Malam Semakin Larut Sayang

Malam semakin larut sayang
Gemerisik ombak semakin jelas dari seberang kamar…

Malam semakin larut sayang
Butiran pasir yang seharian tadi kau injak, kini berpesta,
mengikuti gerak ombak yang mengajaknya berdansa ditengah gelap…

Malam semakin larut sayang
Langit hitam dan taburan bintang dan kerlip kunang,
jadi teman yang sulit terabaikan…

Malam semakin larut sayang

Biarkan ombak bercumbu dengan pantai,
lalu pasir menikmati keintiman semu-nya…

Biarkan langit menghitam sempurna dan bersahabat
dengan bintang, juga kerlip kunang…

Biarkan mereka sayang, biarkan mereka,
dengan semua yang dicintai saat malam datang..

Ingat, malam semakin larut sayang…
Masihkah kau ingin terjaga?

Ah, malam semakin larut sayang…
Mata sudah mengantuk, namun pikiran masih ribut,
melafalkan satu nama yang begitu dirindu…

Sayang, malam semakin larut…
Tidurlah engkau dalam dekapan waktu, dan ia akan menjagamu untukku,
karena ia tahu, siapa yang kamu dan aku sama-sama rindu…

Aku, lalu kamu…

Aku Tunggu Kakak Pulang

Gadis kecil di ujung jalan, basah dan sendirian…
Hari sudah petang, hujan telah lama datang, namun ia belum ingin pulang…
Dengan telanjang kaki ia melirik kanan kiri, berharap Kakaknya segera datang…

Gadis kecil di ujung jalan, basah dan sendirian…
Payungnya yang besar sesekali tertiup angin kencang,
hujan seakan menyuruhnya pulang…

Gadis kecil di ujung jalan, basah dan sendirian…
Tubuhnya bergetar kencang, menggigil kedinginan, tapi ia tetap bertahan,
katanya, “Kakak sebentar lagi datang”

Gadis kecil di ujung jalan, basah dan sendirian…
Dua pohon tumbang, ia melompat kebelakang,
namun tidak pulang sembari lari kencang,
ia hanya merapal pelan, “Semoga Kakak cepat datang”

Gadis kecil di ujung jalan, basah dan sendirian…
Tujuh kali dentang jam, hari bukan lagi petang, ini sudah malam…

Gadis kecil di ujung jalan, basah, sendirian, dan kedinginan…
Ia belum mau pulang, sebelum Kakaknya datang,
meski hujan semakin deras menerjang, ia belum mau pulang,
dia hanya bergumam pelan,
pada hujan, pada malam,
pada jam yang berdentang,
dan pada pohon yang tumbang di sisi jalan,

“Aku mau tunggu Kakak datang, aku takut dia kehujanan”

Richard Fiando ; One of The Best Male Model and Lovely Daddy

Tubuh tinggi tegap, dengan kulit putih bersih serta raut wajah oriental yang khas membuat sosoknya begitu mudah dikenali. Karirnya di atas catwalk juga di depan kamera foto pun tidak perlu diragukan lagi. Ia sempat menyandang gelar The Best Male Model, namun kini ia tengah menikmati aktivitas barunya, menjadi seorang Ayah. 

 

Richard Antonius Fiando. Foto: Richo Fiando

Jika kita iseng membandingkan jumlah antara model pria dan wanita yang eksis di Indonesia, sudah barang tentu kita akan mendapatkan rasio yang sangat jauh berbeda diantara keduanya. Bukan lagi 1 berbanding 2, atau 1 berbanding 3, karena perbandingan jumlah model yang ada saat ini bisa mencapai perbandingan 1:5 antara model pria dan model wanita. Ketimpangan rasio diantara keduanya memang sudah bukan lagi hal baru di dalam dunia modeling, karena sejak dahulu pun perbandingan jumlah antara model pria dan model wanita sangat jauh berbeda.

Diantara sedikitnya nama model pria yang eksis di atas catwalk fashion show serta di depan lensa kamera para fotografer handal, tersebutlah nama Richard Fiando, seorang model pria dengan wajah oriental yang khas yang selama beberapa tahun belakangan menjadi salah satu model pria paling dicari di dunia fesyen tanah air.

