Tentang Armadina

Lebih senang dipanggil Nina. Anak muda yang suka bercerita tentang apa saja. Sedang keranjingan mondar-mandir Fashion Show, bukan sebagai model tentunya, hanya seorang pemberita dari portal online. Mencintai semua proses pembelajaran karena hidup adalah sebuah proses menuju kematian. Sangat menyukai fashion dan segala atributnya, tapi sama sekali bukan manusia stylish yang fashionista. Just be Me, be my self. Rajin foto-foto disini situ tempat fashion show :D

Ketika Semua Orang Adalah Pemimpin, Siapa yang Bersedia Dipimpin? Sebuah Refleksi Diri Tentang “Pemimpin”

Sepeda motor saya pacu dengan santai sepanjang Jalan Antasari, Jakarta Selatan. Di bawah jalan layang yang dihiasi lampu beraneka warna, biasanya perjalanan ini akan terasa menyenangkan. Malam yang syahdu, jalanan sepi, dan cahaya warna-warni, rasanya saya tidak perlu meminta lebih dari suasana malam ini. Namun, ada yang sedikit mengganjal pikiran ketika mengingat beberapa jam waktu kebelakang sebelum saya melintasi jalan ini. Beberapa jam lalu saya masih berada di dalam sebuah ruangan bersama beberapa teman. Mereka masih muda, seusia dengan saya, dan sukses di bidangnya masing-masing. Bersama-sama mereka di ruangan itu, obrolan silih berganti, namun ada satu topik yang terperangkap dan tidak mau lepas dari rongga kepala saya. Topik mengenai pemimpin yang kemudian punya turunan “menjadi pemimpin masa depan”, “mempersiapkan pemimpin masa depan”, “generasi muda sebagai pemimpin masa depan yang membawa perubahan” dan narasi-narasi serupa itu.

Diantara perbincangan bertopik pemimpin dan segala turunannya itu, saya sempat menyeletuk “Kalau gue nggak mau jadi pemimpin gimana?”. Seorang teman laki-laki di samping saya segera menoleh ke arah saya, begitu pula wajah-wajah lainnya. Sementara orang yang jadi pusat perhatian hanyacengar-cengir sarkastik. Sebenarnya saya tidak berniat memunculkan sinisme terhadap topik tersebut, hanya saja, mungkin saya yang terlalu gemar menjadi oposisi untuk beberapa hal. Salah satunya tentang topik semacam ini. Hal ini mungkin terjadi karena setiap kali topik “pemimpin” atau “kepemimpinan” muncul, kepala saya langsung penuh dengan kegiatan-kegiatan pelatihan kepemimpinan, narasi-narasi di berbagai media tentang menjadi seorang pemimpin, hingga beasiswa-beasiswa yang jelas-jelas memuat kalimat “untuk pemimpin muda”, “kepemimpinan” dan sebagainya, dan sebagainya. Sampai-sampai kadang saya merasa bahwa kita, terutama anak muda, dituntut untuk berlomba-lomba menjadi atau mendapatkan posisi sebagai pemimpin. Positif memang, saya akui, karena dalam diri saya pun masih begitu kuat doktrin “Setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri”. Ya, saya setuju, setiap manusia memang dilahirnya sebagai pemimpin, setidaknya mereka sudah pasti menjadi pemimpin atas dirinya sendiri. Namun, saya ingin coba sedikit melepaskan doktrin itu karena saya tidak ingin berbicara tentang topik ini di level individu.

Sepanjang perjalanan pulang menyusuri Jalan Antasari hingga wilayah Jakarta Timur yang berbatasan dengan Bogor isi kepala saya begitu riuh. Rasanya seperti ada ratusan makhluk kecil yang sibuk membongkar tumpukan ingatan tentang satu kata itu, pemimpin. Saya bingung, “Kenapa (berlomba-lomba) menjadi seorang pemimpin itu penting?” Kebingungan saya lantas semakin menjadi-jadi ketika pertanyaan lanjutan muncul, “Sebenarnya pemimpin itu apa sih? Pemimpin menurut siapa? Pemimpin untuk siapa?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa ingatan saya pada salah satu mata kuliah yang pernah saya ikuti. Di mata kuliah itu saya diharuskan untuk membaca sebuah disertasi untuk memperoleh gelar Ph.D Rijksuniversiteit Leiden milik Johszua Robert Mansoben bertajuk “Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya”. Dalam menyelesaikan disertasinya, J.R Mansoben mengumpulkan data pedukung dalam kurun waktu dua tahun, terhitung tahun 1988 hingga awal tahun 1990. Penjelasan J.R Mansoben sangat terang terkait sistem politik tradisional di Irian Jaya dalam menentukan pemimpinnya. Ada 4 sistem politik yakni sistem big man atau pria berwibawa, sistem kerajaan, sistem ondoafi dan sistem campuran. Diantara 4 sistem itu yang paling membekas di kepala saya tentu saja adalah sistem big man atau pria berwibawa.

Sistem pria berwibawa diterapkan oleh orang Dani, orang Asmat, orang Me, orang Meybrat, dan orang Muyu. Salah satu ciri terpenting dalam konsep pria berwibawa adalah sifat kewibawaan dan pencapaian seseorang. Maksudnya, seorang pria berwibawa dapat mencapai kedudukannya saat ia memiliki kewibawaan yang diperoleh karena kecakapan-kecakapannya dalam berbagai hal. Bila dibagi dalam dua garis besar, kecakapan yang harus dimiliki pria berwibawa meliputi kecakapan untuk memanipulasi orang-orang dengan jalan berdiplomasi sehingga ia mendapatkan banyak dukungan dan kecakapan mengumpulkan atau memanipulasi sumber-sumber daya untuk mencapai kepentingan sendiri. Berdasarkan hal ini maka seorang pria berwibawa harus memiliki bukti konkret dari kewibawaannya seperti citra bahwa ia merupakan seseorang yang memiliki kecakapan-kecakapan tertentu, misalnya pandai bertani, pandai berburu, pandai berdiplomasi, pantai berpidato, pandai memimpin upacara-upacara ritual, berani memimpin perang dan memiliki kekuatan magis. Selain itu, keberadaan atribut-atribut seperti kekayaan yang terlihat atau atribut yang dikenakan akan dilihat pula sebagai bukti konkret.

Bukti konkret. Atribut yang dikenakan. Kekayaan yang terlihat. Konsep pria berwibawa telah membawa satu tawaran kriteria pemimpin. Ia yang memiliki segudang kecakapan-kecakapan dengan bukti konkret, pria berwibawa. Tetapi sayangnya, itu kan versi orang Dani, orang Asmar, orang Me, orang Meybrat, dan orang Muyu. Lalu, kriteria kita (saya, kamu, kelompok-kelompok masyarakat di sekitarmu, kelompok anak muda di Indonesia, atau bangsa Indonesia dewasa ini) apa ya? Siapa ya bisa disebut pemimpin? Kenapa ia layak disebut pemimpin? Pemimpin yang seperti apa sih sebenarnya?

