Ines Arieza ; Model Berwajah Manis Dengan Struktur Tajam Asal Kota Kembang

Ia memang tidak memiliki tinggi yang terlampau menjulang seperti para model catwalk lainnya, namun kecantikkannya yang khas menjadi suatu daya tarik besar. Wajahnya sangat manis, namun ia memiliki garis rahang hingga dagu yang tajam. Dua perpaduan yang membuatnya terlihat begitu manis di satu waktu, dan tegas di waktu lain.

Fashion Show Just Cavalli di JFW 2011-2012. Foto: Psicillia Feminagroup.

Kota Kembang Bandung sejak dulu dikenal sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang banyak mencetak generasi baru di dunia modeling Indonesia. Setiap tahunnya, belasan, hingga puluhan perempuan-perempuan bertubuh tinggi menjulang dari kota Bandung saling berlomba untuk mendapatkan tempat di peta modeling Indonesia. Beragam cara pun dilakukan, mulai dari mengikuti sekolah-sekolah modeling yang ada hingga menyertakan diri di berbagai ajang pencarian bakat atau kontes modeling lainnya.

Tersebutlah nama Ines Arieza, seorang gadis manis asal kota Bandung yang namanya kini melesat masuk ke dalam jajaran model catwalk ternama tanah air. Dalam dunia mode dewasa ini, sosok Ines telah mencuri perhatian tersendiri. Tubuhnya mungkin tidak setinggi model-model catwalk lainnya. Ia hanya memiliki tinggi 173cm dan berat 49kg, tetapi ada sesuatu yang lain pada dirinya yang berhasil mengantarkan Ines sebagai salah satu model kesayangan para desainer Indonesia.

Darah Padang-Sunda yang mengalir dalam dirinya membuat Ines mempunyai wajah cantik nan manis khas wanita Indonesia, tetapi garis rahang hingga dagu yang tegas serta tulang pipi yang tinggi membuat wajahnya terkesan tajam. Sebuah paduan raut wajah yang sangat menarik.

Ines Arieza. Dok: Foto Composite JIM Models.

Fashion Spread Majalah Cita Cinta oleh Denie Ramon. Foto: Serbagadsam.blogspot.com

Ines untuk Majalah Kartini Edisi Khusus Rambut Nov 2011. Foto: Serbagadsam.blogspot.com

 

Berawal dari ajang pemilihan Gadis Sampul di tahun 2002, gadis kelahiran Bandung, 2 Januari 1988 dan memiliki nama lengkap Ines Arieza Rahmaniar ini mulai mengenal dunia modeling. Menjalani masa karantina Gadis Sampul selama satu minggu di Ibukota, Ines belajar banyak tentang berbagai hal berkaitan dengan dunia modeling.

Kembali ke kota kelahiran seusai pemilihan Gadis Sampul, Ines mulai mendapatkan tawaran di beberapa pagelaran busana. Salah satunya adalah pagelaran busana miliki Malik Moestaram, seorang desainer kenamaan asal kota kembang yang dikenal bertangan dingin mendidik banyak model pendatang baru. Dari sanalah karir dara yang pernah menjuarai perlombaan lari estafet tingkat provinsi ini makin berkembang pesat.

Sekuens Obin di Bazaar Fashion Celebration “Langgam Tiga Hati” 2011.

Fashion Show Priyo Oktaviano di Plaza Indonesia Fashion Week 2012.

Fashion Show Stradivarius di Plaza Indonesia Fashion Week 2011.

Pemotretan fashion spread untuk majalah mode terkemuka serta booklet koleksi desainer-desainer kondang dilakoni. Kedua kakinya pun telah melangkah di banyak pagelaran busana desainer ternama semisal Obin, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Sebastian Gunawan hingga Barli Asmara. Beberapa pekan mode seperti Jakarta Fashion Week, dan Jakarta Fashion and Food Festival juga rajin memasukan nama model yang bernaung dalam JIM Models dalam daftar peraga.

Bisa mengenakan busana-busana yang indah karya desainer terkenal, bertemu orang baru dan mempunyai banyak teman adalah sebagian kecil hal-hal menyenangkan yang Ines peroleh sepanjang perjalanan karirnya. Ines yang belum lama ini menyelesaikan pendidikan Fakultas Ekonomi di Universitas Katholik Parahiyangan membayangkan dirinya akan menjadi Bussiness Woman satu hari nanti. Sementara simple, loyal dan introvert adalah tiga kata yang ia pilih untuk merangkumkan pribadinya.

