Seribu Kenangan di Gadis Sampul

Bagi gue, hingga sekarang, Gadis Sampul bukan hanya sekadar ajang tahunan yang rajin banget gue datangi. Gadis Sampul bukan hanya tempat dimana gue bisa melihat 20 orang cewek ABG berwajah menarik dengan segudang prestasi, Gadis Sampul juga bukan layaknya pensi tahunan majalah Gadis. Bagi gue, Gadis Sampul punya arti lebih.

Kenangan Pertama, Gadis Sampul 2009.

Gue kasih judul tulisan ini “Seribu Kenangan di Gadis Sampul” bukan berarti gue akan nulis dengan urutan 1 sampai 1000 tentang apa-apa saja yang pernah gue lakukan bersama Gadis Sampul. Gue juga nggak akan nulis dengan urutan 1 sampai 1000 tentang segala macam hal yang bikin gue ketawa, sedih, sampai nangis ketika gue bersama dengan mereka, para Gadis Sampul. Dan tentunya, bukan juga mau membagi-bagikan 1000 tips and trick, How To Be a Gadis Sampul’s friend…Errr, apabanget deh itu?.

Dengan tulisan gue ini, gue hanya ingin bercerita tentang kenapa Gadis Sampul sebegitu berartinya bagi gue. Itu aja.

Usia gue saat itu masih 14 tahun lewat dikit, dan gue sering merasa jauh lebih tua dari usia gue sebenarnya lantaran “kehidupan” ganda yang gue jalani. Yap, hidup gue memang terbagi dua saat itu, bahkan sampai sekarang. Sekolah dan pekerjaan. Memang sih gue sekolah di sekolah normal biasa, sebuah SMP yang isinya anak-anak seumuran gue, tapi seperti yang tadi gue bilang, gue punya “kehidupan” lain yang bikin gue mau nggak mau selalu bersinggungan dengan mereka yang usianya jauh diatas gue. Mereka yang kalau diliat-liat lebih cocok jadi Oom atau Tante, Nyokap atau Bokap, bahkan Kakek gue daripada jadi temen atau kenalan gue.

Dengan para Oom dan Tante yang gue kenal di “kehidupan” lain gue itu, gue selalu menjadi anak ABG yang nggak ABG. Usia gue boleh masih 14 tahun, tapi gue sama sekali nggak keliatan kayak anak ABG umur 14 tahun. Gue berani sumpah atas nama coklat RitterSport Cornflakes kesukaan gue, kalau hampir nggak ada seorang pun yang percaya kalau saat itu umur gue 14 tahun.

Mbak Adis (mantan) GADIS, Malam Final Gadis Sampul 2011.

Anindya Kusuma, Gadis Sampul 2008. Meet and Greet Gadis Sampul 2009 di GI.

Puspa Wangi&Sheila Cascales, Meet and Greet Gadis Sampul 2009 di GI.

Waktu itu gue belum kenal banyak orang, gue belum punya temen sebanyak sekarang di Gadis Sampul. Gue cuma kenal Mbak Adis Gadis(yang sekarang udah move on dari Gadis ke Maverick), lalu Anin(Anindya Kusuma, Gadis Sampul 2008 yang berhasil bikin gue kagum berat setelah wawancara dia di acara meet and greet), dan Sheila plus Puspa(Sheila Cascales dan Puspa Wangi, dua finalis Gadis Sampul 2009, gue kenal karena sempat mewawancara mereka di acara meet and greet). Hanya mereka berempat saja yang gue kenal saat itu. Walhasil, di Malam Final Gadis Sampul 2009 yang gegap gempita dan heboh teriakkan ABG itu, gue awalnya cuma bisa clingukan kanan kiri, berusaha menemukan orang lain yang gue kenal, secara keempat orang yang gue kenal itu semuanya sibuk. Mbak Adis dan Anin di backstage, sementara Sheila dan Puspa di atas stage.

Secara teori, gue emang sendirian ditengah ramai-ramai para ABG berbaju modis, bersuara melengking nyaring ketika berteriak, dan berspanduk besar-besar yang gue yakin banget ganggu kamera. Ya, secara teori gue sendirian, tapi seperti kata orang bijak yang entah siapa dan dimana, teori nggak selalu berbanding lurus dengan praktek dan kenyataan. Teorinya gue emang sendiri, tapi gue nggak merasa sendiri sama sekali. Gue nggak merasa kalau anak-anak lain disekitar gue itu adalah orang asing yang nggak gue kenal, gue malah ngerasanya mereka itu temen-temen sekolah gue yang lagi heboh sendiri. Gue merasa akrab dengan atmosfer yang tercipta, gue merasa ada di tempat dimana gue seharusnya berada, di tengah-tengah anak-anak seumuran gue saat itu.

