A Study of Light; Kekuatan Cahaya Dari Presfektif Seniman Muda

Mereka bermain dalam cahaya. Masing-masing menginterpretasikan bias warna yang dihasilkan cahaya dalam sebuah karya. Fotografi, lukisan, film, hingga instalasi cahaya dihadirkan dalam kekuatan karakter si empunya. Namun, meski cahaya yang dijadikan jiwa utama, karya para seniman ini tak lantas penuh warna, karena mereka nampak lebih tertarik dengan sisi kelam dari cahaya.

"A Study of Light" .Koleksi foto karya Advan Matthew.

“A Study of Light” .Koleksi foto karya Advan Matthew.

Dorongan terbesar saya ketika menghadiri sebuah pameran bernama “A Study of Light” adalah undangan dari salah satu teman saya, si fotografer muda yang sangat berbakat, Advan Matthew. Saya memang belum lama mengenalnya, tapi jujur saja, saya sudah terlanjur mengagumi hasil jepretan kameranya sejak saya belum kenal dia. Cerita tentang bagaimana saya berkenalan dengannya pun sederhana saja. Seorang teman saya -yang juga teman sekaligus model foto Advan- yang mengenalkan pada saya.

Singkat kata, karena undangan dari Advan itulah yang membuat saya begitu ingin datang ke pameran tersebut. Saya ingin sekali memenuhi undangannya dan juga melihat deretan karya foto Advan yang menjadi bagian dari pameran “A Study of Light”.

Tiba sekitar pukul 20.30 WIB, galeri seni Dia. Loe. Gue yang ada di daerah Kemang-tempat berlangsungnya pameran- terlihat tidak terlalu ramai. Ketika akan masuk ke dalam, saya hanya melihat dua orang yang asik bercengkrama di depan pintu. Bagian penerimaan tamunya juga sederhana, hanya ada satu meja tinggi yang di atasnya sudah tersedia buku tamu. Dua wanita muda dalam balutan gaun pendek yang cantik kemudian meminta saya untuk menuliskan data saya pada buku itu.

Galeri seni Dia.Loe.Gue dibagi menjadi enam titik. Empat titik yang digunakan untuk memamerkan hasil karya empat seniman muda yang jadi suguhan utama, dan dua titik lainnya ada lounge yang sengaja disediakan untuk menjamu para tamu yang datang.

Titik pertama pameran "A Study of Light", koleksi foto hitam putih yang dicetak di atas kanvas karya Advan Matthew.

Titik pertama pameran “A Study of Light”, koleksi foto hitam putih yang dicetak di atas kanvas karya Advan Matthew.

Sebagian foto berbingkai hitam karya Advan.

Sebagian foto berbingkai hitam karya Advan.

Salah satu foto favorit saya dari semua karya Advan, figure Ivan Zakharov sangat memukau.

Salah satu foto favorit saya dari semua karya Advan, figure Ivan Zakharov sangat memukau.

Memasuki titik pertama dari pameran, saya disajikan deretan foto hitam-putih karya Advan Matthew yang sebagian dicetak di atas kanvas putih dan sebagian lagi dibingkai apik. Koleksi fotonya kali ini ia beri judul “Gray”. Pada deretan fotonya, Advan menyutikkan empat inspirasi utama yang ia jadikan pengikat karya fotonya. Empat inspirasi itu adalah portrait, black-and-white-like-piano, feminine figures, dan nighttime.

Bagi saya, hal paling menarik dari koleksi foto Advan adalah kejelian Advan dalam menangkap detil dan tekstur dalam fotonya. Keminimalisan warna yang sengaja ia gunakan pun justru menambah sisi dramatis dari hasil jepretan kameranya. Figure yang ia abadikan dalam medium foto terasa kuat dan sangat berkarakter.

Para model perempuan dalam foto-foto Advan seperti Luna Maya, Advina Ratnaningsih, Karenina Anderson, Naila Alatas, Dara Warganegara, dan Imelda Therine terasa sangat “berbahaya”. Seksi, berkarakter kuat, dan misterius. Sementara para model lelakinya semisal, Darell Ferhostan, Ivan Zakharov, dan Mateusz Rogenbuk sangat mempesona dengan aura feminitas yang tinggi. Saya bahkan memandangi foto para lelaki itu berlama-lama, magis, mereka cantik namun tampan. Sangat feminin, namun saya masih bisa merasakan sisi maskulin yang seolah mengintip dalam diri mereka.

