Cerita Tentang si Seniman dan Seorang Teman

Dia selalu menarik di mata saya. Ada hal berbeda dari pancaran auranya. Mungkin terdengar aneh, tapi memang itu yang saya rasa. Entah kenapa saya selalu merasa jiwanya telah lama mengembara dan kebetulan saja (jika bisa disebut kebetulan) saat ini sedang mampir ke Bumi dalam wujudnya yang sekarang. Mungkin saya berlebihan, mungkin juga tidak, kalau kamu mengenalnya seperti saya mengenal dia. Ya, dia, kenalkan, teman saya, Nastiti Dewanti.

P1040339Saat saya menuliskan ini dan mungkin ia akan membacanya, mungkin dia tidak sedang berada disekitar saya. Saya yakin benar bahwa ia masih berada di satu daerah terpencil sana dan sedang melaksanakan rangkaian tugas mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif (MPE) dari program studi Antropologi. Saya dapat membayangkannya mengenakan bucket hat, kaus oblong atau kemeja lapangan dan mungkin celana lapangan. Berjalan-jalan keluar masuk rumah nelayan di pesisir pantai dan sibuk mewawancari mereka satu persatu guna mencari data penelitian, atau mungkin saja ia sedang berjalan menyusuri hutan bakau, atau mungkin juga sedang berada di “ruang kerja” dadakannya yang menghadap langsung ke hutan bakau yang rindang.

Lalu wajahnya. Saya selalu dapat membayangkan wajahnya itu. Wajah yang kadang membuat saya segan setengah mati entah karena apa. Wajah yang menurut saya seperti menyimpan banyak misteri padahal saya sudah mengenalkan dua tahun lebih dan kini berteman baik dengannya. Terdengar aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata karena kamu mungkin harus mengenalnya lebih dulu baru dapat memahami apa yang saya bicarakan. Tapi, mari singkirkan semua tentang sisi “misteriusnya” yang selalu saya rasakan, lalu biarkan saya bercerita tentang banyak hal lain yang menarik tentangnya. Dan semua cerita bermula pada sore itu.

_MG_0999Sebelum senja kami berdua sudah duduk di kursi yang berada di halaman belakang rumahnya. Ditemani segelas kopi susu hangat untuk saya dan kopi hitam kegemarannya. Berdua hari itu kami banyak bertukar cerita, tentang kegiatan yang kami lakukan bersama beberapa bulan belakangan ini, tentang kegiatan perkuliahan yang sama-sama sedang kami jalani, tentang cerita selingan tentang beberapa teman, dan terutama, tentang dia, tentang seorang Nastiti Dewanti.

Bukan tanpa sebab saya katakan tentang dia adalah yang utama. Agenda saya hari itu memang mewawancarainya untuk kepentingan salah satu tulisan eksperimental saya. Sebenarnya dari jauh-jauh waktu saya sudah menduga akan ada banyak hal menarik yang akan saya dapatkan dari rangkaian pertanyaan saya untuk, tapi saya masih saja terpukau dengan cerita-cerita yang terucap dari bibirnya. Bagi saya semua yang ia ceritakan tentang aktivitasnya sangat mengesankan, terutama untuk segala pencapaiannya di usia yang masih sangat muda. Cerita-cerita darinya sekaligus mengamini semua candaan yang kerap terlontar dari saya bahwa ia adalah “Si Seniman Totok”.

Berbincang dengan saya, Titis memutar kembali ingatannya pada waktu-waktu lalu, saat ia pertama kali terjun ke dunia seni. Menurut ceritanya, kala itu ia masih remaja usia belasan yang dilarang kedua orangtuanya untuk memasuki salah satu institusi pendidikan tinggi ternama di bidang seni di Jakarta. Alasannya cukup memusingkan, orangtuanya ingin agar Titis dapat terlebih dahulu membuktikan bahwa ia benar-benar bisa ”hidup” dan menghasilkan karya di dunia seni, padahal Titis sudah kadung jatuh cinta dengan segala dunia seni terutama seni rupa. Enggan menggantungkan harapannya untuk dapat memperdalam ilmu di institut kesenian impian, Titis mencari cara pembuktian kepada kedua orangtuanya. Video Art kemudian ia pilih sebagai senjata perlawanannya karena alasan yang cukup sederhana, ia perlu media seni yang dianggapnya instan namun dapat membawanya mengikuti sebuah pameran seni.

