Dibalik Pelepasan Baju Zirah Sang Ksatria (?)

Rasanya sudah lama sekali saya absen menarikan jemari di atas keyboard, merangkai kata, dan akhirnya menghasilkan tulisan untuk blog ini. Melihat dari posting terakhir yang saya buat, sudah setahun saya absen. Keinginan untuk kembali mengisi laman baru blog saya ini sebenarnya sudah lama membuncah, tapi selalu saja ada alasan untuk menunda dan terus menundanya. Tapi, malam ini saya begitu sulit memejamkan mata. Pikiran terus sibuk dan ribut meminta untuk dituangkan dalam tulisan. Bukan tanpa sebab, ada hal yang membuat saya gatal untuk menulis lagi. Sebuah akun di instagram bernama @nyinyirfashion

Gambar BlogKemarin sore (12/11) mendung sedang memayungi langit saat sebuah panggilan masuk ke handphone saya dari seorang teman. Dia memberitahu saya tentang sebuah kabar pengunduran diri dari seorang desainer yang selama ini digelari “Ksatria” oleh majalah mode Dewi dan hampir selalu terlibat di peragaan busana pamungkas Jakarta Fashion Week, Dewi Fashion Knight. Dia memberitahu saya seraya ingin pula mengkonfirmasi dan bertanya. Tapi apa lacur, jangankan menjawab pertanyaan, mengkonfirmasi saja saya tidak bisa karena jangankan mengetahui detil, tahu bahwa si desainer mengundurkan diri saja baru darinya.

Memang bukan tanpa alasan teman saya ini langsung menghubungi saya. Saya memang salah satu orang yang mengikuti karya si desainer sejak dulu, dan sejujurnya sangat mengaguminya. Kabar ini juga membuat saya kaget terutama bingung. Karena begitu mendadak dengan pernyataan yang ternyata amat singkat, padat, jelas dari desainer itu via website majalah Dewi dan karena peragaan busana Dewi Fashion Knight 2014 sudah hampir sepekan berlalu. Bagaimana atau seperti apa yang dimaksud dengan pengunduran diri? Sejujurnya saya kurang mengerti.

Sepanjang sisa hari dikepala saya muncul pertanyaan-pertanyaan terkait berita terhangat itu. Pikiran saya sibuk mengaduk-aduk ingatan yang akhirnya sampai pada beberapa posting yang sempat saya lihat di akun sosial media instagram bernama @nyinyirfashion. Di akun itu ada beberapa foto perbandingan koleksi desainer yang mengundurkan diri dari Dewi Fashion Knight 2014 dan koleksi dari desainer lain yang dinilai serupa. Dengan cepat saya menelusuri postingan-postingan itu lagi. Saya terhenyak. Foto-foto desainer itu memang paling banyak mendapatkan komentar pedas entah level berapa dan dituding sana-sini. Saya lantas menghembuskan nafas, sedikit resah, entah kenapa. Awalnya saya mencoba mengalihkan pikiran karena ada beberapa hal lain yang harus saya kerjakan saat itu, tapi sebuah kegelisahan semakin menjalar hebat, minta untuk dituliskan.

Tudingan akan desainer-desainer mode Indonesia yang menyontek, menjiplak, memplagiat atau apapun itu namanya bukan hal baru di dunia fesyen. Jauh sebelum peristiwa ini dan mulai melesatnya popularitas akun @nyinyirfashion terutama dikalangan penggelut, pecinta, dan pemerhati fesyen Indonesia, kasus ini sudah cukup banyak dibicarakan. Legenda pengamat mode Indonesia (Alm) Muara Bagdja di tahun 2007 silam bahkan sudah pernah menyinggung hal ini dalam tulisannya di majalah A+ yang bertajuk “Ada Apa di Belakang Panggung?”. Meski isi tulisan tersebut tidak mengupas indikasi peniruan secara tuntas, tetapi beliau memberikan porsi cukup banyak terhadapnya.

“Karena ide bisa dari mana saja, juga sah saja dari karya perancang lain. Paling banyak berasal dari perancang ternama dunia yang sedang menjadi tren diubah sana-sini, lalu dijadikan koleksi baru. Bilangnya adaptasi, interpretasi, inspirasi. Padahal itu kata halus untuk menyebut tiruan. Malah kata bisik-bisik, ada perancang senior- sekali lagi senior- yang senangnya membeli baju buatan perancang dunia, lalu baju itu dibuka jahitannya untuk melihat polanya hingga mudah ditiru.”

“Dengan gaya ‘ide dari mana saja’ itu, banyak peragaan meninggalkan kesan seperti koleksi bernapas “wanna be”, mirip dengan koleksi yang kita lihat di laporan peragaan di majalah atau Fashion TV. Jelas mirip karena perancang pun mencari ilham dari sumber yang sama dengan pecinta mode.”

-Muara Bagdja, 2007-

Gambar Blog 1Melalui penuturan (Alm) Muara Bagdja tujuh tahun silam itu, bisa disimpulkan sendiri bahwa hal ini bukan masalah asing yang tiba-tiba berhembus kencang di dunia fesyen Indonesia. Praduga-praduga meniru sudah ada sejak dulu. Akan tetapi, beberapa waktu belakangan dengan eksistensi akun @nyinyirfashion hal ini semakin jadi buah bibir yang tak terhindarkan. Jika dimasa lalu hanya akan ada segelintir orang yang benar-benar melek dan mengikuti perkembangan mode yang dapat menilai indikasi-indikasi peniruan atau mengetahui terjadinya peniruan pada rancangan seorang desainer, sekarang semua orang bisa melakukan penilaian. Caranya toh mudah saja, hanya perlu jadi pengikut akun @nyinyirfashion dan secara otomatis akan disuguhi hidangan foto siap saji yang memperlihatkan kemiripan-kemiripan yang bisa memicu timbulnya komentar super pedas.

