Antara Bakiak dan Wedges 12cm

Dari jaman dulu, sebelum Christian Dior memperkenalkan siluet A-line, sebelum gaun lilit yang dipopulerkan Diane von Furstenberg jadi fashion item yang booming di seluruh dunia, sebelum Alm. Iwan Tirta membuatkan kemeja-kemeja batik untuk para pemimpin negara-negara Asia Pasifik dalam pertemuan ekonomi APEC di Istana Bogor, dan sebelum tiga orang anak muda yang tergabung dalam brand lokal indie bernama “Danjyo Hiyoji” menjadi trendsetter dan diikuti lusinan brand lokal lainnya, sebelum itu, ingat, sebelum itu, sebelum itu semua terjadi, jauh sebelum itu semua terjadi, gue sudah menyadari satu hal. Apa?. Gue ini nggak modis bin stylish sama sekali. Titik.

Coba bayangin, sudah berapa lama gue sadar diri kalau gue ini nggak modis bin stylish?. Lama kan?, huh, lama banget!. Christian Dior memperkenalkan siluet A-line sekitar tahun 1950-an, Diane von Furstenberg bikin gaun lilit jadi hits di era 70-an, Alm. Iwan Tirta bikin kemeja batik secara ekslusif untuk para pemimpin negara tahun 1984, dan Danjyo Hiyoji langsung jadi happening seusai satu sesi fashion show di Jakarta Fashion Week 2009-2010. Gila, lama kan?. Lama banget.

Dan selama itu pula(meski gue baru lahir tahun 1995, dan jangan tanya kenapa gue sampe bawa-bawa nama Christian Dior, Diane von Furstenberg, Iwan Tirta, sampai Danjyo Hiyoji di tulisan ini, ya kecuali Danjyo Hiyoji, kayaknya masih masuk akal deh ya?), ya, selama itu pula, gue sadar kalau gue ini nggak modis. Beberapa tahun gue mondar mandir di macam-macam acara fesyen, bertemu para fashionista yang sampai gaya berpakaiannya nggak bisa gue definisikan berjenis apa tapi yang melek mode pasti bilang itu modis, berteman dengan mereka yang sehari-hari bergelut di fesyen, tetep aja nggak bisa ngubah cara berpakaian gue yang cuek, dan semaunya.

Jeans, kaos. Jeans, kaos. Jeans, kaos. Ya, paling mentok sampai tahap kemeja deh. Itu doang yang gue pake dari jaman dahulu kala. Tapi kalian jangan tanya berapa banyak orang yang berusaha ngedandanin gue biar lebih modis, menyarankan coba pake ini, pake itu, pake ono ke gue. Percuma, nggak mempan. Mau dibilangin sampai mulut berbusa kek, gue tetep aja nggak pernah meninggalkan seragam kebangsaan gue, jeans dan kaos, oiya, dan tentunya sepatu tali semisal converse. Maka jangan heran jika disaat gue, sekali-kalinya mengenakan mengganti sepatu yang gue kenakan dari converse belel ke wedges, kehebohan sama sekali tak bisa dihindari.

Semua orang yang kenal gue ngeliatin gue dengan tampang yang seolah ngomong,

“MasyaAllaaahhhh Ninaaaa…kesambet apaaaa???. Alhamdullilah yaaaa sekarang jadi cewek beneran”. Damn!

Dan sialnya, ya, sialnya, meski peristiwa gue make wedges sudah lebih dari setengah tahun berlalu, ketika gue menceritakan ini pada si Anka(kalau yang nggak tau siapa Anka, liat aja ya “Personal Life” yang sebelum-sebelum ini), dia dengan entengnya ngomong,

“Wedges?, 12 cm?, bakiak kali”. Sialan!

Gue tau, emang tuh bocah satu mulutnya kadang, oh maaf, gue ralat, sering, bahkan sering banget pengen gue bekep terus gue plester bertumpuk-tumpuk dan kalau perlu gue pakein lem power glue biar bisa ngeluarin komentar-komentar “bitchy” nya itu. Gue tau, gue tau, sekali lagi gue tegaskan kalau GUE TAU,gue  memakai wedges 12cm itu memang peristiwa langka yang mungkin patut diabadikan menjadi sebuah film documenter yang epic berat. Tapi, sialan banget kan kalau gue udah cantik-cantik pake wedges, eh malah dibilang pake bakiak. Sialan banget itu bocah satu.

Gila aja, masa wedges kece yang gue pakai(yang hasil pinjeman dari sepupu gue karena nggak mungkin itu punya gue sendiri, secara sepatu gue sampai saat ini masih mentok di converse belel aja), disamain sama bakiak. Meski nggak modis bin stylish gini, gue bisa kali bedain mana bakiak mana wedges kece. Sialan banget kan kalau udah capek-capek pake wedges(asli capek, gue sih nggak ngebayangin gimana rasanya pakai pakai heels 15cm kayak model-model catwalk itu).  Mana abis komentar kayak gitu, si Anka terus melanjutkan,

“Hah, wedges wedges, bilang aja bakiak. Bakiak yang biasa dipakai kalau lomba tujuhbelasan itu….hahahahahaaa”. Kampret!

