Goodbye 2012, and Hellooo Our Skinny Girl, What’s Going On?

Reti seusai satu rangkaian peragaan busana di Jakarta Fashion Week 2012/2013

Reti seusai satu rangkaian peragaan busana di Jakarta Fashion Week 2012/2013

Hampir satu tahun berlalu dari saat pertama kali saya menuliskan tentang Reti Ragil Riani dalam blog ini. Dulu, saya begitu tertarik pada Reti karena pribadinya yang sangat menyenangkan. Ia ramah, sederhana, dan apa adanya. She never trying too hard to be something on the stage or in real life, she just be her self. Reti yang ramai, dan kocak saat membicarakan banyak hal. Namun justru disanalah daya tarik terbesarnya.

Kemudian waktu berlalu dengan cepat, ada begitu banyak hal yang terjadi, ada begitu banyak hal yang berubah. Begitu pula dalam panggung mode Indonesia. Hampir setiap waktu kala sebuah peragaan busana diselenggarakan, saya melihat wajah-wajah baru yang terasa asing. Ada yang masih memancarkan kekhasan wanita Indonesia, dan banyak juga wajah yang benar-benar asing dari belahan Bumi lain.

Sebelum pulang masih sempat pose konyol bersama Chloe. Lol

Sebelum pulang masih sempat pose konyol bersama Chloe. Lol

Tetapi diantara banyak wajah baru yang bermunculan di atas panggung peragaan busana, saya tetap dengan mudah menjumpai sosok Reti. Disepanjang tahun 2012, ia tetap jadi skinny girl kesayangan para desainer. Malahan, menurut saya pribadi, Reti adalah salah satu model muda yang karirnya paling bersinar di sepanjang tahun 2012. Deretan nama desainer papan atas Indonesia dari mulai Biyan, Priyo Oktaviano hingga Oscar Lawalata, masih setia memberi kepercayaan pada Reti untuk memperagakan koleksi teranyarnya. Majalah-majalah mode ternama sekelas Dewi, dan Bazaar kerap kali menjadikan Reti sebagai model pada laman Fashion Spread.

Dengan pribadinya yang tidak ngoyo, dan sering cenderung kurang percaya diri, Reti seolah membuktikan diri dalam caranya sendiri. Tanpa banyak bercerita, dua gelar disabetnya pada tahun 2012 ini. Yang pertama adalah Pemenang 1 Gading Model Search 2012, dan yang kedua adalah Fun Fearless Female 2012. Dan juga mungkin tidak banyak yang tahu jika Reti pada awalnya adalah salah satu calon terkuat Indonesia dalam ajang Asia’s Next Top Model sebelum pada akhirnya pilihan jatuh pada model berwajah oriental Filantropi Witoko.

Saya terakhir kali bertemu Reti pada sebuah acara peragaan busana “spesial” yang diselenggarakan oleh Plaza Senayan. Semua model yang terlibat hari itu tidak hanya harus memperagakan busana secara normal dengan berjalan di atas catwalk, tetapi juga diharuskan menjadi manekin hidup yang di posisikan di sepanjang lorong-lorong utama Plaza Senayan. Jadilah peragaan busana itu sangat “spesial”, bagi si model dan sudah pasti bagi pengunjung yang datang.

Let's take a funny picture after the show. :D

Let’s take a funny picture after the show. 😀

Hari itu, setelah show, saya dan Reti berbincang santai di salah satu sudut foodcourt Plaza Senayan. Saya cukup banyak bertanya, dan dia lebih banyak lagi bercerita dengan gaya berbicaranya yang santai dan apa adanya. Salah satu hal yang saya tanyakan padanya adalah tentang gelar Fun Fearless Female 2012 yang baru saja ia dapatkan.

Lalu, dengan wajah lucu ia bercerita banyak pada saya tentang acara itu. Ia bercerita tentang penyesalannya karena kedua orangtuanya tidak hadir pada malam final Fun Fearless Female. Ia bercerita tentang segudang inspirasi yang ia terima selama menjalani masa karantina. Ia bercerita tentang jawaban-jawaban-nya yang mengundang gelak tawa para juri pada saat penjurian.

Sebelum saya dan dia berpisah, ia bercerita tentang impiannya di dunia modeling, menjadi lebih baik dari waktu ke waktu dan menjadi seorang model yang tak perlu terkenal, tetapi orang tahu bahwa ia adalah seorang model professional yang kemampuannya tak perlu diragukan. Dan saya mengamininya.

Good Luck Our Skinny Girl!

#JFW2012/2013 #1stStory Rangkai Feminitas Dalam Dua Cita Rasa Berbebeda

Bagi saya, malam pembukaan Jakarta Fashion Week selalu jadi daya tarik tersendiri. Peragaan busana pertama yang terselenggara ibarat first impression yang menentukan bagaimana terkaan ajang mode tahunan ini akan berlangsung. Dan pada malam pembukaannya, Jakarta Fashion Week sukses menyeret saya dalam pusaran daya tarik feminitas dalam dua cita rasa berbeda.

Finale Malam Pembukaan JFW 2012/2013 sekuens Sebastian Gunawan "Bella Pietra"

Finale Malam Pembukaan JFW 2012/2013 sekuens Sebastian Gunawan “Bella Pietra”

Malam pembukaan Jakarta Fashion Week(JFW) adalah momen yang tidak pernah saya lewatkan sejak tahun 2009 silam. Saya mulai jatuh cinta pada fesyen pada momen itu, dan tiap kali saya hadir kembali pada momen yang sama dalam waktu berbeda, rasanya seperti bernostalgia dengan sahabat lama. Bersemangat?, sudah pasti. Menyenangkan?, tentu saja. Penasaran?, rasanya hal itu sudah terpancar jelas dalam diri saya meski saya tidak mengatakannya.

Tepat setelah saya menerima ID khusus yang diberikan untuk pewarta berita di JFW 2012/2013, kertas agenda, dan buku yang berisi segala macam informasi mengenai JFW 2012/2013 kedua mata saya langsung menyisir halaman yang memuat tentang peragaan busana di hari pertama terselenggaranya JFW 2012/2013. Dua halaman penuh dalam buku informasi berisikan tentang dua nama. Sebastian Gunawan, dan Lie Sang Bong.

