CardioMind : Ketika Cabang Olahraga Dijadikan Inspirasi Mencipta Busana

Bagaimana jadinya bila cabang-cabang olahraga cardio yang biasa kita kenal diterjemahkan dalam wujud koleksi busana oleh para siswa dan alumnus terbaik sekolah mode tertua di Indonesia? Apakah cabang-cabang olahraga diterjemahkan mentah-mentah pada wujud busana? Atau kita akan dibuat terkejut dengan permainan interpretasi yang ditawarkan?

"CardioMind" interpretasi para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo tentang cabang olahraga yang dijadikan benang merah inspirasi

“CardioMind” interpretasi para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo tentang cabang olahraga yang dijadikan benang merah inspirasi

Ada dua hal yang membuat saya cukup khawatir dengan kondisi jalan-jalan di Jakarta pada hari Jumat tanggal 1 November 2013 lalu. Hal pertama adalah tentang hujan yang mulai sering mengguyur Jakarta dan kerap membuat saya kewalahan bila harus melakukan aktivitas yang mengharuskan saya berjibaku di jalanan Ibukota. Hal kedua adalah tentang isu demo ribuan buruh yang menuntut kenaikan upah minimum. Cukup membayangkan dua hal tersebut kepala saya pening seketika. Bagaimana tidak? Pada hari itu saya berencana untuk menghadiri undangan peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo mengambil tempat di The Hall Senayan City, sementara ada dua kemungkinan jarak yang akan saya tempuh untuk bisa hadir di The Hall, dari kampus saya di Depok, atau dari kediaman saya di daerah Cibubur.

Dua kemungkinan jarak yang akan saya tempuh sama-sama pelik, terlebih saat saya kembali mengingat dua hal yang saya khawatirkan. Tetapi apa lacur, niat saya untuk menghadiri acara tersebut begitu kuat, maka saya menyusun strategi perjalanan sedemikian rupa dengan memperhitungkan waktu tempuh terlama dari rumah saya di bilangan Cibubur. Strategi saya berhasil, saya datang sangat tepat waktu, bahkan satu jam setelah saya tiba di The Hall Senayan City, acara belum juga dimulai. Sebenarnya bukan hanya karena strategi waktu yang saya buat, tetapi memang karena saya tidak bertemu hujan, hanya gerimis kecil yang menerpa, dan saya juga tidak menjumpai kemacetan berarti, rute yang saya tempuh sangat bersahabat, malahan tergolong cukup sepi untuk ukuran Jakarta di Jumat sore menjelang malam.

Lembaga Pendidikan Tata Busana(LPTB) Susan Budihardjo bukan nama asing dalam dunia mode Indonesia. Jauh sebelum menejamurnya sekolah mode franchise dari berbagai belahan dunia, desainer mode kawakan Susan Budihardjo telah merintis sekolah mode ini. Resmi didirikan pada tahun 1980, LPTB Susan Budihardjo tercatat sebagai salah satu sekolah mode dan tempat kursus mode tertua di Indonesia yang masih bertahan. Tersebutlah nama desainer mode papan atas Indonesia semisal Adrian Gan, Denny Wirawan, Didi Budihardjo, Sebastian Gunawan, Eddy Betty, Sofie, dan Tri Handoko sebagai alumnus LPTB Susan Budihardjo.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB ketika suara merdu Ira Duati terdengar diseantero ruangan, menandakan acara akan segera dimulai. Diawali dengan pemberian door prize kepada para hadirin yang datang, disusul dengan pemberian plakat kepada beberapa pihak penting yang mendukung jalannya acara, peragaan busana akhirnya dimulai sepuluh menit kemudian dengan menyuguhkan rancangan busana berbahan material daur ulang dari kemasan produk Khong Guan Biscuit yang tak lain adalah salah satu sponsor utama.

“CardioMind” adalah tajuk menarik yang dipilih LPTB Susan Budihardjo dalam peragaan busana siswa dan alumnusnya, peragaan busana ini merupakan perayaan setalah wisuda tahunan siswa sekolah mode ini berlangsung sehari sebelumnya. Dalam tajuk “CardioMind” terdapat sebuah tema akbar yang melatarbelakangi terciptanya rangkaian koleksi busana, olahraga.