Coba, sekarang gue tanya sama kalian. Kalau punya temen kayak gini nggak apa-apa kan kalau dikelitikin sampe pingsan?. Gue yakin nggak apa-apa. Halal!

Kelly Tandiono ; Si Model Berajah “Made In Indonesia”

Bold. Beautiful. Fierce. A Bit Boyish. Saya sudah membaca lebih dari lima artikel tentangnya, tentang seorang model bernama Kelly Tandiono. Dan di lebih dari lima artikel yang saya baca itu, pasti selalu ada empat ungkapan yang saya tuliskan di awal paragraph tadi.

Kelly Tandiono. Look Book Koleksi Billy Tjong. Foto: Billy Tjong

Kelly Tandiono bukanlah nama asing di dunia mode Indonesia. Karirnya yang dimulai sejak beberapa tahun lalu sebagai seorang model catwalk kini semakin melesat tajam.

Puluhan pagelaran busana dari desainer ternama seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Didi Budihardjo, Denny Wirawan hingga Billy Tjong hampir tak pernah absen menghadirkan sosoknya, laman-laman fashion spread majalah mode sekelas Amica, dan Dewi seakan tak pernah bosan memintanya sebagai objek foto, deretan look book koleksi teranyar milik desainer atau brand lokal berlomba menjadikannya sebagai peraga busana, ajang Jakarta Fashion and Food festival 2012 pun memilihnya sebagai Face Icon.

Maka bukanlah hal aneh bila sosok gadis berzodiak Scorpio ini terasa familiar bagi para penikmat, pemerhati, atau bagi mereka yang memang menggeluti dunia mode Indonesia.

Meski saat ini bisa dipastikan tidak ada seorang pun yang tak mengenal sosok Kelly Tandiono di dunia modeling dan fesyen Indonesia, namun nyatanya, berada di dunia fesyen bukanlah hal yang dicita-citakan model yang kini bernaung dibawah B-Management ini.

Sekuens Ghea Panggabean pada Bazaar Langgam Tiga Hati 2011

Biyan Annual Show 2011/2012 “The Orient Revisited”

Pekerjaan sang Ayah yang membuatnya sering berpergian ke berbagai negara di dunia, mau tak mau membuatnya akrab dengan kegiatan transportasi udara. Naik turun pesawat, duduk manis di kursi penumpang, dan melihat berbagai aktivitas di dalam pesawat, Kelly kecil begitu terpesona oleh para pramugari yang hilir mudik melayani para penumpang. Wajah yang cantik, gerakan yang lemah gemulai, serta tutur kata yang halus membuat ia kagum akan sosok mereka, sekaligus membuat Kelly kecil berkeinginan untuk menjadi seorang pramugari suatu saat nanti.

Namun Kelly kecil malahan tumbuh sebagai gadis berpenampilan tomboi, cuek, dan menggemari kegiatan olahraga fisik. Renang, basket, sampai golf adalah sebagian kecil jenis olahraga yang pernah ditekuni Kelly, tak ayal kesenangan Kelly akan olahraga sempat membuatnya berpikiran untuk menjadi seorang atlet.

Karen dan Kelly. Foto: Facebook Kelly

Kelly dan Orangtua Semasa di London. Foto: Facebook Kelly

Tetapi nasib berkata lain, pramugari dan atlet telah tertinggal jauh dalam angannya, pendidikan yang pernah ia tempuh pada fakultas International Hospitality Management di salah satu Universitas di Singapura pun belum sempat ia aplikasikan dalam pekerjaan yang ia tekuni, karena dunia modelinglah yang menjadi pilihannya saat ini. Dunia yang membesarkan namanya sebagai salah satu model yang paling diperhitungkan dalam peta modeling Indonesia.

Karakternya yang kuat, raut wajahnya yang unik dengan sepasang mata kucing dan bibir yang sensual, gayanya yang sedikit tomboi, serta pembawaannya yang terkesan cuek adalah sebagian daya tarik gadis yang memiliki tinggi badan 176cm ini.

Tapi bagi saya, hal yang tak pernah bisa saya lupakan dari sosok Kelly adalah baby poni, dan tattoo bertuliskan “Made In Indonesia” yang dirajah pada kakinya (disamping kekuatan perutnya untuk mencerna seporsi bubur ayam dan nasi uduk dipagi hari ketika saya pernah menjadi tukang antar sarapan dadakan pada Jakarta Fashion Week 2011-2012 lalu, hal yang tidak akan saya bicarakan lebih lanjut pada tulisan ini).

Kelly untuk Majalah Dewi edisi Februari 2011

Kelly untuk DA Man oleh Nurulita

Yap, ketika hampir semua orang mengingat sosok Kelly dengan karakter, gaya atau pembawaannya, saya justru lebih mengingat Kelly karena baby poni yang sering mengingatkan saya pada baby poni kepunyaan Audrey Hepburn dan tattoo “Made In Indonesia” di kakinya, tattoo yang ternyata memiliki cerita menarik.

“Made In Indonesia”, tiga kata itulah yang ia ukir permanen pada punggung kakinya. Tiga kata yang membuat saya sempat berpikir jika gadis kelahiran Singapura 28 Oktober 1986 ini sangat berjiwa nasionalis. Saya pun sempat mengungkapkan hal itu padanya, dan ia hanya membalasnya dengan tawa sebelum menceritakan asal usul terciptanya tattoo tersebut.