Setelahnya, tepat berhadapan dengan karya-karya foto Advan, terdapat sebuah ruangan yang tak terlalu luas. Bagian depan ruang itu tertutup tirai berwarna biru tua, sementara di dalamnya ada sekitar sepuluh kursi yang diatur menghadap layar putih yang sedang memutarkan sebuah fashion film. Le Vécu, ialah judul yang disematkan Stephanie Arifin pada fashion filmnya. Bercerita tentang seorang gadis yang menyusuri sebuah kota seorang diri. Dalam perjalanannya itu, ia kembali mengingat tentang masa lalunya, juga dengan hubungan yang pernah ia jalin bersama seorang pria, dan semua itu disajikan dalam durasi sekitar 10-12 menit.

Melewati satu titik lounge, saya masuk kesebuah ruangan kecil berdinding kaca berukuran kurang lebih duasetengah kali satu meter. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah pintu putih berlubang kecil, dan sebuah box kayu berukuran besar yang diletakkan tepat di bawah pintu. Itulah ruangan Instalasi Cahaya berjudul “1903” milik Gerry Habir.

Jika yang jadi pertanyaan, dimana letak instalasi cahayanya? Kenapa hanya ada pintu berlubang dan box kayu? Ya, justru disanalah letak keunikan karya seni satu ini. Untuk menikmati instalasi cahaya karya Gerry Habir, saya harus naik ke atas box kayu besar yang diletakan di depan pintu lalu mengintip ke dalam si pintu tersebut sambil mendengarkan dengan seksama suara-suara dari headset yang tersedia.

Lantas, apa yang ada di balik pintu? Manekin. Ada empat manekin disana, dan  manekin-manekin itu akan bermonolog, membawa siapa saja yang mengintip-termasuk saya- pada sebuah cerita ketika tombol hijau di bagian sisi pintu ditekan. Lalu, dimana letak cahaya nya? Cahaya dimainkan secara apik ketika monolog manekin muncul.

Lukisan hitam putih figure perempuan karya Talitha Maranila "Penumbra, 'Half Shadow' ".

Lukisan hitam putih figure perempuan karya Talitha Maranila “Penumbra, ‘Half Shadow’ “.

Salah satu lukisan karya Talitha Maranila.

Salah satu lukisan karya Talitha Maranila.

Selesai dengan instalasi saya sempat mematung agak lama di depan karya lukisan milik Talitha Maranila yang ia beri judul “Penumbra ‘Half Shadow”. Tiga lukisan figure wanita dalam semburat warna hitam putih terpampang di depan dinding putih yang di cat mural warna hitam. Gambaran wanita dalam nuansa kelam, ada rasa kekosongan, perenungan, dan kemarahan. Kurang lebih seperti itu yang bisa saya tangkap ketika melihat ketika lukisan karya gadis muda yang baru berulang tahun ke duapuluh dua di Oktober tahun lalu ini.

Kotak lampu, yang ini cahaya warna merah muda, terukir figure wajah wanita.

Kotak lampu, yang ini cahaya warna merah muda, terukir figure wajah wanita.

Dan titik terakhir dari pameran “A Study of Light” adalah sebuah lounge yang terisi beberapa meja dan kursi putih. Di lounge titik terakhir itu, pada empat sudutnya diletakkan kotak lampu persegi panjang yang tingginya sekitar satu sampai satu setengah meter. Yang menarik dari kotak-kotak lampu itu bagi saya adalah motif-motif ukiran yang ada pada si kotak lampu berwarna putih tersebut. Pada setiap kotak lampu, tema ukiran serta cahaya yang dipancarkan berbeda. Tiap kotak lampu seolah mewakili satu subtema, ada wajah perempuan, hingga gedung perkotaan. Lalu pada salah satu sudut lounge pun tersedia penganan kecil dan minuman ringan yang bisa dinikmati secara cuma-cuma oleh setiap pengunjung.

Bagi saya, secara keseluruhan, pameran “A Study of Light” adalah satu kesatuan yang sangat menarik. Memperhatikan dengan seksama karya para seniman muda yang dipamerkan adalah suatu perenungan yang menyenangkan. Dalam kepala saya, rasanya ada begitu banyak yang terpikirkan tentang si pameran dan karya yang dipertontonkan. Menarik, ketika para seniman muda yang menjadikan cahaya sebagai kekuatan utama dalam karyanya justru mengiris cahaya lebih banyak di bagian minim warna.

