Setelah Lima Tahun Berlalu

IMG-20160104-WA0002

Lima tahun lalu di pertengahan tahun seperti sekarang saya pertama kali bertemu dengannya. Saat itu saya masih berusia enambelas tahun, dan dia juga. Malam itu saya menemuinya di belakang panggung usai sebuah acara. Ia mengenakan gaun terusan berwarna merah muda dengan rambut terkepang rapi. Perkenalan kami singkat, hanya bertukar nama, berbincang sebentar, lalu berpisah begitu saya meminta nomor telepon genggamnya yang sampai hari ini tidak pernah berubah. Hari-hari berlalu, waktu berganti, tidak ada yang berbeda, saya tidak pernah lagi mendengar kabarnya, tidak juga mencoba menghubunginya setelah perkenalan pertama kami, tapi hidup siapa yang tahu? Singkat cerita, kami kembali bertemu, lalu saling bertukar cerita, menghadiri beberapa acara peragaan busana saat saya masih begitu aktif wara-wiri di “balik runway” dan acara yang diselenggarakan salah satu majalah remaja terkemuka saat saya ‘kebetulan’ mengisi acara disana.

Lima tahun berlalu dan hingga saat ini gadis remaja bergaun merah muda dengan rambut terkepang rapi yang saya temui lima tahun lalu itu menjadi teman baik saya, atau lebih tepatnya teman gila saya, istilah yang kami ciptakan berdua. Ada banyak kenangan terhadap waktu-waktu yang telah lalu. Ada banyak kenangan akan pertemanan gila saya dan dia yang selalu absurd. Kami sering tertawa terbahak-bahak berdua tanpa sebab yang jelas. Kami kadang membicarakan hal-hal paling filosofis, tapi lebih sering berseloroh akan hal-hal yang konyol dan tidak ada artinya sama sekali. Pada waktu-waktu tertentu kami membicarakan mimpi, berbagi rencana yang begitu ingin dijadikan nyata, dan pada saat lainnya kami pusing sendiri dengan urusan hati yang kadang lebih rumit daripada teka-teki silang diseluruh dunia.

Kamu tahu? Ada begitu banyak hal yang terjadi setelah lima tahun berlalu. Ada banyak hal dari saya yang berubah, dan dia pun juga. Saya yakin sedikit banyak dia menyadari perubahan itu, karena saya pun begitu. Dia berbeda, mulai dari hal-hal sederhana seperti semua mata yang memandang ke arahnya saat kami berdua di keramaian atau orang-orang yang menghampirinya untuk menyapa seakan bertemu kenalan lama, atau mereka yang sering mencuri waktu untuk berfoto bersama. Semua hal sederhana itu kadang terasa lucu bagi saya, rasanya seperti semua orang mengenalinya saat ini, atau memang begitu ya?

Siang ini saya membawakan sebuah kue tart rasa moka dengan lilin berbentuk angka 2 dan 1. Berdua dengan salah seorang “teman baiknya” saya mengendap-endap, menyalakan lilin dan berjalan perlahan. Dalam setiap langkah menuju ruangan tempat dia berada ingatan saya berputar tentang dirinya. Seperti roll film rusak yang secara acak memutar semua hal yang bisa saya ingat tentang dia.

IMG-20160104-WA0001Dia adalah salah satu orang paling menyebalkan dan absurd yang pernah saya kenal. Dia bisa menjadi orang paling bawel dan rewel dalam satu waktu. Dia bisa merajuk seperti anak kecil hanya untuk meminta saya menemaninya. Dia bisa berbicara dan bermain peran yang tidak jelas juntrungannya sampai saya bosan melihat dan mendengarkan. Dia bisa dengan konyolnya menirukan suara kuda di kamar mandi dan menimbulkan kegaduhan. Dia bisa dengan bodohnya memberikan kado sesuatu yang dapat dikenakan tanpa menanyakan ukurannya sampai-sampai saya harus memintanya membawa pulang kado itu lagi. Dia bisa menelepon saya dari tengah malam sampai pagi dan tidak ingin ditinggal tidur sendirian. Dia bisa berulang-ulang kali meminta maaf seperti anak kecil saat saya marah padanya. Dia bisa membuat saya kesal setengah mati, tertawa terpingkal-pingkal dan luluh seketika.

Kamu tahu? Dia salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan tambah satu lagi, keras kepala yang saya pernah saya kenal. Tapi, kamu tahu? Sebenarnya saya pun begitu, mungkin baginya saya juga salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan keras kepala yang pernah dia kenal, oh ya, tambah satu lagi juga, saya galak, mungkin sering kelewat galak dan sinis kepadanya, untuk hal-hal tertentu, tentu saja. Tapi tetap saja dia mungkin salah satu orang paling menyebalkan, absurd dan keras kepala yang pernah saya kenal, namun diam-diam saya mengaguminya. Dia punya hati yang begitu lembut. Dia punya kemauan yang sangat kuat. Dia punya prinsip hidup dan terus mempertahankannya sepenuh hati. Dia cerdas. Dia sangat menghargai orang-orang disekitarnya. Dia sangat menyayangi teman-temannya. Ya saya tahu itu.

Saya mungkin bukan teman yang baik untuk dia. Pertemanan kita tidak pernah selalu baik-baik saja. Pertemanan kita tidak pernah sempurna, tidak akan pernah. Tapi bukan itu intinya, karena yang terpenting bagi saya, dan semoga saja juga bagi dia, kami selalu mencoba saling berkompromi, memahami segala kekurangan. Saling jujur dan mengingatkan, bila salah katakan salah dengan berbesar hati, dan menerimanya dengan berbesar hati pula. Itu yang selalu kami coba untuk lakukan. Berteman dengan jujur tanpa memandang siapa saya dan siapa dia. Berteman dengan apa adanya, dan dengan gila, karena kami Teman Gila, tentu saja!

Selamat mengulang hari pertama di Bumi, Teman Gila!