“Made In China”, “Made In Tahiti”, atau “Made In Indonesia”, ia menimbang ketiga pilihan itu dengan seksama. Ia tak pernah, dan tak akan lupa dengan darah Tionghoa yang mengalir deras dalam dirinya, maka ia sempat terpikir bahwa “Made In China” adalah salah satu pilihan terkuat ketika ia akan merajah tattoo pada kakinya. Bagi Kelly, ungkapan “Made In Tahiti” diartikan secara harafiah, sebabnya ia memang “dibuat” di Pulau terbesar di Polinesia Perancis tersebut karena kedua orangtuanya sempat berbulan madu disana. Sedangkan “Made In Indonesia” yang muncul sebagai pilihan terakhir Kelly, ada karena sebuah perasaan keterikatan pada negeri ini.

Orangtuanya yang berkewarganegaraan Indonesia, ia yang juga berkewarganegaraan Indonesia, setiap kenangan mendalam yang ia pernah lalui di Indonesia dan perasaan yang membuatnya bahagia setiap kali mengingat tentang Indonesia, akhirnya membuat ia memutuskan “Made In Indonesia” sebagai pilihan akhir rajahan tattoo di tubuhnya.

Pada sela-sela obrolan antara saya dan Kelly, ia pun sempat berujar bahwa Indonesia membuatnya bahagia. Perjalanan yang pernah ia lalui ke berbagai negara di dunia tak pernah sekalipun menghapuskan kenangan akan Indonesia, baginya, selalu ada “sesuatu” yang membuatnya rindu pada Indonesia. Entah makanannya, senyum ramah orang-orangnya, teman-temannya, atau sekadar “sesuatu” yang bahkan ia sendiri sulit untuk definisikan.

Foto: Anton Johnsen

Foto: Giovanni Junius Rustanto untuk Harpers Bazaar Beauty April 2011

Banyak hal yang telah ia lalui, banyak hal yang pernah ia lakukan dalam hidupnya, namun Kelly masih menyimpan satu impian yang ingin sekali, tapi belum pernah ia lakukan, sky diving. Yap, terjun dari pesawat dengan ketinggian ratusan hingga beberapa ribu kaki dari permukaan tanah, melakukan beberapa gerakan semisal merentangkan tangan, berputar hingga salto, serta merasakan luapan adrenalin dari seluruh tubuhnya adalah hal yang sangat diimpikan pemilik prinsip hidup “You born as an original, don’t die as a fake one” ini.

Adrenalin, ya, adrenalin adalah salah satu kata kunci bagi Kelly. Merasakan adrenalin yang terpacu naik kala menyelesaikan satu tantangan atau hal baru yang diberikan padanya, merupakan hal yang sangat ia sukai, pun ketika ia menekuni pekerjaan sebagai model. Berjalan di atas catwalk dengan puluhan hingga ratusan pasang mata yang memandang, melakukan pose dramatis yang sulit, bereksplorasi dengan mimik serta gaya di depan kamera ketika melewati satu sesi pemotretan adalah bagian dari profesinya yang selalu membuat adrenalin Kelly terpompa keseluruh tubuh.

Nggak Ada Apa-Apa, Cuma Lagi Sendiri Aja

Sendiri itu sepi. Sendiri itu sunyi. Namun dalam kesendirian kadang kita jadi lebih bisa memahami, tentang diri sendiri, tentang arti kita berada disini. Disini, ya, disini. Di tempat sekarang kamu berpijak, di tempat sekarang kamu berteduh, di tempat dimana langit selalu menjadi payung raksasa bagimu apabila tak ada atap, atau apapun yang menghalangi.

Pejamkan mata, rasakan sekeliling dengan lebih nyata, lebih jelas. Fokuskan hati agar lebih peka, jangan biarkan ada distorsi.

Rasakan. Dengarkan. Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan. Ulangi. Ulangi. Ulangi. Dan ulangi lagi. Sampai sunyi dan sepi pergi, lalu tenang yang ganti mendominasi.

 Pada satu saat gue merasakan hidup gue terlalu ramai. Bising. Terlalu banyak orang lalu lalang. Satu saat dimana gue ini kayak stasiun kereta api di masa-masa menjelang Idul Fitri, ruameee. Gue seneng dengan keramaian, apalagi dengan mereka, temen-temen gue. Gue jadi ngerasa lebih hidup, lebih berwarna.

Tapi gue juga butuh sendiri. Gue merasa sangat butuh menikmati waktu hanya dengan diri gue sendiri. Ngelakuin apa aja sekehendak hati. Impulsif pergi ke tempat-tempat yang kadang bikin siapapun yang tau gue kemana pasti berkomentar,

“Ngapain lo kesana, aneh. Nggak penting banget”.

Tapi buat gue penting, penting banget untuk menikmati waktu untuk pacaran sama diri sendiri. Karena bagi gue, saat gue sendiri, gue jadi bisa ngerasain kalau bukan hanya gue atau manusia-manusia yang “hidup”, sekitar gue juga hidup. Sekitar gue. Bunyi, angin, pohon, ranting, batu, tanah, lemari, tempat tidur, sampai si WhiKi, mereka hidup. Bagi gue, mereka hidup.

