Indonesia Fashion Week 2013, What’s Next After Colorful Indonesia?

Image

Penggelut, pemerhati serta pecinta dunia mode di Indonesia tentu sudah akrab dengan beberapa nama perayaan mode tahunan yang terselenggara di Bumi Pertiwi, terutama yang dilaksanakan di Ibukota. Di tahun 2012 silam, tersebutlah satu perayaan mode teranyar yang dihelat, perayaan tersebut bernama Indonesia Fashion Week. Publik mungkin sempat dibuat bingung ketika awal penyelenggaraannya. Mengira-ngira apakah Indonesia Fashion Week ada kaitannya dengan Jakarta Fashion Week? Mungkinkah ajang ini seumpama peleburan seluruh pekan mode yang ada sehingga terangkum jadi satu? Jawabannya adalah, tidak.

Indonesia Fashion Week merupakan satu perayaan mode baru yang bagi saya hadir bukan untuk merangkum keseluruhan ajang perayaan serta pekan mode yang ada. Bagi saya, Indonesia Fashion Week ada untuk semakin menyemarakan peta dunia mode Indonesia melalui kekhasan dan warnanya sendiri. Indonesia Fashion Week hadir dalam konsep yang berbeda. Acara ini tidak hanya memfokuskan pada acuan tren mode dalam kurun waktu setahun setelah penyelenggaraan, tapi juga melebarkan sayap dan memeluk lebih banyak aspek yang ada di dalam industri mode di Indonesia.

Talkshow, peluncuran buku mode, kompetisi desain, hingga ajang pemasaran produk mode karya anak negeri jadi agenda acara selain peragaan busana yang tentunya menjadi salah satu menu utama yang paling ditunggu-tunggu selama berlangsungnya Indonesia Fashion Week.

Bagi saya, menjadi sangat menarik ketika ajang perayaan mode tidak hanya ada sebagai acuan tren di masa mendatang, melainkan ajang pengenalan, pemasaran, dan juga promosi produk mode dari para perintis baru. Indonesia Fashion Week melakukannya dengan cukup baik dan menarik karena memberikan ruang bagi desainer muda atau mereka yang baru memulai usahanya di bidang fesyen untuk bisa memasarkan produknya di rangkaian acara Indonesia Fashion Week.

Bagi saya, di tahun kemarin, Indonesia Fashion Week secara keseluruhan berhasil menuai sukses. Tema “Colorful Indonesia” yang diusung telah mampu diterjemahkan dengan baik pada keseluruhan aspek. Pemilihan desainer ataupun merek yang koleksinya ditampilkan pada peragaan busana baik yang berlokasi di Assembly Hall dan Plenary Hall memiliki warna-warni tersendiri yang mampu mewakili setiap warna yang terpancar dari keberagaman di Indonesia.

Desainer-desainer yang biasa kita kenal dengan karyanya yang berbau etnik seperti Ghea Panggabean, Deden Siswanto, Musa Widyatmodjo hingga Anne Avantie terasa semakin kuat dalam rangkaian koleksi yang dipamerkan. Sementara para desainer muda yang memiliki semangat kebebasan dalam berkarya semisal Yosafat, Jeffry Tan, sampai  Nina Nikicio menampilkan koleksi-koleksi yang mampu merefleksikan kaum muda di kota-kota besar Indonesia dewasa ini. Pengunjung yang datang dan membeli tiket untuk dapat menikmati ajang Indonesia Fashion Week pun cukup dimanjakan dengan keanakeragaman pilihan berbelanja produk fesyen dari para exhibitor.

Meski secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa Indonesia Fashion Week merupakan satu perayaan mode yang komplet, namun pertanyaan-pertanyaan besar muncul kemudian. Bagaimanakah jalannya ajang Indonesia Fashion Week di tahun 2013 ini? Dapatkah Indonesia Fashion Week memenuhi ekspetasi akumulasi kesuksesan yang berhasil ditoreh pada tahun penyelenggaraan kemarin? Dan yang terakhir, apalagi inovasi yang akan ditawarkan gelaran Indonesia Fashion Week setelah “Colorful Indonesia” ? Penasaran sekaligus tak sabar rasanya menunggu ‘what next?’ di Indonesia Fashion Week.

