Terimakasih Teman-Teman Model untuk ABG di Balik Runway

Delapan model bersama ABG di Balik Runway

Delapan model bersama ABG di Balik Runway

Terimakasih teman-teman model semua. Terimakasih delapan teman model dalam foto diatas:
1. Melinda Priskila, 2. Kelly Tandiono, 3. Christina Borries, 4. Whulandary Herman
5.Winny Christy, 6. Maria Margareth, 7. Ayu Faradilla, 8. Marcella Tanaya

Bersama ABG di Balik Runway

Bersama ABG di Balik Runway

Terimakasih juga untuk para model di dalam foto ini:
1. Simona Travnickova yang berpose seksi dengan ABG di Balik Runway :-p
2. Richard Fiando dan Hendy Bramantyo
3. Mareike Brenda
4. Renobulan Sanusi

Dan yang terakhir terimakasih banyak untuk seorang teman baik, si Model Pendiam:

Temen gue si Model Pendiam

Temen gue si Model Pendiam

Goodbye 2012, and Hellooo Our Skinny Girl, What’s Going On?

Reti seusai satu rangkaian peragaan busana di Jakarta Fashion Week 2012/2013

Reti seusai satu rangkaian peragaan busana di Jakarta Fashion Week 2012/2013

Hampir satu tahun berlalu dari saat pertama kali saya menuliskan tentang Reti Ragil Riani dalam blog ini. Dulu, saya begitu tertarik pada Reti karena pribadinya yang sangat menyenangkan. Ia ramah, sederhana, dan apa adanya. She never trying too hard to be something on the stage or in real life, she just be her self. Reti yang ramai, dan kocak saat membicarakan banyak hal. Namun justru disanalah daya tarik terbesarnya.

Kemudian waktu berlalu dengan cepat, ada begitu banyak hal yang terjadi, ada begitu banyak hal yang berubah. Begitu pula dalam panggung mode Indonesia. Hampir setiap waktu kala sebuah peragaan busana diselenggarakan, saya melihat wajah-wajah baru yang terasa asing. Ada yang masih memancarkan kekhasan wanita Indonesia, dan banyak juga wajah yang benar-benar asing dari belahan Bumi lain.

Sebelum pulang masih sempat pose konyol bersama Chloe. Lol

Sebelum pulang masih sempat pose konyol bersama Chloe. Lol

Tetapi diantara banyak wajah baru yang bermunculan di atas panggung peragaan busana, saya tetap dengan mudah menjumpai sosok Reti. Disepanjang tahun 2012, ia tetap jadi skinny girl kesayangan para desainer. Malahan, menurut saya pribadi, Reti adalah salah satu model muda yang karirnya paling bersinar di sepanjang tahun 2012. Deretan nama desainer papan atas Indonesia dari mulai Biyan, Priyo Oktaviano hingga Oscar Lawalata, masih setia memberi kepercayaan pada Reti untuk memperagakan koleksi teranyarnya. Majalah-majalah mode ternama sekelas Dewi, dan Bazaar kerap kali menjadikan Reti sebagai model pada laman Fashion Spread.

Dengan pribadinya yang tidak ngoyo, dan sering cenderung kurang percaya diri, Reti seolah membuktikan diri dalam caranya sendiri. Tanpa banyak bercerita, dua gelar disabetnya pada tahun 2012 ini. Yang pertama adalah Pemenang 1 Gading Model Search 2012, dan yang kedua adalah Fun Fearless Female 2012. Dan juga mungkin tidak banyak yang tahu jika Reti pada awalnya adalah salah satu calon terkuat Indonesia dalam ajang Asia’s Next Top Model sebelum pada akhirnya pilihan jatuh pada model berwajah oriental Filantropi Witoko.

Saya terakhir kali bertemu Reti pada sebuah acara peragaan busana “spesial” yang diselenggarakan oleh Plaza Senayan. Semua model yang terlibat hari itu tidak hanya harus memperagakan busana secara normal dengan berjalan di atas catwalk, tetapi juga diharuskan menjadi manekin hidup yang di posisikan di sepanjang lorong-lorong utama Plaza Senayan. Jadilah peragaan busana itu sangat “spesial”, bagi si model dan sudah pasti bagi pengunjung yang datang.