 

 

 

Cirebon, Benda Kerep, dan Perjalanan Tanpa Persiapan

P1060557

Terik sekali. Pikiran itu yang pertama kali mampir di kepala saya begitu menginjakan kaki di Kota Cirebon. Sebelumnya saya memang pernah singgah di Cirebon, kurang lebih dua tahun lalu, tapi hanya sebentar saja, kurang dari tiga jam hingga saya lupa bagaimana teriknya sinar matahari di kota ini. Rasanya matahari di Cirebon lebih bersemangat memancarkan sinarnya dibanding Jakarta. Mungkin karena letak Cirebon yang termasuk di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Pikiran tentang teriknya Cirebon diamini pula oleh teman-teman saya. Ya, saya tidak sendirian tiba di kota ini, ada sekitar 26 orang lainnya selain saya. Mereka semua adalah teman satu angkatan saya di program studi Antropologi Sosial Universitas Indonesia.

Diantara teman-teman yang lain, motif bertandang ke Cirebon saya adalah yang paling berbeda. Mereka memiliki tujuan yang jelas, melakukan persiapan penelitian, atau istilahnya preliminary research untuk salah satu mata kuliah yang mengharuskan penelitian lapangan. Sementara saya? Saya hanya ikut-ikutan karena hanya sekadar ingin jalan-jalan. Mengesalkan ya? Setidaknya bagi teman-teman saya, yang lainnya serius memutar otak melakukan pengamatan, dan saya jadi serasa turis. Jangan tanyakan dulu kenapa saya tidak menjadi bagian dari ekspedisi Cirebon ini meskipun saya satu angkata dengan mereka. Dilain waktu mungkin saya akan menceritakannya, tetapi tidak sekarang. Walhasil, karena yang ada di alam pikiran saya bukan untuk persiapan penelitian, saya datang ke Cirebon dengan “otak kosong”. Jangankan studi pustaka terlebih dahulu, membaca berita ringan yang bertebaran di dunia maya saja tidak, tapi mungkin disitu menariknya. Dengan kepala yang “kosong” ini saya melihat dan mengamati berbagai hal di Cirebon dengan penuh ketakjuban. Ada hal-hal yang jadi begitu menarik karena efek keterkejutan akibat ketidaktahuan saya terhadap ini itu di Cirebon. Salah satunya adalah tentang Kampung Benda Kerep.

Kampung Benda Kerep terletak dipinggiran Kota Cirebon. Dari perkiraan jarak yang saya kira-kira sendiri dengan penuh ke-sok-tahuan, sebenarnya letaknya tidak terlampau jauh, perbandingannya tidak sampai Jakarta-Bogor. Dua minggu sebelum keberangkatan ke Cirebon, sebenarnya salah satu dosen saya telah memberikan gambaran umum tentang Benda Kerep. Katanya, kampung ini menolak segala bentuk modernisasi, bahkan untuk listrik apalagi laptop. Namun, fakta lapangan ternyata tidak sampai sebegitunya. Benda Kerep telah dialiri listrik sejak tahun 1987 meskipun awalnya sempat mendapatkan gelombang kontra dari para ToMas alias Tokoh Masyarakat. Menurut informan rombongan kami, keberadaan laptop pun sebenarnya tidak dipermasalahkan, hanya saja, masyarakat disana memang hanya satu orang yang sudah mampu memilikinya. Saya maklum kenapa dosen saya keliru memberikan informasi. Namanya juga manusia yang mungkin saja bisa salah dan lupa. Atau bisa saja memang informan dosen saya yang keliru memberikan informasi. Tidak apa, yang penting faktanya sudah terungkap, kan?

Konon, berdasarkan hasil tabulasi membaca kilat di laman-laman berita dunia maya, Benda Kerep ini didirikan oleh seseorang bernama Kyai Sholeh sekitar 300 tahun lalu. Untuk mencapai Benda Kerep, saya dan teman-teman saya harus menerapkan prinsip “going native”, alias “menjadi seperti penduduk asli” alias menerapkan cara-cara keseharian penduduk Benda Kerep, salah satunya adalah menutup aurat yang berlaku menurut hukum syariat Islam. Rombongan kami yang perempuan, termasuk saya mendadak berhijab semua, sementara salah satu teman laki-laki saya yang mengenakan celana pendek langsung melilitkan kain sarung yang ia bawa dari rumah. Kurangnya hanya satu, sebagian besar rombongan perempuan tidak mengenakan kain atau rok panjang sebagai bawahan karena tidak tahu bahwa ternyata penggunaan celana bagi perempuan ternyata sangat dilarang. Untungnya masyarakat Benda Kerep, termasuk informan rombongan, ternyata sudah sangat memaklumi kelakuan tetamu yang datang.

P1060559

P1060560

P1060567

Selain penerapan “going native” perjalanan mencapai Benda Kerep juga sangat mengesankan. Rombongan kami sempat nyasar beberapa kali hingga aksi putar memutar arah mobil merupakan hal yang lumrah. Benda Kerep yang terletak di seberang aliran sungai yang cukup deras juga menjadi tantangan tersendiri karena tidak ada jembatan! Ya, benar sekali, kamu tidak salah baca. Tidak ada jembatan menuju Benda Kerep. Tidak perlu memekik kata “WOW!” karena ketiadaan jembatan bukan berarti kami harus berenang atau main basah-basahan menerabas sungai, yang kami harus lakukan lebih mudah daripada itu, kami hanya perlu melangkahkan kaki dengan lincah diatas batu-batu pijakan yang tersusun rapi membelah arus. Beruntunglah rombongan kami karena meski rintik hujan sudah membasahi tanah, tapi air sungai belum menampakan tanda-tanda akan meluap.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya begitu melangkahkan kaki di Kampung Benda Kerep. Laki-laki disana hampir semuanya mengenakan kain seperti sarung, gamis, dan peci tinggi yang kemudian saya ketahui dinamakan “Peci Sufi” atau “Peci Sombong” oleh masyarakat sekitar. Kenapa “Peci Sufi”? Saya menduga karena bentuknya mirip peci-peci yang dikenakan penari-penari sufi, tapi kenapa dinamakan “Peci Sombong”? Nah untuk yang ini informan saya mengatakan dengan bangga “Karena kalau sudah pakai peci ini jadi terlihat gagah, jadi seperti sombong”. Sedangkan para perempuan Benda Kerep dalam kesehariannya mengenakan kain batik untuk bawaha, atasan seperti blus lengan panjang, dan tentunya hijab, walau ternyata bukan hijab “syar’i” seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Benda Kerep juga dikenal sebagai “Kampung Santri” karena keberadaan pesantren-pesantren disana, jumlah Kyai-nya pun ternyata cukup banyak hingga informan rombongan beberapa kali menanyakan “Dulu dosen kalian kontak-kontakan dengan Kyai yang mana (siapa)?”.

