Sebastian Gunawan “Club Dahlia”; Refleksi Glamoritas Masa Lalu

Sebastian Gunawan berkisah tentang sebuah gaya hidup yang ia boyong dari masa lalu. Gaya hidup yang dahulu jadi bagian dari kaum jetset di Benua sebrang. Ia lalu meniupkan ruh, menyulam kembali cerita, merangkaikannya satu persatu, menambahkan detil disana-sini, dan mewujudkannya jadi sebuah kenyataan di masa sekarang melalui 101 koleksi bernama “Club Dahlia”.

Sebastian Gunawan “Club Dahlia”. Seluruh Foto Pada Artikel Ini: Windy Sucipto

Grand Ballroom Hotel Mulia Jakarta pada malam itu terlihat lebih mewah dari biasa. Lampu-lampu kristal yang tergantung di langit-langit ruangan serasa makin megah. Mungkin karena deretan kursi-kursi yang ditata secara berundak-undak yang kesemuanya bercat emas. Mungkin karena lintasan catwalk yang terbentang di tengah ruangan dibuah kental nuansa minimalis dengan dilapisi kayu. Mungkin juga karena ruangan besar itu ditata sedemikian rupa, memadukan unsur kewehan jaman Victoria dengan unsur minimalis masa kini yang berorientasi pada alam.

Waktu berjalan, saya yang sudah tidak sabar untuk menyaksikan seperti apa jalannya acara, namun seperti biasa, menunggu 20 menit, 30 menit, atau sedikit lebih adalah hal yang dimaklumi pada setiap acara fesyen. Bukan hanya karena pribadi masyarakat Indonesia yang senang menggunakan “jam karet”, namun pendahuluan acara berupa makan malam, perhitungan tentang siapa-siapa saja yang belum datang, serta beberapa masalah tehknis lainnya pun turut menyumbangkan andil dalam setiap ketidaksesuaian jadwal yang telah diberikan pihak penyelenggara sebelumnya.

Saya memang sudah terbiasa dengan hal itu, dengan ke “jam karetan” peragaan-peragaan busana, bukan hanya satu dua peragaan busana dimana saya harus merelakan waktu saya lebih lama untuk menunggu hingga dimulainya acara. Tetapi tetap saja, setiap saya harus menunggu lebih lama, dalam hati tak bisa berhenti bertanya-tanya, “Kapan fashion show nya dimulai?”. Saya selalu tidak sabar dan penasaran bagaimana peragaan busana akan berlangsung.

Sebastian Gunawan, saya cukup akrab dengan karya-karyanya. Sebastian Gunawan adalah salah satu desainer Indonesia favorit saya. Dulu, karyanya, dan karya Priyo Oktavianno lah yang berhasil menghipnotis saya sehingga saya bisa jatuh cinta dengan dunia fesyen.

Sedikit membuka kenangan lama, peragaan busana pertama yang saya datangi adalah peragaan busana kolaborasi dari empat desainer pada malam pembukaan Jakarta Fashion Week 2009-2010, Sebastian Gunawan, Priyo Oktavianno, dan dua desainer asal India yang saya lupa namanya. Karena itulah, nama Sebastian Gunawan selalu ada di list teratas agenda saya untuk menghadiri sebuah peragaan busana.

Malam itu, tepatnya Selasa 16 Oktober 2012, lebih dari 1000 undangan hadir memenuhi undangan si empunya acara. Mereka, para tamu undangan, datang secara berkala. Kursi-kursi bercat emas yang tadinya kosong, tepat pukul 20.30 WIB benar-benar telah penuh terisi. Setelahnya, hampir semua sumber cahaya di dalam ruangan padam, dan hanya menyisakan satu lampu sorot ke bagian tengah lintasan catwalk. Sesi kata sambutan dimulai, lalu selesai sekitar 10 menit kemudian.