Let's take a funny picture after the show. :D

Let’s take a funny picture after the show. 😀

Hari itu, setelah show, saya dan Reti berbincang santai di salah satu sudut foodcourt Plaza Senayan. Saya cukup banyak bertanya, dan dia lebih banyak lagi bercerita dengan gaya berbicaranya yang santai dan apa adanya. Salah satu hal yang saya tanyakan padanya adalah tentang gelar Fun Fearless Female 2012 yang baru saja ia dapatkan.

Lalu, dengan wajah lucu ia bercerita banyak pada saya tentang acara itu. Ia bercerita tentang penyesalannya karena kedua orangtuanya tidak hadir pada malam final Fun Fearless Female. Ia bercerita tentang segudang inspirasi yang ia terima selama menjalani masa karantina. Ia bercerita tentang jawaban-jawaban-nya yang mengundang gelak tawa para juri pada saat penjurian.

Sebelum saya dan dia berpisah, ia bercerita tentang impiannya di dunia modeling, menjadi lebih baik dari waktu ke waktu dan menjadi seorang model yang tak perlu terkenal, tetapi orang tahu bahwa ia adalah seorang model professional yang kemampuannya tak perlu diragukan. Dan saya mengamininya.

Good Luck Our Skinny Girl!

Michelle Agnes Samantha; Pesona Wajah Khas Wanita Timur Indonesia

Michelle For Beauty Photoshoot. Foto: Giovanni Rustanto "Giovanni Photoworks"

Michelle For Beauty Photoshoot. Foto: Giovanni Rustanto “Giovanni Photoworks”

Gelaran Jakarta Fashion Week 2012-2013 (JFW 2012-2013) memang telah berlalu. Namun banyak hal dan kenangan yang rasanya akan sulit untuk dilupakan. Salah satu kenangan yang bagi saya akan sulit untuk untuk dilupakan adalah sosok model pembuka, atau yang lebih dikenal dengan sebutan First Face pada peragaan busana di malam pembukaan JFW 2012-2013. Dia adalah Michelle Agnes Samantha.

Dalam balutan busana koleksi Sebastian Gunawan, model bernama lengkap Michelle Agnes Samantha Tahalea atau yang lebih akrab disapa Michelle ini terlihat sangat menawan. Atasan berupa gaun pendek model kemben berdetil  rangkaian mozaik unik yang membentuk motif garis serta sulur bunga yang dipadupadankan dengan legging lace berwarna hitam, terasa sangat pas ketika diperagakan olehnya di atas lintasan catwalk. Headpiece unik dari Sebastian Gunawan yang menjadi bagian dari satu kesatuan busana pun semakin mempertegas kesan kuat dan berkarakter. Tidak hanya bagi busana itu sendiri, tetapi juga bagi si model, Michelle.

Michelle Sebagai First Face Sebastian Gunawan di Malam Pembukaan JFW 2012-2013

Michelle Sebagai First Face Sebastian Gunawan di Malam Pembukaan JFW 2012-2013

Bagi saya, sosok Michelle yang dihadirkan sebagai model pembuka pada peragaan busana milik Sebastian Gunawan terasa spesial. Michelle dengan kulitnya yang coklat, serta raut wajah yang khas wanita Indonesia bagian Timur seolah menjadi kejutan tersendiri, mengingat Sebastian Gunawan terbilang jarang menggunakan tipe model seperti Michelle untuk menjadi First Face dalam peragaan busana miliknya.

Dilahirkan pada tanggal 6 Oktober 1989, Michelle tidak pernah membayangkan dirinya akan berlenggak-lenggok di panggung peragaan busana. Namun sebuah ajakan datang pada tahun 2008 silam. Seorang teman dari sang Kakak yang bekerja di salah satu modeling agency bernama Platinvm melihat potensi Michelle. Tanpa ragu ia mengajak Michelle untuk bergabung di Platinvm. Gayung pun bersambut, Michelle menerima ajakan itu, dan dari sanalah ia memulai karir modelingnya.

