Millie Shoes ; Cinta Pada Pendengaran Pertama

Koleksi Gwen dari Millie Shoes.

Seorang teman baik saya memeberi tahu tentang brand satu ini beberapa bulan lalu. Ia meminta saya untuk melihat-lihat koleksinya, dan memberikan komentar  tentang bagaimana sepatu-sepatu disana. Teman baik saya itu adalah Billy Tjong, desainer yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia mode Indonesia, desainer yang juga menjadi otak dibalik brand sepatu ini, Millie Shoes.

Pertama kali saya mendengar nama brand ini disebutkan Koko Billy, panggilan akrab saya untuknya, saya menegakkan kedua telinga saya dan memintanya untuk mengulang menyebutkan nama brand sepatu miliknya sekali lagi. Ia bilang, “Millie”. Mendengar nama brand itu saya langsung tersenyum, namanya lucu, menarik, perempuan sekali, dan saya tahu bahwa saya jatuh cinta walau ketika itu hanya sebatas cinta pada namanya saja.
Bagi saya, mendengar kata “Millie” adalah kesenangan tersendiri. Lucu, manis, imut, cantik, dan beberapa kata lainnya yang bisa mewakili imej seorang perempuan masa kini yang manis dan sangat lovable. Berangkat dari rasa jatuh cinta dengan nama “Millie” saya segera berselancar di dunia maya untuk melihat seperti apa si “Millie” ini?.

Koleksi Gwen dari Millie Shoes.

Koleksi Alison dari Millie Shoes.

Koleksi Beatrice dari Millie Shoes.

Ada 13 koleksi sepatu yang terpampang di website-nya, millieshoes.com . Saya memperhatikannya dengan seksama, melihatnya satu persatu. Lalu saya tahu ada pemberitahuan baru pada diri saya, Millie Shoes telah membuat saya jatuh cinta, dan bukan hanya sebatas nama tetapi juga pada pada koleksinya. Kalau kalian sering mendengar istilah, Love at The First Sight, mungkin saya dengan Millie istilahnya diganti dengan Love at The First Heard…hahahaaa. Mungkin agak sedikit konyol dan lucu, tapi saya rasa memang begitulah saya dengan brand sepatu satu ini. Pertama mendengar namanya saja sudah jatuh cinta, lalu melihat koleksi-koleksinya membuat jatuh semakin dalam, dan kemudian ada banyak alasan lainnya yang membuat Millie semakin lovable dimata saya.

Begini, biar saya ceritakan.

Hal pertama, Millie adalah sepatu yang dibuat secara homemade oleh salah satu desainer yang sangat saya sukai koleksi gaun-gaunnya yang cantik(terlepas dari fakta Koko Billy salah satu teman saya, saya memang sangat menyukai koleksinya), Billy Tjong.

Kedua, Millie punya nama yang lucu dan imut yang ternyata adalah gabungan dari nama Mimi Billy, Mimi adalah nama Kakak Koko Billy sekaligus rekan bisnisnya.

Ketiga, Millie dibuat secara homemade dan didesain oleh seorang Billy Tjong tetapi punya rentan harga yang reasonable dan tidak terlampau mahal untuk ukuran high heels, yang sekali lagi harus dikatakan bahwa dirancang oleh desainer sekelas Billy Tjong dan, sekali lagi, dibuat secara homemade.

Keempat, FREE SHIPING!. Iya, bener, sumpah, saya nggak bohong, Millie Shoes FREE SHIPING bukan hanya untuk wilayah Jabodetabek saja, tetapi untuk wilayah Jawa dan Bali. Keren!. Lumayan banget kan bisa menghemat sekian rupiah?.

Kelima, Millie Shoes punya garansi penukaran sepatu dalam batas 7 hari dari waktu pengiriman barang dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Keenam, setelah saya membicarakan banyak hal lebih dalam tentang Millie Shoes, barulah saya tahu kalau customer Millie yang punya masalah dengan ukuran kaki, bisa memesan nomor yang sesuai untuknya.