Inspirasi pakaian olahraga baseball pada koleksi busana salah satu siswa LPTB Susan Budihardjo. Model: Katya Talanova

Inspirasi pakaian olahraga baseball pada koleksi busana salah satu siswa LPTB Susan Budihardjo. Model: Katya Talanova

Kentalnya unsur sporty dalam busana pada peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Model: Ilmira

Kentalnya unsur sporty dalam busana pada peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Model: Ilmira

Alat pancing yang digunakan sebagai pelengkap presentasi busana oleh model. Model: Mareike Brenda

Alat pancing yang digunakan sebagai pelengkap presentasi busana oleh model. Model: Mareike Brenda

Inspirasi cabang olahraga panahan dalam busana karya siswa LPTB Susan Budihardjo

Inspirasi cabang olahraga panahan dalam busana karya siswa LPTB Susan Budihardjo

Diusungnya tema olahraga sebagai benang merah menjadi sangat menarik terutama saat saya teringat dengan riset tren mode yang dilakukan BD+A Design, sebuah lembaga konsultasi desain multi disiplin, bersama Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia(APPMI) yang mengungkapkan bahwa salah satu tren mode di tahun 2014 nanti adalah CardioMind, persis seperti  judul yang dipilih oleh LPTB Susan Budihardjo. “CardioMind” yang dimaksudkan dalam riset tersebut adalah tren busana yang hadir karena pengaruh berkembangnya kelompok orang-orang yang mementingkan pola hidup sehatdan gemar berolahraga. Dalam tren ini dijelaskan bahwa di tahun 2014 nanti akan ada busana-busana yang terinspirasi dari pakaian olahraga. Bagi saya hal ini sangat menarik, namun sayangnya saya belum melihat implementasinya secara jelas, tetapi akhirnya di peragaan busana milik LPTB Susan Budihardjo saya dapat melihatnya.

“CardioMind” sebagai tajuk dan olahraga sebagai tema coba di interpretasikan oleh para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Meski mendapatkan porsi yang lebih sedikit, yakni berupa parade busana, koleksi siswa LPTB Susan Budihardjo yang baru saja menerima pesta kelulusannya terlihat menarik. Cabang-cabang olahraga seperti berkuda, tinju, atletik, hingga memancing coba diterjemahkan para siswa dalam busana-busana siap pakai yang kasual. Tak lupa pula penyisipan beberapa alat olahraga seperti hula hoop, alat pancing, panah, stick baseball, dan sarung tinju guna memperkuat judul dan tema besar yang diangkat. Walhasil jadilah aneka gaun, atasan berupa kemeja, blus, atasan tanpa lengan, blazer, rok berlipit, rok denim, rok pendek berpotongan lurus, celana jodhpur, celana pendek yang longgar hingga celana panjang yang diolah dengan potongan unik terlihat sporty dan edgy.

Usai parade busana dari siswa-siswi LPTB Susan Budihardjo yang baru saja menerima kelulusannya, peragaan busana berlanjut dengan menampilkan rangkaian koleksi para alumnus LPTB Susan Budihardjo, tidak ketinggalan juga label milik sekolah mode ini “Number 1” yang ikut memamerkan koleksi teranyarnya.

"You Can Do Kendo" oleh Afina Meyandra yang memadukan unsur street style ala Jepang dan kebudayaan Jepang dalam busana siap pakai

“You Can Do Kendo” oleh Afina Meyandra yang memadukan unsur street style ala Jepang dan kebudayaan Jepang dalam busana siap pakai

“You Can Do Kendo” adalah judul yang dipilih Afina Meyandra dalam menyajikan 8 koleksi busana teranyarnya. Menjadi desainer pembuka rangkaian peragaan busana alumnus LPTB Susan Budihardjo, Afina Meyandra mentranslasikan cabang olahraga Kendo ke dalam busana wanita siap pakai yang kental dengan unsur street style ala Jepang. Gaya kimono, penggunaan bahan katun tebal, teknik lilit, lipit dan ikat, serta bentuk-bentuk origami juga ikut diselipkan Afina Meyandra sebagai detil yang memperkaya keseluruhan busana. Atasan berpotongan longgar, celana, kulot, rok panjang, luaran berupa trench coat hingga rok pinsil ia hadirkan dengan dominasi warna putih ditambah beberapa aksen berwarna biru dongker dan merah.