Fashion Show EdBe oleh Eddy Betty “Love Is In The Air”. Foto: Andreas Dwi

Fashion Show BOSS di Plaza Indonesia Fashion Week.

Lahir di Palembang 23 April 1981, pria bernama lengkap Richard Antonius Fiando ini memulai karir modelingnya pada pertengahan tahun 2003 silam. Bergabung dengan Look Inc yang ketika itu menjadi agensi model nomor satu di Indonesia, Richard mulai menapaki karirnya sebagai model catwalk.

Perpaduan postur tubuhnya yang memiliki tinggi tak kurang dari 184cm, dan berat 74kg, serta wajah tampan yang begitu khas membuat sosok Richard segera mencuri perhatian para desainer, brand, dan fotografer untuk menggunakan jasanya sebagai model.

Hampir semua desainer Indonesia, mulai dari Priyo Oktaviano, Deden Siswanto, Ronald V Gaghana, Eddy Betty hingga Didiet Maulana pernah bekerjasama dengannya. Brand internasional semacam GAP, Aigner, Kenzo, SuperDry, Versace, sampai Zara, juga tak pernah absen meminta Richard turut serta memperagakan koleksi teranyarnya ketika menggelar fashion show di tanah air. Nama Richard pun termasuk dalam satu dari sekian model pilihan Jean Paul Gaultier ketika menggelar fashion show koleksi limited edition-nya di Indonesia yang dikirim langsung dari Paris.

Fashion Show Senayan City Fashion Nation 2012 Sekuens IKAT Indonesia oleh Didiet Maulana.

Fashion Show Jean Paul Gaultier di Plaza Indonesia Fashion Week.

Sederet pencapaian lain dibidang modeling pun pernah ia ukir apik. Menjadi wakil dari Indonesia untuk menerima piala Best Model Award pada Asia Model Festival 2010 di Seoul, Korea Selatan, dan melakukan satu sesi pemotretan untuk majalah Italy “UOMO COLLEZIONI” adalah dua pencapaian yang paling dikenang pria yang sering disapa “Koko” ini.

Namun terlepas dari karir modelingnya, Richard yang telah berumah tangga sejak beberapa tahun lalu, kini tengah menikmati aktivitas barunya sebagai bar manager sebuah Club di bilangan kuningan, marketing distribusi air mineral kemasan, sekaligus menjadi Ayah untuk buah hati pertamanya yang ia beri nama “Kimora Lovey Fiando”.

Piala The Best Male Model Award dari Asia Model Festival tahun 2010.

Richard dan Sang Buah Hati, Kimora. Foto: Richo Fiando

Meski menggeluti segudang aktivitas, pria yang menamatkan pendidikan Advanced Diploma Hotel Management-nya di William Blue Sydney, Australia ini nyatanya tetap memilih aktivitas sebagai Ayah merupakan hal yang paling ia nikmati.

Menyaksikan dengan mata kepala sendiri tahapan perkembangan Baby Kim adalah saat-saat terindah yang sangat menyenangkan baginya. Ia begitu menikmati ketika melihat putri kecilnya merangkak, berdiri, berjalan dan berlari dengan bimbingan kedua tangannya. Bagi Richard kehadiran Kimora merupakan semangat baru dan pemacu agar ia menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu, baik dalam segi pekerjaan maupun kemampuan untuk lebih menghargai dan mensyukuri kehidupan yang ia jalani.

Sepuluh tahun kedepan ia membayangkan dirinya menjadi seorang Ayah berusia 41 tahun yang sukses, tinggal bersama seorang istri yang hebat dan dua anak yang sangat menyenangkan.

Gue Jahat.

Hari ini gue ngerasa jahat banget. Bukan sama seseorang, atau orang lain, atau siapa aja yang sama kayak gue, manusia, mahkluk hidup. Gue ngerasa jahat banget sama Tuhan gue. Ya, gue ngerasa jahat.

Mungkin semua orang punya definisi dan batasan sendiri tentang “jahat”. Termasuk gue. Gue punya definisi dan batasan dan juga pendapat sendiri tentang jahat. Tapi, definisi, batasan, dan pendapat gue itu kadang terlalu susah untuk gue rangkaikan dengan kata. Kadang, atau bahkan sering, gue cuma bisa ngerasa dan melable diri gue sendiri. Dan hari ini gue merasa jahat banget sama sama Tuhan gue.