Sugar Dream ; Satu Kisah Dunia Gula Gula Afriayanti Tan

Afriyanti Tan memang bukan desainer pertama yang mewujudkan mimpi masa kecilnya ke dalam serangkaian koleksi busana. Namun rasa manis, polos, dan naif pada impian masa kecil yang ia wujudkan bagi saya terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan. Model: Grace Lawrence

Masih ingatkah kamu apa saja mimpi-mimpi atau khayalan masa kecil?. Mungkin dulu kamu pernah bermimpi untuk menikah dengan pangeran tampan berkuda putih. Mungkin dulu kamu pernah bermimpi untuk bisa hidup di rumah kue dan permen seperti Hasell dan Gretel. Mungkin dulu kamu pernah bermimpi untuk selalu mendapatkan stok permen yang tak pernah habis walau kamu nikmati setiap hari. Atau mungkin kamu pernah bermimpi untuk bisa memakai busana indah layaknya seorang tuan putri di hari pernikahan.

Seperti bertemu pangeran tampan dan hidup di negeri impian. Seperti kue-kue super lezat. Seperti segunung gula-gula yang sangat nikmat. Seperti permen kapas yang sangat menggoda. Seperti senyum polos bocah kecil yang baru saja tumbuh gigi. Seperti pertanyaan “kenapa”, “kenapa” dan “kenapa” yang sering terlontar dari mulut bocah yang penuh rasa ingin tahu. Ya, seperti itulah mimpi masa kecil, indah, manis, polos, naif, mengawang-awang, seperti di negeri dongeng. Fairytale.

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan. Model: Ocha

Serupa dengan semua orang lain, Afriyanti Tan juga memiliki impian masa kecil. Semua mimpi-mimpi yang indah, manis, dan naif khas anak-anak. Mimpi-mimpi yang kemudian ia coba wujudkan dalam bentuk rangkaian koleksi busana terbarunya yang ia beri tajuk “Sugar Dream”.

Bertepatan dengan terselenggaranya ESMOD Jakarta Fashion Festival 2012, Afriyanti Tan mempersembahkan 9 set busana “Sugar Dream” yang kesemuanya berupa wedding gown, ranah busana yang memang jadi spesialisasinya. Pada tiap potong koleksinya, Afriyanti Tan menyelipkan interpretasi dari rasa manis gula-gula yang ia nikmati semasa kecil. Permen-permen, dan marshmellow yang pernah lumer dilidahnya ia representasikan ke detail-detail puffy dan permainan volume pada gaun. Siluet yang ia tampilkan didominasi oleh siluet gembung dan mekar pada bagian rok dengan pemilihan bahan dengan tekstur yang lembut.

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan. Model: Evie Mulya

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan

Palet warna yang ia pilih pada koleksi kali ini adalah hasil gradasi dari warna putih ke warna-warna pastel yang cerah lalu diikuti oleh warna yang makin kuat seperti hijau toscha, ungu, merah, biru langit dan orange.

Warna-warna ini merupakan implementasi keceriaan dan spirit jiwa muda yang ingin ia abadikan pada rangkaian koleksinya. Gradasi warna yang hadir pada serangkaian gaun pernikahan miliknya pun menyisakan kesan manis tersendiri. Kala warna putih berpadu cantik dengan warna-warna yang lebih cerah, warna tersebut tidak lantas membaur. Warna cerah yang ada justru seperti bingkai. Seperti campuran warna cerah yang sengaja diberikan disekeliling permen putih yang menjadikannya terlihat lebih menarik dan lebih cantik.

Koleksi Couture Ala Scrapbook Dari Mel Ahyar

Ketika tahu bahwa Mel Ahyar akan mengawinkan busana couture dengan inspirasi dari scrapbook saya berpikir bahwa koleksi kali ini akan menjadi sesuatu yang sangat rumit, tidak sederhana atau mungkin malah tidak wearable. Tetapi saya salah, koleksi dari Mel Ahyar memang tidak sederhana dan sangat detil, namun terlihat sangat wearable.