Diawali dengan sambutan dari Bapak Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih akrab disapa Bapak Ahok, JFW 2012/2013 resmi dihelat pada Sabtu malam(3/11) pukul 20.00 WIB.
“Indonesia Today, The World Tomorrow” pun diumumkan sebagai tema besar pada penyelenggaraan JFW kali ini. Tema tersebut sekaligus dijadikan metamorfora mantra penyemangat bagi mimpi besar untuk mengantarkan para desainer kebanggaan Indonesia ke kancah mode dunia.

Dua desainer dari dua negara berbeda di dapuk pada peragaan busana perdana. Lie Sang Bong yang berasal dari Korea Selatan, dan Sebastian Gunawan sebagai desainer dari negeri tercinta.

The White Long Dress with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong. Model: Claudia Marcia

The White Long Dress with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong. Model: Claudia Marcia

Male Outfit with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong.

Male Outfit with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong.

I love this outfit, especially her butterfly pattern shirt. So pretty :)

I love this outfit, especially her butterfly pattern shirt. So pretty 🙂

Lie Sang Bong mengawali karirnya di tahun 1993 dan ia kini menjadi salah satu desainer Asia yang telah mendunia. Peraih gelar “Best Designer of The Year” di Seoul pada tahun 1999 ini juga telah telah dikenal luas sebagai salah satu desainer andal di kota kiblat mode dunia, Paris. Garis desainnya yang selalu kaya detil serta sarat tekstur membuat karyanya dengan cepat di terima di kota mode tersebut. Hal ini kemudian melatarbelakanginya untuk memindahkan basis dalam berkarya dari Seoul ke Paris dan lebih mengeksplorasi bermacam karya busananya di kota mode tersebut.
Menjadi desainer pembuka pertama pada JFW 2012/2013, Lie Sang Bong menjadikan kupu-kupu sebagai ruh pada rangkaian koleksinya. Aneka warna, bentuk, hingga modifikasi motif hasil interpretasinya terhadap serangga cantik itu mewarnai deretan busana yang ia suguhkan. Mulai dari kemeja, rok, gaun cocktail, gaun malam, hingga busana pria ia tampilkan dengan bubuhan motif kupu-kupu yang indah disana-sini. Ketika melihat karya-karyanya itu, saya seakan diajak memasuki sebuah ruangan besar berisi ribuan kupu-kupu beraneka warna yang asik berterbangan di dalamnya. Sangat menyenangkan dan mengagumkan.

Black Long Dress with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong. Model: Kimberly Ryder

Black Long Dress with Butterfly Pattern by Lie Sang Bong. Model: Kimberly Ryder

The pattern of this dress is look like suriken ya? . Model: Listy

The pattern of this dress is look like suriken ya? . Model: Listy

I love that Umbrella, I want!

I love that Umbrella, I want!. Model: Dea Nabila

Dalam pemilihan warna, Lie Sang Bong menerapkan semacam peraturan yang cukup unik. Ia menciptakan motif kupu-kupu dengan warna-warna cerah yang mencolok hanya di atas busana berwarna dasar putih dan hitam. Sementara ketika menghadirkan warna cerah sebagai warna utama busana, desainer langganan penyanyi nyentrik Lady Gaga ini tidak membubuhkannya dengan motif kupu-kupu yang sejak awal telah mencuri perhatian. Tidak hanya motif kupu-kupu yang meramaikan koleksi busana, motif yang menyerupai senjata lempar yang biasa digunakan para ninja, suriken, juga turut ia jadikan andalan pada beberapa busana dengan warna-warna kontras.

Lalu, sebuah kejutan lain diberikan Lie Sang Bong menjelang akhir peragaan busana miliknya, ia memakaikan para model dengan jas hujan serta payung-payung transparan yang penuh motif kupu-kupu beraneka warna. Hal ini sontak menjadi pemandangan yang tidak biasa sekaligus sangat menarik. Jas hujan dan payung yang merupakan benda yang sangat biasa kita jumpai terutama di kala musim penghujan tiba, mendadak seperti bertransformasi menjadi The “It” New Fashion Items di atas panggung peragaan busana.

Bella Pietra Collection by Sebastian Gunawan. Model: Sarah Azka

Bella Pietra Collection by Sebastian Gunawan. Model: Sarah Azka

Rekonstruksi feminitas dalam garis rancang tegas, me love it!. Model: Adivina Ratnaningsih.

Rekonstruksi feminitas dalam garis rancang tegas, me love it!. Model: Adivina Ratnaningsih.

The Black Dress by Sebastian Gunawan. Model: Christina Borries

The Black Dress by Sebastian Gunawan. Model: Christina Borries

Selesai dengan Lie Sang Bong, kini waktunya untuk menyimak karya Sebastian Gunawan. Desainer yang pernah bekerja paruh waktu di Egon von Fusternberg, Milan, ini rasanya layak dinobatkan sebagai salah satu desainer Indonesia paling produktif. Setelah beberapa waktu lalu ia melansir 101 koleksi yang terangkum dalam “Club Dahlia”, kali ini ia menjadikan “Bella Pietra” sebagai persembahan spesial di malam pembukan JFW 2012/2013.
Pada “Bella Pietra”, Sebastian yang dikenal begitu setia dengan garis rancang penuh aura feminine dalam tiap karyanya, kali ini menampilkan bentuk feminitas-nya dalam konstruksi yang lebih tegas. Desainer penerima penghargaan “International Apparel Federation World Young Designer Award” ini terlihat asik bermain-main dengan tekstur dan volume yang dibuat beragam, seperti misalnya bagian atas yang lekat memeluk tubuh namun bagian pinggul ke bawah menggembung kaku, celana yang longgar, gaun panjang yang feminine dan cantik serta coat yang kaku.