Kadang Waktu Berjalan Lebih Cepat Daripada Jalannya Model Catwalk

Lockerz: Sazanka

Setiap kali gue jalan bareng temen-temen gue yang berprofesi sebagai model catwalk, gue sering merasa jadi orang yang jauh lebih sehat dan bugar. Kenapa?. Karena, setiap kali gue jalan bareng para model itu, gue rasanya kayak lagi treadmill. Gimana enggak?. Langkah kaki mereka itu panjang-panjang banget, perbandingannya bisa sampai 1:2  sama langkah kaki normal gue. Pegel. Kadang memang terasa pegel banget saat gue harus mengikuti ritme langkah mereka. Langkah yang panjang, bikin jalannya mereka terasa cepet banget, seolah ada roda-roda kecil yang melekat erat di bawah alas kaki mereka. Roda-roda yang bikin mereka terkadang seperti bukan melangkah, tetapi meluncur dengan ringan, mudah, dan cepet pula.

Tapi tau nggak?, ada yang lebih cepet dari langkah para model catwalk. Bukan bukan, bukan langkah kaki atlet yang memang terbiasa berlari di lapangan, bukan juga langkah seribu-nya pencopet yang memang mau tak mau harus berlari kencang untuk menghindari kejaran. Bukan bukan, bukan itu. Gue nggak lagi ingin membandingkan secara harfiah dengan jenis manusia lainnya. Gue hanya sedang ingin membandingkan langkah kaki panjang-panjang dan cepatnya para model dengan waktu. Iya, waktu.

Kalian pernah nggak ada di satu masa dimana kalian ngerasa waktu itu jalannya lamaaa banget?, emang sih lama atau singkatnya waktu itu relatif. Tapi gue yakin, kalian pernah ngerasain dimana waktu bagi kalian berjalan kayak siput. Lama. Lelet. Mungkin kalian sedang berada di dalam satu ruangan kelas dan mendengarkan materi dari guru yang sudah tua, konvensional, ketinggalan jaman, dan nyebelin pula, pasti rasanya waktu berjalan kayak kura-kura, atau siput, atau apa aja deh yang intinya satu, laamaaaa.

Tapi gue yakin, bahkan yakin banget kalau kalian pernah ada di fase waktu berjalan lebih cepet dari jalannya model catwalk. Kalian rasanya baru jalan selangkah, tapi ternyata, waktu udah ninggalin kalian dua langkah di depan. Cepet banget. Dan itulah yang gue rasain sekarang.

Dulu gue pernah berpikir kalau tiga bulan itu lama banget, tapi gue salah, ternyata tiga bulan itu cepet. Rasanya baru kemarin gue kenalan sama seorang cewek ABG yang muncul dihadapan gue mengenakan celana panjang warna hijau pupus, atasan warna putih, tas kepit biru muda, high heels hitam, rambut dikuncir kuda, wajah polos tanpa make up, dan berpembawaan tenang bernama Putri Sazanka.

Putri Sazanka. Dia biasa dipanggil Anka, tapi gue lebih sering panggil dia Bocah. Kenapa?. Karena saat liat dia, gue jadi inget sama diri gue sendiri yang masih bocah, secara umur dia dan gue cuma beda dua bulan aja.

Buat Anka, bahagia itu sesederhana makan kue putu dan sate kambing batibul di Kampoeng Tempoe Doeloe! 😛

Tiga bulan lalu gue kenalan sama dia, semenjak itu gue punya temen baru, temen yang gue sayang banget. Tiga bulan itu cepet banget ternyata, nggak kerasa ada banyak hal yang gue dan dia lewatkan bersama. Makan bareng, ketawa bareng, curhat bareng, ngobrol bareng, bego-begoan bareng, dan foto bareng tentunya. Hahahaa…ABG banget ya?.

Kadang waktu berjalan lebih cepat daripada jalannya model catwalk, rasanya baru kemarin gue bantuin tugas akhirnya dia. Rasanya baru kemarin dia nemenin gue dateng fashion show. Rasanya baru beberapa jam lalu dia curhat ke gue, gue curhat ke dia. Rasanya baru tadi sore dia pinjemin gue kamera imut yang lebih kece, dan gue bawain dia kue putu kesukaannya. Rasanya…ah, rasanya, ya, rasanya baru sebentar, tapi dia sebentar lagi mau pergi. Waktu berjalan lebih cepat daripada jalannya model catwalk.

Baru wisuda!. (Amel, Anka, Ochie -kika-). Foto: Instagram Ochie

Ah, waktu jalannya cepet banget ya Bocah?. Tau-tau kamu udah diwisuda aja. Sebentar lagi kamu pergi jemput mimpi kamu ke negeri nun jauh disana. Tapi jangan ngomongin itu sekarang, masih ada dua bulan. Ingat, dua bulan. Memang sih waktu kadang berjalan lebih cepet daripada jalannya model catwalk. Tapi jangan khawatir, maanfatkanlah waktumu sebaik mungkin di dua bulan ini. Sama keluarga, sama pacar, sama temen-temen kamu, sama aku, dan lakuin yang pengen kamu lakuin sekarang ini.

