Ines Arieza ; Model Berwajah Manis Dengan Struktur Tajam Asal Kota Kembang

Ia memang tidak memiliki tinggi yang terlampau menjulang seperti para model catwalk lainnya, namun kecantikkannya yang khas menjadi suatu daya tarik besar. Wajahnya sangat manis, namun ia memiliki garis rahang hingga dagu yang tajam. Dua perpaduan yang membuatnya terlihat begitu manis di satu waktu, dan tegas di waktu lain.

Fashion Show Just Cavalli di JFW 2011-2012. Foto: Psicillia Feminagroup.

Kota Kembang Bandung sejak dulu dikenal sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang banyak mencetak generasi baru di dunia modeling Indonesia. Setiap tahunnya, belasan, hingga puluhan perempuan-perempuan bertubuh tinggi menjulang dari kota Bandung saling berlomba untuk mendapatkan tempat di peta modeling Indonesia. Beragam cara pun dilakukan, mulai dari mengikuti sekolah-sekolah modeling yang ada hingga menyertakan diri di berbagai ajang pencarian bakat atau kontes modeling lainnya.

Tersebutlah nama Ines Arieza, seorang gadis manis asal kota Bandung yang namanya kini melesat masuk ke dalam jajaran model catwalk ternama tanah air. Dalam dunia mode dewasa ini, sosok Ines telah mencuri perhatian tersendiri. Tubuhnya mungkin tidak setinggi model-model catwalk lainnya. Ia hanya memiliki tinggi 173cm dan berat 49kg, tetapi ada sesuatu yang lain pada dirinya yang berhasil mengantarkan Ines sebagai salah satu model kesayangan para desainer Indonesia.

Darah Padang-Sunda yang mengalir dalam dirinya membuat Ines mempunyai wajah cantik nan manis khas wanita Indonesia, tetapi garis rahang hingga dagu yang tegas serta tulang pipi yang tinggi membuat wajahnya terkesan tajam. Sebuah paduan raut wajah yang sangat menarik.

Ines Arieza. Dok: Foto Composite JIM Models.

Fashion Spread Majalah Cita Cinta oleh Denie Ramon. Foto: Serbagadsam.blogspot.com

Ines untuk Majalah Kartini Edisi Khusus Rambut Nov 2011. Foto: Serbagadsam.blogspot.com

 

Berawal dari ajang pemilihan Gadis Sampul di tahun 2002, gadis kelahiran Bandung, 2 Januari 1988 dan memiliki nama lengkap Ines Arieza Rahmaniar ini mulai mengenal dunia modeling. Menjalani masa karantina Gadis Sampul selama satu minggu di Ibukota, Ines belajar banyak tentang berbagai hal berkaitan dengan dunia modeling.

Kembali ke kota kelahiran seusai pemilihan Gadis Sampul, Ines mulai mendapatkan tawaran di beberapa pagelaran busana. Salah satunya adalah pagelaran busana miliki Malik Moestaram, seorang desainer kenamaan asal kota kembang yang dikenal bertangan dingin mendidik banyak model pendatang baru. Dari sanalah karir dara yang pernah menjuarai perlombaan lari estafet tingkat provinsi ini makin berkembang pesat.

Sekuens Obin di Bazaar Fashion Celebration “Langgam Tiga Hati” 2011.

Fashion Show Priyo Oktaviano di Plaza Indonesia Fashion Week 2012.

Fashion Show Stradivarius di Plaza Indonesia Fashion Week 2011.

Pemotretan fashion spread untuk majalah mode terkemuka serta booklet koleksi desainer-desainer kondang dilakoni. Kedua kakinya pun telah melangkah di banyak pagelaran busana desainer ternama semisal Obin, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Sebastian Gunawan hingga Barli Asmara. Beberapa pekan mode seperti Jakarta Fashion Week, dan Jakarta Fashion and Food Festival juga rajin memasukan nama model yang bernaung dalam JIM Models dalam daftar peraga.

Bisa mengenakan busana-busana yang indah karya desainer terkenal, bertemu orang baru dan mempunyai banyak teman adalah sebagian kecil hal-hal menyenangkan yang Ines peroleh sepanjang perjalanan karirnya. Ines yang belum lama ini menyelesaikan pendidikan Fakultas Ekonomi di Universitas Katholik Parahiyangan membayangkan dirinya akan menjadi Bussiness Woman satu hari nanti. Sementara simple, loyal dan introvert adalah tiga kata yang ia pilih untuk merangkumkan pribadinya.

Sugar Dream ; Satu Kisah Dunia Gula Gula Afriayanti Tan

Afriyanti Tan memang bukan desainer pertama yang mewujudkan mimpi masa kecilnya ke dalam serangkaian koleksi busana. Namun rasa manis, polos, dan naif pada impian masa kecil yang ia wujudkan bagi saya terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan. Model: Grace Lawrence

Masih ingatkah kamu apa saja mimpi-mimpi atau khayalan masa kecil?. Mungkin dulu kamu pernah bermimpi untuk menikah dengan pangeran tampan berkuda putih. Mungkin dulu kamu pernah bermimpi untuk bisa hidup di rumah kue dan permen seperti Hasell dan Gretel. Mungkin dulu kamu pernah bermimpi untuk selalu mendapatkan stok permen yang tak pernah habis walau kamu nikmati setiap hari. Atau mungkin kamu pernah bermimpi untuk bisa memakai busana indah layaknya seorang tuan putri di hari pernikahan.