Bella Pietra by Sebastian Gunawan. Model: Kimmy Jayanti

Bella Pietra by Sebastian Gunawan. Model: Kimmy Jayanti

Bella Pietra Collection by Sebastian Gunawan. Model: Ilmira

Bella Pietra Collection by Sebastian Gunawan. Model: Ilmira

The Last Collection of Bella Pietra by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

The Last Collection of Bella Pietra by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

Pemilihan motif pecah seperti mozaik-mozaik keramik pada tiap potong busana serta pemilihan warna yang ada pada zona waran netral semisal hitam, putih gading, coklat muda hingga abu-abu yang seperti bebatuan menambah kesan bahwa Sebastian memang sedang asik bermain-main pada konstruksi busana yang terlihat tegas, kuat, independen, namun masih dalam koridor feminitas yang selalu jadi ciri khasnya.
Secara keseluruhan, jika malam pembukaan JFW 2012/2013 seumpama first impression yang dapat menjadi perkiraan bagaimana karakteristik seseorang atau sesuatu. Maka, first impression saya pada JFW 2012/2013 -dalam hal ini adalah karakteristik busana yang ditampilkan- adalah wujud dualisme feminitas. JFW 2012/2013 seperti mata uang yang menghadirkan dua sisi berbeda. Satu sisi seperti spektrum warna-warna cerah yang hangat hingga pastel yang lembut, sementara sisi lainnya berwarna lebih gelap serta dengan kesan yang lebih kuat. Seperti seorang perempuan yang selalu menyimpan dua sisi berbeda dalam dirinya.

Michelle Agnes Samantha; Pesona Wajah Khas Wanita Timur Indonesia

Michelle For Beauty Photoshoot. Foto: Giovanni Rustanto "Giovanni Photoworks"

Michelle For Beauty Photoshoot. Foto: Giovanni Rustanto “Giovanni Photoworks”

Gelaran Jakarta Fashion Week 2012-2013 (JFW 2012-2013) memang telah berlalu. Namun banyak hal dan kenangan yang rasanya akan sulit untuk dilupakan. Salah satu kenangan yang bagi saya akan sulit untuk untuk dilupakan adalah sosok model pembuka, atau yang lebih dikenal dengan sebutan First Face pada peragaan busana di malam pembukaan JFW 2012-2013. Dia adalah Michelle Agnes Samantha.

Dalam balutan busana koleksi Sebastian Gunawan, model bernama lengkap Michelle Agnes Samantha Tahalea atau yang lebih akrab disapa Michelle ini terlihat sangat menawan. Atasan berupa gaun pendek model kemben berdetil  rangkaian mozaik unik yang membentuk motif garis serta sulur bunga yang dipadupadankan dengan legging lace berwarna hitam, terasa sangat pas ketika diperagakan olehnya di atas lintasan catwalk. Headpiece unik dari Sebastian Gunawan yang menjadi bagian dari satu kesatuan busana pun semakin mempertegas kesan kuat dan berkarakter. Tidak hanya bagi busana itu sendiri, tetapi juga bagi si model, Michelle.

Michelle Sebagai First Face Sebastian Gunawan di Malam Pembukaan JFW 2012-2013

Michelle Sebagai First Face Sebastian Gunawan di Malam Pembukaan JFW 2012-2013

Bagi saya, sosok Michelle yang dihadirkan sebagai model pembuka pada peragaan busana milik Sebastian Gunawan terasa spesial. Michelle dengan kulitnya yang coklat, serta raut wajah yang khas wanita Indonesia bagian Timur seolah menjadi kejutan tersendiri, mengingat Sebastian Gunawan terbilang jarang menggunakan tipe model seperti Michelle untuk menjadi First Face dalam peragaan busana miliknya.

Dilahirkan pada tanggal 6 Oktober 1989, Michelle tidak pernah membayangkan dirinya akan berlenggak-lenggok di panggung peragaan busana. Namun sebuah ajakan datang pada tahun 2008 silam. Seorang teman dari sang Kakak yang bekerja di salah satu modeling agency bernama Platinvm melihat potensi Michelle. Tanpa ragu ia mengajak Michelle untuk bergabung di Platinvm. Gayung pun bersambut, Michelle menerima ajakan itu, dan dari sanalah ia memulai karir modelingnya.

Michelle untuk Oscar Lawalata di JFW 2011-2013

Michelle untuk Oscar Lawalata di JFW 2011-2013

Michelle untuk Biyan Annual Show 2012 "Foliage"

Michelle untuk Biyan Annual Show 2012 “Foliage”

Dengan tinggi 177cm dan berat 51kg, serta keunikan karakter yang terpancar dari sosoknya, nama Michelle perlahan tapi pasti mulai akrab di dunia mode tanah air. Wajah Michelle dapat dengan mudah dijumpai di berbagai peragaan busana milik desainer ternama Indonesia seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Oscar Lawalata, Ghea Panggabean, hingga Aguste Soesastro. Dewi, Amica, Bazaar dan beberapa majalah mode lainnya pun tak jarang menghadirkan Michelle dalam rubrik Fashion Spread.

Raut wajahnya yang sangat khas wanita dari Timur Indonesia tidak lain adalah warisan darah Ambon dari sang Ayah. Namun yang menarik, pada kenyataannya Michelle masih memiliki 3 darah campuran lain yang mengalir dalam dirinya selain Ambon, yakni Manado, Jerman, dan Austria.

Michelle untuk Dewi edisi Novmber 2012, Fashion Spread.

Michelle untuk Dewi edisi Novmber 2012, Fashion Spread.

Michelle untuk Marie Claire Indonesia

Michelle untuk Marie Claire Indonesia

Michelle untuk Delirium(deliriummind.com). Foto: Raja Siregar

Michelle untuk Delirium(deliriummind.com). Foto: Raja Siregar

Menghabiskan masa kecilnya di Ibukota, Michelle memiliki banyak kenangan lucu di masa kecilnya yang masih mengundang gelak tawa hingga kini. Salah satunya adalah mengenai kegemarannya berenang. Ketika kecil, Michelle tidak hanya menunaikan kegemarannya itu di kolam renang sungguhan, tetapi juga di kolam ikan rumah, bahkan empang yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Kini, setelah dewasa pun ia tetap menjalankan kegemarannya tersebut, berenang, tapi bedanya saat ini tidak ada lagi kolam ikan atau empang yang dijadikan korban.

Ditengah aktivitasnya dalam dunia modeling, gadis manis lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti inimengatakan bahwa tidur, bantal, dan selimut adalah hal yang selalu dirindukannya, disamping memiliki quality time bersama orang-orang terkasih.