Daannn….sekarang, pada hari wisuda-mu ini, aku mau bilang, I’m PROUD of you My Bocah Partner In Crime Ms. Putri Sazanka Idris!. 😀

 

Saya Bosan Dengan Saya

Saya bosan dengan saya. Saya. Bosan. Dengan. Saya. Bosan.

Lalu?.

Lihatlah kategori yang dimuat pada posting kali ini.

“Personal Life”.

Lantas?.

Saya bosan dengan saya. Bosan.

Maksudnya?.

Ya, saya terlalu sering menggunakan kata saya pada setiap tulisan yang saya buat untuk blog ini, termasuk sekarang ini, yang kalian baca ini. Kata “saya”, saya pergunakan untuk mewakili saya sebagai saya, si penulis, orang pertama tunggal. Dan saya bosan.

Lihatlah kategori yang dimuat pada posting kali ini.

“Personal Life”.

Maka, saya putuskan bahwa penggunaan kata “saya” mulai saat ini akan saya hapuskan untuk jangka waktu yang belum bisa saya tentukan. Kata “saya” akan hapuskan untuk sementara sampai entah kapan khusus pada kategori “Personal Life”. Kata saya mulai saat ini akan digantikan dengan “gue”. Karena apa?. Karena “gue” sepertinya akan lebih nyaman saya pergunakan untuk mencerita tentang apa yang ingin saya, maksudnya gue, ceritakan pada kategori ini.

Oke. Terus?.

Ya enggak terus-terusan. Yaudah sih, sebenernya cuma mau nulis itu aja. Cuma pengen bilang, kalau di bagian “Personal Life” ini pengen ceritanya pake “gue” aja, nggak pake “saya”, ribet tau nggak?. Nih ya, kalau udah mulai nuis pake “saya” itu, mikirnya mesti bener-bener dipikirin. Ribet. Lebih enak pakai “gue” di kategori “Personal Life” ini. Lagipula bagian ini tentang kehidupan gue pribadi, kan udah ada kategorinya tuh, jadi bagi yang memang nggak pengen baca tentang kehidupan gue sebagai anak ABG “normal” yang “nggak normal” ya jangan di klik yang kategori ini. Klik yang lainnya aja ya, soalnya bagian ini, bagian curhat dan cerita-cerita santai aja. Cheers!. 😀

 

Imperata Nomadechic ; Kali Ini Bukan Batik, Tapi Kain Tenun-lah Yang Dipilih Eddy Betty

Awalnya saya kira, Eddy Betty melalui lini keduanya, edbe(baca: e.di.bi), akan terus mengolah kain batik sebagai material andalan pada setiap potong busana siap pakai yang ia lansir. Namun ternyata hal ini terpatahkan ketika pagelaran teranyarnya, ia berpindah hati dari kain batik ke kain tenun.

“Imperata Nomadechic” edbe oleh Eddy Betty. Foto. Windy Sucipto

Oktober 2011 silam, saya berada di deret kursi terdepan yang disediakan untuk rekan media ketika lini kedua desainer Eddy Betty menyelenggarakan sebuah pagelaran busana koleksi teranyar. Koleksi berbahan batik tulis dengan konsep “padukan tanpa serasikan”, ia wujudkan ke lebih dari tujuh lusin set busana yang dipertontonkan pada malam itu.

Busana siap pakai dengan penggunaan kain batik sebagai material dasar mungkin akan terasa biasa saja, karena Eddy Betty melalui lini edbe bukanlah yang pertama merilis koleksi semacam itu. Namun, rangkaian koleksi berjudul “Love Is In The Air” yang ia lansir hampir setahun lalu, menjadi istimewa tatkala sang desainer mengaplikasikan motif-motif batik tulis yang ia pesan secara khusus dan tidak terikat pakem motif batik yang sudah ada.

Motif mainan anak-anak, telor paskah hingga boneka matryoska yang khas Rusia ia lukiskan pada puluhan pasang koleksinya. Warna-warna cerah yang ceria nan playful ia jadikan pengikat tiap pasang mata yang menyaksikan rangkaian koleksinya.

Meski dalam penyelenggaraannya, pagelaran busana edbe “Love Is In The Air” masih terdapat banyak kekurangan atau bagian yang miss, namun bagi saya, tiap potong koleksi yang dahulu ia suguhkan cukup meninggalkan kesan, karena batik ia reinkarnasikan menjadi sesuatu yang lebih seru, anak muda, “bandel”, tanpa meninggalkan pesona kain batik tulis yang khas.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Maria Titah. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe sekuens pertama. Model: Mareike Brenda. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Reti Ragil Riani. Foto: Windy Sucipto

Awal bulan Juni 2012, saya mendengar kabar bahwa edbe akan kembali merilis rangkaian koleksi terbarunya. Sebuah pagelaran busana pun ia siapkan dengan mengambil tempat di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton Pasific Place. Saat mengetahui hal tersebut, yang pertama kali mampir di otak saya adalah, batik.

Ya, batik. Edbe dan batik, saya rasa dua hal itu sulit terpisahkan. Tapi ternyata saya salah, kali ini tak lagi batik yang ia gadang, pilihan desainer yang pernah mengenyam pendidikan mode di Fleuri de la Porte dan Chambre Syndicale de la Couture Parisienne ini jatuh pada kain tenun bali dan tenun ende.

