Ketika Semua Orang Adalah Pemimpin, Siapa yang Bersedia Dipimpin? Sebuah Refleksi Diri Tentang “Pemimpin”

Sepeda motor saya pacu dengan santai sepanjang Jalan Antasari, Jakarta Selatan. Di bawah jalan layang yang dihiasi lampu beraneka warna, biasanya perjalanan ini akan terasa menyenangkan. Malam yang syahdu, jalanan sepi, dan cahaya warna-warni, rasanya saya tidak perlu meminta lebih dari suasana malam ini. Namun, ada yang sedikit mengganjal pikiran ketika mengingat beberapa jam waktu kebelakang sebelum saya melintasi jalan ini. Beberapa jam lalu saya masih berada di dalam sebuah ruangan bersama beberapa teman. Mereka masih muda, seusia dengan saya, dan sukses di bidangnya masing-masing. Bersama-sama mereka di ruangan itu, obrolan silih berganti, namun ada satu topik yang terperangkap dan tidak mau lepas dari rongga kepala saya. Topik mengenai pemimpin yang kemudian punya turunan “menjadi pemimpin masa depan”, “mempersiapkan pemimpin masa depan”, “generasi muda sebagai pemimpin masa depan yang membawa perubahan” dan narasi-narasi serupa itu.

Diantara perbincangan bertopik pemimpin dan segala turunannya itu, saya sempat menyeletuk “Kalau gue nggak mau jadi pemimpin gimana?”. Seorang teman laki-laki di samping saya segera menoleh ke arah saya, begitu pula wajah-wajah lainnya. Sementara orang yang jadi pusat perhatian hanyacengar-cengir sarkastik. Sebenarnya saya tidak berniat memunculkan sinisme terhadap topik tersebut, hanya saja, mungkin saya yang terlalu gemar menjadi oposisi untuk beberapa hal. Salah satunya tentang topik semacam ini. Hal ini mungkin terjadi karena setiap kali topik “pemimpin” atau “kepemimpinan” muncul, kepala saya langsung penuh dengan kegiatan-kegiatan pelatihan kepemimpinan, narasi-narasi di berbagai media tentang menjadi seorang pemimpin, hingga beasiswa-beasiswa yang jelas-jelas memuat kalimat “untuk pemimpin muda”, “kepemimpinan” dan sebagainya, dan sebagainya. Sampai-sampai kadang saya merasa bahwa kita, terutama anak muda, dituntut untuk berlomba-lomba menjadi atau mendapatkan posisi sebagai pemimpin. Positif memang, saya akui, karena dalam diri saya pun masih begitu kuat doktrin “Setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri”. Ya, saya setuju, setiap manusia memang dilahirnya sebagai pemimpin, setidaknya mereka sudah pasti menjadi pemimpin atas dirinya sendiri. Namun, saya ingin coba sedikit melepaskan doktrin itu karena saya tidak ingin berbicara tentang topik ini di level individu.

Sepanjang perjalanan pulang menyusuri Jalan Antasari hingga wilayah Jakarta Timur yang berbatasan dengan Bogor isi kepala saya begitu riuh. Rasanya seperti ada ratusan makhluk kecil yang sibuk membongkar tumpukan ingatan tentang satu kata itu, pemimpin. Saya bingung, “Kenapa (berlomba-lomba) menjadi seorang pemimpin itu penting?” Kebingungan saya lantas semakin menjadi-jadi ketika pertanyaan lanjutan muncul, “Sebenarnya pemimpin itu apa sih? Pemimpin menurut siapa? Pemimpin untuk siapa?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa ingatan saya pada salah satu mata kuliah yang pernah saya ikuti. Di mata kuliah itu saya diharuskan untuk membaca sebuah disertasi untuk memperoleh gelar Ph.D Rijksuniversiteit Leiden milik Johszua Robert Mansoben bertajuk “Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya”. Dalam menyelesaikan disertasinya, J.R Mansoben mengumpulkan data pedukung dalam kurun waktu dua tahun, terhitung tahun 1988 hingga awal tahun 1990. Penjelasan J.R Mansoben sangat terang terkait sistem politik tradisional di Irian Jaya dalam menentukan pemimpinnya. Ada 4 sistem politik yakni sistem big man atau pria berwibawa, sistem kerajaan, sistem ondoafi dan sistem campuran. Diantara 4 sistem itu yang paling membekas di kepala saya tentu saja adalah sistem big man atau pria berwibawa.