Koleksi busana pria siap pakai Andreas Wen yang terinspirasi oleh cabang olahraga Sepakbola. Model: Richard Fiando

Koleksi busana pria siap pakai Andreas Wen yang terinspirasi oleh cabang olahraga Sepakbola. Model: Richard Fiando

Andreas Wen, desainer mode yang memulai karirnya dua tahun lalu setelah menyelesaikan pendidikan di LPTB Susan Budihardjo ini memilih cabang olahraga sepakbola sebagai inspirasi utama koleksinya. Cabang olahraga yang selalu mengundang gegap gempita para penggemarnya ini ditransformasikan Andreas ke dalam koleksi busana pria siap pakai. Motif si kulit bundar yang jadi favorit jutaan orang di dunia ia aplikasikan ke dalam material berwarna meriah layaknya warna-warna yang biasa digunakan dalam Pop Art. Material atau bahan itu lantas ia olah menjadi kemeja lengan panjang dan lengan pendek, vest, jaket varsity, blazer, celana panjang, celana pendek, hingga rok berlipit seperti yang biasa dikenakan pria Skotlandia.

Busana siap pakai dengan printing motif cabang-cabang olahraga yang dilansir "Number 1"

Busana siap pakai dengan printing motif cabang-cabang olahraga yang dilansir “Number 1”

Label busana “Number 1” menjadi penyambung peragaan busana ketika koleksi milik Andreas Wen usai ditampilkan. Label yang sukses mencatatkan LPTB Susan Budihardjo sebagai sekolah mode pertama yang memiliki label busana hasil kolektif alumnusnya itu melansir 20 koleksi busana yang terinspirasi dari cabang olahraga Balap Sepeda. Berorientasi pada busana siap pakai yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar tanpa menghilangkan idealisme dalam mencipta, busana koleksi “Number 1” hadir dalam garis rancang sederhana namun berpotongan unik, basic with a twist. Meski pada beberapa koleksi yang ditampilkan cenderung terlihat biasa saja, tapi tunggu hingga lampu yang menerangi ruang dipadamkan. Motif print yang tersebar di tiap potong koleksi akan mengeluarkan warna terang yang sangat menyita perhatian. Motif print glow in the dark dengan cepat menjadi pusat perhatian yang kejutan yang menyenangkan.

Struktur konstruktif pada bahu yang merupakan ciri khas dari pakaian cabang olahraga American Football. Model: Laura Muljadi

Struktur konstruktif pada bahu yang merupakan ciri khas dari pakaian cabang olahraga American Football. Model: Laura Muljadi

American Football rupanya terlalu menarik untuk dilewatkan. Cabang olahraga yang penuh dengan kontak fisik ini pula yang melesatkan imajinasi Ddy Pramono Widjaja untuk mentransformasikannya dalam wujud koleksi busana. Siluet kostum pemain American Football yang menyimpan kekhasan tersendiri terutama pada konstruksi di bagian bahu yang menggembung lebih besar ia racik dalam busana bernafas ready-to-wear. Atasan berkerah V yang longgar, gaun yang lekat memeluk tubuh dengan detil bahu membentuk lengkungan yang terlihat kaku, rok model span, hingga gaun panjang dengan konstruksi bagian bahu yang membumbung tinggi besar dan kaku layaknya hiperbola detil kostum American Football dihadirkan Ddy Pramono dalam warna dasar putih gading yang dipercantik corak geometris aneka warna cerah.Untuk sentuhan akhir, Ddy Pramono melengkapi presentasi koleksi busananya dengan wedges kayu setinggi 18 senti yang menguatkan kesan strong dan sporty.

Aksen akrilik pada bagian atas busana yang memberikan kesan "dingin", sangat menarik. Model: Drina Ciputra

Aksen akrilik pada bagian atas busana Ruth Elke yang memberikan kesan “dingin”, sangat menarik. Model: Drina Ciputra

Mendapuk Ruth Elke sebagai penutup rangkaian peragaan busana karya alumnus LPTB Susan Budihardjo rupanya adalah pilihan yang tepat. Desainer mode yang memperoleh kelulusannya dari LPTB Susan Budihardjo di tahun 2009 silam ini terasa begitu piawai memformulasikan ulang embrio utama inspirasinya, cabang olahraga Ice Hockey, ke dalam koleksi busana bergaya sporty-androgyny. Disaat desainer mode lain kadang terkesan menelan bulat-bulat inspirasi cabang olahraga yang digarapnya, Ruth Elke justru seolah mengajak siapa saja yang menyaksikannya menebak-nebak sumber inspirasi sang kreator. Dibawah bendera label Rue yang tak lain adalah lini busana siap pakai eksklusif miliknya, Ruth Elke menyuguhkan 8 set busana dengan dominasi warna hitam. Detil sisipan akrilik yang dapat dipasang-dicopot pada beberapa bagian busana menjadi salah satu elemen menarik yang memunculkan kesan “dingin” nan otentik.