Dan perasaan “gue merasa ada di tempat dimana gue seharusnya berada” yang membawa gue kembali ke acara rangkaian Gadis Sampul yang diadakan majalah Gadis di tahun berikutnya, Tapi kondisinya udah jauh beda. Gue nggak lagi cuma kenal 4 orang di Gadis, di tahun 2010, gue nggak hanya kenal Mbak Adis, Anin, Sheila dan Puspa, gue juga mulai kenal beberapa lainnya bahkan hampir setengah Gadis Sampul 2009 gue kenal dengan baik dan mereka akhirnya jadi teman dodol-dodolan dan heboh-hebohan luar biasa gue.

Bersama mereka, gue ikutan jadi tim hore yang heboh banget di Meet and Greet Gadis Sampul 2010 dan Malam Final Gadis Sampul 2010. Gue nggak akan pernah lupa gimana Gue, Ara(Tamara Tyasmara), Jani(Dina Anjani), Puspa(Puspa Wangi), dan yang lainnya, janjian untuk kompakkan teriak-teriakin nama Andania, finalis Gadis Sampul 2010 yang jadi jagoan kita. Kita teriak super heboh, kita teriak dan terus teriak nama Andania, sampai-sampai banyak orang yang nengok ke arah kita. Konyol banget, tapi seru!. Ya, Malam Final Gadis Sampul 2010 gue rasa adalah Malam Final Gadis Sampul paling berkesan bagi gue.

Malam Final Gadis Sampul 2010 di Djakarta Theater.

Malam Final Gadis Sampul 2010 di Djakarta Theater.

Ara!

Judith!

Jani!

Gue nggak akan lupa gimana gue dan beberapa Gadis Sampul 2009 teriak-teriak heboh karena kita sama-sama dukung Andania habis-habisan.

Gue nggak akan lupa ketika Ara kasih gue bando bertuliskan nama Andania untuk gue pakai karena dia saat itu jadi user Gadis Sampul dan nggak boleh pakai begituan.

Gue nggak akan lupa gimana seorang Jani(Dina Anjani) yang kelihatannya pendiam dan kalem bisa jerit-jerit heboh liat Petra Sihombing nyanyi.

Gue nggak akan lupa teriakkan “Petra!!!” nya Judith ketika suasana tengah hening dan berakibat banyak banget orang yang nengok ke arah dia.

Gue nggak akan pernah lupa sorakan ber “ciecieee” gue dan anak-anak lainnya ke Jani gara-gara dia selalu jadi pusat perhatian beberapa guest star cowok, yap, para guest star cowok yang ngisi acara Malam Final Gadis Sampul seperti Project Pop, dan Petra sesekali pasti mencuri liat ke arah Jani, memandangnya lama dan seolah bernyanyi untuk dia seorang…hahahaha.

Gue juga nggak akan lupa ketika suasana berubah hening dan khidmat banget saat lagu Mars Gadis Sampul terdengar dinyanyikan oleh Farrah(Farrah Achmedian) dan Suri(Andania) lalu anak-anak Gadis Sampul 2009 pun turut menyanyikannya bersama-sama.

Dan yang terakhir, gue tentunya nggak akan lupa ketika gue lari sprint dari arah belakang(menjelang akhir gue sempet melipir kebelakang sebentar karena niatnya mau nyamperin Sheila yang kepisah sendiri di belakang) sambil teriak-teriak girang karena nama Andania disebut sebagai Juara 1 Gadis Sampul 2010 setelah dia juga berhasil mendapat gelar Gadis Sampul Terfavorit Pilihan Pembaca.

Hhhhh…Gadis Sampul 2010. Bagi gue, Gadis Sampul 2010 adalah Gadis Sampul paling berkesan, terlalu banyak kenangan disana. Mulai dari Meet and Greet dan Malam Final yang super heboh, sampai segudang cerita lain yang gue alami setelah akhirnya gue bisa kenal lebih jauh dengan para Gadis Sampul 2010, termasuk si Andania, jagoan gue di Gadis Sampul 2010 yang sekarang malah udah kayak adek gue.

Dibanding dengan Gadis Sampul 2009, gue memang memiliki ikatan yang lebih dekat dengan Gadis Sampul 2010. Di Gadis Sampul 2009, gue hanya mengenal ¾ dari mereka, sementara di Gadis Sampul 2010 nggak ada satu orang finalis pun yang nggak gue kenal, dan mereka adalah teman-teman baik gue. Teman tempat tukar cerita, teman ketawa bareng, sedih bareng, teman tolol-tolol an bareng kalau lagi kumpul. Bagi gue, Gadis Sampul 2010 adalah “keluarga lain” gue, meski gue bukan bagian dari mereka, meski gue nggak terlibat langsung dengan pemilihan mereka, meski gue kenal mereka setelah mereka dikukuhkan sebagai 20 finalis dan pemenang Gadis Sampul 2010. Tapi buat gue mereka udah kayak keluarga karena mereka temen gue, dan bukankah ada kutipan yang berbunyi, “Teman adalah keluarga yang kita pilih sendiri”.