Rangkuman Kabar Dari Jakarta Fashion Week 2013

Di tahun penyelenggaraannya yang kelima, saya kembali mendapat kesempatan untuk bisa menghadiri pekan mode paling dinanti penyelenggaraannya ini. Ada banyak kejadian tidak terduga, ada banyak cerita. Namun saya belum akan menceritakan semuanya secara detil, maka saya akan merangkumkannya terlebih dulu.

Malam Pembukaan JFW 2013 di Fashion Tent

Malam Pembukaan JFW 2013 di Fashion Tent

Jakarta Fashion Week 2013(JFW 2013) pada awalnya direncanakan untuk terselenggara selama tujuh hari penuh, sejak tanggal 3 sampai 9 November 2012 dengan mengambil tempat di Plaza Senayan. Namun pada kenyataannya, JFW 2013 tidak bisa terselenggara selama tujuh hari, dan mengalami penambahan waktu menjadi sepuluh hari penyelenggaraan.

Mungkin sudah banyak yang mengetahui apa sebab JFW tahun ini mengalami perpanjangan waktu, tapi saya juga yakin sebagian lainnya masih belum tau kenapa JFW bisa sampai sepuluh hari. Dan sebenarnya saya juga yakin, mereka yang mengetahui sebab kenapa JFW mengalami perpanjangan waktu, terbagi lagi menjadi 3 kelompok.

Kelompok pertama, adalah kelompok yang memang mengetahui secara detil. Kelompok kedua, adalah kelompok yang mengetahui tetapi tidak secara langsung. Dan kelompok ketiga, adalah kelompok yang mengetahui secara simpang siur.

Saya akan menceritakan sedikit, kenapa JFW 2013 mengalami pertambahan waktu. Hal ini disebabkan oleh insiden yang sering saya katakan “insiden tenda”. Singkatnya, karena cuaca buruk yang terjadi kala penyelenggaraan JFW 2013, tenda utama tempat berlangsungnya fashion show di JFW 2013 mengalami masalah yang cukup serius sehingga seluruh kegiatan yang dijadwalkan akan berlangsung disana mengalami relokasi tempat. Tetapi, saya tidak akan menceritakan detil kejadiannya sekarang, saya akan menuliskannya nanti.

Dan inilah rangkuman JFW 2013 yang sempat saya ikuti.

Hari Pertama (Sabtu, 3 November 2012):

After Finale Sebastian Gunawan at Opening JFW 2013. Model with The Designer: Michelle Samantha

After Finale Sebastian Gunawan at Opening JFW 2013. Model with The Designer: Michelle Samantha

Opening JFW 2013 by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

Opening JFW 2013 by Sebastian Gunawan. Model: Laura Muljadi

20.00-21.00 WIB, Fashion Show Opening JFW 2013 “Indonesia Today, World Tomorrow” oleh Sebastian Gunawan dan Lie Sang Bong.
Pada hari pertama JFW 2013, acara berjalan lancar tanpa ada masalah berarti. Peragaan busana dari Sebastian Gunawan dan Lie Sang Bong, seorang desainer asal Korea Selatan yang memiliki basis di Paris, dimulai tepat waktu sekitar pukul 20.00 WIB. Pada hari pertama penyelenggaraan JFW 2013, lokasi utama adalah di sebuah tenda atau yang biasa disebut Fashion Tent yang dibangun di lapangan di sisi gedung Plaza Senayan, atau di depan Union.

Hari Kedua (Minggu, 4 November 2012):

Pada hari kedua JFW 2013, saya baru datang sekitar pukul 15.00. Pada hari itu sejak awal saya memang hanya ingin menyaksikan peragaan busana dari Ivan Gunawan, dan Anne Avantie. Tapi ketika saya sudah sampai venue acara, saya sedikit terkejut karena semua fotografer yang biasa mengambil posisi di dalam tenda sudah perpindah ke atrium. Mereka, dengan kamera berlensa besarnya sudah bergerombol di bagian depan lintasan catwalk yang dibangun di atrium Plaza Senayan.

Tenda bocor, begitu kata para fotografer. Maka hari itu semua jadwal acara JFW 2013 menjadi tidak pasti. Tidak ada satu pun pihak yang bisa memastikan apakah rangkaian busana yang sedianya akan dilangsungkan di dalam tenda akan dipindahkan ke atrium atau tidak. Lalu ketidakpastian itu berujung pada pemindahan tiga jadwal show yakni, “Dress Me Up Competition” oleh dr.m, Grazia Glitz and Glam, dan “Purana; Retro Batik” oleh Lia Chandra Foundation yang tadinya akan dilangsungkan di tenda menjadi di atrium Plaza Senayan. Sementara tiga jadwal pergaan busana lainnya yaitu, ESMOD “E-Craft”, Ivan Gunawan “Mysterious Regal”, dan Anne Avantie “Puspawarni”, ditambah Pia Alisjahbana Award mengalami penundaan sampai jadwal yang belum dapat ditentukan pada hari itu.

Hari Ketiga(Senin, 5 November 2012):

Pada hari ketiga JFW 2012 menurut jadwal hanya ada satu sesi peragaan busana yang akan berlangsung di atrium, yaitu peragaan busana dari Ted Baker, dan sisanya, ada delapan peragaan busana yang akan dilangsungkan di Fashion Tent. Meski sehari sebelumnya, tenda sempat bermasalah dan berujung pada penundaan beberapa jadwal peragaan busana, panitia JFW 2013 meyakinkan semua awak media dan tamu JFW jika jadwal peragaan busana pada hari itu akan berlangsung secara normal di Fashion Tent. Mereka mengatakan jika area Fashion Tent sudah aman untuk digunakan kembali karena kebocoran yang terjadi telah diperbaiki.

Hari itu saya datang seusai jam sekolah. Kira-kira pukul 18.00 saya baru sampai di Plaza Senayan, hari itu, peragaan busana yang sangat saya nantikan adalah “Globalization” oleh IPMI(Ikatan Perancang Mode Indonesia). Namun ketika saya tiba, saya melihat seorang teman yang termasuk model grup B ada di luar Green Room(ruangan khusus yang hanya boleh dimasuki orang-orang tertentu seperti model, panitia, crew dan sejenisnya) sambil asik mengisap rokok putihnya.

