Cerita Cinta Lagi, Lagi-lagi Cerita Cinta

Saya ingin memuat ulang tulisan ini, sebuah tulisan yang sebelumnya saya buat untuk majalah milik mahasiswa Antropologi FISIP UI. Tulisan ini tentang cerita cinta, tapi ceritanya lain dari biasa, karena penulisnya sok menginisiasi konsep-konsep antropologis di dalamnya. Maklum, namanya juga mahasiswa yang masih kena euforia ilmu yang dipelajarinya. Semoga tulisan ini tidak terlalu ngawur dan masih bisa dinikmati bersama secangkir kopi pagi.

Cerita Cinta Lagi, Lagi-lagi Cerita Cinta*
Siapa yang bosan membahas tentang cinta? Saya ingin tahu berapa banyak orang yang muak membicarakan problematika hati dan rasa. Mungkin ada, dan tidak sedikit yang sudah jengah membicarakan tentang cinta termasuk juga membaca cerita cinta. Tapi, saya masih yakin benar kalau cinta tetap jadi salah satu formula paling ampuh untuk membangkitkan gairah bercerita. Jadi mari sekali lagi, membicarakan tentang cinta. Mari sekali lagi mengikuti arus global yang isinya jadi cinta yang berbunga-bunga menjelang Valentine’s Day. Ya, tidak ada salahnya sesekali terhanyut pada kisah-kisah roman yang mengagungkan cinta. Kan, katanya cinta tidak pernah salah, ya kan?

Cerita Cinta

Ada yang bilang kalau sebuah cerita akan tidak terlalu menarik untuk disimak jika tidak menyisipkan kisah cinta. Meski sekelebat, meski sekelumit, meski separagraf, bumbu-bumbu percintaan sebaiknya disisipkan agar lebih terasa manis. Cinta kadang juga dibubuhkan untuk meringankan muatan sebenarnya yang berat. Misalnya saja, apa yang sebenarnya disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia? Apakah hanya percintaan Minke dan Annelies? Tentu saja tidak! Pram membicarakan begitu banyak hal, tentang kolonialisme, tentang struktur sosial pada masa kolonial, tentang paradigma masyarakat di masa kolonial dan masih banyak lagi yang akan terasa jadi perenungan yang berat jika saja tidak dihadirkan dalam balutan roman serta alur cerita yang mengalir nikmat.

Memandang ke belakang, jauh sebelum Pram muncul dengan Tetralogi Bumi Manusianya, penggunaan kisah percintaan untuk menyampaikan ragam pesan moril atau isu lainnya jamak kita jumpai dalam cerita rakyat. Sebagaimana hakikat fungsi foklor seperti yang dimaktubkan James Danandjaja, cerita rakyat yang jadi bagian dari folklor memiliki kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam. Maka tidak heran bila cerita rakyat yang biasa kamu baca, yang sekilas mungkin berkisah tentang lika-liku kisah cinta dua insan turut disesaki pesan-pesan tersirat di dalamnya.

Ambil perumpamaan cerita rakyat masyarakat Bali tentang Jayaprana dan Layon Sari. Cerita ini bertutur tentang seorang pemuda bernama Jayaprana, ia adalah putra angkat dari seorang raja yang pernah memerintah Raja Buleleng. Alkisah, Jayaprana menikah dengan seorang gadis cantik jelita yang jadi pilihannya, gadis itu bernama Layon Sari. Pernikahan keduanya memang mendapat restu dari sang Raja Buleleng, akan tetapi sialnya sang Raja malahan tergila-gila pula dengan kecantikan Layon Sari dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Layon Sari sebagai istrinya, termasuk membunuh Jayaprana. Rencana diatur, siasat disusun, Jayaprana diberikan tugas fiktif untuk berkunjung ke Celuk Terima. Meski firasat sudah melekat erat dalam pikirannya, Jayaprana membiarkan diri untuk digiring menuju kematian, semua atas nama kepatuhan pada sang Raja Buleleng, ayah angkatnya. Setelah kematian Jayaprana, Raja Buleleng pada akhirnya tidak berhasil pula memperistri Layon Sari karena Layon Sari memutuskan untuk bunuh diri menyusul suaminya yang lebih dulu mati.

