Sebastian Gunawan “Club Dahlia”; Refleksi Glamoritas Masa Lalu

Sebastian Gunawan berkisah tentang sebuah gaya hidup yang ia boyong dari masa lalu. Gaya hidup yang dahulu jadi bagian dari kaum jetset di Benua sebrang. Ia lalu meniupkan ruh, menyulam kembali cerita, merangkaikannya satu persatu, menambahkan detil disana-sini, dan mewujudkannya jadi sebuah kenyataan di masa sekarang melalui 101 koleksi bernama “Club Dahlia”.

Sebastian Gunawan “Club Dahlia”. Seluruh Foto Pada Artikel Ini: Windy Sucipto

Grand Ballroom Hotel Mulia Jakarta pada malam itu terlihat lebih mewah dari biasa. Lampu-lampu kristal yang tergantung di langit-langit ruangan serasa makin megah. Mungkin karena deretan kursi-kursi yang ditata secara berundak-undak yang kesemuanya bercat emas. Mungkin karena lintasan catwalk yang terbentang di tengah ruangan dibuah kental nuansa minimalis dengan dilapisi kayu. Mungkin juga karena ruangan besar itu ditata sedemikian rupa, memadukan unsur kewehan jaman Victoria dengan unsur minimalis masa kini yang berorientasi pada alam.

Waktu berjalan, saya yang sudah tidak sabar untuk menyaksikan seperti apa jalannya acara, namun seperti biasa, menunggu 20 menit, 30 menit, atau sedikit lebih adalah hal yang dimaklumi pada setiap acara fesyen. Bukan hanya karena pribadi masyarakat Indonesia yang senang menggunakan “jam karet”, namun pendahuluan acara berupa makan malam, perhitungan tentang siapa-siapa saja yang belum datang, serta beberapa masalah tehknis lainnya pun turut menyumbangkan andil dalam setiap ketidaksesuaian jadwal yang telah diberikan pihak penyelenggara sebelumnya.

Saya memang sudah terbiasa dengan hal itu, dengan ke “jam karetan” peragaan-peragaan busana, bukan hanya satu dua peragaan busana dimana saya harus merelakan waktu saya lebih lama untuk menunggu hingga dimulainya acara. Tetapi tetap saja, setiap saya harus menunggu lebih lama, dalam hati tak bisa berhenti bertanya-tanya, “Kapan fashion show nya dimulai?”. Saya selalu tidak sabar dan penasaran bagaimana peragaan busana akan berlangsung.

Sebastian Gunawan, saya cukup akrab dengan karya-karyanya. Sebastian Gunawan adalah salah satu desainer Indonesia favorit saya. Dulu, karyanya, dan karya Priyo Oktavianno lah yang berhasil menghipnotis saya sehingga saya bisa jatuh cinta dengan dunia fesyen.

Sedikit membuka kenangan lama, peragaan busana pertama yang saya datangi adalah peragaan busana kolaborasi dari empat desainer pada malam pembukaan Jakarta Fashion Week 2009-2010, Sebastian Gunawan, Priyo Oktavianno, dan dua desainer asal India yang saya lupa namanya. Karena itulah, nama Sebastian Gunawan selalu ada di list teratas agenda saya untuk menghadiri sebuah peragaan busana.

Malam itu, tepatnya Selasa 16 Oktober 2012, lebih dari 1000 undangan hadir memenuhi undangan si empunya acara. Mereka, para tamu undangan, datang secara berkala. Kursi-kursi bercat emas yang tadinya kosong, tepat pukul 20.30 WIB benar-benar telah penuh terisi. Setelahnya, hampir semua sumber cahaya di dalam ruangan padam, dan hanya menyisakan satu lampu sorot ke bagian tengah lintasan catwalk. Sesi kata sambutan dimulai, lalu selesai sekitar 10 menit kemudian.

Tidak ada lagi lampu sorot ke bagian tengah lintasan catwalk, tidak ada lagi Sebastian Gunawan yang bertutur tentang acara pada malam itu dengan senyum khasnya yang mengembang di wajah, yang ada hanya video pembuka bernuansa gelap berdurasi 1-2 menit.