Tidak ada lagi lampu sorot ke bagian tengah lintasan catwalk, tidak ada lagi Sebastian Gunawan yang bertutur tentang acara pada malam itu dengan senyum khasnya yang mengembang di wajah, yang ada hanya video pembuka bernuansa gelap berdurasi 1-2 menit.

Katya Talanova, model pembuka peragaan busana Sebastian Gunawan “Club Dahlia”.

Model: Tiara Westlake

Setelahnya, kemunculan Katya Talanova, model berdarah Rusia kesayangan Seba(panggilan akrab Sebastian Gunawan), jadi pertanda resmi dipertontonkannya 101 koleksi busana teranyar Seba dalam peragaan busana “Club Dahlia”.

Seba memberi nama peragaan busana tahunannya “Club Dahlia, dan kali ini ia tak hanya melansir karya paling mutakhir, ia juga tengah bercerita. Cerita tentang kehidupan kaum perempuan yang telah lama menjadi teman akrab baginya dalam menghasilkan karya. Namun bukan kehidupan kaum perempuan jaman sekarang yang begitu terbuka yang ia tuturkan, karena untuk “Club Dahlia” nya, Seba membuka sebuah album tua yang tercipta lebih dari tujuhpuluh tahun lalu.

Album tua itu menyimpan ratusan foto hitam-putih para perempuan yang berdandan penuh gaya di sebuah tempat. Album tua itu, meski hanya berisi puluhan foto hitam putih masih dapat mengabadikan setiap moment yang pernah ada dengan begitu jelas. Album tua itu, menguarkan bau yang khas, bau yang telah melekat kuat puluhan tahun lamanya. Album tua itu, menyimpan banyak cerita. Album tua itu hanya dimiliki Seba.  Album tua itu begitu nyata, ada dalam imajinasinya.

Album tua yang baru saja dituturkan memang hanya ada dalam kekayaan imajinasi Seba, namun pagelaran busana “Club Dahlia” sungguh nyata dan kaya cerita.

Tak kurang dari 95 koleksi rancangan busana eksklusif lini utama “Sebastian Gunawan” dan 6 gaun pengantin untuk “Sebastian Sposa” ia pamerkan pada peragaan busananya. Total 101 koleksi busananya itu kemudian ia bagi kedalam empat babak berbeda.  Keempatnya merangkum sebuah cerita tentang para perempuan dari “Club Dahlia”, sebuah tempat perkumpulan eksklusif bagi kaum jetset di kawasan Florida, Amerika Serikat, pada era 1940an.

Model: Laura Muljadi

Model: Kimmy Jayanti

Model: Marcella Tanaya

“This Innocence is Brilliance”, adalah sekuens pembuka pada “Club Dahlia”. Sekuens ini menceritakan tentang sisi “manis” dan naïf seorang perempuan yang sering kali terlihat ketika ia mencoba untuk diterima dengan menunjukkan “wajah” terbaiknya, yang entah sungguhan atau hanya “topeng” semata.

Mengambil garis waktu pada saat sore hari, “This Innocence is Brilliance” di dominasi oleh warna-warna cerah, segar, dan lembut, seperti kuning, emas, krem, putih gading, biru muda, dan toska.
Pada sekuens pembuka ini, kita disuguhkan kepiawaian desainer lulusan Instituto Artistico Abbigliamento Marangoni, Milan, Italia, ini dalam mencipta busana-busana effortlessly chic. Atasan peplum, gaun panjang, rok bervolume dengan lipit-lipit, gaun A-simetris, hingga gaun bertali yang dihadirkan oleh Seba semakin menunjukkan karakter indah tubuh perempuan dengan siluet yang mempesona.

Model: Advina Ratnaningsih

Model: Michella Samantha

Model: Drina Ciputra

Detil koleksi dengan aksen-aksen kecil yang proses pengerjaannya membutuhkan ketelitian tinggi ia padu padankan secara unik dengan celana sebatas betis, blus bervolume di pinggang, rok mekar yang ringan namun flirty. Motif print aneka bunga, termasuk didalamnya bunga Dahlia, ia kawinkan dengan apik pada tiap potong busananya untuk sekuens kedua yang ia beri judul “The Beauty of Interaction”. Pada sekuens ini, Seba merefleksikan tentang interaksi yang terjadi antara para perempuan yang bisa dipenuhi tawa dan hal positif, atau malah gunjingan serta penuh intrik.