Cerita Jayaprana dan Layon Sari yang awalnya tersebar dalam bentuk balada (ballad) atau syair yang diukir di atas daun lontar kering ini sesungguhnya memperlihatkan banyak sisi menarik selain kisah cinta itu sendiri. Jika kamu dapat menemukan versi lebih lengkap dan rinci mengenai cerita ini, gambaran kehidupan sosial budaya masyarakat Bali dapat terlihat disamping pesan lainnya yang ingin disampaikan tentang tentang kepatuhan, pengorbanan, kesetiaan, dan moralitas. Intinya sama, cerita cinta tidak hanya hadir sebagai cerita cinta semata tapi sebagai alat untuk menyampaikan hal-hal lainnya. Hal yang sebagian masih berkaitan seputar cinta dan sebagian lainnya mungkin bertolak belakang atau bahkan tak ada kaitannya.

Dari Antropologi Dengan Penuh Cinta

Jika yang jadi pertanyaan besar selanjutnya adalah dimana letak sisi antropologinya dari semua cerita-cerita cinta yang ada? Jawabannya tentu saja ada! Seperti yang telah saya uraikan sebelumnya, cerita-cerita cinta yang sarat akan muatan isu-isu lain yang bukan romansa kerap menyinggung permasalahan sosial budaya tempat yang jadi latar belakang cerita. Entah tentang bagaimana struktur sosial dalam masyarakat, sistem kepercayaan setempat, adat istiadat, dinamika kebudayaan yang ada, dan masalah-masalah sosial lainnya yang mengarah pada isu-isu antropologis. Tidak hanya itu saja, dalam hal persebaran dan pola-pola yang ada pada cerita cinta, terutama cerita cinta pada cerita rakyat, juga bisa lihat dari kacamata antropologi.

Mencoba untuk sedikit iseng mengaitkan pendekatan antropologi dengan cerita rakyat bermuatan cinta di Indonesia, rasanya pendekatan strukturalisme milik Lévi-Strauss merupakan salah satu yang bisa diambil sebagai pisau analisis kecil-kecilan. Secara sederhana strukturalisme merupakan pendekatan yang menekankan kepada analisis struktural suatu kebudayaan. Berhubung cerita rakyat adalah bagian dari folklor dan folklor tidak lain merupakan sebagian dari kebudayaan kolektif, maka kita dapat melihat adanya struktur kebudayaan dalam cerita rakyat. Saya coba ambil contoh sederhana yakni cerita Legenda Gunung Tangkuban Perahu yang memiliki struktur atau pola cerita yang sama dengan cerita Oedipus dari Yunani. Keduanya sama-sama bercerita tentang anak laki-laki yang jatuh cinta pada Ibunya sendiri. Cerita cinta, bukan? Meski cinta yang terlarang. Ada pesan-pesan yang ingin disampaikan, bukan? Tentang moralitas, tentang kehidupan sosial yang jadi latar belakang dan lain sebagainya.

Pendekatan strukturalisme selanjutnya bisa kita jumpai pada cerita-cerita lainnya. Coba perhatikan struktur atau pola-pola cerita cinta yang kamu ketahui, pasti kamu akan banyak menemukan kesamaan. Cinta yang ditentang orangtua karena status sosial yang berbeda, cinta yang tidak bisa bersatu dan berakhir tragis, cinta yang sempurna, cinta yang berbeda alam dan cinta-cinta lainnya. Benang merahnya mungkin sama saja antara cerita cinta yang ini dan yang itu, hanya masalah pengemasannya saja yang berbeda.

Menutup tulisan ini, yang digagas sebagai etnomini, (padahal saya pun masih tidak yakin apakah ini sudah cukup mewakili etnomini seperti yang dibayangkan), saya ingin bertanya lagi, apakah kamu sudah bosan dengan cerita cinta? Kalau kamu sudah bosan, mungkin kamu bisa coba cara menarik lain untuk menikmati cerita cinta yang ada. Caranya adalah dengan menggunakan kacamata antropologi untuk melihat keseluruhan cerita cinta yang ada. Siapa tahu ternyata “muatan-muatan” lain didalamnya ternyata justru lebih menarik untuk disimak dan direnungkan dalam-dalam. Juga mencoba iseng mengait-kaitkan pendekatan antropologi dengan cerita cinta yang kamu baca, siapa tahu kamu menemukan pendekatan yang sebenarnya bisa dijadikan pisau analisis terkait dengan cerita cinta tersebut. Siapa tahu?

*Dimuat dalam Antropos edisi Februari 2015, Antropologi (Bicara) Cinta.
http://issuu.com/antroposheman/docs/antropos_03complete

Sutardji, Idul Fitri dan Kelahiran Kembali

Sejak malam takbiran saya bacai satu sajak Sutardji lamat-lamat. Mencoba memahami arti kata, jangan sampai terlewat satu biji, karena seperti yang sudah-sudah, Sutardji sering terlalu sulit untuk dimengerti. Tapi kali ini rasanya saya dapat sedikit lebih lega, karena sajaknya yang ini lebih bisa dinikmati. Oh, bukan saja dinikmati, juga lebih mudah dimamah dengan tidak perlahan. Kesimpulannya, saya suka sajak Sutardji yang ini, atau lebih tepatnya, sangat suka.

