Claire de Lune ; Didi Budihardjo Terinspirasi Oleh Budaya Jawa (?)

Claire de Lune, saya melafalkannya pelan-pelan. Pikiran saya langsung terbawa ke satu dimensi lain dimana saya tengah berada disebuah malam yang syahdu dan hanya ditemani cahaya bulan yang membulat penuh di langit hitam. Syahdu,  intim, dan menghipnotis.

 

Model: Tri Sudarko

Claire de Lune, sebuah nama yang cantik ketika dipilih sebagai judul pegelaran busana tunggal. Nama yang langsung membangkitkan imajinasi, dan membuat otak saya bekerja cepat untuk menebak-nebak apa yang akan ditampilkan pada malam hari ketika bulan membulat sempurna?. Lalu jika yang muncul kemudian adalah pertanyaan, kenapa bulan?. Kenapa sejak tadi saya seperti tak bisa lepas membayangkan bulan penuh yang bersinar terang, karena Claire de Lune atau Trang Boelan yang menjadi judul pada pagelaran busana tunggal milik Didi Budihardjo ini dapat diartikan sebagai satu fase dalam pergantian wujud bulan dimana ia membulat sempurna, bersinar terang, dan begitu cantik. Banyak orang yang menyebutnya sebagai bulan purnama.

Tiba sejak pukul 18. 20 WIB saya terpaksa harus benar-benar melewatkan sesi pers conference yang diadakan di sebuah ruang di lantai M Hotel Mulia. Saya tidak bisa menolak ajakan salah seorang teman yang meminta saya menemaninya menghabiskan makan malam di The Café. Tapi saya membaca rilis yang saya terima dari panitia penyelenggara pagelaran busana tunggal Didi Budihardjo itu secara seksama. Saya membacanya lamat-lamat dan berusaha untuk memahaminya sebaik mungkin.

Satu jam sebelum pagelaran busana tunggal dimulai, saya sudah mengambil posisi terbaik yang bisa saya dapatkan tepat di depan lintasan catwalk. Pada posisi saya itu saya duduk manis sembari merenung dan berpikir keras tentang dekorasi panggung di hadapan saya yang belum rampung seluruhnya.

Beberapa orang pekerja masih terlihat sibuk menjadi spiderman dadakan untuk membenarkan beberapa papan kayu agar terpasang sempurna sebagai bagian dari dekorasi panggung pada malam itu. Dekorasi yang pada saat belum sempurnanya saja sudah terasa cantik karena menyerupai dinding putih besar yang kokoh dan megah ala bangunan jaman kolonial.

Satu jam sebelum pagelaran busana dimulai, hanya satu jam, dan pekerja masih sibuk membenarkan dekorasi di bagian pangkal lintasan catwalk. Jantung saya ikut berdebar, bisakah semua selesai tepat waktu?. Dan jawabannya adalah bisa, sempurna. Dekorasi panggung lintasan catwalk terselesaikan secara sempurna beberapa saat kemudian, tak perlu waktu terlalu lama. Dinding besar yang mengingatkan saya pada bangunan jaman kolonial itu berdiri kokoh dan berfungsi seperti semestinya, sebagai dekorasi sekaligus gerbang buka-tutup untuk para model yang akan memperagakan busana.

Model: Marcella Tanaya

Model: Nien Indriyati

Putih adalah warna pembuka pada pagelaran busana Didi Budihardjo. Sebuah gaun pendek dengan rangkaian bunga yang terjalin rapi pada bagian depan gaun dan bagian bahu berdetil menyerupai lilitan kain yang dibawakan oleh Kelly Tandiono menjadi busana pembuka pada sekuens pertama.

Kontradiksi lalu dihadirkan Didi Budihardjo begitu memasuki sekuens kedua. Nuansa putih digantikan oleh rangkaian busana berwarna hitam. Permainan kelompok warna sebagai penanda bergantinya sekuens memang sangat terasa pada pegelaran tunggal yang diganjar rekor MURI karena dianggap sebagai pagelaran busana desainer Indonesia pertama yang ditayangkan secara live streaming yang bisa disaksikan oleh seluruh dunia melalui situs wollipop.com.

Putih, hitam, emas, biru, merah dan perak merupakan rangkaian warna yang mendominasi pada keseluruhan pagelaran busana.