Dia bilang ke saya kalau hari itu semua peragaan busana mengalami keterlambatan, atau lebih tepatnya mundur satu jam dari yang sudah di jadwalkan. Itu sebabnya, dia masih santai-santai saja dan masih sempat ngobrol singkat bersama saya. Dari obrolan saya dengan dia, saya sempat kaget karena grup teman saya itu baru akan muncul lagi di peragaan busana Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata yang seharusnya berlangsung pada pukul 17.00.

Kenapa saya kaget, karena ketika saya ngobrol dengan dia, yang sedang memperagakan busana di dalam tenda adalah grup A, mereka membawakan busana dari LaSalle College International Jakarta. Peragaan busana dari LaSalle itu seharusnya sudah usai sejak satu setengah jam lalu, tapi saat itu, dimulai saja belum. Kata teman saya, “Modelnya baru stand by Nin, show-nya belum”.

Finale "KROMO" oleh Aguste Soesastro

Finale “KROMO” oleh Aguste Soesastro

Finale "Mongoloid" oleh Oscar Lawalata

Finale “Mongoloid” oleh Oscar Lawalata

Peragaan busana dari Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata yang disponsori oleh Samsung Galaxy Notes 10.1 dimulai sekitar pukul 19.00 WIB, hampir dua jam lewat dari jadwal seharusnya. Terlambat besar memang, tapi semua itu seolah termaafkan begitu rangkaian koleksi dari Aguste Soesastro dan Oscar Lawalata dipertontonkan. Kedua desainer muda yang selalu jadi buah bibir berkat karya-karya nya ini, sungguh memenuhi ekspetasi tentang apa lagi yang akan mereka tampilkan.

Awalnya saya kira, penyelenggaraan JFW 2013 hari ketiga ini akan berjalan seperti biasa, meski dengan keterlambatan yang cukup parah, namun setidaknya semua jadwal pergaan busana bisa berlangsung lancar di tenda. Tetapi saya salah, segera setelah peragaan busana usai, tim protokol JFW 2013 dan bagian pengamanan langsung meminta semua orang, termasuk para wartawan dan fotografer untuk meninggalkan area Fashion Tent. Hal ini tidak biasanya dilakukan, karena wartawan dan fotografer selama penyelenggaraan JFW seperti memiliki hak khusus untuk bisa tetap tinggal di dalam tenda untuk meliput peragaan busana selanjutnya atau tidak.

Dimintanya para fotografer dan wartawan untuk meninggalkan area tenda pada hari itu ternyata menjadi pertanda bahwa JFW 2013 kembali mengalami penundaan jadwal. Ya, terhitung sejak pukul 20.00 WIB tanggal 5 November 2012, JFW 2013 mengalami perubahan jadwal, dan Fashion Tent resmi ditutup. Sisa peragaan busana pada hari itu tidak ada yang dilangsungkan, selain Fashion Parade dari Matahari Dept Store yang mengalami pemindahan tempat di atrium.

Hari Keempat(Selasa, 6 November 2012):

Hari keempat penyelenggaraan JFW 2013 saya memutuskan untuk tidak hadir, dan saya punya dua alasan untuk itu. Pertama, kondisi tubuh saya yang mulai drop karena terlalu capek dan sempat kehujanan. Kedua, karena pada hari keempat JFW 2013, enam jadwal peragaan busana yang rencananya akan diadakan di Fashion Tent ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan. Sementara L’Oreal Professionnel “Retro Nouveau” yang menampilkan kolaborasi tata rambut dari L’Oreal dan busana dari Hian Tjen, Soko Wiyanto, dan Yogi Pratama tetap dilaksanakan pada pukul 13.00 di atrium.

Hari Kelima(Rabu, 7 November 2012):

Satu-satunya peragaan busana pindahan dari Fashion Tend yang diselenggarakan adalah peragaan busana dari Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda, yang bekerja sama dengan tiga desainer muda berbakat, Lulu Lutfi Labibi, Sischaet Detta dan Iwan Amir. Peragaan busana ini tetap diselenggarakan di waktu yang sama, yakni pada pukul 13.00, hanya tempatnya saja yang pindah di atrium.

Sebenarnya saya ingin sekali menyaksikan peragaan busana ini, disamping tema menarik yang diangkat yakni “Revival of Batik Belanda”, saya juga penasaran dengan 24 set busana yang akan ditampilkan oleh Lulu Lutfi Labibi, seorang desainer pendatang baru yang bisa saya katakan sebagai “One of The Most Promising Newcomer Designer”. Tapi sayangnya saya tidak bisa datang pada peragaan busananya karena saya sekolah dan pas sekali ada jadwal les tambahan.

Hari Keenam(Kamis, 8 November 2012):

Finale ISIS

Finale ISIS

Finale Lenny Agustin "Paper Garden"

Finale Lenny Agustin “Paper Garden”

Toton The Label Bersama Dua Model-nya. Reti Ragil(kiri), dan Paula Verhoeven(kanan)

Toton The Label Bersama Dua Model-nya. Reti Ragil(kiri), dan Paula Verhoeven(kanan)

Di hari keenam JFW 2013 ada sebuah kabar baik yang resmi diterima. Kabar baik tersebut adalah kepastian tentang penyelenggaraan JFW 2013 dengan perubahan tempat dan pengumuman jadwal baru deretan peragaan busana yang sempat ditunda. Setelah Fashion Tent ditiadakan, panitia JFW 2013, memindahkan tempat peragaan busana di sebuah area baru yang dinamakan Fashion Loft. Fashion Loft bertempat di lantai 4 Plaza Senayan, satu lantai dengan XXI, dan menempati area eks. Bowling Plaza Senayan. Di area ini juga pernah dijadikan tempat terselenggaranya Brightspot Market.