Selama kurang lebih dua jam kami berada di Benda Kerep, teman-teman saya menanyakan hal ini itu, sementara saya lebih banyak diam, dan sesekali mencicipi dodol mangga gedong yang disajikan tuan rumah serta menyeruput sirup koko pandan dingin yang cukup menyegarkan. Sambil menikmati dodol dan meneguk sirup, saya memperhatikan proses tanya-jawab yang dilakukan teman-teman saya. Menarik. Ada banyak informasi yang saya ketahui tentang masyarakat Benda Kerep. Mereka yang ketakutan setengah mati dengan orang-orang Dinas Kesehatan yang terlibat dalam PIN (Pekan Imunisasi Nasional) sampai-sampai rombongan kami dikira “orang PIN” dan ketika kami berjalan menyusuri kampung, anak-anak disana teriak “Polio Polio Polio!!!” sambil menunjuk kami lalu berlari ke dalam rumah. Mereka yang akhirnya membolehkan masuknya listrik, beberapa alat elektronik termasuk handphone, tetapi sama sekali menentang adanya televisi dan radio. Mereka yang mayoritas menerapkan sistem pernikahan endogami. Mereka yang masih sangat menerapkan nilai-nilai Islam sehingga dilarang keras untuk berpacaran. Dan mereka, maaf ralat, tepatnya teman-teman saya dan informan rombongan yang jadi mencandai salah satu teman perempuan saya dan menggodanya habis-habisan agar “berjodoh” dengan anak laki-laki sulung informan rombongan. Sayangnya keseruan acara tanya-jawab harus selesai karena senja semakin jauh. Sebelum adzan magrib berkumandang kami bergegas meninggalkan Benda Kerep.

P1060589

 

P1060590

P1060592

Malamnya perjalanan kami lanjutkan dengan berkeliling Kota Cirebon, targetnya kali ini adalah pelabuhan batu bara Kota Cirebon dan titik-titik prostitusi. Pelabuhan batu bara Kota Cirebon tidak terlalu jauh dari kota, setibanya disana kami berhasil mengelilingi Zona A setelah dua orang teman saya melakukan negosiasi yang cukup alot dengan petugas keamanan. Di pelabuhan satu-satunya hal yang menarik perhatian saya adalah kapal-kapal besar yang bersandar ke Dermaga, ketika malam mereka terlihat indah, setidaknya bagi saya. Berlanjut ke titik-titik prostitusi, titik-titik ini berada di jalan-jalan yang saya lupa namanya, tapi saya ingat ada truk-truk besar disana. Malam itu tidak terlalu banyak pekerja seks yang saya lihat menunggu pelanggan, hanya beberapa saja yang ada dipinggir jalan, diatas becak, berdiri di sela-sela deretan truk, dan diatas motor. Dua kali rombongan kami memutari ruas jalan itu sebelum berakhir di alun-alun Kota Cirebon dan menikmati segelas kopi atau coklat panas.

Keesokan harinya perjalanan saya di Kota Cirebon harus berakhir. Sejak awal saya memang memutuskan untuk berpisah lebih awal dengan rombongan karena harus mengejar sebuah acara diskusi di Jakarta yang berlangsung jam satu siang. Setengah jam sebelum keberangkatan kereta saya sudah mendaratkan kaki di stasiun dan sempat-sempatnya menyantap empal gentong di depan stasiun. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta saya mengingat-ingat semua rangkaian perjalanan ke Cirebon yang terkesan impulsif karena hanya ingin jalan-jalan saja. Saya menganggap perjalanan ini tanpa persiapan. Seperti yang saya ceritakan diawal, saya tidak sempat membaca apapun tentang medan di Cirebon, tapi saya sangat senang karena saya mendapat pengalaman-pengalaman menarik selama di kota yang panas ini. Hanya satu saja yang masih mengganjal hati saya. Saya teringat Bapak, dosen, sekaligus pembimbing akademik yang sudah saya anggap seperti Ayah sendiri. Beliau tidak menepati janjinya untuk pergi bersama kami, padahal kami sudah berangan-angan untuk menikmati empal gentong dan tahu gejrot bersama. Bapak pergi lebih dulu, bukan ke Cirebon, tapi pergi ke alam lain yang selalu jadi misteri, kematian.Bapak pergi menghadap Yang Maha Segalanya dua minggu sebelum keberangkatan kami.

P1060595

P1060579

Memapas Sial

Saya adalah salah satu orang yang gandrung dengan pengetahuan seputar kepercayaan-kepercayaan lokal seperti mite dan pamali yang menjadi bagian dari folklor. Memang tidak selalu saya percayai secara utuh, tapi saya senang mengetahui, membicarakan, bahkan menjadikannya lelucon meski tidak selalu dipraktikan. Seperti halnya potong rambut. Saya sering berkelakar ketika saya memapas rambut berarti saya sedang membuang sial.

Kaizen Setiabudi One

Kaizen Setiabudi One

Saya bukan tipe orang yang terlalu merawat penampilan. Menjaga penampilan prima seperti mereka yang sering tampil di layar kaca. Aktivitas perawatan diri yang saya lakukan hanya mandi (kalau bisa) dua kali sehari dan keramas (kalau bisa) dua hari sekali. Selebihnya? Ah, bisa dihitung jari berapa kali saya menjejakan kaki di salon untuk melakukan perawatan rambut seumur hidup saya yang sudah kepala dua. Tapi, saya punya jadwal unik dalam urusan potong memotong rambut. Saya hanya memotongnya setahun dua kali, sampai-sampai salon rumahan langganan saya hapal benar jadwal itu. Sayangnya, pada dua tahun belakangan saya mengingkari jadwal rutin saya. Jadwal potong rambut berubah jadi semaunya, tergantung kenyamanan saya pada rambut yang terus bertumbuh, dan satu lagi, tergantung perasaan saya akan “kesialan” yang menggelayut.