Satu lagi memori yang muncul dalam kepala saya ketika berbicara tentang pemimpin adalah keterkaitan erat dengan konsep lainnya, kepemimpinan. Bila saya hanya merujuk pada definisi KBBI, kepemimpinan adalah perihal pemimpin atau cara memimpin. Namun, jika saya mengingat kembali penjelasan konsep kepemimpinan milik McShane dan Von Glinow (2010), kepemimpinan dijelaskan sebagai kemampuan seseorang untuk memberikan pengaruh, motivasi, dan kemungkinan untuk berkontribusi pada efektivitas organisasi atau kelompok tempat mereka bernaung. Berdasarkan argumentasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin yang memiliki nilai-nilai kepemimpinan yang baik mampu memberikan pengaruh, motiviasi, dan berkontribusi pada kelompok yang ia pimpin sehingga menghasilkan kinerja yang efektif sehingga kelompok atau organisasi tersebut mampu mencapai target, tujuan maupun cita-cita yang diimpi-impikan.

Dulu saya ingat benar bahwa katanya, pemimpin itu harus memiliki aspek-aspek kepemimpinan yang baik. Mungkin aspek-aspek itu seperti yang dijelaskan McShane dan Von Glinow, atau mungkin bisa kembali berkaca pada sistem politik tradisional pria berwibawa di Irian Jaya. Di sistem politik tersebut bisa saja diasumsikan rumusan bahwa si Pria Berwibawa dengan semua kecakapannya turut memiliki aspek-aspek kepemimpinan yang baik. Tetapi, bisa saja tidak semuanya. Kenapa? Karena bagi saya tetap tidak terjawab, “Kenapa (berlomba-lomba) menjadi seorang pemimpin itu penting?”, “Sebenarnya pemimpin itu apa sih?”, “ Pemimpin menurut siapa?”, “Pemimpin untuk siapa?”. Dalam kepala saya jawaban untuk semua pertanyaan itu jadi kabur, abu-abu, relatif, dan semakin menaikan intensitas pertanyaan berawalan “kenapa” atau “mengapa”.

Lalu saya kembali membayangkan sebuah momentum. Di dalam suatu forum di sebuah ruangan, berkumpul anak-anak muda penuh dengan pengetahuan, gejolak semangat, optimisme, cita-cita untuk membawa perubahan atau sekadar bergerak, dan berjiwa pemimpin. Ya, mereka berjiwa pemimpin, merasa dirinya adalah seorang pemimpin. Bukan hanya di satu orang, tapi lebih dari satu, dua, tiga, setengahnya, atau mungkin lebih. Namun, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi masih kabur dan memantul-mantul di udara bebas. Walhasil di forum tersebut semuanya seperti memimpin. Mengarahkan diskusi sesuai dengan keinginannya, berlomba-lomba memperlihatkan kecakapan sekaligus kekeraskepalaannya, tidak ada yang mau mengalah karena merasa biar bagaimanapun dialah yang memimpin. Mungkin kamu pernah merasakannya, berada di dalam situasi seperti yang saya bayangkan. Bagaimana rasanya? Lalu bagaimana jika suatu saat nanti semua orang merasa dirinya pemimpin karena memang dibiasakan untuk berkompetisi sebagai pemimpin? Lalu siapa yang bersedia dipimpin?

 

Ps : Tulisan ini dibuat hanya untuk mengungkapkan pikiran saya. Awalnya tidak diniatkan menjadi serius karena hanya berisi uneg-uneg pikiran. Tidak juga bermaksud menyinggung satu, dua, tiga, empat pihak. Ini hanya tulisan iseng.

 

Bacaan:

McShane, S. L., and M. A. Y. Von Glinow. “Workplace emotions, attitudes, and stress.” Organizational Behavior 5. 2010.

Mansoben, Johszua Robert. Sistem politik tradisional di Irian Jaya, Indonesia: studi perbandingan. Diss. 1994.

Finally a Girl Is No One

P1120734

Sidang skripsi baru saja selesai saat seorang teman baik saya di kampus menyampirkan selendang kenang-kenangan kelulusan. Menariknya, selendang itu berbeda dari yang biasa diberikan orang lain untuk temannya yang baru saja jadi sarjana. Alih-alih bertuliskan nama si Sarjana Baru dengan embel-embel gelar yang diperoleh semisal S.Sos, S.T, S.Hum, S.H, dan sebagainya, teman saya ini memilih sebuah kalimat yang menurutnya akan saya suka, “Finally a Girl Is No One”. Dahi saya berkerut saat pertama kali melihat tulisan itu. Separuh dari diri saya merasa tergelitik saat membaca kalimat “Finally a Girl Is No One” karena yang terbayang di kepala adalah Arya Stark di serial Game of Thrones dengan wajah sengitnya. Namun, sebagian diri saya yang lain bertanya-tanya, kenapa kata-kata itu yang dipilih untuk saya?

Melihat ekspresi wajah saya yang mungkin tidak karuan, teman saya itu menjelaskan, “Karena lo sarjana Antropologi, jadi sebenernya lo udah akan selalu siap jadi ‘no one’. Nanti setiap kali penelitian lo bakal ‘live in’, ‘emerge’, sama kelompok masyarakat tempat lo neliti, and you’ll be ‘no one’ there, Nin. And I know, you ready for that”. Dan saya tertawa mendengar penjelasannya.

Jadi, “Finally a Girl Is No One?”

TAKOR

P1120773

Senja habis di tempat ini sementara saya masih menikmati setiap perbincangan dan tawa. Tempat ini adalah ruang terbuka dengan meja-kursi yang dirancang menyatu, terbuat dari kayu, besi, dan fiber karbon (?). Sekilas tidak istimewa, bahkan sebagian orang membencinya. Mereka bilang tempat ini jorok, membuat selera makan hilang, tidak nyaman sebagai kantin. Belum lagi kucing-kucing yang berseliweran, mengeong dengan rajin, dan teliti mengintai setiap piring makanan dari masing-masing orang. Lalu, semua itu diperparah dengan kepulan asap rokok yang seakan tidak ada habis-habisnya dihembuskan dari sela bibir puluhan orang disana. Jadi, tidak heran memang bila ada yang membenci tempat ini sampai-sampai mereka enggan makan, mampir, atau bahkan sekadar menginjakan kaki di sana. Sebuah kantin yang punya nama cukup unik, Takor, singkatan dari Taman Korea.