Seperti bertemu pangeran tampan dan hidup di negeri impian. Seperti kue-kue super lezat. Seperti segunung gula-gula yang sangat nikmat. Seperti permen kapas yang sangat menggoda. Seperti senyum polos bocah kecil yang baru saja tumbuh gigi. Seperti pertanyaan “kenapa”, “kenapa” dan “kenapa” yang sering terlontar dari mulut bocah yang penuh rasa ingin tahu. Ya, seperti itulah mimpi masa kecil, indah, manis, polos, naif, mengawang-awang, seperti di negeri dongeng. Fairytale.

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan. Model: Ocha

Serupa dengan semua orang lain, Afriyanti Tan juga memiliki impian masa kecil. Semua mimpi-mimpi yang indah, manis, dan naif khas anak-anak. Mimpi-mimpi yang kemudian ia coba wujudkan dalam bentuk rangkaian koleksi busana terbarunya yang ia beri tajuk “Sugar Dream”.

Bertepatan dengan terselenggaranya ESMOD Jakarta Fashion Festival 2012, Afriyanti Tan mempersembahkan 9 set busana “Sugar Dream” yang kesemuanya berupa wedding gown, ranah busana yang memang jadi spesialisasinya. Pada tiap potong koleksinya, Afriyanti Tan menyelipkan interpretasi dari rasa manis gula-gula yang ia nikmati semasa kecil. Permen-permen, dan marshmellow yang pernah lumer dilidahnya ia representasikan ke detail-detail puffy dan permainan volume pada gaun. Siluet yang ia tampilkan didominasi oleh siluet gembung dan mekar pada bagian rok dengan pemilihan bahan dengan tekstur yang lembut.

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan. Model: Evie Mulya

“Sugar Dream” oleh Afriyanti Tan

Palet warna yang ia pilih pada koleksi kali ini adalah hasil gradasi dari warna putih ke warna-warna pastel yang cerah lalu diikuti oleh warna yang makin kuat seperti hijau toscha, ungu, merah, biru langit dan orange.

Warna-warna ini merupakan implementasi keceriaan dan spirit jiwa muda yang ingin ia abadikan pada rangkaian koleksinya. Gradasi warna yang hadir pada serangkaian gaun pernikahan miliknya pun menyisakan kesan manis tersendiri. Kala warna putih berpadu cantik dengan warna-warna yang lebih cerah, warna tersebut tidak lantas membaur. Warna cerah yang ada justru seperti bingkai. Seperti campuran warna cerah yang sengaja diberikan disekeliling permen putih yang menjadikannya terlihat lebih menarik dan lebih cantik.

Koleksi Couture Ala Scrapbook Dari Mel Ahyar

Ketika tahu bahwa Mel Ahyar akan mengawinkan busana couture dengan inspirasi dari scrapbook saya berpikir bahwa koleksi kali ini akan menjadi sesuatu yang sangat rumit, tidak sederhana atau mungkin malah tidak wearable. Tetapi saya salah, koleksi dari Mel Ahyar memang tidak sederhana dan sangat detil, namun terlihat sangat wearable.

Mel Ahyar Couture di ESMOD Jakarta Fashion Festival 2012

Dulu saya sering membayangkan jika koleksi bernafas couture adalah koleksi yang “berat” dengan detil-detil rumit yang dikerjakan secara manual tanpa mesin. Namun seiring berjalannya waktu, saya tahu bahwa anggapan saya salah kaprah.

Couture bukan hanya jenis pakaian yang proses pengerjaannya lebih banyak menggunakan tangan secara manual tanpa melibatkan banyak campur tangan mesin. Couture pada perkembangannya merujuk pada busana siap pakai high end atau duluxe yang dibuat secara eksklusif dengan bahan berkualitas tinggi yang proses pengerjaannya dengan tangan 60% dan selebihnya bisa dengan mesin.

Couture haruslah wearable, itulah yang sangat diyakini Mel Ahyar dalam membuat koleksi-koleksi couture-nya. Begitu pula ketika ia mengkreasikan 20 set busana couture teranyar yang ditampilkan pada satu slot pagelaran busana di ESMOD Jakarta Fashion Festival 2012(12/07). Mel menyuguhkan koleksi busana couture yang terinspirasi dari buku berisi kumpulan aneka interpretasi imajinasi, kenangan, ekspresi, kreatifitas, dan krepribadian pemiliknya yang dibuat dari kumpulan foto-foto, tulisan, ataupun kerajinan tangan lainnya. Buku penuh kreatifitas yang biasa disebut scrapbook.

