Chateau Fleur : Panggung Magis Peragaan Busana Tunggal Perdana Hian Tjen

Agaknya benar bila perputaran kreator di dunia mode begitu dinamis. Setiap jeda waktu pasti ada saja bibit-bibit baru bermunculan dan memamerkan karya. Darah-darah muda yang masih menggelorakan semangat dalam mencipta menawarkan warna berbeda atau setidaknya warna serupa yang dikemas sedemikian rupa hingga tidak lagi sama. Salah satunya Hian Tjen, desainer muda yang baru genap menapak kepala tiga beberapa waktu lalu.

Simona, Hian Tjen, Paula Verhoeven (Kiri-Kanan)

Simona, Hian Tjen, Paula Verhoeven (Kiri-Kanan)

Saya hampir lupa kapan terakhir menjejakan kaki di tempat peragaan busana, menyaksikan satu persatu model yang wajahnya sudah sangat familiar melenggak-lenggok di atas catwalk. Seingat saya, itu pun kalau tidak salah, sekitar bulan Februari lalu ketika perhelatan Indonesia Fashion Week menjadi agenda terpenting di dunia mode Indonesia. Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat Indonesia Fashion Week tempo lalu saya hanya datang pada dua peragaan busana, salah satunya peragaan busana penutup. Semenjak kuliah saya semakin padat, saya memang tidak lagi bisa berlama-lama atau menyempatkan banyak waktu untuk wara-wiri di berbagai peragaan busana Ibu Kota. Walhasil, selain sering ketinggalan beragam perkembangan, saya jadi begitu merindukan suasana peragaan busana, dan merindukan teman-teman yang biasa saya temui di kursi tamu, photographer pit atau belakang panggung.

Terkejut dan bersemangat. Dua perasaan itu sama-sama muncul dalam benak saya ketika mengetahui Hian Tjen akan melaksanakan peragaan busana tunggal perdana. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah sebegitu lamanya saya absen dari perkembangan mode Indonesia hingga tahu-tahu, Hian Tjen yang masih saya bayangkan sebagai salah satu desainer muda sudah memantapkan diri mengadakan peragaan busana tunggal. Tanda eksistensi dan pengukuhan posisinya di dunia mode.

Sapaan hangat salah satu Tim Muara Bagdja yang sayangnya saya lupa namanya tetapi ingat benar perawakannya terasa begitu menyenangkan saat tiba di depan Dian Ballroom Hotel Raffles. Saya senang karena ia masih mengingat saya meski sudah cukup lama absen hadir dalam sebuah peragaan busana. Begitu pula pelukan hangat dari Mas Gita dan Mbak Alvie dari Tim Muara Bagdja yang seolah menebus satu persatu rasa rindu. Saya merasa luapan keakraban yang telah lama absen. Setelah bercakap-cakap sebentar dan mencicipi hidangan makanan lezat Hotel Raffles saya melanjutkan langkah kaki memasuki Dian Ballroom, tempat berlangsungnya peragaan busana tunggal Hian Tjen.

Drina Ciputra. Model Pembuka "Chateau Fleur".

Drina Ciputra. Model Pembuka “Chateau Fleur”.

Chateau Fleur.

Chateau Fleur.

Advina Ratnaningsih. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Advina Ratnaningsih. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Nuansa muram menguar kencang saat saya memasuki Dian Ballroom. Sinar lampu temaram dan asap tipis serupa kabut lembut mengepung seluruh ruangan. Suhu rendah dari pendingin ruangan menyapu pelan permukaan kulit, dan dingin semakin terasa menembus nyaris ke tulang saat semakin lama duduk diam bersama kamera kesayangan, menunggu peragaan busana dimulai. Dalam tenang saya mengamati sekeliling ruang. Dari tempat saya duduk, tepat di depan lintasan panggung peragaan busana, saya dapat melihat dekorasi berupa sebuah meja makan panjang nan megah berdiri kokoh ditengah ruangan. Meja tersebut dikelilingi kursi-kursi yang berjajar namun terkesan ditata sembarang. Di atas meja tampak dekorasi lilin, dan benda-benda asing yang tidak semestinya ada di atas meja makan. Sungguhan seperti kerangka kepala rusa, bunga-bunga liar, dan tetumbuhan menjalar mengesankan meja tersebut lama ditinggalkan.

Meluaskan pandangan, bola mata saya tertambat pada dekorasi serupa tembok-tembok tebal yang usang. Anggun dan pongah disaat bersamaan, seperti bangunan-bangunan peninggalan era kolonial yang terbengkalai di daerah Kota Tua, atau seperti gambaran tentang kastil-kastil kuno dan berhantu dalam cerita-cerita horor barat klasik. Dinding yang terkikis, bata-bata bersembulan, sulur-sulur dari tumbuhan menjalar, warna cat yang jadi sulit terdeteksi warna aslinya, semua lebur jadi satu. Belum lagi sinaran tata lampu ruangan yang memancarkan pendar temaram diselingi bias cahaya merah, yang tersisa di ujung lidah saya hanya tinggal satu kata, magis.

Saya masih terpesona ketika suara Master of Ceremony menggema. Ia lalu menjelaskan latar belakang peragaan busana dalam bahasa Inggris fasih dan pelafalan judul peragaan busana dalam Perancis yang legit. Temaram lampu ruangan digantikan sebuah titik tembak yang tahu-tahu ada di ujung kiri lintasan panggung peragaan busanaa. Dan lagi-lagi, saya seakan terhipnotis saat Drina Ciputra melesat masuk sebagai model pembuka peragaan busana “Chateau Fleur”.

Mengumpamakan peragaan busananya layaknya sebuah lakon, Hian Tjen mendongengkan sebuah kisah yang mungkin telah lama mengusik kepalanya. Tanpa mengawalinya dengan kalimat “Once upon a time”, Hian langsung mengajak kita masuk ke dalam sebuah adegan yang dalam bayangan saya adalah perjamuan di sebuah kastil antah berantah. Di dalam perjamuan itu kemudian ia bercerita tentang dua sifat manusia yang rasa-rasanya selalu membuatnya terkesima. Si cantik bertabiat buruk dan si rupawan berwatak baik. Keduanya saling berkilatan, muncul berdampingan, menawarkan pesona yang sama-sama memabukan.

Wita Juwita. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Wita Juwita. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Paula Verhoeven. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Paula Verhoeven. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Selma Abidin. "Evil Stalked The Night", Chateau Fleur.

Selma Abidin. “Evil Stalked The Night”, Chateau Fleur.

Membagi peragaan busananya dalam dua sekuens, “Evil Stalked The Night” merajut kisah yang meremangkan bulu roma di atas panggung peragaan busana. Alunan musik syahdu yang kadang terdengar menyeramkan mengiringi para model membawakan  busana dengan dominasi warna merah dan hitam. Melalui dua warna yang dimunculkan, Hian merepresentasikan bahwa merah mengandung kebengisan dan hitam menampilkan sisi gelap sekaligus jahat dari diri manusia. Kedua warna tersebut diibaratkan Hian sebagai irisan hati yang palsu dari perempuan yang tetap mampu memancarkan keindahan meski terbalut kejahatan.Siluet sederhana namun terkesan elegan membalut tubuh para model dalam potongan busana gaun pendek mau pun panjang, terusan bervolume kaya wiru, hingga ballgown. Permainan detil yang tanpa malu-malu ditunjukan Hian menjadikan keseluruhan koleksi pada sekuens pertama ini terlihat kompleks.

Sebagai sekuens pembuka “Evil Stalked The Night”  sukses merepresentasikan keinginan Hian untuk menyajikan sisi kelam keindahan. Potongan-potongan busana yang bisa jatuh terasa “biasa saja” dan telah berulang ditampilkan desainer mode lain, ditangannya tampil dengan suatu muatan yang terlalu kuat mendatang imej baru. Ambil contoh begini, gaun panjang dengan potongan dada yan begitu rendah, gaun panjang dengan tekstur bahan ringan melambai dengan belahan kaki hingga atas paha, atau gaun pendek dengan bulu-bulu unggas tentu bukan barang baru di dunia mode, namun dengan dramatisasi atmosfer yang diciptakan pada peragaan busana seakan menghapuskan rasa de javu yang mungkin tercipta. Satu-satunya yang sedikit mengusik pikiran saya hanya potongan ingatan yang terus berseliweran tentang film Black Swan dan Maleficent yang memiliki “cita rasa” serupa.

Christina Borries. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Christina Borries. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Simona. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Simona. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Katya Talanova. "Love Will Bring The Joy", Chateau Fleur.

Katya Talanova. “Love Will Bring The Joy”, Chateau Fleur.

Bertolak belakang 180 derajat dari sekuens pertama yang kental akan suasana muram dan menakutkan, “Love Will Bring The Joy” menawarkan utopisme yang membuai hati. Pada sekuens ini sang desainer mengisahkan balada tentang cinta dan kebajikan yang selalu ada pada setiap diri manusia. Paparan tentang kebahagiaan yang selalu jadi sisi menyenangkan dari kehidupan ia hadirkan melalui warna-warna pastel seperti baby blue, krem, putih, hingga warna keemasan dalam busana-busana yang bersiluet jubah, gaun panjang, gaun midi, busana bervolume, terusan pendek, hingga busana yang ketat memeluk tubuh. Bagi saya sekuens kedua ini serupa lagu pengantar tidur yang menenangkan. Membawa saya ke satu kisah mimpi yang tidak ingin diakhiri meskipun harus saya akui terlalu membuai-buai sampai-sampai pada beberapa momen saya nyaris mengantuk. Mungkin ini pengaruh dari tata musik yang mengalun pelan dan alur keluar para model yang lamat-lamat. Saya jadi membayangkan, seandainya saja musik lebih memiliki tempo dan nuansa benar-benar dijungkirbalikan jadi riang gembira, mungkin akan lebih menyegarkan mata.