Model: Dominique Diyose

Model: Christina Borries

Seba memberi judul “Rendition of Collision” untuk sekuens ketiganya. Kali ini ia bermain-main dengan tekstur busana serta kesan elegan sekaligus konstruktif yang ia bangun melalui aplikasi padupadan bahan brocade, lace, dan damask yang dikenal memiliki tekstur kuat. Gaun-gaun malam dengan warna-warna gelap ia padupadakankan dengan model peplum, ada juga yang ia ramu dengan coat berwarna hitam dengan aksen merah yang terlihat semakin mempertegas penampilan. Namun, tak hanya koleksi gaun malam, koleksi everyday-wear pun ia tampilkan dengan meninggalkan kesan feminin dan impresif pada satu waktu.

Model: Tiara Westlake

Sementara itu, mimpi setiap perempuan untuk memperoleh cerita “a happily ever after” nya seperti yang sering kita jumpai pada dongeng-dongeng masa kecil menjadi premis utama dalam sekuens penutup pagelaran busana. “Have Your Dream Come True” adalah subjudul yang ia berikan ketika menyajikan koleksi gaun pengantin super elegan dengan siluet dome shape, serta ballgown.

Dominasi warna putih dan putih gading berpadu emas mempresentasikan suasana sakral kala mengucap janji sehidup semati untuk menutup keseluruhan pagelaran busana “Club Dahlia”.

Model: Christina Borries

Model: Christina Borries

Secara keseluruhan, peragaan busana tahunan dari Sebastian Gunawan “Club Dahlia” tereksekusi dengan sangat apik. Tata panggungnya yang meski dibuat dengan mengadopsi konsep minimalis namun tetap terasa mewah dengan sentuhan aksen kayu. Dekorasi bagian pangkal panggung yang diberi tiang-tiang kayu yang seolah melindungi bunga-bunga dahlia berukuran besar juga menambah keunikkan tersendiri.

Menurut hemat saya, sebenarnya tata panggung yang banyak mengaplikasikan elemen kayu bisa menggagalkan keinginan untuk mengangkat potret kalangan jetset di era 1940an yang ingin ditampilkan Seba, karena kesan minimalis dan sederhana akan menguar kuat.

Namun kepiawaian tim Seba dalam memadupadankan elemen lain semisal deretan kursi-kursi bercat emas yang terkesan amat mewah, juga lampu-lampu kristal yang memang sudah ada di dalam area Ballroom, serta tata lampu yang dibuat menyinari dengan warna kuning keemasan yang sangat dominan, menciptakan perpaduan yang unik, dimana unsur mewah dan minimalis teracik pas dan menyenangkan.

Salah satu dress favorit saya sepanjang “Club Dahlia” nya Seba. Silluetnya bagus banget, detil di bahu-nya keren, dan print di bagian dalam-nya juara!.

Dalam segi busana, saya pribadi jatuh cinta dengan motif print bunga-bunga besar yang dibubuhi Seba pada busana-busananya. Begitu cantik dan seduktif. Durasi peragaan busana yang cenderung cepat meski menampilkan tak kurang dari 101 koleksi pun membuat peragaan busana tak terasa membosankan dan melelahkan.

Namun ketiadaan penanda pergantian sekuens karena membiarkan peragaan busana mengalir dengan cepat dan hanya mengandalkan kelompok warna busana yang kadang setipe, di satu sisi kadang membuat bingung ketika harus menentukan batas sekuens satu dan lainnya, namun di sisi lain kadang juga membuat kita lebih menikmati jalannya peragaan busana yang mengalir.