Mel Ahyar Couture

Mel Ahyar Couture

Mel Ahyar Couture

Bahan-bahan yang biasa dipakai untuk membuat scrapbook semisal kain flannel pun dipergunakan Mel Ahyar untuk menggenapi material lain yang ia aplikasikan dalam koleksi busananya seperti silk tweed.

Silk tweed yang memiliki tekstur layaknya bahan kertas daur ulang dipilih Mel Ahyar sebagai bahan yang paling banyak dipakai, hal ini dimaksudkan untuk lebih memunculkan nuansa scrapbook yang menjadi inspirasi utama koleksi busananya.

Dalam hal pemilihan warna, Mel Ahyar lebih banyak bermain dengan warna-warna pastel semisal putih gading, dan coklat muda, disamping warna hitam dan perak beberapa kali dimunculkannya.

Mel Ahyar Couture

Mel Ahyar Couture

Mel Ahyar Couture

Jika sekilas saja membaca deskripsi tentang rangkaian koleksi dari Mel Ahyar kali ini, mungkin yang terbayang oleh kita adalah tingkat kerumitan yang tinggi. Namun nyatanya, ketika menyaksikan secara keseluruhan koleksi yang ditampilkan, bayangan akan kerumitan busana akan memudar dengan sendirinya.

Mel Ahyar tidak menampilkan busana dengan garis potong rumit atau detil yang membuat kita mengernyitkan dahi berlebih, ia justru bermain-main dengan garis potong yang clean, simple, serta terlihat mengutamakan aspek kenyamanan busana. Detil busana yang crafty dan playfull pun tidak ia eksplorasi secara berlebihan. Mel Ahyar seolah mencukupkan detil tidak biasa pada beberapa bagian busana dan topeng penutup kepala sekaligus wajah para model pada pagelaran busananya.

Jika dirangkumkan, koleksi busana couture karya Mel Ahyar ini terasa menyenangkan. Paduan yang menarik antara aspek premis utama busana yang menginterpretasikan scrapbook mampu diwujudkan Mel Ahyar dalam deretan busana yang menghadirkan kesan modern, sleek, twisted edgy namun sangat wearable sekaligus.

Batik, Kompetisi, dan Kemenangan Bangsa Lain

Satu hal yang saya ingat ketika menyaksikan pagelaran busana “Pesona Batik” yang merupakan hasil kolaborasi dari ESMOD Jakarta dan Batik Danar Hadi. Hal itu adalah tersingkirnya ESMOD Jakarta dengan ESMOD Berlin dan Jepang dalam kompetisi mengolah kain batik.

“Pesona Batik” Batik Danar Hadi dan ESMOD Internasional

Bertepatan dengan terselenggaranya ESMOD Jakarta Fashion Festival dan International Meeting 2012, ESMOD Jakarta dan Batik Danar Hadi menjalin suatu kerjasama untuk mengadakan kompetisi pengolahan kain batik. Mereka memberinya nama “Pesona Batik”. Pada “Pesona Batik”, ESMOD Jakarta dan Batik Danar Hadi membagi kompetisi ke dalam dua konsentrasi kategori, Batik Tradisional dan Batik Kreasi. Diikuti oleh 18 cabang ESMOD Internasional dari 11 negara di dunia, “Pesona Batik” menawarkan tantangan tersendiri pada dua kategori yang dikompetisikan.

Pada kategori pertama yakni Batik Tradisional, siswa-i ESMOD diharuskan untuk membuat busana siap pakai menggunakan kain batik dengan motif tradisional yang telah disediakan Batik Danar Hadi. Sementara pada kategori kedua, Batik Kreasi, siswa-i ESMOD harus memutar otak ekstra keras untuk membuat motif baru sekaligus menciptakan sebuah kreasi busana.

Sesi Perwakilan ESMOD Oslo-Norwegia

Sesi Perwakilan ESMOD Beirut-Lebanon

Sesi Perwakilan ESMOD Beijing-Cina

Bisa dibayangkan, tentu bukan hal yang mudah untuk melakukan itu semua. Dalam mengkreasikan motif batik baru dan juga menciptakan volume atau garis rancang terkini yang bisa diaplikasikan menggunakan kain batik saya rasa harus memiliki kepekaan tersendiri. Pada satu sisi, para kreator harus mampu mempertahankan nilai-nilai autentik yang terkandung pada tiap helai kain batik, dan di sisi lain mereka juga harus mampu mentranformasikan batik dalam cita rasa masa kini.

18 cabang ESMOD yaitu Beijing, Berlin, Bayreuth, Bordeaux, Dubai, Jakarta, Lyon, Munich, Osaka, Oslo, Paris, Rennes, Roubaix, Sao Paolo, Seoul, Sousse, Tokyo, dan Tunis berhasil menyelesaikan misi dan mengirimkan hasil kreatifitas mereka dalam menghasilkan Batik Tradisional dan Batik Kreasi. Tak kurang dari 36 outfit terkumpul untuk kemudian dipertontonkan pada pagelaran busana “Pesona Batik”.