Bersama pasangan bisnisnya, Ley Sandjaja, Eddy Betty berkeinginan untuk mengangkat keindahan wastra nusantara yang begitu kaya melalui koleksi busana siap pakai yang edgy dan kaya akan muatan lokal dalam bingkai modernitas. Ia juga sempat mengatakan pada sesi pers conference bahwa koleksi dari lini edbe tidak akan terhenti pada batik saja, ataupun kain tenun, namun akan terus berlanjut ke material dasar lain seiring perjalanan hidup dan keragaman kain-kain nusantara lainnya.

“Imperata Nomadechic” atau yang bisa diterjemahkan sebagai“From Sunrise to Sunsite” adalah judul sekaligus tema besar yang ia usung pada rangkaian koleksinya kali ini. Bekerjasama dengan majalah Harpers Bazaar Indonesia dan MRA Group, pagelaran busana “Imperata Nomadechic” pun dikultuskan sebagai pagelaran busana pertama dari desainer Indonesia yang ditayangkan melalui live streaming di 6 situs premium kepunyaan MRA Group.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Prinka Cassy. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens kedua. Model: Bunga Jelita. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Jenny Chang. Foto: Windy Sucipto

Jika membicarakan keseluruhan koleksi yang ditampilkan, pada “Imperata Nomadechic” ketiga sekuens memiliki garis besar koleksi yang serupa. Gaun pendek berpotongan lurus, gaun pendek bervolume dengan siluet menyerupai boneka matryoska, gaun asimetris, blus, kemeja, celana pendek sebatas paha, celana pendek ¾, celana jodhpur, celana panjang, hingga baju terusan(jumpsuit) seakan menjadi item wajib yang mesti ada pada setiap sekuens.

Tetapi yang menjadikannya lebih menarik dan jauh dari kata membosankan adalah konsep pembagian ke-114 set koleksi menjadi tiga sekuens utama, dimana masing-masing sekuens mewakili satu fase waktu utama sejak terbit hingga terbenamnya matahari yang terinterpretasikan melalui benang merah semburat warna yang hadir dalam setiap sekuens.

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens pertama. Model: Kelly Tandiono. Foto: Windy Sucipto

Dalam sekuens pertama, koleksi tenun dihadirkan dalam sentuhan warna-warna pagi yang cerah seperti biru, kuning, merah, hijau dan orange. Warna-warna inilah yang kemudian seolah melukiskan keindahan alam di kala matahari baru saja terbit di ufuk timur.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens kedua. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Linen menjadi paduan yang apik bagi tenun Bali yang memiliki warna lebih lembut pada sekuens kedua. Di sekuens ini warna-warna yang lebih lembut seperti putih gading, hijau pupus, coklat muda dan abu-abu seakan menghadirkan semburat ketenangan jiwa ketika matahari berada di puncaknya. Seakan menepis terik yang sudah pasti terasa menyengat pada siang di negara tropis seperti Indonesia.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Kesan mewah dalam warna-warna lebih gelap yang mendominasi koleksi adalah hal yang langsung tertangkap begitu memasuki sekuens ketiga. Kain tenun ende yang diolah menjadi 8 set busana pria dan 30 set busana wanita terlihat begitu memukau dalam warna-warna gelap yang mewakili keindahan kilau warna alam disaat senja ketika matahari merangkak naik menuju peraduan.

Mungkin sebagian dari mereka yang sering iseng menyatroni tulisan-tulisan di blog saya ini tidak akan lupa dengan sebuah tulisan saya mengenai pagelaran busana “Love Is In The Air” yang saya posting di tahun kemarin. Ada banyak hal yang mengganggu pikiran saya pada saat menyaksikan pagelaran busana tersebut. Hal yang kemudian saya tuangkan dalam sebuah tulisan berisi beberapa point kekecewaan saya terhadap pagelaran busana milik edbe itu. Mulai dari susunan koleksi, susunan keluarnya model, musik pengiring, hingga kesalahan MC saya jadikan bahan dalam tulisan saya. Lalu bagaimana dengan pagelaran busana edbe kali ini?.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Renata. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechi” edbe, sekuens kedua. Model: Filantropi. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Foto: Windy Sucipto

Pertama, susunan koleksi. Jika pada tahun lalu, konsep “Mix don’t Match” yang diusung edbe sedikit mengganggu saya karena malah memunculkan kesan ‘random’ pada susunan koleksi yang dimunculkan karena beberapa hal termasuk padupadan, urutan keluarnya busana dan juga konsep tabrak warna, pada “Imperata Nomadechic” hal itu tak lagi eksis.

Tema “From Sunshine To Sunsire” yang diangkat edbe pada tahun ini terinterpretasikan dengan sangat apik melalui sistem pembagian sekuens menjadi tiga fase waktu utama. Tone warna yang dihadirkan, garis potong yang ‘bebas’ dan ‘semaunya’ ala harajuku, serta konsep “Mix don’t Match” yang masih terus dimunculkan, terasa lebih nyaman serta jauh dari kesan “random”.

Saya pribadi sangat menyukai suasana yang terbangun ketika memasuki perpindahan sekuens kedua yang mewakili waktu siang menuju sekuens tiga yang mewakili keindahan dikala senja menjelang malam datang. Mulai dari multimedia visual, alunan musik, hingga ‘rasa’ pada koleksi yang ditampilkan terasa sangat pas untuk menggambarkan momen spesial yang tercipta ketika senja tiba.

