Imperata Nomadechic ; Kali Ini Bukan Batik, Tapi Kain Tenun-lah Yang Dipilih Eddy Betty

Awalnya saya kira, Eddy Betty melalui lini keduanya, edbe(baca: e.di.bi), akan terus mengolah kain batik sebagai material andalan pada setiap potong busana siap pakai yang ia lansir. Namun ternyata hal ini terpatahkan ketika pagelaran teranyarnya, ia berpindah hati dari kain batik ke kain tenun.

“Imperata Nomadechic” edbe oleh Eddy Betty. Foto. Windy Sucipto

Oktober 2011 silam, saya berada di deret kursi terdepan yang disediakan untuk rekan media ketika lini kedua desainer Eddy Betty menyelenggarakan sebuah pagelaran busana koleksi teranyar. Koleksi berbahan batik tulis dengan konsep “padukan tanpa serasikan”, ia wujudkan ke lebih dari tujuh lusin set busana yang dipertontonkan pada malam itu.

Busana siap pakai dengan penggunaan kain batik sebagai material dasar mungkin akan terasa biasa saja, karena Eddy Betty melalui lini edbe bukanlah yang pertama merilis koleksi semacam itu. Namun, rangkaian koleksi berjudul “Love Is In The Air” yang ia lansir hampir setahun lalu, menjadi istimewa tatkala sang desainer mengaplikasikan motif-motif batik tulis yang ia pesan secara khusus dan tidak terikat pakem motif batik yang sudah ada.

Motif mainan anak-anak, telor paskah hingga boneka matryoska yang khas Rusia ia lukiskan pada puluhan pasang koleksinya. Warna-warna cerah yang ceria nan playful ia jadikan pengikat tiap pasang mata yang menyaksikan rangkaian koleksinya.

Meski dalam penyelenggaraannya, pagelaran busana edbe “Love Is In The Air” masih terdapat banyak kekurangan atau bagian yang miss, namun bagi saya, tiap potong koleksi yang dahulu ia suguhkan cukup meninggalkan kesan, karena batik ia reinkarnasikan menjadi sesuatu yang lebih seru, anak muda, “bandel”, tanpa meninggalkan pesona kain batik tulis yang khas.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Maria Titah. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe sekuens pertama. Model: Mareike Brenda. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Reti Ragil Riani. Foto: Windy Sucipto

Awal bulan Juni 2012, saya mendengar kabar bahwa edbe akan kembali merilis rangkaian koleksi terbarunya. Sebuah pagelaran busana pun ia siapkan dengan mengambil tempat di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton Pasific Place. Saat mengetahui hal tersebut, yang pertama kali mampir di otak saya adalah, batik.

Ya, batik. Edbe dan batik, saya rasa dua hal itu sulit terpisahkan. Tapi ternyata saya salah, kali ini tak lagi batik yang ia gadang, pilihan desainer yang pernah mengenyam pendidikan mode di Fleuri de la Porte dan Chambre Syndicale de la Couture Parisienne ini jatuh pada kain tenun bali dan tenun ende.

Bersama pasangan bisnisnya, Ley Sandjaja, Eddy Betty berkeinginan untuk mengangkat keindahan wastra nusantara yang begitu kaya melalui koleksi busana siap pakai yang edgy dan kaya akan muatan lokal dalam bingkai modernitas. Ia juga sempat mengatakan pada sesi pers conference bahwa koleksi dari lini edbe tidak akan terhenti pada batik saja, ataupun kain tenun, namun akan terus berlanjut ke material dasar lain seiring perjalanan hidup dan keragaman kain-kain nusantara lainnya.

“Imperata Nomadechic” atau yang bisa diterjemahkan sebagai“From Sunrise to Sunsite” adalah judul sekaligus tema besar yang ia usung pada rangkaian koleksinya kali ini. Bekerjasama dengan majalah Harpers Bazaar Indonesia dan MRA Group, pagelaran busana “Imperata Nomadechic” pun dikultuskan sebagai pagelaran busana pertama dari desainer Indonesia yang ditayangkan melalui live streaming di 6 situs premium kepunyaan MRA Group.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Prinka Cassy. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens kedua. Model: Bunga Jelita. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Jenny Chang. Foto: Windy Sucipto

Jika membicarakan keseluruhan koleksi yang ditampilkan, pada “Imperata Nomadechic” ketiga sekuens memiliki garis besar koleksi yang serupa. Gaun pendek berpotongan lurus, gaun pendek bervolume dengan siluet menyerupai boneka matryoska, gaun asimetris, blus, kemeja, celana pendek sebatas paha, celana pendek ¾, celana jodhpur, celana panjang, hingga baju terusan(jumpsuit) seakan menjadi item wajib yang mesti ada pada setiap sekuens.

Tetapi yang menjadikannya lebih menarik dan jauh dari kata membosankan adalah konsep pembagian ke-114 set koleksi menjadi tiga sekuens utama, dimana masing-masing sekuens mewakili satu fase waktu utama sejak terbit hingga terbenamnya matahari yang terinterpretasikan melalui benang merah semburat warna yang hadir dalam setiap sekuens.