Mengingat kembali keseluruhan sekuens kedua, saya merasa bahwa ada beberapa pesan yang jadi kurang tersampaikan jika merunut dari sisi cerita yang ingin ia bawakan. Hal ini mungkin saja disebabkan terlalu kuatnya atmosfer di sekuens pertama sehingga “Love Will Bring The Joy” kurang membawa kebahagiaan seperti yang semestinya terjadi. Namun konsistensi busana-busana yang disajikan Hian perlu diapresiasi. Ia mampu membuktikan ajegnya benang merah keseluruhan busana sehingga saya masih dapat merasakan kesamaan garis besar gaya rancangannya meski dalam dua sub-tema yang hampir berlainan sama sekali.

Di dua sekuens peragaan busananya, Hian menggunakan variasi bahan duchess, scuba, crepes, serta tule berlipit-lipit. Aplikasi detil rumit pada beberapa bagian busana dikreasikan dari bulu-bulu unggas dan hewan lainnya. Menilik lebih jauh tentang detil potongan busana milik Hian, kita dapat pula menjumpai aksesoris yang menyerupai serangga maupun detil yang terbentuk dari susunan manik-manik yang dijalin sedemikian rupa. Meski memiliki kompleksitas tinggi, keseluruhan karya Hian tidak juga jatuh sebagai “busana pajangan” atau busana yang terlampau “berat” berkat keseimbangan yang dimainkan sang kreator. Hian Tjen terasa arif dalam memberikan porsi kerumitan busana, ia tidak serta merta berambisi menjadikan busana-busananya grande dengan detil njelimet sana-sini, ketika sudah ada detil-detil yang terlampau rumit pada bagian-bagian tertentu busana, ia akan membiarkan bagian lainnya tampil polos sehingga terasa lebih pas.

Merangkumkan keseluruhan kesan atas peragaan busana tunggal “Chateau Fleur” lebih dari memenuhi standar ideal peragaan busana, terutama peragaan busana tunggal, bagi saya. Peragaan busana yang bagus adalah peragaan busana yang mampu menutupi kekurangan koleksi yang ditampilkan atau menyempurnakan keindahannya. Bagi saya Hian  cerdas, ia mampu membangun atmosfer yang sangat pas dan begitu kuat pada peragaan busana tunggal perdananya. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar setidaknya para tetamu undangan yang hadir di malam itu mudah mengingat peragaan busana debutnya. Dengan menyaksikan peragaan busana “Chateau Fleur” saya serasa menghadiri sebuah pertunjukan teatrikal yang bercerita. Berkesan untuk dikenang.

Dibalik Pelepasan Baju Zirah Sang Ksatria (?)

Rasanya sudah lama sekali saya absen menarikan jemari di atas keyboard, merangkai kata, dan akhirnya menghasilkan tulisan untuk blog ini. Melihat dari posting terakhir yang saya buat, sudah setahun saya absen. Keinginan untuk kembali mengisi laman baru blog saya ini sebenarnya sudah lama membuncah, tapi selalu saja ada alasan untuk menunda dan terus menundanya. Tapi, malam ini saya begitu sulit memejamkan mata. Pikiran terus sibuk dan ribut meminta untuk dituangkan dalam tulisan. Bukan tanpa sebab, ada hal yang membuat saya gatal untuk menulis lagi. Sebuah akun di instagram bernama @nyinyirfashion

Gambar BlogKemarin sore (12/11) mendung sedang memayungi langit saat sebuah panggilan masuk ke handphone saya dari seorang teman. Dia memberitahu saya tentang sebuah kabar pengunduran diri dari seorang desainer yang selama ini digelari “Ksatria” oleh majalah mode Dewi dan hampir selalu terlibat di peragaan busana pamungkas Jakarta Fashion Week, Dewi Fashion Knight. Dia memberitahu saya seraya ingin pula mengkonfirmasi dan bertanya. Tapi apa lacur, jangankan menjawab pertanyaan, mengkonfirmasi saja saya tidak bisa karena jangankan mengetahui detil, tahu bahwa si desainer mengundurkan diri saja baru darinya.

Memang bukan tanpa alasan teman saya ini langsung menghubungi saya. Saya memang salah satu orang yang mengikuti karya si desainer sejak dulu, dan sejujurnya sangat mengaguminya. Kabar ini juga membuat saya kaget terutama bingung. Karena begitu mendadak dengan pernyataan yang ternyata amat singkat, padat, jelas dari desainer itu via website majalah Dewi dan karena peragaan busana Dewi Fashion Knight 2014 sudah hampir sepekan berlalu. Bagaimana atau seperti apa yang dimaksud dengan pengunduran diri? Sejujurnya saya kurang mengerti.

Sepanjang sisa hari dikepala saya muncul pertanyaan-pertanyaan terkait berita terhangat itu. Pikiran saya sibuk mengaduk-aduk ingatan yang akhirnya sampai pada beberapa posting yang sempat saya lihat di akun sosial media instagram bernama @nyinyirfashion. Di akun itu ada beberapa foto perbandingan koleksi desainer yang mengundurkan diri dari Dewi Fashion Knight 2014 dan koleksi dari desainer lain yang dinilai serupa. Dengan cepat saya menelusuri postingan-postingan itu lagi. Saya terhenyak. Foto-foto desainer itu memang paling banyak mendapatkan komentar pedas entah level berapa dan dituding sana-sini. Saya lantas menghembuskan nafas, sedikit resah, entah kenapa. Awalnya saya mencoba mengalihkan pikiran karena ada beberapa hal lain yang harus saya kerjakan saat itu, tapi sebuah kegelisahan semakin menjalar hebat, minta untuk dituliskan.

Tudingan akan desainer-desainer mode Indonesia yang menyontek, menjiplak, memplagiat atau apapun itu namanya bukan hal baru di dunia fesyen. Jauh sebelum peristiwa ini dan mulai melesatnya popularitas akun @nyinyirfashion terutama dikalangan penggelut, pecinta, dan pemerhati fesyen Indonesia, kasus ini sudah cukup banyak dibicarakan. Legenda pengamat mode Indonesia (Alm) Muara Bagdja di tahun 2007 silam bahkan sudah pernah menyinggung hal ini dalam tulisannya di majalah A+ yang bertajuk “Ada Apa di Belakang Panggung?”. Meski isi tulisan tersebut tidak mengupas indikasi peniruan secara tuntas, tetapi beliau memberikan porsi cukup banyak terhadapnya.

“Karena ide bisa dari mana saja, juga sah saja dari karya perancang lain. Paling banyak berasal dari perancang ternama dunia yang sedang menjadi tren diubah sana-sini, lalu dijadikan koleksi baru. Bilangnya adaptasi, interpretasi, inspirasi. Padahal itu kata halus untuk menyebut tiruan. Malah kata bisik-bisik, ada perancang senior- sekali lagi senior- yang senangnya membeli baju buatan perancang dunia, lalu baju itu dibuka jahitannya untuk melihat polanya hingga mudah ditiru.”

“Dengan gaya ‘ide dari mana saja’ itu, banyak peragaan meninggalkan kesan seperti koleksi bernapas “wanna be”, mirip dengan koleksi yang kita lihat di laporan peragaan di majalah atau Fashion TV. Jelas mirip karena perancang pun mencari ilham dari sumber yang sama dengan pecinta mode.”

-Muara Bagdja, 2007-

Gambar Blog 1Melalui penuturan (Alm) Muara Bagdja tujuh tahun silam itu, bisa disimpulkan sendiri bahwa hal ini bukan masalah asing yang tiba-tiba berhembus kencang di dunia fesyen Indonesia. Praduga-praduga meniru sudah ada sejak dulu. Akan tetapi, beberapa waktu belakangan dengan eksistensi akun @nyinyirfashion hal ini semakin jadi buah bibir yang tak terhindarkan. Jika dimasa lalu hanya akan ada segelintir orang yang benar-benar melek dan mengikuti perkembangan mode yang dapat menilai indikasi-indikasi peniruan atau mengetahui terjadinya peniruan pada rancangan seorang desainer, sekarang semua orang bisa melakukan penilaian. Caranya toh mudah saja, hanya perlu jadi pengikut akun @nyinyirfashion dan secara otomatis akan disuguhi hidangan foto siap saji yang memperlihatkan kemiripan-kemiripan yang bisa memicu timbulnya komentar super pedas.

Saya pribadi termasuk orang yang mendapatkan sajian foto perbandingan tersebut karena menjadi salah satu pengikutnya. Awalnya hanya untuk iseng dan sekadar ingin tahu, tapi semakin hari dinamika yang terjadi di akun ini ternyata bisa sampai ditahap semenarik sekarang. Dimana akun ini saya duga sebagai salah satu penyebab keputusan yang diambil desainer yang juga salah satu Ksatria Mode Indonesia untuk melepaskan baju zirahnya entah untuk berapa lama. Desainer yang sangat saya kagumi namun sekarang mungkin sedang menerima begitu banyak kritik mengiris hati karena perbandingan yang dilakukan si akun itu terhadap beberapa karyanya ternyata mendatangkan komentar pedas gila-gilaan.

Apa yang dilakukan akun instagram ini memang sempat saya perkirakan dapat menimbulkan efek samping terhadap para desainer yang karyanya sempat mampir jadi sajian perbandingan kemiripan. Tetapi, jujur saja saya tidak mengira efek sampingnya bisa sampai sehebat dan secepat ini. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan sosial media? Mungkin ini juga yang dinamakan kekuatan anonim? Dan mungkin, inilah bukti nyata kekuatan permainan pikiran? Tiga pertanyaan ini yang kemudian muncul dikepala saya.

Jika faktor kekuatan sosial media sudah sempat saya singgung diawal, bagaimana dengan dua kekuatan lain yang jadi pertanyaan saya? Dan kenapa saya bisa mempertanyakan dua hal itu? Kekuatan anonim dan kekuatan permainan pikiran. Jawabannya bisa sesederhana ini, karena akun @nyinyirfashion hingga saat ini tidak diketahui identitas sebenarnya dan karena akun tersebut tidak pernah memberi caption atau pernyataan yang menilai rancangan yang ditampilkan meniru. Ia hanya menyandingkan dua buah foto koleksi dari desainer berbeda. Ia hanya menuliskan “Trends exist because fashion can’t be copyrighted. Coco Chanel once said, “Copying is a ransom of success”. I post a pic, you make up your mind” di bio akunnya.