Ketujuh, meski masih tergolong baru, desain-desain sepatu Millie cukup variatif dan menarik untuk saya. Dari yang desainnya bermain di zona, aman sampai yang sedikit tidak biasa. Begitu juga dari segi pemilihan warna, ada warna-warna pastel yang aman, warna gelap semisal hitam, sampai warna dan playfull semacam shocking pink dan orange.

Koleksi Ashley dari Millie Shoes.

Koleksi Gio dari Millie Shoes.

Tujuh alasan untuk Millie Shoes. Tujuh alasan yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan brand satu ini. Tujuh alasan yang sudah lebih dari cukup bagi saya untuk menerima tawaran menjadi bagian dari keluarga besar Millie Shoes. Yap, mulai saat ini, atau lebih tepatnya beberapa waktu lalu, saya telah jadi bagian dari tim development Millie Shoes, brand sepatu yang sudah membuat saya jatuh cinta di pendengaran pertama.

Batik Edward Hutabarat Yang Super Cantik!

Edward Hutabarat Part One di Hotel Dharmawangsa. Koleksi ultra cantik dari Edward Hutabarat.

Hari itu saya melangkahkan kaki ke Hotel Dharmawangsa dengan terburu-buru. Saya begitu dikejar waktu sampai-sampai saya bahkan lupa kapan tepatnya waktu itu. Saya hanya ingat, hari itu saya tiba sekitar pukul lima sore, dan usai memarkirkan motor saya mesti setengah berlari ke lounge hotel untuk menemui seorang teman. Saya ada janji dengan teman saya ini untuk bertemu dan memintanya jadi perantara saya untuk mewawancarai seorang model yang dikenal dengan gayanya yang nyentrik. Hmmm…siapa ya?.Ah, saya tidak ingin membahasnya .

Saya datang tanpa ekspetasi apa-apa tentang deretan busana yang akan dipamerkan. Saya datang tanpa tahu jika peragaan busana karya Edward Hutabarat kali itu dalam rangka peluncuran produk teranyar salah satu bank lokal ternama. Saya datang bahkan tanpa berniat untuk meliput jalannya acara. Karena saya datang untuk menemui seseorang yang sudah saya incar sejak lama untuk menjadi salah satu narasumber “my next project” . Karena saya datang dengan keinginan utama itu saja, mewawancara. Dan jika pada kenyataannya saya mendapatkan lebih dari ekspetasi saya. Dan jika pada kenyataannya saya malahan dapat suguhan satu peragaan busana berbahan dasar kain batik yang super cantik karya Edward Hutabarat, saya tidak ingin melakukan hal lain selain menikmati dan mengagumi setiap potong busana yang saya lihat dari jarak dekat itu. Oh, dan tentunya mengabadikannya dalam potongan-potongan gambar.

Edward Hutabarat Part One, Hotel Dharmawangsa. Model: Kelly Tandiono

Edward Hutabarat Part One, Hotel Dharmawangsa. Model: Jenny Zhang

Edward Hutabarat Part One, Hotel Dharmawangsa. Model: Reti Ragil Riani

Edward Hutabarat, Hotel Dharmawangsa. Motif batik Megamendung yang di blok kotak-kotak, Edward Hutabarat jenius!. Model: Dinda Alvita

Edward Hutabarat Part One, Hotel Dharmawangsa. Setelah motif Megamendung, giliran lurik yang dibuat aneka warna dan di blok kotak-kotak, tiga kali keren!.

Edward Hutabarat Part One, Hotel Dharwangsa. Parang Rusak+Phoenix= SUPERB!. Model: Antie Damayanti

Edward Hutabarat Part One, Hotel Dharmawangsa. Batik Mini Dress-nya cantik banget, saya mau punya ini satu di lemari baju 😀 . Model: Renata

Edward Hutabarat Part One, Hotel Dharmawangsa. Ini salah satu backless dress paling cantik yang pernah saya lihat. Amat sangat suka dress ini. Model: Tiara Westlake

 

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013; Selamat Datang di “Tomorrow Land” !