Sistem pria berwibawa diterapkan oleh orang Dani, orang Asmat, orang Me, orang Meybrat, dan orang Muyu. Salah satu ciri terpenting dalam konsep pria berwibawa adalah sifat kewibawaan dan pencapaian seseorang. Maksudnya, seorang pria berwibawa dapat mencapai kedudukannya saat ia memiliki kewibawaan yang diperoleh karena kecakapan-kecakapannya dalam berbagai hal. Bila dibagi dalam dua garis besar, kecakapan yang harus dimiliki pria berwibawa meliputi kecakapan untuk memanipulasi orang-orang dengan jalan berdiplomasi sehingga ia mendapatkan banyak dukungan dan kecakapan mengumpulkan atau memanipulasi sumber-sumber daya untuk mencapai kepentingan sendiri. Berdasarkan hal ini maka seorang pria berwibawa harus memiliki bukti konkret dari kewibawaannya seperti citra bahwa ia merupakan seseorang yang memiliki kecakapan-kecakapan tertentu, misalnya pandai bertani, pandai berburu, pandai berdiplomasi, pantai berpidato, pandai memimpin upacara-upacara ritual, berani memimpin perang dan memiliki kekuatan magis. Selain itu, keberadaan atribut-atribut seperti kekayaan yang terlihat atau atribut yang dikenakan akan dilihat pula sebagai bukti konkret.

Bukti konkret. Atribut yang dikenakan. Kekayaan yang terlihat. Konsep pria berwibawa telah membawa satu tawaran kriteria pemimpin. Ia yang memiliki segudang kecakapan-kecakapan dengan bukti konkret, pria berwibawa. Tetapi sayangnya, itu kan versi orang Dani, orang Asmar, orang Me, orang Meybrat, dan orang Muyu. Lalu, kriteria kita (saya, kamu, kelompok-kelompok masyarakat di sekitarmu, kelompok anak muda di Indonesia, atau bangsa Indonesia dewasa ini) apa ya? Siapa ya bisa disebut pemimpin? Kenapa ia layak disebut pemimpin? Pemimpin yang seperti apa sih sebenarnya?

Satu lagi memori yang muncul dalam kepala saya ketika berbicara tentang pemimpin adalah keterkaitan erat dengan konsep lainnya, kepemimpinan. Bila saya hanya merujuk pada definisi KBBI, kepemimpinan adalah perihal pemimpin atau cara memimpin. Namun, jika saya mengingat kembali penjelasan konsep kepemimpinan milik McShane dan Von Glinow (2010), kepemimpinan dijelaskan sebagai kemampuan seseorang untuk memberikan pengaruh, motivasi, dan kemungkinan untuk berkontribusi pada efektivitas organisasi atau kelompok tempat mereka bernaung. Berdasarkan argumentasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin yang memiliki nilai-nilai kepemimpinan yang baik mampu memberikan pengaruh, motiviasi, dan berkontribusi pada kelompok yang ia pimpin sehingga menghasilkan kinerja yang efektif sehingga kelompok atau organisasi tersebut mampu mencapai target, tujuan maupun cita-cita yang diimpi-impikan.

Dulu saya ingat benar bahwa katanya, pemimpin itu harus memiliki aspek-aspek kepemimpinan yang baik. Mungkin aspek-aspek itu seperti yang dijelaskan McShane dan Von Glinow, atau mungkin bisa kembali berkaca pada sistem politik tradisional pria berwibawa di Irian Jaya. Di sistem politik tersebut bisa saja diasumsikan rumusan bahwa si Pria Berwibawa dengan semua kecakapannya turut memiliki aspek-aspek kepemimpinan yang baik. Tetapi, bisa saja tidak semuanya. Kenapa? Karena bagi saya tetap tidak terjawab, “Kenapa (berlomba-lomba) menjadi seorang pemimpin itu penting?”, “Sebenarnya pemimpin itu apa sih?”, “ Pemimpin menurut siapa?”, “Pemimpin untuk siapa?”. Dalam kepala saya jawaban untuk semua pertanyaan itu jadi kabur, abu-abu, relatif, dan semakin menaikan intensitas pertanyaan berawalan “kenapa” atau “mengapa”.