Sebenarnya saya kurang setuju, atau lebih tepatnya kurang sreg dengan penggunaan rasa sial, tapi kadang kata sial terdengar lebih pas, efektif, dan menyebalkan dibanding saya menggunakan kata “saya-seperti-sedang-banyak-masalah-dalam-hidup.” Sial bagi saya sesungguhnya hanya kelakar konyol, tapi anehnya saya begitu sering menggunakannya sebagai tameng. Setiap saya memotong rambut dan orang disekitar saya bertanya, “Potong rambut ya?”. Maka saya akan menjawab, “Iya, buang sial.” Jadilah pikiran saya semakin terstimulus. Ketika saya memang ingin potong rambut tetapi urung dilaksanakan, beberapa hal dalam hidup saya terasa semakin menyebalkan dan bermasalah. Lalu, saya akan benar-benar memangkas rambut saya agar lega. Mungkin terdengar konyol, tapi biarlah.

Saya memilih Minggu sore sebagai waktu yang tepat untuk memangkas rambut. Tapi pengalaman kali ini berbeda dari yang terdahulu. Saya tidak lagi tata rambut saya pada salon rumahan langganan saya, dan memilih Kaizen Baber Shop. Sejujurnya, Kaizen masih terdengar asing bagi saya, saya belum lama tahu tentang Kaizen, itupun dari salah seorang teman baik saya yang memang pelanggan Kaizen, si tempat potong rambut ala Jepang yang menawarkan kecepatan, kerapian, dan kebersihan yang terjamin saat memotong rambut secara ekspres, hanya sepuluh menit!

Berangkat dari pengetahuan yang minim tentang Kaizen saya lantas mencari tahu lebih banyak dengan berselancar di dunia maya dan membuka laman resmi Kaizen. Ada banyak hal menarik yang semakin membuat saya penasaran dengan Kaizen saat membaca keterangan-keterangan di laman resminya. Kaizen tidak hanya menjanjikan kecepatan saat memangkas rambut pelanggannya, tetapi juga mengatakan bahwa pemangkas rambut di Kaizen adalah tenaga profesional yang menguasai dengan baik teknik potong rambut. Selain itu, Kaizen menjamin kebersihan seluruh peralatan yang digunakan dengan menyediakan sebuah mesin sterilisasi yang berfungsi membunuh segala jenis kuman dan bakteri. Menarik ya?

P1040765P1040768P1040770

Saat saya tiba di Kaizen cabang Setiabudi One keadaan cukup ramai. Kursi-kursi sederhana yang empuk tempat menunggu giliran penuh sehingga saya mendapatkan sedikit ruang duduk di pinggir terluar. Kebanyakan orang yang menunggu giliran potong rambut adalah laki-laki, seorang perempuan lain yang menunggu giliran adalah Ibu yang mengantarkan anak lelakinya potong rambut. Sejujurnya saya sedikit merasa “salah tempat” karena Kaizen penuh dengan laki-laki, meski Kaizen bukan hanya diperuntukan bagi laki-laki dan pemangkas rambutnya perempuan semua. Menurut teman baik saya, mayoritas pelanggan Kaizen memang laki-laki yang ingin memangkas rambut secara ringkas, cepat, dan hasilnya bagus. Akan tetapi hal itu tidak membuat saya ingin mengurungkan niat saya untuk memangkas rambut di Kaizen, setengah karena saya merasa telah waktunya untuk potong rambut, dan setengah karena sudah kadung penasaran dengan Kaizen.

Setelah menunggu beberapa lama giliran saya pun tiba. Pemangkas rambut saya seorang perempuan yang saya taksir berusia tigapuluh tahunan, berperawakan sedang dengan potongan rambut pendek yang ditata berantakan. Seperti biasa, sebelum memangkas rambut, terlebih dahulu ia bertanya saya menginginkan gaya rambut yang seperti apa, lalu saya jawab seperti jawaban yang biasa saya utarakan ketika waktu potong rambut tiba, “Dipotong lebih pendek dengan gaya yang sama dengan rambut lama”. Usai mendengar jawaban saya, ia segera menyiapkan alat. Gunting, sisir, penjepit rambut, dan seperti masker untuk leher dikeluarkan dari sebuah mesin yang bebentuk serupa oven bertulisan “strelirizer”. Dengan cekatan ia menjepit rambut saya dan memainkan gunting serta sisir secara bersamaan. Tanpa ritual pencucian rambut, ia menyemprotkan cairan berkali-kali ke rambut saya lalu menggunting sana sini.

Waktu yang dibutuhkan untuk memapas rambut saya ternyata cukup lama, asumsi saya hal ini terjadi karena rambut saya notabenenya lebih panjang daripada rambut pelanggan Kaizen lainnya yang kebanyakan laki-laki, disamping jumlah helai rambut saya yang cukup banyak. Namun, ketangkasan pemangkas rambut tetap membuat saya terkesima. Selama prosesi pemangkasan rambut, ia bertanya beberapa kali apakah rambut saya sudah sesuai dengan gaya dan kependekan yang saya inginkan sembari memperlihatkan refleksinya di cermin yang kemudian saya balas dengan anggukan singkat. Setelah selesai saya pun dibuat senang dengan hasil potongan yang sesuai dengan keinginan saya, dan bertambah senang dengan “hadiah kecil” berupa sisir yang ternyata selalu dibagikan cuma-cuma untuk pelanggan Kaizen.

P1040776

P1040773

P1040774Setelah semua “ritual” usai saya beberapa kali mematutkan diri di cermin, melihat refleksi diri dengan lebih jelas. Rambut saya sudah pendek lagi dan lebih rapi, semoga hidup saya pun begitu karena meskipun selalu terdengar seperti kelakar santai, “Potong rambut, buang sial”, saya umpamakan layaknya doa agar semuanya baik-baik saja. Mungkin juga karena saya menganalogikan potong rambut layaknya membuang “bagian berantakan” dalam hidup. Jadi, saat hidupmu terasa semakin tidak karuan, coba saya papas kesialan dengan memotong rambutmu. Ah, maaf kalau terdengar konyol. Saya memang gemar berkelakar.

Cerita Tentang si Seniman dan Seorang Teman

Dia selalu menarik di mata saya. Ada hal berbeda dari pancaran auranya. Mungkin terdengar aneh, tapi memang itu yang saya rasa. Entah kenapa saya selalu merasa jiwanya telah lama mengembara dan kebetulan saja (jika bisa disebut kebetulan) saat ini sedang mampir ke Bumi dalam wujudnya yang sekarang. Mungkin saya berlebihan, mungkin juga tidak, kalau kamu mengenalnya seperti saya mengenal dia. Ya, dia, kenalkan, teman saya, Nastiti Dewanti.