Berpikir lebih dalam sejenak dan menunda penghakiman, metode anonim yang digunakan oleh akun ini bisa menimbulkan banyak pertanyaan. Tentang siapa sebenarnya dibalik akun ini? Tentang apakah si pemilik akun memiliki kredibelitas untuk melakukan perbandingan? Tentang apakah ia memiliki kepentingan tersendiri atau tidak terkait apa yang dilakukannya? Semacam hidden agenda? Untuk pertanyaan terakhir, jawabannya memang sangat relatif, bisa saja memang ada, tapi bisa juga memang tidak ada apa-apa. Pertanyaan itu memang muncul dari saya karena keterkejutan saya tentang efek yang ditimbulkan memang. Sementara itu harus diakui akun ini cukup cerdas memainkan pikiran para pengikutnya, tanpa ia menuliskan apa-apa dan hanya menyandingkan foto, rentetan komentar dan pemikiran-pemikiran tentang indikasi peniruan muncul. Ia sengaja tidak mengedukasi apa-apa. Hal ini bisa dijadikan senjatanya baginya jika yang muncul malah sebaliknya, malah komentar pedas terhadap si akun, karena ia bisa dengan mudah mengembalikan ke tulisan di bionya “I post a pic, you make up your mind”.

Tulisan yang saya buat ini sebenarnya pun penuh dengan asumsi dan praduga. Terutama tentang kaitan pelepasan baju zirah sang Ksatria Mode dan akun instagram @nyinyirfashion. Saya memang yang mengasumsikan itu karena hingga kini belum ada bukti konkret apa-apa tentang korelasi keduanya. Saya pribadi tidak bermaksud menjatuhkan, memojokan atau membela pihak manapun. Bukan juga untuk membuat akun instagram @nyinyirfashion semakin populer, karena saya yakin tanpa tulisan ini akun tersebut akan semakin populer juga karena dikalangan fesyen memang sudah jadi perbincangan. Saya hanya ingin mengajak untuk merenungkan kembali sebelum bisa menilai atau menyalahkan segala sesuatu terutama dalam kasus ini. Coba melihatnya dengan mata yang lebih terbuka. Tidak ada yang 100% salah –kalau memang bisa disebut salah, meski saya tidak yakin penggunaan kata ini tepat- tapi tidak ada pula yang 100% benar karena semua pihak memiliki kekuatan “pembelaan” dan semua pihak mempunyai titik lemah untuk jadi sasaran “penyerangan”. Dan para komentator, mungkin perlu mempertimbangkan kembali kata-katanya yang terlalu pedas apakah sudah diimbangi dengan pengetahuan yang cukup mumpuni karena jangan sampai hanya jadi bagian dari peribahasa “air beriak tanda tak dalam”, bukan?

CardioMind : Ketika Cabang Olahraga Dijadikan Inspirasi Mencipta Busana

Bagaimana jadinya bila cabang-cabang olahraga cardio yang biasa kita kenal diterjemahkan dalam wujud koleksi busana oleh para siswa dan alumnus terbaik sekolah mode tertua di Indonesia? Apakah cabang-cabang olahraga diterjemahkan mentah-mentah pada wujud busana? Atau kita akan dibuat terkejut dengan permainan interpretasi yang ditawarkan?

"CardioMind" interpretasi para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo tentang cabang olahraga yang dijadikan benang merah inspirasi

“CardioMind” interpretasi para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo tentang cabang olahraga yang dijadikan benang merah inspirasi

Ada dua hal yang membuat saya cukup khawatir dengan kondisi jalan-jalan di Jakarta pada hari Jumat tanggal 1 November 2013 lalu. Hal pertama adalah tentang hujan yang mulai sering mengguyur Jakarta dan kerap membuat saya kewalahan bila harus melakukan aktivitas yang mengharuskan saya berjibaku di jalanan Ibukota. Hal kedua adalah tentang isu demo ribuan buruh yang menuntut kenaikan upah minimum. Cukup membayangkan dua hal tersebut kepala saya pening seketika. Bagaimana tidak? Pada hari itu saya berencana untuk menghadiri undangan peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo mengambil tempat di The Hall Senayan City, sementara ada dua kemungkinan jarak yang akan saya tempuh untuk bisa hadir di The Hall, dari kampus saya di Depok, atau dari kediaman saya di daerah Cibubur.

Dua kemungkinan jarak yang akan saya tempuh sama-sama pelik, terlebih saat saya kembali mengingat dua hal yang saya khawatirkan. Tetapi apa lacur, niat saya untuk menghadiri acara tersebut begitu kuat, maka saya menyusun strategi perjalanan sedemikian rupa dengan memperhitungkan waktu tempuh terlama dari rumah saya di bilangan Cibubur. Strategi saya berhasil, saya datang sangat tepat waktu, bahkan satu jam setelah saya tiba di The Hall Senayan City, acara belum juga dimulai. Sebenarnya bukan hanya karena strategi waktu yang saya buat, tetapi memang karena saya tidak bertemu hujan, hanya gerimis kecil yang menerpa, dan saya juga tidak menjumpai kemacetan berarti, rute yang saya tempuh sangat bersahabat, malahan tergolong cukup sepi untuk ukuran Jakarta di Jumat sore menjelang malam.

Lembaga Pendidikan Tata Busana(LPTB) Susan Budihardjo bukan nama asing dalam dunia mode Indonesia. Jauh sebelum menejamurnya sekolah mode franchise dari berbagai belahan dunia, desainer mode kawakan Susan Budihardjo telah merintis sekolah mode ini. Resmi didirikan pada tahun 1980, LPTB Susan Budihardjo tercatat sebagai salah satu sekolah mode dan tempat kursus mode tertua di Indonesia yang masih bertahan. Tersebutlah nama desainer mode papan atas Indonesia semisal Adrian Gan, Denny Wirawan, Didi Budihardjo, Sebastian Gunawan, Eddy Betty, Sofie, dan Tri Handoko sebagai alumnus LPTB Susan Budihardjo.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB ketika suara merdu Ira Duati terdengar diseantero ruangan, menandakan acara akan segera dimulai. Diawali dengan pemberian door prize kepada para hadirin yang datang, disusul dengan pemberian plakat kepada beberapa pihak penting yang mendukung jalannya acara, peragaan busana akhirnya dimulai sepuluh menit kemudian dengan menyuguhkan rancangan busana berbahan material daur ulang dari kemasan produk Khong Guan Biscuit yang tak lain adalah salah satu sponsor utama.

“CardioMind” adalah tajuk menarik yang dipilih LPTB Susan Budihardjo dalam peragaan busana siswa dan alumnusnya, peragaan busana ini merupakan perayaan setalah wisuda tahunan siswa sekolah mode ini berlangsung sehari sebelumnya. Dalam tajuk “CardioMind” terdapat sebuah tema akbar yang melatarbelakangi terciptanya rangkaian koleksi busana, olahraga.

Inspirasi pakaian olahraga baseball pada koleksi busana salah satu siswa LPTB Susan Budihardjo. Model: Katya Talanova

Inspirasi pakaian olahraga baseball pada koleksi busana salah satu siswa LPTB Susan Budihardjo. Model: Katya Talanova

Kentalnya unsur sporty dalam busana pada peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Model: Ilmira

Kentalnya unsur sporty dalam busana pada peragaan busana siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Model: Ilmira

Alat pancing yang digunakan sebagai pelengkap presentasi busana oleh model. Model: Mareike Brenda

Alat pancing yang digunakan sebagai pelengkap presentasi busana oleh model. Model: Mareike Brenda

Inspirasi cabang olahraga panahan dalam busana karya siswa LPTB Susan Budihardjo

Inspirasi cabang olahraga panahan dalam busana karya siswa LPTB Susan Budihardjo

Diusungnya tema olahraga sebagai benang merah menjadi sangat menarik terutama saat saya teringat dengan riset tren mode yang dilakukan BD+A Design, sebuah lembaga konsultasi desain multi disiplin, bersama Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia(APPMI) yang mengungkapkan bahwa salah satu tren mode di tahun 2014 nanti adalah CardioMind, persis seperti  judul yang dipilih oleh LPTB Susan Budihardjo. “CardioMind” yang dimaksudkan dalam riset tersebut adalah tren busana yang hadir karena pengaruh berkembangnya kelompok orang-orang yang mementingkan pola hidup sehatdan gemar berolahraga. Dalam tren ini dijelaskan bahwa di tahun 2014 nanti akan ada busana-busana yang terinspirasi dari pakaian olahraga. Bagi saya hal ini sangat menarik, namun sayangnya saya belum melihat implementasinya secara jelas, tetapi akhirnya di peragaan busana milik LPTB Susan Budihardjo saya dapat melihatnya.

“CardioMind” sebagai tajuk dan olahraga sebagai tema coba di interpretasikan oleh para siswa dan alumnus LPTB Susan Budihardjo. Meski mendapatkan porsi yang lebih sedikit, yakni berupa parade busana, koleksi siswa LPTB Susan Budihardjo yang baru saja menerima pesta kelulusannya terlihat menarik. Cabang-cabang olahraga seperti berkuda, tinju, atletik, hingga memancing coba diterjemahkan para siswa dalam busana-busana siap pakai yang kasual. Tak lupa pula penyisipan beberapa alat olahraga seperti hula hoop, alat pancing, panah, stick baseball, dan sarung tinju guna memperkuat judul dan tema besar yang diangkat. Walhasil jadilah aneka gaun, atasan berupa kemeja, blus, atasan tanpa lengan, blazer, rok berlipit, rok denim, rok pendek berpotongan lurus, celana jodhpur, celana pendek yang longgar hingga celana panjang yang diolah dengan potongan unik terlihat sporty dan edgy.