A Study of Light; Kekuatan Cahaya Dari Presfektif Seniman Muda

Mereka bermain dalam cahaya. Masing-masing menginterpretasikan bias warna yang dihasilkan cahaya dalam sebuah karya. Fotografi, lukisan, film, hingga instalasi cahaya dihadirkan dalam kekuatan karakter si empunya. Namun, meski cahaya yang dijadikan jiwa utama, karya para seniman ini tak lantas penuh warna, karena mereka nampak lebih tertarik dengan sisi kelam dari cahaya.

"A Study of Light" .Koleksi foto karya Advan Matthew.

“A Study of Light” .Koleksi foto karya Advan Matthew.

Dorongan terbesar saya ketika menghadiri sebuah pameran bernama “A Study of Light” adalah undangan dari salah satu teman saya, si fotografer muda yang sangat berbakat, Advan Matthew. Saya memang belum lama mengenalnya, tapi jujur saja, saya sudah terlanjur mengagumi hasil jepretan kameranya sejak saya belum kenal dia. Cerita tentang bagaimana saya berkenalan dengannya pun sederhana saja. Seorang teman saya -yang juga teman sekaligus model foto Advan- yang mengenalkan pada saya.

Singkat kata, karena undangan dari Advan itulah yang membuat saya begitu ingin datang ke pameran tersebut. Saya ingin sekali memenuhi undangannya dan juga melihat deretan karya foto Advan yang menjadi bagian dari pameran “A Study of Light”.

Tiba sekitar pukul 20.30 WIB, galeri seni Dia. Loe. Gue yang ada di daerah Kemang-tempat berlangsungnya pameran- terlihat tidak terlalu ramai. Ketika akan masuk ke dalam, saya hanya melihat dua orang yang asik bercengkrama di depan pintu. Bagian penerimaan tamunya juga sederhana, hanya ada satu meja tinggi yang di atasnya sudah tersedia buku tamu. Dua wanita muda dalam balutan gaun pendek yang cantik kemudian meminta saya untuk menuliskan data saya pada buku itu.

Galeri seni Dia.Loe.Gue dibagi menjadi enam titik. Empat titik yang digunakan untuk memamerkan hasil karya empat seniman muda yang jadi suguhan utama, dan dua titik lainnya ada lounge yang sengaja disediakan untuk menjamu para tamu yang datang.

Titik pertama pameran "A Study of Light", koleksi foto hitam putih yang dicetak di atas kanvas karya Advan Matthew.

Titik pertama pameran “A Study of Light”, koleksi foto hitam putih yang dicetak di atas kanvas karya Advan Matthew.

Sebagian foto berbingkai hitam karya Advan.

Sebagian foto berbingkai hitam karya Advan.

Salah satu foto favorit saya dari semua karya Advan, figure Ivan Zakharov sangat memukau.

Salah satu foto favorit saya dari semua karya Advan, figure Ivan Zakharov sangat memukau.

Memasuki titik pertama dari pameran, saya disajikan deretan foto hitam-putih karya Advan Matthew yang sebagian dicetak di atas kanvas putih dan sebagian lagi dibingkai apik. Koleksi fotonya kali ini ia beri judul “Gray”. Pada deretan fotonya, Advan menyutikkan empat inspirasi utama yang ia jadikan pengikat karya fotonya. Empat inspirasi itu adalah portrait, black-and-white-like-piano, feminine figures, dan nighttime.

Bagi saya, hal paling menarik dari koleksi foto Advan adalah kejelian Advan dalam menangkap detil dan tekstur dalam fotonya. Keminimalisan warna yang sengaja ia gunakan pun justru menambah sisi dramatis dari hasil jepretan kameranya. Figure yang ia abadikan dalam medium foto terasa kuat dan sangat berkarakter.