Mel Ahyar Couture di ESMOD Jakarta Fashion Festival 2012

Dulu saya sering membayangkan jika koleksi bernafas couture adalah koleksi yang “berat” dengan detil-detil rumit yang dikerjakan secara manual tanpa mesin. Namun seiring berjalannya waktu, saya tahu bahwa anggapan saya salah kaprah.

Couture bukan hanya jenis pakaian yang proses pengerjaannya lebih banyak menggunakan tangan secara manual tanpa melibatkan banyak campur tangan mesin. Couture pada perkembangannya merujuk pada busana siap pakai high end atau duluxe yang dibuat secara eksklusif dengan bahan berkualitas tinggi yang proses pengerjaannya dengan tangan 60% dan selebihnya bisa dengan mesin.

Couture haruslah wearable, itulah yang sangat diyakini Mel Ahyar dalam membuat koleksi-koleksi couture-nya. Begitu pula ketika ia mengkreasikan 20 set busana couture teranyar yang ditampilkan pada satu slot pagelaran busana di ESMOD Jakarta Fashion Festival 2012(12/07). Mel menyuguhkan koleksi busana couture yang terinspirasi dari buku berisi kumpulan aneka interpretasi imajinasi, kenangan, ekspresi, kreatifitas, dan krepribadian pemiliknya yang dibuat dari kumpulan foto-foto, tulisan, ataupun kerajinan tangan lainnya. Buku penuh kreatifitas yang biasa disebut scrapbook.

Mel Ahyar Couture

Mel Ahyar Couture

Mel Ahyar Couture

Bahan-bahan yang biasa dipakai untuk membuat scrapbook semisal kain flannel pun dipergunakan Mel Ahyar untuk menggenapi material lain yang ia aplikasikan dalam koleksi busananya seperti silk tweed.

Silk tweed yang memiliki tekstur layaknya bahan kertas daur ulang dipilih Mel Ahyar sebagai bahan yang paling banyak dipakai, hal ini dimaksudkan untuk lebih memunculkan nuansa scrapbook yang menjadi inspirasi utama koleksi busananya.

Dalam hal pemilihan warna, Mel Ahyar lebih banyak bermain dengan warna-warna pastel semisal putih gading, dan coklat muda, disamping warna hitam dan perak beberapa kali dimunculkannya.

Mel Ahyar Couture

Mel Ahyar Couture

Mel Ahyar Couture

Jika sekilas saja membaca deskripsi tentang rangkaian koleksi dari Mel Ahyar kali ini, mungkin yang terbayang oleh kita adalah tingkat kerumitan yang tinggi. Namun nyatanya, ketika menyaksikan secara keseluruhan koleksi yang ditampilkan, bayangan akan kerumitan busana akan memudar dengan sendirinya.

Mel Ahyar tidak menampilkan busana dengan garis potong rumit atau detil yang membuat kita mengernyitkan dahi berlebih, ia justru bermain-main dengan garis potong yang clean, simple, serta terlihat mengutamakan aspek kenyamanan busana. Detil busana yang crafty dan playfull pun tidak ia eksplorasi secara berlebihan. Mel Ahyar seolah mencukupkan detil tidak biasa pada beberapa bagian busana dan topeng penutup kepala sekaligus wajah para model pada pagelaran busananya.

Jika dirangkumkan, koleksi busana couture karya Mel Ahyar ini terasa menyenangkan. Paduan yang menarik antara aspek premis utama busana yang menginterpretasikan scrapbook mampu diwujudkan Mel Ahyar dalam deretan busana yang menghadirkan kesan modern, sleek, twisted edgy namun sangat wearable sekaligus.

Batik, Kompetisi, dan Kemenangan Bangsa Lain

Satu hal yang saya ingat ketika menyaksikan pagelaran busana “Pesona Batik” yang merupakan hasil kolaborasi dari ESMOD Jakarta dan Batik Danar Hadi. Hal itu adalah tersingkirnya ESMOD Jakarta dengan ESMOD Berlin dan Jepang dalam kompetisi mengolah kain batik.