Perihal nama, jangan buru-buru bertanya dengan pertanyaan semacam “Banyak ya orang Korea disana?”, atau “Oh kantinnya bernuansa Korea ya?”, atau “Ada makanan Korea di situ?”. Mulailah dari pertanyaan “Kenapa namanya Taman Korea?”. Jawabannya sederhana, karena kantin ini dahulu dibangun atas sponsor sebuah perusahaan dari Korea Selatan dan semenjak itu mahasiswa-mahasiswa di FISIP menamainya Taman Korea, ringkasnya Takor. Sedikit tambahan informasi, nama perusahaan Korea Selatan yang mensponsori pembangunan juga masih terabadikan sebagai nama salah satu ruangan di lantai dua kantin ini, Yongma.

P1120781

P1120783

Takor bagi saya bukan sekadar kantin tempat saya menuntaskan lapar dan dahaga atau mengunyah bekal makanan yang terkadang dibawa dari rumah. Di tempat ini saya mengerjakan tugas kuliah baik tugas individual maupun berkelompok. Di tempat ini dahulu saya terbiasa mengerjakan pekerjaan saya seorang diri saat masih menjadi pekerja lepas. Di tempat ini saya bercengkrama, bercanda, berbincang santai, hingga berdiskusi serius dengan teman-teman saya hingga larut malam. Di tempat ini pula saya menemukan banyak teman baru selama masa perkuliahan. Takor bagi saya begitu kompleks, tapi juga begitu sederhana, sesederhana anggapan saya bahwa kantin ini serasa rumah kedua.

Selasa, 20 Juni 2017. Hari ini adalah salah satu hari paling bersejarah dalam hidup saya. Di sore yang sedikit mendung ini, saya dinyatakan lulus sidang karya tulis ilmiah akhir, skripsi. Saya senang, tentu saja, tapi bukan perasaan senang yang meluap-luap, hanya senang saja, karena satu tahapan di dalam hidup bisa saya lewati dengan cukup baik. Walaupun perasaan senang yang saya rasakan tidak meluap-luap namun itu justru lebih menyenangkan karena terasa nyaman dan tidak terlalu emosional. Singkat cerita, seusai sidang skripsi hanya ada satu tempat yang ingin saya tuju, Takor. Rasanya saya sudah tidak sabar untuk menyesap segelas minuman dingin dari Mang Ari atau Bu Cil, dua orang pedagang minuman di Takor, dan berbincang diantara riuh tawa dan asap tembakau.

Mungkin kamu merasa aneh dengan tulisan ini. Lama saya tidak menulis apa-apa di laman blog ini lalu tahu-tahu kembali muncul hanya dengan membicarakan hal yang membingungkan seperti Takor si Kantin FISIP. Tidak apa, kamu toh tidak perlu benar-benar mengerti bila tulisan ini memang hakikatnya saya paksakan agar saya dapat menulis lagi. Sudah lama rasanya kemampuan menulis saya sekarat dan nyaris mati. Jadi, mungkin ini waktunya untuk menuliskan apa saja yang terpikir dan ingin ditulis walau tidak akan banyak yang mengerti.

P1120777

Salah satu sudut paling khas di Takor untuk mahasiswa dan alumni Antropologi, Meja Bunder.

Setelah Lima Tahun Berlalu

IMG-20160104-WA0002

Lima tahun lalu di pertengahan tahun seperti sekarang saya pertama kali bertemu dengannya. Saat itu saya masih berusia enambelas tahun, dan dia juga. Malam itu saya menemuinya di belakang panggung usai sebuah acara. Ia mengenakan gaun terusan berwarna merah muda dengan rambut terkepang rapi. Perkenalan kami singkat, hanya bertukar nama, berbincang sebentar, lalu berpisah begitu saya meminta nomor telepon genggamnya yang sampai hari ini tidak pernah berubah. Hari-hari berlalu, waktu berganti, tidak ada yang berbeda, saya tidak pernah lagi mendengar kabarnya, tidak juga mencoba menghubunginya setelah perkenalan pertama kami, tapi hidup siapa yang tahu? Singkat cerita, kami kembali bertemu, lalu saling bertukar cerita, menghadiri beberapa acara peragaan busana saat saya masih begitu aktif wara-wiri di “balik runway” dan acara yang diselenggarakan salah satu majalah remaja terkemuka saat saya ‘kebetulan’ mengisi acara disana.

Lima tahun berlalu dan hingga saat ini gadis remaja bergaun merah muda dengan rambut terkepang rapi yang saya temui lima tahun lalu itu menjadi teman baik saya, atau lebih tepatnya teman gila saya, istilah yang kami ciptakan berdua. Ada banyak kenangan terhadap waktu-waktu yang telah lalu. Ada banyak kenangan akan pertemanan gila saya dan dia yang selalu absurd. Kami sering tertawa terbahak-bahak berdua tanpa sebab yang jelas. Kami kadang membicarakan hal-hal paling filosofis, tapi lebih sering berseloroh akan hal-hal yang konyol dan tidak ada artinya sama sekali. Pada waktu-waktu tertentu kami membicarakan mimpi, berbagi rencana yang begitu ingin dijadikan nyata, dan pada saat lainnya kami pusing sendiri dengan urusan hati yang kadang lebih rumit daripada teka-teki silang diseluruh dunia.

Kamu tahu? Ada begitu banyak hal yang terjadi setelah lima tahun berlalu. Ada banyak hal dari saya yang berubah, dan dia pun juga. Saya yakin sedikit banyak dia menyadari perubahan itu, karena saya pun begitu. Dia berbeda, mulai dari hal-hal sederhana seperti semua mata yang memandang ke arahnya saat kami berdua di keramaian atau orang-orang yang menghampirinya untuk menyapa seakan bertemu kenalan lama, atau mereka yang sering mencuri waktu untuk berfoto bersama. Semua hal sederhana itu kadang terasa lucu bagi saya, rasanya seperti semua orang mengenalinya saat ini, atau memang begitu ya?

Siang ini saya membawakan sebuah kue tart rasa moka dengan lilin berbentuk angka 2 dan 1. Berdua dengan salah seorang “teman baiknya” saya mengendap-endap, menyalakan lilin dan berjalan perlahan. Dalam setiap langkah menuju ruangan tempat dia berada ingatan saya berputar tentang dirinya. Seperti roll film rusak yang secara acak memutar semua hal yang bisa saya ingat tentang dia.