Lalu saya kembali membayangkan sebuah momentum. Di dalam suatu forum di sebuah ruangan, berkumpul anak-anak muda penuh dengan pengetahuan, gejolak semangat, optimisme, cita-cita untuk membawa perubahan atau sekadar bergerak, dan berjiwa pemimpin. Ya, mereka berjiwa pemimpin, merasa dirinya adalah seorang pemimpin. Bukan hanya di satu orang, tapi lebih dari satu, dua, tiga, setengahnya, atau mungkin lebih. Namun, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi masih kabur dan memantul-mantul di udara bebas. Walhasil di forum tersebut semuanya seperti memimpin. Mengarahkan diskusi sesuai dengan keinginannya, berlomba-lomba memperlihatkan kecakapan sekaligus kekeraskepalaannya, tidak ada yang mau mengalah karena merasa biar bagaimanapun dialah yang memimpin. Mungkin kamu pernah merasakannya, berada di dalam situasi seperti yang saya bayangkan. Bagaimana rasanya? Lalu bagaimana jika suatu saat nanti semua orang merasa dirinya pemimpin karena memang dibiasakan untuk berkompetisi sebagai pemimpin? Lalu siapa yang bersedia dipimpin?

 

Ps : Tulisan ini dibuat hanya untuk mengungkapkan pikiran saya. Awalnya tidak diniatkan menjadi serius karena hanya berisi uneg-uneg pikiran. Tidak juga bermaksud menyinggung satu, dua, tiga, empat pihak. Ini hanya tulisan iseng.

 

Bacaan:

McShane, S. L., and M. A. Y. Von Glinow. “Workplace emotions, attitudes, and stress.” Organizational Behavior 5. 2010.

Mansoben, Johszua Robert. Sistem politik tradisional di Irian Jaya, Indonesia: studi perbandingan. Diss. 1994.

Finally a Girl Is No One

P1120734

Sidang skripsi baru saja selesai saat seorang teman baik saya di kampus menyampirkan selendang kenang-kenangan kelulusan. Menariknya, selendang itu berbeda dari yang biasa diberikan orang lain untuk temannya yang baru saja jadi sarjana. Alih-alih bertuliskan nama si Sarjana Baru dengan embel-embel gelar yang diperoleh semisal S.Sos, S.T, S.Hum, S.H, dan sebagainya, teman saya ini memilih sebuah kalimat yang menurutnya akan saya suka, “Finally a Girl Is No One”. Dahi saya berkerut saat pertama kali melihat tulisan itu. Separuh dari diri saya merasa tergelitik saat membaca kalimat “Finally a Girl Is No One” karena yang terbayang di kepala adalah Arya Stark di serial Game of Thrones dengan wajah sengitnya. Namun, sebagian diri saya yang lain bertanya-tanya, kenapa kata-kata itu yang dipilih untuk saya?

Melihat ekspresi wajah saya yang mungkin tidak karuan, teman saya itu menjelaskan, “Karena lo sarjana Antropologi, jadi sebenernya lo udah akan selalu siap jadi ‘no one’. Nanti setiap kali penelitian lo bakal ‘live in’, ‘emerge’, sama kelompok masyarakat tempat lo neliti, and you’ll be ‘no one’ there, Nin. And I know, you ready for that”. Dan saya tertawa mendengar penjelasannya.

Jadi, “Finally a Girl Is No One?”