Usai parade busana dari siswa-siswi LPTB Susan Budihardjo yang baru saja menerima kelulusannya, peragaan busana berlanjut dengan menampilkan rangkaian koleksi para alumnus LPTB Susan Budihardjo, tidak ketinggalan juga label milik sekolah mode ini “Number 1” yang ikut memamerkan koleksi teranyarnya.

"You Can Do Kendo" oleh Afina Meyandra yang memadukan unsur street style ala Jepang dan kebudayaan Jepang dalam busana siap pakai

“You Can Do Kendo” oleh Afina Meyandra yang memadukan unsur street style ala Jepang dan kebudayaan Jepang dalam busana siap pakai

“You Can Do Kendo” adalah judul yang dipilih Afina Meyandra dalam menyajikan 8 koleksi busana teranyarnya. Menjadi desainer pembuka rangkaian peragaan busana alumnus LPTB Susan Budihardjo, Afina Meyandra mentranslasikan cabang olahraga Kendo ke dalam busana wanita siap pakai yang kental dengan unsur street style ala Jepang. Gaya kimono, penggunaan bahan katun tebal, teknik lilit, lipit dan ikat, serta bentuk-bentuk origami juga ikut diselipkan Afina Meyandra sebagai detil yang memperkaya keseluruhan busana. Atasan berpotongan longgar, celana, kulot, rok panjang, luaran berupa trench coat hingga rok pinsil ia hadirkan dengan dominasi warna putih ditambah beberapa aksen berwarna biru dongker dan merah.

Koleksi busana pria siap pakai Andreas Wen yang terinspirasi oleh cabang olahraga Sepakbola. Model: Richard Fiando

Koleksi busana pria siap pakai Andreas Wen yang terinspirasi oleh cabang olahraga Sepakbola. Model: Richard Fiando

Andreas Wen, desainer mode yang memulai karirnya dua tahun lalu setelah menyelesaikan pendidikan di LPTB Susan Budihardjo ini memilih cabang olahraga sepakbola sebagai inspirasi utama koleksinya. Cabang olahraga yang selalu mengundang gegap gempita para penggemarnya ini ditransformasikan Andreas ke dalam koleksi busana pria siap pakai. Motif si kulit bundar yang jadi favorit jutaan orang di dunia ia aplikasikan ke dalam material berwarna meriah layaknya warna-warna yang biasa digunakan dalam Pop Art. Material atau bahan itu lantas ia olah menjadi kemeja lengan panjang dan lengan pendek, vest, jaket varsity, blazer, celana panjang, celana pendek, hingga rok berlipit seperti yang biasa dikenakan pria Skotlandia.

Busana siap pakai dengan printing motif cabang-cabang olahraga yang dilansir "Number 1"

Busana siap pakai dengan printing motif cabang-cabang olahraga yang dilansir “Number 1”

Label busana “Number 1” menjadi penyambung peragaan busana ketika koleksi milik Andreas Wen usai ditampilkan. Label yang sukses mencatatkan LPTB Susan Budihardjo sebagai sekolah mode pertama yang memiliki label busana hasil kolektif alumnusnya itu melansir 20 koleksi busana yang terinspirasi dari cabang olahraga Balap Sepeda. Berorientasi pada busana siap pakai yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar tanpa menghilangkan idealisme dalam mencipta, busana koleksi “Number 1” hadir dalam garis rancang sederhana namun berpotongan unik, basic with a twist. Meski pada beberapa koleksi yang ditampilkan cenderung terlihat biasa saja, tapi tunggu hingga lampu yang menerangi ruang dipadamkan. Motif print yang tersebar di tiap potong koleksi akan mengeluarkan warna terang yang sangat menyita perhatian. Motif print glow in the dark dengan cepat menjadi pusat perhatian yang kejutan yang menyenangkan.

Struktur konstruktif pada bahu yang merupakan ciri khas dari pakaian cabang olahraga American Football. Model: Laura Muljadi

Struktur konstruktif pada bahu yang merupakan ciri khas dari pakaian cabang olahraga American Football. Model: Laura Muljadi

American Football rupanya terlalu menarik untuk dilewatkan. Cabang olahraga yang penuh dengan kontak fisik ini pula yang melesatkan imajinasi Ddy Pramono Widjaja untuk mentransformasikannya dalam wujud koleksi busana. Siluet kostum pemain American Football yang menyimpan kekhasan tersendiri terutama pada konstruksi di bagian bahu yang menggembung lebih besar ia racik dalam busana bernafas ready-to-wear. Atasan berkerah V yang longgar, gaun yang lekat memeluk tubuh dengan detil bahu membentuk lengkungan yang terlihat kaku, rok model span, hingga gaun panjang dengan konstruksi bagian bahu yang membumbung tinggi besar dan kaku layaknya hiperbola detil kostum American Football dihadirkan Ddy Pramono dalam warna dasar putih gading yang dipercantik corak geometris aneka warna cerah.Untuk sentuhan akhir, Ddy Pramono melengkapi presentasi koleksi busananya dengan wedges kayu setinggi 18 senti yang menguatkan kesan strong dan sporty.

Aksen akrilik pada bagian atas busana yang memberikan kesan "dingin", sangat menarik. Model: Drina Ciputra

Aksen akrilik pada bagian atas busana Ruth Elke yang memberikan kesan “dingin”, sangat menarik. Model: Drina Ciputra

Mendapuk Ruth Elke sebagai penutup rangkaian peragaan busana karya alumnus LPTB Susan Budihardjo rupanya adalah pilihan yang tepat. Desainer mode yang memperoleh kelulusannya dari LPTB Susan Budihardjo di tahun 2009 silam ini terasa begitu piawai memformulasikan ulang embrio utama inspirasinya, cabang olahraga Ice Hockey, ke dalam koleksi busana bergaya sporty-androgyny. Disaat desainer mode lain kadang terkesan menelan bulat-bulat inspirasi cabang olahraga yang digarapnya, Ruth Elke justru seolah mengajak siapa saja yang menyaksikannya menebak-nebak sumber inspirasi sang kreator. Dibawah bendera label Rue yang tak lain adalah lini busana siap pakai eksklusif miliknya, Ruth Elke menyuguhkan 8 set busana dengan dominasi warna hitam. Detil sisipan akrilik yang dapat dipasang-dicopot pada beberapa bagian busana menjadi salah satu elemen menarik yang memunculkan kesan “dingin” nan otentik.

Koleksi busana siap pakai "Number 1" yang glow in the dark.

Koleksi busana siap pakai “Number 1” yang glow in the dark.

Menyaksikan keseluruhan peragaan busana LPTB Susan Budihardjo bagi saya adalah suatu hal yang sangat menarik. Judul dan tema yang diangkat terasa sangat dekat sekaligus membawa pesan tersirat tentang gaya hidup sehat, hal positif yang sangat diperlukan masyarakat dewasa ini. Namun sayangnya, saya merasa tetap ada beberapa catatan kecil mengenai jalannya acara.

Inspirasi dari cabang olahraga tinju.

Inspirasi dari cabang olahraga tinju.

Inspirasi busana dari cabang olahraga American Football.

Inspirasi busana dari cabang olahraga American Football.

Finale koleksi busana milik Ddy Pramono Widjaja yang terinspirasi American Football

Finale koleksi busana milik Ddy Pramono Widjaja yang terinspirasi American Football

Persembahan siswa LPTB Susan Budihardjo yang terinspirasi cabang-cabang olahraga.

Persembahan siswa LPTB Susan Budihardjo yang terinspirasi cabang-cabang olahraga.

Salah satunya adalah momen peragaan busana yang tak lain merupakan presentasi akbar karya para siswa dan alumnus saya rasakan tak tersusun rapi. Para model yang berjalan di atas lintasan catwalk sering kali terasa tumpang tindih antara satu dan yang lain, terutama pada saat parade. Hal ini menyebabkan saya yang menyaksikan jalannya acara terkadang lepas konsentrasi terhadap satu busana yang sedang dipertontonkan di atas lintasan catwalk karena model busana lainnya sudah menyusul masuk dalam jarak yang terlalu dekat. Hal lain yang turut mengganjal pikiran saya adalah tentang pemilihan musik pengiring yang kadang terasa terlampau nge-pop, dan pengaturan lighting yang kadang memusingkan kepala.

Namun terlepas dari semua hal tadi, LPTB Susan Budihardjo tetap sukses mengajak saya pada pengalaman berbeda menyaksikan peragaan busana berbalut unsur inspirasi olahraga yang kental. Setelah ini, saya pasti menunggu-nunggu apalagi judul dan tema besar yang akan diusung pada tahun-tahun selanjutnya. Saya harap saya bisa menyaksikannya kembali 😀

“Tale of The Goddess” ; Dongeng Sang Dewi Dari Lima Ksatria Mode Indonesia

Lima ksatria mode diberikan satu benang merah. Kelimanya diminta untuk menerjemahkan sosok “dewi” dalam koleksi busana pamungkasnya. Lima ksatria menyusun strategi, coba melukisan “dewi” dalam interpretasi tersendiri. Lima cerita tentang sosok “dewi” disuguhkan. Kelima ksatria mode seolah mendongeng dengan caranya masing-masing. Penasaran?

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Pidato Penutupan Jakarta Fashion Week 2014 oleh Svida Alisjahbana

Dewi Fashion Knights bukan lagi sekadar peragaan busana penutup rangkaian Jakarta Fashion Week setiap tahunnya. Bukan lagi hanya sebatas ajang pameran karya para “ksatria mode” Indonesia. Bukan juga sebuah pesta mode yang selesai tuntas dalam satu malam perayaan. Lebih dari itu, bagi saya, Dewi Fashion Knights telah menjelma sebagai legenda dalam setiap penyelenggaraan Jakarta Fashion Week.