Tentang sebuah perjalanan. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang interpretasi satu tempat impian rumah masa depan dimana kreatifitas, imajinitas serta dinamisnya hidup jadi komponen utama pembentuk kehidupan.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land” di Fairground SCBD

Saya masih ingat benar, dua tahun lalu, sekitar pertengahan tahun 2010, saya tergila-gila setengah mati dengan sebuah peragaan busana berupa Annual Show dari (X).S.M.L yang menyulap sebuah Bar&Resto di daerah Kuningan menjadi bunker ala militer lengkap dengan karung-karung goni, peti-peti kayu, jaring-jaring latihan, hingga jeep ala militer. Kala itu (X).S.M.L sukses besar membawa atmosfer ala militer pada peragaan busana koleksi teranyarnya.

Pada Annual Show nya itu semua terasa begitu menyatu, mulai dari tata artistik area peragaan busana, make up dan gaya rambut para model, sampai deretan busana siap pakai berorientasi pada detil-detil busana ala militer. Setelahnya, atau lebih tepatnya berhari-hari, bulan, bahkan tahun setelah lewat peragaan busana (X).S.M.L kala itu, di kepala saya masih terus terbayang-bayang semua detil yang ada pada malam itu. Saya merasa benar-benar jatuh cinta pada Annual Show (X).S.M.L dan pada busana-busana yang diperagakan pada saat itu.

Bagi saya, Annual Show (X).S.M.L pada tahun 2010 itu adalah salah satu peragaan busana siap pakai terbaik yang pernah ada dan pernah saya saksikan. Lalu di tahun 2012 ini setelah melewati 1 tahun tanpa Annual Show, (X).S.M.L kembali membuat saya terpukau dengan persembahan Annual Show yang ia selenggarakan.

Suasana sebelum show dimulai di dalam area utama

Pesawat “Tomorrow Land” mendarat di atas landasan

Ratusan orang datang pada malam itu, mengantre di depan sebuah gerbang yang masih ditutup, gerbang yang pada bagian atasnya tertulis rangkaian kata “Broading Time Tomorrow Land”. Mereka telah bersiap, membawa satu undangan serupa passport pesawat terbang. Ratusan orang, ratusan passport keberangkatan, tapi hanya satu tujuan. Sama seperti yang tertulis di atas gerbang keberangkatan, sama seperti yang tertulis pada passport masing-masing orang, tujuan hari itu hanya satu tempat, “Tomorrow Land”.

Kurang lebih seperti itulah gambaran yang terekam di ingatan saya pada Jumat malam (14/09) lalu. Ratusan orang yang sebagian besar patuh pada dresscode bertema “modern” memenuhi area Fairground SCBD atau yang dulu lebih dikenal dengan nama Bengkel Night Park. Ratusan orang, termasuk saya, pada malam itu terlihat begitu antusias dan bersemangat menunggu sebuah gerbang besar dibuka lebar, gerbang yang di atasnya terdapat teks hologram berjalanan bertuliskan “Boarding Time Tomorrow Land”.

Tapi jangan cepat salah sangka dengan kata-kata broading time, juga passport yang dipegang masing-masing orang, serta suasana sekitar yang tak ubahnya terminal keberangkatan di suatu bandar udara. Saya dan ratusan orang lainnya bukan hendak pergi menggunakan pesawat terbang ke tempat nun jauh disana, karena percayalah,  “Tomorrow Land” tidak benar-benar ada. “Tomorrow Land” hanyalah satu destinasi imajiner yang diciptakan oleh orang-orang “sinting” dibalik brand (X).S.M.L.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land” . Model: Kelly Tandiono

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: JRyan Karsten

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Renata

“Everybody deserve to have a different interpretation of place for them to live and have a life”, begitulah kata-kata yang tertulis sebagai tagline Annual Show (X).S.M.L 2012/2013. Interpretasi berbeda, ya, setiap orang memiliki interpretasi berbeda tentang segala hal, termasuk tempat dimana ia akan memiliki satu kehidupan. Interpretasi inilah yang kemudian diolah oleh (X).S.M.L sebagai ruh utama pada rangkaian koleksi teranyarnya.

