Batik, Kompetisi, dan Kemenangan Bangsa Lain

Satu hal yang saya ingat ketika menyaksikan pagelaran busana “Pesona Batik” yang merupakan hasil kolaborasi dari ESMOD Jakarta dan Batik Danar Hadi. Hal itu adalah tersingkirnya ESMOD Jakarta dengan ESMOD Berlin dan Jepang dalam kompetisi mengolah kain batik.

“Pesona Batik” Batik Danar Hadi dan ESMOD Internasional

Bertepatan dengan terselenggaranya ESMOD Jakarta Fashion Festival dan International Meeting 2012, ESMOD Jakarta dan Batik Danar Hadi menjalin suatu kerjasama untuk mengadakan kompetisi pengolahan kain batik. Mereka memberinya nama “Pesona Batik”. Pada “Pesona Batik”, ESMOD Jakarta dan Batik Danar Hadi membagi kompetisi ke dalam dua konsentrasi kategori, Batik Tradisional dan Batik Kreasi. Diikuti oleh 18 cabang ESMOD Internasional dari 11 negara di dunia, “Pesona Batik” menawarkan tantangan tersendiri pada dua kategori yang dikompetisikan.

Pada kategori pertama yakni Batik Tradisional, siswa-i ESMOD diharuskan untuk membuat busana siap pakai menggunakan kain batik dengan motif tradisional yang telah disediakan Batik Danar Hadi. Sementara pada kategori kedua, Batik Kreasi, siswa-i ESMOD harus memutar otak ekstra keras untuk membuat motif baru sekaligus menciptakan sebuah kreasi busana.

Sesi Perwakilan ESMOD Oslo-Norwegia

Sesi Perwakilan ESMOD Beirut-Lebanon

Sesi Perwakilan ESMOD Beijing-Cina

Bisa dibayangkan, tentu bukan hal yang mudah untuk melakukan itu semua. Dalam mengkreasikan motif batik baru dan juga menciptakan volume atau garis rancang terkini yang bisa diaplikasikan menggunakan kain batik saya rasa harus memiliki kepekaan tersendiri. Pada satu sisi, para kreator harus mampu mempertahankan nilai-nilai autentik yang terkandung pada tiap helai kain batik, dan di sisi lain mereka juga harus mampu mentranformasikan batik dalam cita rasa masa kini.

18 cabang ESMOD yaitu Beijing, Berlin, Bayreuth, Bordeaux, Dubai, Jakarta, Lyon, Munich, Osaka, Oslo, Paris, Rennes, Roubaix, Sao Paolo, Seoul, Sousse, Tokyo, dan Tunis berhasil menyelesaikan misi dan mengirimkan hasil kreatifitas mereka dalam menghasilkan Batik Tradisional dan Batik Kreasi. Tak kurang dari 36 outfit terkumpul untuk kemudian dipertontonkan pada pagelaran busana “Pesona Batik”.

Pengumuman pemenang lalu dilakukan seusai pagelaran busana “Pesona Batik”. Ke-36 outfit yang memiliki keragaman gaya, garis rancang, serta motif baru terlalu menyita perhatian saya sehingga tak sempat menebak-nebak siapa yang akan diputuskan menjadi pemenang. Namun sejak awal saya tentu mengharapkan ESMOD Jakarta lah yang akan memenangkan kompetisi ini. Sebagai tuan rumah sekaligus pewaris karya adiluhung bangsa Indonesia ini, saya merasa seperti ada beban tersendiri untuk ESMOD Jakarta bisa memenangkan kompetisi.

Dua kreasi dari ESMOD Tunis-Tunisia

Salah satu kreasi dari ESMOD Tokyo-Jepang

Salah Satu Kreasi ESMOD Seoul-Korea

Pengumuman pemenang kompetisi akhirnya dibacakan, dan harapan saya patah sudah. Bukan ESMOD Jakarta yang menjadi pemenang, dua gelar utama, Batik Tradisional dan Batik Kreasi, harus direlakan jatuh pada ESMOD Berlin. Adapun kategori khusus, Spesial Juri Award, diberikan pada ESMOD Tokyo.

Bagi saya ini suatu pukulan tersendiri. Jujur, saya seperti tidak rela bila dua gelar utama serta satu gelar khusus itu diberikan oleh perwakilan ESMOD lain, dan bukan ESMOD Jakarta. Alasannya sederhana saja, karena batik adalah milik kita, milik bangsa Indonesia, yang dalam hal ini diwakilkan oleh ESMOD Jakarta, lalu yang memenangkan kompetisi mengolah warisan mode bangsa sendiri malahan bangsa lain.

Sesi Perwakilan ESMOD Jakarta-Indonesia

Salah Satu Kreasi ESMOD Jakarta-Indonesia

Saya sama sekali tidak menyayangkan keputusan dewan juri yang memenangkan ESMOD Berlin pada kompetisi tersebut karena tentunya keputusan ini didasari berbagai pertimbangan yang tidak main-main serta memiliki standart kualitas yang tinggi. Saya hanya kecewa kenapa bukan ESMOD Jakarta yang mengangkat tropi simbolis yang terbuat dari anyaman rotan yang diberikan pada pemenang. Saya hanya kecewa kenapa justru bukan wakil dari Indonesia yang berhasil mencuri perhatian dewan juri melalui hasil olahan kain batik-nya. Bagi saya itu aneh, dan seperti sebuah sentilan keras.

Saya jadi berpikir apakah ada yang salah pada kita sebagai generasi muda dalam hal kepekaan mengolah warisan budaya seni terapan bangsa yang begitu kaya?. Apakah ada yang salah sehingga dalam perkara mengolah warisan mode negeri sendiri siswa-i sekolah mode di Indonesia kalah telak?. Apakah memang bangsa lain yang justru lebih memiliki kepekaan mendalam dalam urusan mengolah warisan budaya Indonesia?.

Semua itu jadi pertanyaan besar bagi saya. Sedih rasanya melihat tropi kemenangan kompetisi “Pesona Batik” harus diberikan pada bangsa lain.

2 thoughts on “Batik, Kompetisi, dan Kemenangan Bangsa Lain

  1. Hi!! My name is Beatriz Micai and my graduation work was representing Esmod Brazil at the Esmod International meeting on Jakarta Fashion Festival 2012.
    I would like to know if you have some site or link where I could find the pictures of my work (two LED dresses).
    How is the first time that my clothes are on a fashion show, I’d like to have the pics. Do you have some that you could send to my email? It is: beatriz_micai@yahoo.com.br
    Thanks for your help!
    Ps: you can check the looks that were on the catwalk on my blog below:
    telegramfromthefuture.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s