Koleksi busana siap pakai "Number 1" yang glow in the dark.

Koleksi busana siap pakai “Number 1” yang glow in the dark.

Menyaksikan keseluruhan peragaan busana LPTB Susan Budihardjo bagi saya adalah suatu hal yang sangat menarik. Judul dan tema yang diangkat terasa sangat dekat sekaligus membawa pesan tersirat tentang gaya hidup sehat, hal positif yang sangat diperlukan masyarakat dewasa ini. Namun sayangnya, saya merasa tetap ada beberapa catatan kecil mengenai jalannya acara.

Inspirasi dari cabang olahraga tinju.

Inspirasi dari cabang olahraga tinju.

Inspirasi busana dari cabang olahraga American Football.

Inspirasi busana dari cabang olahraga American Football.

Finale koleksi busana milik Ddy Pramono Widjaja yang terinspirasi American Football

Finale koleksi busana milik Ddy Pramono Widjaja yang terinspirasi American Football

Persembahan siswa LPTB Susan Budihardjo yang terinspirasi cabang-cabang olahraga.

Persembahan siswa LPTB Susan Budihardjo yang terinspirasi cabang-cabang olahraga.

Salah satunya adalah momen peragaan busana yang tak lain merupakan presentasi akbar karya para siswa dan alumnus saya rasakan tak tersusun rapi. Para model yang berjalan di atas lintasan catwalk sering kali terasa tumpang tindih antara satu dan yang lain, terutama pada saat parade. Hal ini menyebabkan saya yang menyaksikan jalannya acara terkadang lepas konsentrasi terhadap satu busana yang sedang dipertontonkan di atas lintasan catwalk karena model busana lainnya sudah menyusul masuk dalam jarak yang terlalu dekat. Hal lain yang turut mengganjal pikiran saya adalah tentang pemilihan musik pengiring yang kadang terasa terlampau nge-pop, dan pengaturan lighting yang kadang memusingkan kepala.

Namun terlepas dari semua hal tadi, LPTB Susan Budihardjo tetap sukses mengajak saya pada pengalaman berbeda menyaksikan peragaan busana berbalut unsur inspirasi olahraga yang kental. Setelah ini, saya pasti menunggu-nunggu apalagi judul dan tema besar yang akan diusung pada tahun-tahun selanjutnya. Saya harap saya bisa menyaksikannya kembali 😀

“Tale of The Goddess” ; Dongeng Sang Dewi Dari Lima Ksatria Mode Indonesia

Lima ksatria mode diberikan satu benang merah. Kelimanya diminta untuk menerjemahkan sosok “dewi” dalam koleksi busana pamungkasnya. Lima ksatria menyusun strategi, coba melukisan “dewi” dalam interpretasi tersendiri. Lima cerita tentang sosok “dewi” disuguhkan. Kelima ksatria mode seolah mendongeng dengan caranya masing-masing. Penasaran?

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Dewi Fashion Knights bukan lagi sekadar peragaan busana penutup rangkaian Jakarta Fashion Week setiap tahunnya. Bukan lagi hanya sebatas ajang pameran karya para “ksatria mode” Indonesia. Bukan juga sebuah pesta mode yang selesai tuntas dalam satu malam perayaan. Lebih dari itu, bagi saya, Dewi Fashion Knights telah menjelma sebagai legenda dalam setiap penyelenggaraan Jakarta Fashion Week.

Desainer mode Indonesia terpilih. Karya busana mutakhir yang mengundang decak kagum. Barisan model peraga busana yang dipilih secara teliti. Konsep matang yang dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Tim koreografer jempolan yang ditugaskan khusus untuk mengeksekusi jalannya acara. Bila dirangkumkan, semua hal tadi tak lain adalah formula esensial dalam mencipta Dewi Fashion Knights sebagai legenda peragaan busana di Jakarta Fashion Week.