Michelle untuk Oscar Lawalata di JFW 2011-2013

Michelle untuk Oscar Lawalata di JFW 2011-2013

Michelle untuk Biyan Annual Show 2012 "Foliage"

Michelle untuk Biyan Annual Show 2012 “Foliage”

Dengan tinggi 177cm dan berat 51kg, serta keunikan karakter yang terpancar dari sosoknya, nama Michelle perlahan tapi pasti mulai akrab di dunia mode tanah air. Wajah Michelle dapat dengan mudah dijumpai di berbagai peragaan busana milik desainer ternama Indonesia seperti Biyan, Sebastian Gunawan, Oscar Lawalata, Ghea Panggabean, hingga Aguste Soesastro. Dewi, Amica, Bazaar dan beberapa majalah mode lainnya pun tak jarang menghadirkan Michelle dalam rubrik Fashion Spread.

Raut wajahnya yang sangat khas wanita dari Timur Indonesia tidak lain adalah warisan darah Ambon dari sang Ayah. Namun yang menarik, pada kenyataannya Michelle masih memiliki 3 darah campuran lain yang mengalir dalam dirinya selain Ambon, yakni Manado, Jerman, dan Austria.

Michelle untuk Dewi edisi Novmber 2012, Fashion Spread.

Michelle untuk Dewi edisi Novmber 2012, Fashion Spread.

Michelle untuk Marie Claire Indonesia

Michelle untuk Marie Claire Indonesia

Michelle untuk Delirium(deliriummind.com). Foto: Raja Siregar

Michelle untuk Delirium(deliriummind.com). Foto: Raja Siregar

Menghabiskan masa kecilnya di Ibukota, Michelle memiliki banyak kenangan lucu di masa kecilnya yang masih mengundang gelak tawa hingga kini. Salah satunya adalah mengenai kegemarannya berenang. Ketika kecil, Michelle tidak hanya menunaikan kegemarannya itu di kolam renang sungguhan, tetapi juga di kolam ikan rumah, bahkan empang yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Kini, setelah dewasa pun ia tetap menjalankan kegemarannya tersebut, berenang, tapi bedanya saat ini tidak ada lagi kolam ikan atau empang yang dijadikan korban.

Ditengah aktivitasnya dalam dunia modeling, gadis manis lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti inimengatakan bahwa tidur, bantal, dan selimut adalah hal yang selalu dirindukannya, disamping memiliki quality time bersama orang-orang terkasih.

Antie Damayanti ; Totalitas Dua Panggung Berbeda, Catwalk dan Teater

Menjadi pusat perhatian diatas panggung peragaan busana mungkin jadi hal yang sangat biasa bagi mereka yang menekuni profesi sebagai model catwalk, namun menjadi pusat perhatian diatas panggung teater dan berakting sepenuh jiwa raga, tentu itu lain perkara. Tetapi model satu ini melakukan keduanya, ia menjadi pusat perhatian di keduanya, catwalk dan teater

Antie Damayanti. Foto: Andry Wibowo

Ada suatu keterikatan perasaan yang aneh antara saya dan sosok yang saya lihat pada panggung pagelaran Bazaar Fashion Celebration “Langgam Tiga Hati” yang dihelat pada Desember 2011 silam. Sosok yang saya lihat itu memiliki rambut hitam menjuntai panjang hampir menyapu lantai, wajahnya pucat, dan ia mengenakan gaun putih longgar yang membuat sosoknya seolah melayang di atas panggung Bazaar Fashion Celebration “Langgam Tiga Hati”.