Dengan diresmikannya “kamar baru” peragaan busana utama JFW 2013 ini, maka panitia juga resmi pengumumkan bahwa jadwal JFW 2013 untuk tanggal 8, dan 9 November tidak ada perubahan, hanya tempatnya saja yang berubah dari Fashion Tent ke Fashion Loft. Lalu bagaimana dengan deretan peragaan busana yang ditunda?. JFW 2013 membuat kebijakan bahwa pada tahun ini, JFW tidak diselenggarakan selama 7 hari tetapi mengalami pertambahan hari menjadi 10 hari pelaksanaan. Dengan ditambahnya hari penyelenggaraan JFW 2013, maka deretan peragaan busana yang sempat tertunda dibagi-bagi jadwalnya kedalam tiga hari penambahan tersebut.

Di hari keenam JFW 2013 saya datang baru pada peragaan busana dari ISIS, sebuah brand busana ready-to-wear yang dikepalai oleh Andrea Risjad dan Amot Syamsuri. Setelahnya pada hari itu berturut-turut saya menyaksikan peragaan busana dari Lenny Agustin yang dipersembahkan The Body Shop, Mazda Young Vibrant Designer yang menampilkan tiga nama desainer muda yaitu Friederich Herman, Toton The Label, dan Cynthia Tan, dan yang terakhir adalah peragaan busana dari Ardistia New York.

Hari Ketujuh(Jum’at, 9 November 2012):

IPMI "GLOBALINATION" oleh Liliana Lim

IPMI “GLOBALINATION” oleh Liliana Lim

IPMI "GLOBALINATION" oleh Denny Wirawan

IPMI “GLOBALINATION” oleh Denny Wirawan

Bagi saya, hari ketujuh ini adalah salah satu hari yang paling melelahkan. Saya sudah berada di Plaza Senayan sejak pukul 14.00, satu jam sebelum peragaan busana pertama dari LPM Graduates “The Stylemakers” berlangsung. Kenapa melelahkan?, karena belum apa-apa saya sudah harus berlari-lari kesana kemari, hari itu kebetulan saya ada tugas kecil-kecilan lain selain meliput, dan tugas itu yang membuat saya berlari kesana-kemari menunggu tamu-tamu undangan yang undangannya saya pegang.

Hari itu ada lima peragaan busana yang sedianya akan dilangsungkan di Fashion Loft, tetapi saya hanya menghadiri dua diantaranya, peragaan busana pertama dari LPM Graduates, IPMI “GLOBALINATION”, dan peragaan busana terakhir “Dewi Fashion Knights”. Hari itu saya memang sengaja tidak menyaksikan peragaan busana lainnya karena di hari itu ada tiga orang teman saya yang datang ikut menyaksikan JFW 2013. Saya sudah lama tidak bertemu dengan mereka, karena itu saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu beberapa jam setelah peragaan busana bersama mereka, sebelum saya kembali lagi ke dalam Fashion Loft untuk melihat bagaimana peragaan busana karya para desainer IPMI dan peragaan busana pamungkas JFW akan berlangsung, Dewi Fashion Knight.

Hari Kedelapan(Sabtu, 10 November 2012):

Tadinya saya tidak ingin meliput “beneran” peragaan busana yang terselenggara hari kedelapan JFW 2013 ini. Maksud saya meliput “beneran” adalah mengambil posisi di fotografer pit, mengabadikan gambar dan sekalian memerhatikan secara seksama apa saja yang terjadi di atas panggung peragaan busana untuk kemudian saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan.

Ya, tadinya niat saya seperti itu, tetapi ternyata saya gagal memenuhi keinginan saya untuk duduk manis saja pada peragaan busana dari ESMOD karena saya sedikit telat. Lalu kembali gagal setelah peragaan busana “Puspawarni” dari sang maestro kebaya, Anne Avantie terlalu menggoda untuk dilewatkan hanya dengan duduk manis saja. Karena itu maka saya putuskan untuk tidak hanya duduk manis di satu blok khusus yang diperuntukkan bagi para pemburu berita. Dan hari kedelapan saya berada di JFW 2013 berakhir setelah peragaan busana “Puspawarni” oleh Anne Avantie.

Hari Kesembilan(Minggu, 11 November 2012):

Datang dan menyaksikan Pia Alisjahbana Award sebenarnya tidak menjadi salah satu agenda wajib bagi saya. Jujur, saya tidak begitu tertarik untuk menghadiri acara ini, meski saya pribadi sangat mengagumi sosok beliau sebagai salah satu penggerak industri mode di Indonesia. Tapi saya berubah pikiran ketika tahu dua orang teman baik saya, Gandis dan Merdi, akan hadir pada acara itu karena undangan khusus dari Femina Grup sebagai alumni ajang pemilihan Gadis Sampul. Karena saya jadi merasa “punya teman” jadi saya akhirnya datang dan menyaksikan Pia Alisjahbana Award.

Setelahnya secara berturut-turut saya melihat deretan koleksi teranyar dari Ivan Gunawan yang diberi judul “Mysterious Regal” dan peragaan busana dari Benten. Pada kedua peragaan busana itu, saya masih ditemani oleh kedua teman saya. Ah, harusnya mereka sering-sering datang ke JFW 2013 kemarin, setidaknya saat ada mereka saya jadi lebih semangat. Maklum, biasanya saya hanya sendirian saja ditengah keramaian…hahahaaa.

Hari Kesepuluh(Senin 12 November 2012):

Jakarta Fashion Week 2013 resmi sudah tidak menjadi “week” lagi dengan penyelenggaraan yang genap sepuluh hari. Beberapa hari sebelumnya, Pia Alisjahbana selaku CEO Femina Grup sempat mengatakan, Jakarta Fashion Week tahun ini mungkin memang tidak lagi jadi Fashion Week, beliau lebih senang mengatakannya sebagai “Ten Days of Fashion”.

Di hari kesepuluh ini, ada empat peragaan busana yang dilangsungkan. Keempatnya yaitu peragaan busana dari Hengky Kawilarang, CLEO Fashion Award, Sebastian Gunawan untuk Yayasan Jantung Indonesia dan IKAT Ind oleh Didiet Maulana. Di hari terakhir penyelenggaraan JFW 2013 ini, saya tidak sempat menghadiri semua sesi peragaan busana, saya hanya datang pada CLEO Fashion Award dan Sebastian Gunawan untuk Yayasan Jantung Indonesia. Setelahnya, saya lebih memilih untuk ngobrol macam-macam dengan teman saya yang sudah menyelesaikan tugasnya sebagai model grup B untuk peragaan busana Sebastian Gunawan.