Kedua, susunan keluar model dan model itu sendiri. Rapi, dan hampir sangat pas. Saya hanya merasa sedikit terganggu dengan 1-2 model yang karakternya terasa nanggung. Dikatakan androgini, tidak, tapi kalau tidak androgini kenapa bahasa tubuh dan pembawaan mengarah ke androgini. Saya jadi menangkap kesan “tanggung” pada si model yang saya sendiri tidak tahu siapa namanya.

Lantas selebihnya?. Saya rasa tidak ada lagi hal yang menganggu pikiran saya pada pagelaran busana milik edbe kali ini. Semuanya hampir sangat pas dan sempurna.

“Imperata Nomadechic” edbe.

“Imperata Nomadehic” edbe.

Secara keseluruhan saya merasa sangat nyaman dan jauh lebih menyukai pagelaran busana “Imperata Nomadechic” dibandingkan yang terdahulu karena bagi saya, konsep yang ada terasa lebih tereksekusi dengan baik dalam penyelenggaraan yang lebih tertata rapi.

Serta jangan lupakan dekorasi panggung lintasan catwalk yang pada bagian pangkalnya diberi rerumputan tinggi dan pada alas lintasan catwalk dilapisi oleh kayu. Terlihat sederhana dan tidak serumit beberapa pagelaran busana yang pernah terselenggara, namun hal itu sudah lebih dari cukup memperkuat konsep “From Sunrise To Sunsite” yang ingin dihadirkan.

FOLIAGE ; Bayangan Keindahan Alam Ala Biyan

Biyan adalah salah satu legenda hidup dunia mode Indonesia. Setiap kali ia melansir koleksi busana teranyar, adalah wajib hukumnya bagi pecinta mode khususnya pengagum karya beliau, termasuk saya, untuk mengetahui apalagi yang ia persembahkan untuk dunia mode. Dan Biyan Annual Show 2012/2013 adalah satu hari yang telah saya tunggu sejak satu tahun lalu.

 

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Pertengahan tahun 2011 lalu adalah kali pertama saya menyaksikan secara langsung pagelaran busana karya Biyan Wanaatmadja atau yang lebih dikenal dengan nama Biyan. “The Orient Revisited” begitulah judul yang ia pilih untuk pagelaran busananya tahun lalu, judul yang hingga saat ini tidak pernah hilang dalam ingatan saya.

Saya masih ingat benar ketika setahun lalu saya berada di Grand Ballroom Hotel Mulia yang diterangi sinaran lampu temaram sebelum berubah terang dan seorang penari kontemporer mempertontonkan liukan tubuhnya sebagai pembuka pagelaran tunggal “The Orient Revisited”. Begitu pun dengan rak kayu super besar yang didalamnya berjejer guci-guci raksasa yang jadi dekorasi pada pangkal panggung lintasan catwalk.

Saya tidak akan lupa, tidak pernah lupa betapa menghanyutkannya suasana pada malam itu. Syahdu, megah, namun masih menyisakan kesan modern meski sekaligus seakan membawa saya bertamasya ke suatu tempat nun jauh disana. Tempat dimana saya menyaksikan geliat aktivitas masyarakat etnis Tionghoa dalam perpaduan tempoe doeloe dan modern.

Setahun berlalu dan kesan akan pagelaran tunggal Biyan atau yang biasa disebut Biyan Annual Show tidak bisa hilang. Setahun berlalu, dan dalam setahun itu pula saya menanti untuk bisa mengulang kesan mendalam ketika menyaksikan pagelaran tunggal milik Biyan.

Dekorasi panggung Biyan Annual Show “FOLIAGE”

 

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Saya melangkahkan kaki masuk ke area Grand Ballroom sekitar satu jam sebelum jadwal show seharusnya dimulai, dan saya merasa seperti tersesat di dalam hutan hujan tropis kala malam. Pepohonan yang tingginya lebih dari dua meter, dedaunan yang menguarkan bau khas, bunga-bunga kecil yang menyembul malu-malu dari sela sulur pohon, serta suasana sekitar yang masih gelap dan hanya sedikit terkena pencahayaan yang entah berasal dari mana. Seumur-umur, saya belum pernah merasakan sensasi memasuki ruangan tempat akan berlangsungnya sebuah pagelaran busana seperti saya ada disini. Di Ballroom tempat pagelaran busana Biyan akan berlangsung.

Suasana hutan tropis lengkap dengan pepohonan rimbun bercabang, daun-daun hijau hijau beraroma menenangkan seperti bau tanah sehabis hujan, dan kesyahduan cahaya temaram. Saya rasa saya tidak akan menyadari bahwa sesungguhnya saya berada di dalam sebuah Ballroom tempat akan berlangsungnya pagelaran busana jika saja sebuah lintasan catwalk berwarna putih bersih, kursi-kursi yang berjajar rapi dan bangku berundak di sisi kiri dan kanan ruang tidak menyapa saya beberapa saat kemudian, ketika saya sudah melewati bagian Ballroom yang di tata sedemikian rupa hingga tak ubahnya seperti hutan tropis.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Hege Wollan

“Represent life and its growth..Cerita kehidupan dengan pertumbuhan dan perkembangannya”,

itulah yang diucapkan sang maestro mengenai pagelaran busananya kali ini. Biyan seolah membayangkan berada diantara sekumpulan daun-daun hijau yang rimbun atau bentangan ladang yang luas dipenuhi bunga-bunga liar bermekaran, dan hembusan angin yang beralun ringan menyempurnakan bayangannya tentang sebuah “pelarian” yang indah dan menyejukkan.