Foto-foto hitam putih yang dicetak di atas canvas, tiga lukisan figure perempuan bernuansa kelam, dan instalasi cahaya dengan manekin yang bercerita layaknya film noir,  tiga karya itu saja sudah mengambil cahaya hanya dibagian bias warna dasar, hitam dan putih. Kalaupun ada fashion film besutan Stephanie Arifin yang berwarna, gadis berusia duapuluh lima tahun itu terasa menurunkan intensitas warna yang ada, sehingga fashion film itu juga terasa kelam, dan sangat personal. Mengapa saya mengatakan sangat personal? Karena sang kreator begitu banyak memasukan simbol-simbol metamorfora yang sering membuat saya mengernyitkan dahi dan berpikir keras apa maksud dari simbol-simbol yang disisipkan Stephanie.

Lalu cahaya berwarna lain yang bisa saya jumpai adalah dari kotak-kotak lampu di bagian lounge serta toples-toples berisi cairan yang memancarkan warna terang di dalam gelap. Bagi saya, pameran “A Study of Light” memiliki daya pikat yang tinggi. Cahaya seperti penunjuk jalan yang membawa saya pada suatu perjalanan. Seperti menyusuri sebuah lorong penuh lukisan dan ukiran magis yang sangat menghipnotis lalu bertemu dengan warna-warni cahaya pada bagian akhir penyusuran.

Malam Final Gadis Sampul 2012 ; Mempertahankan Fesyen Sebagai Tema Besar

Sejujujurnya saya tidak memiliki banyak ekspetasi mengenai acara Malam Final Gadis Sampul 2012. Saya tidak ingin ekspetasi saya yang tinggi seperti tahun sebelumnya membuat saya kecewa. Maka saya hanya datang tanpa memikirkan apa-apa tentang bagaimana acara akan berlangsung, saya hanya berharap, semoga malam ini menyenangkan.

Sesi foto bersama antara pemenang dan para juri

Ada banyak sekali hal yang ingin saya ceritakan tentang tentang Gadis Sampul. Bagi saya, tidak pernah absennya saya menghadiri acara ini sejak tiga tahun lalu memiliki alasan tersendiri yang mungkin terdengar sentimentil. Alasan yang pentingnya melebihi hanya sekadar datang dan meliput, alasan yang pentingnya melebihi datang dan menyaksikan penampilan dari bintang tamu, alasan yang pentingnya melebihi melihat bagaimana sosok keduapuluh finalis Gadis Sampul di atas panggung.

Alasan itu adalah, bagi saya Gadis Sampul merupakan titik balik yang membuat saya lebih hidup, membuat dunia saya jauh lebih berwarna. Bagi saya, Gadis Sampul menyimpan terlalu banyak kenangan yang rasanya ingin saya ulang. Kenangan yang sayangnya tidak akan saya ceritakan pada tulisan saya yang ini karena bagi saya itu terlalu personal. Mungkin saya akan menceritakannya pada satu tulisan di tag kategori “Personal Life”, mungkin.

Malam Final Gadis Sampul 2012 di Djakarta Theater

Sesi perkenalan diri

Maka seperti yang saya telah katakan tadi, saya tidak memiliki ekspetasi terlalu tinggi pada penyelenggaraan Malam Final Gadis Sampul tahun ini. Saya tidak mengharapkan opening act berupa unjuk bakat seperti tarian stick golf Marcella Pranovia(Gadis Sampul 2009) atau permainan keyboard oleh Gina Meidina(Finalis Gadis Sampul 2010) akan terlulang lagi, dan nyatanya, memang tidak ada yang seperti itu lagi di Malam Final Gadis Sampul.

Tidak ada opening act berupa unjuk bakat. Sepertinya unjuk bakat memang telah benar-benar tinggal sejarah pada Malam Final Gadis Sampul, bukan hanya ditiadakan pada tahun 2011 lalu. Dan sejujurnya, saya sangat menyayangkan itu, karena bagi saya pribadi melihat aksi ke-20 finalis dengan hal-hal yang berkaitan dengan “spesialisasi” mereka adalah hal yang sangat menyenangkan.