Dia kasih gue banyak hal yang bikin gue ngerasa jadi salah satu manusia paling beruntung di muka Bumi. Dia kasih gue banyak hal yang bikin gue selalu punya alasan untuk tersenyum sambil bersyukur. Dia kasih gue banyak pelajaran dalam hidup yang bikin gue terdiam, dan berpikir lagi tentang apa-apa saja yang sudah gue lakukan dan gue kerjakan. Dia kasih gue banyak, banyak banget, gue nggak bisa menghitungnya, bahkan banyak yang mungkin sudah menghilang dari ingatan gue.

Lalu gue?. Gue kasih apa ke Dia?. Gue tau Dia nggak pernah minta banyak. Dia nggak pernah mengultimatum gue secara langsung meski dalam ratusan lembar firman-Nya, Ia menjelaskan dan menceritakan banyak hal tentang apa-apa saja yang hitam, putih, dan abu-abu. Tapi buat gue itu bukan ultimatum, apalagi ancaman, buat gue itu nasehat. Seperti banyak kata dan cerita yang terselip pesan-pesan yang sering diceritakan orangtua.

Gue kasih apa ke Dia?. Itu lagi yang gue pertanyakan. Gue kasih apa ke Dia?. Dia yang baik luar biasa. Dia yang kebaikkan-Nya nggak bisa diukur dengan apapun di dunia. Gue kasih apa ke Dia?. Dia kasih gue 24 jam, Dia hanya minta 5 kali gue menemui Dia, dan gue sering lupa, atau sengaja lupa. Lalu apa yang gue kasih ke Dia?. Itu yang paling dasar, dan itu berantakkan.

Mungkin ya, mungkin, kalau Dia itu Nyokapnya Malin Kundang, gue udah dikutuk jadi batu. Tapi Dia bukan. Dia bukan siapa-siapa karena Dia adalah segalanya. Dia Maha Segalanya. Dia Maha Segalanya, termasuk Maha Pengampun. Hhhh…semoga Dia maafkan semua hal-hal jahat yang gue lakukan. Amin.

Gue Sedih. Mutlak Sedih. (Satu Potongan Surat Pertama Untuk Anka)

Apa lo pernah menghitung waktu?. Menghitung berapa banyak yang lewat. Menghitung berapa banyak yang berlalu. Menghitung berapa banyak yang lenyap tanpa kita sadari betul.

Gue nggak pernah ngitung berapa banyak yang lewat. Gue nggak pernah membuat tanda khusus di kalender kecil yang selalu ada di kamar gue tentang apa-apa saja yang sudah, atau akan gue lalui. Gue lebih senang membiarkannya berjalan sendiri.

Gue biarkan semua berjalan mengikuti skenario yang nggak pernah gue tahu. Gue biarkan apa-apa yang terjadi di hidup gue merangkak kadang pelan, kadang tergesa, kadang sejelas Gorilla di pusat primata Schmutzer, kadang juga samar-samar kayak semut rangrang yang gue intip lewat sedotan limun.

Gue punya skenario hidup gue sendiri, skenario yang berkali-kali gue tulis ulang, gue revisi. Bongkar pasang, bongkar pasang. Hapus, lalu tulis, lalu hapus, lalu tulis lagi, tulis ulang. Ya, gue punya skenario, gue punya rencana yang gue mau. Tapi yang gue tau cuma skenario versi gue. Skenario yang isinya semua ego gue. Skenario yang gue bikin cuma bagian-bagian besarnya aja, nggak lengkap dengan detil. Itu pun sering bongkar pasang. Satu waktu gue tulis yang isinya A, lalu di waktu lain berubah B, dan setelahnya jadi C atau kembali ke A lagi.

Skenario hidup gue, gue yang tulis. Gue yang bikin versi gue. Hahahaaa versi gue?. Agak konyol, emangnya gue ini siapa bisa bikin skenario hidup?. Ya tapi kan itu versi gue, versi yang isinya melulu ego gue, siapa peduli kalau ternyata Sang BIG BOSS sesungguhnya sudah menyiapkan satu rangkaian skenario misterius abadi yang disiapkan khusus untuk gue. Skenario yang Dia umpetin entah di lemari-Nya yang mana, lalu Dia jaga baik-baik dan enggan Dia bagi. Dan, jadilah skenario itu sebagai skenario yang nggak pernah gue tahu. Gue hanya akan tahu isi skenario itu setelah gue telah benar-benar menjalani babak demi babaknya.