Pengumuman pemenang lalu dilakukan seusai pagelaran busana “Pesona Batik”. Ke-36 outfit yang memiliki keragaman gaya, garis rancang, serta motif baru terlalu menyita perhatian saya sehingga tak sempat menebak-nebak siapa yang akan diputuskan menjadi pemenang. Namun sejak awal saya tentu mengharapkan ESMOD Jakarta lah yang akan memenangkan kompetisi ini. Sebagai tuan rumah sekaligus pewaris karya adiluhung bangsa Indonesia ini, saya merasa seperti ada beban tersendiri untuk ESMOD Jakarta bisa memenangkan kompetisi.

Dua kreasi dari ESMOD Tunis-Tunisia

Salah satu kreasi dari ESMOD Tokyo-Jepang

Salah Satu Kreasi ESMOD Seoul-Korea

Pengumuman pemenang kompetisi akhirnya dibacakan, dan harapan saya patah sudah. Bukan ESMOD Jakarta yang menjadi pemenang, dua gelar utama, Batik Tradisional dan Batik Kreasi, harus direlakan jatuh pada ESMOD Berlin. Adapun kategori khusus, Spesial Juri Award, diberikan pada ESMOD Tokyo.

Bagi saya ini suatu pukulan tersendiri. Jujur, saya seperti tidak rela bila dua gelar utama serta satu gelar khusus itu diberikan oleh perwakilan ESMOD lain, dan bukan ESMOD Jakarta. Alasannya sederhana saja, karena batik adalah milik kita, milik bangsa Indonesia, yang dalam hal ini diwakilkan oleh ESMOD Jakarta, lalu yang memenangkan kompetisi mengolah warisan mode bangsa sendiri malahan bangsa lain.

Sesi Perwakilan ESMOD Jakarta-Indonesia

Salah Satu Kreasi ESMOD Jakarta-Indonesia

Saya sama sekali tidak menyayangkan keputusan dewan juri yang memenangkan ESMOD Berlin pada kompetisi tersebut karena tentunya keputusan ini didasari berbagai pertimbangan yang tidak main-main serta memiliki standart kualitas yang tinggi. Saya hanya kecewa kenapa bukan ESMOD Jakarta yang mengangkat tropi simbolis yang terbuat dari anyaman rotan yang diberikan pada pemenang. Saya hanya kecewa kenapa justru bukan wakil dari Indonesia yang berhasil mencuri perhatian dewan juri melalui hasil olahan kain batik-nya. Bagi saya itu aneh, dan seperti sebuah sentilan keras.

Saya jadi berpikir apakah ada yang salah pada kita sebagai generasi muda dalam hal kepekaan mengolah warisan budaya seni terapan bangsa yang begitu kaya?. Apakah ada yang salah sehingga dalam perkara mengolah warisan mode negeri sendiri siswa-i sekolah mode di Indonesia kalah telak?. Apakah memang bangsa lain yang justru lebih memiliki kepekaan mendalam dalam urusan mengolah warisan budaya Indonesia?.

Semua itu jadi pertanyaan besar bagi saya. Sedih rasanya melihat tropi kemenangan kompetisi “Pesona Batik” harus diberikan pada bangsa lain.

Panic Attack After The Show

Mungky Chrisna di Fashion Show Koleksi Ready to Wear Sapto Djojokartiko ESMOD Fashion Festival 2012.

Gue memang selalu berusaha untuk jadi adik yang baik bagi kakak-kakak yang tinggi-tinggi itu. Ya memang kedengeran narsis abis sih,tapi biarlah, kadang narsis itu sehat, kadang, kadang sekali, dan lebih sering bikin eneg sih. Nah yang mau muntah karena bilang gue ini adik yang baik silakan lho. Oke balik lagi, yak arena berusaha jadi adik yang baik itu, gue sering nurut-nurut aja kalau kakak-kakak gue itu minta tolong atau minta temenin. Begitu pula saat Mbakyu gue yang bernama Mungky Chrisna itu minta temenin ke parkiran setelah dia menuntaskan tugas fashion show di ESMOD Fashion Festival 2012 di Gandaria City, gue juga “njeh” “njeh” aja.

Sepanjang jalan menemani dia, gue dan dia sempet ngobrol-ngobrol, dan gue sempet kena jutekkan dia yang mantab banget itu gara-gara gue lupa ngucapin selamat ulang tahun ke dia saat dia ulang tahun tanggal 9 Juli lalu. Dan sejujurnya gue bukan lupa ngucapin, tapi gue emang nggak tau dia ulang tahun dia tanggal segitu. Bah!, adik macam apa gue ini, sampe ulang tahun Mbakyu sendiri lupa.

Sepanjang jalan dan selama nungguin pintu lift kebuka, gue dengan suksesnya dijutekin Mbakyu Mung  (ya meski gue tau muka juteknya itu emang cuma settingan aja, padahal, benar sebenar-benarnya dia perhatian banget dan baik sekali) gara-gara perkara ulang tahunnya itu. Tapi tiba-tiba aja dia panik sendiri karena inget ada barangnya yang ketinggalan di backstage, walhasil dia langsung jalan super cepet ke backstage, ambil barang yang ketinggalan dan gue nungguin dia sambil nenteng tas-nya yang berat abis.

