.

Dari satu acara fesyen ke acara fesyen lain, dari satu sapaan hangat ke obrolan singkat, hingga ciuman ringan di kedua pipi, begitulah saya akhirnya semakin mengenal beliau yang saya sering sapa, “Mas Muara”.

Tidak banyak memang obrolan yang pernah terjadi antara saya dan beliau karena pertemuan antara kami hanya sebatas lusinan acara fesyen yang menyisakan begitu sedikit waktu untuk bisa bercengkrama lebih lama. Tapi sedikitnya waktu yang terjalin bukanlah ukuran mengenai sedikit banyaknya kesan dan kenangan yang tertinggal. Ada banyak, bahkan begitu banyak kesan yang tertanam kuat dalam hati saya tentang sosok Mas Muara.

Tentang kumisnya yang melingkar lucu, tentang senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya, tentang ia yang tidak memiliki nomor handphone ketika saya memintanya, tentang ia yang menyemangati saya untuk menyelesaikan satu proyek tentang dunia modeling, tentang ia yang begitu sabar menjawab email-email saya dari alat yang selalu ia sebut Sabak(sejenis batu tulis yang digunakan pada jaman dahulu), tentang ia yang memberi masukan ini itu, tentang ia yang berkata sedang tidak bisa menjawab pertanyaan di email karena sedang sakit tanpa menjelaskan sakit apa yang dimaksud.

Ya, ada beberapa email saya yang pada akhirnya tidak sempat beliau balas, dan hanya menganggur pada folder surat keluar. Mas Muara hanya bilang kalau ia sedang sakit, saya tidak tahu apa penyakitnya. Pun ketika akhirnya saya memiliki kesempatan bertemu lagi dengan beliau yang telah lama ‘menghilang’ di pagelaran busana tunggal dari lini kedua Eddy Betty, EdBe. Ia begitu berbeda dari gambaran Mas Muara yang selalu ada di dalam kepala saya. Wajahnya yang dihiasi kumis melingkar berubah menjadi licin dan lebih tirus, rambutnya yang selalu terpangkas pendek dan rapi menjadi plontos, dan tubuhnya yang ramping terlihat ringkih. Ia begitu berbeda, tapi satu yang tak akan pernah saya lupa, senyum selalu menyungging di wajahnya.

Saya sempat bertanya pada beliau,

“Mas Mu sakit ya?, sakit apa?”,

hingga saat ini saya masih bisa merasakan kesedihan yang tertuang jelas dalam suara saya ketika itu.

Ia lalu menjawab dengan jawah tak pernah lepas dari senyum,

“Nggak apa-apa Din, cuma kecapean aja kok. Aku nggak apa-apa. Maaf ya kemarin-kemarin nggak sempat balas emailnya”.

Saat mendengar ucapan Mas Muara, bukan email-email yang belum terjawab yang saya pikirkan, tapi beliaulah yang lebih mengambil tempat dalam pikiran saya dengan kondisinya yang terlihat begitu menurun drastis.

Beberapa bulan berselang saya kembali bertemu dengan beliau dalam pagelaran busana “Shanghai Swing” milik Sebastian Gunawan. Ketika itu Mas Muara terlihat lebih segar meski kepalanya masih plontos dan kumis khasnya belum menghiasi wajahnya lagi. Namun empat bulan berselang, berita mengejutkan itu datang, Mas Muara telah berpulang ke Rahmatullah. Ia akhirnya menyerah atas penyakit kanker kelenjar getah bening yang selama ini menggerogoti tubuhnya, penyakit yang dulu tak mau ia ungkapkan.

Ada banyak sekali kenangan yang masih segar di dalam ingatan saya tentang beliau. Ada banyak potret senyuman beliau yang sempat terabadikan dalam memori saya. Ada lebih dari cukup masukan, obrolan dan kesan yang menjadikan beliau sebagai panutan sekaligus guru bagi saya.

Saya yakin kini beliau telah tenang disana, dan saya yakin Tuhan telah memberikan tempat terbaik untuknya.

 

Aku akan selalu kangen senyum ramah dan kumis melingkarmu Mas Mu….:)