Dimulai sejak pukul 19.00 WIB, Malam Final Gadis Sampul 2012 coba memunculkan nuansa fashion week di lima kota mode terbesar di dunia dalam satu panggung yang sama. Kota-kota tersebut adalah Tokyo, Milan, New York, London dan tentunya Paris.

Kelsea Dressler. Finalis No. 8. Runner Up 2 Gadis Sampul 2012

Citragama Prameswari. Finalis Nomor Urut 9 Asal Surabaya. Runner Up 1 dan Gadis Sampul Favorit Penonton Gadis Sampul 2012.

Kevin Liliana. Finalis No Urut 20 Asal Bandung. Gadis Sampul Persahabatan Gadis Sampul 2012

Tidak hanya keduapuluh finalis Gadis Sampul 2012 yang menunjukkan aksi berlenggok di atas panggung, tetapi juga sembilan orang alumni Gadis Sampul(Ayu Fa, Filly Lovely, Annette, Hana, Andania Suri, Merdianti, Bunga Jelita, Nanda Nabila) dan enam orang model cowok(Fero Walandouw, Ilham “HiVi”, Denny Weller, Cody McClendon, Giorgino Abraham, Kevin Leonardho) turut mewarnai kemeriahan panggung Malam Final Gadis Sampul 2012. Dipandu oleh Ayushita dan VJ Rizky, Malam Final Gadis Sampul 2012 juga diwarnai oleh penampilan dari Adera, Raisa dan RAN.

Menghadirkan nama-nama kondang seperti Astrid Tiar(Gadis Sampul 2000, Presenter), Billy Tjong(Fashion Designer), Daniel Mananta(Presenter), Wiwied Muljana(Model Senior, Pengajar), dan Didin P. Ambardini(Pemimpin Redaksi Majalah Gadis), sebagai jajaran dewan juri final, ajang Gadis Sampul 2012 akhirnya menobatkan Anggis Dinda Pratiwi, finalis nomor urut 12 asal Jakarta sebagai Juara 1 Gadis Sampul 2012.

Sebagian alumni Gadis Sampul

Nona, Merdi, Mutia, Suri dan Sarah (ki-ka). Alumni Gadis Sampul 2010

Pemberian Gelar Gadis Sampul dari Dahlia Poland ke Anggis Dinda Pratiwi

“Serupa tapi tak sama”, rasanya itu adalah ungkapan yang pas untuk menggambarkan bagaimana Malam Final Gadis Sampul 2012. Jika yang jadi pertanyaan kemudian adalah “serupa tapi tak sama” dengan apa? Jawabannya sudah jelas, “serupa tapi tak sama” dengan Malam Final Gadis Sampul 2011. Saya masih ingat benar ketika tahun lalu, Gadis  memberi judul Malam Final Gadis Sampul dengan “Hit The Runway”.

Runway.

Fesyen.

Saya rasa ketika mendengar dua kata tersebut, kita sama-sama tahu bahwa kedua kata tersebut berasal dari “induk” yang sama, meski punya arti yang jauh berbeda.

Sementara itu, pada penyelenggaraan Malam Final Gadis Sampul tahun ini, Gadis memberinya nama “One Night Stage”, dengan tambahan nama lima kota mode terbesar di dunia (yang pada undangan Malam Final Gadis Sampul 2012 dicetak dengan font huruf lebih kecil pada bagian atas). Saya rasa, saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi dimana letak kesamaan yang ada pada dua kali penyelenggaraan Malam Final Gadis Sampul. Saya hanya perlu menyebutkan dua kata yang sudah merangkumkan semua, catwalk dan fesyen.

Tapi berhubung saya sudah mengatakan jika saya tidak memiliki ekspetasi berlebih terhadap pelaksanaan Malam Final Gadis Sampul 2012, saya jadi biasa-biasa saja ketika Malam Final Gadis Sampul 2012 ini “serupa tapi tak sama” dengan tahun lalu, dan sejujurnya, komentar saya hampir pun “serupa tapi tak sama” seperti tahun lalu.

Senyum khas Gadis Sampul yang menghilang .

Opening Act unjuk bakat yang ditiadakan.

Tidak ada lagi yang menyanyikan mars Gadis Sampul yang super legendaris.

Tetapi,

Video mapping yang keren.

Video komentar dari para alumni yang menarik.

Kolase foto dinding Gadis Sampul yang keren karena menampilkan kegiatan behind the scene aktivitas para finalis.