Jadi, gue nggak pernah tau kalau gue akan bertemu dengan lo Bocah. Gue nggak pernah tau kalau di hari terakhir fashion show Plaza Indonesia Fashion Week gue akan kedatangan tamu yang ngomongnya kayak televisi bilingual semacam lo. Dan gue nggak pernah tau kalau seiring berjalannya waktu gue akan menasbihkan kalau lo adalah salah satu teman terbaik yang pernah gue punya, dan kalau lo adalah salah satu mahkluk yang berhasil bikin gue kayak anak kecil yang abis dipalakin preman kampung, nangis sesunggukkan.

Yeah, lo nggak salah baca Bocah(ehem, gue yakin lo baca), gue nangis. Bahkan saat gue nulis kalau gue nangis ini, mata gue masih merah, muka gue juga masih memble akut. Mata gue rasanya berat banget inget dalam waktu kurang dari 2 X 24 jam lo pergi nun jauh lintas samudra lintas benua. Iya gue tau gue cengeng. Biarin. Nggak peduli. Gue cuma peduli kalau gue emang beneran sedih dan mata gue selalu basah inget satu penerbangan ke Amerika hari Selasa tanggal 7 Agustus 2012 jam 14.00 WIB kurang dari 2 X 24 jam ini.

Bocah, gue nggak pernah tau kalau gue akan ketemu lo, gue akan temenan sama lo, gue akan punya temen yang…yang apa ya?…temen yang bisa gue tangisin gara-gara mau ninggalin gue dan semua yang ada di Indonesia untuk mimpinya di Mizzouri sana.

Gue sebenernya ogah kayak gini. Gue pengennya bisa nemenin lo nggak pake sedih, nggak pake nangis, nggak pake mellow-mellow-an. Gue pengennya bisa nemenin lo sampai bener-bener ninggalin gue ribuan kilometer dengan santai, bercanda, ketawa, dan bego-begoan kayak biasa, tapi susah ternyata. Gue sedih. Mutlak sedih.

Dan lo tau nggak Bocah, sekarang ini gue lagi mikir. Gue lagi mikir gimana caranya gue besok bisa dateng ke depan muka lo, meluk lo erat-erat dan bilang gue jagoan dengan lancar. Gue nggak yakin gue bisa. Gue nggak yakin kalau gue akan tahan. Terserah deh kalau dibilang berlebihan, tapi kayak yang udah gue tulis tadi. Gue sedih. Mutlak sedih. Dan gue nggak peduli, gue cuma peduli kalau gue emang beneran sedih.

Christina Borries; Label “kutilangdarat” Tidak Berlaku Padanya

Kurus tinggi langsing dada rata, sejak dulu sudah jadi tagline tidak terpisahkan dari para model catwalk. Tapi bagi model satu ini, ungkapan tersebut hampir tidak berlaku. Ia memang tinggi dan langsing, namun tubuhnya tidak kurus, apalagi berdada rata.

Christina Borries. Foto: Composite E-Model Management

Ada begitu banyak model yang setiap harinya turut mewarnai dunia mode Indonesia. Puluhan perempuan-perempuan jangkung yang memiliki proporsi tubuh nyaris serupa satu sama lainnya. Tinggi semampai di atas 170cm, tubuh langsing bahkan cenderung super skinny, serta memiliki lingkar dada dan hips yang jauh dibawah rata-rata. Perempuan-perempuan pemegang garda terdepan dunia mode yang sering mendapat sebutan kutilangdarat. Kutilangdarat tentunya bukan sama sekali berkaitan dengan jenis unggas, tetapi kutilangdarat adalah sebuah singkatan dari 4 hal yang melukiskan bagaimana proporsi tubuh para model catwalk kebanyakkan, kurus, tinggi, langsing, dan berdada rata.