Katya Talanova, model pembuka peragaan busana Sebastian Gunawan “Club Dahlia”.

Model: Tiara Westlake

Setelahnya, kemunculan Katya Talanova, model berdarah Rusia kesayangan Seba(panggilan akrab Sebastian Gunawan), jadi pertanda resmi dipertontonkannya 101 koleksi busana teranyar Seba dalam peragaan busana “Club Dahlia”.

Seba memberi nama peragaan busana tahunannya “Club Dahlia, dan kali ini ia tak hanya melansir karya paling mutakhir, ia juga tengah bercerita. Cerita tentang kehidupan kaum perempuan yang telah lama menjadi teman akrab baginya dalam menghasilkan karya. Namun bukan kehidupan kaum perempuan jaman sekarang yang begitu terbuka yang ia tuturkan, karena untuk “Club Dahlia” nya, Seba membuka sebuah album tua yang tercipta lebih dari tujuhpuluh tahun lalu.

Album tua itu menyimpan ratusan foto hitam-putih para perempuan yang berdandan penuh gaya di sebuah tempat. Album tua itu, meski hanya berisi puluhan foto hitam putih masih dapat mengabadikan setiap moment yang pernah ada dengan begitu jelas. Album tua itu, menguarkan bau yang khas, bau yang telah melekat kuat puluhan tahun lamanya. Album tua itu, menyimpan banyak cerita. Album tua itu hanya dimiliki Seba.  Album tua itu begitu nyata, ada dalam imajinasinya.

Album tua yang baru saja dituturkan memang hanya ada dalam kekayaan imajinasi Seba, namun pagelaran busana “Club Dahlia” sungguh nyata dan kaya cerita.

Tak kurang dari 95 koleksi rancangan busana eksklusif lini utama “Sebastian Gunawan” dan 6 gaun pengantin untuk “Sebastian Sposa” ia pamerkan pada peragaan busananya. Total 101 koleksi busananya itu kemudian ia bagi kedalam empat babak berbeda.  Keempatnya merangkum sebuah cerita tentang para perempuan dari “Club Dahlia”, sebuah tempat perkumpulan eksklusif bagi kaum jetset di kawasan Florida, Amerika Serikat, pada era 1940an.

Model: Laura Muljadi

Model: Kimmy Jayanti

Model: Marcella Tanaya

“This Innocence is Brilliance”, adalah sekuens pembuka pada “Club Dahlia”. Sekuens ini menceritakan tentang sisi “manis” dan naïf seorang perempuan yang sering kali terlihat ketika ia mencoba untuk diterima dengan menunjukkan “wajah” terbaiknya, yang entah sungguhan atau hanya “topeng” semata.

Mengambil garis waktu pada saat sore hari, “This Innocence is Brilliance” di dominasi oleh warna-warna cerah, segar, dan lembut, seperti kuning, emas, krem, putih gading, biru muda, dan toska.
Pada sekuens pembuka ini, kita disuguhkan kepiawaian desainer lulusan Instituto Artistico Abbigliamento Marangoni, Milan, Italia, ini dalam mencipta busana-busana effortlessly chic. Atasan peplum, gaun panjang, rok bervolume dengan lipit-lipit, gaun A-simetris, hingga gaun bertali yang dihadirkan oleh Seba semakin menunjukkan karakter indah tubuh perempuan dengan siluet yang mempesona.

Model: Advina Ratnaningsih

Model: Michella Samantha

Model: Drina Ciputra

Detil koleksi dengan aksen-aksen kecil yang proses pengerjaannya membutuhkan ketelitian tinggi ia padu padankan secara unik dengan celana sebatas betis, blus bervolume di pinggang, rok mekar yang ringan namun flirty. Motif print aneka bunga, termasuk didalamnya bunga Dahlia, ia kawinkan dengan apik pada tiap potong busananya untuk sekuens kedua yang ia beri judul “The Beauty of Interaction”. Pada sekuens ini, Seba merefleksikan tentang interaksi yang terjadi antara para perempuan yang bisa dipenuhi tawa dan hal positif, atau malah gunjingan serta penuh intrik.