Beberapa menit kemudian, barang yang ketinggalan sudah ditangan, tapiii…kepanikan kembali melanda Mbakyu gue gara-gara karcis parkirnya ilang!. Hayah!. Ngeliat dia panik, gue Cuma bisa melakukan kegiatan standart, gue bilang aja ke dia gini,

“Tenang Kak, tenang, coba cari dulu karcisnya, mungkin keselip”.

Lalu dengan masih setengah panik dia bongkar-bongkar tas jinjingnya, dan hualaaaa….secarik kertas karcis parkir pun berhasil ditemukan. Yeaahhhh….gue memang adik yang baik hari itu. Seenggaknya meski gue rasanya patut di jutekin gara-gara lupa hari ulang tahun Mbakyu Mung, tapi gue bikin dia inget ada barang yang ketinggalan gara-gara ngomongin ulang tahun dan bikin dia menemukan si karcis parkir yang keselip di dalem tas….hahahaaa. Ada gunanya juga kan gue selain bantuin nenteng-nenteng tas. -______-“

Renobulan; Dunia Antara Modeling, Kedokteran dan Musik

Ia pernah merasakan killer shoes yang membuat para model frustrasi setengah mati, ia pernah merasakan masa-masa koas di rumah sakit serta puskesmas daerah yang ala kadarnya, dan ia pernah merasakan memiliki banyak groupies ketika bergabung dalam sebuah band.

Renobulan Sanusi. Foto: Dokumentasi Composite E-Models Management

Saat pertamakali mengenal sosoknya, saya dibuat terkagum-kagum dengan perputaran dunianya, modeling, kedokteran, dan musik. Ya, dia adalah model catwalk, sekaligus dokter, dan anak band. Namanya mungkin belum terlalu familiar bagi sebagaian orang, tetapi dara bernama lengkap Renobulan Sanusi ini resmi membuat saya kagum dengan semua aktivitas yang ia geluti. Model, dokter, pemain band, serta jangan lupakan kegemarannya akan olahraga basket semasa SMA yang sempat mengantarkannya sebagai MVP(Most Valuable Player) tingkat SMA se Jakarta-Selatan. Satu kata untunya, keren!

Lahir di Washington DC 17 Mei 1986, anak kedua dari tiga bersaudara ini memulai karir modelingnya pada tahun 2006 silam dengan bergabung di Plativm Models Management di bawah asuhan desainer Ichwan Thoha. Meski ia mulai menapaki karir modelingnya di tahun 2006, namun sebenarnya Bulan telah mendapat banyak tawaran sebagai model catwalk semenjak ia duduk di bangku SMP karena postur tubuhnya yang memiliki tinggi diatas rata-rata remaja seusianya. Namun kekhawatiran sang Mama akan aktivitas modeling yang sangat mungkin mengganggu masa sekolah, membuat Bulan terus menolak tawaran demi tawaran yang datang.

Dan lampu hijau dari sang Mama akhirnya ia dapatkan ketika namanya sudah tercantum selama dua tahun sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta. Dengan ciri khas tubuh tinggi semampai tak kurang dari 181cm dan bahu yang memiliki tingkat kebidangan diatas rata-rata model perempuan lainnya, sosok Bulan begitu mudah dikenali dalam peta permodelan Indonesia. Jajaran desainer ternama semisal Deden Siswanto, Denny Wirawan, Musa Widiatmodjo, Sapto Djojokartiko hingga Biyan pun pernah menggunakan jasanya sebagai model.

Dewi Fashion Knight JFW 2011-2012 sekuens Sapto Djojokartiko

Biyan’s Annual Show 2012-2013 “Foliage”.

Fashion Show Sebastian Gunawan “Votum” di JFFF 2012.

Membicarakan tentang seorang Renobulan, memang tidak bisa terlepas dari aktivitas lainnya diluar modeling, yaitu kedokteran dan musik. Seperti yang sudah saya katakan di awal tadi, selain berprofesi sebagai model, Bulan juga berprofesi sebagai dokter dan ia sempat menekuni dunia musik dengan bergabung di sebuah grup band bernama “Altvra”. Meski ia kini tidak lagi aktif bersama grup band-nya, namun Bulan tak pernah melupakan musik sebagai bagian penting dari dunia-nya. Maka tak aneh bila ia sering bernyanyi sembari memainkan gitar-nya sendirian ketika rasa jenuh terhadap sesuatu mulai ia rasakan.

Deden Siswanto untuk IFW 2012. Foto oleh Afrizal.

Ruang make up sebelum Fashion Show Batik Summit 2011.

Renobulan, foto composite E-Models Management.

Berbeda dengan karir musiknya yang terhenti ketika ia memutuskan hengkang dari grup band yang sempat ia gawangi, karir lainnya sebagai seorang dokter masih terus ia geluti hingga kini disamping karir modelingnya. Nama dokter Renobulan pun tercatat sebagai dokter jaga di salah satu klinik di daerah Pejaten dengan jadwal jaga setiap hari Senin. Dengan segudang aktivitas modeling dan kedokteran yang ia tekuni, model yang kini bernaung dibawah E-Models Management ini mengaku tidak pernah memiliki target khusus terhadap seluruh kegiatannya tersebut. Ia hanya menyebutkan lima kata untuk melukiskan impian hidupnya. Sehat, sukses, senang, kaya dan amin!.