P1040339Saat saya menuliskan ini dan mungkin ia akan membacanya, mungkin dia tidak sedang berada disekitar saya. Saya yakin benar bahwa ia masih berada di satu daerah terpencil sana dan sedang melaksanakan rangkaian tugas mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif (MPE) dari program studi Antropologi. Saya dapat membayangkannya mengenakan bucket hat, kaus oblong atau kemeja lapangan dan mungkin celana lapangan. Berjalan-jalan keluar masuk rumah nelayan di pesisir pantai dan sibuk mewawancari mereka satu persatu guna mencari data penelitian, atau mungkin saja ia sedang berjalan menyusuri hutan bakau, atau mungkin juga sedang berada di “ruang kerja” dadakannya yang menghadap langsung ke hutan bakau yang rindang.

Lalu wajahnya. Saya selalu dapat membayangkan wajahnya itu. Wajah yang kadang membuat saya segan setengah mati entah karena apa. Wajah yang menurut saya seperti menyimpan banyak misteri padahal saya sudah mengenalkan dua tahun lebih dan kini berteman baik dengannya. Terdengar aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata karena kamu mungkin harus mengenalnya lebih dulu baru dapat memahami apa yang saya bicarakan. Tapi, mari singkirkan semua tentang sisi “misteriusnya” yang selalu saya rasakan, lalu biarkan saya bercerita tentang banyak hal lain yang menarik tentangnya. Dan semua cerita bermula pada sore itu.

_MG_0999Sebelum senja kami berdua sudah duduk di kursi yang berada di halaman belakang rumahnya. Ditemani segelas kopi susu hangat untuk saya dan kopi hitam kegemarannya. Berdua hari itu kami banyak bertukar cerita, tentang kegiatan yang kami lakukan bersama beberapa bulan belakangan ini, tentang kegiatan perkuliahan yang sama-sama sedang kami jalani, tentang cerita selingan tentang beberapa teman, dan terutama, tentang dia, tentang seorang Nastiti Dewanti.

Bukan tanpa sebab saya katakan tentang dia adalah yang utama. Agenda saya hari itu memang mewawancarainya untuk kepentingan salah satu tulisan eksperimental saya. Sebenarnya dari jauh-jauh waktu saya sudah menduga akan ada banyak hal menarik yang akan saya dapatkan dari rangkaian pertanyaan saya untuk, tapi saya masih saja terpukau dengan cerita-cerita yang terucap dari bibirnya. Bagi saya semua yang ia ceritakan tentang aktivitasnya sangat mengesankan, terutama untuk segala pencapaiannya di usia yang masih sangat muda. Cerita-cerita darinya sekaligus mengamini semua candaan yang kerap terlontar dari saya bahwa ia adalah “Si Seniman Totok”.

Berbincang dengan saya, Titis memutar kembali ingatannya pada waktu-waktu lalu, saat ia pertama kali terjun ke dunia seni. Menurut ceritanya, kala itu ia masih remaja usia belasan yang dilarang kedua orangtuanya untuk memasuki salah satu institusi pendidikan tinggi ternama di bidang seni di Jakarta. Alasannya cukup memusingkan, orangtuanya ingin agar Titis dapat terlebih dahulu membuktikan bahwa ia benar-benar bisa ”hidup” dan menghasilkan karya di dunia seni, padahal Titis sudah kadung jatuh cinta dengan segala dunia seni terutama seni rupa. Enggan menggantungkan harapannya untuk dapat memperdalam ilmu di institut kesenian impian, Titis mencari cara pembuktian kepada kedua orangtuanya. Video Art kemudian ia pilih sebagai senjata perlawanannya karena alasan yang cukup sederhana, ia perlu media seni yang dianggapnya instan namun dapat membawanya mengikuti sebuah pameran seni.

_MG_0996Bekerjasama dengan teman-teman SMA-nya, Titis membuat sebuah Video Art bertajuk “Jakarta Kata Gue, Mubazir” yang kemudian ia ikutkan dalam Video Art Competiton Jakarta Biennale Exhibition 2012. Tidak dinyana, karya Video Art Titis menyabet gelar juara sekaligus mengantarkannya sebagai pemenang dan peserta termuda dalam Jakarta Biennale Art Exhibition 2012. Kegilaan seninya pun tidak berhenti sampai disana, bakat Titis dalam merangkai kata dalam bentuk sajak terendus sastrawan Nirwan Dewanto yang aktif di Komunitas Salihara dan mengundang Titis secara khusus dalam Lokakarya Seniman Membaca Sastra yang digagas Komunitas Salihara. Mengulang kasus kemenangannya di Jakarta Biennale Exhibition 2012, Titis kembali menyabet gelar sebagai Best Reader termuda dalam Lokakarya dan dikirim sebagai perwakilan pembaca sajak di International Literary Biennale Salihara 2012. Di ajang bergengsi itu, Titis sekali lagi membuktikan kepiawaiannya dalam membaca sajak dengan membawa pulang predikat Best Reader.

Belum cukup dalam seni Video Art dan Sastra, Titis turut merambah lingkup seni rupa lainnya, yakni gambar ilustrasi dan kerajinan tangan. Gambar-gambar yang awalnya ia ciptakan sebagai intepretasi visual dari sajak-sajak yang ditulisnya kemudian membawa Titis mengikuti sebuah pameran kolektif tentang Drawing Art bertajuk “Lunch Time” pada tahun 2013. Setelahnya ia kembali mengikuti pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh Ruang Rupa Jakarta di tahun 2014, namun kali ini memilih seni rupa Object Art, dan ditahun selanjutnya ia beralih pada seni kerajinan tangan pada pameran bersama perupa-perupa perempuan dalam pameran seni “Buka Warung”.

_MG_0995Dengan segala pencapaiannya di bidang seni , mungkin kamu mengira Titis telah resmi menjadi salah satu dari mahasiswa seni? Sayangnya tidak. Meski sempat mendapat tawaran beasiswa separuh biaya kuliah di Institut Kesenian Jakarta, Titis akhirnya lebih memilih untuk menjadi mahasiswa program studi Antropologi di Universitas Indonesia. Pilihan ini diambilnya berdasarkan saran beberapa orang yang sempat menjadi juri penentu kemenangannya di Jakarta Biennale Art Exhibition yang menilai bahwa karya Video Art Titis sangat dekat dengan nuansa serta nilai-nilai Antropologis. Pilihannya sebagai mahasiswa Antropologi ini pula yang membuat saya mengenalnya dengan baik. Dia senior saya. Satu tahun diatas saya. Sekali waktu menjadi satu kelompok penelitian kecil-kecilan dan banyak waktu lainnya menjadi teman berbincang yang menyenangkan.

