Bagian Pertama, IPMI Trend Show 2013; Kekuatan Esensial 4 Desainer IPMI

Seperti spektrum yang ada karena kolaborasi berbagai jenis warna, jika dipenggal menjadi bagian-bagian terpisah, warna-warna itu akan kembali mendiri, menguarkan pendaran bagi dirinya sendiri, memunculkan satu kekuatan khas yang sudah lama ada di dalam diri.

Finale Carmanita at IPMI’s Trend Show 2013 “Energie”

Saya mengibaratkan warna sebagai para desainer dan pendaran warna, sebagai ciri khas yang selalu ada di setiap karyanya. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap desainer memiliki warna atau kekuatan atau ciri khasnya tersendiri.

Beberapa lama saya menjadi bagian dari perkembangan dunia mode Indonesia, meski hingga kini saya rasa status saya hanya sebagai penikmat dan pengamat “amatiran”, dan bukan sebagai pelaku langsung, namun saya sudah cukup hapal dengan berbagai macam warna yang berpendar-pendar pada masing-masing karya desainer mode di Indonesia.

Si A yang baju-bajunya seperti ini, si B yang karya-karya nya seperti itu, atau si C yang kekuatan utama koleksinya begini. Saya sudah cukup hapal dengan itu semua, walau belum seperti pengamat-pengamat mode senior yang  hatam semua hal tentang mode diluar kepala mereka.

Saya sudah cukup terbiasa melihat karya-karya mereka dengan berbagai warna yang mereka punya. Warna yang menjadi ciri khas serta kekuatan utama mereka. Karena itu saya merasa tidak asing ketika ritual mode tahunan milik Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), “Trend Show”, seakan coba mengulik warna dari para desainer yang bernaung dibawahnya.

Ikatan Perancang Mode Indonesia(IPMI), telah melewati hampir tiga dekade fesyen di Indonesia. Didirikan pada tahun 1985, IPMI telah dikenal luas sebagai salah satu organisasi profesi perancang busana paling bergengsi. Ritual tahunannya yang dinamakan “Trend Show” pun tak pelak menjadi salah satu pagelaran busana paling dinantikan. Para penikmat, pengamat, praktisi, dan mereka yang akrab dengan lingkungan fesyen di Indonesia dapat dipastikan menyimpan rasa penasaran tentang bagaimana teropong trend mode di satu tahun mendatang versi IPMI.

Mereka yang menyimpan rasa penasaran itu termasuk saya di dalamnya, saya juga merasa sangat penasaran akan apalagi yang akan di tampilkan para desainer IPMI pada Trend Shownya?.

Saya masih ingat jika tahun lalu saya terpaksa mengernyitkan dahi dengan penyelenggaraan Trend Show IPMI yang sedikit memusingkan dari segi tata panggung. Panggung lintasan catwalk berbentuk segitiga mengelilingi hall di Plaza Bapindo. Belum lagi lampu tata lampu yang cahayanya terlampau menyilaukan dan “nembak” ke arah fotografer pit.

Tetapi semua itu hanya menyangkut masalah teknis penyelenggaraan saja, karena untuk urusan bagaimana koleksi busana yang dihadirkan, sampai detik ini masih ada satu rangkaian koleksi yang benar-benar tidak bisa hilang dalam ingatan saya, koleksi tersebut adalah milik Barli Asmara, dimana ia menggunakan teknik macramé atau teknik tali simpul pada tiap potong koleksinya.

Bagi saya, apa yang suguhkan Barli pada koleksi terdahulunya itu amat sangat menarik, teknik macramé yang rumit dan keberaniannya hanya mengolah satu warna saja pada keseluruhan koleksi patut diacungi jempol.

Lantas, bagaimana dengan IPMI Trend Show di tahun ini?.

Ari Seputra “Neo Plaited”. Model: Dhining

Era Soekamto “Sang Panji”.

Valentino Napitupulu “Adrenaline Flower”. Model: Michella Samantha

Carmanita “Dream Life”. Model: Lita

“Energie”, satu kata yang dipilih IPMI untuk menjadi benang merah utama Trend Show nya kali ini. Melalui “Energie”, IPMI coba meleburkan kekuatan, atau yang saya interpretasikan juga sebagai “warna”, yang tersimpan dalam kekhasan karya 8 orang anggota terpilih.

Kedelapan orang anggota IPMI yang terdiri atas Ari Seputra, Era Soekamto, Valentino Napitupulu, Carmanita, Andrianto Halim, Tuty Cholid, Yongki Budisutisna, dan Barli Asmara masing-masing mengemban tugas untuk menginterpretasikan totalitas energi yang dipecah menjadi 3 bahasa berbeda. Tiga bahasa itu masing-masing, Adrenaline Rush, Silence Zen, dan Equilibrium.

Berbeda dari penyelenggaraan Trend Show tahun lalu dimana IPMI membaginya jadi 2 hari penyelenggaraan, pada Trend Show tahun ini, IPMI memadatkannya dalam satu hari penyelenggaraan dan hanya membaginya menjadi dua babak berbeda yang diberi jeda satu jam. Pada babak pertama, Trend Show IPMI 2013 menyuguhkan koleksi teranyar dari kuartet desainer Ari Seputra, Era Soekamto, Valentino Napitupulu dan Carmanita secara berturut-turut.