“Pesona Batik” Batik Danar Hadi dan ESMOD Internasional

Bertepatan dengan terselenggaranya ESMOD Jakarta Fashion Festival dan International Meeting 2012, ESMOD Jakarta dan Batik Danar Hadi menjalin suatu kerjasama untuk mengadakan kompetisi pengolahan kain batik. Mereka memberinya nama “Pesona Batik”. Pada “Pesona Batik”, ESMOD Jakarta dan Batik Danar Hadi membagi kompetisi ke dalam dua konsentrasi kategori, Batik Tradisional dan Batik Kreasi. Diikuti oleh 18 cabang ESMOD Internasional dari 11 negara di dunia, “Pesona Batik” menawarkan tantangan tersendiri pada dua kategori yang dikompetisikan.

Pada kategori pertama yakni Batik Tradisional, siswa-i ESMOD diharuskan untuk membuat busana siap pakai menggunakan kain batik dengan motif tradisional yang telah disediakan Batik Danar Hadi. Sementara pada kategori kedua, Batik Kreasi, siswa-i ESMOD harus memutar otak ekstra keras untuk membuat motif baru sekaligus menciptakan sebuah kreasi busana.

Sesi Perwakilan ESMOD Oslo-Norwegia

Sesi Perwakilan ESMOD Beirut-Lebanon

Sesi Perwakilan ESMOD Beijing-Cina

Bisa dibayangkan, tentu bukan hal yang mudah untuk melakukan itu semua. Dalam mengkreasikan motif batik baru dan juga menciptakan volume atau garis rancang terkini yang bisa diaplikasikan menggunakan kain batik saya rasa harus memiliki kepekaan tersendiri. Pada satu sisi, para kreator harus mampu mempertahankan nilai-nilai autentik yang terkandung pada tiap helai kain batik, dan di sisi lain mereka juga harus mampu mentranformasikan batik dalam cita rasa masa kini.

18 cabang ESMOD yaitu Beijing, Berlin, Bayreuth, Bordeaux, Dubai, Jakarta, Lyon, Munich, Osaka, Oslo, Paris, Rennes, Roubaix, Sao Paolo, Seoul, Sousse, Tokyo, dan Tunis berhasil menyelesaikan misi dan mengirimkan hasil kreatifitas mereka dalam menghasilkan Batik Tradisional dan Batik Kreasi. Tak kurang dari 36 outfit terkumpul untuk kemudian dipertontonkan pada pagelaran busana “Pesona Batik”.

Pengumuman pemenang lalu dilakukan seusai pagelaran busana “Pesona Batik”. Ke-36 outfit yang memiliki keragaman gaya, garis rancang, serta motif baru terlalu menyita perhatian saya sehingga tak sempat menebak-nebak siapa yang akan diputuskan menjadi pemenang. Namun sejak awal saya tentu mengharapkan ESMOD Jakarta lah yang akan memenangkan kompetisi ini. Sebagai tuan rumah sekaligus pewaris karya adiluhung bangsa Indonesia ini, saya merasa seperti ada beban tersendiri untuk ESMOD Jakarta bisa memenangkan kompetisi.

Dua kreasi dari ESMOD Tunis-Tunisia

Salah satu kreasi dari ESMOD Tokyo-Jepang

Salah Satu Kreasi ESMOD Seoul-Korea

Pengumuman pemenang kompetisi akhirnya dibacakan, dan harapan saya patah sudah. Bukan ESMOD Jakarta yang menjadi pemenang, dua gelar utama, Batik Tradisional dan Batik Kreasi, harus direlakan jatuh pada ESMOD Berlin. Adapun kategori khusus, Spesial Juri Award, diberikan pada ESMOD Tokyo.

Bagi saya ini suatu pukulan tersendiri. Jujur, saya seperti tidak rela bila dua gelar utama serta satu gelar khusus itu diberikan oleh perwakilan ESMOD lain, dan bukan ESMOD Jakarta. Alasannya sederhana saja, karena batik adalah milik kita, milik bangsa Indonesia, yang dalam hal ini diwakilkan oleh ESMOD Jakarta, lalu yang memenangkan kompetisi mengolah warisan mode bangsa sendiri malahan bangsa lain.