Ya bukan berarti teman-teman gue yang lain bukan keluarga gue, juga teman-teman Gadis Sampul dari angkatan lain, buat gue siapa pun yang udah gue anggap teman, apalagi teman baik adalah keluarga. Tapi khusus untuk Gadis Sampul 2010, buat gue mereka spesial, mungkin karena gue mengenal mereka sepaket, utuh ber-20. Meski gue nggak sedekat itu dengan semua finalis, dan hanya beberapa yang benar-benar dekat, tapi tetap aja bagi gue mereka satu keluarga utuh. Dan “keluarga lain” gue itu nggak pernah selalu baik-baik aja.

Karantina Gadis Sampul 2010. Foto:Lupa dari FB siapa -,-“

Karantina Gadis Sampul 2010 di Grand Melia. Foto: Lupa dari FB siapa -,-“

Suri(Andania) & Naca(Nahza Atriadara). Foto: Lupa dari FB siapa -,-“

Nonton Bareng Gadis Sampul 2010 di Blitz GI.

Gue akan tetap inget saat gue ikut tertawa bersama mereka setiap kali ada bahan bercandaan yang lucu dan absurd, kayak gue yang dulu ngakak berat denger Gina(Gina Meidina) ngekor gue ngomong “Gue” “Elo” dengan logat yang medok banget. Gue akan tetap inget ketika gue sering banget bercandain Gandis(Gandis Ayu Wardhani) yang muka bantal, atau Mutia(Mutia Nabilla) yang kayak anak bocah banget suka nggak jelas, atau Farrah(Farrah Achmedian) yang kadang loadingnya lama, atau hal-hal lain yang bikin gue dan anak-anak selalu ketawa.

Tapi seperti yang gue katakan tadi, “keluarga lain” gue itu nggak pernah selalu baik-baik aja, nggak melulu isinya cuma seneng-seneng dan ketawa. Kita pernah mengalami masa-masa yang nggak enak, kita pernah sedih, kita pernah nangis berjamaah, kita pernah saling rangkul untuk menguatkan masing-masing.

Ketika masalah demi masalah datang, ketika satu dan yang lain salah paham, dan ketika satu diantara duapuluh Gadis Sampul 2010 harus pergi untuk selamanya. Gue dan yang lain nangis berjamaah, menelan duka yang sama berhari-hari kemudian. Gue memang tidak terlalu mengenal dekat dia, tapi rasa sedih dan kehilangan itu kental terasa.

Ya, gue rasa dari sekian banyak kenangan yang pernah ada, dari semua tawa, dari semua canda, dari semua ketololan, dari keabsurdan, dari semua masalah, dan dari semuanya, gue dan yang lain nggak akan pernah bisa lupa kejadian beberapa bulan lalu, ketika di hari Sabtu yang cerah kabar duka itu datang, Olive(Olivia Dewi Soeridjo) pergi untuk selamanya. Kita semua kehilangan salah satu teman baik kita, teman yang selalu kita kenang dengan senyumannya yang lebar, senyum yang nggak pernah lupa dibagi kesemua orang yang menyapanya.

In Memoriam Olive😦

Rasanya gue ingin terus bercerita, gue ingin terus mengurai kisah, ingin terus bernostalgia, tapi gue sadar gue nggak hidup di masa lalu, dan gue tahu tulisan ini mulai kepanjangan. Maka, gue akan kembali ke premis awal, gue hanya ingin membagi ke siapa saja yang membaca tulisan ini kenapa Gadis Sampul begitu berarti buat gue.

Gadis Sampul begitu berarti buat gue karena banyak banget kenangan yang gue bisa ceritakan jika membicarakan dua kata itu, Gadis Sampul. Ya, meski semakin kesini, gue semakin nggak terlalu kenal dan nggak terlalu dekat dengan angkatan diatas 2010, tapi kenangan gue tentang Gadis Sampul nggak akan pernah hilang. Dan kenangan itu yang bikin hidup gue lebih berwarna-warni, karena gue sempat merasakan fase “gue merasa ada di tempat dimana gue seharusnya berada”. Gadis Sampul yang bikin gue merasa sebagai ABG yang memang ABG beneran, bukan ABG yang nggak ABG😛

Masa karantina Gadis Sampul 2010.(ki-ka) Tara, Vani, Gina, Tania, Angel, Suri. Foto: Lupa dari FB siapa -,-“

(ki-ka) Judith, Damita, Naca, Gandis di Malam Final Gadis Sampul 2011.

Alumni Gadis Sampul di Malam Final Gadis Sampul 2011.

Gadis School Fashion Rocks 2011 di Gandaria City.

Malam Final Gadis Sampul 2012

Bukber Gadis Sampul 2010.

Bareng-bareng nonton Fashion Show Billy Tjong di JFW 2010. (ki-ka) Farrah, Mutia, Suri, Ara, Merdi.

Ps: Guys, kapan deh pada ngumpul bareng lagi rame-rame?, nggak pada kangen ya? hahahaaa…*pelukin satu-satu*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s