Model: Fahrani

Model: Reti Ragil Riani

Meski sempat dikatakan bahwa rangkaian koleksinya kali ini mengambil esensi utama dari kebudayaan Jawa yang kemudian diolah dalam bentuk yang lebih kontemporer, seperti yang saya baca dengan seksama di pers rilis yang dibagikan, namun hal ini terasa kurang, dan bahkan saya sampai tidak menyadarinya sama sekali jika saja saya tidak mengingat lagi si rilis yang sempat saya baca.

Claire de Lune oleh Didi Budihardjo

Claire de Lune oleh Didi Budihardjo

Inspirasi cara pemakaian wiron, dodot, beskap maupun stagen tidak tergambar jelas melalui busana yang Didi Budihardjo pamerkan. Justru, nuansa kebarat-baratanlah yang terasa begitu kental. Terlebih ketika suasana dramatis yang terbangun sepanjang pagelaran busana begitu identik dengan suasana dramatis di film Black Swan.

Seperti misalnya pemilihan warna dua warna di dua sekuens awal, putih lalu berganti hitam. Memang jika ingin ditilik, penggunaan kedua warna itu sangatlah umum dan bukan hal baru. “Penabrakkan” kedua warna tersebut pada sebuah rangkaian koleksi juga terbilang cukup sering dilakukan, namun dengan make up, tata rambut, aksesoris pelengkap yang dikenakan para model, sampai alunan musik klasik kontemporer yang mengalun indah membuat aura film Black Swan terasa begitu lekat.

Model: Mungky Chrisna

Model: Kelly Tandiono

Model: Christina Borries

Namun jika membicarakan kelimapuluh rancangan koleksi yang disuguhkan Didi Budihardjo, ia rasanya berhasil membuat setiap pasang mata terpukau atas busana-busana indah dengan detil-deti rumit. Gaun pendek one shoulder, gaun pendek off shoulder, gaun pendek dengan belahan dada yang rendah, gaun panjang yang ringan melambai, gaun panjang bertumpuk yang menawan, hingga aksen pelengkap seperti mantel bulu dan jubah panjang, sudah lebih dari cukup untuk membuat segenap tamu undangan yang hadir berdecak kagum.

Model: Nadine Chandrawinata

Model: Laura Basuki

Model: Laura Muljadi

Tapi hingga detik ini, ada beberapa hal yang masih mengganggu pikiran saya mengenai pagelaran tunggal Claire de Lune disamping dekorasi panggung lintasan catwalk yang belum rampung benar di jam-jam terakhir pagelaran busana akan diselenggarakan dan pers rilis yang terasa kurang sesuai dengan pagelaran busana, hal lain yang mengganggu adalah pada saat kemunculan tiga model yang membawakan gaun pendek penuh taburan manik-manik kristal, butiran manik-manik sangat banyak yang jatuh terlepas dari gaun sehingga ‘mengotori’ sepanjang lintasan catwalk.

Bagi saya hal ini perlu menjadi catatan penting karena butiran manik-manik kristal yang terjatuh bececeran di lantai sangat berbahaya bagi para model yang mengenakan sepatu ber-hak tinggi. Butiran manik-manik yang berceceran itu sangat berpotensi membuat model tergelincir lalu jatuh diatas lintasan catwalk. Akibatnya tentu bisa fatal bagi si model, mulai dari terkilir, hingga patah kaki jika memang entah bagaimana caranya terjatuh dalam posisi yang benar-benar apes, dan bagi busana yang dikenakan si model tentunya sangat mungkin terjadi kerusakan.

Dalam hemat saya, ada baiknya jika hal-hal seperti ini lebih dipertimbangkan lagi. Jika memang si busana belum rampung benar dan manik-manik belum terlekatkan dengan kuat, mungkin akan lebih baik jika tidak ditampilkan. Namun jika memang si busana harus ditampilkan dan tidak bisa tidak karena satu dan lain hal, ada baiknya jika jatuhnya butiran manik-manik yang akhirnya mengotori lintasan catwalk bisa diantisipasi dengan memberika jeda sebentar saja setelah kemunculan si busana untuk membersihkan lintasan catwalk. Saya yakin jika memang telah dipersiapkan secara matang, lintasan catwalk bisa bersih lagi hanya dalam sekejap saja.

Akan tetapi, jika jatuhnya butiran manik-manik memang sangat tidak terduga dan tidak disangka-sangka akan berjatuhan, saya pasti sudah berkeringat dingin dan khawatir setengah mati bila ada di posisi si desainer atau koreografer, atau crew, dan terlebih model.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s