Desainer mode Indonesia terpilih. Karya busana mutakhir yang mengundang decak kagum. Barisan model peraga busana yang dipilih secara teliti. Konsep matang yang dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Tim koreografer jempolan yang ditugaskan khusus untuk mengeksekusi jalannya acara. Bila dirangkumkan, semua hal tadi tak lain adalah formula esensial dalam mencipta Dewi Fashion Knights sebagai legenda peragaan busana di Jakarta Fashion Week.

Namun terlepas dari semua itu ada beberapa hal penting lainnya yang menjadikan Dewi Fashion Knights layaknya legenda di Jakarta Fashion Week. Bagi saya, gelar legenda patut disematkan pada Dewi Fashion Knights karena peragaan mode ini adalah salah satu barometer terpenting dunia mode Indonesia yang mampu merepresentasikan karya visioner para desainer mode Indonesia terpilih. Dalam tahun-tahun pelaksanaannya, pecinta mode acap dibuat terperangah oleh karya busana mengagumkan yang ditampilkan. Tapi kadang, Dewi Fashion Knights juga meninggalkan kontroversi tersendiri mengenai ksatria mode yang dipinang atau karya busana yang ditampilkan. Lalu, jadilah peragaan busana pamungkas ini sebagai buah bibir yang terlalu menarik bila hanya dibicarakan semalaman, begitu pula pada perhelatannya di tahun ini.

Dewi Fashion Knights "Galore"

Dewi Fashion Knights “Galore”

Membicarakan Dewi fashion Knights tentu tidak bisa lepas dari nama-nama desainer mode yang dipinang sebagai “ksatria” di dalamnya. Ya, ksatria, sesuai dengan nama gelaran ini, para desainer mode yang dipilih untuk menampilkan karyanya dalam Dewi Fashion Knights lantas diberi gelar “ksatria mode”. Setelah di tahun sebelumnya, Dewi Fashion Knights menghadirkan Sapto Djojokartiko, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Priyo Oktaviano dan Deden Siswanto, pada tahun 2013 ini, Dewi Fashion Knights hanya mempertahankan Priyo Oktaviano dan Oscar Lawalata dalam jajaran ksatria mode yang turut berpartisipasi, sementara Toton Januar, Populo Batik adalah nama baru yang dipinang Dewi Fashion Nights melengkapi kembalinya Tex Saverio dalam singgasana ksatria mode Indonesia.

Mengusung tema “Tale of The Goddess” lima ksatria mode diminta untuk menginterpretasikan definisi “dewi” sebagai sosok wanita modern dari kacamata kreatifitas masing-masing. Berangkat darisana kelimanya pun merangkai cerita yang bersumber pada interpretasi mereka tentang sang “dewi”, lalu mentransformasikannya ke dalam  koleksi busana yang dipersembahkan khusus untuk Dewi Fashion Knights. Dan inilah para ksatria serta kisah mereka tentang sang “dewi” :

Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Finale Oscar Lawalata “My Name is Andromeda”

Tampil sebagai pembuka Dewi Fashion Knights, Oscar Lawalata mengisahkan “dewi” yang ada dalam kepalanya dalam rangka imajinasi indah namun misterius layaknya keadaan galaksi di angkasa luas. Nama galaksi tetangga Bimasakti, Andromeda, pun ikut disematkan pada tajuk untuk koleksi busananya, “My Name is Andromeda”. Sisi kekuatan dan kelemahan yang ada dalam sosok wanita ia ibaratkan layaknya peleburan galaksi yang misterius dan memiliki dua citra utama sebagai tempat yang asing berlatar hitam yang menyimpan kekuatan besar nan magis, sekaligus hamparan bintang dan planet yang membentuk pola keindahan tersendiri.

Konstruksi kisah “dewi” seolah ia bangun sebagai sosok wanita yang memiliki kecantikan misterius dengan kepribadian kuat yang terwujud dalam busana berpalet warna hitam. Menggunakan material utama kain sutra berwarna hitam, Oscar Lawalata menghadirkan busana bergaris rancang geometris dengan siluet flare. Pada beberapa busana Oscar Lawalata juga terasa meminimalisir pemotongan dan pengikatan bahan sehingga busana-busana yang ditampilkan layaknya jubah ringan yang dikenakan dengan cara sedemikian rupa oleh para model. Atasan dan celana bersiluet flare, rok midi A-line, celana kulot yang menyerupai rok panjang dan beberapa atasan berdetil cut out serta draperi disajikan Oscar untuk koleksi berpalet warna hitam miliknya.

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Busana bersiluet flare dengan detil draperi pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Renata

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Atasan bergaris rancang tegas dipadu celana kulot dari sutra hitam pada “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata. Model: Dominique Diyose

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam "My Name is Andromeda" oleh Oscar Lawalata

Busana berpotongan lurus dengan palet warna cerah dalam “My Name is Andromeda” oleh Oscar Lawalata

Usai menampilkan palet warna hitam, kini giliran palet warna cerah seperti putih, merah, pink, oranye dan ungu yang dipilih Oscar Lawalata. Pada sekuensnya yang kedua, sang desainer seakan ingin menampilkan warna keindahan galaksi melalui ragam busana yang ia buat dalam siluet yang longgar. Gaun-gaun pendek dengan garis rancang sederhana bersiluet flare serta A-line pun ia jadikan sajian utama.

Menutup akhir sesi peragaan busana, Oscar lantas memberi sebuah kejutan kecil. Desainer mode berpenampilan androgini ini menyusup ke dalam barisan model peraga busananya dan berlenggok bersama mereka disepanjang lintasan catwalk Jakarta Fashion Week. Sebuah kejutan kecil yang langsung memicu riuh rendah tepuk tangan dari dalam Fashion Tent Jakarta Fashion Week 2014.

Populo Batik

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer 'Slobok'

Koleksi busana pria bergaya kasual dari Populo Batik dengan motif batik kontemporer ‘Slobok’

Keberadaan Populo Batik dalam jajaran ksatria mode Dewi Fashion Knights mau tak mau sempat membuat saya mengerutkan kening. Pasalnya, baru kali ini rasanya Dewi Fashion Knights menunjuk lini busana yang sangat berorientasi ready-to-wear dan produksi cukup massal ke dalam jajaran para ksatria. Memang, lini busana ready-to-wear bukan hal yang baru pada Dewi Fashion Knights, di tahun sebelumnya pun ada SPOUS, lini busana siap pakai kepunyaan Priyo Oktaviano. Namun, tetap saja keberadaan Populo Batik pada Dewi Fashion Knights terasa cukup ganjil bagi saya. Mungkin karena saya selama ini lebih akrab dengan Dewi Fashion Knights yang selalu menghadirkan nama-nama desainer mode dengan lini utamanya atau lini kedua yang tetap saja menguarkan aroma eksklusivitas tinggi, teknik pembuatan rumit dan konsep yang tertata jeli khas karya busana desainer mode pada umumya.

Tetapi nyatanya lini busana milik Bai Soemarlono dan Joseph Lim melenggang mulus di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights dengan koleksi busana batik bergaya kasual dan modern. Mengedepankan koleksi busana bergaya kekinian, Populo Batik lebih banyak bermain dengan motif batik kontemporer berbentuk garis dan geometris. Adapun sisi klasik dari kain Batik yang dipertahankan ialah teknik pembuatan dan pewarnaan motif pada kain batik yang menggunakan alat-alat untuk membuat batik tulis serta batik cap.

IMG_7669

Koleksi busana wanita siap pakai oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Firrina

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Gaun batik kontemporer yang terlihat santai nan kasual oleh Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kusuma Wardhany

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men's Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Luaran berupa jubah panjang dalam koleksi Men’s Wear Populo Batik untuk Dewi Fashion Knights. Model: Dion Wiyoko

Pada pembuktian eksistensinya dalam Dewi Fashion Knights, lini busana ready-to-wear yang sudah ada sejak tahun 1994 ini seolah menerjemahkan sosok “dewi” yang lekat dengan imej magis dan mengagumkan sebagai sosok wanita modern masa kini yang bisa jadi tersusup diantara orang-orang yang biasa kita jumpai sehari-hari. Interpretasi kata “goddess” yang ada dalam tajuk Dewi Fashion Knights kali ini juga dipersembahkan duo Bai dan Joseph pada perajin batik yang mereka rasakan sebagai salah satu perwujudan “goddess” bagi keduanya. Memadukan hasil kreasi motif batik tulis dan batik cap kontemporer hasil modifikasi motif klasik, Populo lantas mengaplikasikan keduanya pada lebih dari 20 pasang busana women’s wear dan men’s wear. Blus, celana model Capri, celana panjang lurus, rok, blazer, kemeja, hoodies, rompi, gaun, hingga luaran seperti jubah menjadi bagian dari koleksi Populo Batik pada gelaran Dewi Fashion Knights.

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Toton Januar “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”

Terinspirasi oleh keindahan bawah laut yang begitu mempesona sekaligus menyimpan sisi misterius yang tak bisa terelakan, Toton Januar mendongengkan kisah sang “dewi” dalam tajuk “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss”. Ketika menyaksikan dan melafalkan lamat-lamat judul yang dipilih Toton, alam imaji saya membentuk penafsiran tersendiri tentang alur cerita yang mungkin tersimpan dalam rangkaian koleksi milik desainer muda yang baru memulai labelnya di tahun 2012 silam ini.

Saya membayangkan bahwa “dewi” yang diceritakan Toton Januar seperti dongeng-dongeng tentang sosok wanita tangguh penguasa lautan luas yang akhirnya diketahui keberadaannya oleh seorang Raja atau Sultan dari sebuah negeri. “dewi” penguasa lautan dan Sultan lalu menjadi cerita, entah cerita cinta, petualangan, atau sekadar cerita tentang kekaguman pada sosok “dewi” yang begitu melenakan.