Kehadiran koleksi busana pengantin sebagai penutup, malah memberikan kesan pemotongan peragaan busana dan menggantinya ke peragaan busana lain yang bukan “Club Dahlia”. Ada satu perasaan dimana saya merasa bahwa busana-busana pengantin itu seperti tidak ada kaitannya dengan “Club Dahlia” dan berdiri secara mandiri sebagai peragaan busana pengantin koleksi Sebastian Sposa.

 

*Dokumentasi Foto oleh Windy Sucipto
Senior Photographer of FIMELA.com, Digital Imaging Artist Contact : +6282122777952. Email : windysucipto@gmail.com

 

ABG di Balik Runway: Dua Sisi Yang Belum Sempat Dibagi

My First Baby Book, ABG di Balik Runway 😀

Ada banyak hal yang belum pernah gue ceritakan ke kalian. Ada banyak kisah yang gue simpan sendirian. Banyak. Banyak sekali yang sesungguhnya nggak pengen-pengen banget untuk gue ceritakan karena beragam alasan. Mulai dari alasan yang personal, sampai alasan kalau gue nggak terlalu yakin semua itu penting untuk dibagi.

Tapi ternyata, apa yang nggak terlalu penting untuk gue, bisa jadi penting untuk orang lain, atau bisa pula sebaliknya, yang penting untuk orang lain belum tentu penting untuk gue. Banyak cerita gue yang sering gue anggap nggak penting-penting banget, tapi sekali lagi, gue yang anggap itu, bukan seorang teman gue bernama Ginatri S Noer atau yang biasa gue panggil Umma Gina.

Bisa dibilang, dialah orang pertama yang mengatakan kalau cerita gue menarik untuk diceritakan. Cerita gue, meskipun kadar penting nggak pentingnya masih diragukan, tapi bisa menjadi cerita yang menarik untuk diketahui orang banyak. Yeah, singkat kata, dia yang menyarankan gue untuk mengandung dan melahirkan anak pertama gue ini, ABG di Balik Runway.

Berbulan-bulan gue selalu menyesakkan premis si ABG di Balik Runway di dalam kepala gue. Berbulan-bulan gue berkutat dengan banyak hal tentang diri gue. Kenapa?. Karena ABG di Balik Runway adalah gue. ABG di Balik Runway adalah cerita tentang gue, si ABG pecicilan yang suka ngegangguin “kakak-kakak” tinggi menjulang di belakang panggung peragaan busana. Tapi bukan itu saja yang gue ceritakan, karena ABG di Balik Runway satu ini ternyata nggak selalu punya kehidupan semenyenangkan melihat peragaan busana di pekan-pekan mode nomor wahid di Jakarta. ABG satu ini nyatanya menyimpan satu sisi lain di kehidupannya yang nggak banyak orang tau, bullying.

Ya, ABG di Balik Runway ini sebenarnya nggak lebih dari anak korban bullying disekolahnya yang sering dijadikan bahan bercandaan kanan-kiri disekolah, yang sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan atas alasan dia sendiri nggak tau apa. ABG di Balik Runway itu, Gue. Gue di bully disekolah, itu bukan rahasia umum lagi, gue memang pernah mengalaminya. Gue bahkan sempat ada di masa gue berpikir kalau gue bisa gila terlalu lama di sekolah kalau saja gue nggak punya aktivitas lain selain belajar dan sekolah.

Yeah, gue bisa gila kalau gue hanya ABG biasa yang kerjanya cuma sekolah, bukan ABG di Balik Runway yang kerjanya juga mondar-mandir dari satu pagelaran busana ke pagelaran busana lain, nulis puluhan artikel tentang semua itu, menjalin hubungan baik dengan banyak orang yang gue temui di “dunia” lain gue, dan berteman dengan mereka.