Model: Dominique Diyose

Model: Christina Borries

Seba memberi judul “Rendition of Collision” untuk sekuens ketiganya. Kali ini ia bermain-main dengan tekstur busana serta kesan elegan sekaligus konstruktif yang ia bangun melalui aplikasi padupadan bahan brocade, lace, dan damask yang dikenal memiliki tekstur kuat. Gaun-gaun malam dengan warna-warna gelap ia padupadakankan dengan model peplum, ada juga yang ia ramu dengan coat berwarna hitam dengan aksen merah yang terlihat semakin mempertegas penampilan. Namun, tak hanya koleksi gaun malam, koleksi everyday-wear pun ia tampilkan dengan meninggalkan kesan feminin dan impresif pada satu waktu.

Model: Tiara Westlake

Sementara itu, mimpi setiap perempuan untuk memperoleh cerita “a happily ever after” nya seperti yang sering kita jumpai pada dongeng-dongeng masa kecil menjadi premis utama dalam sekuens penutup pagelaran busana. “Have Your Dream Come True” adalah subjudul yang ia berikan ketika menyajikan koleksi gaun pengantin super elegan dengan siluet dome shape, serta ballgown.

Dominasi warna putih dan putih gading berpadu emas mempresentasikan suasana sakral kala mengucap janji sehidup semati untuk menutup keseluruhan pagelaran busana “Club Dahlia”.

Model: Christina Borries

Model: Christina Borries

Secara keseluruhan, peragaan busana tahunan dari Sebastian Gunawan “Club Dahlia” tereksekusi dengan sangat apik. Tata panggungnya yang meski dibuat dengan mengadopsi konsep minimalis namun tetap terasa mewah dengan sentuhan aksen kayu. Dekorasi bagian pangkal panggung yang diberi tiang-tiang kayu yang seolah melindungi bunga-bunga dahlia berukuran besar juga menambah keunikkan tersendiri.

Menurut hemat saya, sebenarnya tata panggung yang banyak mengaplikasikan elemen kayu bisa menggagalkan keinginan untuk mengangkat potret kalangan jetset di era 1940an yang ingin ditampilkan Seba, karena kesan minimalis dan sederhana akan menguar kuat.

Namun kepiawaian tim Seba dalam memadupadankan elemen lain semisal deretan kursi-kursi bercat emas yang terkesan amat mewah, juga lampu-lampu kristal yang memang sudah ada di dalam area Ballroom, serta tata lampu yang dibuat menyinari dengan warna kuning keemasan yang sangat dominan, menciptakan perpaduan yang unik, dimana unsur mewah dan minimalis teracik pas dan menyenangkan.

Salah satu dress favorit saya sepanjang “Club Dahlia” nya Seba. Silluetnya bagus banget, detil di bahu-nya keren, dan print di bagian dalam-nya juara!.

Dalam segi busana, saya pribadi jatuh cinta dengan motif print bunga-bunga besar yang dibubuhi Seba pada busana-busananya. Begitu cantik dan seduktif. Durasi peragaan busana yang cenderung cepat meski menampilkan tak kurang dari 101 koleksi pun membuat peragaan busana tak terasa membosankan dan melelahkan.

Namun ketiadaan penanda pergantian sekuens karena membiarkan peragaan busana mengalir dengan cepat dan hanya mengandalkan kelompok warna busana yang kadang setipe, di satu sisi kadang membuat bingung ketika harus menentukan batas sekuens satu dan lainnya, namun di sisi lain kadang juga membuat kita lebih menikmati jalannya peragaan busana yang mengalir.

Kehadiran koleksi busana pengantin sebagai penutup, malah memberikan kesan pemotongan peragaan busana dan menggantinya ke peragaan busana lain yang bukan “Club Dahlia”. Ada satu perasaan dimana saya merasa bahwa busana-busana pengantin itu seperti tidak ada kaitannya dengan “Club Dahlia” dan berdiri secara mandiri sebagai peragaan busana pengantin koleksi Sebastian Sposa.

 

*Dokumentasi Foto oleh Windy Sucipto
Senior Photographer of FIMELA.com, Digital Imaging Artist Contact : +6282122777952. Email : windysucipto@gmail.com

 

2 thoughts on “Sebastian Gunawan “Club Dahlia”; Refleksi Glamoritas Masa Lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s