Seribu Kenangan di Gadis Sampul

Bagi gue, hingga sekarang, Gadis Sampul bukan hanya sekadar ajang tahunan yang rajin banget gue datangi. Gadis Sampul bukan hanya tempat dimana gue bisa melihat 20 orang cewek ABG berwajah menarik dengan segudang prestasi, Gadis Sampul juga bukan layaknya pensi tahunan majalah Gadis. Bagi gue, Gadis Sampul punya arti lebih.

Kenangan Pertama, Gadis Sampul 2009.

Gue kasih judul tulisan ini “Seribu Kenangan di Gadis Sampul” bukan berarti gue akan nulis dengan urutan 1 sampai 1000 tentang apa-apa saja yang pernah gue lakukan bersama Gadis Sampul. Gue juga nggak akan nulis dengan urutan 1 sampai 1000 tentang segala macam hal yang bikin gue ketawa, sedih, sampai nangis ketika gue bersama dengan mereka, para Gadis Sampul. Dan tentunya, bukan juga mau membagi-bagikan 1000 tips and trick, How To Be a Gadis Sampul’s friend…Errr, apabanget deh itu?.

Dengan tulisan gue ini, gue hanya ingin bercerita tentang kenapa Gadis Sampul sebegitu berartinya bagi gue. Itu aja.

Usia gue saat itu masih 14 tahun lewat dikit, dan gue sering merasa jauh lebih tua dari usia gue sebenarnya lantaran “kehidupan” ganda yang gue jalani. Yap, hidup gue memang terbagi dua saat itu, bahkan sampai sekarang. Sekolah dan pekerjaan. Memang sih gue sekolah di sekolah normal biasa, sebuah SMP yang isinya anak-anak seumuran gue, tapi seperti yang tadi gue bilang, gue punya “kehidupan” lain yang bikin gue mau nggak mau selalu bersinggungan dengan mereka yang usianya jauh diatas gue. Mereka yang kalau diliat-liat lebih cocok jadi Oom atau Tante, Nyokap atau Bokap, bahkan Kakek gue daripada jadi temen atau kenalan gue.

Dengan para Oom dan Tante yang gue kenal di “kehidupan” lain gue itu, gue selalu menjadi anak ABG yang nggak ABG. Usia gue boleh masih 14 tahun, tapi gue sama sekali nggak keliatan kayak anak ABG umur 14 tahun. Gue berani sumpah atas nama coklat RitterSport Cornflakes kesukaan gue, kalau hampir nggak ada seorang pun yang percaya kalau saat itu umur gue 14 tahun.

Mbak Adis (mantan) GADIS, Malam Final Gadis Sampul 2011.

Anindya Kusuma, Gadis Sampul 2008. Meet and Greet Gadis Sampul 2009 di GI.

Puspa Wangi&Sheila Cascales, Meet and Greet Gadis Sampul 2009 di GI.

Waktu itu gue belum kenal banyak orang, gue belum punya temen sebanyak sekarang di Gadis Sampul. Gue cuma kenal Mbak Adis Gadis(yang sekarang udah move on dari Gadis ke Maverick), lalu Anin(Anindya Kusuma, Gadis Sampul 2008 yang berhasil bikin gue kagum berat setelah wawancara dia di acara meet and greet), dan Sheila plus Puspa(Sheila Cascales dan Puspa Wangi, dua finalis Gadis Sampul 2009, gue kenal karena sempat mewawancara mereka di acara meet and greet). Hanya mereka berempat saja yang gue kenal saat itu. Walhasil, di Malam Final Gadis Sampul 2009 yang gegap gempita dan heboh teriakkan ABG itu, gue awalnya cuma bisa clingukan kanan kiri, berusaha menemukan orang lain yang gue kenal, secara keempat orang yang gue kenal itu semuanya sibuk. Mbak Adis dan Anin di backstage, sementara Sheila dan Puspa di atas stage.

Secara teori, gue emang sendirian ditengah ramai-ramai para ABG berbaju modis, bersuara melengking nyaring ketika berteriak, dan berspanduk besar-besar yang gue yakin banget ganggu kamera. Ya, secara teori gue sendirian, tapi seperti kata orang bijak yang entah siapa dan dimana, teori nggak selalu berbanding lurus dengan praktek dan kenyataan. Teorinya gue emang sendiri, tapi gue nggak merasa sendiri sama sekali. Gue nggak merasa kalau anak-anak lain disekitar gue itu adalah orang asing yang nggak gue kenal, gue malah ngerasanya mereka itu temen-temen sekolah gue yang lagi heboh sendiri. Gue merasa akrab dengan atmosfer yang tercipta, gue merasa ada di tempat dimana gue seharusnya berada, di tengah-tengah anak-anak seumuran gue saat itu.