Gue seperti punya dua sisi di hidup gue. Gue hidup di Bumi, gue ada dipertengahan Surga dan Nereka. Gue punya dua sisi di hidup ini, dua-duanya sangat berbeda. Yang satu selalu nyeret gue ke titik terendah, titik dimana gue ngerasa jadi orang nggak berguna, orang yang nggak pernah dilihat utuh, gue hanya setengah, bagi mereka. Dan yang satu lagi adalah sisi dimana gue bisa tertawa lepas, sisi dimana semua kebahagian yang gue dapat sesederhana mendapatkan perhatian dari seorang teman yang memberikan nasi kotak. Tapi lucunya, kedua sisi kehidupan yang sangat berbeda itu seakan berada di tempat yang tidak semestinya.

In The Make Up Box, My ABG di Balik Runway already “di Balik Runway” 😀

Dark side gue ada dilingkungan yang selama ini selalu di cap aman, sekolah. Sementara bright side gue ada dilingkungan yang sering dapat cap negatif penuh glamour dan hura-hura, fesyen. Hahahaaa…lucu ya?.

Kadang gue pikir hidup gue nggak menarik, kadang gue pikir hidup gue terlalu aneh, tapi setelah gue pikir-pikir lagi, nggak juga ya. Karena apa?. Karena yang nggak menarik buat gue, belum tentu nggak menarik untuk orang lain. Karena yang gue pikir aneh, kadang malah jadi hal yang bikin orang betah sebetah-betahnya mendengarkan atau membaca cerita gue. Ah aneh, hidup gue aneh, dan hidup ini lebih aneh lagi.

Hahahaaa…tapi siapa peduli?. Mau hidup ini aneh atau apa kek, hidup tetap aja hidup,  penuh air mata, penuh tawa, penuh cerita.

Dan ABG di Balik Runway adalah cerita dari gue, tentang dua sisi di hidup gue yang belum sempat gue bagi, dan tentang banyak hal yang masih tersembunyi.

Bagian Pertama, IPMI Trend Show 2013; Kekuatan Esensial 4 Desainer IPMI

Seperti spektrum yang ada karena kolaborasi berbagai jenis warna, jika dipenggal menjadi bagian-bagian terpisah, warna-warna itu akan kembali mendiri, menguarkan pendaran bagi dirinya sendiri, memunculkan satu kekuatan khas yang sudah lama ada di dalam diri.

Finale Carmanita at IPMI’s Trend Show 2013 “Energie”

Saya mengibaratkan warna sebagai para desainer dan pendaran warna, sebagai ciri khas yang selalu ada di setiap karyanya. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap desainer memiliki warna atau kekuatan atau ciri khasnya tersendiri.

Beberapa lama saya menjadi bagian dari perkembangan dunia mode Indonesia, meski hingga kini saya rasa status saya hanya sebagai penikmat dan pengamat “amatiran”, dan bukan sebagai pelaku langsung, namun saya sudah cukup hapal dengan berbagai macam warna yang berpendar-pendar pada masing-masing karya desainer mode di Indonesia.

Si A yang baju-bajunya seperti ini, si B yang karya-karya nya seperti itu, atau si C yang kekuatan utama koleksinya begini. Saya sudah cukup hapal dengan itu semua, walau belum seperti pengamat-pengamat mode senior yang  hatam semua hal tentang mode diluar kepala mereka.

Saya sudah cukup terbiasa melihat karya-karya mereka dengan berbagai warna yang mereka punya. Warna yang menjadi ciri khas serta kekuatan utama mereka. Karena itu saya merasa tidak asing ketika ritual mode tahunan milik Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), “Trend Show”, seakan coba mengulik warna dari para desainer yang bernaung dibawahnya.

Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI), telah melewati hampir tiga dekade fesyen di Indonesia. Didirikan pada tahun 1985, IPMI telah dikenal luas sebagai salah satu organisasi profesi perancang busana paling bergengsi. Ritual tahunannya yang dinamakan “Trend Show” pun tak pelak menjadi salah satu pagelaran busana paling dinantikan. Para penikmat, pengamat, praktisi, dan mereka yang akrab dengan lingkungan fesyen di Indonesia dapat dipastikan menyimpan rasa penasaran tentang bagaimana teropong trend mode di satu tahun mendatang versi IPMI.