Dalam hal koleksi yang ditampilkan, Toton menghadirkan 10 set busana bergaris rancang unik yang sangat khas. Potongan asimetris banyak ia suguhkan bersama padupadan detil ruffles, bahan transparan, bordir, payet berkilauan dalam pasang-pasang busana berstruktur tegas yang memiliki kesan bahwa Toton menampilkan “dewi” dalam ceritanya sebagai sosok yang kuat meski terselip pula kesan feminin dan romantis.

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Padupadan busana berpotongan tegas dan material transparan pada koleksi Toton Januar untuk Dewi Fashion Knights. Model: Michelle Agnes

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Koleksi Toton Januar dalam “The Sultan and The Mermaid Queen: Abyss” untuk Dewi Fashion Knights. Model: Putri Sulistyo

Interpretasi "dewi" oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Interpretasi “dewi” oleh Toton Januaryang mengambil inspirasi dari keindahan bawah laut. Model: Reti Ragil

Jalinan cerita tentang “dewi” lautan yang didongengkan Toton pun kembali terlihat pada pemilihan warna dalam busananya. Warna hijau kebiruan, warna putih gading, dan beberapa sentuhan warna cerah seperti oranye merupakan interpretasi sang desainer terhadap warna laut dan ekosistem di dalamnya. Namun, tentang pemilihan warna yang ditampilkan Toton, saya pribadi merasakan bahwa warna-warna yang ia pilih cenderung pucat sehingga menghasilkan kesan latar belakang lautan yang tenang namun misterius dibandingkan dengan lautan yang kaya akan keindahan ekosistem.

Sisi lainnya yang juga menarik untuk ditilik pada rangkaian koleksi Toton Januar kali ini adalah pemilih model yang membawakan koleksi busana. Deretan model berwajah khas Indonesia yang dipilih Toton sebagai garda depan dalam presentasi karyanya seakan menciptakan kesan bahwa dongeng “dewi” lautan dan keindahan bawah laut yang sedari awal ia usung merupakan representasi gambaran keindahan lautan Indonesia.

Priyo Oktaviano “Galore”

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya "Galore" pada Dewi Fashion Knight

Sang ksatria mode, Priyo Oktaviano bersama koleksinya “Galore” pada Dewi Fashion Knights

Tantangan interpretasi sosok “dewi” yang diberikan Dewi Fashion Knights melambungkan tinggi imajinasi Priyo Oktaviano pada kemegahan Istana kebanggan rakyat Perancis Château de Versailles” dan pesona kemewahan kain Tapis Lampung yang tidak lain adalah perlambang kejayaan Kerajaan Lampung di masa lalu. Bersamaan dengan latar belakang kemegahan, kemewahan, dan kejayaan itu, Priyo Oktaviano lantas menemukan sosok wanita kuat, gagah, memiliki keberanian untuk keluar dari wilayah privat, tetapi tetap menyimpan sisi feminin serta kecantikan yang sulit terbantahkan. Aroma “Femme Fatale” pada koleksi Priyo kali ini pun terasa menguar kuat. Sosok “dewi” seolah diterjemahkan Priyo ke dalam sosok wanita yang tahu benar bagaimana ia mampu mempergunakan kekuatan, daya tarik sekaligus kecantikannya untuk membuat siapa saja tidak hanya mengagumi tetapi bertekuk lutut pada sosoknya.

Telah menjadi bagian dari Dewi Fashion Knights sejak tahun 2008, pada keterlibatannya kali ini sang ksatria mode mempertemukan dua kebudayaan dari dua belahan dunia berbeda. Megahnya arsitektur interior Istana Versailles di Prancis menjadi rangka inspirasinya dalam mempersembahkan 12 set busana wanita dalam tema “Galore”, kemegahan. Meski rangka inspirasi ia susun dari kemegahan arsitektur interior Istana Versailles, adalah hal yang keliru bila mengira bahwa inspirasi Istana yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Louise XVIII yang akan jadi primadona. Dalam rangkaian koleksi milik desainer berkacamata ini, justru kain Tapis Lampung yang ia gunakan sebagai aspek pengisi rangka inspirasilah yang mencuat menempati posisi puncak limpahan perhatian ketika koleksi dipresentasikan.

Melalui 12 set busana wanita yang bersiluet gagah, bergaris potong tegas, kuat dan terkesan androgini layaknya seragam perang sang Jenderal Perancis, Napoleon Bonaparte. Hadir dalam warna-warna yang terkesan mewah dan gagah seperti emas, hitam, dan merah, Priyo Oktaviano menggunakan material inti 80% kain Tapis Lampung yang kemudian ia olah dalam kemasan kemegahan ala Eropa.

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Gaun beraksen ruffles yang terinspirasi oleh Marie Antoinette pada koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Kelly Tandiono

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Busana wanita bernuansa androgini yang terinspirasi oleh seragam perang Napoleon Bonaparte dalam koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano. Model: Chloe Clau

Gaun pamungkas koleksi "Galore" oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knight. Model: Kimmy Jayanti

Gaun pamungkas koleksi “Galore” oleh Priyo Oktaviano untuk Dewi Fashion Knights. Model: Kimmy Jayanti

Keindahan kain Tapis Lampung yang dikerjakan secara manual menggunakan gedokan dan teknik sulam(cucuk) ditransformasikan ke dalam bentuk busana hasil penafsiran kemewahan dan kemegahan Istana Versailles. Langit-langit megah istana, dinding-dinding penuh dekoratif mewah nan artistik hingga ukiran kayu dan gypsum klasik yang seolah mempigurakan keindahan abadi Istana Versailles diterjemahkan lewat siluet busana bervolume  tegas dan teknik patchwork  yang digunakan dalam pengaplikasian kain Tapis Lampung pada tiap panel busana.

Sentuhan warna emas pekat, motif geometris di helai kain Tapis Lampung, dan aksen ruffles  yang mempercantik gaun kreasi Priyo Oktaviano, masing-masing merujuk pada banyaknya ornamen emas di Istana Versailles, pola dinding bagian dalam Istana Versailles, serta cerminan gaya berbusana Ratu Marie Antoinette, sang permaisuri Raja Louise XIV yang kontroversional. Detil koleksi busana pun bertambah kaya dengan banyak permainan bordir berbentuk daun ivy(daun kemakmuran bagi rakyat Perancis) dan manik-manik yang dibentuk menyerupai matahari.

Tex Saverio Prive “Exoskeleton”

Sosok "dewi" dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk "Exoskeleton".

Sosok “dewi” dari masa depan yang dituangkan Tex pada busana yang mengaplikasikan teknik print 3D bertajuk “Exoskeleton”.

Tex Saverio memiliki tafsiran tersendiri tentang sosok “dewi”. Bagi desainer muda yang namanya meroket setelah gaun rancangannya dikenakan Lady Gaga ini, sosok “dewi” yang berkembang dalam imajinasinya adalah sesosok wanita dengan keanggunan yang tak biasa. Dalam imajinasinya, “dewi” adalah seorang wanita, namun bukan manusia, dan ia datang dari masa depan. Imajinasi akan sosok “dewi” yang bukan manusia dalam bayangan Tex Saverio ini kemudian ia tuangkan dalam 5 set busana wanita dengan dominasi warna hitam yang mau tak mau memunculkan kesan magis nan misterius dari sosok “dewi” yang coba ia hadirkan.

Lebih jauh, bayangan mengenai sosok “dewi” yang berasal dari masa depan lantas ia coba terjemahkan melalui pengaplikasian teknologi rumit printing 3D. Suatu teknik terbilang langka di dunia mode namun acap kali dipergunakan oleh desainer couture asal Belanda Irish van Herpen dalam karyanya. Meski bukan hal yang terlampau baru di dunia mode, penggunaan print 3D oleh Tex Saverio adalah yang pertama kali dilakukan oleh desainer mode di Indonesia. Untuk menerapkannya dalam busana pun terbilang rumit, selain harus menggunakan software khusus untuk menggambar pola yang diinginkan, Tex harus melakukan pemindaian langsung pada tubuh model saat akan membuat cetakan yang nantinya digunakan untuk pencetakan material besi khusus yang digunakan. Bahan baku besi yang digunakan pun tak main-main, untuk urusan satu ini, Tex Saverio menggunakan bahan besi yang biasa dipergunakan untuk kebutuhan seragam perang.

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam "Exoskeleton". Model: Christina Borries

Koleksi busana dengan dominasi warna hitam dan metalik yang dihadirkan Tex Saverio dalam “Exoskeleton”. Model: Christina Borries

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok "dewi" Tex Saverio. Model: Simona

Jubah hitam berbahan velvet semakin menguatkan kesan magis nan misterius dari interpretasi sosok “dewi” Tex Saverio. Model: Simona

Busana penutup koleksi Tex Saverio "Exoskeleton", print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Busana penutup koleksi Tex Saverio “Exoskeleton”, print 3D ia tampilkan secara maksimal pada bagian atas busana dan head piece. Model: Paula Verhoeven

Digadang sebagai momen pertama penggunaan print 3D di Indonesia, rangkaian koleksi busana Tex Saverio terdiri atas 4 gaun panjang dan 1 busana bersiluet swim suit berwarna metalik. Dalam presentasinya di atas lintasan catwalk Dewi Fashion Knights, busana koleksinya itu dilengkapi dengan jubah velvet berwarna hitam yang semakin menguatkan kesan “gelap” dan misterius. Pemberian urutan presentasi bungsu yang diberikan kepada Tex pun mampu ia gunakan dengan cukup apik untuk menyerap perhatian maksimal dari para tetamu dan awak media di Dewi Fashion Knights dengan menyajikan kelima set busana di bawah spot light yang dramatis. Adapun judul “Exoskeleton” atau dapat dimaknai sebagai kerangka keras yang berada diluar tubuh dipilih Tex untuk judul koleksinya kali ini. Bagi Tex, “Exoskeleton” merupakan perumpamaan sebagai pelindung  seperti sosok “dewi” yang coba ia hadirkan dalam tiap pasang busananya.

