Memapas Sial

Saya adalah salah satu orang yang gandrung dengan pengetahuan seputar kepercayaan-kepercayaan lokal seperti mite dan pamali yang menjadi bagian dari folklor. Memang tidak selalu saya percayai secara utuh, tapi saya senang mengetahui, membicarakan, bahkan menjadikannya lelucon meski tidak selalu dipraktikan. Seperti halnya potong rambut. Saya sering berkelakar ketika saya memapas rambut berarti saya sedang membuang sial.

Kaizen Setiabudi One

Kaizen Setiabudi One

Saya bukan tipe orang yang terlalu merawat penampilan. Menjaga penampilan prima seperti mereka yang sering tampil di layar kaca. Aktivitas perawatan diri yang saya lakukan hanya mandi (kalau bisa) dua kali sehari dan keramas (kalau bisa) dua hari sekali. Selebihnya? Ah, bisa dihitung jari berapa kali saya menjejakan kaki di salon untuk melakukan perawatan rambut seumur hidup saya yang sudah kepala dua. Tapi, saya punya jadwal unik dalam urusan potong memotong rambut. Saya hanya memotongnya setahun dua kali, sampai-sampai salon rumahan langganan saya hapal benar jadwal itu. Sayangnya, pada dua tahun belakangan saya mengingkari jadwal rutin saya. Jadwal potong rambut berubah jadi semaunya, tergantung kenyamanan saya pada rambut yang terus bertumbuh, dan satu lagi, tergantung perasaan saya akan “kesialan” yang menggelayut.

Sebenarnya saya kurang setuju, atau lebih tepatnya kurang sreg dengan penggunaan rasa sial, tapi kadang kata sial terdengar lebih pas, efektif, dan menyebalkan dibanding saya menggunakan kata “saya-seperti-sedang-banyak-masalah-dalam-hidup.” Sial bagi saya sesungguhnya hanya kelakar konyol, tapi anehnya saya begitu sering menggunakannya sebagai tameng. Setiap saya memotong rambut dan orang disekitar saya bertanya, “Potong rambut ya?”. Maka saya akan menjawab, “Iya, buang sial.” Jadilah pikiran saya semakin terstimulus. Ketika saya memang ingin potong rambut tetapi urung dilaksanakan, beberapa hal dalam hidup saya terasa semakin menyebalkan dan bermasalah. Lalu, saya akan benar-benar memangkas rambut saya agar lega. Mungkin terdengar konyol, tapi biarlah.

Saya memilih Minggu sore sebagai waktu yang tepat untuk memangkas rambut. Tapi pengalaman kali ini berbeda dari yang terdahulu. Saya tidak lagi tata rambut saya pada salon rumahan langganan saya, dan memilih Kaizen Baber Shop. Sejujurnya, Kaizen masih terdengar asing bagi saya, saya belum lama tahu tentang Kaizen, itupun dari salah seorang teman baik saya yang memang pelanggan Kaizen, si tempat potong rambut ala Jepang yang menawarkan kecepatan, kerapian, dan kebersihan yang terjamin saat memotong rambut secara ekspres, hanya sepuluh menit!

Berangkat dari pengetahuan yang minim tentang Kaizen saya lantas mencari tahu lebih banyak dengan berselancar di dunia maya dan membuka laman resmi Kaizen. Ada banyak hal menarik yang semakin membuat saya penasaran dengan Kaizen saat membaca keterangan-keterangan di laman resminya. Kaizen tidak hanya menjanjikan kecepatan saat memangkas rambut pelanggannya, tetapi juga mengatakan bahwa pemangkas rambut di Kaizen adalah tenaga profesional yang menguasai dengan baik teknik potong rambut. Selain itu, Kaizen menjamin kebersihan seluruh peralatan yang digunakan dengan menyediakan sebuah mesin sterilisasi yang berfungsi membunuh segala jenis kuman dan bakteri. Menarik ya?

P1040765P1040768P1040770

Saat saya tiba di Kaizen cabang Setiabudi One keadaan cukup ramai. Kursi-kursi sederhana yang empuk tempat menunggu giliran penuh sehingga saya mendapatkan sedikit ruang duduk di pinggir terluar. Kebanyakan orang yang menunggu giliran potong rambut adalah laki-laki, seorang perempuan lain yang menunggu giliran adalah Ibu yang mengantarkan anak lelakinya potong rambut. Sejujurnya saya sedikit merasa “salah tempat” karena Kaizen penuh dengan laki-laki, meski Kaizen bukan hanya diperuntukan bagi laki-laki dan pemangkas rambutnya perempuan semua. Menurut teman baik saya, mayoritas pelanggan Kaizen memang laki-laki yang ingin memangkas rambut secara ringkas, cepat, dan hasilnya bagus. Akan tetapi hal itu tidak membuat saya ingin mengurungkan niat saya untuk memangkas rambut di Kaizen, setengah karena saya merasa telah waktunya untuk potong rambut, dan setengah karena sudah kadung penasaran dengan Kaizen.

Setelah menunggu beberapa lama giliran saya pun tiba. Pemangkas rambut saya seorang perempuan yang saya taksir berusia tigapuluh tahunan, berperawakan sedang dengan potongan rambut pendek yang ditata berantakan. Seperti biasa, sebelum memangkas rambut, terlebih dahulu ia bertanya saya menginginkan gaya rambut yang seperti apa, lalu saya jawab seperti jawaban yang biasa saya utarakan ketika waktu potong rambut tiba, “Dipotong lebih pendek dengan gaya yang sama dengan rambut lama”. Usai mendengar jawaban saya, ia segera menyiapkan alat. Gunting, sisir, penjepit rambut, dan seperti masker untuk leher dikeluarkan dari sebuah mesin yang bebentuk serupa oven bertulisan “strelirizer”. Dengan cekatan ia menjepit rambut saya dan memainkan gunting serta sisir secara bersamaan. Tanpa ritual pencucian rambut, ia menyemprotkan cairan berkali-kali ke rambut saya lalu menggunting sana sini.

Waktu yang dibutuhkan untuk memapas rambut saya ternyata cukup lama, asumsi saya hal ini terjadi karena rambut saya notabenenya lebih panjang daripada rambut pelanggan Kaizen lainnya yang kebanyakan laki-laki, disamping jumlah helai rambut saya yang cukup banyak. Namun, ketangkasan pemangkas rambut tetap membuat saya terkesima. Selama prosesi pemangkasan rambut, ia bertanya beberapa kali apakah rambut saya sudah sesuai dengan gaya dan kependekan yang saya inginkan sembari memperlihatkan refleksinya di cermin yang kemudian saya balas dengan anggukan singkat. Setelah selesai saya pun dibuat senang dengan hasil potongan yang sesuai dengan keinginan saya, dan bertambah senang dengan “hadiah kecil” berupa sisir yang ternyata selalu dibagikan cuma-cuma untuk pelanggan Kaizen.

P1040776

P1040773

P1040774Setelah semua “ritual” usai saya beberapa kali mematutkan diri di cermin, melihat refleksi diri dengan lebih jelas. Rambut saya sudah pendek lagi dan lebih rapi, semoga hidup saya pun begitu karena meskipun selalu terdengar seperti kelakar santai, “Potong rambut, buang sial”, saya umpamakan layaknya doa agar semuanya baik-baik saja. Mungkin juga karena saya menganalogikan potong rambut layaknya membuang “bagian berantakan” dalam hidup. Jadi, saat hidupmu terasa semakin tidak karuan, coba saya papas kesialan dengan memotong rambutmu. Ah, maaf kalau terdengar konyol. Saya memang gemar berkelakar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s