Para model perempuan dalam foto-foto Advan seperti Luna Maya, Advina Ratnaningsih, Karenina Anderson, Naila Alatas, Dara Warganegara, dan Imelda Therine terasa sangat “berbahaya”. Seksi, berkarakter kuat, dan misterius. Sementara para model lelakinya semisal, Darell Ferhostan, Ivan Zakharov, dan Mateusz Rogenbuk sangat mempesona dengan aura feminitas yang tinggi. Saya bahkan memandangi foto para lelaki itu berlama-lama, magis, mereka cantik namun tampan. Sangat feminin, namun saya masih bisa merasakan sisi maskulin yang seolah mengintip dalam diri mereka.

Setelahnya, tepat berhadapan dengan karya-karya foto Advan, terdapat sebuah ruangan yang tak terlalu luas. Bagian depan ruang itu tertutup tirai berwarna biru tua, sementara di dalamnya ada sekitar sepuluh kursi yang diatur menghadap layar putih yang sedang memutarkan sebuah fashion film. Le Vécu, ialah judul yang disematkan Stephanie Arifin pada fashion filmnya. Bercerita tentang seorang gadis yang menyusuri sebuah kota seorang diri. Dalam perjalanannya itu, ia kembali mengingat tentang masa lalunya, juga dengan hubungan yang pernah ia jalin bersama seorang pria, dan semua itu disajikan dalam durasi sekitar 10-12 menit.

Melewati satu titik lounge, saya masuk kesebuah ruangan kecil berdinding kaca berukuran kurang lebih duasetengah kali satu meter. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah pintu putih berlubang kecil, dan sebuah box kayu berukuran besar yang diletakkan tepat di bawah pintu. Itulah ruangan Instalasi Cahaya berjudul “1903” milik Gerry Habir.

Jika yang jadi pertanyaan, dimana letak instalasi cahayanya? Kenapa hanya ada pintu berlubang dan box kayu? Ya, justru disanalah letak keunikan karya seni satu ini. Untuk menikmati instalasi cahaya karya Gerry Habir, saya harus naik ke atas box kayu besar yang diletakan di depan pintu lalu mengintip ke dalam si pintu tersebut sambil mendengarkan dengan seksama suara-suara dari headset yang tersedia.

Lantas, apa yang ada di balik pintu? Manekin. Ada empat manekin disana, dan  manekin-manekin itu akan bermonolog, membawa siapa saja yang mengintip-termasuk saya- pada sebuah cerita ketika tombol hijau di bagian sisi pintu ditekan. Lalu, dimana letak cahaya nya? Cahaya dimainkan secara apik ketika monolog manekin muncul.

Lukisan hitam putih figure perempuan karya Talitha Maranila "Penumbra, 'Half Shadow' ".

Lukisan hitam putih figure perempuan karya Talitha Maranila “Penumbra, ‘Half Shadow’ “.

Salah satu lukisan karya Talitha Maranila.

Salah satu lukisan karya Talitha Maranila.

Selesai dengan instalasi saya sempat mematung agak lama di depan karya lukisan milik Talitha Maranila yang ia beri judul “Penumbra ‘Half Shadow”. Tiga lukisan figure wanita dalam semburat warna hitam putih terpampang di depan dinding putih yang di cat mural warna hitam. Gambaran wanita dalam nuansa kelam, ada rasa kekosongan, perenungan, dan kemarahan. Kurang lebih seperti itu yang bisa saya tangkap ketika melihat ketika lukisan karya gadis muda yang baru berulang tahun ke duapuluh dua di Oktober tahun lalu ini.

Kotak lampu, yang ini cahaya warna merah muda, terukir figure wajah wanita.

Kotak lampu, yang ini cahaya warna merah muda, terukir figure wajah wanita.

Dan titik terakhir dari pameran “A Study of Light” adalah sebuah lounge yang terisi beberapa meja dan kursi putih. Di lounge titik terakhir itu, pada empat sudutnya diletakkan kotak lampu persegi panjang yang tingginya sekitar satu sampai satu setengah meter. Yang menarik dari kotak-kotak lampu itu bagi saya adalah motif-motif ukiran yang ada pada si kotak lampu berwarna putih tersebut. Pada setiap kotak lampu, tema ukiran serta cahaya yang dipancarkan berbeda. Tiap kotak lampu seolah mewakili satu subtema, ada wajah perempuan, hingga gedung perkotaan. Lalu pada salah satu sudut lounge pun tersedia penganan kecil dan minuman ringan yang bisa dinikmati secara cuma-cuma oleh setiap pengunjung.