Inspirasi Perjalan di Tanah Lombok. Ari Seputra “Neo Plaited”. Model: Dominique Diyose

Motif tenun khas Lombok berpadu dengan warna-warna tanah. Ari Seputra “Neo Plaited”.

Membuka rangkaian pagelaran busana babak pertama, Ari Seputra memamerkan 10 set koleksi yang ia beri nama “Neo Plaited”. Koleksi yang kental akan nuansa etnik ini tercipta berdasarkan kisah perjalanan sang desainer menelusuri tanah Lombok yang kaya akan tradisi.

Warna-warna “membumi” semisal coklat tua, coklat muda, hingga putih gading kemudian ia kombinasikan dengan motif-motif kain tenun khas Lombok yang eksotis sehingga menghasilkan satu rangkaian busana yang seakan merefleksikan kekuatan dari kearifan lokal berwujud modern.

Siluet kebaya dalam bingkai modernitas. Era Soekamto “Sang Panji”. Model: Juwita Rahmawati

Motif burung Hong dan Lokcan digoreskan pada kain berwarna pastel nan lembut. Era Soekamto “Sang Panji”. Model: Laura Muljadi

Melihat keseluruhan koleksi Era Soekamto yang ia beri tajuk “Sang Panji” mau tidak mau ingatan saya kembali berputar pada koleksi Era terdahulu yang ia tampilkan pada Bazaar Wedding Exhibition, koleksi yang kala itu diberi nama “Jangan Menir”. Pada koleksi “Sang Panji”, Era yang masih setia bermain-main dalam ranah siluet kebaya modern, seakan mengulur benang merah yang sama dengan koleksi “Jangan Menir”. Kesamaan gagasan mengangkat budaya Jawa serta pemilihan siluet kebaya modern yang ia gunakan pada rangkaian koleksinya, membuat cita rasa yang serupa begitu terasa.

Namun, jika pada koleksi “Jangan Menir” Era lebih banyak memadukan warna-warna gelap yang memberikan kesan kuat pada busananya, kali ini koleksi Era lebih didominasi warna-warna lembut. Motif burung Hong dan Lokcan yang tergores samar pada kain batik berwarna pastel nan lembut kemudian menjadi daya tarik utama pada koleksi “Sang Panji” karya Era Soekamto.

Gaun-gaun cantik dengan warna yang sering diidentikan dengan feminitas. Valentino Napitupulu “Adrenaline Rush. Model: Christina Borries

Busana pria, atau lebih tepatnya, pengantin pria. Valentino Napitupulu “Adrenaline Flower”. Model: Betrand Antoline

Romantisme hubungan cinta dua insan manusia sepertinya menjadi salah satu pembahasan paling menarik bagi Valentino Napitupulu. Ia seolah tak pernah jemu mengolah sisi manis dari romantisme cinta ke dalam koleksi-koleksi busananya. Begitupula ketika ia melansir koleksi “Adrenaline Flower”, Valentino terlihat sangat menonjolkan aura feminine pada rangkaian koleksinya.

Warna-warna yang sering diidentikan dengan feminitas semisal merah muda terasa cukup mendominasi koleksi yang ia tampilkan, walaupun ia juga menghadirkan warna-warna lain seperti merah, orange, dan ungu. Aura feminine dalam koleksi Valentino Napitupulu juga tidak berhenti pada pemilihan warna, tetapi siluet serta detil-detil busana yang ia ciptakan juga sangat kental nuansa feminine, pun ketika ia menghadirkan busana laki-laki, aura feminine yang ada tetap tidak bisa hilang.

Warna-warna cerah dari kain tenun Makasar dan sari India. Carmanita “Dream Life”. Model: Mungky Chrisna

Teknik tumpuk kain-kain berstruktur ringan dengan potongan longgar. Carmanita “Dream Life”. Model: Dea Nabila

Memulai karir di tahun 1980 sejak ia menyelesaikan kuliahnya di bidang manajemen bisnis dan pemasaran di University of San Francisco, Amerika Serikat, nama Carmanita perlahan dikenal luas setelah ia berhasil memenangkan juara 3 Loma Perancang Mode majalah Femina. Sejak awal kemunculannya di jagad fesyen Indonesia, Carmanita dikenal dengan  kepiawaiannya mengolah motif-motif batik kontemporer dan kain-kain tradisional.

Dan pada IPMI Trend Show kali ini, Carmanita mengawinkan kain tenun Makassar dan sari India menjadi satu rangkian koleksi penuh warna. Menyematkan nama “Dream Life”, Carmanita masih setia dengan teknik tumpuk kain yang menjadi kegemarannya. Tidak menitikberatkan pada permainan silluet, Carmanita, membuat busana karyanya tetap memiliki kesan ringan dengan potongan yang longgar.

 

Bersambung…..

11 thoughts on “Bagian Pertama, IPMI Trend Show 2013; Kekuatan Esensial 4 Desainer IPMI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s