Area Fairground yang biasa dijadikan tempat berlangsungnya konser band-band indie lokal dan mancanegara disulap serupa terminal keberangkatan pesawat terbang. Begitu pula ketika gerbang keberangkatan dibuka lebar dan para tetamu undangan dipersilakan masuk, mereka yang datang akan melihat satu panggung catwalk yang di rancang seperti lapangan landasan udara. Satu replika pesawat terbang pun dihadirkan di pangkal panggung catwalk, dan dari dalam pesawat itulah satu persatu model Annual Show (X).S.M.L memulai langkahnya di atas panggung catwalk.

Memamerkan 108 outfits, (X).S.M.L menyatukan konsep modern minimalism dengan sentuhan romantisme masa muda. Detil asimetris dan tiga dimensi yang selama ini jadi ciri khas (X).S.M.L kembali ditampilkan pada tiap potong busana. Silluet busana yang bermain-main dengan detil, volume, serta struktur ini pun di perlihatkan dalam bentuk rounded sleeves, oversized shapes, dan boxy shapes.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Ayu Faradilla

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Laura Basuki

Motif polkadot, segitiga, serta motif print lain yang unik dieksplorasi lebih dalam dan menghasilkan banyak motif abstrak yang menarik. Motif-motif ini lalu diwujudkan dalam kombinasi bahan-bahan khas busana siap pakai semisal katun, bahan rajutan, kulit sintetis, serta bahan-bahan bermaterial serat tipis nan halus lainnya yang sangat cocok dikenakan di negara tropis.

Sementara untuk palet warna, (X).S.M.L Fall/Winter 2012/2013 menyuguhkan warna-warna monokromatik semisal putih, putih gading, abu-abu, pink pupus, khaki, hitam, dan navy. Desain, bahan, motif, warna, detil, hingga cutting ke-108 outfits koleksi (X).S.M.L terasa sangat khas anak muda kota-kota metropolitan dewasa ini yang sangat gandrung busana berwarna monokrom, pastel, dengan garis rancang dipenuhi twist disana-sini.

Item standar busana siap pakai semisal jaket dipermainkan sedemikian rupa sehingga dapat dialihrupakan menjadi beberapa model yang sangat menarik. Pembubuhan detil semisal resleting dan kancing dibeberapa bagian pun turut jadi andil besar dalam aneka twist yang tercipta pada beberapa busana.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Renata

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Nico Christanto

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Kimberly

Keseluruhan tata artistik, koleksi busana, dan atmosfer yang tercipta pada Annual Show (X).S.M.L 2012/2013 juga semakin diperkuat oleh 24 model wanita dan 12 model laki-laki yang tampil memesona dengan make up dan hair do yang terasa pas, meski saya sedikit terganggu dengan model rambut klimis dengan “kelebihan” di bagian depan para model laki-laki.

Merangkum dua kali Annual Show (X).S.M.L yang saya datangi, rasanya konsep dari Annual Show itu sendiri memang jadi bagian utama yang tidak bisa dilepaskan. Tingkat kematangan konsep serta eksekusi yang begitu mengagumkan, membuat jajaran koleksi busana siap pakai yang dipamerkan jauh dari kata membosankan.

Secara keseluruhan Annual Show (X).S.M.L 2012/2013 “Tomorrow Land” berhasil membawa tamu undangan yang hadir mengikuti satu perjalanan menuju suatu destinasi imajiner yang terlampau menarik untuk dilewatkan. Destinasi imajiner yang mungkin suatu saat nanti akan bersama-sama kita tinggali esok hari, destinasi yang dilukiskan (X).S.M.L sebagai “Tomorrow Land”.

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Dominique Diyose

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Richard Fiando

(X).S.M.L Annual Show 2012/2013 “Tomorrow Land”. Model: Drina Ciputra

Jika setiap orang memiliki interpretasi tersendiri berbagai hal, maka saya mempunyai interpretasi tentang “Tomorrow Land”. “Tomorrow Land” adalah sesuatu yang lebih dari sekadar destinasi perjalanan. “Tomorrow Land” adalah sebuah proses pencarian tempat hidup dan berkehidupan. “Tomorrow Land” adalah satu perjalanan dalam hidup dimana dalam perjalanan itu mimpi akan masa depan yang jauh lebih baik berkembang secara dinamis mengikuti alur kehidupan. Ya, “Tomorrow Land” adalah proses dan perjalan”. Bagi saya. Tetapi bagi (X).S.M.L nampaknya “Tomorrow Land” adalah suatu proses pencapaian yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai brand busana siap pakai dalam negeri paling diperhitungkan dalam segala aspek, termasuk konsep serta aktualisasi diri.