Oke, jadi bagi saya pribadi, hanya hal-hal itu saja yang ingin saya ceritakan tentang Malam Final Gadis Sampul 2012 secara “lumayan” formal karena berada pada tag kategori “Liputan”.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang terdapat di Malam Final Gadis Sampul 2012, bagi saya, Malam Final Gadis Sampul tetap jadi salah satu acara tahunan paling ditunggu-tunggu, dan paling menyenangkan. Setidaknya, hingga sekarang 🙂

Foster The People ; 13 Lagu Terasa Kurang

Mendengar lagu-lagu band satu ini saya jadi semakin yakin dengan selera musik saya. Dengan jenis musik seperti apa yang benar-benar saya sukai, pop indie alternatif 

Saya bukan pecinta apalagi pengamat musik. Saya juga bukan tipe orang yang bergantung dengan musik, kemana-mana harus selalu dengan iPod atau pemutar musik kesayangan. Earphone, atau headset selalu menyumpal kedua telinga, hoaaa itu nggak saya banget. Tapi itu bukan berarti saya tidak menyukai musik, saya suka, dan tentunya saya mendengarkan musik, tetapi saya tidak bergantung oleh musik.

Bukan tanpa sebab, saya ini mudah sekali pecah konsentrasi, mudah kena distorsi, termasuk oleh musik, sering kali sulit bagi saya dalam melakukan sesuatu khususnya belajar dan nulis sambil mendengarkan musik. Konsentrasi saya sering kali buyar.

Namun beberapa waktu belakangan ini ada satu band yang lagu-lagunya sering saya putar ketika saya sedang menulis sesuatu, band itu bernama Foster The People. Band asal negeri paman Sam yang terdiri dari tiga orang cowok ganteng.

Saya ingat benar pertama kali mendengar lagu dari Foster The People saat sedang asik leyeh-leyeh di kostan teman ketika saya nebeng disana semasa JFW 2011-2012. Siang itu kerja saya hanya tidur-tiduran sembari gonta ganti channel TV untuk membunuh waktu yang tersisa sebelum saya harus pergi menghadiri fashion show di JFW 2011-2012.

Gonta ganti channel TV kabel di kostan kemudian terhenti di MTV Asia yang saat itu tengah memutarkan sebuah Video Klip berjudul “Call It What You Want” milik sebuah grup band yang namanya masih asing di telinga saya, Foster The People. Penasaran dengan Video Klip tersebut, saya memperhatikan dengan lebih seksama, mendengarkan lebih jelas, dan saya langsung suka.

Sejak saat itu saya jadi suka banget Foster The People, saya cari album mereka dan dengerin semua lagu yang ada di album itu. Lalu sekitar awal tahun ini saya senang bukan main saat tau kalau grup band yang dimotori Mark Foster cs itu akan menggelar konser perdana di Indonesia.Dari jauh-jauh hari saya sudah cek sana-sini tentang konser itu, dan tepat beberapa hari sebelum hari H, saya memohon ke editor saya agar saya yang meliput konser Foster The People. Betapa senangnya saya karena editor saya pengertian sekali dan membebaskan saya untuk meliput konser itu. Yeayyyy!

Konser dimulai sekitar pukul 20.00 WIB, ketika hujan yang seharian mengguyur Jakarta sudah reda beberapa jam sebelumnya. Saya yang hampir saja telat datang ke konser itu sampai harus berlari-lari kecil menuju ke dalam area Tennis Indoor Senayan.Nggak berapa lama saya duduk-duduk manis di Tennis Indoor lampu segera dimatikan dan teriakkan histeris dari ribuan remaja yang memadati kelas festival menggema keseluruh stadion.

Foster The People membuka konsernya dengan lagu Houdini lalu disusul berturut-turut dengan lagu Miss You, Life On The Nickels, dan I Would Do Anything For You. Empat lagu telah dibawakan, Mar Foster lalu mengambil jeda, ia coba berinteraksi dengan para penonton yang memadati area konser. Mark yang saat itu mengenakan celana jeans belel, T-shirt dan jacket, tidak lama tidak lama kemudian melepaskan jaketnya, ia mungkin kegerahan saat semakin lama, respon penonton konser semakin menggila dan tidak henti-hentinya berteriak dan ikut bernyanyi bersama.

