Balada Sekolah Gratis

Gue pengen curhat, bukan tentang kejadian belakang panggung, bukan tentang temen kesayangan gue yang ninggalin gue ke negerinya Pakde Sam, dan bukan juga kejadian absurd yang sering gue alami, karena gue lagi penegn curhat tentang sekolah gue. Sekolah yang sekarang gratis(?).

Mungkin buat sebagian orang, saat pertama kali mendengar wacana “Sekolah di Wilayah DKI Jakarta Akan Digratiskan Sampai Tingkat SMA Sehubungan Dengan Program Wajib Belajar 12 Tahun” akan menyambutnya sebagai kabar yang menyenangkan. Gue juga begitu, saat pertama kali gue denger tentang hal itu, rasanya campur aduk. Seneng sih jelas, dan ada perasaan lega karena dengan digratiskannya sekolah sampai tingkat SMA, berarti pengeluaran orangtua gue pun akan berkurang. Tapi seiring berjalannya waktu, gue jadi bertanya-tanya sendiri tentang program ini,

“Beneran nih sekolah gue gratis sampai SMA?”.

Ya memang sih gue sekarang udah kelas XII dan itu artinya, waktu gue untuk merasakan ke “gratis” an sekolah sampai jenjang SMA hanya berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Tapi tetep aja, otak gue yang kebetulan setiap Senin sampai Jum’at selalu ngebul di dalem kelas karena dijubelin lebih dari sepuluh mata pelajaran dalam lima hari sekolah, nggak bisa berhenti bertanya tentang program ini, atau lebih tepatnya sih, bertanya-tanya dan berkomentar. Pertanyaan seputar,

“Akan bagaimanakah gue dan sekolah gue setelah program peng-gratis-an ini?”.

Dan sekarang, atau mungkin akan lebih tepat kalau gue bilang akhir-akhir ini, pelan tapi pasti gue mendapatkan jawabannya. Jawaban yang kalau mau gue rangkumin dalam tiga kata akan terucap dengan “lumayan kacau sih”.

Sekolah gratis. Seperti yang gue bilang tadi, awalnya kedengeran keren banget dan menyenangkan karena bayaran yang tiap bulannya berkisar antara 250 ribu rupiah sampai 350 ribu rupiah bahkan lebih untuk sekolah-sekolah negeri unggulan akan dihapuskan. Tapi, gini, ketika bayaran sekolah dihapuskan yang mana sebenarnya bayaran sekolah adalah salah satu sumber dana utama pemasukan sekolah untuk menunjang operasional dihapuskan, lantas sekolah gue dan sekolah-sekolah lainnya dapet dana operasional darimana?. Pemerintah?. Ya harusnya sih emang begitu, seharusnya sekolah gue dan sekolah-sekolah yang lain dapet dana operasional dari pemerintah. Dan memang dapet. Tapi, cukupkah?.

Nah, untuk “cukupkah?” nya ini yang gue nggak yakin. Kalau misalnya dana operasional dari pemerintah cukup,

“Kenapa AC disekolah gue udah terancam di cabut gara-gara sekolah nggak bisa lunasin cicilannya?”,

“Kenapa beberapa guru honorer di sekolah gue pada cabut keluar kota?”,

“Kenapa mobil operasional sekolah gue kemungkinan akan jadi pajangan di sekolah doang karena masalah teknis, bahan bakar, perawatan dan segala macemnya yang nggak bisa tercukupi dananya?”,

“Kenapa guru bagian prasarana gue udah bingung setengah mati gimana caranya renovasi salah satu ruang yang tadinya terbengkalai untuk difungsikan kembali?”,

“Kenapa beberapa guru di awal bulan ini masuk kelas dengan terlebih dulu curhat tentang sekolah gratis yang masih banyak kekurangan?”, dan masih ada kenapa, kenapa, dan kenapa yang lainnya.

Sekolah gratis untuk wilayah DKI Jakarta. Buat gue program itu benar-benar menyisakan banyak pertanyaan dan keraguan. Siapkah pemkot DKI Jakarta untuk menanggung seluruh biaya operasional sekolah negeri di DKI Jakarta?. Dan maksud gue disini menanggung seluruh biaya operasional berarti memang seluruhnya, seperti biasa ketika bayaran sekolah masih ada. Karena gini deh, buat gue, agak percuma sekolah gratis kalau si sekolah malah jadi nggak bisa ngembangin diri dan SDM di dalamnya dengan lebih leluasa.

Pemotongan biaya operasional disana-sini. Pengurangan ini itu. Ketidak tersediaan dana pendukung untuk mengadakan kegiatan sekolah ini itu yang sifatnya untuk menunjang kemajuan sekolah serta SDM nya. Gue pribadi sih agak gagal paham aja. Kenapa ya pemkot nggak coba cari alternatif lain selain benar-benar meniadakan bayaran?. Misalnya dengan “hanya” pengurangan jumlah nominalnya, atau pembebasan bayaran hanya bagi siswa kurang mampu, atau cara-cara lain yang lebih masuk akal dibandingkan dengan penghapusan bayaran yang mengorbankan banyak hal dan membatasi ruang gerak pengembangan sekolah dan SDM alias siswa-siswinya.