Sosok itu adalah hantu. Hantu dari Putri Gula Oei Hui Lan. Hantu itu benar-benar membuat bulu kuduk saya meremang, bukan hanya karena perasaan tidak nyaman yang menggelayut di hati saya, tapi ada perasaan magis yang mengagumkan. Saya begitu terpesona oleh “hantu” itu, dia begitu nyata, serasa hantu sungguhan, walau saya tahu itu hanya peran pelengkap di sebuah pagelaran tahunan milik majalah Harpers Bazaar Indonesia.

Bagi saya saat itu, si hantu terlalu mempesona. Setiap gerakan yang ia pamerkan di atas panggung sana menyita seluruh perhatian saya, membuat saya terdiam lama, terpesona. Saya merasa terikat, meski hanya searah, tapi saya tahu hati saya sudah tertambat pada si hantu, dan terutama pada sosok asli dibalik si hantu, karena ia begitu sempurna memerankannya. Cukup lama saya mencarinya, dan kini saya tahu persis siapa sosok dibalik hantu Putri Gula Oei Hui Lan, dia adalah Antie Damayanti.

Antie sebagai Putri Gula Oei Hui Lan di Bazaar Fashion Celebration 2011 “Langgam Tiga Hati”

Lahir di Jakarta, 10 Juli 1983, Antie memulai karirnya dengan niatan mulia, membantu seorang teman yang baru saja akan memulai debutnya sebagai fashion designer. Berawal dari sana, ia memberanikan diri untuk mengikuti casting iklan, dan beruntung, ia mendapatkan job iklan pertamanya untuk sebuah produk kecantikan. Namun sayang karirnya harus terhenti karena kedua orangtuanya lebih menginginkan Antie untuk fokus di bangku sekolah, dan menyelesaikan pendidikannya.

Setelahnya, baru pada tahun 2006, Antie memutuskan untuk kembali menggeluti dunia modeling yang sempat ia tinggalkan. Dengan tinggi badan 174cm, dan berat 46 kg, Antie memang tergolong model yang memiliki postur tubuh lebih mungil jika dibandingkan dengan model catwalk lainnya. Tetapi ada satu hal yang sangat menarik dari Antie, yakni karakter wajahnya yang begitu kuat. Ia memiliki gurat oriental yang menarik. Wajahnya tirus dengan garis tulang pipi yang sangat kentara, dan itu yang membuat karakter wajahnya sangat kuat.

Antie oleh Nicoline Patricia Malina

Foto: Portfolio Antie oleh Damn-Inc Models

Sepanjang karir modelingnya Antie telah merasakan berbagai panggung peragaan busana milik desainer ternama Indonesia. Sebut saja nama Biyan, Denny Wirawan, Edward Hutabarat Sapto Djojokartiko, Barli Asmara hingga Ivan Gunawan yang pernah menggunakan jasanya sebagai model pada peragaan busana mereka. Namun mungkin tidak banyak yang tahu bahwa model lulusan D3 Public Relation Interstudy ini menekuni profesi lain sebagai pemain teater.

Peragaan Busana Karya Edward Hutabarat

Trend Show IPMI 2013

Pada tahun 2010 silam bakat terpendam Antie dalam berakting ditemukan oleh tim Teater Populer yang dikepalai aktor kawakan Slamet Rahardjo. Ketika itu, tim Teater Populer tengah menggelar audisi untuk Mercedez Benz yang menginginkan konsep teater pada peluncuran seri mobil terbarunya, dan Antie sebagai salah satu peserta audisi berhasil memikat tim Teater Populer dengan kepiwaiannya memainkan peran. Menjadi bagian dari Teater Populer dan memainkan sebuah peran pada pertunjukkan Mercedez Benz “The Journey” membuat Antie menemukan dunia barunya di atas panggung teater. Tiga bulan lamanya ia mengikuti kelas latihan rutin Teater Populer, dan mempelajari tentang seni peran serta teater.