Kurang lebih selama satu setengah jam Mark Foster cs tampil begitu enerjik. Saya sukaaa bangettt dengan penampilan seluruh awak Foster The People yang seperti tidak ada capeknya.Berkali-kali Mar Foster sang pentolan band melakukan aksi gebuk perkusi dengan amat sangat tidak santai tapi hentakkannya tetap enak dan bikin lebih semangat.

Aksi enerjik mereka yang seperti itu bikin saya selalu ingin ikut bernyanyi, menggoyangkan tubuh ke kanan ke kiri, dan pengen banget bisa nari-nari gerakkan kaki ke depan ke belakang ala Mark Foster saat menyanyikan lagu-lagu bertempo cepat seperti Don’t Stop, Life On The Nickels, dan Helena Beat.

Total 13 lagu yang dibawakan Foster The People pada malam itu, dan saya sampai saat ini masih merasa belum puas dengan konser itu. Saya belum puas melihat, mendengar, dan merasakan aksi panggung Foster The People yang begitu enerjik dan menyenangkan. Rasanya jika saja mereka berencana menggelar konser lagi pada tahun mendatang saya akan dengan senang hati menunggu kedatangan mereka kembali.

Songlist Foster The People:

  1. Houdini
  2. Miss you
  3. Life on the nickel
  4. I would do anything
  5. Broken Jaw
  6. Waste
  7. Call it what you want
  8. Don’t stop
  9. Say it aint so
  10. Helena beat

Encore:

1. Ruby
2. Warrant
3. Pumped Up Kicks

 

 

Cerita Cinta Di Konser 25 Tahun Kahitna

Sebuah persembahan manis bagi para Soulmate Kahitna, that’s so sooo sweet moment!

Sejujurnya, dan jujur sebenarnya saya nggak terlalu familiar dengan Kahitna. Meski lagu-lagu mereka sering saya dengar di berbagai kesempatan. Tapi berhubung saya tumbuh besar di era band dengan lagu melayu mendayu-dayu yang…hephhhh…I can’t say what I mean, lebih dikenal sekaligus lebih familiar dibandingkan lagu-lagu cinta nan romantis ala Kahitna, jadilah saya lebih banyak nggak terlalu hafal judul lagu-lagu Kahitna meski sering dengar lagu itu.

Tapi kan kalau begitu saya bukan termasuk golongan orang yang nggak tahu sama sekali tentang Kahitna, saya tau kok meski nggak terlalu fasih jika diminta menyebutkan A-Z tentang Band nya Mas Yovie Widyanto ini. Dan lagu terakhir dari Kahitna yang masih sering terdengar mengalun di dalam kepala saya sendiri adalah lagu Mantan Terindah. Bukan karena pengalaman pribadi saya yang kisahnya mirip dengan lagu itu,tapi karena lagu itu memang belum lama diliris ke pasaran kan?. Jadilah saya cukup hafal dan familiar dengan lagu yang sering bikin galau salah satu teman sekolah saya itu.

Sampai akhirnya beberapa bulan lalu saya mendengar kabar kalau Kahitna akan mengadakan konser ulang tahunnya yang ke 25 dari twitter seorang teman. Saat tau tentang hal itu saya pun langsung mikir,
“Waahhh Kahitna itu udah 25 tahun ya umurnya?. Gilaaa udah lama banget ya ternyata”.

Dari situlah akhirnya saya penasaran pengen nonton konser Kahitna, ya tapi tetep lah nggak mungkin cuma duduk manis dan nonton-nonton cantik konsernya tanpa “do something” alias sekalian liputan. Dan berangkatlah saya pada hari H, tepatnya Kamis 15 September 2011 ke JCC ditengah  siraman gerimis yang sudah cukup membuat saya basahhhh.

Setelah membelah jalanan basah Jakarta, saya tiba di venue sekitar jam  8 malam, dan thank God konser belum dimulai. Konser dimulai sekitar jam 20.30 WIB, dengan penampilan acapela dari saya-nggak-tau-siapa-itu, dan setelahnya dilanjutkan dengan dialog cinta dari Anjasmara dan Dian Nitami yang bikin 4000 orang di Planery Hall JCC histeris karena isi dialog yang sangat romantis. Dialog yang diucapkan pasangan artis itu tidak lain dan tidak bukan adalah cuplikan dari syair-syair lagu Kahitna yang honestly, amat sangat romantis.