Balada Sekolah Gratis

Gue pengen curhat, bukan tentang kejadian belakang panggung, bukan tentang temen kesayangan gue yang ninggalin gue ke negerinya Pakde Sam, dan bukan juga kejadian absurd yang sering gue alami, karena gue lagi penegn curhat tentang sekolah gue. Sekolah yang sekarang gratis(?).

Mungkin buat sebagian orang, saat pertama kali mendengar wacana “Sekolah di Wilayah DKI Jakarta Akan Digratiskan Sampai Tingkat SMA Sehubungan Dengan Program Wajib Belajar 12 Tahun” akan menyambutnya sebagai kabar yang menyenangkan. Gue juga begitu, saat pertama kali gue denger tentang hal itu, rasanya campur aduk. Seneng sih jelas, dan ada perasaan lega karena dengan digratiskannya sekolah sampai tingkat SMA, berarti pengeluaran orangtua gue pun akan berkurang. Tapi seiring berjalannya waktu, gue jadi bertanya-tanya sendiri tentang program ini,

“Beneran nih sekolah gue gratis sampai SMA?”.

Ya memang sih gue sekarang udah kelas XII dan itu artinya, waktu gue untuk merasakan ke “gratis” an sekolah sampai jenjang SMA hanya berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Tapi tetep aja, otak gue yang kebetulan setiap Senin sampai Jum’at selalu ngebul di dalem kelas karena dijubelin lebih dari sepuluh mata pelajaran dalam lima hari sekolah, nggak bisa berhenti bertanya tentang program ini, atau lebih tepatnya sih, bertanya-tanya dan berkomentar. Pertanyaan seputar,

“Akan bagaimanakah gue dan sekolah gue setelah program peng-gratis-an ini?”.

Dan sekarang, atau mungkin akan lebih tepat kalau gue bilang akhir-akhir ini, pelan tapi pasti gue mendapatkan jawabannya. Jawaban yang kalau mau gue rangkumin dalam tiga kata akan terucap dengan “lumayan kacau sih”.

Sekolah gratis. Seperti yang gue bilang tadi, awalnya kedengeran keren banget dan menyenangkan karena bayaran yang tiap bulannya berkisar antara 250 ribu rupiah sampai 350 ribu rupiah bahkan lebih untuk sekolah-sekolah negeri unggulan akan dihapuskan. Tapi, gini, ketika bayaran sekolah dihapuskan yang mana sebenarnya bayaran sekolah adalah salah satu sumber dana utama pemasukan sekolah untuk menunjang operasional dihapuskan, lantas sekolah gue dan sekolah-sekolah lainnya dapet dana operasional darimana?. Pemerintah?. Ya harusnya sih emang begitu, seharusnya sekolah gue dan sekolah-sekolah yang lain dapet dana operasional dari pemerintah. Dan memang dapet. Tapi, cukupkah?.

Nah, untuk “cukupkah?” nya ini yang gue nggak yakin. Kalau misalnya dana operasional dari pemerintah cukup,

“Kenapa AC disekolah gue udah terancam di cabut gara-gara sekolah nggak bisa lunasin cicilannya?”,

“Kenapa beberapa guru honorer di sekolah gue pada cabut keluar kota?”,

“Kenapa mobil operasional sekolah gue kemungkinan akan jadi pajangan di sekolah doang karena masalah teknis, bahan bakar, perawatan dan segala macemnya yang nggak bisa tercukupi dananya?”,

“Kenapa guru bagian prasarana gue udah bingung setengah mati gimana caranya renovasi salah satu ruang yang tadinya terbengkalai untuk difungsikan kembali?”,

“Kenapa beberapa guru di awal bulan ini masuk kelas dengan terlebih dulu curhat tentang sekolah gratis yang masih banyak kekurangan?”, dan masih ada kenapa, kenapa, dan kenapa yang lainnya.

