Antara Bakiak dan Wedges 12cm

Dari jaman dulu, sebelum Christian Dior memperkenalkan siluet A-line, sebelum gaun lilit yang dipopulerkan Diane von Furstenberg jadi fashion item yang booming di seluruh dunia, sebelum Alm. Iwan Tirta membuatkan kemeja-kemeja batik untuk para pemimpin negara-negara Asia Pasifik dalam pertemuan ekonomi APEC di Istana Bogor, dan sebelum tiga orang anak muda yang tergabung dalam brand lokal indie bernama “Danjyo Hiyoji” menjadi trendsetter dan diikuti lusinan brand lokal lainnya, sebelum itu, ingat, sebelum itu, sebelum itu semua terjadi, jauh sebelum itu semua terjadi, gue sudah menyadari satu hal. Apa?. Gue ini nggak modis bin stylish sama sekali. Titik.

Coba bayangin, sudah berapa lama gue sadar diri kalau gue ini nggak modis bin stylish?. Lama kan?, huh, lama banget!. Christian Dior memperkenalkan siluet A-line sekitar tahun 1950-an, Diane von Furstenberg bikin gaun lilit jadi hits di era 70-an, Alm. Iwan Tirta bikin kemeja batik secara ekslusif untuk para pemimpin negara tahun 1984, dan Danjyo Hiyoji langsung jadi happening seusai satu sesi fashion show di Jakarta Fashion Week 2009-2010. Gila, lama kan?. Lama banget.

Dan selama itu pula(meski gue baru lahir tahun 1995, dan jangan tanya kenapa gue sampe bawa-bawa nama Christian Dior, Diane von Furstenberg, Iwan Tirta, sampai Danjyo Hiyoji di tulisan ini, ya kecuali Danjyo Hiyoji, kayaknya masih masuk akal deh ya?), ya, selama itu pula, gue sadar kalau gue ini nggak modis. Beberapa tahun gue mondar mandir di macam-macam acara fesyen, bertemu para fashionista yang sampai gaya berpakaiannya nggak bisa gue definisikan berjenis apa tapi yang melek mode pasti bilang itu modis, berteman dengan mereka yang sehari-hari bergelut di fesyen, tetep aja nggak bisa ngubah cara berpakaian gue yang cuek, dan semaunya.

Jeans, kaos. Jeans, kaos. Jeans, kaos. Ya, paling mentok sampai tahap kemeja deh. Itu doang yang gue pake dari jaman dahulu kala. Tapi kalian jangan tanya berapa banyak orang yang berusaha ngedandanin gue biar lebih modis, menyarankan coba pake ini, pake itu, pake ono ke gue. Percuma, nggak mempan. Mau dibilangin sampai mulut berbusa kek, gue tetep aja nggak pernah meninggalkan seragam kebangsaan gue, jeans dan kaos, oiya, dan tentunya sepatu tali semisal converse. Maka jangan heran jika disaat gue, sekali-kalinya mengenakan mengganti sepatu yang gue kenakan dari converse belel ke wedges, kehebohan sama sekali tak bisa dihindari.

Semua orang yang kenal gue ngeliatin gue dengan tampang yang seolah ngomong,

“MasyaAllaaahhhh Ninaaaa…kesambet apaaaa???. Alhamdullilah yaaaa sekarang jadi cewek beneran”. Damn!

Dan sialnya, ya, sialnya, meski peristiwa gue make wedges sudah lebih dari setengah tahun berlalu, ketika gue menceritakan ini pada si Anka(kalau yang nggak tau siapa Anka, liat aja ya “Personal Life” yang sebelum-sebelum ini), dia dengan entengnya ngomong,

“Wedges?, 12 cm?, bakiak kali”. Sialan!

Gue tau, emang tuh bocah satu mulutnya kadang, oh maaf, gue ralat, sering, bahkan sering banget pengen gue bekep terus gue plester bertumpuk-tumpuk dan kalau perlu gue pakein lem power glue biar bisa ngeluarin komentar-komentar “bitchy” nya itu. Gue tau, gue tau, sekali lagi gue tegaskan kalau GUE TAU,gue  memakai wedges 12cm itu memang peristiwa langka yang mungkin patut diabadikan menjadi sebuah film documenter yang epic berat. Tapi, sialan banget kan kalau gue udah cantik-cantik pake wedges, eh malah dibilang pake bakiak. Sialan banget itu bocah satu.

Gila aja, masa wedges kece yang gue pakai(yang hasil pinjeman dari sepupu gue karena nggak mungkin itu punya gue sendiri, secara sepatu gue sampai saat ini masih mentok di converse belel aja), disamain sama bakiak. Meski nggak modis bin stylish gini, gue bisa kali bedain mana bakiak mana wedges kece. Sialan banget kan kalau udah capek-capek pake wedges(asli capek, gue sih nggak ngebayangin gimana rasanya pakai pakai heels 15cm kayak model-model catwalk itu).  Mana abis komentar kayak gitu, si Anka terus melanjutkan,

“Hah, wedges wedges, bilang aja bakiak. Bakiak yang biasa dipakai kalau lomba tujuhbelasan itu….hahahahahaaa”. Kampret!

Coba, sekarang gue tanya sama kalian. Kalau punya temen kayak gini nggak apa-apa kan kalau dikelitikin sampe pingsan?. Gue yakin nggak apa-apa. Halal!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s