Bagi saya, secara keseluruhan, pameran “A Study of Light” adalah satu kesatuan yang sangat menarik. Memperhatikan dengan seksama karya para seniman muda yang dipamerkan adalah suatu perenungan yang menyenangkan. Dalam kepala saya, rasanya ada begitu banyak yang terpikirkan tentang si pameran dan karya yang dipertontonkan. Menarik, ketika para seniman muda yang menjadikan cahaya sebagai kekuatan utama dalam karyanya justru mengiris cahaya lebih banyak di bagian minim warna.

Foto-foto hitam putih yang dicetak di atas canvas, tiga lukisan figure perempuan bernuansa kelam, dan instalasi cahaya dengan manekin yang bercerita layaknya film noir,  tiga karya itu saja sudah mengambil cahaya hanya dibagian bias warna dasar, hitam dan putih. Kalaupun ada fashion film besutan Stephanie Arifin yang berwarna, gadis berusia duapuluh lima tahun itu terasa menurunkan intensitas warna yang ada, sehingga fashion film itu juga terasa kelam, dan sangat personal. Mengapa saya mengatakan sangat personal? Karena sang kreator begitu banyak memasukan simbol-simbol metamorfora yang sering membuat saya mengernyitkan dahi dan berpikir keras apa maksud dari simbol-simbol yang disisipkan Stephanie.

Lalu cahaya berwarna lain yang bisa saya jumpai adalah dari kotak-kotak lampu di bagian lounge serta toples-toples berisi cairan yang memancarkan warna terang di dalam gelap. Bagi saya, pameran “A Study of Light” memiliki daya pikat yang tinggi. Cahaya seperti penunjuk jalan yang membawa saya pada suatu perjalanan. Seperti menyusuri sebuah lorong penuh lukisan dan ukiran magis yang sangat menghipnotis lalu bertemu dengan warna-warni cahaya pada bagian akhir penyusuran.

Up2 Date “Retrospection” ; Koleksi Baru Yang Menengok Tren Masa Lalu

Ada tiga hal yang akhirnya saya sadari seusai menyaksikan peragaan busana tahunan dari Up2Date. Pertama, busana Muslim bisa jadi fashion item yang sangat seru dan menyenangkan. Kedua, pilihan gaya busana Muslim yang semakin beragam mematahkan stereotype kuno, kaku, hingga tidak styish yang seakan tertanam kuat pada busana Muslim. Ketiga, rasanya target Indonesia sebagai kiblat mode busana Muslim adalah suatu hal yang sangat realistis dan terasa makin dekat.

Up2Date "Retrospection"

Up2Date “Retrospection”

Dulu saya sering terjebak pada pemikiran bahwa menyaksikan peragaan busana Muslim adalah suatu hal yang membosankan. Pikiran ini terbangun bukan tanpa sebab, saya pernah beberapa kali datang dan menyaksikan peragaan busana Muslim dan saya tidak terlalu antusias melihat hasilnya. Saya bosan, apa yang ditampilkan itu-itu saja. Kadang saya merasa busana-busana Muslim yang dulu saya lihat itu terlalu dipaksakan. Niatnya menyelaraskan kaidah serta syariah busana Muslim dengan tampilan yang modis nan stylish, tapi sayangnya banyak yang gagal dan jadi tak menarik di mata saya.

Ada yang terlalu ramai, ada yang terlalu “berat”, ada yang terlalu mencolok, ada yang terlalu memiliki tampilan serupa antara satu dengan lainnya, dan ada juga yang niatnya ingin diperuntukan bagi anak muda, tapi terasa tidak mengikuti dinamisnya tren yang sedang “in” di kalangan anak muda.

Namun sesi terjebaknya saya dalam pemikiran dan perasaan setengah hati tentang busana Muslim luruh beberapa hari lalu ketika saya datang dan menyaksikan peragaan busana dari Up2Date. Apa yang ada dalam pikiran saya tentang busana Muslim itu membosankan, kaku, hingga tidak stylish menguap secara bertahap seiring dipertontonkannya koleksi-koleksi teranyar dari Up2Date.