Sesi Perwakilan ESMOD Jakarta-Indonesia

Salah Satu Kreasi ESMOD Jakarta-Indonesia

Saya sama sekali tidak menyayangkan keputusan dewan juri yang memenangkan ESMOD Berlin pada kompetisi tersebut karena tentunya keputusan ini didasari berbagai pertimbangan yang tidak main-main serta memiliki standart kualitas yang tinggi. Saya hanya kecewa kenapa bukan ESMOD Jakarta yang mengangkat tropi simbolis yang terbuat dari anyaman rotan yang diberikan pada pemenang. Saya hanya kecewa kenapa justru bukan wakil dari Indonesia yang berhasil mencuri perhatian dewan juri melalui hasil olahan kain batik-nya. Bagi saya itu aneh, dan seperti sebuah sentilan keras.

Saya jadi berpikir apakah ada yang salah pada kita sebagai generasi muda dalam hal kepekaan mengolah warisan budaya seni terapan bangsa yang begitu kaya?. Apakah ada yang salah sehingga dalam perkara mengolah warisan mode negeri sendiri siswa-i sekolah mode di Indonesia kalah telak?. Apakah memang bangsa lain yang justru lebih memiliki kepekaan mendalam dalam urusan mengolah warisan budaya Indonesia?.

Semua itu jadi pertanyaan besar bagi saya. Sedih rasanya melihat tropi kemenangan kompetisi “Pesona Batik” harus diberikan pada bangsa lain.

Panic Attack After The Show

Mungky Chrisna di Fashion Show Koleksi Ready to Wear Sapto Djojokartiko ESMOD Fashion Festival 2012.

Gue memang selalu berusaha untuk jadi adik yang baik bagi kakak-kakak yang tinggi-tinggi itu. Ya memang kedengeran narsis abis sih,tapi biarlah, kadang narsis itu sehat, kadang, kadang sekali, dan lebih sering bikin eneg sih. Nah yang mau muntah karena bilang gue ini adik yang baik silakan lho. Oke balik lagi, yak arena berusaha jadi adik yang baik itu, gue sering nurut-nurut aja kalau kakak-kakak gue itu minta tolong atau minta temenin. Begitu pula saat Mbakyu gue yang bernama Mungky Chrisna itu minta temenin ke parkiran setelah dia menuntaskan tugas fashion show di ESMOD Fashion Festival 2012 di Gandaria City, gue juga “njeh” “njeh” aja.

Sepanjang jalan menemani dia, gue dan dia sempet ngobrol-ngobrol, dan gue sempet kena jutekkan dia yang mantab banget itu gara-gara gue lupa ngucapin selamat ulang tahun ke dia saat dia ulang tahun tanggal 9 Juli lalu. Dan sejujurnya gue bukan lupa ngucapin, tapi gue emang nggak tau dia ulang tahun dia tanggal segitu. Bah!, adik macam apa gue ini, sampe ulang tahun Mbakyu sendiri lupa.

Sepanjang jalan dan selama nungguin pintu lift kebuka, gue dengan suksesnya dijutekin Mbakyu Mung  (ya meski gue tau muka juteknya itu emang cuma settingan aja, padahal, benar sebenar-benarnya dia perhatian banget dan baik sekali) gara-gara perkara ulang tahunnya itu. Tapi tiba-tiba aja dia panik sendiri karena inget ada barangnya yang ketinggalan di backstage, walhasil dia langsung jalan super cepet ke backstage, ambil barang yang ketinggalan dan gue nungguin dia sambil nenteng tas-nya yang berat abis.

Beberapa menit kemudian, barang yang ketinggalan sudah ditangan, tapiii…kepanikan kembali melanda Mbakyu gue gara-gara karcis parkirnya ilang!. Hayah!. Ngeliat dia panik, gue Cuma bisa melakukan kegiatan standart, gue bilang aja ke dia gini,

“Tenang Kak, tenang, coba cari dulu karcisnya, mungkin keselip”.

Lalu dengan masih setengah panik dia bongkar-bongkar tas jinjingnya, dan hualaaaa….secarik kertas karcis parkir pun berhasil ditemukan. Yeaahhhh….gue memang adik yang baik hari itu. Seenggaknya meski gue rasanya patut di jutekin gara-gara lupa hari ulang tahun Mbakyu Mung, tapi gue bikin dia inget ada barang yang ketinggalan gara-gara ngomongin ulang tahun dan bikin dia menemukan si karcis parkir yang keselip di dalem tas….hahahaaa. Ada gunanya juga kan gue selain bantuin nenteng-nenteng tas. -______-“