Sekian rangkuman JFW 2013 dari saya. Untuk lebih detilnya, semoga bisa saya tuliskan segera. Ya, saya ingin sekali menulis tentang JFW 2013 per-peragaan busana. Doakan semoga lekas sempat ya. 🙂

“Asymmetry” Danjyo Hiyoji’s Spring/Summer 2013; Welcome Back The Pioner!

Bagi saya, Danjyo-Hiyoji adalah cinta pertama jika membicarakan indie label. Jauh sebelum puluhan indie label yang akhir-akhir ini mudah sekali dijumpai, saya telah mengenal Danjyo-Hiyoji lebih dulu. Saya mengenal mereka sebagai salah satu yang pertama, dan yang berhasil mencuri hati saya.

Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 "Asymmetry"

Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 “Asymmetry”

 Tiga tahun lalu, tepatnya pada JFW(Jakarta Fashion Week) 2009/2010 adalah kali pertama saya mengetahui tentang Danjyo-Hiyoji. Pada satu sesi peragaan busana, saya menyaksikan koleksi-koleksi dari mereka. Rasanya aneh. Kenapa?. Karena saat itu, selama beberapa hari berada di JFW, saya melulu dipertontonkan oleh puluhan koleksi desainer-desainer terkemuka di Indonesia, dan mereka serupa tapi tak sama dalam hal orientasi koleksi. Serupanya karena hampir semua desainer mengarah ke couture, high fashion, atau setidaknya ready-to-wear duluxe. Tetapi tidak samanya, ya karena gaya rancangan mereka sudah pasti berbeda. Polanya beda, warnanya beda, garis rancangannya beda, apalagi tiupan “ruh” yang diberikan, sudah pasti beda. Karena itu, puluhan koleksi busana yang saya saksikan ketika JFW 2009/2010 saya katakan serupa tapi tak sama.

Lalu saya lupa kapan tepatnya, tetapi yang saya ingat adalah saya melihat satu sesi peragaan busana yang menampilkan jajaran busana sehari-hari yang biasa, tetapi tidak biasa. Biasa tapi tidak biasa. Hmmm…begini, busana yang ditampilkan di atas lintasan catwalk JFW itu seperti biasa saya lihat banyak dikenakan di keseharian, atau mungkin bisa kita sebut busana basic. Tapi tidak biasa, karena seperti itulah wujud si busana, tidak biasa, pada cutting, pada warna, pada “sesuatu” yang ada di dalamnya.

Basic with a twist. Kalimat itulah yang sempat dikatakan para punggawa Danjyo-Hiyoji untuk mendeskripsikan koleksinya saat itu. Mungkin terdengar biasa, atau mungkin basi jika kalian dengan sekarang ini, tapi tidak jika kalian mendengarnya tiga tahun lalu, dimana indie label tidak sebanyak sekarang dan tidak mengadopsi garis rancang yang kebanyakkan satu aliran. Tiga tahun lalu, 2009, saya tahu saya mulai jatuh cinta, dengan Danjyo-Hiyoji dan “basic with a twist” yang mereka miliki.

Lama waktu berselang, saya tidak banyak mendengar kabar tentang salah satu label kesayangan saya ini. Terakhir yang saya tahu dan membuat saya sedih adalah ditutupnya toko fisik Danjyo-Hiyoji dan toko-toko lain di Level One Grand Indonesia. Namun beberapa waktu setelah kabar tidak menyenangkan itu, saya mendengar kalau Danjyo-Hiyoji kembali. Sebuah peragaan busana akan diadakan untuk memperkenalkan koleksi busana Spring/Summer 2013 nya.

Mendengar kabar ini, tentu saya senang dan bersemangat sekali. Akhirnya, setelah sekian lama Danjyo-Hiyoji menarik diri dari dunia nyata dan lebih banyak mengandalkan media dunia maya, mereka kembali. Saya akan bisa melihat koleksi mereka lagi langsung di depan kedua mata saya.

Uniquely Video Mapping at Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 "Asymmetry"

Uniquely Video Mapping at Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013 “Asymmetry”

Bertempat di Fairground Area SCBD atau yang dulu lebih dikenal dengan nama Bengkel Night Park, peragaan busana koleksi Spring/Summer 2013 milik Danjyo-Hiyoji ini ternyata tidak berdiri sendiri. Acara yang diberi nama Asymmetry dan The Dream Factory ini merupakan hasil kolaborasi antara peluncuran koleksi Spring/Summer 2013 Danjyo-Hiyoji dan perayaan ulang tahun ke-17 dari Future 10, sebuah promotor musik milik Anton Wiryono, serta didukung penuh oleh Avolution Rated-A. Rated-A adalah sebuah wadah yang dibentuk oleh Avolution bagi para perokok dewasanya untuk menyalurkan aspirasi dan inspirasi di bidang kreatif.

Dimulai sekitar pukul 20.30 WIB, Asymmetry The Dream Factory dibuka oleh karya busana pemenang Rated-A “Metamorforward” Fashion Online Competition yang dilangsungkan beberapa waktu lalu. Setelahnya, tiga orang model yang mengenakan busana serba putih dengan garis rancang berbeda dijadikan manekin pada permainan mapping video yang unik. Bagian mapping video ini adalah salah satu bagian favorit saya sepanjang Asymmetry The Dream Factory. Ketika tiga orang model itu berdiri di depan dinding putih dan proyektor mengarah kepada mereka lalu memainkan mapping video yang serupa permainan laser, saya hanya bisa berdecak kagum, serta berkali-kali mengatakan, “Keren!”.

Kurang lebih lima menit mapping video itu diputarkan dan tiga model mematung di depannya sebelum mereka pergi ketika mapping video selesai, pertanda acara yang paling saya tunggu-tunggu akan segera dimulai, peragaan busana koleksi Spring/Summer 2013 DanjyoHiyoji.