_MG_0996Bekerjasama dengan teman-teman SMA-nya, Titis membuat sebuah Video Art bertajuk “Jakarta Kata Gue, Mubazir” yang kemudian ia ikutkan dalam Video Art Competiton Jakarta Biennale Exhibition 2012. Tidak dinyana, karya Video Art Titis menyabet gelar juara sekaligus mengantarkannya sebagai pemenang dan peserta termuda dalam Jakarta Biennale Art Exhibition 2012. Kegilaan seninya pun tidak berhenti sampai disana, bakat Titis dalam merangkai kata dalam bentuk sajak terendus sastrawan Nirwan Dewanto yang aktif di Komunitas Salihara dan mengundang Titis secara khusus dalam Lokakarya Seniman Membaca Sastra yang digagas Komunitas Salihara. Mengulang kasus kemenangannya di Jakarta Biennale Exhibition 2012, Titis kembali menyabet gelar sebagai Best Reader termuda dalam Lokakarya dan dikirim sebagai perwakilan pembaca sajak di International Literary Biennale Salihara 2012. Di ajang bergengsi itu, Titis sekali lagi membuktikan kepiawaiannya dalam membaca sajak dengan membawa pulang predikat Best Reader.

Belum cukup dalam seni Video Art dan Sastra, Titis turut merambah lingkup seni rupa lainnya, yakni gambar ilustrasi dan kerajinan tangan. Gambar-gambar yang awalnya ia ciptakan sebagai intepretasi visual dari sajak-sajak yang ditulisnya kemudian membawa Titis mengikuti sebuah pameran kolektif tentang Drawing Art bertajuk “Lunch Time” pada tahun 2013. Setelahnya ia kembali mengikuti pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh Ruang Rupa Jakarta di tahun 2014, namun kali ini memilih seni rupa Object Art, dan ditahun selanjutnya ia beralih pada seni kerajinan tangan pada pameran bersama perupa-perupa perempuan dalam pameran seni “Buka Warung”.

_MG_0995Dengan segala pencapaiannya di bidang seni , mungkin kamu mengira Titis telah resmi menjadi salah satu dari mahasiswa seni? Sayangnya tidak. Meski sempat mendapat tawaran beasiswa separuh biaya kuliah di Institut Kesenian Jakarta, Titis akhirnya lebih memilih untuk menjadi mahasiswa program studi Antropologi di Universitas Indonesia. Pilihan ini diambilnya berdasarkan saran beberapa orang yang sempat menjadi juri penentu kemenangannya di Jakarta Biennale Art Exhibition yang menilai bahwa karya Video Art Titis sangat dekat dengan nuansa serta nilai-nilai Antropologis. Pilihannya sebagai mahasiswa Antropologi ini pula yang membuat saya mengenalnya dengan baik. Dia senior saya. Satu tahun diatas saya. Sekali waktu menjadi satu kelompok penelitian kecil-kecilan dan banyak waktu lainnya menjadi teman berbincang yang menyenangkan.

Saya kemudian mencoba mengingat-ingat lagi tentang apa-apa saja kenangan saya bersama Titis. Salah satu yang paling berkesan rasanya adalah saat “jalan-jalan berkedok penelitian”-nya mahasiswa Antropologi, ke desa Cigugur, Kuningan, Jawab Barat. “Jalan-jalan berkedok penelitian” itu kira-kira berlangsung setahun lalu, kami berdua ditempatkan satu kelompok di satu rumah tinggal yang sama. Selama lima hari empat malam saya tinggal serumah bersama Titis, saya jadi tahu banyak kebiasaannya, termasuk kebiasaan uniknya yang seperti orang mengunyah saat tidur. Di rumah Induk Semang, Titis seperti anak kesayangan, Kakak Tertua yang penurut dan ringan tangan membantu pekerjaan sementara saya adalah adik bandel yang impulsif dan kadang suka sekehendak hati saja. Jadi ya tidak heran kalau Titis kadang memarahi saya karena kelakuan saya yang (kadang) ajaib. Untungnya, dia masih mau duduk berdua dan berbincang diberanda depan rumah sembari menikmati teh manis hangat serta aneka gorengan saat pagi.

Coba tengok blog Titis di nastitidewanti.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s