Saya pribadi termasuk orang yang mendapatkan sajian foto perbandingan tersebut karena menjadi salah satu pengikutnya. Awalnya hanya untuk iseng dan sekadar ingin tahu, tapi semakin hari dinamika yang terjadi di akun ini ternyata bisa sampai ditahap semenarik sekarang. Dimana akun ini saya duga sebagai salah satu penyebab keputusan yang diambil desainer yang juga salah satu Ksatria Mode Indonesia untuk melepaskan baju zirahnya entah untuk berapa lama. Desainer yang sangat saya kagumi namun sekarang mungkin sedang menerima begitu banyak kritik mengiris hati karena perbandingan yang dilakukan si akun itu terhadap beberapa karyanya ternyata mendatangkan komentar pedas gila-gilaan.

Apa yang dilakukan akun instagram ini memang sempat saya perkirakan dapat menimbulkan efek samping terhadap para desainer yang karyanya sempat mampir jadi sajian perbandingan kemiripan. Tetapi, jujur saja saya tidak mengira efek sampingnya bisa sampai sehebat dan secepat ini. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan sosial media? Mungkin ini juga yang dinamakan kekuatan anonim? Dan mungkin, inilah bukti nyata kekuatan permainan pikiran? Tiga pertanyaan ini yang kemudian muncul dikepala saya.

Jika faktor kekuatan sosial media sudah sempat saya singgung diawal, bagaimana dengan dua kekuatan lain yang jadi pertanyaan saya? Dan kenapa saya bisa mempertanyakan dua hal itu? Kekuatan anonim dan kekuatan permainan pikiran. Jawabannya bisa sesederhana ini, karena akun @nyinyirfashion hingga saat ini tidak diketahui identitas sebenarnya dan karena akun tersebut tidak pernah memberi caption atau pernyataan yang menilai rancangan yang ditampilkan meniru. Ia hanya menyandingkan dua buah foto koleksi dari desainer berbeda. Ia hanya menuliskan “Trends exist because fashion can’t be copyrighted. Coco Chanel once said, “Copying is a ransom of success”. I post a pic, you make up your mind” di bio akunnya.

Berpikir lebih dalam sejenak dan menunda penghakiman, metode anonim yang digunakan oleh akun ini bisa menimbulkan banyak pertanyaan. Tentang siapa sebenarnya dibalik akun ini? Tentang apakah si pemilik akun memiliki kredibelitas untuk melakukan perbandingan? Tentang apakah ia memiliki kepentingan tersendiri atau tidak terkait apa yang dilakukannya? Semacam hidden agenda? Untuk pertanyaan terakhir, jawabannya memang sangat relatif, bisa saja memang ada, tapi bisa juga memang tidak ada apa-apa. Pertanyaan itu memang muncul dari saya karena keterkejutan saya tentang efek yang ditimbulkan memang. Sementara itu harus diakui akun ini cukup cerdas memainkan pikiran para pengikutnya, tanpa ia menuliskan apa-apa dan hanya menyandingkan foto, rentetan komentar dan pemikiran-pemikiran tentang indikasi peniruan muncul. Ia sengaja tidak mengedukasi apa-apa. Hal ini bisa dijadikan senjatanya baginya jika yang muncul malah sebaliknya, malah komentar pedas terhadap si akun, karena ia bisa dengan mudah mengembalikan ke tulisan di bionya “I post a pic, you make up your mind”.

Tulisan yang saya buat ini sebenarnya pun penuh dengan asumsi dan praduga. Terutama tentang kaitan pelepasan baju zirah sang Ksatria Mode dan akun instagram @nyinyirfashion. Saya memang yang mengasumsikan itu karena hingga kini belum ada bukti konkret apa-apa tentang korelasi keduanya. Saya pribadi tidak bermaksud menjatuhkan, memojokan atau membela pihak manapun. Bukan juga untuk membuat akun instagram @nyinyirfashion semakin populer, karena saya yakin tanpa tulisan ini akun tersebut akan semakin populer juga karena dikalangan fesyen memang sudah jadi perbincangan. Saya hanya ingin mengajak untuk merenungkan kembali sebelum bisa menilai atau menyalahkan segala sesuatu terutama dalam kasus ini. Coba melihatnya dengan mata yang lebih terbuka. Tidak ada yang 100% salah –kalau memang bisa disebut salah, meski saya tidak yakin penggunaan kata ini tepat- tapi tidak ada pula yang 100% benar karena semua pihak memiliki kekuatan “pembelaan” dan semua pihak mempunyai titik lemah untuk jadi sasaran “penyerangan”. Dan para komentator, mungkin perlu mempertimbangkan kembali kata-katanya yang terlalu pedas apakah sudah diimbangi dengan pengetahuan yang cukup mumpuni karena jangan sampai hanya jadi bagian dari peribahasa “air beriak tanda tak dalam”, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s