Biyan lalu memilih “FOLIAGE” sebagai satu nama yang dirasa mampu mewakili semua yang ada dalam angannya. “FOLIAGE”, ia terjemahkan sebagai sekumpulan daun, interpretasi tentang hidup yang terus betumbuh.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Drina Ciputra

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Michelle Samantha

Jika di tahun sebelumnya dalam pagelaran “The Orient Revisited” Biyan meluncurkan 100 koleksi, pada “FOLIAGE” ia mengurangi jumlah menjadi 90 set busana. Pada rangkaian koleksinya kali ini pula, Biyan terlihat masih sangat nyaman bermain-main dengan eksplorasi keindahan alam yang ada di sekelilingnya dalam membuat motif, warna dan rasa pada koleksi busananya.

Ornamen payet yang dirangkaikan secara detil menjadi rangkaian bunga-bunga kecil serta dedaunan yang memenuhi beberapa bagian busana, disamping motif print bunga, dedaunan, rerumputan, pakis, kupu-kupu, hingga motif polkadot yang menyerupai stomata daun mewarnai kesembilanpuluh set busana yang disuguhkan pada malam itu.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Sharlotta

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Ilmira

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Renata

Siluet busana seperti atasan yang ramping dan potongan bawah yang bervolume, ataupun sebaliknya seperti blus berstuktur kaku dengan bawahan yang ramping, jaket berstuktur kaku yang dipadankan dengan rok lebar bervolume ringan, kesemuanya itu menampilkan sisi feminin perempuan sesungguhnya, bersamaan dengan sisi maskulin, bahkan menyajikannya dengan aspek innocence secara berbarengan.

Sementara, dalam sisi pemilihan warna, Biyan menyelaraskan penggunaan warna dalam koleksinya dengan konsep keindahan alam yang dipilihnya, keindahan alam yang terkesan begitu lembut dan menyejukkan. Warna hijau dari rerumputan, biru langit, putih gading, abu-abu, hitam, merah dan orange pucat, serta emas adalah warna-warna yang dipilih Biyan dalam rangkaian koleksinya.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Katya Talanova

Biyan Annual Show “FOLIAGE”

90 set busana dibawakan dalam waktu kurang dari satu jam, dan selama itu saya merasa jika koleksi Biyan kali ini masih merupakan pengulangan koleksi terdahulu. Meski saya sangat menyukai keseluruhan koleksi, namun kesan De Javu tetap tak bisa dihilangkan. Motif-motif yang dihadirkan, juga siluet yang ada pada tiap set busana, terasa masih memiliki kesamaan yang begitu kental dengan koleksi “The Orient Revisited”.

Mungkin karena ciri khas siap pakai yang sudah terpatri erat pada garis rancang Biyan, atau mungkin memang Biyan masih ingin melanjutkan benang merah rangkaian koleksinya yang terdahulu. Atau, karena konsep mendasar yang ia usung tetaplah sama, mudah dipakai serta mudah dipadupadankan, nyaman namun tetap mengedepankan sisi gaya dan anggun sekaligus berkarakter kuat. Hal yang kemudian ia rekatkan menjadi satu kesatuan koleksi busana yang memiliki daya tarik tinggi meski terkesan sederhana dan santai.

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Advina Ratnaningsih

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Drina Ciputra

Biyan Annual Show “FOLIAGE”. Model: Reti Ragil Riani

Selain itu, tata artistik dekorasi panggung lintasan catwalk yang dibuat sedemikian rupa dipenuhi pepohonan rindang, tumbuhan merambat, dedaunan hijau yang member kesan rimbun, teduh, terpencil sekaligus megah sepintas mengingatkan pada nostalgia film Great Expectations yang merupakan adaptasi novel karya penulis Inggris, Charles Dickens, menjadi daya tarik tersendiri. Saya rasa, dekorasi ruang Ballroom dan panggung lintasan catwalk yang terkonsep sedemikian rupa serta nyaris sempurna menjadi suatu nilai tambah yang sangat besar pada pagelaran busana Biyan di tahun ini.

Seusai Finale Biyan Annual Show “FOLIAGE”

Dan jika pada tahun lalu saya menuliskan jika para model yang dipilih Biyan dalam memperagakan busana cukup “mengganggu” banyak diantaranya tak ubah zombie di atas catwalk sementara beberapa yang lainnya tak mampu menutupi raut wajah seperti menahan sakit, pada pagelaran busana nya kali ini hal tersebut jauh berkurang. Saya memang masih merasakan beberapa model berjalan seperti tak mempunyai “ruh”, tetapi tidak banyak, dan bisa dihitung jari. Raut wajah seperti menahan sakit pun tidak terasa sama sekali.

Secara keseluruhan, bagi saya, pagelaran busana Biyan kali ini nyaris sempurna terlepas dari kesan De Javu yang begitu melekat.