Mengambil tempat di Ballroom 3 Hotel Mulia Jakarta, peragaan busana tahunan Up2Date dihelat pada Selasa 8 Januari 2013. Dimulai sekitar pukul 14.30 WIB, salah satu pionir penggerak perkembangan tren dalam busana Muslim bentukan Irna Mutiara ini merilis tak kurang 60 set koleksi. Dalam rangkaian koleksinya yang sekarang Up2Date menyuntikan formula yang unik pada keseluruhan koleksi. Formula ini dibuat dengan mencampurkan dua unsur, masa lalu dan masa kini.

O

Sekuens Satu Up2Date “Retrospection”, Ocean Motion.

Sekuens Dua Up2Date "Retrospection", Country Retreat.

Sekuens Dua Up2Date “Retrospection”, Country Retreat.

Sekuens Tiga Up2Date "Retrospection", Femme Valiant.

Sekuens Tiga Up2Date “Retrospection”, Femme Valiant.

Sekuens Empat Up2Date "Retrospection", Luxury Looks.

Sekuens Empat Up2Date “Retrospection”, Luxury Looks.

Mengangkat tema “Retrospection”, peragaan busana milik Up2Date kali ini kembali membuka album-album foto lama yang mengabadikan jejak perjalan Up2Date di tahun 2005-2006. Pada masa itu, koleksi Up2Date banyak dilatarbelakangi unsur-unsur mode yang mewakili era 1950-1960an. Era dimana masyarakat dunia mulai terbebas dari masa-masa perang dan mulai bisa menikmati uang yang dimilikinya dengan lebih leluasa.

Hal lain yang terkenang pada era ini juga ketika para perempuan mulai membebaskan dirinya dari keterikatan sekadar mengurus urusan rumah tangga. Mereka mulai memiliki lingkup pergaulan yang lebih luas, dan mengikuti perkembangan mode terbaru, namun tidak serta-merta meninggalkan kewajibannya di rumah atau lingkungan keluarga.

Pandangan ulang ke masa lalu ini kemudian di terjemahkan lagi dalam cita rasa terkini oleh Up2Date. Melalui ke-60 set koleksi kemudian dibagi lagi ke dalam 4 subtema, Up2Date coba merangkum dan menginterpretasikan racikan gaya koleksi terdahulu dengan ruh tren mode masa lalu dalam wajah terbaru.

Dibagi atas 4 sekuens, Up2Date mempersembahkan “Ocean Motion” sebagai hidangan pembuka dalam rangkaian peragaan busana.

Terinspirasi gaya rompi ala bajak laut. Model: Christina Borries

Terinspirasi gaya rompi ala bajak laut. Model: Christina Borries

Warna biru dongker, garis rancang tegas dan penggunaan aksen kancing berukuran besar seperti busana awak kapal tempo dulu. Model: Firrina

Warna biru dongker, garis rancang tegas dan penggunaan aksen kancing berukuran besar seperti busana awak kapal tempo dulu. Model: Firrina

Pada sekuens awal ini Up2Date mengembalikan tren mode ke tahun 1950an. Eksplorasi gaya kelautan(nautical) yang populer di masa itu hadir kembali dalam wajah baru. Motif garis-garis ala bajak laut dan awak kapal diwujudkan dalam siluet ringkas. Jenis busana mulai dari blazer, celana, blus, tunik, gamis, dan jaket berpadu menarik dengan atasan yang mengadopsi model kerah berkelepak yang sangat kekinian.

Tiga warna utama yang mendominasi era ini, yakni merah, putih, dan biru kemudian diberi sentuhan warna pasir gurun sehingga menjauhkan kesan monoton. Penempatan detil-detil kecil semisal kancing berwarna emas dengan ukuran yang cukup besar pun menambah daya tarik tersendiri. Kancing-kancing itu seakan mempertegas karakter seluruh koleksi yang ditampilkan sehingga terkesan lebih kuat.

Bahan denim jadi salah satu padupadan blus dan rok berwarna tanah. Model: Bunga Jelita

Bahan denim jadi salah satu padupadan blus dan rok berwarna tanah. Model: Bunga Jelita

Kemeja dengan suspender salah satu cara untuk memuncul imej farm's girl.