Namun terlepas dari semua itu ada beberapa hal penting lainnya yang menjadikan Dewi Fashion Knights layaknya legenda di Jakarta Fashion Week. Bagi saya, gelar legenda patut disematkan pada Dewi Fashion Knights karena peragaan mode ini adalah salah satu barometer terpenting dunia mode Indonesia yang mampu merepresentasikan karya visioner para desainer mode Indonesia terpilih. Dalam tahun-tahun pelaksanaannya, pecinta mode acap dibuat terperangah oleh karya busana mengagumkan yang ditampilkan. Tapi kadang, Dewi Fashion Knights juga meninggalkan kontroversi tersendiri mengenai ksatria mode yang dipinang atau karya busana yang ditampilkan. Lalu, jadilah peragaan busana pamungkas ini sebagai buah bibir yang terlalu menarik bila hanya dibicarakan semalaman, begitu pula pada perhelatannya di tahun ini.

Dewi Fashion Knights "Galore"

Dewi Fashion Knights “Galore”

Membicarakan Dewi fashion Knights tentu tidak bisa lepas dari nama-nama desainer mode yang dipinang sebagai “ksatria” di dalamnya. Ya, ksatria, sesuai dengan nama gelaran ini, para desainer mode yang dipilih untuk menampilkan karyanya dalam Dewi Fashion Knights lantas diberi gelar “ksatria mode”. Setelah di tahun sebelumnya, Dewi Fashion Knights menghadirkan Sapto Djojokartiko, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Priyo Oktaviano dan Deden Siswanto, pada tahun 2013 ini, Dewi Fashion Knights hanya mempertahankan Priyo Oktaviano dan Oscar Lawalata dalam jajaran ksatria mode yang turut berpartisipasi, sementara Toton Januar, Populo Batik adalah nama baru yang dipinang Dewi Fashion Nights melengkapi kembalinya Tex Saverio dalam singgasana ksatria mode Indonesia.

Mengusung tema “Tale of The Goddess” lima ksatria mode diminta untuk menginterpretasikan definisi “dewi” sebagai sosok wanita modern dari kacamata kreatifitas masing-masing. Berangkat darisana kelimanya pun merangkai cerita yang bersumber pada interpretasi mereka tentang sang “dewi”, lalu mentransformasikannya ke dalam  koleksi busana yang dipersembahkan khusus untuk Dewi Fashion Knights. Dan inilah para ksatria serta kisah mereka tentang sang “dewi” :

Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Tampil sebagai pembuka Dewi Fashion Knights, Oscar Lawalata mengisahkan “dewi” yang ada dalam kepalanya dalam rangka imajinasi indah namun misterius layaknya keadaan galaksi di angkasa luas. Nama galaksi tetangga Bimasakti, Andromeda, pun ikut disematkan pada tajuk untuk koleksi busananya, “My Name is Andromeda”. Sisi kekuatan dan kelemahan yang ada dalam sosok wanita ia ibaratkan layaknya peleburan galaksi yang misterius dan memiliki dua citra utama sebagai tempat yang asing berlatar hitam yang menyimpan kekuatan besar nan magis, sekaligus hamparan bintang dan planet yang membentuk pola keindahan tersendiri.

Konstruksi kisah “dewi” seolah ia bangun sebagai sosok wanita yang memiliki kecantikan misterius dengan kepribadian kuat yang terwujud dalam busana berpalet warna hitam. Menggunakan material utama kain sutra berwarna hitam, Oscar Lawalata menghadirkan busana bergaris rancang geometris dengan siluet flare. Pada beberapa busana Oscar Lawalata juga terasa meminimalisir pemotongan dan pengikatan bahan sehingga busana-busana yang ditampilkan layaknya jubah ringan yang dikenakan dengan cara sedemikian rupa oleh para model. Atasan dan celana bersiluet flare, rok midi A-line, celana kulot yang menyerupai rok panjang dan beberapa atasan berdetil cut out serta draperi disajikan Oscar untuk koleksi berpalet warna hitam miliknya.

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata

Usai menampilkan palet warna hitam, kini giliran palet warna cerah seperti putih, merah, pink, oranye dan ungu yang dipilih Oscar Lawalata. Pada sekuensnya yang kedua, sang desainer seakan ingin menampilkan warna keindahan galaksi melalui ragam busana yang ia buat dalam siluet yang longgar. Gaun-gaun pendek dengan garis rancang sederhana bersiluet flare serta A-line pun ia jadikan sajian utama.