IMG-20160104-WA0001Dia adalah salah satu orang paling menyebalkan dan absurd yang pernah saya kenal. Dia bisa menjadi orang paling bawel dan rewel dalam satu waktu. Dia bisa merajuk seperti anak kecil hanya untuk meminta saya menemaninya. Dia bisa berbicara dan bermain peran yang tidak jelas juntrungannya sampai saya bosan melihat dan mendengarkan. Dia bisa dengan konyolnya menirukan suara kuda di kamar mandi dan menimbulkan kegaduhan. Dia bisa dengan bodohnya memberikan kado sesuatu yang dapat dikenakan tanpa menanyakan ukurannya sampai-sampai saya harus memintanya membawa pulang kado itu lagi. Dia bisa menelepon saya dari tengah malam sampai pagi dan tidak ingin ditinggal tidur sendirian. Dia bisa berulang-ulang kali meminta maaf seperti anak kecil saat saya marah padanya. Dia bisa membuat saya kesal setengah mati, tertawa terpingkal-pingkal dan luluh seketika.

Kamu tahu? Dia salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan tambah satu lagi, keras kepala yang saya pernah saya kenal. Tapi, kamu tahu? Sebenarnya saya pun begitu, mungkin baginya saya juga salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan keras kepala yang pernah dia kenal, oh ya, tambah satu lagi juga, saya galak, mungkin sering kelewat galak dan sinis kepadanya, untuk hal-hal tertentu, tentu saja. Tapi tetap saja dia mungkin salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan keras kepala yang pernah saya kenal, namun diam-diam saya mengaguminya. Dia punya hati yang begitu lembut. Dia punya kemauan yang sangat kuat. Dia punya prinsip hidup dan terus mempertahankannya sepenuh hati. Dia cerdas. Dia sangat menghargai orang-orang disekitarnya. Dia sangat menyayangi teman-temannya. Ya saya tahu itu.

Saya mungkin bukan teman yang baik untuk dia. Pertemanan kita tidak pernah selalu baik-baik saja. Pertemanan kita tidak pernah sempurna, tidak akan pernah. Tapi bukan itu intinya, karena yang terpenting bagi saya, dan semoga saja juga bagi dia, kami selalu mencoba saling berkompromi, memahami segala kekurangan. Saling jujur dan mengingatkan, bila salah katakan salah dengan berbesar hati, dan menerimanya dengan berbesar hati pula. Itu yang selalu kami coba untuk lakukan. Berteman dengan jujur tanpa memandang siapa saya dan siapa dia. Berteman dengan apa adanya, dan dengan gila, karena kami Teman Gila, tentu saja!

Selamat mengulang hari pertama di Bumi, Teman Gila!

 

 

 

Cirebon, Benda Kerep, dan Perjalanan Tanpa Persiapan

P1060557

Terik sekali. Pikiran itu yang pertama kali mampir di kepala saya begitu menginjakan kaki di Kota Cirebon. Sebelumnya saya memang pernah singgah di Cirebon, kurang lebih dua tahun lalu, tapi hanya sebentar saja, kurang dari tiga jam hingga saya lupa bagaimana teriknya sinar matahari di kota ini. Rasanya matahari di Cirebon lebih bersemangat memancarkan sinarnya dibanding Jakarta. Mungkin karena letak Cirebon yang termasuk di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Pikiran tentang teriknya Cirebon diamini pula oleh teman-teman saya. Ya, saya tidak sendirian tiba di kota ini, ada sekitar 26 orang lainnya selain saya. Mereka semua adalah teman satu angkatan saya di program studi Antropologi Sosial Universitas Indonesia.

Diantara teman-teman yang lain, motif bertandang ke Cirebon saya adalah yang paling berbeda. Mereka memiliki tujuan yang jelas, melakukan persiapan penelitian, atau istilahnya preliminary research untuk salah satu mata kuliah yang mengharuskan penelitian lapangan. Sementara saya? Saya hanya ikut-ikutan karena hanya sekadar ingin jalan-jalan. Mengesalkan ya? Setidaknya bagi teman-teman saya, yang lainnya serius memutar otak melakukan pengamatan, dan saya jadi serasa turis. Jangan tanyakan dulu kenapa saya tidak menjadi bagian dari ekspedisi Cirebon ini meskipun saya satu angkata dengan mereka. Dilain waktu mungkin saya akan menceritakannya, tetapi tidak sekarang. Walhasil, karena yang ada di alam pikiran saya bukan untuk persiapan penelitian, saya datang ke Cirebon dengan “otak kosong”. Jangankan studi pustaka terlebih dahulu, membaca berita ringan yang bertebaran di dunia maya saja tidak, tapi mungkin disitu menariknya. Dengan kepala yang “kosong” ini saya melihat dan mengamati berbagai hal di Cirebon dengan penuh ketakjuban. Ada hal-hal yang jadi begitu menarik karena efek keterkejutan akibat ketidaktahuan saya terhadap ini itu di Cirebon. Salah satunya adalah tentang Kampung Benda Kerep.

Kampung Benda Kerep terletak dipinggiran Kota Cirebon. Dari perkiraan jarak yang saya kira-kira sendiri dengan penuh ke-sok-tahuan, sebenarnya letaknya tidak terlampau jauh, perbandingannya tidak sampai Jakarta-Bogor. Dua minggu sebelum keberangkatan ke Cirebon, sebenarnya salah satu dosen saya telah memberikan gambaran umum tentang Benda Kerep. Katanya, kampung ini menolak segala bentuk modernisasi, bahkan untuk listrik apalagi laptop. Namun, fakta lapangan ternyata tidak sampai sebegitunya. Benda Kerep telah dialiri listrik sejak tahun 1987 meskipun awalnya sempat mendapatkan gelombang kontra dari para ToMas alias Tokoh Masyarakat. Menurut informan rombongan kami, keberadaan laptop pun sebenarnya tidak dipermasalahkan, hanya saja, masyarakat disana memang hanya satu orang yang sudah mampu memilikinya. Saya maklum kenapa dosen saya keliru memberikan informasi. Namanya juga manusia yang mungkin saja bisa salah dan lupa. Atau bisa saja memang informan dosen saya yang keliru memberikan informasi. Tidak apa, yang penting faktanya sudah terungkap, kan?

Konon, berdasarkan hasil tabulasi membaca kilat di laman-laman berita dunia maya, Benda Kerep ini didirikan oleh seseorang bernama Kyai Sholeh sekitar 300 tahun lalu. Untuk mencapai Benda Kerep, saya dan teman-teman saya harus menerapkan prinsip “going native”, alias “menjadi seperti penduduk asli” alias menerapkan cara-cara keseharian penduduk Benda Kerep, salah satunya adalah menutup aurat yang berlaku menurut hukum syariat Islam. Rombongan kami yang perempuan, termasuk saya mendadak berhijab semua, sementara salah satu teman laki-laki saya yang mengenakan celana pendek langsung melilitkan kain sarung yang ia bawa dari rumah. Kurangnya hanya satu, sebagian besar rombongan perempuan tidak mengenakan kain atau rok panjang sebagai bawahan karena tidak tahu bahwa ternyata penggunaan celana bagi perempuan ternyata sangat dilarang. Untungnya masyarakat Benda Kerep, termasuk informan rombongan, ternyata sudah sangat memaklumi kelakuan tetamu yang datang.