Dan perasaan “gue merasa ada di tempat dimana gue seharusnya berada” yang membawa gue kembali ke acara rangkaian Gadis Sampul yang diadakan majalah Gadis di tahun berikutnya, Tapi kondisinya udah jauh beda. Gue nggak lagi cuma kenal 4 orang di Gadis, di tahun 2010, gue nggak hanya kenal Mbak Adis, Anin, Sheila dan Puspa, gue juga mulai kenal beberapa lainnya bahkan hampir setengah Gadis Sampul 2009 gue kenal dengan baik dan mereka akhirnya jadi teman dodol-dodolan dan heboh-hebohan luar biasa gue.

Bersama mereka, gue ikutan jadi tim hore yang heboh banget di Meet and Greet Gadis Sampul 2010 dan Malam Final Gadis Sampul 2010. Gue nggak akan pernah lupa gimana Gue, Ara(Tamara Tyasmara), Jani(Dina Anjani), Puspa(Puspa Wangi), dan yang lainnya, janjian untuk kompakkan teriak-teriakin nama Andania, finalis Gadis Sampul 2010 yang jadi jagoan kita. Kita teriak super heboh, kita teriak dan terus teriak nama Andania, sampai-sampai banyak orang yang nengok ke arah kita. Konyol banget, tapi seru!. Ya, Malam Final Gadis Sampul 2010 gue rasa adalah Malam Final Gadis Sampul paling berkesan bagi gue.

Malam Final Gadis Sampul 2010 di Djakarta Theater.

Malam Final Gadis Sampul 2010 di Djakarta Theater.

Ara!

Judith!

Jani!

Gue nggak akan lupa gimana gue dan beberapa Gadis Sampul 2009 teriak-teriak heboh karena kita sama-sama dukung Andania habis-habisan.

Gue nggak akan lupa ketika Ara kasih gue bando bertuliskan nama Andania untuk gue pakai karena dia saat itu jadi user Gadis Sampul dan nggak boleh pakai begituan.

Gue nggak akan lupa gimana seorang Jani(Dina Anjani) yang kelihatannya pendiam dan kalem bisa jerit-jerit heboh liat Petra Sihombing nyanyi.

Gue nggak akan lupa teriakkan “Petra!!!” nya Judith ketika suasana tengah hening dan berakibat banyak banget orang yang nengok ke arah dia.

Gue nggak akan pernah lupa sorakan ber “ciecieee” gue dan anak-anak lainnya ke Jani gara-gara dia selalu jadi pusat perhatian beberapa guest star cowok, yap, para guest star cowok yang ngisi acara Malam Final Gadis Sampul seperti Project Pop, dan Petra sesekali pasti mencuri liat ke arah Jani, memandangnya lama dan seolah bernyanyi untuk dia seorang…hahahaha.

Gue juga nggak akan lupa ketika suasana berubah hening dan khidmat banget saat lagu Mars Gadis Sampul terdengar dinyanyikan oleh Farrah(Farrah Achmedian) dan Suri(Andania) lalu anak-anak Gadis Sampul 2009 pun turut menyanyikannya bersama-sama.

Dan yang terakhir, gue tentunya nggak akan lupa ketika gue lari sprint dari arah belakang(menjelang akhir gue sempet melipir kebelakang sebentar karena niatnya mau nyamperin Sheila yang kepisah sendiri di belakang) sambil teriak-teriak girang karena nama Andania disebut sebagai Juara 1 Gadis Sampul 2010 setelah dia juga berhasil mendapat gelar Gadis Sampul Terfavorit Pilihan Pembaca.

Hhhhh…Gadis Sampul 2010. Bagi gue, Gadis Sampul 2010 adalah Gadis Sampul paling berkesan, terlalu banyak kenangan disana. Mulai dari Meet and Greet dan Malam Final yang super heboh, sampai segudang cerita lain yang gue alami setelah akhirnya gue bisa kenal lebih jauh dengan para Gadis Sampul 2010, termasuk si Andania, jagoan gue di Gadis Sampul 2010 yang sekarang malah udah kayak adek gue.

Dibanding dengan Gadis Sampul 2009, gue memang memiliki ikatan yang lebih dekat dengan Gadis Sampul 2010. Di Gadis Sampul 2009, gue hanya mengenal ¾ dari mereka, sementara di Gadis Sampul 2010 nggak ada satu orang finalis pun yang nggak gue kenal, dan mereka adalah teman-teman baik gue. Teman tempat tukar cerita, teman ketawa bareng, sedih bareng, teman tolol-tolol an bareng kalau lagi kumpul. Bagi gue, Gadis Sampul 2010 adalah “keluarga lain” gue, meski gue bukan bagian dari mereka, meski gue nggak terlibat langsung dengan pemilihan mereka, meski gue kenal mereka setelah mereka dikukuhkan sebagai 20 finalis dan pemenang Gadis Sampul 2010. Tapi buat gue mereka udah kayak keluarga karena mereka temen gue, dan bukankah ada kutipan yang berbunyi, “Teman adalah keluarga yang kita pilih sendiri”.

