Sutardji, Idul Fitri dan Kelahiran Kembali

Sejak malam takbiran saya bacai satu sajak Sutardji lamat-lamat. Mencoba memahami arti kata, jangan sampai terlewat satu biji, karena seperti yang sudah-sudah, Sutardji sering terlalu sulit untuk dimengerti. Tapi kali ini rasanya saya dapat sedikit lebih lega, karena sajaknya yang ini lebih bisa dinikmati. Oh, bukan saja dinikmati, juga lebih mudah dimamah dengan tidak perlahan. Kesimpulannya, saya suka sajak Sutardji yang ini, atau lebih tepatnya, sangat suka.

Judulnya “Idul Fitri”. Sajak ini saya temukan dalam sebuah buku catatan usang yang telah lama disusun Ibu untuk anak-anaknya, termasuk saya, tapi saya tidak akan menceritakan tentang buku itu sekarang karena ada hal lain yang lebih menarik hati. Lalu, kembali ke Sutardji dan Idul Fitri-nya, saya dipaksa gelisah saat membaca. Karena lariknya yang lebih sederhana dari sajak-sajak Sutardji yang lain justru terasa menyayat hati dengan caranya sendiri. Saya akui, saya bukan penikmat sastra sejati, apalagi pemerhati fasih. Disebut amatiran saja sudah bagus karena mungkin dalam strata, saya bisa diposisikan dibawahnya lagi, jadi mohon dimaafkan bila ada salah-salah tafsir atau kata. Tapi, bolehlah saya bawa tafsiran sendiri tentang sajaknya ini, sesuai dengan kondisi yang dialami, tentu saja. Selain itu, secara singkat tentunya, karena saya pun setengah ragu dan setengah malas untuk menuliskan seluruh tafsiran. Separuh takut tulisan jadi kelewat panjang, separuh khawatir isi kepala terlalu sok tahu, dan sisanya ya, karena memang sedang tidak ingin menulis panjang-panjang. Setidaknya tidak untuk saat ini.

Dalam “Idul Fitri” saya melihat Sutardji sedang melsayakan perjalanan pribadi, semacam retrospeksi. Ia datang ke masa lalu, mengingat semua “dosa-dosa” nya lalu kembali ke masa kini. Menumpahkan segala penyesalannya lalu mengungkap cara “penebusan dosa” yang coba ia lakukan. Tujuannya, agar ia dapat terlahir kembali di Hari Suci, meskipun dalam lariknya ia terasa ragu sendiri. Lalu mempersingkat ratusan kata yang bisa saja muntah bila diteruskan, satu pertanyaan akan dikemukakan? Lantas, apa yang sama dengan keadaan saya? Dua kata. Kelahiran kembali. Bedanya saya dapat menambahkannya dengan kata “ingin” di depannya.

Saya ingin lahir kembali. Dalam rangkaian kata dan dalam laman maya ini terutama. Rasanya sudah terlalu lama laman ini ditinggalkan begitu saja. Jadi saya rasa, Idul Fitri tepatkan saja sebagai momentumnya. Tapi jangan terkejut bila nanti kamu yang kadang suka terjebak mampir ke laman ini menemukan banyak cerita yang berbeda dari biasa. Itu wajar. Dalam hidup saya yang terasa berlalu begitu cepat ada banyak peristiwa yang belum sempat diceritakan dan mungkin akan diceritakan kemudian di laman ini. Yang jelas, saya tahu ada banyak hal yang sudah berbeda, dan saya separuh ingin kamu tahu itu, sementara separuhnya lagi biarlah bebas tanpa keinginan.

 

 
IDUL FITRI

Lihat
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa ramdhanku,
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
Telah kuhamparkan sajadah
Yang tak hanya nunu Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam-malam Lailatul Qadar sayapun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka saya girang-girangkan hatiku
Saya bilang: Tardji rindu yang kau wudhukan setiap malam Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang Namun si
bandel Tardji ini sekali merindu Takkan pernah melupa Takkan kulupa janjiNya Bagi yang merindu insya-Allah kan
ada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya
Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwsaya ini
Semakin mendekatkan saya padaNya
Dan semakin dekat
semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai
berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
ngebut di jalan lurus Jangan kau depakkan lagi saya ke trotoir tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
Kau biarkan saya menenggak marak cahayaMu di ujung usia

O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan saya kini ngebut di jalan lurus Tuhan jangan Kau depakkan lagi saya di trotoir tempat dulu saya
menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini
Kukenakan zirah la ilaha illallah saya pakai sepatu siratal mustaqiem sayapun lurus menuju lapangan tempat shlat ied
Saya bawa masjid dalam diriku Kuhamparkan di lapangan Kutegakkan shalat dan kurayakan kelahiran kembali di sana

-Sutardji Calzoum Bachri-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s