Kolaborasi Apik Deden Siswanto dan Pinot Noir

Finale Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Finale Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Berkarakter kuat, klasik, sarat akan maskulinitas, serta dibalut dalam sentuhan modern adalah kesan yang terlukis kala menyaksikan deretan koleksi busana milik Deden Siswanto untuk Pinot Noir. Dengan mengambil inspirasi dari sebuah film romantis era 90an, “A Walk In The Clouds”, rasanya sang desainer menuai sukses besar dalam menginterpretasikan bagian-bagian cerita dalam film tersebut ke jajaran koleksi busana teranyarnya.

Tokoh utama film bernama Paul Sutton, seorang tentang militer yang baru saja kembali dari medan perang Pasifik tahun 1945, berhasil Deden bangkitkan melalui busana siap pakai pria yang ia ramu dengan aroma military yang kental.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: J Ryan Karsten

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: J Ryan Karsten

Busana dasar semisal celana bermuda, celana panjang, kemeja lengan panjang, rompi, hingga frock coat atau mantel panjang hasil adaptasi mantel militer dari abad ke-19 dihadirkan Deden Siswanto dalam garis rancang yang tegas dan volume yang terkesan padat serta sisi maskulin yang sangat terasa. Dalam pemilihan warna, koleksi busana kali ini banyak didominasi oleh warna hijau khaki, coklat, merah marun, abu-abu, dan biru yang pada beberapa racikan busana terselip kesan lembut dan melankolis. Untuk urusan material, Deden banyak mengaplikasikan katun, linen dan voil.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model(tengah): Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model(tengah): Darell Ferhostan

Dalam keseluruhan presentasi busana karya Deden Siswanto untuk Pinot Noir di gelaran Indonesia Fashion Week 2013 ini, hal lain yang tak kalah menarik adalah bagaimana Deden mengemas satu set outfit bersama aksesoris penunjang. Syal yang dililitkan pada leher model, kalung handmade yang unik, cummerbund atau kain lebar yang biasa dikenakan untuk ikat pinggang, cap, serta topi fedora yang jadi aksesoris pelengkap menjadikan keseluruhan koleksi terasa makin hidup dan menarik.

Koleksi Busana Siap Pakai Pria Metropolis dari 3D by Tri Handoko dan Dave Hendrik

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik pada IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik pada IFW 2013.

Meski baru terbentuk seumur jagung, label hasil kolaborasi Tri Handoko dan Dave Hendrik yang diberi nama 3D nyatanya mampu memikat perhatian para penikmat mode Indonesia. Hal ini terbaca jelas saat label 3D unjuk gigi di perhelatan Indonesia Fashion Week 2013 yang terselenggara pada Februari silam. Antusiasme seluruh tamu undangan serta para pewarta mode yang memenuhi Plenary Hall JCC terasa penuh semangat kala satu persatu model berjalan diatas panggung peragaan busana dengan membawakan outfit dari 3D.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Nico Christianto.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Nico Christianto.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

Rangkaian koleksi teranyar dari 3D membawa beberapa dualisme. Misalnya saja, potongan busana yang terasa tegas namun sering terkesan lembut melalui pemilihan warna-warna pastel, serta dari segi desain yang bisa dikatakan klasik karena lebih banyak bermain pada busana dasar namun sekaligus banyak mengandung twist pada detil. Dualisme yang tercipta pada koleksi 3D kemudian membawa daya tarik tersendiri. Dualisme ini seakan jadi cerminan terhadap gaya para pria urban di kota metropolitan yang sering dikatakan banyak orang sebagai metroseksual.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Hendy Bramantyo

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Hendy Bramantyo

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Nico Christianto

3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013. Model: Nico Christianto

Celana panjang bersiluet ramping, bermuda, clam digger pants atau celana ramping dengan panjang sebetis, jumpsuit, T-shirt, kemeja lengan panjang, blazer hingga atasan yang berkantung empat yang sekilas mengingatkan kita dengan model baju safari ditampilkan 3D dalam permainan tabrak motif serta padupadan warna yang sangat modern. Koleksi busana 3D tanpa ragu memadukan motif garis-garis horizontal dengan motif tulang ikan, atau motif kotak-kotak berwarna gelap yang ditabrakan dengan warna pastel yang lebih terang.

Melihat keseluruhan koleksi 3D, kita seolah dipertemukan pada keunikan campuran aneka citarasa, klasik, twisty, edgy, dan modern.

Finale 3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

Finale 3D oleh Tri Handoko dan Dave Hendrik di IFW 2013.