Kemeja dengan suspender salah satu cara untuk memuncul imej farm’s girl.

Kentalnya nuansa pedesaan serta tren motif kotak-kotak dan bunga-bunga yang sempat “in” di era 1950an hadir pada sekuens kedua, “Country Retreat”. Gaun berpotongan di pinggang, dipadu dengan rompi dari bahan denim berjumbai serta dilengkapi suspender dan sepatu bot sebetis selayaknya kegiatan perempuan di daerah pedesaan saat bekerja di ladang, berkebun, berternak, atau pun berkuda. Penggunaan warna tanah semisal coklat dalam berbagai jenisnya yang sangat mendominasi juga turut mengambil andil semakin kentalnya imej “farm’s girl” pada sekuens ini.

Siluet military sangat terasa pada sekuens tiga.

Siluet military sangat terasa pada sekuens tiga.

Blazer dengan warna merah gelap serta aksen atribut ala militer.

Blazer dengan warna merah gelap serta aksen atribut ala militer.

Sekuens tiga yang mengambil subtema “Femme Valiant” hadir dengan menampilkan koleksi busana berkarakter kuat dan tegas. Pesona sisi kuat dari seorang perempuan kemudian diinterpretasikan melalui rompi, jaket parka(jaket sepinggul dengan tutup kepala), jaket bomber(jaket pendek dikerut di pinggang dan pergelangan tangan), sepatu bot, aksen kancing ukuran besar yang memunculkan kesan tegas, tuxedo yang sedikit military dan boyish namun tetap feminin dalam warna hijau tentara, krem dengan sentuhan warna merah.

Tampilan busana Muslim yang elegan, glamor dan stylish dari sekuens empat.

Tampilan busana Muslim yang elegan, glamor dan stylish dari sekuens empat.

Pemilihan warna abu perak yang semakin memunculkan kesan elegan dan sophisticated.

Pemilihan warna abu perak yang semakin memunculkan kesan elegan dan sophisticated.

Terinspirasi dari busana untuk pergi ke pesta yang populer di tahun 1960an, sekuens penutup, “Luxury Looks” menghadirkan pilihan busana Muslim yang ringkas dan sederhana namun tetap elegan serta glamor. Warna-warna yang terkesan mewah semisal emas, perak, dan hitam gemerlap menjadi komposisi apik pada set busana yang terdiri dari blazer, rok, blus, dan gamis. Koleksi yang ditampilkan pada sekuens penutup ini diperuntukkan bagi mereka yang memerlukan busana Muslim yang cantik nan elegan untuk dikenakan tatkala datang ke sebuah acara pesta baik formal maupun semi-formal.

Merangkum keseluruhan peragaan busana, hajatan tahunan yang diselenggarakan oleh Up2Date ini terbilang sangat sukses. Banyak aspek yang terasa sekali telah dipersiapkan dengan matang  oleh Up2Date pada rangkaian koleksi mereka. Pondasi-pondasi dasar yang diperlukan dalam membuat suatu rancangan ataupun koleksi telah  dikuasai dengan sangat baik.

Up2Date nampak mengerti benar jika salah satu pangsa terbesarnya adalah anak muda, dan mereka mengkreasikan koleksi mereka dengan semangat kekinian dan mengikuti apa yang sedang digandrungi anak muda jaman ini seperti cutting-cutting asimetris, peminimalisiran warna-warna yang terlampau mencolok, serta detil yang memiliki twist.

Menariknya lagi, tiap outfit yang disuguhkan Up2Date banyak yang terasa universal. Maksudnya, setiap potong busana tidak terasa saklek harus dikenakan dengan pasangannya yang baik dan benar serta  akan tetap menawan jika dikenakan oleh mereka yang pada kesehariannya tidak mengenakan hijab. Banyak diantara koleksi yang saya lihat akan sangat menarik dan seru jika dikenakan secara terpisah dan dipadupadankan dengan fashion item lainnya yang bukan satuan produk Up2Date. Blazer, jaket, celana, blus, rompi, hingga jaket bomber yang ditampilkan bisa dikatakan sangat “hip” dan anak muda. Saya malahan berpikir berulang kali jika item-item tersebut hampir tak ada bedanya dengan item busana non-Muslim yang “in” di kalangan anak muda, hanya saja dalam versi yang lebih tertutup dan santun.