Sekolah gratis untuk wilayah DKI Jakarta. Buat gue program itu benar-benar menyisakan banyak pertanyaan dan keraguan. Siapkah pemkot DKI Jakarta untuk menanggung seluruh biaya operasional sekolah negeri di DKI Jakarta?. Dan maksud gue disini menanggung seluruh biaya operasional berarti memang seluruhnya, seperti biasa ketika bayaran sekolah masih ada. Karena gini deh, buat gue, agak percuma sekolah gratis kalau si sekolah malah jadi nggak bisa ngembangin diri dan SDM di dalamnya dengan lebih leluasa.

Pemotongan biaya operasional disana-sini. Pengurangan ini itu. Ketidak tersediaan dana pendukung untuk mengadakan kegiatan sekolah ini itu yang sifatnya untuk menunjang kemajuan sekolah serta SDM nya. Gue pribadi sih agak gagal paham aja. Kenapa ya pemkot nggak coba cari alternatif lain selain benar-benar meniadakan bayaran?. Misalnya dengan “hanya” pengurangan jumlah nominalnya, atau pembebasan bayaran hanya bagi siswa kurang mampu, atau cara-cara lain yang lebih masuk akal dibandingkan dengan penghapusan bayaran yang mengorbankan banyak hal dan membatasi ruang gerak pengembangan sekolah dan SDM alias siswa-siswinya.

Nih ya, masa gue aja sampai terancam gagal PM alias Pendalaman Materi gara-gara PM itu memang diharuskan ada bayaran tersendiri karena sekolah gratis dan nggak boleh mungut bayaran dari siswanya. Agak stress sih itu. Secara gue udah kelas XII, harus persiapan untuk UN, SNMPTN dll, harus ada Pendalaman Materi, tapi masa mau dihapuskan karena PM menarik bayaran.

Heran, dipikir itu guru-guru yang ngajarin PM nggak capek ngorbanin waktu, tenaga, dan pikiran buat menambahkan jam pelajaran untuk murid-muridnya?. Buat gue pribadi sih selama dalam masih batasan wajar, nggak masalah ada penarikan bayaran dan lain sebagainya. Oiya dan satu lagi, selain dalam batasan wajar, kalau distribusinya jelas untuk apa-apa saja, gue yakin banget kok nggak akan ada murid atau orangtua murid yang keberatan. Siapa juga yang akan keberatan mengeluarkan dana untuk investasi masa depan yang lebih baik?.

Gue nulis tentang semua ini sama sekali bukan bermaksud untuk sok-sok an atau sok kaya atau sok pake mau bayaran segala. Bukan, bukan, bukan itu yang jadi point gue. Karena yang jadi point gue sudah siapkah kita untuk peng-gratis-an jenjang pendidikan hingga 12 tahun?.

Siapkah pemkot DKI Jakarta mengeluarkan anggaran dana pendidikan yang sepadan untuk sekolah-sekolah?, karena gue nggak bisa ngebayangin gimana membosankannya sekolah tanpa kegiatan lain selain belajar di dalam kelas. Nggak ada pensi, nggak ada belajar langsung ke lapangan alias study tour, nggak ada acara keagamaan semacam Idul Adha, Isra Mijraj, Maulid Nabi, Ret-ret dan lainnya, nggak ada porseni alias pekan olahraga dan seni, dan nggak ada segala macam kegiatan lain yang memerlukan dana tambahan yang nggak sedikit.

Dan, siapkah para siswa-siswi jika sekolah tanpa bayaran atau gratis?. Siapkah mereka untuk lebih membangun tanggung jawab terhadap diri sendiri?, karena pada banyak kasus yang terjadi, sekolah-nya bayaran mahal-mahal aja masih sering pada bolos-bolos nggak jelas, ya apalagi kalau gratis?.

“Siap nggak ya kira-kira?”

Sampai sekarang, gue juga masih menanyakan hal ini ke diri gue sendiri.