Menutup akhir sesi peragaan busana, Oscar lantas memberi sebuah kejutan kecil. Desainer mode berpenampilan androgini ini menyusup ke dalam barisan model peraga busananya dan berlenggok bersama mereka disepanjang lintasan catwalk Jakarta Fashion Week. Sebuah kejutan kecil yang langsung memicu riuh rendah tepuk tangan dari dalam Fashion Tent Jakarta Fashion Week 2014.

Populo Batik

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer 'Slobok'

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer ‘Slobok’

Keberadaan Populo Batik dalam jajaran ksatria mode Dewi Fashion Knights mau tak mau sempat membuat saya mengerutkan kening. Pasalnya, baru kali ini rasanya Dewi Fashion Knights menunjuk lini busana yang sangat berorientasi ready-to-wear dan produksi cukup massal ke dalam jajaran para ksatria. Memang, lini busana ready-to-wear bukan hal yang baru pada Dewi Fashion Knights, di tahun sebelumnya pun ada SPOUS, lini busana siap pakai kepunyaan Priyo Oktaviano. Namun, tetap saja keberadaan Populo Batik pada Dewi Fashion Knights terasa cukup ganjil bagi saya. Mungkin karena saya selama ini lebih akrab dengan Dewi Fashion Knights yang selalu menghadirkan nama-nama desainer mode dengan lini utamanya atau lini kedua yang tetap saja menguarkan aroma eksklusivitas tinggi, teknik pembuatan rumit dan konsep yang tertata jeli khas karya busana desainer mode pada umumya.

Tetapi nyatanya lini busana milik Bai Soemarlono dan Joseph Lim melenggang mulus di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights dengan koleksi busana batik bergaya kasual dan modern. Mengedepankan koleksi busana bergaya kekinian, Populo Batik lebih banyak bermain dengan motif batik kontemporer berbentuk garis dan geometris. Adapun sisi klasik dari kain Batik yang dipertahankan ialah teknik pembuatan dan pewarnaan motif pada kain batik yang menggunakan alat-alat untuk membuat batik tulis serta batik cap.

IMG_7669

Koleksi busana wanita siap pakai oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Firrina

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men's Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men’s Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Pada pembuktian eksistensinya dalam Dewi Fashion Knights, lini busana ready-to-wear yang sudah ada sejak tahun 1994 ini seolah menerjemahkan sosok “dewi” yang lekat dengan imej magis dan mengagumkan sebagai sosok wanita modern masa kini yang bisa jadi tersusup diantara orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-hari. Interpretasi kata “goddess” yang ada dalam tajuk Dewi Fashion Knights kali ini juga dipersembahkan duo Bai dan Joseph pada perajin batik yang mereka rasakan sebagai salah satu perwujudan “goddess” bagi keduanya. Memadukan hasil kreasi motif batik tulis dan batik cap kontemporer hasil modifikasi motif klasik, Populo lantas mengaplikasikan keduanya pada lebih dari 20 pasang busana women’s wear dan men’s wear. Blus, celana model Capri, celana panjang lurus, rok, blazer, kemeja, hoodies, rompi, gaun, hingga luaran seperti jubah menjadi bagian dari koleksi Populo Batik pada gelaran Dewi Fashion Knights.

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Terinspirasi oleh keindahan bawah laut yang begitu mempesona sekaligus menyimpan sisi misterius yang tak bisa terelakan, Toton Januar mendongengkan kisah sang “dewi” dalam tajuk “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”. Ketika menyaksikan dan melafalkan lamat-lamat judul yang dipilih Toton, alam imaji saya membentuk penafsiran tersendiri tentang alur cerita yang mungkin tersimpan dalam rangkaian koleksi milik desainer muda yang baru memulai labelnya di tahun 2012 silam ini.

Saya membayangkan bahwa “dewi” yang diceritakan Toton Januar seperti dongeng-dongeng tentang sosok wanita tangguh penguasa lautan luas yang akhirnya diketahui keberadaannya oleh seorang Raja atau Sultan dari sebuah negeri. “dewi” penguasa lautan dan Sultan lalu menjadi cerita, entah cerita cinta, petualangan, atau sekadar cerita tentang kekaguman pada sosok “dewi” yang begitu melenakan.