TAKOR

P1120773

Senja habis di tempat ini sementara saya masih menikmati setiap perbincangan dan tawa. Tempat ini adalah ruang terbuka dengan meja-kursi yang dirancang menyatu, terbuat dari kayu, besi, dan fiber karbon (?). Sekilas tidak istimewa, bahkan sebagian orang membencinya. Mereka bilang tempat ini jorok, membuat selera makan hilang, tidak nyaman sebagai kantin. Belum lagi kucing-kucing yang berseliweran, mengeong dengan rajin, dan teliti mengintai setiap piring makanan dari masing-masing orang. Lalu, semua itu diperparah dengan kepulan asap rokok yang seakan tidak ada habis-habisnya dihembuskan dari sela bibir puluhan orang disana. Jadi, tidak heran memang bila ada yang membenci tempat ini sampai-sampai mereka enggan makan, mampir, atau bahkan sekadar menginjakan kaki di sana. Sebuah kantin yang punya nama cukup unik, Takor, singkatan dari Taman Korea.

Perihal nama, jangan buru-buru bertanya dengan pertanyaan semacam “Banyak ya orang Korea disana?”, atau “Oh kantinnya bernuansa Korea ya?”, atau “Ada makanan Korea di situ?”. Mulailah dari pertanyaan “Kenapa namanya Taman Korea?”. Jawabannya sederhana, karena kantin ini dahulu dibangun atas sponsor sebuah perusahaan dari Korea Selatan dan semenjak itu mahasiswa-mahasiswa di FISIP menamainya Taman Korea, ringkasnya Takor. Sedikit tambahan informasi, nama perusahaan Korea Selatan yang mensponsori pembangunan juga masih terabadikan sebagai nama salah satu ruangan di lantai dua kantin ini, Yongma.

P1120781

P1120783

Takor bagi saya bukan sekadar kantin tempat saya menuntaskan lapar dan dahaga atau mengunyah bekal makanan yang terkadang dibawa dari rumah. Di tempat ini saya mengerjakan tugas kuliah baik tugas individual maupun berkelompok. Di tempat ini dahulu saya terbiasa mengerjakan pekerjaan saya seorang diri saat masih menjadi pekerja lepas. Di tempat ini saya bercengkrama, bercanda, berbincang santai, hingga berdiskusi serius dengan teman-teman saya hingga larut malam. Di tempat ini pula saya menemukan banyak teman baru selama masa perkuliahan. Takor bagi saya begitu kompleks, tapi juga begitu sederhana, sesederhana anggapan saya bahwa kantin ini serasa rumah kedua.

Selasa, 20 Juni 2017. Hari ini adalah salah satu hari paling bersejarah dalam hidup saya. Di sore yang sedikit mendung ini, saya dinyatakan lulus sidang karya tulis ilmiah akhir, skripsi. Saya senang, tentu saja, tapi bukan perasaan senang yang meluap-luap, hanya senang saja, karena satu tahapan di dalam hidup bisa saya lewati dengan cukup baik. Walaupun perasaan senang yang saya rasakan tidak meluap-luap namun itu justru lebih menyenangkan karena terasa nyaman dan tidak terlalu emosional. Singkat cerita, seusai sidang skripsi hanya ada satu tempat yang ingin saya tuju, Takor. Rasanya saya sudah tidak sabar untuk menyesap segelas minuman dingin dari Mang Ari atau Bu Cil, dua orang pedagang minuman di Takor, dan berbincang diantara riuh tawa dan asap tembakau.

Mungkin kamu merasa aneh dengan tulisan ini. Lama saya tidak menulis apa-apa di laman blog ini lalu tahu-tahu kembali muncul hanya dengan membicarakan hal yang membingungkan seperti Takor si Kantin FISIP. Tidak apa, kamu toh tidak perlu benar-benar mengerti bila tulisan ini memang hakikatnya saya paksakan agar saya dapat menulis lagi. Sudah lama rasanya kemampuan menulis saya sekarat dan nyaris mati. Jadi, mungkin ini waktunya untuk menuliskan apa saja yang terpikir dan ingin ditulis walau tidak akan banyak yang mengerti.

P1120777

Salah satu sudut paling khas di Takor untuk mahasiswa dan alumni Antropologi, Meja Bunder.