Saya kemudian mencoba mengingat-ingat lagi tentang apa-apa saja kenangan saya bersama Titis. Salah satu yang paling berkesan rasanya adalah saat “jalan-jalan berkedok penelitian”-nya mahasiswa Antropologi, ke desa Cigugur, Kuningan, Jawab Barat. “Jalan-jalan berkedok penelitian” itu kira-kira berlangsung setahun lalu, kami berdua ditempatkan satu kelompok di satu rumah tinggal yang sama. Selama lima hari empat malam saya tinggal serumah bersama Titis, saya jadi tahu banyak kebiasaannya, termasuk kebiasaan uniknya yang seperti orang mengunyah saat tidur. Di rumah Induk Semang, Titis seperti anak kesayangan, Kakak Tertua yang penurut dan ringan tangan membantu pekerjaan sementara saya adalah adik bandel yang impulsif dan kadang suka sekehendak hati saja. Jadi ya tidak heran kalau Titis kadang memarahi saya karena kelakuan saya yang (kadang) ajaib. Untungnya, dia masih mau duduk berdua dan berbincang diberanda depan rumah sembari menikmati teh manis hangat serta aneka gorengan saat pagi.

Coba tengok blog Titis di nastitidewanti.blogspot.com

Cerita Cinta Lagi, Lagi-lagi Cerita Cinta

Saya ingin memuat ulang tulisan ini, sebuah tulisan yang sebelumnya saya buat untuk majalah milik mahasiswa Antropologi FISIP UI. Tulisan ini tentang cerita cinta, tapi ceritanya lain dari biasa, karena penulisnya sok menginisiasi konsep-konsep antropologis di dalamnya. Maklum, namanya juga mahasiswa yang masih kena euforia ilmu yang dipelajarinya. Semoga tulisan ini tidak terlalu ngawur dan masih bisa dinikmati bersama secangkir kopi pagi.

Cerita Cinta Lagi, Lagi-lagi Cerita Cinta*
Siapa yang bosan membahas tentang cinta? Saya ingin tahu berapa banyak orang yang muak membicarakan problematika hati dan rasa. Mungkin ada, dan tidak sedikit yang sudah jengah membicarakan tentang cinta termasuk juga membaca cerita cinta. Tapi, saya masih yakin benar kalau cinta tetap jadi salah satu formula paling ampuh untuk membangkitkan gairah bercerita. Jadi mari sekali lagi, membicarakan tentang cinta. Mari sekali lagi mengikuti arus global yang isinya jadi cinta yang berbunga-bunga menjelang Valentine’s Day. Ya, tidak ada salahnya sesekali terhanyut pada kisah-kisah roman yang mengagungkan cinta. Kan, katanya cinta tidak pernah salah, ya kan?

Cerita Cinta

Ada yang bilang kalau sebuah cerita akan tidak terlalu menarik untuk disimak jika tidak menyisipkan kisah cinta. Meski sekelebat, meski sekelumit, meski separagraf, bumbu-bumbu percintaan sebaiknya disisipkan agar lebih terasa manis. Cinta kadang juga dibubuhkan untuk meringankan muatan sebenarnya yang berat. Misalnya saja, apa yang sebenarnya disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia? Apakah hanya percintaan Minke dan Annelies? Tentu saja tidak! Pram membicarakan begitu banyak hal, tentang kolonialisme, tentang struktur sosial pada masa kolonial, tentang paradigma masyarakat di masa kolonial dan masih banyak lagi yang akan terasa jadi perenungan yang berat jika saja tidak dihadirkan dalam balutan roman serta alur cerita yang mengalir nikmat.

Memandang ke belakang, jauh sebelum Pram muncul dengan Tetralogi Bumi Manusianya, penggunaan kisah percintaan untuk menyampaikan ragam pesan moril atau isu lainnya jamak kita jumpai dalam cerita rakyat. Sebagaimana hakikat fungsi foklor seperti yang dimaktubkan James Danandjaja, cerita rakyat yang jadi bagian dari folklor memiliki kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam. Maka tidak heran bila cerita rakyat yang biasa kamu baca, yang sekilas mungkin berkisah tentang lika-liku kisah cinta dua insan turut disesaki pesan-pesan tersirat di dalamnya.

Ambil perumpamaan cerita rakyat masyarakat Bali tentang Jayaprana dan Layon Sari. Cerita ini bertutur tentang seorang pemuda bernama Jayaprana, ia adalah putra angkat dari seorang raja yang pernah memerintah Raja Buleleng. Alkisah, Jayaprana menikah dengan seorang gadis cantik jelita yang jadi pilihannya, gadis itu bernama Layon Sari. Pernikahan keduanya memang mendapat restu dari sang Raja Buleleng, akan tetapi sialnya sang Raja malahan tergila-gila pula dengan kecantikan Layon Sari dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Layon Sari sebagai istrinya, termasuk membunuh Jayaprana. Rencana diatur, siasat disusun, Jayaprana diberikan tugas fiktif untuk berkunjung ke Celuk Terima. Meski firasat sudah melekat erat dalam pikirannya, Jayaprana membiarkan diri untuk digiring menuju kematian, semua atas nama kepatuhan pada sang Raja Buleleng, ayah angkatnya. Setelah kematian Jayaprana, Raja Buleleng pada akhirnya tidak berhasil pula memperistri Layon Sari karena Layon Sari memutuskan untuk bunuh diri menyusul suaminya yang lebih dulu mati.

Cerita Jayaprana dan Layon Sari yang awalnya tersebar dalam bentuk balada (ballad) atau syair yang diukir di atas daun lontar kering ini sesungguhnya memperlihatkan banyak sisi menarik selain kisah cinta itu sendiri. Jika kamu dapat menemukan versi lebih lengkap dan rinci mengenai cerita ini, gambaran kehidupan sosial budaya masyarakat Bali dapat terlihat disamping pesan lainnya yang ingin disampaikan tentang tentang kepatuhan, pengorbanan, kesetiaan, dan moralitas. Intinya sama, cerita cinta tidak hanya hadir sebagai cerita cinta semata tapi sebagai alat untuk menyampaikan hal-hal lainnya. Hal yang sebagian masih berkaitan seputar cinta dan sebagian lainnya mungkin bertolak belakang atau bahkan tak ada kaitannya.