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati konser itu, walau saya banyak nggak hapal lagu-lagu Kahitna. Tapi for sure saya sangat suka crowd yang tercipta disana, sangat intim, super ramai, dan hangat sekali antara Kahitna dan 4000 Soulmate yang memenuhi Planery Hall. Saya sendiri sejak awal sangat kagum dengan antusiasme seluruh penonton di konser Kahitna itu, hebat sekali, satu Planery Hall benar-benar penuhhhh, saya hampir tidak menemukan bagian-bagian kosong disana, dan memang menurut keterangan pihak penyelenggara, semua tiket sold out tak bersisa.

Dalam durasi  hampir 3 jam, Kahitna membawakan 25 lagu-lagu hits mereka, termasuk di dalamnya satu lagu baru berjudul “Suami Terbaik”. Lagu “Suami Terbaik” ini adalah lagu teranyar dari Kahitna untuk album terbarunya, dan serius, kalian harus denger lagu ini, liriknya bikin melelehlehlehhh. So sweet sekaliii lagunya.

Oiya lagu-lagu hits Kahitna yang dibawakan pada konser itu diantaranya adalah, Merenda Kasih, Aku Dirimu Dirinya, Andai Dia Tahu, Tak Mungkin Memiliki, Tak Akan Terganti, Enggak Ngerti, dan Cerita Cinta.
Jika adalah masalah yang cukup mengganggu pada konser itu adalah Sound yang sempat bermasalah dan penampilan dari para bintang tamu(The Groove, Maliq and D’Essential, dan RAN) yang sedikit memecah konsentrasi, walau nggak terlalu mengganggu juga sih sebenarnya, tapi lumayan jadi terpecah konsetrasinya.

“Mascarade Mystique”, Pesta Kelulusan Dengan Tema Menjanjikan

Sayangnya untuk eksekusi akhir masih banyak terdapat bagian yang “Miss” dan jadi terasa kentang alias “Kena Tanggung”.

Awalnya saya nggak terlalu tau banyak tentang sekolah fashion yang ada di Indonesia, ya yang paling saya tau dan familiar bagi saya hanya ESMOD. Sekolah mode franchaise dari Perancis yang konon adalah salah satu sekolah mode tertua di dunia. Seiring semakin bertambahnya jam jalan(Yeppp jam jalan, bukan jam terbang, karena saya nggak pernah terbang kalau dateng fashion show) akhirnya saya mulai tau satu persatu tentang sekolah mode lain yang bertebaran di Indonesia khususnya Jakarta. Jumlahnya memang nggak banyak, hmmmm atau mungkin lebih tepatnya saya tetep nggak banyak tau tentang sekolah mode disini. Saya hanya tau 4 sekolah mode, ESMOD, LaSalle, Raffles, dan Susan Budiardjo.

Kalau ESMOD memang sudah familiar bagi saya karena sudah 2 tahun saya selalu datang ke Graduation Night nya. Nah, saat tau kalau LaSalle akan mengadakan Graduation Night langsunglah saat itu juga saya penasaran banget gimana ya acaranya kira-kira?. Dan juga saya penasaran banget dengan gimana sih design-design anak-anak lulusan LaSalle?.

Karena itu, berangkatlah saya ke LaSalle Graduation’s Night dengan waktu yang sebenernya udah mepet banget gara-gara STNK motor saya nggak ada, dan walhasil menyebabkan saya menuju Balai Sarbini tempat berlangsungnya LaSalle Graduation’s Night tanpa STNK. Maafkan ya Pak Polisi…hiks.

“Mascarade Mystique” merupakan hasil kolaborasi siswa/siswi lulusan LaSalle periode 2011 dari seluruh program yang ada, yaitu : Fashion Design, Fashion Business, Digital Media Design, Interior Design, Photography, dan Artistic Make Up. Event ini diawali dengan pameran hasil karya siswa pada pukul 15.00 WIB yang meliputi Mini Boutique Bazaar, Movie Screening, Interior Installation, Photography Exhibition, dan Make Up Presentation yang kesemuanya skip bagi saya karena saya hanya menyaksikan acara puncak yakni fashion show. Karena ke skip an itu, saya nggak akan berkomentar apa-apa di acara awal ini.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan Graduation Ceremony pada pukul 16.00 yang diikuti 93 mahasiswa dari 6 program study yang ada di LaSalle. Dari 93 orang tersebut kemudian dipilihlah 6 siswa dari perwakilan masing-masing progran study yang dianggap menjadi siswa-siswa terbaik pada tahun ini. Mereka ini kemudian berhak menerima hadiah berupa Blackberry Playbook dan hadiah-hadiah lainnya, enak betul ya dapet Blackberry Playbook, saya juga maoooo…:p.