Dalam hal koleksi yang ditampilkan, Toton menghadirkan 10 set busana bergaris rancang unik yang sangat khas. Potongan asimetris banyak ia suguhkan bersama padupadan detil ruffles, bahan transparan, bordir, payet berkilauan dalam pasang-pasang busana berstruktur tegas yang memiliki kesan bahwa Toton menampilkan “dewi” dalam ceritanya sebagai sosok yang kuat meski terselip pula kesan feminin dan romantis.

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Interpretasi "dewi" oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Interpretasi “dewi” oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Jalinan cerita tentang “dewi” lautan yang didongengkan Toton pun kembali terlihat pada pemilihan warna dalam busananya. Warna hijau kebiruan, warna putih gading, dan beberapa sentuhan warna cerah seperti oranye merupakan interpretasi sang desainer terhadap warna laut dan ekosistem di dalamnya. Namun, tentang pemilihan warna yang ditampilkan Toton, saya pribadi merasakan bahwa warna-warna yang ia pilih cenderung pucat sehingga menghasilkan kesan latar belakang lautan yang tenang namun misterius dibandingkan dengan lautan yang kaya akan keindahan ekosistem.

Sisi lainnya yang juga menarik untuk ditilik pada rangkaian koleksi Toton Januar kali ini adalah pemilih model yang membawakan koleksi busana. Deretan model berwajah khas Indonesia yang dipilih Toton sebagai garda depan dalam presentasi karyanya seakan menciptakan kesan bahwa dongeng “dewi” lautan dan keindahan bawah laut yang sedari awal ia usung merupakan representasi gambaran keindahan lautan Indonesia.

Priyo Oktaviano “Galore”

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya "Galore" pada Dewi Fashion Knight

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya “Galore” pada Dewi Fashion Knights

Tantangan interpretasi sosok “dewi” yang diberikan Dewi Fashion Knights melambungkan tinggi imajinasi Priyo Oktaviano pada kemegahan Istana kebanggan rakyat Perancis Château de Versailles” dan pesona kemewahan kain Tapis Lampung yang tidak lain adalah perlambang kejayaan Kerajaan Lampung di masa lalu. Bersamaan dengan latar belakang kemegahan, kemewahan, dan kejayaan itu, Priyo Oktaviano lantas menemukan sosok wanita kuat, gagah, memiliki keberanian untuk keluar dari wilayah privat, tetapi tetap menyimpan sisi feminin serta kecantikan yang sulit terbantahkan. Aroma “Femme Fatale” pada koleksi Priyo kali ini pun terasa menguar kuat. Sosok “dewi” seolah diterjemahkan Priyo ke dalam sosok wanita yang tahu benar bagaimana ia mampu mempergunakan kekuatan, daya tarik sekaligus kecantikannya untuk membuat siapa saja tidak hanya mengagumi tetapi bertekuk lutut pada sosoknya.

Telah menjadi bagian dari Dewi Fashion Knights sejak tahun 2008, pada keterlibatannya kali ini sang ksatria mode mempertemukan dua kebudayaan dari dua belahan dunia berbeda. Megahnya arsitektur interior Istana Versailles di Prancis menjadi rangka inspirasinya dalam mempersembahkan 12 set busana wanita dalam tema “Galore”, kemegahan. Meski rangka inspirasi ia susun dari kemegahan arsitektur interior Istana Versailles, adalah hal yang keliru bila mengira bahwa inspirasi Istana yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Louise XVIII yang akan jadi primadona. Dalam rangkaian koleksi milik desainer berkacamata ini, justru kain Tapis Lampung yang ia gunakan sebagai aspek pengisi rangka inspirasilah yang mencuat menempati posisi puncak limpahan perhatian ketika koleksi dipresentasikan.

Melalui 12 set busana wanita yang bersiluet gagah, bergaris potong tegas, kuat dan terkesan androgini layaknya seragam perang sang Jenderal Perancis, Napoleon Bonaparte. Hadir dalam warna-warna yang terkesan mewah dan gagah seperti emas, hitam, dan merah, Priyo Oktaviano menggunakan material inti 80% kain Tapis Lampung yang kemudian ia olah dalam kemasan kemegahan ala Eropa.