P1060559

P1060560

P1060567

Selain penerapan “going native” perjalanan mencapai Benda Kerep juga sangat mengesankan. Rombongan kami sempat nyasar beberapa kali hingga aksi putar memutar arah mobil merupakan hal yang lumrah. Benda Kerep yang terletak di seberang aliran sungai yang cukup deras juga menjadi tantangan tersendiri karena tidak ada jembatan! Ya, benar sekali, kamu tidak salah baca. Tidak ada jembatan menuju Benda Kerep. Tidak perlu memekik kata “WOW!” karena ketiadaan jembatan bukan berarti kami harus berenang atau main basah-basahan menerabas sungai, yang kami harus lakukan lebih mudah daripada itu, kami hanya perlu melangkahkan kaki dengan lincah diatas batu-batu pijakan yang tersusun rapi membelah arus. Beruntunglah rombongan kami karena meski rintik hujan sudah membasahi tanah, tapi air sungai belum menampakan tanda-tanda akan meluap.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya begitu melangkahkan kaki di Kampung Benda Kerep. Laki-laki disana hampir semuanya mengenakan kain seperti sarung, gamis, dan peci tinggi yang kemudian saya ketahui dinamakan “Peci Sufi” atau “Peci Sombong” oleh masyarakat sekitar. Kenapa “Peci Sufi”? Saya menduga karena bentuknya mirip peci-peci yang dikenakan penari-penari sufi, tapi kenapa dinamakan “Peci Sombong”? Nah untuk yang ini informan saya mengatakan dengan bangga “Karena kalau sudah pakai peci ini jadi terlihat gagah, jadi seperti sombong”. Sedangkan para perempuan Benda Kerep dalam kesehariannya mengenakan kain batik untuk bawaha, atasan seperti blus lengan panjang, dan tentunya hijab, walau ternyata bukan hijab “syar’i” seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Benda Kerep juga dikenal sebagai “Kampung Santri” karena keberadaan pesantren-pesantren disana, jumlah Kyai-nya pun ternyata cukup banyak hingga informan rombongan beberapa kali menanyakan “Dulu dosen kalian kontak-kontakan dengan Kyai yang mana (siapa)?”.

Selama kurang lebih dua jam kami berada di Benda Kerep, teman-teman saya menanyakan hal ini itu, sementara saya lebih banyak diam, dan sesekali mencicipi dodol mangga gedong yang disajikan tuan rumah serta menyeruput sirup koko pandan dingin yang cukup menyegarkan. Sambil menikmati dodol dan meneguk sirup, saya memperhatikan proses tanya-jawab yang dilakukan teman-teman saya. Menarik. Ada banyak informasi yang saya ketahui tentang masyarakat Benda Kerep. Mereka yang ketakutan setengah mati dengan orang-orang Dinas Kesehatan yang terlibat dalam PIN (Pekan Imunisasi Nasional) sampai-sampai rombongan kami dikira “orang PIN” dan ketika kami berjalan menyusuri kampung, anak-anak disana teriak “Polio Polio Polio!!!” sambil menunjuk kami lalu berlari ke dalam rumah. Mereka yang akhirnya membolehkan masuknya listrik, beberapa alat elektronik termasuk handphone, tetapi sama sekali menentang adanya televisi dan radio. Mereka yang mayoritas menerapkan sistem pernikahan endogami. Mereka yang masih sangat menerapkan nilai-nilai Islam sehingga dilarang keras untuk berpacaran. Dan mereka, maaf ralat, tepatnya teman-teman saya dan informan rombongan yang jadi mencandai salah satu teman perempuan saya dan menggodanya habis-habisan agar “berjodoh” dengan anak laki-laki sulung informan rombongan. Sayangnya keseruan acara tanya-jawab harus selesai karena senja semakin jauh. Sebelum adzan magrib berkumandang kami bergegas meninggalkan Benda Kerep.

P1060589

 

P1060590

P1060592

Malamnya perjalanan kami lanjutkan dengan berkeliling Kota Cirebon, targetnya kali ini adalah pelabuhan batu bara Kota Cirebon dan titik-titik prostitusi. Pelabuhan batu bara Kota Cirebon tidak terlalu jauh dari kota, setibanya disana kami berhasil mengelilingi Zona A setelah dua orang teman saya melakukan negosiasi yang cukup alot dengan petugas keamanan. Di pelabuhan satu-satunya hal yang menarik perhatian saya adalah kapal-kapal besar yang bersandar ke Dermaga, ketika malam mereka terlihat indah, setidaknya bagi saya. Berlanjut ke titik-titik prostitusi, titik-titik ini berada di jalan-jalan yang saya lupa namanya, tapi saya ingat ada truk-truk besar disana. Malam itu tidak terlalu banyak pekerja seks yang saya lihat menunggu pelanggan, hanya beberapa saja yang ada dipinggir jalan, diatas becak, berdiri di sela-sela deretan truk, dan diatas motor. Dua kali rombongan kami memutari ruas jalan itu sebelum berakhir di alun-alun Kota Cirebon dan menikmati segelas kopi atau coklat panas.

Keesokan harinya perjalanan saya di Kota Cirebon harus berakhir. Sejak awal saya memang memutuskan untuk berpisah lebih awal dengan rombongan karena harus mengejar sebuah acara diskusi di Jakarta yang berlangsung jam satu siang. Setengah jam sebelum keberangkatan kereta saya sudah mendaratkan kaki di stasiun dan sempat-sempatnya menyantap empal gentong di depan stasiun. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta saya mengingat-ingat semua rangkaian perjalanan ke Cirebon yang terkesan impulsif karena hanya ingin jalan-jalan saja. Saya menganggap perjalanan ini tanpa persiapan. Seperti yang saya ceritakan diawal, saya tidak sempat membaca apapun tentang medan di Cirebon, tapi saya sangat senang karena saya mendapat pengalaman-pengalaman menarik selama di kota yang panas ini. Hanya satu saja yang masih mengganjal hati saya. Saya teringat Bapak, dosen, sekaligus pembimbing akademik yang sudah saya anggap seperti Ayah sendiri. Beliau tidak menepati janjinya untuk pergi bersama kami, padahal kami sudah berangan-angan untuk menikmati empal gentong dan tahu gejrot bersama. Bapak pergi lebih dulu, bukan ke Cirebon, tapi pergi ke alam lain yang selalu jadi misteri, kematian.Bapak pergi menghadap Yang Maha Segalanya dua minggu sebelum keberangkatan kami.