Dari Antropologi Dengan Penuh Cinta

Jika yang jadi pertanyaan besar selanjutnya adalah dimana letak sisi antropologinya dari semua cerita-cerita cinta yang ada? Jawabannya tentu saja ada! Seperti yang telah saya uraikan sebelumnya, cerita-cerita cinta yang sarat akan muatan isu-isu lain yang bukan romansa kerap menyinggung permasalahan sosial budaya tempat yang jadi latar belakang cerita. Entah tentang bagaimana struktur sosial dalam masyarakat, sistem kepercayaan setempat, adat istiadat, dinamika kebudayaan yang ada, dan masalah-masalah sosial lainnya yang mengarah pada isu-isu antropologis. Tidak hanya itu saja, dalam hal persebaran dan pola-pola yang ada pada cerita cinta, terutama cerita cinta pada cerita rakyat, juga bisa lihat dari kacamata antropologi.

Mencoba untuk sedikit iseng mengaitkan pendekatan antropologi dengan cerita rakyat bermuatan cinta di Indonesia, rasanya pendekatan strukturalisme milik Lévi-Strauss merupakan salah satu yang bisa diambil sebagai pisau analisis kecil-kecilan. Secara sederhana strukturalisme merupakan pendekatan yang menekankan kepada analisis struktural suatu kebudayaan. Berhubung cerita rakyat adalah bagian dari folklor dan folklor tidak lain merupakan sebagian dari kebudayaan kolektif, maka kita dapat melihat adanya struktur kebudayaan dalam cerita rakyat. Saya coba ambil contoh sederhana yakni cerita Legenda Gunung Tangkuban Perahu yang memiliki struktur atau pola cerita yang sama dengan cerita Oedipus dari Yunani. Keduanya sama-sama bercerita tentang anak laki-laki yang jatuh cinta pada Ibunya sendiri. Cerita cinta, bukan? Meski cinta yang terlarang. Ada pesan-pesan yang ingin disampaikan, bukan? Tentang moralitas, tentang kehidupan sosial yang jadi latar belakang dan lain sebagainya.

Pendekatan strukturalisme selanjutnya bisa kita jumpai pada cerita-cerita lainnya. Coba perhatikan struktur atau pola-pola cerita cinta yang kamu ketahui, pasti kamu akan banyak menemukan kesamaan. Cinta yang ditentang orangtua karena status sosial yang berbeda, cinta yang tidak bisa bersatu dan berakhir tragis, cinta yang sempurna, cinta yang berbeda alam dan cinta-cinta lainnya. Benang merahnya mungkin sama saja antara cerita cinta yang ini dan yang itu, hanya masalah pengemasannya saja yang berbeda.

Menutup tulisan ini, yang digagas sebagai etnomini, (padahal saya pun masih tidak yakin apakah ini sudah cukup mewakili etnomini seperti yang dibayangkan), saya ingin bertanya lagi, apakah kamu sudah bosan dengan cerita cinta? Kalau kamu sudah bosan, mungkin kamu bisa coba cara menarik lain untuk menikmati cerita cinta yang ada. Caranya adalah dengan menggunakan kacamata antropologi untuk melihat keseluruhan cerita cinta yang ada. Siapa tahu ternyata “muatan-muatan” lain didalamnya ternyata justru lebih menarik untuk disimak dan direnungkan dalam-dalam. Juga mencoba iseng mengait-kaitkan pendekatan antropologi dengan cerita cinta yang kamu baca, siapa tahu kamu menemukan pendekatan yang sebenarnya bisa dijadikan pisau analisis terkait dengan cerita cinta tersebut. Siapa tahu?

*Dimuat dalam Antropos edisi Februari 2015, Antropologi (Bicara) Cinta.
http://issuu.com/antroposheman/docs/antropos_03complete

Sutardji, Idul Fitri dan Kelahiran Kembali

Sejak malam takbiran saya bacai satu sajak Sutardji lamat-lamat. Mencoba memahami arti kata, jangan sampai terlewat satu biji, karena seperti yang sudah-sudah, Sutardji sering terlalu sulit untuk dimengerti. Tapi kali ini rasanya saya dapat sedikit lebih lega, karena sajaknya yang ini lebih bisa dinikmati. Oh, bukan saja dinikmati, juga lebih mudah dimamah dengan tidak perlahan. Kesimpulannya, saya suka sajak Sutardji yang ini, atau lebih tepatnya, sangat suka.

Judulnya “Idul Fitri”. Sajak ini saya temukan dalam sebuah buku catatan usang yang telah lama disusun Ibu untuk anak-anaknya, termasuk saya, tapi saya tidak akan menceritakan tentang buku itu sekarang karena ada hal lain yang lebih menarik hati. Lalu, kembali ke Sutardji dan Idul Fitri-nya, saya dipaksa gelisah saat membaca. Karena lariknya yang lebih sederhana dari sajak-sajak Sutardji yang lain justru terasa menyayat hati dengan caranya sendiri. Saya akui, saya bukan penikmat sastra sejati, apalagi pemerhati fasih. Disebut amatiran saja sudah bagus karena mungkin dalam strata, saya bisa diposisikan dibawahnya lagi, jadi mohon dimaafkan bila ada salah-salah tafsir atau kata. Tapi, bolehlah saya bawa tafsiran sendiri tentang sajaknya ini, sesuai dengan kondisi yang dialami, tentu saja. Selain itu, secara singkat tentunya, karena saya pun setengah ragu dan setengah malas untuk menuliskan seluruh tafsiran. Separuh takut tulisan jadi kelewat panjang, separuh khawatir isi kepala terlalu sok tahu, dan sisanya ya, karena memang sedang tidak ingin menulis panjang-panjang. Setidaknya tidak untuk saat ini.