Acara puncak, yakni fashion show, merupakan presentasi akhir dari program Fashion Design yang mempersembahkan mini collection mereka. Bagi saya, acara inilah yang paling menarik, karena memang saya hanya menyaksikan langsung yang ini…:p.

Awalnya saya sangat curious dengan Fashion Show para siswa LaSalle ini. Tema yang diangkat menarik, unik, dan spesifik mengacu pada satu hal, sehingga saya awalnya mengharapkan akan menemukan gimmick-gimmick yang menarik. Dibuka oleh rangkaian mini collection dari salah seorang siswa yang menampilkan dress-dress dengan warna merah menyala.

Di titik ini saya masih merasa excited dengan jalannya show, tapi ternyata setelah kemunculan dress-dress membara itu yang ditampilkan kemudian adalah baju-baju ready to wear yang bagi saya sendiri, nothing special. Rasanya saya sudah pernah melihat belasan kali baju-baju ready to wear yang memiliki cita rasa serupa tapi tak sama seperti itu.

Cutting, pemilihan warna, detail, silluet, nggak ada yang baru. Baju-baju pada sequens itu saya rasa memang baju-baju untuk “jualan”, dan ya memang rasa-rasanya baju-baju itu sangat bisa untuk dijual. Si designer terasa sangat mengikuti selera pasar yang sekarang sedang “in”. Tapi kalau baju-baju seperti itu sudah banyak, kenapa harus semakin diperbanyak lagi ya dengan rancangan-rancangan ini? :p.

Ditengah-tengah show saya juga semakin menyadari, kalau jalur lintasan fashion show yang bukan berupa catwalk melainkan jalan yang melingkar ditengah-tengah area ternyata jadi cukup mengganggu karena sebuah pot bunga super besar yang diletakkan di tengah-tengahnya sehingga menghalangi arah pandangan ke panggung kecil yang berada di depan pot bunga super besar tersebut.

Panggung kecil yang menjadi salah satu titik utama dalam fashion show tersebut karena beberapa kali para model melakukan pose final disana. Selain itu lintasan fashion show yang demikian juga kurang memberikan kesan “fashion show sungguhan”, dan juga koreografi para model yang galau karena berbeda-beda tempat berhentinya serta sering kali terlalu cepat pergerakkannya bikin fotografer kerkadang bingung membidiknya karena lintasannya pun melingkar seperti itu.

Music sound yang kurang pas, dan ritme yang kadang terasa kejar-kejaran juga menjadi bagian dari fashion show graduate LaSalle ini.

Dengan tema yang menurut saya sangat menarik dan spesifik, seperti “Mascarade Mystique” ini sayang sekali ternyata eksekusi akhir di fashionnya kedodoran dan jadi kentang alias kena tanggung. Nuansa “mistik” yang terasa di pemilihan warna untuk area fashion dan dress code hitam-hitam bagi semua warga LaSalle yang terlibat di dalam acara itu, harus disayangkan karena ya hanya berhenti sampai disitu aja. Selebihnya, buat saya pribadi banyak bagian yang “miss”. Mulai dari rancangan para siswa yang sebagian masuk dalam kategori biasa aja walau memang ada yang keren-keren juga, masalah di music sound yang kurang pas dan kejar-kejaran ritme, sampai treatment show yang nothing special. Ya semua itu yang membuat saya bisa mengatakan kalau eksekusi akhir acara ini jadi kentang atau kena tanggung.

Overall, keseluruhan acara bagi saya sendiri nggak terlalu sampai yang bikin drop. Tetep ada moment-moment yang bisa saya ingat dengan baik, khususnya di sequens terakhir pada rancangan seorang siswi LaSalle bernama Bernanda Antony yang cukup eksperimental. Bernanda menghadirkan mini collection yang terbilang adibusana yang cukup menarik dengan dress berduri-duri besar.

Dan inilah akhir dari cerita saya dari LaSalle Graduation Night “Mascarade Mystique”.

Ps : #nomention #youknowwhoyouare You look so superbbbb at the show, happy to saw you there…J