P1060595

P1060579

Memapas Sial

Saya adalah salah satu orang yang gandrung dengan pengetahuan seputar kepercayaan-kepercayaan lokal seperti mite dan pamali yang menjadi bagian dari folklor. Memang tidak selalu saya percayai secara utuh, tapi saya senang mengetahui, membicarakan, bahkan menjadikannya lelucon meski tidak selalu dipraktikan. Seperti halnya potong rambut. Saya sering berkelakar ketika saya memapas rambut berarti saya sedang membuang sial.

Kaizen Setiabudi One

Kaizen Setiabudi One

Saya bukan tipe orang yang terlalu merawat penampilan. Menjaga penampilan prima seperti mereka yang sering tampil di layar kaca. Aktivitas perawatan diri yang saya lakukan hanya mandi (kalau bisa) dua kali sehari dan keramas (kalau bisa) dua hari sekali. Selebihnya? Ah, bisa dihitung jari berapa kali saya menjejakan kaki di salon untuk melakukan perawatan rambut seumur hidup saya yang sudah kepala dua. Tapi, saya punya jadwal unik dalam urusan potong memotong rambut. Saya hanya memotongnya setahun dua kali, sampai-sampai salon rumahan langganan saya hapal benar jadwal itu. Sayangnya, pada dua tahun belakangan saya mengingkari jadwal rutin saya. Jadwal potong rambut berubah jadi semaunya, tergantung kenyamanan saya pada rambut yang terus bertumbuh, dan satu lagi, tergantung perasaan saya akan “kesialan” yang menggelayut.

Sebenarnya saya kurang setuju, atau lebih tepatnya kurang sreg dengan penggunaan rasa sial, tapi kadang kata sial terdengar lebih pas, efektif, dan menyebalkan dibanding saya menggunakan kata “saya-seperti-sedang-banyak-masalah-dalam-hidup.” Sial bagi saya sesungguhnya hanya kelakar konyol, tapi anehnya saya begitu sering menggunakannya sebagai tameng. Setiap saya memotong rambut dan orang disekitar saya bertanya, “Potong rambut ya?”. Maka saya akan menjawab, “Iya, buang sial.” Jadilah pikiran saya semakin terstimulus. Ketika saya memang ingin potong rambut tetapi urung dilaksanakan, beberapa hal dalam hidup saya terasa semakin menyebalkan dan bermasalah. Lalu, saya akan benar-benar memangkas rambut saya agar lega. Mungkin terdengar konyol, tapi biarlah.

Saya memilih Minggu sore sebagai waktu yang tepat untuk memangkas rambut. Tapi pengalaman kali ini berbeda dari yang terdahulu. Saya tidak lagi tata rambut saya pada salon rumahan langganan saya, dan memilih Kaizen Baber Shop. Sejujurnya, Kaizen masih terdengar asing bagi saya, saya belum lama tahu tentang Kaizen, itupun dari salah seorang teman baik saya yang memang pelanggan Kaizen, si tempat potong rambut ala Jepang yang menawarkan kecepatan, kerapian, dan kebersihan yang terjamin saat memotong rambut secara ekspres, hanya sepuluh menit!

Berangkat dari pengetahuan yang minim tentang Kaizen saya lantas mencari tahu lebih banyak dengan berselancar di dunia maya dan membuka laman resmi Kaizen. Ada banyak hal menarik yang semakin membuat saya penasaran dengan Kaizen saat membaca keterangan-keterangan di laman resminya. Kaizen tidak hanya menjanjikan kecepatan saat memangkas rambut pelanggannya, tetapi juga mengatakan bahwa pemangkas rambut di Kaizen adalah tenaga profesional yang menguasai dengan baik teknik potong rambut. Selain itu, Kaizen menjamin kebersihan seluruh peralatan yang digunakan dengan menyediakan sebuah mesin sterilisasi yang berfungsi membunuh segala jenis kuman dan bakteri. Menarik ya?

P1040765P1040768P1040770

Saat saya tiba di Kaizen cabang Setiabudi One keadaan cukup ramai. Kursi-kursi sederhana yang empuk tempat menunggu giliran penuh sehingga saya mendapatkan sedikit ruang duduk di pinggir terluar. Kebanyakan orang yang menunggu giliran potong rambut adalah laki-laki, seorang perempuan lain yang menunggu giliran adalah Ibu yang mengantarkan anak lelakinya potong rambut. Sejujurnya saya sedikit merasa “salah tempat” karena Kaizen penuh dengan laki-laki, meski Kaizen bukan hanya diperuntukan bagi laki-laki dan pemangkas rambutnya perempuan semua. Menurut teman baik saya, mayoritas pelanggan Kaizen memang laki-laki yang ingin memangkas rambut secara ringkas, cepat, dan hasilnya bagus. Akan tetapi hal itu tidak membuat saya ingin mengurungkan niat saya untuk memangkas rambut di Kaizen, setengah karena saya merasa telah waktunya untuk potong rambut, dan setengah karena sudah kadung penasaran dengan Kaizen.

Setelah menunggu beberapa lama giliran saya pun tiba. Pemangkas rambut saya seorang perempuan yang saya taksir berusia tigapuluh tahunan, berperawakan sedang dengan potongan rambut pendek yang ditata berantakan. Seperti biasa, sebelum memangkas rambut, terlebih dahulu ia bertanya saya menginginkan gaya rambut yang seperti apa, lalu saya jawab seperti jawaban yang biasa saya utarakan ketika waktu potong rambut tiba, “Dipotong lebih pendek dengan gaya yang sama dengan rambut lama”. Usai mendengar jawaban saya, ia segera menyiapkan alat. Gunting, sisir, penjepit rambut, dan seperti masker untuk leher dikeluarkan dari sebuah mesin yang bebentuk serupa oven bertulisan “strelirizer”. Dengan cekatan ia menjepit rambut saya dan memainkan gunting serta sisir secara bersamaan. Tanpa ritual pencucian rambut, ia menyemprotkan cairan berkali-kali ke rambut saya lalu menggunting sana sini.

Waktu yang dibutuhkan untuk memapas rambut saya ternyata cukup lama, asumsi saya hal ini terjadi karena rambut saya notabenenya lebih panjang daripada rambut pelanggan Kaizen lainnya yang kebanyakan laki-laki, disamping jumlah helai rambut saya yang cukup banyak. Namun, ketangkasan pemangkas rambut tetap membuat saya terkesima. Selama prosesi pemangkasan rambut, ia bertanya beberapa kali apakah rambut saya sudah sesuai dengan gaya dan kependekan yang saya inginkan sembari memperlihatkan refleksinya di cermin yang kemudian saya balas dengan anggukan singkat. Setelah selesai saya pun dibuat senang dengan hasil potongan yang sesuai dengan keinginan saya, dan bertambah senang dengan “hadiah kecil” berupa sisir yang ternyata selalu dibagikan cuma-cuma untuk pelanggan Kaizen.