Penampilan Antie dalam Teater Populer “Pinangan”. Foto: Dokumentasi Teater Populer

Antie dalam “Pinangan” . Foto: Dokumentasi Teater Populer

Banyak hal yang membuat Antie semakin jatuh hati dengan dunia teater, banyak hal yang ia pelajari disana. Teater tak hanya mengajarkannya tentang seni peran dan dunia teater itu sendiri, tapi juga tentang bagaimana melatih diri serta mengenali karakter diri sendiri lebih dalam lagi.

Berlanjut ke bulan Mei tahun 2011, model yang pernah mendapat gelar The Most Sensual Lady di tahun 2000 ini juga terlibat pada pementasan Teater Populer berjudul “Pinangan” yang digelar di Jakarta dan Surabaya. Hingga saat ini, ia masih tetap setia menjalani dua dunianya dengan penuh totalitas. Baginya, jujur terhadap diri sendiri dan bersungguh-sungguh terhadap apa yang dijalani merupakan kunci terpenting ketika ia tengah menekuni profesinya, baik sebagai model maupun pemain teater.

Richard Fiando ; One of The Best Male Model and Lovely Daddy

Tubuh tinggi tegap, dengan kulit putih bersih serta raut wajah oriental yang khas membuat sosoknya begitu mudah dikenali. Karirnya di atas catwalk juga di depan kamera foto pun tidak perlu diragukan lagi. Ia sempat menyandang gelar The Best Male Model, namun kini ia tengah menikmati aktivitas barunya, menjadi seorang Ayah. 

 

Richard Antonius Fiando. Foto: Richo Fiando

Jika kita iseng membandingkan jumlah antara model pria dan wanita yang eksis di Indonesia, sudah barang tentu kita akan mendapatkan rasio yang sangat jauh berbeda diantara keduanya. Bukan lagi 1 berbanding 2, atau 1 berbanding 3, karena perbandingan jumlah model yang ada saat ini bisa mencapai perbandingan 1:5 antara model pria dan model wanita. Ketimpangan rasio diantara keduanya memang sudah bukan lagi hal baru di dalam dunia modeling, karena sejak dahulu pun perbandingan jumlah antara model pria dan model wanita sangat jauh berbeda.

Diantara sedikitnya nama model pria yang eksis di atas catwalk fashion show serta di depan lensa kamera para fotografer handal, tersebutlah nama Richard Fiando, seorang model pria dengan wajah oriental yang khas yang selama beberapa tahun belakangan menjadi salah satu model pria paling dicari di dunia fesyen tanah air.

Fashion Show EdBe oleh Eddy Betty “Love Is In The Air”. Foto: Andreas Dwi

Fashion Show BOSS di Plaza Indonesia Fashion Week.

Lahir di Palembang 23 April 1981, pria bernama lengkap Richard Antonius Fiando ini memulai karir modelingnya pada pertengahan tahun 2003 silam. Bergabung dengan Look Inc yang ketika itu menjadi agensi model nomor satu di Indonesia, Richard mulai menapaki karirnya sebagai model catwalk.

Perpaduan postur tubuhnya yang memiliki tinggi tak kurang dari 184cm, dan berat 74kg, serta wajah tampan yang begitu khas membuat sosok Richard segera mencuri perhatian para desainer, brand, dan fotografer untuk menggunakan jasanya sebagai model.

Hampir semua desainer Indonesia, mulai dari Priyo Oktaviano, Deden Siswanto, Ronald V Gaghana, Eddy Betty hingga Didiet Maulana pernah bekerjasama dengannya. Brand internasional semacam GAP, Aigner, Kenzo, SuperDry, Versace, sampai Zara, juga tak pernah absen meminta Richard turut serta memperagakan koleksi teranyarnya ketika menggelar fashion show di tanah air. Nama Richard pun termasuk dalam satu dari sekian model pilihan Jean Paul Gaultier ketika menggelar fashion show koleksi limited edition-nya di Indonesia yang dikirim langsung dari Paris.

Fashion Show Senayan City Fashion Nation 2012 Sekuens IKAT Indonesia oleh Didiet Maulana.

Fashion Show Jean Paul Gaultier di Plaza Indonesia Fashion Week.