Ya bukan berarti teman-teman gue yang lain bukan keluarga gue, juga teman-teman Gadis Sampul dari angkatan lain, buat gue siapa pun yang udah gue anggap teman, apalagi teman baik adalah keluarga. Tapi khusus untuk Gadis Sampul 2010, buat gue mereka spesial, mungkin karena gue mengenal mereka sepaket, utuh ber-20. Meski gue nggak sedekat itu dengan semua finalis, dan hanya beberapa yang benar-benar dekat, tapi tetap aja bagi gue mereka satu keluarga utuh. Dan “keluarga lain” gue itu nggak pernah selalu baik-baik aja.

Karantina Gadis Sampul 2010. Foto:Lupa dari FB siapa -,-“

Karantina Gadis Sampul 2010 di Grand Melia. Foto: Lupa dari FB siapa -,-“

Suri(Andania) & Naca(Nahza Atriadara). Foto: Lupa dari FB siapa -,-“

Nonton Bareng Gadis Sampul 2010 di Blitz GI.

Gue akan tetap inget saat gue ikut tertawa bersama mereka setiap kali ada bahan bercandaan yang lucu dan absurd, kayak gue yang dulu ngakak berat denger Gina(Gina Meidina) ngekor gue ngomong “Gue” “Elo” dengan logat yang medok banget. Gue akan tetap inget ketika gue sering banget bercandain Gandis(Gandis Ayu Wardhani) yang muka bantal, atau Mutia(Mutia Nabilla) yang kayak anak bocah banget suka nggak jelas, atau Farrah(Farrah Achmedian) yang kadang loadingnya lama, atau hal-hal lain yang bikin gue dan anak-anak selalu ketawa.

Tapi seperti yang gue katakan tadi, “keluarga lain” gue itu nggak pernah selalu baik-baik aja, nggak melulu isinya cuma seneng-seneng dan ketawa. Kita pernah mengalami masa-masa yang nggak enak, kita pernah sedih, kita pernah nangis berjamaah, kita pernah saling rangkul untuk menguatkan masing-masing.

Ketika masalah demi masalah datang, ketika satu dan yang lain salah paham, dan ketika satu diantara duapuluh Gadis Sampul 2010 harus pergi untuk selamanya. Gue dan yang lain nangis berjamaah, menelan duka yang sama berhari-hari kemudian. Gue memang tidak terlalu mengenal dekat dia, tapi rasa sedih dan kehilangan itu kental terasa.

Ya, gue rasa dari sekian banyak kenangan yang pernah ada, dari semua tawa, dari semua canda, dari semua ketololan, dari keabsurdan, dari semua masalah, dan dari semuanya, gue dan yang lain nggak akan pernah bisa lupa kejadian beberapa bulan lalu, ketika di hari Sabtu yang cerah kabar duka itu datang, Olive(Olivia Dewi Soeridjo) pergi untuk selamanya. Kita semua kehilangan salah satu teman baik kita, teman yang selalu kita kenang dengan senyumannya yang lebar, senyum yang nggak pernah lupa dibagi kesemua orang yang menyapanya.

In Memoriam Olive 😦

Rasanya gue ingin terus bercerita, gue ingin terus mengurai kisah, ingin terus bernostalgia, tapi gue sadar gue nggak hidup di masa lalu, dan gue tahu tulisan ini mulai kepanjangan. Maka, gue akan kembali ke premis awal, gue hanya ingin membagi ke siapa saja yang membaca tulisan ini kenapa Gadis Sampul begitu berarti buat gue.

Gadis Sampul begitu berarti buat gue karena banyak banget kenangan yang gue bisa ceritakan jika membicarakan dua kata itu, Gadis Sampul. Ya, meski semakin kesini, gue semakin nggak terlalu kenal dan nggak terlalu dekat dengan angkatan diatas 2010, tapi kenangan gue tentang Gadis Sampul nggak akan pernah hilang. Dan kenangan itu yang bikin hidup gue lebih berwarna-warni, karena gue sempat merasakan fase “gue merasa ada di tempat dimana gue seharusnya berada”. Gadis Sampul yang bikin gue merasa sebagai ABG yang memang ABG beneran, bukan ABG yang nggak ABG 😛

Masa karantina Gadis Sampul 2010.(ki-ka) Tara, Vani, Gina, Tania, Angel, Suri. Foto: Lupa dari FB siapa -,-“

(ki-ka) Judith, Damita, Naca, Gandis di Malam Final Gadis Sampul 2011.

Alumni Gadis Sampul di Malam Final Gadis Sampul 2011.

Gadis School Fashion Rocks 2011 di Gandaria City.

Malam Final Gadis Sampul 2012

Bukber Gadis Sampul 2010.

Bareng-bareng nonton Fashion Show Billy Tjong di JFW 2010. (ki-ka) Farrah, Mutia, Suri, Ara, Merdi.

Ps: Guys, kapan deh pada ngumpul bareng lagi rame-rame?, nggak pada kangen ya? hahahaaa…*pelukin satu-satu*