Biyan “POSTCARD”, Perayaan 30 Tahun Kreativitas, dan Ekspetasi Tinggi

Selama dua tahun berturut-turut menyaksikan koleksi busana dalam peragaan tahunan Biyan adalah suatu kenikmatan tak terganti. Kenikmatan yang membuat candu, kenikmatan yang bila terlewatkan akan membuahkan suatu penyesalan. Namun rupanya saya juga perlu berhati-hati dengan ekspetasi yang terlalu tinggi, ya, meskipun di tahun ini merupakan perayaan 30 tahun Sang Desainer Legendaris berkarya.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Dua tahun telah berlalu sejak pertama kali saya bisa menikmati peragaan busana tahunan milik Biyan Wanaatmadja atau yang lebih dikenal dengan Biyan. Dua tahun mungkin bukan waktu yang lama, tetapi saya rasa bukan juga waktu yang terlalu singkat. Ukuran waktu mungkin memang relatif, berbeda bagi setiap orang, tergantung cara pandang dan presfektif masing-masing. Dua tahun bisa saja dianggap baru kemarin sore. Dua tahun bisa saja dikatakan masa lalu dengan seabrek hal yang telah berlalu. Terlepas dari semua itu, yang saya tahu dalam dua tahun kemarin, saya sudah melalui dua kali peragaan busana tahunan Biyan, “The Orient Revisited” di tahun 2011, dan “Foliage” pada tahun 2012.

Dua peragaan busana tahunan Biyan atau yang biasa disebut “Biyan Annual Show” sudah saya lalui. Meski waktu telah berlalu dan kedua bola mata saya sudah menyaksikan ratusan busana dalam peragaan busana lain, saya hampir tidak pernah lupa detil yang ada pada kedua peragaan busana tahunan Biyan yang pernah saya nikmati. Saya tidak pernah melupakan atmosfernya, tata panggungnya, jajaran model yang memperagakan busananya, dan tentunya koleksi busana itu sendiri. Saya masih ingat semua. Mungkin bukan karena ingatan saya sekuat badak, tapi karena peragaan busana tahunan milik Biyan terlalu mengagumkan untuk dilupakan.

Ada yang mengatakan bahwa kesuksesan seorang desainer –dalam hal ini tentu saja desainer mode- tidak hanya diukur dari seberapa banyak klien prestisius yang ia miliki, seberapa tinggi pencapaian yang telah diraih, dan seberapa menggema namanya di penjuru dunia, tetapi juga dipandang dari sumbangsih berkesinambungan serta kontribusi positif untuk terus bertumbuh yang ia berikan bagi perkembangan dunia mode tanah airnya. Tidak perlu diragukan, seorang Biyan Wanaatmadja telah meraih semua hal tadi dalam satu paket lengkap.

Tepat di tahun 2013 ini, desainer sempat mengenyam pendidikan mode di Muller & Sohn Privatmodeschule, Duesseldorf, Jerman, dan The London College of Fashion ini menorehkan tinta emas 30 tahun berkarya di dunia mode Indonesia. Sebagai seorang desainer mode, Biyan telah memiliki hampir semua aspek yang diimpikan para desainer mode. Ia memiliki banyak klien prestisius, koleksi busananya selalu ditunggu dan dielu-elukan, karyanya sudah merambah ke berbagai penjuru dunia, namanya seakan menjadi jaminan dalam setiap karyanya, dan tidak bisa dibantah jika Biyan telah menjadi inspirasi banyak desainer mode muda Indonesia. Singkatnya, ia begitu disegani dan dicintai.

Ada banyak hal yang telah terjadi selama 30 tahun Biyan berkarya. Ada banyak kenangan yang patut untuk diabadikan selama tiga dekade perjalanan kreativitasnya.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard". Model: Fahrani

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”. Model: Fahrani

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard". Model: Kimberly Ryder

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”. Model: Kimberly Ryder

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard". Model: Renata

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”. Model: Renata

Biyan telah singgah di berbagai tempat, dalam berbagai waktu, dalam bermacam suasana, dalam beraneka kesempatan. Bagi Biyan, setiap tempat memiliki kenangannya sendiri dan kartu pos yang sering ia temui seakan mencerminkan perjalanan kreativitasnya. Karena itu, ia memilih tema “POSTCARD” dalam peragaan busana tahunannya kali ini. Dalam lembaran press release yang saya terima, Biyan mengatakan bahwa “POSTCARD” yang menjadi tema utama koleksinya seperti menjadi memorabilia sejarah, budaya, warisan, generasi, dan energi rangkuman pelancongan kreativitasnya selama tiga dekade, baik di dalam dan di luar negeri.

Detik-detik menjelang peragaan busana memang selalu mengaduk-aduk perasaan saya. Rasa semangat dan penasaran tentang bagaimana koleksi yang akan beliau tampilkan serta dekorasi mempesona macam apa lagi yang akan disuguhkan. Lalu, ada terselip perasaan gugup yang entah mengapa selalu muncul begitu saja pada diri saja setiap kali bersemangat. Parahnya lagi, bila saya terlalu bersemangat dan penasaran, rasa gugup itu akan meningkat berkali-kali lipat dan kerap membuat saya mual. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi itulah yang saya rasakan pada detik-detik menjelang peragaan busana tahunan Biyan pada Rabu malam(02/06) lalu.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, saya melangkahkan kaki ke dalam Grand Ballroom Hotel Mulia –tempat berlangsungnya peragaan busana- sekitar satu jam sebelum jadwal peragaan busana dihelat. Seperti di tahun-tahun sebelumnya pula, perasaan campur aduk saya semakin menjadi-jadi tatkala saya semakin jauh melangkahkan kaki.

Di dalam kepala saya sudah berputar-putar berbagai potongan ingatan dan juga bayangan pengelihatan yang akan datang. Maksud saya, potongan ingatan dari dua peragaan busana terdahulu Biyan yang terlalu mengagumkan untuk dilupakan, dan bayangan saya akan peragaan busana kali ini yang saya duga tidak akan cukup bila hanya diwakilkan dengan kata mempesona atau mengagumkan saja. 30 tahun berkarya. 30 tahun perayaan kreativitas sang legenda. Dan jaminan nama seorang Biyan Wanaatmadja. Sangat lumrah rasanya bila saya memiliki ekspetasi yang amat tinggi.

Memasuki Grand Ballroom Hotel Mulia dan berdiri tepat di depan panggung peragaan busana untuk beberapa waktu membuat saya menyadari beberapa hal. Ruangan megah itu terasa amat “bersih”. Tidak ada dekorasi berupa pepohonan rindang dengan bau menenangkan yang khas seperti di tahun sebelumnya. “Bersih”, seperti peragaan busana tahunan Biyan dua tahun lalu, “The Orient Revisited”.

Namun kehadiran empat “penjaga” di pangkal panggung peragaan busana Biyan membuat saya cukup terperangah. Ya, ada empat Burung Garuda sangat besar yang menggantung kokoh disana. Keempat Burung Garuda yang jadi bagian dari dekorasi panggung peragaan busana. Dan keempat “penjaga” itu  pun semakin menarik saat saya menyadari bahwa lantai panggung peragaan busana yang terbuat dari kayu atau yang biasa disebut parket.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

“The Radiance Postcard” adalah judul lengkap peragaan busana tahunan Biyan kali ini. Judul tersebut diambil dari kata “Radiance” yang terdapat pada salah satu produk kecantikan yang menjadi sponsor utama peragaan busana Biyan, dan “POSTCARD” embrio sentral inspirasi koleksi Biyan. Menampilkan sekitar 100 set koleksi, peragaan busananya kali ini seumpama buah tangan istimewa Biyan selama melakukan 30 tahun perjalanan ke berbagai tempat yang pernah ia singgahi selama menggeluti karirnya di dunia mode.

Menyaksikan peragaan busana “The Radiance Postcard” saya seperti melihat mozaik-mozaik perjalanan Biyan selama ini.

Diawali dengan sekuens yang menampilkan koleksi busana didominasi warna putih, saya seolah diajak kembali menengok masa-masa polos kertas putih kehidupan yang belum terbubuhi warna. Di sekuens pembuka ini, saya sempat terpesona dengan koleksi-koleksi yang dihadirkan. Sisi tanpa dosa alias innocent tergambar jelas dari busana-busana berwarna putih yang menerawang pada atasan. Selain kesan innocent yang sangat kental, pada sekuens pembuka ini aura romantic dan sophisticated pun terasa membungkus keseluruhan busana.

Setelah sekuens pembuka usai, koleksi busana yang ditampilkan berlanjut pada rangkaian busana yang inspirasinya banyak diambil dari pakaian adat pria dan wanita Indonesia tempo dulu. Biyan menterjemahkan koleksinya kedalam suatu komposisi persilangan antara siluet maskulin dengan spirit yang feminin. Jaket-jaket yang terlihat maskulin ia padukan dengan roses lace skirt overlayered diatas celana, gaun berbahan tulle yang berpotongan feminin pun ia padankan dengan short pants yang terkesan boyish. Esensi busana Jawa dengan unsur seragam era kolonial diselaraskan dalam konsep androgini yang gagah namun cantik. Tidak lupa ia turut mengambil inspirasi dari siluet jarik dan kebaya pada koleksinya kali ini. Motif cetak yang terinspirasi dari motif kain batik, sarung, serta kerajinan tikar yang dicetak sangat besar pada kain busana kemudian menjadi nilai tambah yang luar biasa pada koleksi Biyan kali ini.

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard"

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”

Biyan Annual Show 2013 "The Radiance Postcard".

Biyan Annual Show 2013 “The Radiance Postcard”.

Dalam hal pemilihan bahan sendiri, Biyan lebih banyak bermain pada bahan-bahan bertekstur ringan seperti organza, tulle, dan light silk. Bagi Biyan, pemilihan bahan-bahan bertekstur ringan seperti ini diperuntukkan pada para wanita yang tidak takut untuk menampilkan keindahan kulit tubuhnya. Penggunaan bahan kain juga ia padupadankan dengan cara yang tidak biasa, misalnya kain transparan bermotif cetak dipadu dengan sulaman yang indah berkilauan dan ditabrak dengan lace, serta kain sutra bermotif cetak diaplikasikan dalam bentuk bordiran diatas kain tulle yang transparan pula.