Sederet pencapaian lain dibidang modeling pun pernah ia ukir apik. Menjadi wakil dari Indonesia untuk menerima piala Best Model Award pada Asia Model Festival 2010 di Seoul, Korea Selatan, dan melakukan satu sesi pemotretan untuk majalah Italy “UOMO COLLEZIONI” adalah dua pencapaian yang paling dikenang pria yang sering disapa “Koko” ini.

Namun terlepas dari karir modelingnya, Richard yang telah berumah tangga sejak beberapa tahun lalu, kini tengah menikmati aktivitas barunya sebagai bar manager sebuah Club di bilangan kuningan, marketing distribusi air mineral kemasan, sekaligus menjadi Ayah untuk buah hati pertamanya yang ia beri nama “Kimora Lovey Fiando”.

Piala The Best Male Model Award dari Asia Model Festival tahun 2010.

Richard dan Sang Buah Hati, Kimora. Foto: Richo Fiando

Meski menggeluti segudang aktivitas, pria yang menamatkan pendidikan Advanced Diploma Hotel Management-nya di William Blue Sydney, Australia ini nyatanya tetap memilih aktivitas sebagai Ayah merupakan hal yang paling ia nikmati.

Menyaksikan dengan mata kepala sendiri tahapan perkembangan Baby Kim adalah saat-saat terindah yang sangat menyenangkan baginya. Ia begitu menikmati ketika melihat putri kecilnya merangkak, berdiri, berjalan dan berlari dengan bimbingan kedua tangannya. Bagi Richard kehadiran Kimora merupakan semangat baru dan pemacu agar ia menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu, baik dalam segi pekerjaan maupun kemampuan untuk lebih menghargai dan mensyukuri kehidupan yang ia jalani.

Sepuluh tahun kedepan ia membayangkan dirinya menjadi seorang Ayah berusia 41 tahun yang sukses, tinggal bersama seorang istri yang hebat dan dua anak yang sangat menyenangkan.

Christina Borries; Label “kutilangdarat” Tidak Berlaku Padanya

Kurus tinggi langsing dada rata, sejak dulu sudah jadi tagline tidak terpisahkan dari para model catwalk. Tapi bagi model satu ini, ungkapan tersebut hampir tidak berlaku. Ia memang tinggi dan langsing, namun tubuhnya tidak kurus, apalagi berdada rata.

Christina Borries. Foto: Composite E-Model Management

Ada begitu banyak model yang setiap harinya turut mewarnai dunia mode Indonesia. Puluhan perempuan-perempuan jangkung yang memiliki proporsi tubuh nyaris serupa satu sama lainnya. Tinggi semampai di atas 170cm, tubuh langsing bahkan cenderung super skinny, serta memiliki lingkar dada dan hips yang jauh dibawah rata-rata. Perempuan-perempuan pemegang garda terdepan dunia mode yang sering mendapat sebutan kutilangdarat. Kutilangdarat tentunya bukan sama sekali berkaitan dengan jenis unggas, tetapi kutilangdarat adalah sebuah singkatan dari 4 hal yang melukiskan bagaimana proporsi tubuh para model catwalk kebanyakkan, kurus, tinggi, langsing, dan berdada rata.

Secara generalilasi ugkapan kutilangdarat mungkin memang terasa cocok bagi sebagian besar model catwalk yang hingga kini eksis dalam peta permodelan tanah air. Namun jika kita melepaskan generalisasi dan menelaah lebih seksama, nyatanya tidak semua model catwalk adalah perempuan dengan label kutilangdarat.

Biyan Annual Fashion Show 2011-2012 “The Orient Revisited”

Fashion Show VALENTINO di Pembukaan PI Fashion Week 2012. Foto: Windy Sucipto

“The Catwalk Moment” oleh Obin untuk BIN House di JFW 2011-2012.