Judulnya “Idul Fitri”. Sajak ini saya temukan dalam sebuah buku catatan usang yang telah lama disusun Ibu untuk anak-anaknya, termasuk saya, tapi saya tidak akan menceritakan tentang buku itu sekarang karena ada hal lain yang lebih menarik hati. Lalu, kembali ke Sutardji dan Idul Fitri-nya, saya dipaksa gelisah saat membaca. Karena lariknya yang lebih sederhana dari sajak-sajak Sutardji yang lain justru terasa menyayat hati dengan caranya sendiri. Saya akui, saya bukan penikmat sastra sejati, apalagi pemerhati fasih. Disebut amatiran saja sudah bagus karena mungkin dalam strata, saya bisa diposisikan dibawahnya lagi, jadi mohon dimaafkan bila ada salah-salah tafsir atau kata. Tapi, bolehlah saya bawa tafsiran sendiri tentang sajaknya ini, sesuai dengan kondisi yang dialami, tentu saja. Selain itu, secara singkat tentunya, karena saya pun setengah ragu dan setengah malas untuk menuliskan seluruh tafsiran. Separuh takut tulisan jadi kelewat panjang, separuh khawatir isi kepala terlalu sok tahu, dan sisanya ya, karena memang sedang tidak ingin menulis panjang-panjang. Setidaknya tidak untuk saat ini.

Dalam “Idul Fitri” saya melihat Sutardji sedang melsayakan perjalanan pribadi, semacam retrospeksi. Ia datang ke masa lalu, mengingat semua “dosa-dosa” nya lalu kembali ke masa kini. Menumpahkan segala penyesalannya lalu mengungkap cara “penebusan dosa” yang coba ia lakukan. Tujuannya, agar ia dapat terlahir kembali di Hari Suci, meskipun dalam lariknya ia terasa ragu sendiri. Lalu mempersingkat ratusan kata yang bisa saja muntah bila diteruskan, satu pertanyaan akan dikemukakan? Lantas, apa yang sama dengan keadaan saya? Dua kata. Kelahiran kembali. Bedanya saya dapat menambahkannya dengan kata “ingin” di depannya.

Saya ingin lahir kembali. Dalam rangkaian kata dan dalam laman maya ini terutama. Rasanya sudah terlalu lama laman ini ditinggalkan begitu saja. Jadi saya rasa, Idul Fitri tepatkan saja sebagai momentumnya. Tapi jangan terkejut bila nanti kamu yang kadang suka terjebak mampir ke laman ini menemukan banyak cerita yang berbeda dari biasa. Itu wajar. Dalam hidup saya yang terasa berlalu begitu cepat ada banyak peristiwa yang belum sempat diceritakan dan mungkin akan diceritakan kemudian di laman ini. Yang jelas, saya tahu ada banyak hal yang sudah berbeda, dan saya separuh ingin kamu tahu itu, sementara separuhnya lagi biarlah bebas tanpa keinginan.

 

 
IDUL FITRI

Lihat
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa ramdhanku,
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
Telah kuhamparkan sajadah
Yang tak hanya nunu Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam-malam Lailatul Qadar sayapun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka saya girang-girangkan hatiku
Saya bilang: Tardji rindu yang kau wudhukan setiap malam Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang Namun si
bandel Tardji ini sekali merindu Takkan pernah melupa Takkan kulupa janjiNya Bagi yang merindu insya-Allah kan
ada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya
Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwsaya ini
Semakin mendekatkan saya padaNya
Dan semakin dekat
semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai
berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
ngebut di jalan lurus Jangan kau depakkan lagi saya ke trotoir tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
Kau biarkan saya menenggak marak cahayaMu di ujung usia

O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan saya kini ngebut di jalan lurus Tuhan jangan Kau depakkan lagi saya di trotoir tempat dulu saya
menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini
Kukenakan zirah la ilaha illallah saya pakai sepatu siratal mustaqiem sayapun lurus menuju lapangan tempat shlat ied
Saya bawa masjid dalam diriku Kuhamparkan di lapangan Kutegakkan shalat dan kurayakan kelahiran kembali di sana

-Sutardji Calzoum Bachri-