P1040776

P1040773

P1040774Setelah semua “ritual” usai saya beberapa kali mematutkan diri di cermin, melihat refleksi diri dengan lebih jelas. Rambut saya sudah pendek lagi dan lebih rapi, semoga hidup saya pun begitu karena meskipun selalu terdengar seperti kelakar santai, “Potong rambut, buang sial”, saya umpamakan layaknya doa agar semuanya baik-baik saja. Mungkin juga karena saya menganalogikan potong rambut layaknya membuang “bagian berantakan” dalam hidup. Jadi, saat hidupmu terasa semakin tidak karuan, coba saya papas kesialan dengan memotong rambutmu. Ah, maaf kalau terdengar konyol. Saya memang gemar berkelakar.

Chateau Fleur : Panggung Magis Peragaan Busana Tunggal Perdana Hian Tjen

Agaknya benar bila perputaran kreator di dunia mode begitu dinamis. Setiap jeda waktu pasti ada saja bibit-bibit baru bermunculan dan memamerkan karya. Darah-darah muda yang masih menggelorakan semangat dalam mencipta menawarkan warna berbeda atau setidaknya warna serupa yang dikemas sedemikian rupa hingga tidak lagi sama. Salah satunya Hian Tjen, desainer muda yang baru genap menapak kepala tiga beberapa waktu lalu.

Simona, Hian Tjen, Paula Verhoeven (Kiri-Kanan)

Simona, Hian Tjen, Paula Verhoeven (Kiri-Kanan)

Saya hampir lupa kapan terakhir menjejakan kaki di tempat peragaan busana, menyaksikan satu persatu model yang wajahnya sudah sangat familiar melenggak-lenggok di atas catwalk. Seingat saya, itu pun kalau tidak salah, sekitar bulan Februari lalu ketika perhelatan Indonesia Fashion Week menjadi agenda terpenting di dunia mode Indonesia. Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat Indonesia Fashion Week tempo lalu saya hanya datang pada dua peragaan busana, salah satunya peragaan busana penutup. Semenjak kuliah saya semakin padat, saya memang tidak lagi bisa berlama-lama atau menyempatkan banyak waktu untuk wara-wiri di berbagai peragaan busana Ibu Kota. Walhasil, selain sering ketinggalan beragam perkembangan, saya jadi begitu merindukan suasana peragaan busana, dan merindukan teman-teman yang biasa saya temui di kursi tamu, photographer pit atau belakang panggung.

Terkejut dan bersemangat. Dua perasaan itu sama-sama muncul dalam benak saya ketika mengetahui Hian Tjen akan melaksanakan peragaan busana tunggal perdana. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah sebegitu lamanya saya absen dari perkembangan mode Indonesia hingga tahu-tahu, Hian Tjen yang masih saya bayangkan sebagai salah satu desainer muda sudah memantapkan diri mengadakan peragaan busana tunggal. Tanda eksistensi dan pengukuhan posisinya di dunia mode.

Sapaan hangat salah satu Tim Muara Bagdja yang sayangnya saya lupa namanya tetapi ingat benar perawakannya terasa begitu menyenangkan saat tiba di depan Dian Ballroom Hotel Raffles. Saya senang karena ia masih mengingat saya meski sudah cukup lama absen hadir dalam sebuah peragaan busana. Begitu pula pelukan hangat dari Mas Gita dan Mbak Alvie dari Tim Muara Bagdja yang seolah menebus satu persatu rasa rindu. Saya merasa luapan keakraban yang telah lama absen. Setelah bercakap-cakap sebentar dan mencicipi hidangan makanan lezat Hotel Raffles saya melanjutkan langkah kaki memasuki Dian Ballroom, tempat berlangsungnya peragaan busana tunggal Hian Tjen.

Drina Ciputra. Model Pembuka "Chateau Fleur".

Drina Ciputra. Model Pembuka “Chateau Fleur”.

Chateau Fleur.

Chateau Fleur.

Advina Ratnaningsih. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Advina Ratnaningsih. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Nuansa muram menguar kencang saat saya memasuki Dian Ballroom. Sinar lampu temaram dan asap tipis serupa kabut lembut mengepung seluruh ruangan. Suhu rendah dari pendingin ruangan menyapu pelan permukaan kulit, dan dingin semakin terasa menembus nyaris ke tulang saat semakin lama duduk diam bersama kamera kesayangan, menunggu peragaan busana dimulai. Dalam tenang saya mengamati sekeliling ruang. Dari tempat saya duduk, tepat di depan lintasan panggung peragaan busana, saya dapat melihat dekorasi berupa sebuah meja makan panjang nan megah berdiri kokoh ditengah ruangan. Meja tersebut dikelilingi kursi-kursi yang berjajar namun terkesan ditata sembarang. Di atas meja tampak dekorasi lilin, dan benda-benda asing yang tidak semestinya ada di atas meja makan. Sungguhan seperti kerangka kepala rusa, bunga-bunga liar, dan tetumbuhan menjalar mengesankan meja tersebut lama ditinggalkan.

Meluaskan pandangan, bola mata saya tertambat pada dekorasi serupa tembok-tembok tebal yang usang. Anggun dan pongah disaat bersamaan, seperti bangunan-bangunan peninggalan era kolonial yang terbengkalai di daerah Kota Tua, atau seperti gambaran tentang kastil-kastil kuno dan berhantu dalam cerita-cerita horor barat klasik. Dinding yang terkikis, bata-bata bersembulan, sulur-sulur dari tumbuhan menjalar, warna cat yang jadi sulit terdeteksi warna aslinya, semua lebur jadi satu. Belum lagi sinaran tata lampu ruangan yang memancarkan pendar temaram diselingi bias cahaya merah, yang tersisa di ujung lidah saya hanya tinggal satu kata, magis.

Saya masih terpesona ketika suara Master of Ceremony menggema. Ia lalu menjelaskan latar belakang peragaan busana dalam bahasa Inggris fasih dan pelafalan judul peragaan busana dalam Perancis yang legit. Temaram lampu ruangan digantikan sebuah titik tembak yang tahu-tahu ada di ujung kiri lintasan panggung peragaan busanaa. Dan lagi-lagi, saya seakan terhipnotis saat Drina Ciputra melesat masuk sebagai model pembuka peragaan busana “Chateau Fleur”.