Mereka yang menyimpan rasa penasaran itu termasuk saya di dalamnya, saya juga merasa sangat penasaran akan apalagi yang akan di tampilkan para desainer IPMI pada Trend Shownya?.

Saya masih ingat jika tahun lalu saya terpaksa mengernyitkan dahi dengan penyelenggaraan Trend Show IPMI yang sedikit memusingkan dari segi tata panggung. Panggung lintasan catwalk berbentuk segitiga mengelilingi hall di Plaza Bapindo. Belum lagi lampu tata lampu yang cahayanya terlampau menyilaukan dan “nembak” ke arah fotografer pit.

Tetapi semua itu hanya menyangkut masalah teknis penyelenggaraan saja, karena untuk urusan bagaimana koleksi busana yang dihadirkan, sampai detik ini masih ada satu rangkaian koleksi yang benar-benar tidak bisa hilang dalam ingatan saya, koleksi tersebut adalah milik Barli Asmara, dimana ia menggunakan teknik macramé atau teknik tali simpul pada tiap potong koleksinya.

Bagi saya, apa yang suguhkan Barli pada koleksi terdahulunya itu amat sangat menarik, teknik macramé yang rumit dan keberaniannya hanya mengolah satu warna saja pada keseluruhan koleksi patut diacungi jempol.

Lantas, bagaimana dengan IPMI Trend Show di tahun ini?.

Ari Seputra “Neo Plaited”. Model: Dhining

Era Soekamto “Sang Panji”.

Valentino Napitupulu “Adrenaline Flower”. Model: Michella Samantha

Carmanita “Dream Life”. Model: Lita

“Energie”, satu kata yang dipilih IPMI untuk menjadi benang merah utama Trend Show nya kali ini. Melalui “Energie”, IPMI coba meleburkan kekuatan, atau yang saya interpretasikan juga sebagai “warna”, yang tersimpan dalam kekhasan karya 8 orang anggota terpilih.

Kedelapan orang anggota IPMI yang terdiri atas Ari Seputra, Era Soekamto, Valentino Napitupulu, Carmanita, Andrianto Halim, Tuty Cholid, Yongki Budisutisna, dan Barli Asmara masing-masing mengemban tugas untuk menginterpretasikan totalitas energi yang dipecah menjadi 3 bahasa berbeda. Tiga bahasa itu masing-masing, Adrenaline Rush, Silence Zen, dan Equilibrium.

Berbeda dari penyelenggaraan Trend Show tahun lalu dimana IPMI membaginya jadi 2 hari penyelenggaraan, pada Trend Show tahun ini, IPMI memadatkannya dalam satu hari penyelenggaraan dan hanya membaginya menjadi dua babak berbeda yang diberi jeda satu jam. Pada babak pertama, Trend Show IPMI 2013 menyuguhkan koleksi teranyar dari kuartet desainer Ari Seputra, Era Soekamto, Valentino Napitupulu dan Carmanita secara berturut-turut.

Inspirasi Perjalan di Tanah Lombok. Ari Seputra “Neo Plaited”. Model: Dominique Diyose

Motif tenun khas Lombok berpadu dengan warna-warna tanah. Ari Seputra “Neo Plaited”.

Membuka rangkaian pagelaran busana babak pertama, Ari Seputra memamerkan 10 set koleksi yang ia beri nama “Neo Plaited”. Koleksi yang kental akan nuansa etnik ini tercipta berdasarkan kisah perjalanan sang desainer menelusuri tanah Lombok yang kaya akan tradisi.

Warna-warna “membumi” semisal coklat tua, coklat muda, hingga putih gading kemudian ia kombinasikan dengan motif-motif kain tenun khas Lombok yang eksotis sehingga menghasilkan satu rangkaian busana yang seakan merefleksikan kekuatan dari kearifan lokal berwujud modern.