Interpretasi Keberagaman Warna di Jalur Sutra oleh Sebastian Gunawan

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Model: Drina Ciputra

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Model: Drina Ciputra

Jalur Sutra atau yang dalam bahasa Prancis dapat diartikan sebagai “La Route De La Soie”, menjadi tajuk sekaligus inspirasi utama Seba pada peragaan busananya Jum’at sore(25/01). Menghubungkan lalu lintas perdagangan darat antara Asia dan Eropa, Seba seolah melakukan napak tilas Jalur Sutra dan melakukan eksplorasi di empat titik perhentian Jalur Sutra. Empat titik yang lantas diwujudkan pada empat sekuens peragaan busana La Route De La Soie” yang menampilkan total 75 busana teranyar Seba untuk koleksi Imlek 2013 .

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan panjang jalur sutra dimulai di Negeri Tirai Bambu. Model: Renata Kusmanto

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan panjang jalur sutra dimulai di Negeri Tirai Bambu. Model: Renata Kusmanto

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Sensualitas dan Glamoritas perempuan Shanghai tahun 20an. Model: Paula Verhoeven.

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Sensualitas dan Glamoritas perempuan Shanghai tahun 20an. Model: Paula Verhoeven.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Model: Marcella Tanaya.

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Model: Marcella Tanaya.

Negeri Tirai Bambu menjadi titik tolak penelusuran Seba di Jalur Sutra. Pada titik awal ini, Seba menyerap inspirasi dari sosok perempuan di kota Shanghai era 1920-an yang menyimpan daya tarik sensualitas yang begitu besar. Aura sensual yang melekat pada sosok perempuan Shanghai lalu ia terjemahkan lewat gaun-gaun cheongsam yang terlihat mewah nan elegan dalam siluet feminin. Dominasi warna merah marun, hitam, coklat dan emas dibubuhkan Seba pada rangkaian koleksinya di sekuens pertama. Permainan detil renda klasik, taburan payet dan bebatuan pun semakin menyumbangkan kesan mewah yang abadi pada keseluruhan koleksi di sekuens pertama.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Tiara Westlake

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Tiara Westlake

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Mischa Jeter

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Mischa Jeter

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Michelle Samantha

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalan di negeri Matahari Terbit. Model: Michelle Samantha

Perjalanan berlanjur semakin ke arah Timur benua Asia. Negeri Matahari Terbit yang selalu dipenuhi bunga Sakura pada musim semi jadi titik perhentian kedua dalam penelusuran Seba di Jalur Sutra. Helaian kain obi sutra Nishijin-Ori yang ditenun di kota Kyoto dan memiliki warna cerah serta tekstur lembut, diolah dalam rancangan bergaris geometris. Menyelipkan unsur Harajuku yang sangat modern melalui bahan berwarna neon, pada sekuens kedua ini Seba banyak menampilkan gaun-gaun pendek yang kaya akan permainan volume dan detil. Gaun pendek yang dibuat menggembung pada bagian pinggul kebawah, detil bunga-bunga kecil, bagian atas busana yang diberi frog clousure atau kancing China, serta beberapa padupadan dengan bolero bertekstur kaku yang semakin memperkaya tampilan busana.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Gaun biru metalik mewah nan memukau. Model: Drina Ciputra

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Gaun biru metalik mewah nan memukau. Model: Drina Ciputra

IMG_7538

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Kemewahan negeri Barat berpadu budaya khas negeri Timur.

Bahan beludru mewah yang biasa diaplikasikan dalam warna-warna gelap ditransformasikan Seba dalam warna cerah dan motif eksotis yang khas. Kemunculan aneka kain tenun Uzbekistan yang berwarna-warni lalu jadi pertanda perjalanan di Jalur Sutra tiba di dataran Asia Tengah. Kain tenun khas Uzbekistan yang memiliki warna-warna cerah dengan corak dan cara pembuatan serupa tenun ikat khas Nusa Tenggara ini dikombinasikan Seba pada gaun model cheongsam berpotongan feminin yang memiliki siluet agak longgar di tubuh. Detil permainan bidang bahan tampak terlihat, gradasi warna serta motif yang tampak rumit namun indah memperkuat kesan grafis dari bahan tersebut.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Detil kemewahan tinta emas ala Paris.

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Detil kemewahan tinta emas ala Paris.

"La Route De La Soie" oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan menelusuri jalur sutra. Model: Ilmira

“La Route De La Soie” oleh Sebastian Gunawan. Perjalanan menelusuri jalur sutra. Model: Ilmira

Napak tilas Seba tiba di titik keempat, titik terakhir dalam perjalanannya menelusuri Jalur Sutra, Eropa. Nuansa feminin nan elegan khas Roma, serta kesan mewah dan high-fashion khas Paris melebur pada sekuens akhir peragaan busana “La Route De La Soie”. Siluet cheongsam yang khas berpadu dengan detil kemewahan dari motif-motif berwarna emas dan metalik terasa sangat memukau. Penggunaan bahan lace, sequin, serta banyak bordiran benang metalik kemudian semakin mempertegas keseluruhan koleksi pada sekuens penutup “La Route De La Soie”.*

* Tulisan ini juga dimuat di beritafesyen.com
** Seluruh foto: Arselan Ganin