Mengumpamakan peragaan busananya layaknya sebuah lakon, Hian Tjen mendongengkan sebuah kisah yang mungkin telah lama mengusik kepalanya. Tanpa mengawalinya dengan kalimat “Once upon a time”, Hian langsung mengajak kita masuk ke dalam sebuah adegan yang dalam bayangan saya adalah perjamuan di sebuah kastil antah berantah. Di dalam perjamuan itu kemudian ia bercerita tentang dua sifat manusia yang rasa-rasanya selalu membuatnya terkesima. Si cantik bertabiat buruk dan si rupawan berwatak baik. Keduanya saling berkilatan, muncul berdampingan, menawarkan pesona yang sama-sama memabukan.

Wita Juwita. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Wita Juwita. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Paula Verhoeven. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Paula Verhoeven. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Selma Abidin. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Selma Abidin. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Membagi peragaan busananya dalam dua sekuens, “Evil Stalked The Night” merajut kisah yang meremangkan bulu roma di atas panggung peragaan busana. Alunan musik syahdu yang kadang terdengar menyeramkan mengiringi para model membawakan  busana dengan dominasi warna merah dan hitam. Melalui dua warna yang dimunculkan, Hian merepresentasikan bahwa merah mengandung kebengisan dan hitam menampilkan sisi gelap sekaligus jahat dari diri manusia. Kedua warna tersebut diibaratkan Hian sebagai irisan hati yang palsu dari perempuan yang tetap mampu memancarkan keindahan meski terbalut kejahatan.Siluet sederhana namun terkesan elegan membalut tubuh para model dalam potongan busana gaun pendek mau pun panjang, terusan bervolume kaya wiru, hingga ballgown. Permainan detil yang tanpa malu-malu ditunjukan Hian menjadikan keseluruhan koleksi pada sekuens pertama ini terlihat kompleks.

Sebagai sekuens pembuka “Evil Stalked The Night”  sukses merepresentasikan keinginan Hian untuk menyajikan sisi kelam keindahan. Potongan-potongan busana yang bisa jatuh terasa “biasa saja” dan telah berulang ditampilkan desainer mode lain, ditangannya tampil dengan suatu muatan yang terlalu kuat mendatang imej baru. Ambil contoh begini, gaun panjang dengan potongan dada yan begitu rendah, gaun panjang dengan tekstur bahan ringan melambai dengan belahan kaki hingga atas paha, atau gaun pendek dengan bulu-bulu unggas tentu bukan barang baru di dunia mode, namun dengan dramatisasi atmosfer yang diciptakan pada peragaan busana seakan menghapuskan rasa de javu yang mungkin tercipta. Satu-satunya yang sedikit mengusik pikiran saya hanya potongan ingatan yang terus berseliweran tentang film Black Swan dan Maleficent yang memiliki “cita rasa” serupa.

Christina Borries. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Christina Borries. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Simona. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Simona. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Katya Talanova. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Katya Talanova. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Bertolak belakang 180 derajat dari sekuens pertama yang kental akan suasana muram dan menakutkan, “Love Will Bring The Joy” menawarkan utopisme yang membuai hati. Pada sekuens ini sang desainer mengisahkan balada tentang cinta dan kebajikan yang selalu ada pada setiap diri manusia. Paparan tentang kebahagiaan yang selalu jadi sisi menyenangkan dari kehidupan ia hadirkan melalui warna-warna pastel seperti baby blue, krem, putih, hingga warna keemasan dalam busana-busana yang bersiluet jubah, gaun panjang, gaun midi, busana bervolume, terusan pendek, hingga busana yang ketat memeluk tubuh. Bagi saya sekuens kedua ini serupa lagu pengantar tidur yang menenangkan. Membawa saya ke satu kisah mimpi yang tidak ingin diakhiri meskipun harus saya akui terlalu membuai-buai sampai-sampai pada beberapa momen saya nyaris mengantuk. Mungkin ini pengaruh dari tata musik yang mengalun pelan dan alur keluar para model yang lamat-lamat. Saya jadi membayangkan, seandainya saja musik lebih memiliki tempo dan nuansa benar-benar dijungkirbalikan jadi riang gembira, mungkin akan lebih menyegarkan mata.

Mengingat kembali keseluruhan sekuens kedua, saya merasa bahwa ada beberapa pesan yang jadi kurang tersampaikan jika merunut dari sisi cerita yang ingin ia bawakan. Hal ini mungkin saja disebabkan terlalu kuatnya atmosfer di sekuens pertama sehingga “Love Will Bring The Joy” kurang membawa kebahagiaan seperti yang semestinya terjadi. Namun konsistensi busana-busana yang disajikan Hian perlu diapresiasi. Ia mampu membuktikan ajegnya benang merah keseluruhan busana sehingga saya masih dapat merasakan kesamaan garis besar gaya rancangannya meski dalam dua sub-tema yang hampir berlainan sama sekali.

Di dua sekuens peragaan busananya, Hian menggunakan variasi bahan duchess, scuba, crepes, serta tule berlipit-lipit. Aplikasi detil rumit pada beberapa bagian busana dikreasikan dari bulu-bulu unggas dan hewan lainnya. Menilik lebih jauh tentang detil potongan busana milik Hian, kita dapat pula menjumpai aksesoris yang menyerupai serangga maupun detil yang terbentuk dari susunan manik-manik yang dijalin sedemikian rupa. Meski memiliki kompleksitas tinggi, keseluruhan karya Hian tidak juga jatuh sebagai “busana pajangan” atau busana yang terlampau “berat” berkat keseimbangan yang dimainkan sang kreator. Hian Tjen terasa arif dalam memberikan porsi kerumitan busana, ia tidak serta merta berambisi menjadikan busana-busananya grande dengan detil njelimet sana-sini, ketika sudah ada detil-detil yang terlampau rumit pada bagian-bagian tertentu busana, ia akan membiarkan bagian lainnya tampil polos sehingga terasa lebih pas.

Merangkumkan keseluruhan kesan atas peragaan busana tunggal “Chateau Fleur” lebih dari memenuhi standar ideal peragaan busana, terutama peragaan busana tunggal, bagi saya. Peragaan busana yang bagus adalah peragaan busana yang mampu menutupi kekurangan koleksi yang ditampilkan atau menyempurnakan keindahannya. Bagi saya Hian  cerdas, ia mampu membangun atmosfer yang sangat pas dan begitu kuat pada peragaan busana tunggal perdananya. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar setidaknya para tetamu undangan yang hadir di malam itu mudah mengingat peragaan busana debutnya. Dengan menyaksikan peragaan busana “Chateau Fleur” saya serasa menghadiri sebuah pertunjukan teatrikal yang bercerita. Berkesan untuk dikenang.