Secara generalilasi ugkapan kutilangdarat mungkin memang terasa cocok bagi sebagian besar model catwalk yang hingga kini eksis dalam peta permodelan tanah air. Namun jika kita melepaskan generalisasi dan menelaah lebih seksama, nyatanya tidak semua model catwalk adalah perempuan dengan label kutilangdarat.

Biyan Annual Fashion Show 2011-2012 “The Orient Revisited”

Fashion Show VALENTINO di Pembukaan PI Fashion Week 2012. Foto: Windy Sucipto

“The Catwalk Moment” oleh Obin untuk BIN House di JFW 2011-2012.

Dia adalah Christina Borries, salah seorang model catwalk yang telah mencatatkan karir modelingnya sejak tahun 2001 silam. Lahir di Bandung 21 Agustus 1984, dia adalah salah satu model catwalk yang jauh dari tagline “kutilangdarat. Tubuhnya memang tinggi semampai tak kurang dari 180cm dan beratnya hanya 52kg, namun ia memiliki lekuk tubuh yang sangat menawan. Ia juga memiliki aura sensual yang berbeda, sensual namun anggun, dan ‘mahal’ di satu waktu.

Memulai karirnya ketika masih bersekolah di bangku SMA, Christina memilih untuk bergabung dengan agensi milik desainer Adjie Notonegoro di Ibu Kota, namun sayang lompatan karir pertamanya itu harus terhenti untuk sementara karena ia masih harus menyelesaikan sekolahnya di Bandung. Barulah pada tahun 20 04 ketika ia telah benar-benar menyelesaikan sekolahnya dan menetap di Jakarta, namanya mulai dikenal luas setelah mengikuti ajang Indonesian Model Indosiar(IMI). IMI sendiri merupakan sebuah ajang pencarian bibit baru di dunia modeling Indonesia yang diselenggarakan oleh stasiun TV Indosiar yang menggandeng nama-nama kondang di dunia mode seperti Itang Yunaz dan Okky Asokawati sebagai dewan juri.

Dilahirkan di sebuah keluarga kecil dengan dua kebudayaan berbeda, yakni Ayah yang berkewarganegaraan Jerman berdarah Rusia sementara Ibu-nya seorang wanita Banjarmasin yang kemudian tinggal menetap di kota Bandung, Christina tumbuh menjadi seorang yang memiliki sifat tertutup dan introvert. Dua sifatnya inilah yang kemudian menimbulkan masalah ketika ia terjun di dunia modeling.

Fashion Show “Fashion Nation Senayan City” sekuens IKAT oleh Didiet Maulana.

Sekuens Eddy Betty di Bazaar Langgam Tiga Hati Fashion Celebration 2011.

Foto Composite E-Models Management.

“Tribute to The Cure” oleh Ve Dhanito.

Membutuhkan waktu yang lama baginya untuk bisa nyaman menjadi seorang model yang harus tampil di depan orang banyak. Namun perjalanan karirnya di dunia mode semakin lama membuatnya banyak belajar. Sifatnya yang tertutup dan sangat introvert perlahan mulai berkurang, ia mulai lebih banyak berbicara dan sedikit terbuka kepada orang baru, krisis percaya diri yang dulu sempat ia alami pun lama kelamaan teratasi.

Selama lebih dari sepuluh tahun karir modelingnya, nama Christina Borries telah dikenal luas sebagai salah satu model papan atas kesayangan para desainer ternama. Sebastian Gunawan, Biyan, Didi Budihardjo, Sally Koeswanto, Ghea Panggabean, Eddy Betty hingga Edward Hutabarat merupakan sebagian kecil desainer ternama Indonesia yang pernah bekerjasama dengan model yang sangat menggemari aktivitas membaca ini. Lintasan catwalk yang ia lalui tidak hanya di dalam negeri saja, negara-negara di Asia seperti Jepang, Cina, Hongkong dan Singapura pernah ia cicipi di sepanjang karir modelingnya.

Membayangkan dirinya suatu saat tidak lagi eksis di dunia modeling Indonesia, Christina berkeinginan untuk memperdalam dunia bisnis. Memiliki clothing line, restaurant, salon, serta jenis usaha lain yang masih berhubungan dengan makanan, fesyen, dan kecantikkan menjadi bagian dari impiannya satu saat nanti.