Dia adalah Christina Borries, salah seorang model catwalk yang telah mencatatkan karir modelingnya sejak tahun 2001 silam. Lahir di Bandung 21 Agustus 1984, dia adalah salah satu model catwalk yang jauh dari tagline “kutilangdarat. Tubuhnya memang tinggi semampai tak kurang dari 180cm dan beratnya hanya 52kg, namun ia memiliki lekuk tubuh yang sangat menawan. Ia juga memiliki aura sensual yang berbeda, sensual namun anggun, dan ‘mahal’ di satu waktu.

Memulai karirnya ketika masih bersekolah di bangku SMA, Christina memilih untuk bergabung dengan agensi milik desainer Adjie Notonegoro di Ibu Kota, namun sayang lompatan karir pertamanya itu harus terhenti untuk sementara karena ia masih harus menyelesaikan sekolahnya di Bandung. Barulah pada tahun 20 04 ketika ia telah benar-benar menyelesaikan sekolahnya dan menetap di Jakarta, namanya mulai dikenal luas setelah mengikuti ajang Indonesian Model Indosiar(IMI). IMI sendiri merupakan sebuah ajang pencarian bibit baru di dunia modeling Indonesia yang diselenggarakan oleh stasiun TV Indosiar yang menggandeng nama-nama kondang di dunia mode seperti Itang Yunaz dan Okky Asokawati sebagai dewan juri.

Dilahirkan di sebuah keluarga kecil dengan dua kebudayaan berbeda, yakni Ayah yang berkewarganegaraan Jerman berdarah Rusia sementara Ibu-nya seorang wanita Banjarmasin yang kemudian tinggal menetap di kota Bandung, Christina tumbuh menjadi seorang yang memiliki sifat tertutup dan introvert. Dua sifatnya inilah yang kemudian menimbulkan masalah ketika ia terjun di dunia modeling.

Fashion Show “Fashion Nation Senayan City” sekuens IKAT oleh Didiet Maulana.

Sekuens Eddy Betty di Bazaar Langgam Tiga Hati Fashion Celebration 2011.

Foto Composite E-Models Management.

“Tribute to The Cure” oleh Ve Dhanito.

Membutuhkan waktu yang lama baginya untuk bisa nyaman menjadi seorang model yang harus tampil di depan orang banyak. Namun perjalanan karirnya di dunia mode semakin lama membuatnya banyak belajar. Sifatnya yang tertutup dan sangat introvert perlahan mulai berkurang, ia mulai lebih banyak berbicara dan sedikit terbuka kepada orang baru, krisis percaya diri yang dulu sempat ia alami pun lama kelamaan teratasi.

Selama lebih dari sepuluh tahun karir modelingnya, nama Christina Borries telah dikenal luas sebagai salah satu model papan atas kesayangan para desainer ternama. Sebastian Gunawan, Biyan, Didi Budihardjo, Sally Koeswanto, Ghea Panggabean, Eddy Betty hingga Edward Hutabarat merupakan sebagian kecil desainer ternama Indonesia yang pernah bekerjasama dengan model yang sangat menggemari aktivitas membaca ini. Lintasan catwalk yang ia lalui tidak hanya di dalam negeri saja, negara-negara di Asia seperti Jepang, Cina, Hongkong dan Singapura pernah ia cicipi di sepanjang karir modelingnya.

Membayangkan dirinya suatu saat tidak lagi eksis di dunia modeling Indonesia, Christina berkeinginan untuk memperdalam dunia bisnis. Memiliki clothing line, restaurant, salon, serta jenis usaha lain yang masih berhubungan dengan makanan, fesyen, dan kecantikkan menjadi bagian dari impiannya satu saat nanti.

Ines Arieza ; Model Berwajah Manis Dengan Struktur Tajam Asal Kota Kembang

Ia memang tidak memiliki tinggi yang terlampau menjulang seperti para model catwalk lainnya, namun kecantikkannya yang khas menjadi suatu daya tarik besar. Wajahnya sangat manis, namun ia memiliki garis rahang hingga dagu yang tajam. Dua perpaduan yang membuatnya terlihat begitu manis di satu waktu, dan tegas di waktu lain.

