Mas Muara Bagdja Dalam Bingkai Kenangan

Saya belum lama mengenal sosoknya. Sosoknya yang selalu ramah dan penuh senyum. Sosoknya yang selalu ceria dengan kumis melingkar ala Salvador Dali. Sosok yang terakhir sempat mengatakan bahwa ia sehat dan hanya kecapean. Sosok yang sekarang hanya ada dalam kenangan.

 Jauh sebelum ini saya hanya remaja biasa yang tidak tahu apa-apa soal fesyen. Saya tidak mengenal siapa itu Sebastian Gunawan, Eddy Betty apalagi desainer muda Denny Wirawan. Saya tidak mengenal mereka, saya hanya pernah tahu nama-nama itu secara samar, tidak jelas saya tahu darimana. Mungkin saya tidak sengaja membacanya di koran-koran minggu yang selalu jadi santapan pagi Ibu saya di rumah, atau mungkin dari majalah-majalah edisi lama yang tidak sengaja saya temukan entah dimana lalu saya buka dan saya baca isinya.

Saya ingat benar, ketika itu saya mendengar akan ada pagelaran busana tunggal dari Denny Wirawan. Kala itu saya sudah tidak lagi buta akan fesyen di Indonesia, saya juga sudah tahu siapa itu Sebastian Gunawan, Eddy Betty, atau pun Priyo Oktaviano. Semua itu karena saya sudah mulai melangkahkan kaki memasuki gerbang besar yang diatasnya terdapat sebuah papan nama yang diukir begitu apik bertuliskan, “Fesyen Indonesia”.

Mendapatkan informasi tentang akan terselenggaranya pagelaran busana tunggal dari Denny Wirawan, hati saya terusik untuk bisa menjadi salah satu saksi mata berlangsungnya momen akbar ini. Ini adalah kali pertama Denny Wirawan akan menggelar sebuah pagelaran busana tunggal

Saya mengenalnya disana, pada saat ia menangani puluhan media yang akan meliput pagelaran tunggal tersebut. Tidak ada yang terlalu berkesan saat itu, ia hanya seorang lelaki berbadan ramping dengan kumis melingkar, dan pakaian modis. Penampilannya memang langsung mencuri perhatian saya, apalagi dengan kumis melingkar yang khas sekali. Tapi hanya sebatas itu saja, tidak ada yang terlalu berkesan ketika itu.

Seiring berjalannya waktu dan intensitas saya menyambangi berbagai acara fesyen meningkat, saya semakin sering bertemu dengan sosoknya, lengkap dengan kumis melingkar yang terlihat lucu ada di wajahnya yang tidak pernah lepas dari senyum ramah. Saya pun mulai mengenal siapa beliau sesungguhnya, Muara Bagdja. Ia adalah salah satu punggawa dunia fesyen tanah air. Ia bukan hanya seorang media koordinator jempolan, tapi juga stylish, penulis, dan pengamat mode senior yang sangat dihormati dalam perpetaan fesyen Indonesia.

Dari satu acara fesyen ke acara fesyen lain, dari satu sapaan hangat ke obrolan singkat, hingga ciuman ringan di kedua pipi, begitulah saya akhirnya semakin mengenal beliau yang saya sering sapa, “Mas Muara”.

Tidak banyak memang obrolan yang pernah terjadi antara saya dan beliau karena pertemuan antara kami hanya sebatas lusinan acara fesyen yang menyisakan begitu sedikit waktu untuk bisa bercengkrama lebih lama. Tapi sedikitnya waktu yang terjalin bukanlah ukuran mengenai sedikit banyaknya kesan dan kenangan yang tertinggal. Ada banyak, bahkan begitu banyak kesan yang tertanam kuat dalam hati saya tentang sosok Mas Muara.

Tentang kumisnya yang melingkar lucu, tentang senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya, tentang ia yang tidak memiliki nomor handphone ketika saya memintanya, tentang ia yang menyemangati saya untuk menyelesaikan satu proyek tentang dunia modeling, tentang ia yang begitu sabar menjawab email-email saya dari alat yang selalu ia sebut Sabak(sejenis batu tulis yang digunakan pada jaman dahulu), tentang ia yang memberi masukan ini itu, tentang ia yang berkata sedang tidak bisa menjawab pertanyaan di email karena sedang sakit tanpa menjelaskan sakit apa yang dimaksud.

Ya, ada beberapa email saya yang pada akhirnya tidak sempat beliau balas, dan hanya menganggur pada folder surat keluar. Mas Muara hanya bilang kalau ia sedang sakit, saya tidak tahu apa penyakitnya. Pun ketika akhirnya saya memiliki kesempatan bertemu lagi dengan beliau yang telah lama ‘menghilang’ di pagelaran busana tunggal dari lini kedua Eddy Betty, EdBe. Ia begitu berbeda dari gambaran Mas Muara yang selalu ada di dalam kepala saya. Wajahnya yang dihiasi kumis melingkar berubah menjadi licin dan lebih tirus, rambutnya yang selalu terpangkas pendek dan rapi menjadi plontos, dan tubuhnya yang ramping terlihat ringkih. Ia begitu berbeda, tapi satu yang tak akan pernah saya lupa, senyum selalu menyungging di wajahnya.

Saya sempat bertanya pada beliau,

“Mas Mu sakit ya?, sakit apa?”,

hingga saat ini saya masih bisa merasakan kesedihan yang tertuang jelas dalam suara saya ketika itu.

Ia lalu menjawab dengan jawah tak pernah lepas dari senyum,

“Nggak apa-apa Din, cuma kecapean aja kok. Aku nggak apa-apa. Maaf ya kemarin-kemarin nggak sempat balas emailnya”.

Saat mendengar ucapan Mas Muara, bukan email-email yang belum terjawab yang saya pikirkan, tapi beliaulah yang lebih mengambil tempat dalam pikiran saya dengan kondisinya yang terlihat begitu menurun drastis.

Beberapa bulan berselang saya kembali bertemu dengan beliau dalam pagelaran busana “Shanghai Swing” milik Sebastian Gunawan. Ketika itu Mas Muara terlihat lebih segar meski kepalanya masih plontos dan kumis khasnya belum menghiasi wajahnya lagi. Namun empat bulan berselang, berita mengejutkan itu datang, Mas Muara telah berpulang ke Rahmatullah. Ia akhirnya menyerah atas penyakit kanker kelenjar getah bening yang selama ini menggerogoti tubuhnya, penyakit yang dulu tak mau ia ungkapkan.

Ada banyak sekali kenangan yang masih segar di dalam ingatan saya tentang beliau. Ada banyak potret senyuman beliau yang sempat terabadikan dalam memori saya. Ada lebih dari cukup masukan, obrolan dan kesan yang menjadikan beliau sebagai panutan sekaligus guru bagi saya.

Saya yakin kini beliau telah tenang disana, dan saya yakin Tuhan telah memberikan tempat terbaik untuknya.

 

Aku akan selalu kangen senyum ramah dan kumis melingkarmu Mas Mu….:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s