Sekuens Dua Up2Date "Retrospection", Country Retreat.

Sekuens Dua Up2Date “Retrospection”, Country Retreat.

Jika ada kekurangan yang terasa pada peragaan busana Up2Date “Retrospection” ialah pengemasan peragaan busana itu sendiri yang kurang menarik. Terlalu biasa dan sangat sederhana. Saya cukup mengerti jika mungkin pengemasan seperti itu adalah bagian dari konsep yang dipilih, namun alangkah lebih menariknya bila seandainya pada peragaan busana beberapa aspek penunjang lebih diperhatikan.

Misalnya saja multimedia, atau mungkin detil dekorasi panggung peragaan busana. Tidak perlu membuat multimedia heboh yang sangat canggih, tidak perlu juga dengan detil tata panggung yang rumit, tetapi sedikit sentuhan multimedia seperti misalnya animasi, video dan lain sebagainya tentu akan membuat peragaan busana dan busana itu sendiri semakin menarik. Terlebih lagi jika panggung peragaan busana diberikan sedikit dekorasi detil, ide, tema, serta kekuatan karakter busana sudah pasti akan semakin kental terasa.

My Frist Article. Merekonstruksi Mimpi, Pada Resolusi Tahun Ini

Ini Artikel pertama saya setelah bergabung sebagai salah satu tim copywriter di Lee Cooper Indonesia. Senang rasanya bisa jadi bagian dari keluarga besar Lee Cooper 🙂

tumblr_mgcateR17w1rup8mxo1_500

 

Posted On 9th January 2013

Merekonstruksi Mimpi, Pada Resolusi Tahun Ini

Apa resolusi LC Friends, tahun ini? Tunggu dulu, jangan dijawab dan coba pikirkan lagi. Namun yang dipikirkan bukan mengenai resolusi, tetapi seberapa seringnya LC Friends mendengar pertanyaan tadi. Resolusi? Tahun ini? Apa? Adakah?

Pertanyaan tentang resolusi adalah pertanyaan abadi ketika tahun berganti. Meski sudah berulang-ulang kali dilontarkan, tetapi tetap saja hal itu seakan tidak bosan untuk ditanyakan kembali. Resolusi. Target. Tujuan. Keingianan. Ada yang menganggapnya satu hal yang basi, dan ada pula yang menganggapnya sebagai sebuah misi yang harus direncanakan matang-matang lalu dicapai. Namun kadang, resolusi hanya jadi hal yang menyakitkan, terutama apabila kita tidak bisa mencapainya sesuai dengan apa yang telah dicita-citakan. Benci dengan resolusi? Mungkin saja terjadi.

Lalu, bagaimana caranya untuk mengatasi rasa sakit hati karena resolusi, LC Friends? Mari kita merekonstruksi mimpi. Menata ulang kembali mimpi-mimpi kita yang terlalu tinggi menjadi sesuatu yang lebih membumi. Ibarat anak bayi, tentu tidak bisa langsung berlari, namun harus merangkak, terjatuh, sampai berjalan tertatih. Seperti itulah mimpi. Jadi, mari merekonstruksi mimpi dan bertekat untuk mewujudkannya tahun di tahun yang baru berjalan beberapa hari ini!

Happy New Year 2013 from Lee Cooper!

 

Terimakasih Teman-Teman Model untuk ABG di Balik Runway

Delapan model bersama ABG di Balik Runway

Delapan model bersama ABG di Balik Runway

Terimakasih teman-teman model semua. Terimakasih delapan teman model dalam foto diatas:
1. Melinda Priskila, 2. Kelly Tandiono, 3. Christina Borries, 4. Whulandary Herman
5.Winny Christy, 6. Maria Margareth, 7. Ayu Faradilla, 8. Marcella Tanaya

Bersama ABG di Balik Runway

Bersama ABG di Balik Runway

Terimakasih juga untuk para model di dalam foto ini:
1. Simona Travnickova yang berpose seksi dengan ABG di Balik Runway :-p
2. Richard Fiando dan Hendy Bramantyo
3. Mareike Brenda
4. Renobulan Sanusi

Dan yang terakhir terimakasih banyak untuk seorang teman baik, si Model Pendiam:

Temen gue si Model Pendiam

Temen gue si Model Pendiam

ABG di Balik Runway Ada di Toko Buku!