Sementara untuk warna, Biyan nampak lebih senang menggunakan warna-warna pupus yang tidak mencolok namun memunculkan keanggunan dan eleganitas tersendiri. Palet warna khas Biyan, dusty pastels lembut seperti putih pupus, abu-abu, peach, merah muda, coklat susu tampil kontas dengan warna sogan, biru tua, hitam, serta banyak aksen perak dan keemasan pada koleksi cetak kali ini.

Sekitar 100 set busana dibawakan oleh puluhan model dalam rentan waktu kurang dari satu jam, dan sayangnya dahi saya terus mengerut usai sekuens pembuka usai. Keindahan rangkaian busana Biyan dalam “The Radiance Postcard” memang sangat terasa. Saya begitu terpesona di sekuens pembuka, namun sayangnya setelah itu saya harus bisa berpikir keras untuk mendapatkan perasaan yang sama. Saya harus benar-benar memperhatikan dengan seksama motif-motif batik yang begitu besar dan luar biasa indah yang tercetak di atas busana.

Saya harus bisa benar-benar menangkap motif garuda sangat besar, ikan koi sangat menarik, dan juga motif-motif bunga raksasa yang tercetak pada busana sebelum benar-benar mengaguminya. Mungkin terasa aneh kenapa saya harus sebegitu memperhatikannya padahal motif-motif itu tercetak besar, tapi saat itu saya merasa ada jarak yang begitu jauh dengan koleksi. Pengaturan para model yang beberapa kali terlalu dekat jaraknya satu dengan lainnya membuat saya beberapa kali hilang fokus, begitu pula deretan kursi-kursi penonton yang diatur berjajar di depan photographer pit –tempat saya lebih senang berada bersama kamera saku saya- sering kali menyulitkan untuk melihat dan hampir tidak bisa mengabadikan gambar karena terhalang kepala. Selain itu, ketika memperhatikan koleksi-koleksi tersebut pikiran dan hati saya sudah terlanjur terkontaminasi rasa De Javu yang begitu domininan. Ya, lagi-lagi saya De Javu. Sama seperti yang saya rasakan di tahun lalu.

Musik pengiring peragaan busana pun sempat membuat saya bertanya-tanya. Awalnya saya merasa bunggah saat Biyan menggunakan lagu “Dago Inang Sarge” di tengah peragaan busana. Lagu asal daerah Tapanuli ini terdengar pas dengan atmosfer peragaan busana, namun beberapa saat kemudian lagu-lagu lain silih berganti, lagu-lagu yang entah mengapa seolah menjadikan suasana terasa asing dan tidak lagi sama bagi saya.

Menyaksikan peragaan busana “The Radiance Postcard” saya seperti menengok kembali koleksi-koleksi sang maestro terdahulu. Garis rancang, potongan busana, perasaan yang dihasilkan, warna-warna yang digunakan, sedikit banyak motif-motif yang digunakan, hampir semua itu seakan pernah juga saya saksikan pada peragaan busana di tempo lalu. Namun jangan sekali-kali berpikir bahwa koleksi yang disajikan adalah benar-benar pengulangan. Tentu saja tidak. Hanya saja memang ada banyak cita rasa sama yang kembali ditonjolkan.

Lalu saya mencoba memutar presfektif saya ke sisi lain, sama seperti tahun kemarin, bahkan yang saya tulis setelah ini hanya hasil memindahkan tulisan saja:

Mungkin karena ciri khas siap pakai yang sudah terpatri erat pada garis rancang Biyan, atau mungkin memang Biyan masih ingin melanjutkan benang merah rangkaian koleksinya yang terdahulu. Atau, karena konsep mendasar yang ia usung tetaplah sama, mudah dipakai serta mudah dipadupadankan, nyaman namun tetap mengedepankan sisi gaya dan anggun sekaligus berkarakter kuat. Hal yang kemudian ia rekatkan menjadi satu kesatuan koleksi busana yang memiliki daya tarik tinggi meski terkesan sederhana dan santai.

Kemudian saya tambahkan:

Atau mungkin memang ekspetasi saya saja yang terlalu tinggi dan berlebihan. Tak begitu paham bahwa inilah Biyan dengan segala benang merah koleksi yang selalu ia tampilkan. Ya, ekspetasi saya terlalu tinggi untuk Biyan, rangkaian koleksinya dan presentasi peragaan busana tahunan kali ini. 

Namun terlepas dari itu semua, saya tetap sangat mengaguminya sang legenda, Biyan Wanaatmadja.

Refleksi Gaya Pria oleh Oka Diputra

Pilihan warna monokromatik koleksi Oka Diputra di IFW 2013. Model: Andaka Dewangga

Pilihan warna monokromatik koleksi Oka Diputra di IFW 2013. Model: Andaka Dewangga

Memulai karir di dunia mode sejak tahun 90an, nama Oka Diputra dikenal luas berkat rancangan busananya yang unik. Desainer kelahiran Surabaya, 18 September 1970 ini hampir selalu menggunakan teknik potong bias dan meminimalisir penggunaan kancing serta ritsleting dalam busana rancangannya, sebagai gantinya, ia lebih senang mamakai teknik ikat pada busana. Hasilnya, busana karyanya selalu khas, terlihat praktis, multifungsi, mudah dipadupadankan, minim ornamen namun memiliki daya pakai yang tingi.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Siluet celana jodhpur dan tank top pria pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Siluet celana jodhpur dan tank top pria pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Hoodie deep V neck jadi bagian dari koleksi Oka Ciputra di IFW 2013.

Hoodie deep V neck jadi bagian dari koleksi Oka Ciputra di IFW 2013.

Setelah sebelumnya Oka Diputra lebih banyak berkutat dalam dunia rancang busana perempuan, pada perhelatan Indonesia Fashion Week 2013(IFW 2013) desainer anggota APPMI ini kembali melirik ranah rancang busana pria yang dulu sempat ia tekuni diawal karirnya. Menghadirkan sekitar 15 set busana pria, kita seakan diajak untuk mengenal sang kreator lebih dalam, terutama gaya penampilannya. Pecinta, pemerhati, serta penikmat mode yang mengenal atau mengetahui sosok Oka Diputra pasti sudah akrab benar dengan gaya berbusananya, dan hal itulah yang jadi embrio inti rangkaian busana koleksinya kali ini. Rangkaian busana tersebut angat terasa merefleksikan gaya serta karakter sang desainer yang edgy, unik, dan twisty.

Detil print motif burung pada unsleeves shirt Oka Diputra di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Detil print motif burung pada unsleeves shirt Oka Diputra di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Kemeja putih dengan detil print motif burung di bagian bahu yang mencuri perhatian pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Kemeja putih dengan detil print motif burung di bagian bahu yang mencuri perhatian pada koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Koleksi Oka Diputra di IFW 2013.

Dalam rangkaian koleksi teranyarnya, Oka Diputra menyuguhkan busana pria yang unik dan edgy. Celana harem, celana jodhpur, knickerbockers, hingga celana bersiluet super ramping dihadirkan Oka Diputra bersama pasangan atasan yang tak kalah menarik misalnya saja kemeja bermotif burung, rompi, glittery crop tee, hingga kaus model tank top. Untuk masalah detil, Oka Diputra terasa sangat piawai memainkannya, tidak hanya motif burung-burung pada kemeja dan rompi karyanya saja yang mencuri perhatian tapi juga detil cowl neck, serta hooded draped  turut jadi bagian menarik dalam koleksi busananya. Sementara dalam perkara warna, Oka Diputra mendominasi koleksinya dalam 4 warna utama, hitam, putih, abu-abu dan merah.

Kolaborasi Apik Deden Siswanto dan Pinot Noir

Finale Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Finale Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Berkarakter kuat, klasik, sarat akan maskulinitas, serta dibalut dalam sentuhan modern adalah kesan yang terlukis kala menyaksikan deretan koleksi busana milik Deden Siswanto untuk Pinot Noir. Dengan mengambil inspirasi dari sebuah film romantis era 90an, “A Walk In The Clouds”, rasanya sang desainer menuai sukses besar dalam menginterpretasikan bagian-bagian cerita dalam film tersebut ke jajaran koleksi busana teranyarnya.

Tokoh utama film bernama Paul Sutton, seorang tentang militer yang baru saja kembali dari medan perang Pasifik tahun 1945, berhasil Deden bangkitkan melalui busana siap pakai pria yang ia ramu dengan aroma military yang kental.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: J Ryan Karsten

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: J Ryan Karsten

Busana dasar semisal celana bermuda, celana panjang, kemeja lengan panjang, rompi, hingga frock coat atau mantel panjang hasil adaptasi mantel militer dari abad ke-19 dihadirkan Deden Siswanto dalam garis rancang yang tegas dan volume yang terkesan padat serta sisi maskulin yang sangat terasa. Dalam pemilihan warna, koleksi busana kali ini banyak didominasi oleh warna hijau khaki, coklat, merah marun, abu-abu, dan biru yang pada beberapa racikan busana terselip kesan lembut dan melankolis. Untuk urusan material, Deden banyak mengaplikasikan katun, linen dan voil.

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model: Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model(tengah): Darell Ferhostan

Deden Siswanto untuk Pinot Noir di IFW 2013. Model(tengah): Darell Ferhostan

Dalam keseluruhan presentasi busana karya Deden Siswanto untuk Pinot Noir di gelaran Indonesia Fashion Week 2013 ini, hal lain yang tak kalah menarik adalah bagaimana Deden mengemas satu set outfit bersama aksesoris penunjang. Syal yang dililitkan pada leher model, kalung handmade yang unik, cummerbund atau kain lebar yang biasa dikenakan untuk ikat pinggang, cap, serta topi fedora yang jadi aksesoris pelengkap menjadikan keseluruhan koleksi terasa makin hidup dan menarik.