Nih ya, masa gue aja sampai terancam gagal PM alias Pendalaman Materi gara-gara PM itu memang diharuskan ada bayaran tersendiri karena sekolah gratis dan nggak boleh mungut bayaran dari siswanya. Agak stress sih itu. Secara gue udah kelas XII, harus persiapan untuk UN, SNMPTN dll, harus ada Pendalaman Materi, tapi masa mau dihapuskan karena PM menarik bayaran.

Heran, dipikir itu guru-guru yang ngajarin PM nggak capek ngorbanin waktu, tenaga, dan pikiran buat menambahkan jam pelajaran untuk murid-muridnya?. Buat gue pribadi sih selama dalam masih batasan wajar, nggak masalah ada penarikan bayaran dan lain sebagainya. Oiya dan satu lagi, selain dalam batasan wajar, kalau distribusinya jelas untuk apa-apa saja, gue yakin banget kok nggak akan ada murid atau orangtua murid yang keberatan. Siapa juga yang akan keberatan mengeluarkan dana untuk investasi masa depan yang lebih baik?.

Gue nulis tentang semua ini sama sekali bukan bermaksud untuk sok-sok an atau sok kaya atau sok pake mau bayaran segala. Bukan, bukan, bukan itu yang jadi point gue. Karena yang jadi point gue sudah siapkah kita untuk peng-gratis-an jenjang pendidikan hingga 12 tahun?.

Siapkah pemkot DKI Jakarta mengeluarkan anggaran dana pendidikan yang sepadan untuk sekolah-sekolah?, karena gue nggak bisa ngebayangin gimana membosankannya sekolah tanpa kegiatan lain selain belajar di dalam kelas. Nggak ada pensi, nggak ada belajar langsung ke lapangan alias study tour, nggak ada acara keagamaan semacam Idul Adha, Isra Mijraj, Maulid Nabi, Ret-ret dan lainnya, nggak ada porseni alias pekan olahraga dan seni, dan nggak ada segala macam kegiatan lain yang memerlukan dana tambahan yang nggak sedikit.

Dan, siapkah para siswa-siswi jika sekolah tanpa bayaran atau gratis?. Siapkah mereka untuk lebih membangun tanggung jawab terhadap diri sendiri?, karena pada banyak kasus yang terjadi, sekolah-nya bayaran mahal-mahal aja masih sering pada bolos-bolos nggak jelas, ya apalagi kalau gratis?.

“Siap nggak ya kira-kira?”

Sampai sekarang, gue juga masih menanyakan hal ini ke diri gue sendiri.

 

5 thoughts on “Balada Sekolah Gratis

  1. yah begitulah ya kalo cuma rencana yang dijalankan tanpa digodok matang. digodok matang kelamaan dan jadinya ngga kelar2. diterapkan cepat2 tp bnyk bolong sana sini. kebayang sih emang kalo sekolah jd pada ngirit. Emang sih pihak siswa tidak terbebani dengan biaya2 yg ditarik sekolah. Tapi kalo sekolahnya sampe ngirit abis2an gara2 dana operasionalnya ga ada, wah bahaya tuh…. bosennya bisa kaya apa yah. peralatan olahraga kan perlu maintenance. masa kita main basket yang bolanya sudah berudul gara2 ga pernah diganti baru? hahaha… moga2 artikel ini dibaca sama someone yang peduli sama Jakarta yah. Btw, cb follow twitternya cawagub jakarta Ahok. mungkin bisa jadi inspirasinya dia tuh kalo naik jadi wagub beneran🙂

    • Ya begitulah Kak…serba salah, serba susah…Masih bolong-bolong disana-sini…Siapapun Gubenur dan Wakilnya di masa mendatang yang terpenting punya pikiran panjang dan nggak cuma asal bikin keputusan…

  2. Gue seorang siswa di salah satu sma negeri di jakarta. Gue setuju sama pendapat lo! Menurut gue, “Sekolah gratis 12 tahun” itu merupakan proyek yang kurang berhasil. Sarana dan prasarana aja belum diperbaiki. Jadi pemerintah diharapkan meninjau ulang rencana ini.🙂

    • Memang, buat gue juga banyak hal yang belum siap dari program ini. Masih banyak hal yang harus ditinjau ulang. Kesiapan dari semua aspek pelaksanaannya masih kurang banget. Jadi pusing sendiri kalau kayak gini, masa iya gratis tapi ngorbanin mutu sekolah…😦

  3. Saya seorang siswa SMK Negeri 53 (STM) jurusan Teknik Elektro. Sebagai contoh,
    Negara Jepang memberlakukan sekolah gratis sampai jenjang tingkat atas, hingga sekarang, fakta nya sekarang jepang sedang mengalami krisis moneter namun tiada keluhan apapun mengenai pendidikan, karena anggaran nomor 1 di negara tersebut untuk pendidikan! Itu adalah ”negara” mencakup seluruhnya, padahal kita semua tau pendidikan di negara tersebut patut dicontoh. dan hanya ”1 wilayah” di Indonesia yang di operasionalkan menjadikan semua hancur berantakan? Begitukah? . Betapa bodohnya manajemen pemerintahan di indonesia khususnya di DKI Jakarta, mungkin pemikiran seperti ini untuk kalian para anak SMA belum sampai, maaf sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s