“Imperata Nomadehic” edbe, sekuens pertama. Model: Kelly Tandiono. Foto: Windy Sucipto

Dalam sekuens pertama, koleksi tenun dihadirkan dalam sentuhan warna-warna pagi yang cerah seperti biru, kuning, merah, hijau dan orange. Warna-warna inilah yang kemudian seolah melukiskan keindahan alam di kala matahari baru saja terbit di ufuk timur.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens kedua. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Linen menjadi paduan yang apik bagi tenun Bali yang memiliki warna lebih lembut pada sekuens kedua. Di sekuens ini warna-warna yang lebih lembut seperti putih gading, hijau pupus, coklat muda dan abu-abu seakan menghadirkan semburat ketenangan jiwa ketika matahari berada di puncaknya. Seakan menepis terik yang sudah pasti terasa menyengat pada siang di negara tropis seperti Indonesia.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Model: Hege Wollan. Foto: Windy Sucipto

Kesan mewah dalam warna-warna lebih gelap yang mendominasi koleksi adalah hal yang langsung tertangkap begitu memasuki sekuens ketiga. Kain tenun ende yang diolah menjadi 8 set busana pria dan 30 set busana wanita terlihat begitu memukau dalam warna-warna gelap yang mewakili keindahan kilau warna alam disaat senja ketika matahari merangkak naik menuju peraduan.

Mungkin sebagian dari mereka yang sering iseng menyatroni tulisan-tulisan di blog saya ini tidak akan lupa dengan sebuah tulisan saya mengenai pagelaran busana “Love Is In The Air” yang saya posting di tahun kemarin. Ada banyak hal yang mengganggu pikiran saya pada saat menyaksikan pagelaran busana tersebut. Hal yang kemudian saya tuangkan dalam sebuah tulisan berisi beberapa point kekecewaan saya terhadap pagelaran busana milik edbe itu. Mulai dari susunan koleksi, susunan keluarnya model, musik pengiring, hingga kesalahan MC saya jadikan bahan dalam tulisan saya. Lalu bagaimana dengan pagelaran busana edbe kali ini?.

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens pertama. Model: Renata. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechi” edbe, sekuens kedua. Model: Filantropi. Foto: Windy Sucipto

“Imperata Nomadechic” edbe, sekuens ketiga. Foto: Windy Sucipto

Pertama, susunan koleksi. Jika pada tahun lalu, konsep “Mix don’t Match” yang diusung edbe sedikit mengganggu saya karena malah memunculkan kesan ‘random’ pada susunan koleksi yang dimunculkan karena beberapa hal termasuk padupadan, urutan keluarnya busana dan juga konsep tabrak warna, pada “Imperata Nomadechic” hal itu tak lagi eksis.

Tema “From Sunshine To Sunsire” yang diangkat edbe pada tahun ini terinterpretasikan dengan sangat apik melalui sistem pembagian sekuens menjadi tiga fase waktu utama. Tone warna yang dihadirkan, garis potong yang ‘bebas’ dan ‘semaunya’ ala harajuku, serta konsep “Mix don’t Match” yang masih terus dimunculkan, terasa lebih nyaman serta jauh dari kesan “random”.

Saya pribadi sangat menyukai suasana yang terbangun ketika memasuki perpindahan sekuens kedua yang mewakili waktu siang menuju sekuens tiga yang mewakili keindahan dikala senja menjelang malam datang. Mulai dari multimedia visual, alunan musik, hingga ‘rasa’ pada koleksi yang ditampilkan terasa sangat pas untuk menggambarkan momen spesial yang tercipta ketika senja tiba.

Kedua, susunan keluar model dan model itu sendiri. Rapi, dan hampir sangat pas. Saya hanya merasa sedikit terganggu dengan 1-2 model yang karakternya terasa nanggung. Dikatakan androgini, tidak, tapi kalau tidak androgini kenapa bahasa tubuh dan pembawaan mengarah ke androgini. Saya jadi menangkap kesan “tanggung” pada si model yang saya sendiri tidak tahu siapa namanya.

Lantas selebihnya?. Saya rasa tidak ada lagi hal yang menganggu pikiran saya pada pagelaran busana milik edbe kali ini. Semuanya hampir sangat pas dan sempurna.

“Imperata Nomadechic” edbe.

“Imperata Nomadehic” edbe.

Secara keseluruhan saya merasa sangat nyaman dan jauh lebih menyukai pagelaran busana “Imperata Nomadechic” dibandingkan yang terdahulu karena bagi saya, konsep yang ada terasa lebih tereksekusi dengan baik dalam penyelenggaraan yang lebih tertata rapi.

Serta jangan lupakan dekorasi panggung lintasan catwalk yang pada bagian pangkalnya diberi rerumputan tinggi dan pada alas lintasan catwalk dilapisi oleh kayu. Terlihat sederhana dan tidak serumit beberapa pagelaran busana yang pernah terselenggara, namun hal itu sudah lebih dari cukup memperkuat konsep “From Sunrise To Sunsite” yang ingin dihadirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s