Salah satu koleksi teranyar Danjyo-Hiyoji. Suka blazer hitam ini :D

Salah satu koleksi teranyar Danjyo-Hiyoji. Suka blazer hitam ini 😀

Menampilkan 30 busana yang dibawakan oleh 15 model wanita dan 15 model pria. Bagi saya, Danjyo-Hiyoji seperti membagi-bagi koleksi busana kali ini ke dalam empat kategori. Pertama, busana dengan paduan warna-warna cerah. Kedua, busana dengan motif print. Ketiga, busana dengan potongan cenderung lebih clean dan aplikasi warna-warna “aman”. Dan keempat, busana yang di dominasi warna gelap semisal hitam dengan menitikberatkan pada permainan struktur dan volume busana.

Pada koleksi kali ini Danjyo-Hiyoji terasa sangat bermain-main dengan banyak hal, tidak hanya sebatas garis rancang atau potongan busana seperti yang biasa mereka lakukan, tetapi mereka juga mengeksplorasi warna, garis rancang, struktur busana, volume, hingga motif print pada koleksinya. Hal itu sudah pasti tidak mudah. Dengan koleksi dengan jumlah yang tergolong sedang-sedang saja, dan banyaknya elemen yang “dimainkan”, saya pikir bisa saja jika koleksi Danjyo-Hiyoji kali ini jatuhnya “random collection”, sangat berlainan diantara satu sama lain dan tidak memiliki benang merah atau “ruh” yang sama. Seperti koleksi yang diambil secara acak, dan hanya lebih berat kekeberagaman tanpa adanya satu pengikat.

Tapi apakah hal itu terjadi?. Bagi saya tidak. Setelah melihat keseluruhan koleksi milik Danjyo-Hiyoji, saya tetap bisa merasakan satu benang merah yang sama. Saya tetap bisa merasakan kalau itulah Danjyo-Hiyoji, Indie Label yang telah membuat saya jatuh cinta tiga tahun lalu. Mereka tetaplah sama, meski digarap dengan formasi baru. Bagi saya, pada koleksi Spring/Summer nya kali ini, Danjyo-Hiyoji justru makin memperlihatkan kematangannya dalam berkarya. Mereka berani mengeksplorasi hal-hal baru pada koleksinya, mengambil beberapa resiko yang ada, dan seolah mengatakan, “We can create many kind of outfit with the same spirit.”

Sebagian dari koleksi Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013. Coba lihat, koleksi printing-nya, keren banget ya? :)

Sebagian dari koleksi Danjyo-Hiyoji Spring/Summer 2013. Coba lihat, koleksi printing-nya, keren banget ya? 🙂

"Dark Collections" Danjyo-Hiyoji yang bikin jatuh cinta(khususnya 4 koleksi di tengah foto). I love this collection, cause, hey, I love black outfit! Lol :p

“Dark Collections” Danjyo-Hiyoji yang bikin jatuh cinta(khususnya 4 koleksi di tengah foto). I love this collection, cause, hey, I love black outfit! Lol :-p

Sepanjang jalannya peragaan busana, selain bagian mapping video saya juga sangat suka sekuens koleksi busana print. Sampai saya menuliskan ini, saya sebenarnya masih menerka-nerka sebenarnya apa motif print yang ada pada koleksi Danjyo-Hiyoji. Motif-motif yang dibubuhkan pada busana berwarna dasar putih itu bagi saya terlihat seperti bagian dari arsitektur art deco (?), burung phoenix (?), geladak kapal (?). Ah, jujur saya bingung, biar nanti saya cari tahu lagi. Tapi sungguh, saat melihat koleksi tersebut diperagakan para model di lintasan catwalk, terasa keren. T-shirt, baju terusan, celana panjang, kemeja, hingga blazer yang mungkin biasa saja jadi sangat menarik tapi tidak too much karena penempatan motif print yang proporsional serta pemilihan warna yang tidak terlampau ramai.

Selain bagian koleksi bermotif print, yang juga paling saya sukai adalah rangkaian koleksi busana yang didominasi warna hitam. Terutama ketika koleksi tersebut dibawakan oleh tiga orang model dengan koreografi spesial yang banyak menggunakan gerak tubuh, ditambah dengan aksesori topeng berwarna hitam, jadilah pada bagian ini terasa lebih drama.

Bukan hanya karena faktor drama-nya saja yang saya suka, tetapi busana yang mereka kenakan, juga keluwesan gerak tubuh tiga model itu turut membungkus keseluruhan dengan sangat pas. Dan jujur saya sedikit surprise ketika sadar salah satu dari tiga model pada bagian itu adalah Reti Ragil. Ya, Reti Ragil, si Super Skinny Girl yang pernah saya tulis profilnya, dan dua model lainnya adalah Drina Ciputra dan Antie Damayanti. Kenapa surprise?, mungkin karena selama ini saya tidak pernah melihat Reti melakukan koreo dengan body movement yang kental seperti saat itu, sementara saya sudah menyaksikan kepiawaian Drina dan Antie dalam olah tubuh di lintasan catwalk. “I think she was great, and they was awesome”.

Namun, harus jujur saya katakan, tidak semua koleksi Danjyo-Hiyoji tersaji pas sempurna. Ada beberapa koleksi, terutama yang ditampilkan pada awal peragaan busana bagi saya terasa seperti pengulangan yang terlalu biasa meski terasa sangat diusahakan untuk menjadi tidak biasa. Saat melihat koleksi tersebut saya seperti ingin mengatakan, “I’m so sorry, but it’s like so last year”. Memang pada kenyataannya, pengulangan bukan hal yang baru di dunia fashion atau dimanapun, pengulangan sangat sering dilakukan, tapi entah mengapa, pada beberapa kesempatan, pengulangan terasa mengganggu pikiran. Hmmm…mungkin saya terlalu sensitif pada beberapa kesempatan, terutama yang menyangkut hal-hal yang sangat saya sukai dan perhatikan.

Tetapi secara keseluruhan saya sangat senang dan belum puas dengan peragaan busana Spring/Summer 2013 Danjyo-Hiyoji. Sangat senang karena “Sang Pioner” kembali, dan belum puas karena saya ingin melihat lagi, lagi, dan lagi koleksi dari Danjyo-Hiyoji. Ah, ya, dan belum puas karena saya tidak bisa mendapatkan foto-foto yang bagus pada peragaan busana itu karena pengaturan spot untuk mengambil foto yang bagi saya susah sekali untuk ambil foto. Terlebih dengan kamera imut saya ini…hahaha 🙂