Dalam “Idul Fitri” saya melihat Sutardji sedang melsayakan perjalanan pribadi, semacam retrospeksi. Ia datang ke masa lalu, mengingat semua “dosa-dosa” nya lalu kembali ke masa kini. Menumpahkan segala penyesalannya lalu mengungkap cara “penebusan dosa” yang coba ia lakukan. Tujuannya, agar ia dapat terlahir kembali di Hari Suci, meskipun dalam lariknya ia terasa ragu sendiri. Lalu mempersingkat ratusan kata yang bisa saja muntah bila diteruskan, satu pertanyaan akan dikemukakan? Lantas, apa yang sama dengan keadaan saya? Dua kata. Kelahiran kembali. Bedanya saya dapat menambahkannya dengan kata “ingin” di depannya.

Saya ingin lahir kembali. Dalam rangkaian kata dan dalam laman maya ini terutama. Rasanya sudah terlalu lama laman ini ditinggalkan begitu saja. Jadi saya rasa, Idul Fitri tepatkan saja sebagai momentumnya. Tapi jangan terkejut bila nanti kamu yang kadang suka terjebak mampir ke laman ini menemukan banyak cerita yang berbeda dari biasa. Itu wajar. Dalam hidup saya yang terasa berlalu begitu cepat ada banyak peristiwa yang belum sempat diceritakan dan mungkin akan diceritakan kemudian di laman ini. Yang jelas, saya tahu ada banyak hal yang sudah berbeda, dan saya separuh ingin kamu tahu itu, sementara separuhnya lagi biarlah bebas tanpa keinginan.

 

 
IDUL FITRI

Lihat
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa ramdhanku,
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
Telah kuhamparkan sajadah
Yang tak hanya nunu Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam-malam Lailatul Qadar sayapun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka saya girang-girangkan hatiku
Saya bilang: Tardji rindu yang kau wudhukan setiap malam Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang Namun si
bandel Tardji ini sekali merindu Takkan pernah melupa Takkan kulupa janjiNya Bagi yang merindu insya-Allah kan
ada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya
Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwsaya ini
Semakin mendekatkan saya padaNya
Dan semakin dekat
semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai
berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
ngebut di jalan lurus Jangan kau depakkan lagi saya ke trotoir tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
Kau biarkan saya menenggak marak cahayaMu di ujung usia

O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan saya kini ngebut di jalan lurus Tuhan jangan Kau depakkan lagi saya di trotoir tempat dulu saya
menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini
Kukenakan zirah la ilaha illallah saya pakai sepatu siratal mustaqiem sayapun lurus menuju lapangan tempat shlat ied
Saya bawa masjid dalam diriku Kuhamparkan di lapangan Kutegakkan shalat dan kurayakan kelahiran kembali di sana

-Sutardji Calzoum Bachri-

Hutang

Selama saya tidak menulis atau pun memposting suatu tulisan dalam blog ini, saya sering bertanya-tanya, apakah masih ada yang membaca blog ini? Apakah statistik saya hanya jalan ditempat dan tidak lebih baik dari terakhir kali saya membuat posting tentang peragaan busana Biyan? Maklum, saya memang sangat senang saat melihat statistik blog saya meningkat dan terus meningkat, kata teman saya, saya ini banci statistik. Mungkin memang benar. Tapi apa salahnya menjadi banci statistik kalau itu bisa menjadi motivasi untuk membuat lebih banyak tulisan yang bisa ditampilkan dalam blog ini? Tidak salah bukan? Bagi saya saat ada banyak orang yang membaca blog saya, itu seperti sebuah apresiasi tersendiri bagi saya dan jujur saja, pasti setiap orang senang mendapatkan apresiasi.

Tapi ada yang lebih membuat saya gelisah dibandingkan angka-angka pada statistik blog ini yang mungkin menurun drastis. Ada yang lebih membuat saya gelisah dari sekadar kekhawatiran akan ditinggalkan pembaca blog saya saat blog ini miskin tulisan baru. Rasa berhutang. Ya, saya lebih gelisah karena perasaan itu diam-diam semakin menghantui saya. Saya merasa berhutang pada banyak orang ketika blog ini seperti mati suri. Berhutang kepada teman-teman saya di dunia mode Indonesia yang terus menyemangati saya untuk terus menulis, kepada mereka dan juga kamu yang sering membaca blog ini dalam diam, dan kepada diri saya sendiri.

Rasa berhutang saya yang paling besar adalah pada Mbak Alvie dan Mas Gita, dua orang yang saya sangat hormati, dua orang yang saat ini menjadi koorniator media mode paling kawakan di dunia mode Indonesia. Sepeninggal (alm) Muara Bagdja saya banyak sekali bertanya pada keduanya tentang bagaimana penulisan mode yang baik. Saya merasa berhutang pada keduanya karena hingga kini masih ada tulisan yang belum sempat saya realisasikan karena saya sudah keburu direpotkan dengan masalah perkuliahan dan pekerjaan lain saya, -saya akan ceritakan itu nanti.

Lalu pada Mas Priyo Oktaviano. Pada beliau saya pernah berkata akan menuliskan koleksi ready-to-wear yang ia rilis di Jakarta Fashion and Food Festival, tetapi hingga saat ini saya belum bisa menuliskannya dalam blog ini, meski saya sudah menuliskannya untuk salah satu situs yang beberapa bulan lalu sempat meminta saya untuk menjadi penulis artikel mode disana. Tapi tetap saja, tulisan khusus untuk koleksi beliau di blog ini belum bisa saya realisasikan.

Sebenarnya masih banyak lagi rasa berhutang saya saat saya tidak membuat posting baru di blog ini. Saking banyaknya, saya jadi malu sendiri untuk mengatakannya. Ah, tapi tidak apa karena dengan tulisan ini saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya karena sempat menghilang dan itu membuat saya merasa berhutang pada beberapa orang. Saat saya menghilang itu ada begitu banyak hal yang terjadi. Ada banyak peristiwa yang saya alami dan moment yang ternyata terlewat dalam hidup saya.

Saya membayangkan pada saat saya menghilang, saya seperti pergi dari tempat saya yang dulu. Melakukan perjalanan jauh hingga bingung apakah harus kembali atau tetap meneruskan kepergian saya. Tapi dalam perjalanan saya, saya justru merasa berhutang sekaligus kangen dengan “rumah” saya yang dulu. Untuk itu saya kembali, untuk menebus rasa berhutang saya dan menuntaskan rasa kangen saya.