Siluet kebaya dalam bingkai modernitas. Era Soekamto “Sang Panji”. Model: Juwita Rahmawati

Motif burung Hong dan Lokcan digoreskan pada kain berwarna pastel nan lembut. Era Soekamto “Sang Panji”. Model: Laura Muljadi

Melihat keseluruhan koleksi Era Soekamto yang ia beri tajuk “Sang Panji” mau tidak mau ingatan saya kembali berputar pada koleksi Era terdahulu yang ia tampilkan pada Bazaar Wedding Exhibition, koleksi yang kala itu diberi nama “Jangan Menir”. Pada koleksi “Sang Panji”, Era yang masih setia bermain-main dalam ranah siluet kebaya modern, seakan mengulur benang merah yang sama dengan koleksi “Jangan Menir”. Kesamaan gagasan mengangkat budaya Jawa serta pemilihan siluet kebaya modern yang ia gunakan pada rangkaian koleksinya, membuat cita rasa yang serupa begitu terasa.

Namun, jika pada koleksi “Jangan Menir” Era lebih banyak memadukan warna-warna gelap yang memberikan kesan kuat pada busananya, kali ini koleksi Era lebih didominasi warna-warna lembut. Motif burung Hong dan Lokcan yang tergores samar pada kain batik berwarna pastel nan lembut kemudian menjadi daya tarik utama pada koleksi “Sang Panji” karya Era Soekamto.

Gaun-gaun cantik dengan warna yang sering diidentikan dengan feminitas. Valentino Napitupulu “Adrenaline Rush. Model: Christina Borries

Busana pria, atau lebih tepatnya, pengantin pria. Valentino Napitupulu “Adrenaline Flower”. Model: Betrand Antoline

Romantisme hubungan cinta dua insan manusia sepertinya menjadi salah satu pembahasan paling menarik bagi Valentino Napitupulu. Ia seolah tak pernah jemu mengolah sisi manis dari romantisme cinta ke dalam koleksi-koleksi busananya. Begitupula ketika ia melansir koleksi “Adrenaline Flower”, Valentino terlihat sangat menonjolkan aura feminine pada rangkaian koleksinya.

Warna-warna yang sering diidentikan dengan feminitas semisal merah muda terasa cukup mendominasi koleksi yang ia tampilkan, walaupun ia juga menghadirkan warna-warna lain seperti merah, orange, dan ungu. Aura feminine dalam koleksi Valentino Napitupulu juga tidak berhenti pada pemilihan warna, tetapi siluet serta detil-detil busana yang ia ciptakan juga sangat kental nuansa feminine, pun ketika ia menghadirkan busana laki-laki, aura feminine yang ada tetap tidak bisa hilang.

Warna-warna cerah dari kain tenun Makasar dan sari India. Carmanita “Dream Life”. Model: Mungky Chrisna

Teknik tumpuk kain-kain berstruktur ringan dengan potongan longgar. Carmanita “Dream Life”. Model: Dea Nabila

Memulai karir di tahun 1980 sejak ia menyelesaikan kuliahnya di bidang manajemen bisnis dan pemasaran di University of San Francisco, Amerika Serikat, nama Carmanita perlahan dikenal luas setelah ia berhasil memenangkan juara 3 Loma Perancang Mode majalah Femina. Sejak awal kemunculannya di jagad fesyen Indonesia, Carmanita dikenal dengan  kepiawaiannya mengolah motif-motif batik kontemporer dan kain-kain tradisional.

Dan pada IPMI Trend Show kali ini, Carmanita mengawinkan kain tenun Makassar dan sari India menjadi satu rangkian koleksi penuh warna. Menyematkan nama “Dream Life”, Carmanita masih setia dengan teknik tumpuk kain yang menjadi kegemarannya. Tidak menitikberatkan pada permainan silluet, Carmanita, membuat busana karyanya tetap memiliki kesan ringan dengan potongan yang longgar.

 

Bersambung…..