Hutang

Selama saya tidak menulis atau pun memposting suatu tulisan dalam blog ini, saya sering bertanya-tanya, apakah masih ada yang membaca blog ini? Apakah statistik saya hanya jalan ditempat dan tidak lebih baik dari terakhir kali saya membuat posting tentang peragaan busana Biyan? Maklum, saya memang sangat senang saat melihat statistik blog saya meningkat dan terus meningkat, kata teman saya, saya ini banci statistik. Mungkin memang benar. Tapi apa salahnya menjadi banci statistik kalau itu bisa menjadi motivasi untuk membuat lebih banyak tulisan yang bisa ditampilkan dalam blog ini? Tidak salah bukan? Bagi saya saat ada banyak orang yang membaca blog saya, itu seperti sebuah apresiasi tersendiri bagi saya dan jujur saja, pasti setiap orang senang mendapatkan apresiasi.

Tapi ada yang lebih membuat saya gelisah dibandingkan angka-angka pada statistik blog ini yang mungkin menurun drastis. Ada yang lebih membuat saya gelisah dari sekadar kekhawatiran akan ditinggalkan pembaca blog saya saat blog ini miskin tulisan baru. Rasa berhutang. Ya, saya lebih gelisah karena perasaan itu diam-diam semakin menghantui saya. Saya merasa berhutang pada banyak orang ketika blog ini seperti mati suri. Berhutang kepada teman-teman saya di dunia mode Indonesia yang terus menyemangati saya untuk terus menulis, kepada mereka dan juga kamu yang sering membaca blog ini dalam diam, dan kepada diri saya sendiri.

Rasa berhutang saya yang paling besar adalah pada Mbak Alvie dan Mas Gita, dua orang yang saya sangat hormati, dua orang yang saat ini menjadi koorniator media mode paling kawakan di dunia mode Indonesia. Sepeninggal (alm) Muara Bagdja saya banyak sekali bertanya pada keduanya tentang bagaimana penulisan mode yang baik. Saya merasa berhutang pada keduanya karena hingga kini masih ada tulisan yang belum sempat saya realisasikan karena saya sudah keburu direpotkan dengan masalah perkuliahan dan pekerjaan lain saya, -saya akan ceritakan itu nanti.

Lalu pada Mas Priyo Oktaviano. Pada beliau saya pernah berkata akan menuliskan koleksi ready-to-wear yang ia rilis di Jakarta Fashion and Food Festival, tetapi hingga saat ini saya belum bisa menuliskannya dalam blog ini, meski saya sudah menuliskannya untuk salah satu situs yang beberapa bulan lalu sempat meminta saya untuk menjadi penulis artikel mode disana. Tapi tetap saja, tulisan khusus untuk koleksi beliau di blog ini belum bisa saya realisasikan.

Sebenarnya masih banyak lagi rasa berhutang saya saat saya tidak membuat posting baru di blog ini. Saking banyaknya, saya jadi malu sendiri untuk mengatakannya. Ah, tapi tidak apa karena dengan tulisan ini saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya karena sempat menghilang dan itu membuat saya merasa berhutang pada beberapa orang. Saat saya menghilang itu ada begitu banyak hal yang terjadi. Ada banyak peristiwa yang saya alami dan moment yang ternyata terlewat dalam hidup saya.

Saya membayangkan pada saat saya menghilang, saya seperti pergi dari tempat saya yang dulu. Melakukan perjalanan jauh hingga bingung apakah harus kembali atau tetap meneruskan kepergian saya. Tapi dalam perjalanan saya, saya justru merasa berhutang sekaligus kangen dengan “rumah” saya yang dulu. Untuk itu saya kembali, untuk menebus rasa berhutang saya dan menuntaskan rasa kangen saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s