Fashion Show Just Cavalli di JFW 2011-2012. Foto: Psicillia Feminagroup.

Kota Kembang Bandung sejak dulu dikenal sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang banyak mencetak generasi baru di dunia modeling Indonesia. Setiap tahunnya, belasan, hingga puluhan perempuan-perempuan bertubuh tinggi menjulang dari kota Bandung saling berlomba untuk mendapatkan tempat di peta modeling Indonesia. Beragam cara pun dilakukan, mulai dari mengikuti sekolah-sekolah modeling yang ada hingga menyertakan diri di berbagai ajang pencarian bakat atau kontes modeling lainnya.

Tersebutlah nama Ines Arieza, seorang gadis manis asal kota Bandung yang namanya kini melesat masuk ke dalam jajaran model catwalk ternama tanah air. Dalam dunia mode dewasa ini, sosok Ines telah mencuri perhatian tersendiri. Tubuhnya mungkin tidak setinggi model-model catwalk lainnya. Ia hanya memiliki tinggi 173cm dan berat 49kg, tetapi ada sesuatu yang lain pada dirinya yang berhasil mengantarkan Ines sebagai salah satu model kesayangan para desainer Indonesia.

Darah Padang-Sunda yang mengalir dalam dirinya membuat Ines mempunyai wajah cantik nan manis khas wanita Indonesia, tetapi garis rahang hingga dagu yang tegas serta tulang pipi yang tinggi membuat wajahnya terkesan tajam. Sebuah paduan raut wajah yang sangat menarik.

Ines Arieza. Dok: Foto Composite JIM Models.

Fashion Spread Majalah Cita Cinta oleh Denie Ramon. Foto: Serbagadsam.blogspot.com

Ines untuk Majalah Kartini Edisi Khusus Rambut Nov 2011. Foto: Serbagadsam.blogspot.com

 

Berawal dari ajang pemilihan Gadis Sampul di tahun 2002, gadis kelahiran Bandung, 2 Januari 1988 dan memiliki nama lengkap Ines Arieza Rahmaniar ini mulai mengenal dunia modeling. Menjalani masa karantina Gadis Sampul selama satu minggu di Ibukota, Ines belajar banyak tentang berbagai hal berkaitan dengan dunia modeling.

Kembali ke kota kelahiran seusai pemilihan Gadis Sampul, Ines mulai mendapatkan tawaran di beberapa pagelaran busana. Salah satunya adalah pagelaran busana miliki Malik Moestaram, seorang desainer kenamaan asal kota kembang yang dikenal bertangan dingin mendidik banyak model pendatang baru. Dari sanalah karir dara yang pernah menjuarai perlombaan lari estafet tingkat provinsi ini makin berkembang pesat.

Sekuens Obin di Bazaar Fashion Celebration “Langgam Tiga Hati” 2011.

Fashion Show Priyo Oktaviano di Plaza Indonesia Fashion Week 2012.

Fashion Show Stradivarius di Plaza Indonesia Fashion Week 2011.

Pemotretan fashion spread untuk majalah mode terkemuka serta booklet koleksi desainer-desainer kondang dilakoni. Kedua kakinya pun telah melangkah di banyak pagelaran busana desainer ternama semisal Obin, Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Sebastian Gunawan hingga Barli Asmara. Beberapa pekan mode seperti Jakarta Fashion Week, dan Jakarta Fashion and Food Festival juga rajin memasukan nama model yang bernaung dalam JIM Models dalam daftar peraga.

Bisa mengenakan busana-busana yang indah karya desainer terkenal, bertemu orang baru dan mempunyai banyak teman adalah sebagian kecil hal-hal menyenangkan yang Ines peroleh sepanjang perjalanan karirnya. Ines yang belum lama ini menyelesaikan pendidikan Fakultas Ekonomi di Universitas Katholik Parahiyangan membayangkan dirinya akan menjadi Bussiness Woman satu hari nanti. Sementara simple, loyal dan introvert adalah tiga kata yang ia pilih untuk merangkumkan pribadinya.