Tanggal 21 Desember 2012 lalu, buku pertama gue rilis. Yup, setelah menunggu sekian lama, akhirnya “bayi” pertama gue yang unyu ini hadir di toko-toko buku.

Cover Buku ABG di Balik Runway

Cover Buku ABG di Balik Runway

Ketika buku ini resmi terbit dan ada di toko buku, perasaan gue campur aduk. Ramai sekali. Seperti ada karnaval disana, ada badut-badut lucu, ada kembang api, ada gulali. Penuh warna, penuh suara. Ramai. Mungkin yang bisa mengalahkan ramainya perasaan gue adalah ramai suara kembang api saat gue datang seharian penuh pada perayaan pesta ulang tahun Central Park karena percayalah puncak acara ini benar-benar ramai sekali, apalagi saat itu posisi gue ada tepat dibawah ledakan puluhan -atau mungkin ratusan- kembang api yang mewarnai langit diatas Tribeca Area Central Park.

Lalu jika yang jadi pertanyaan, cerita seperti apakah yang gue hadirkan di buku gue?. Gue nggak mau terlalu banyak bercerita, biar jadi kejutan ketika kalian membacanya. Hmmm…tapi gue akan memberi bocoran sedikit. Di buku gue kalian bisa menemukan kisah lain dari para model catwalk yang gue rasa baru pernah diungkapkan sekali, di buku gue. Salah satunya adalah kisah tentang masa lalu yang tidak menyenangkan. Jangan tanya kisah detilnya seperti apa, karena kalau yang itu biar gue ceritakan dalam buku saja, dan kalian bisa membacanya secara lengkap disana.

ABG di Balik Runway

ABG di Balik Runway

 

Ini dia sinopsis di belakang buku gue:

Umur gue baru lima belas tahun waktu hidup gue berubah 180 derajat, waktu gue mulai punya identitas ganda.

Ini gue di sekolah: objek keisengan anak-anak kelas sebelas. Gue bukan anak yang diem aja digituin, tapi mereka malah sering menjadikan respon gue sebagai bahan bercandaan lain, yang bikin gue eneg setengah mati. Gue di-bully, ya?

Ini gue yang satunya: sedang duduk manis di fashion show, di jejeran para pemburu berita. Sebagai wartawan gue jadi punya banyak teman baru yang bisa menghabiskan banyak waktu ngobrol sama gue, hang out sama gue, bercanda ketawa-tawa sama gue, kasih nasihat sampai mengajari banyak hal baru yang nggak gue tahu sebelumnya.

Sebentar, tadi gue sempat ngomong gue wartawan, ya?. Gue, wartawan?. Wartawan fashion?. Ini kayak mimpi, mimpi yang sejujurnya nggak pernah gue impikan akan terjadi.

 

“Ia menunjukan kejujurannya dari kacamata seorang ABG yang berada di antara kerumunan para fashionista dan dunia kami sebenarnya. Ringan dan renyah untuk dibaca”Dominique Diyose, Model

 

“Sebuah cerita yang membawa kita seakan-akan ikut merasakan petualangan si ABG in a wonderland. Polos, lugas, menarik dan berbeda…Wajib baca!!” –Renata Kusmanto, Model-

 

FYI: Buku gue sudah tersedia di toko-toko buku terdekat, termasuk Gramedia. Yup, kalian bisa ke toko buku Gramedia terdekat dan menemukan buku gue disana. Tetapi kalau kalian terbiasa membeli barang secara online atau sulit menemukannya di toko buku, kalian bisa coba membelinya di toko-toko buku online, bukabuku.com, kutubuku.com, inibuku.com, bukukita.com, starbuku.com, mizan.com dan lain sebagainya. Terimakasih 😀