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Gaun pamungkas koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knight. Model: Kimmy Jayanti

Gaun pamungkas koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kimmy Jayanti

Keindahan kain Tapis Lampung yang dikerjakan secara manual menggunakan gedokan dan teknik sulam(cucuk) ditransformasikan ke dalam bentuk busana hasil penafsiran kemewahan dan kemegahan Istana Versailles. Langit-langit megah istana, dinding-dinding penuh dekoratif mewah nan artistik hingga ukiran kayu dan gypsum klasik yang seolah mempigurakan keindahan abadi Istana Versailles diterjemahkan lewat siluet busana bervolume  tegas dan teknik patchwork  yang digunakan dalam pengaplikasian kain Tapis Lampung pada tiap panel busana.

Sentuhan warna emas pekat, motif geometris di helai kain Tapis Lampung, dan aksen ruffles  yang mempercantik gaun kreasi Priyo Oktaviano, masing-masing merujuk pada banyaknya ornamen emas di Istana Versailles, pola dinding bagian dalam Istana Versailles, serta cerminan gaya berbusana Ratu Marie Antoinette, sang permaisuri Raja Louise XIV yang kontroversional. Detil koleksi busana pun bertambah kaya dengan banyak permainan bordir berbentuk daun ivy(daun kemakmuran bagi rakyat Perancis) dan manik-manik yang dibentuk menyerupai matahari.

Tex Saverio Prive “Exoskeleton”

Sosok "dewi" dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk "Exoskeleton".

Sosok “dewi” dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk “Exoskeleton”.

Tex Saverio memiliki tafsiran tersendiri tentang sosok “dewi”. Bagi desainer muda yang namanya meroket setelah gaun rancangannya dikenakan Lady Gaga ini, sosok “dewi” yang berkembang dalam imajinasinya adalah sesosok wanita dengan keanggunan yang tak biasa. Dalam imajinasinya, “dewi” adalah seorang wanita, namun bukan manusia, dan ia datang dari masa depan. Imajinasi akan sosok “dewi” yang bukan manusia dalam bayangan Tex Saverio ini kemudian ia tuangkan dalam 5 set busana wanita dengan dominasi warna hitam yang mau tak mau memunculkan kesan magis nan misterius dari sosok “dewi” yang coba ia hadirkan.

Lebih jauh, bayangan mengenai sosok “dewi” yang berasal dari masa depan lantas ia coba terjemahkan melalui pengaplikasian teknologi rumit printing 3D. Suatu teknik terbilang langka di dunia mode namun acap kali dipergunakan oleh desainer couture asal Belanda Irish van Herpen dalam karyanya. Meski bukan hal yang terlampau baru di dunia mode, penggunaan print 3D oleh Tex Saverio adalah yang pertama kali dilakukan oleh desainer mode di Indonesia. Untuk menerapkannya dalam busana pun terbilang rumit, selain harus menggunakan software khusus untuk menggambar pola yang diinginkan, Tex harus melakukan pemindaian langsung pada tubuh model saat akan membuat cetakan yang nantinya digunakan untuk pencetakan material besi khusus yang digunakan. Bahan baku besi yang digunakan pun tak main-main, untuk urusan satu ini, Tex Saverio menggunakan bahan besi yang biasa dipergunakan untuk kebutuhan seragam perang.

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam "Exoskeleton". Model: Christina Borries

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam “Exoskeleton”. Model: Christina Borries

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok "dewi" Tex Saverio. Model: Simona

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok “dewi” Tex Saverio. Model: Simona

Busana penutup koleksi Tex Saverio "Exoskeleton", print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Busana penutup koleksi Tex Saverio “Exoskeleton”, print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Digadang sebagai momen pertama penggunaan print 3D di Indonesia, rangkaian koleksi busana Tex Saverio terdiri atas 4 gaun panjang dan 1 busana bersiluet swim suit berwarna metalik. Dalam presentasinya di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights, busana koleksinya itu dilengkapi dengan jubah velvet berwarna hitam yang semakin menguatkan kesan “gelap” dan misterius. Pemberian urutan presentasi bungsu yang diberikan kepada Tex pun mampu ia gunakan dengan cukup apik untuk menyerap perhatian maksimal dari para tetamu dan awak media di Dewi Fashion Knights dengan menyajikan kelima set busana di bawah spot light yang dramatis. Adapun judul “Exoskeleton” atau dapat dimaknai sebagai kerangka keras yang berada diluar tubuh dipilih Tex untuk judul koleksinya kali ini. Bagi Tex, “Exoskeleton” merupakan perumpamaan sebagai pelindung  seperti sosok “dewi” yang coba ia hadirkan dalam tiap pasang busananya.